[ Review Film ] Love, Rosie

Review film Love, Rosie adaptasi daari buku Where Rainbow End karya Cecilia Ahern
film Love Rosie
Add caption

annisakih.com Pertama kalinya nge-review film di blog ini,  bukan film baru lagi, secara ya ibu menyusui ini, terakhir nonton di bioskop itu Furious 7 awal tahun 2015 ini. Baru setengah jalan, eh.. anaknya uda nangis-nangis aja sampai suami nelfon minta cepetan balik. heuhuhuu

Ini cuma film yang dengan beruntungnya sempat ditonton di Fox Movies Premium sambil ngasuh Ziqri and suddenly I feel so related. Ceritanya simple tapi juga sekaligus njelimet, bukan njelimet yang sampai harus mikir like my other fave movies, still make me wonder about my own (love) life.

cute banget, deh,, surat-suratannya
Filmnya bedasarkan buku Where Rainbow Ends yang dikarang oleh Cecilia Ahern yang juga ngarang P..S, I Love You. Alhamdulillahnya pas pertama nonton belum tahu, jadi ga punya gambaran dan ngebandingin dengan buku aslinya. So, for me Sam Claflin as Alex and Lily Collins as Rosie just perfect cast. Bahkan sejujurnya, setelah berkali-kali nonton filmnya Lily Collins (The Blind Side, Abduction, Mirror Mirror and Mortal Instrument : City Of Bones) baru di film ini ngerasa beneran suka karena selain cantik, ternyata aktingnya bagus juga, ahahahhaaa. Begitupun si Sam, saya selalu ngerasa dia kurang ganteng sebagai Finnick Odair di Hunger Games series, eh ternyata as Alex, he nailed it! Beneran ganteng dan charming banget. 

Back to the story, dikisahkan secara flashback setelah speech untuk toast di suatu pernikahan, Rosie dan Alex bersahabat sejak masih kanak-kanak. Saking akrabnya mereka selalu surat-suratan di dalam kelas. They are so perfect for each other, everybody could tell but themselves. Unfortunately, after small missunderstanding lead their life apart like a chain reaction. Kejadian kejadian kecil yang tak terduga bikin yang nonton ikut geregetan, are they realy destined for each other or not?

 Dari nonton film ini, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran :
  1.  It's okay to falling in love with your bestfriend. Sebagai pendukung sejati dari persahabatan cowok dan cewek, actually this is also hard to admit, hahaha.. Banyak yang dipertaruhkan, persahabatan, kata teman-teman lainnya, dan ketika putus, ya.. kamu kehilangan sahabat terbaikmu.
  2.  Tapi, kalau sudah siap dengan segala konsekuensinya ,ya ga ada pilihan lain, harus saling jujur mengungkapkan perasaan. Bila momennya uda lewat, penyesalan dengan selalu wondering: "What, If..." tidak terlalu bermanfaat, malah sebaiknya keep it secret for good, so you could maintain your friendship. Apalagi bila masing-masing sudah punya pasangan hidup, life is not a movie, though Wallahualam bi Showab ya,, kita ga tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi lebih baik menjaga hati dari pihak-pihak lain yang paling penting : their spouse
  3.  Last but not least motherhood never come easy, but don't let it be the reason to put up your dreams no matter what the circumtances. Rosie disini kan jadi ibu tunggal, tapi akhirnya dia memutuskan untuk membesarkan Katie, daripada menyerahkannya untuk adopsi, sambil terus mengejar cita-cita dan cinta dalam hidupnya.

Overall, I give score: 8 stars out of  10. 
Bukan termasuk jajaran my top ten movies all the time sih, tapi  ngerasa oke-oke aja bila suatu saat nonton ulang. Happy watching, folks!