- - Awkarin, Sebuah analisa abalabil dari sesama anak Kepulauan Riau | Hello Nisa
-

Awkarin, Sebuah analisa abalabil dari sesama anak Kepulauan Riau

Disclaimer
1. Saya tidak bisa menggeneralisasi ini untuk seluruh anak propinsi Kepulauan Riau
2. Saya tidak pernah bersekolah di wilayah Kepulauan Riau, saya bersekolah di Pekanbaru, Riau dan kuliah di Semarang, Jawa Tengah. Tetapi saat itu Kepulauan Riau masih menjadi bagian dari Propinsi Riau dan keluarga saya telah menetap di Kepulauan Riau sejak tahun 2000an.
3. Jarak usia saya dan Karin yang terbilang jauh mungkin membuat analisa ini semakin sotoy.

Annisa.mom Awkarin atau lengkapnya karin Novilda nama yang akhir-akhir ini sangat populer di timeline media sosial, khususnya Instagram, Ask Fm dan Twitter. Awalnya saya tidak terlalu perduli, hingga salah seorang blogger favorit saya membahasnya dan membuat tulisan yang sangat menggelitik. Saya baru ngeh ternyata Ia juga adalah seorang vlogger yang cukup beken di Youtube dan berasal dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Akhirnya saya ikutan kepo dan membuka sekilas sosial media miliknya dan membaca berita dari media lain terutama yang membahas perilakunya yang dinilai negatif hingga di cap merusak moral bangsa.
Berbagai media terutama yang menyasar anak muda sudah membahas fenomena Karin ini dari berbagai sisi, Hampir dalam semua media tersebut, yang tentu saja ditulis oleh "anak Jakarta" dan para komentatornya, menjudge Karin yang bersekolah jauh dari orang tua menjadi salah gaul, ga siap dengan pergaulan Jakarta. Menggeneralisasi perbedaan pergaulan antara Jakarta dan Kepuluan Riau ini tidak sepenuhnya salah, namun tidak sepenuhnya benar. Apalagi kalau dianggap Karin, trying so hard to blend in and impress her new friends!. Ehm.. Saya setuju dengan sebagian besar isi artikel sejenis yang membahas Karin, tetapi saya  mencoba memandang fenomena Karin dari sudut pandang baru dari pengalaman pribadi.

Pertama, Wilayah Kepulauan Riau ini menyoal pergaulan, sesungguhnya sama saja gawatnya dengan pergaulan Jakarta (bahkan daerah lain di Indonesia). Bahasa yang digunakan dalam keseharian pelajar memang tidak berloe-gue tetapi penuh dengan bahasa carutan menggunakan bahasa daerah yang cukup kasar. Kegiatan pacaran merupakan hal yang lumrah. Malah kans untuk prostitusi terselubung jauh lebih besar, karena 'pelanggan' berdatangan dari negeri tetangga. Hal ini, menurut keterangan seorang saudara ipar yang merupakan seorang guru agama di sebuah SMA di Batam, telah mengenai level pelajar SMA (bahkan SMP!!) juga. Masalah pergaulan lainnya misalnya merokok dan minuman keras di kalangan anak di bawah umur juga ditambahi dengan beredarnya merek-merek asing yang diimpor secara gelap dan dijual di warung rumahan dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga legal yang dikenai cukai. Misalnya sekotak rokok impor merk X isi 16 batang yang dijual dibawah harga sepuluh ribu rupiah, tentunya masih dapat dijangkau dengan uang jajan anak sekolahan zaman sekarang. Jadi tidak sepenuhnya benar Karin "kaget" dengan pergaulan Jakarta. Mungkin dari segi gemerlap tempat hiburan, memang Kepulauan Riau masih kalah, tapi selebihnya menurut saya terbilang sama saja.

Kedua, berdasarkan pengalaman, banyak anak daerah, dalam hal ini Kepulauan Riau yang begitu datang untuk melanjutkan sekolah atau kuliah ke  Jakarta atau Jawa dianggap jauh lebih keren oleh teman-temannya. Tidak selamanya dipandang ndeso atau kampungan. Selain karena rupa fisik menawan yang merupakan karunia Illahi, ada beberapa alasan lain juga, diantaranya : 
1. Dianggap lebih 'berduit'
Para orang tua yang 'berani' menyekolahkan anaknya ke luar daerah memang telah memperhitungkan sesuai dengan kemampuan. Kepulauan Riau sendiri memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terbilang lumayan tinggi sehingga secara umum jumlah uang beredar mempengaruhi penghasilan rata-rata menjadi lebih tinggi bagi para orang tua yang mau menyekolahkan anaknya tadi.
Selain itu dampak lainnya perbedaan harga barang dikarenakan penambahan biaya transportasi membuat nilai uang (jajan) yang diberikan oleh orang tua terasa lebih banyak value-nya jika di bawa berbelanja di Jakarta. Ilustrasinya begini, orang tua cenderung memberikan uang makan dengan menghitung biaya makan di Kepulauan Riau yang per porsinya minimal diatas sepuluh ribu rupiah. Selisih dengan harga nyata di Jakarta atau Jawa yang masih bisa sarapan atau makan di bawah harga yang telah dianggarkan tersebut inilah yang bisa di tabung untuk kepentingan lain.
2. Style yang berbeda, bisa lebih alim atau malah lebih edgy.
Kegiatan keagamaan di Kepulauan Riau terbilang sangat baik. Salah satu indikasinya, bagi pelajar muslim setiap hari Jumat diwajibkan pengadaan membaca surah Ya-sin di sekolah. Para pelajar diwajibkan mengenakan pakaian Melayu yang sangat cocok dipadankan dengan hijab. Sehingga hal yang lumrah sejak baligh pelajar putri telah menggunakan pakaian muslim, minimal ke sekolah. Sebagaimana juga Karin semasa SMPnya.
Penampilan juga (bisa) lebih edgy karena dipengaruhi oleh street style para pelancong dari negeri tetangga. Misalnya banyak turis tersebut menggunakan pakaian yang terlalu sexy hanya untuk shopping di mall. Selain itu dari segi fashion cenderung lebih mudah dan relatif murah mendapatkan aneka produk fashion impor karena pertimbangan jarak lebih dekat dengan akses transportasi lebih mudah (bisa naik kapal) yang mempengaruhi harga jual menjadi lebih murah.
3. Prestasi yang lumayan.
Secara akademis misalnya banyak teman sekolah saya di Pekanbaru yang mampu bersaing di level nasional dalam bidang mata pelajaran. Sedangkan bidang non-akademis ini diantaranya bidang olahraga dengan cabang-cabang yang memang sangat dikuasai misalnya sepak takraw dan pencak silat, maupun cabang lain yang lebih umum. Di bidang kesenian pun patut diacungi jempol, misalnya banyaknya lomba band semasa SMA di Pekanbaru telah menelurkan dua band bertaraf nasional : Geisha dan Lyla
4. Rata-rata pernah ke luar negeri, minimal pernah ke Singapura
Adalah rahasia umum biaya transportasi ke Singapura dari Kepulauan Riau lebih murah dari pada berkunjung ke Jakarta. Apalagi bila pulang hari, pergi naik kapal paling pagi dan pulang dengan kapal terakhir tanpa menginap, sebagaimana dibahas di artikel ini, biaya yang diperlukan sangat terjangkau. Selain itu sebagian memiliki keluarga besar yang tinggal di negeri tetangga. Sehingga mengurangi biaya akomodasi untuk penginapan. Bahkan keberangkatan ke luar negeri ini sudah merupakan hal lumrah. Hal ini tentu dianggap keren oleh teman baru yang (mungkin) belum pernah menginjakkan kaki keluar Indonesia.

Ketiga Ada duo selebgram (selebriti instagram) asal Tanjung Pinang lain yang terlebih dahulu beken, yaitu bersudara Ellendmuzaky dan Joyagh. Mereka juga pernah menghadapi haters dipertengahan tahun 2013an. Cara mereka menangani haters memang lebih 'berkelas' dan akhirnya setelah terbongkar, semuanya reda dengan sendirinya.

Kesimpulan menurut saya : Karin dan segala rupa kehidupan yang diumbarnya online di media sosial adalah too overated, dinilai berlebihan baik dari followernya dan bahkan media yang membahasnya. Bahasa kekiniannya lebay kali yaa.... Segala tindakan Karin merupakan tanggung jawab Karin pribadi. Jangan selalu dikaitan dengan dari mana dia berasal dan pergaulan Jakarta yang membuatnya kebablasan. Kontrol terhadap diri sendirinyalah yang paling dibutuhkan, karena saat ini orang tua hanya mampu mengawasi dan membimbing dari jauh. Semoga para follower Karin yang masih diusia sekolah mampu menjadikan Karin sebagai warning agar tidak sampai mengalami kejadian yang sama.

Share this:

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment

Thank You for visiting my "Abalabil" blog.
Please show me some ♡ by leaving a comment (or two!)

Kindly Follow me on Instagram / Twitter : @annisakih