- - 9 Pertimbangan Dalam Memilih Nama Bayi Dari Orang Terdekat | Hello Nisa
-

9 Pertimbangan Dalam Memilih Nama Bayi Dari Orang Terdekat

9 pertimbangan dalam memilih nama bayi

Saya mau flashback sedikit, mengenang saat saya dan Mamase --suami saya-- mencari nama untuk putra pertama kami. Sebenarnya untuk saat ini mencari nama yang baik untuk calon bayi lebih mudah dengan adanya internet dan banyaknya buku kumpulan calon nama bayi. Berbagai pilihan nama dalam urutan abjab dalam berbagai bahasa yang ada di dunia, lengkap dengan arti.


Kebanyakan informasi, kadang kala malah membuat semakin bingung, karena banyaknya pilihan yang dirasa baik. Kami berdua memiliki nama favorit masing-masing. Hanya satu yang kami kompak sejak awal : Nama depan diawali dengan huruf A. Karena nama panggilan kami berdua diawali huruf yang sama. Saya sendiri merasakan banyak manfaat dari abjad A ini. Selalu menjadi nama yang paling awal dalam absen justru membawa berkah, misalnya selalu dipanggil diawal saat ujian lisan atau pembagian sesuatu.

Sebagai (calon) cucu pertama dari kedua belah pihak keluarga, kehadiran putra kami, sungguh dinantikan. Diwujudkan dalam bentuk perhatian, banyak yang urun saran dalam memberi pertimbangan untuk namanya. Nah, kali ini saya membagikan saran yang bisa menjadi pertimbangan dalam memilih nama untuk calon buah hati, yang diberikan anggota keluarga saya dan pengalaman pribadi : 

1. Harus memiliki makna yang baik.
Nama adalah doa dan secara syariah merupakan salah satu tanggung jawab orangtua, sebagaimana hakikatnya untuk memuliakan anak dan jelas bernasab pada ayahanya.
Bagi yang ingin memberikan nama Islami, saya menyarankan membaca ini, terlebih dahulu.

2. Harus memiliki wibawa (masukan dari ayah saya).
Ini ada kisahnya sendiri, seorang teman ayah sempat mengatakan sambil bergurau bahwa nama saya terlalu "serius" dan tidak terkesan imut seperti nama yang dipilihkannya untuk putrinya sendiri. Ayah saya menjawab, bahwa nama saya akan saya sandang selamanya, bukan hanya saat masih kecil dan imut saja. 
Jadi, sebelum memberi nama, coba pertimbangkan bila kelak anak kita telah dewasa, apakah namanya mampu membuat wibawanya terjaga?

3. Jangan terlalu singkat (1 kata) atau terlalu panjang (masukan dari suami).
Nama suami saya yang hanya terdiri dari 1 kata, kerap menyulitkan. Mulai dari pembuatan akun facebook sampai membuat paspor yang mensyaratkan minimal 2 kata.
Bila nama terlalu panjang, sebenarnya akan menyulitkan anak sendiri. Contohnya dalam mengisi berbagai kolom pendaftaran sekolah, lembar ujian, dan lain sebagainya. Kadang jumlah kotak atau panjang kolom tidak sesuai dengan nama sang anak.
Atau ada versi jokes yang populer untuk anak perempuan : " Aduh, namanya panjang sekali, kasihan nanti calon suaminya, bakalan susah mengucapkannya dalam ijab qabul"  😃

4. Tidak terlalu sulit dalam pelafalan dan penulisan (pengalaman dari saya sendiri).
Nama depan saya, Annisa, lumayan umum, tetapi pada kenyataannya sering sekali salah eja dalam penulisannya oleh orang lain. Kadang ditulis menjadi Anissa, Anisa, Anisah. Bayangkan, bila dinamai yang lebih ribet dari ini, pasti semakin sulit untuk dituliskan.

5. Nama panggilan unik dan jangan terlalu generik (masukan dari ibu saya).
Nama Indonesia Ibu saya lumayan banyak yang menyamai. Untungnya panggilan kecil ibu adalah nama Cinanya yang tidak pasaran. Hal ini memudahkan ibu dibedakan dari teman sekelasnya saat masuk sekolah berasrama.

6. Singkatan huruf di depan kata yang menarik (masukan dari kakak ipar).
Huruf-huruf atau suku kata dari masing-masing nama dapat dipadukan menjadi nama panggilan atau julukan populer. Tentunya kita sangat akrab dengan nama pak SBY atau pak JokoWi. Siapa tahu, kelak akan bermanfaat pula bagi anak-anak kita di masa yang akan datang.

7. Jangan "keberatan nama" (masukan dari Bibi mertua).
Seorang sepupu suami sempat mengalami pergantian nama karena sering sakit sewaktu masih balita. Tradisi dari suku tertentu sering mengkaitkannya dengan "keberatan nama". Sebenarnya sebagai umat beragama, kita tidak boleh mempercayainya, takutnya menjadi syirik. Jadi sebaiknya berjaga-jaga sejak awal.

8. Bila ditambahi dengan gabungan suku kata dari nama orang tua (atau anggota kelaurga yang lain) pertimbangkan kesesuaian sifat. (masukan dari saudara ipar yang lain).
Hampir sama dengan penjelasan di atas,  nama anak yang ditambahi nama kedua orang tuanya atau kakek dan nenek, sebaiknya memperhatikan kesesuaian sifat. Believe it or not, sebenarnya ya..

9. Hindari nama dengan kata-kata yang bisa dijadikan bahan ledekan teman (masukan dari adik saya).
Nama belakang saya dan adik, memiliki kedekatan dengan sebuah kata sifat yang artinya bisa dijadikan bahan ledekan. Tidak terlalu mengganggu, sih, dan kami tetap bangga menyandang nama tersebut. Namun sebaiknya tetap menghindari nama-nama yang memiliki potensi serupa.


Memberi nama anak pada akhirnya adalah hak perogratif dari masing-masing (calon) orang tua. Andalkan feeling kita sebagai (calon) orang tua, mengenai kesesuaian dalam membentuk rangkaian nama yang indah dan penuh makna. 

Share this:

JOIN CONVERSATION

    Blogger Comment

0 comments:

Post a Comment

Thank You for visiting my "Abalabil" blog.
Please show me some ♡ by leaving a comment (or two!)

Kindly Follow me on Instagram / Twitter : @annisakih