Recap dan Review Head Over Heels Episode 2
Recap Head Over Heels Episode 2
Wali kelasnya mengomeli SeongAh, dan para perundung yang masih membela diri bahwa mereka tak main air. "Karena kalian merokok, jadi yang benar main api?" Sindir pak Guru.
Mereka kena hukuman bersih-bersih halaman sekolah selama seminggu. Saat sedang menyapu halaman GyeonWoo melarang SeongAh mendekat. SeongAh berusaha merasionalisasi tindakannya akibat melihat serangga, Ia sangat benci dan merasa harus langsung membunuhnya. Tapi GyeonWoo bilang Ia lebih suka kecoa atau serangga lain karena setidaknya tak menyiramnya sampai basah atau terkena masalah. Malah SeongAh lebih bahaya baginya dan sebaiknya Ia tak mendekat.
Bukannya kecewa, SeongAh malah tersenyum bahagia "Setidaknya Kau selamat, wahai.. cinta.. pertama.. ku."
Para perundung berkumpul di depan gudang untuk kembali merokok. Secara tiba-tiba sesosok arwah di dalam gudang menjentikkan jari dan menyebabkan puntung rokok yang awalnya telah dimatikan menjadi hidup kembali bahkan membakar tumpukan kardus bekas di belakang gudang.
Untunglah SeongAh datang tepat waktu untuk mematikan api dan menegur arwah yang tampaknya wajahnya terbakar. SeongAh bilang bahwa Ia tak takut padanya, namun Kim JiUng --salah seorang perundung-- salah mengira SeongAh bicara padanya. SeongAh melihat ada sosok roh anak anjing yang mengikuti langkah JiUng, sehingga Ia berpura-pura datang agar bisa menggantikan ketiganya membersihkan bagian mereka.
Ketiganya pergi dengan senang. Sementara SeongAh lega tak jadi dipukul oleh para perundung. Diam-diam GyeonWoo mendengar semua interaksi itu dan menganggap SeongAh anak yang aneh sambil tersenyum.
Malamnya, Ibu SeongAh menengoknya di ruang praktek. SeongAh mengulurkan jemarinya jenaka, satu genggaman tangan dari sang ibu membuat SeongAh bersyukur akan kehangatan yang membuat moodnya membaik seketika. Ia melaporkan kejadian hari ini. Ibunya memperingatkan bahwa ini baru satu hari, keberhasilan belum terbukti karena GyeonWoo yang terbalik artinya sangat rentan kemalangan.
SeongAh minta ibunya memujinya saja. Ia tak tahu rencana selanjutnya karena sepuluh jimat dari Master Bunga telah habis terpakai. Tahu-tahu ibunya mengangsurkan setumpuk jimat baru dan berpesan agar Ia memikirkan rencana baru dengan matang.
SeongAh sangat senang, apalagi sang ibu mau membuatkannya jimat. Ternyata itu adalah buatan Master Bunga juga. Seong Ah memeluk ibunya dengan hangat sambil menyatakan cintanya yang sepanjang masa. Plot twist-nya, Master Bunga yang mengobati kakinya yang habis dipukul pedang, jujur bahwa Ia mengubah karyanya.
Keesokan harinya, di sekolah SeongAh berupaya keras memasang jimat pada GyeonWoo yang terus menghindarinya. Untungnya JiHo turun tangan dengan berpura-pura terjatuh diatas meja GyeonWoo lalu mengambil ponselnya dari atas meja.
Setelah jam istirahat berakhir, Nenek GyeonWoo datang membagikan kue beras pada seluruh rekan sekelas. Justru hal ini membangkitkan kecurigaan pada seorang teman. Sehingga Ia mengikuti firasatnya dan browsing sosial media GyeonWoo yang membawanya ke masa lalu di sekolah lama. Ada banyak postingan saat menjadi juara panahan.
SeongAh merasa tak sanggup menyelipkan jimat dibawah chasing ponsel GyeonWoo, sehingga lagi-lagi JiHo yang mengejarnya ke halaman sekolah menggantikannya. Ternyata perbuatan mereka tak luput dari perhatian Nenek GyeonWoo.
Sang Nenek mengenali ponsel itu dari lukisan tangannya sendiri berupa bunga kuning. Kedua anak itu mengaku menemukan ponsel GyeonWoo. Nenek senang mereka mau mengantarnya pulang tapi nenek sempat berhenti karena dadanya terasa nyeri. Saat yang tepat, GyeonWoo menyusul neneknya dan meminta maaf terlambat karena sibuk mencari ponsel. Neneknya bilang, teman barunya menemukannya, tapi GyeonWoo curiga keduanya mengubah sesuatu. "Ponselmu? Untuk Apa?" Kata JiHo yang tetap cool padahal SeongAh sudah panas dingin. Hoahaha.
Neneknya senang GyeonWoo sudah punya teman. GyeonWoo bilang mereka bukan temannya. SeongAh mengambil kesempatan dengan bilang Ia mau jadi teman GyeonWoo dan teringat kata-katanya saat datang konsultasi --tidak ada teman yang normal yang mau mendekati orang yang sial, mereka hanya merasa kasihan tapi tak akan mau makan bersama-- SeongAh sekalian mengajak makan bersama.
JiHo dan GyeonWoo sama terkejutnya tapi setelah menjauh SeongAh menjelaskan pada JiHo --yang menuduhnya tak tahu malu karena minta dimasakkan-- rencananya untuk menyembunyikan jimat dilokasi yang sering didatangi GyeonWoo.
Dalam perjalanan mereka kembali berpapasan dengan pelatih tim panahan. Beliau tetap berusaha membujuk JiHo bergabung, sementara SeongAh memperhatikan perubahan gesture GyeonWoo dan neneknya.
Setibanya di rumah GyeonWoo, SeongAh mengucapkan terimakasih dan minta izin masuk sampai GyeonWoo yang berusaha mencegatnya di pintu jadi jengah sendiri.
SeongAh diberi bantal untuk duduk, tapi tetap berusaha bertanya dimana kamar GyeonWoo. Yang bersangkutan terlihat kesal dan memintanya tetap duduk di atas bantal hingga sang nenek kembali dari pasar. Tanpa sepengetahuannya SeongAh tetap bergerilya menyelipkan jimat ke beberapa titik yang tersembunyi.
SeongAh tertangkap basah hendak mencoba masuk ke kamar GyeonWoo. Setelah diancam akan diusir, akhirnya Ia duduk manis. GyeonWoo memberinya segelas air putih dan SeongAh menyadari airnya telah dihangatkan terlebih dahulu. Celakanya, GyeonWoo mendengar celetukan "Manisnya" dari SeongAh dan berusaha merebut gelas tersebut. SeongAh berusaha mempertahankan airnya sampai airnya tumpah.
Sekonyong-konyong SeongAh mendekat ke arah GyeonWoo yang hanya bisa menatapnya sambil menyender ke meja. Gerakan yang terasa intens dan lambat ini ternyata karena SeongAh ingin mengambil tisu gulung di meja belakang GyeonWoo. Hoahaha
Di pasar, JiHo --yang diminta SeongAh mengalihkan perhatian-- menemani Nenek di toko daging. Dengan cepat JiHo membaca situasi keuangan nenek dan berbohong kalau Ia adalah vegan jadi tak makan daging. Mereka pulang tepat disaat SeongAh dan GyeonWoo bertatapan. Keduanya segera saling menjauh.
JiHo menangkap aura aneh dari keduanya. SeongAh bilang tak terjadi apa-apa namun Ia bingung kenapa yang dibeli semua makanan kelinci. JiHo dengan santai bilang sekarang Ia adalah vegan.
Nenek masak satu meja penuh aneka menu tradisional yang nampak lezat. SeongAh dan JiHo memuji sepenuh hati. JiHo sempat dibuat kesal karena gesture-nya yang ingin meletakan daun Perila diatas mangkuk GyeonWoo atau isyaratnya agar GyeonWoo meletakan daun di atas mangkuk nenek (biasanya sebagai tanda hormat pada orang yang lebih tua atau tuan rumah), hanya dicuekin. Hoahaha.
JiHo bilang seharusnya GyeonWoo bersyukur dan bersikap lebih baik pada nenek yang telah membesarkannya sendirian. Nenek malah tersedak dan bilang kedua orang tuanya bekerja di luar negeri tetapimasih sering menelepon meski jarang berkunjung. JiHo meminta maaf karena kelewatan bicara
Secara santai SeongAh bercerita bahwa Ia adalah anak angkat yang sudah sepuluh tahun tak berjumpa orangtua kandungnya. Ibu angkatnya terampil menggunakan pisau tetapi Ia tak pandai memasak, jadi ini Japchae (bihun sayur KorSel) terenak yang pernah dimakannya.
Saat berduaan saja sang nenek memuji SeongAh gadis yang kuat sementara GyeonWoo meragukan antara beneran kuat atau hanya berpura-pura saja.
JiHo mengajak SeongAh berbicara berdua, tanpa disadari mereka masuk ke kamar GyeonWoo. "Kau benar anak angkat?" JiHo terlihat cemas.
"Tidak secara resmi." SeongAh masih tersenyum manis. "Orangtua kandungku menitipkan ku pada saat usia delapan tahun dan tak kembali."
JiHo "Apa biasanya orang membahas ini dengan santai?" JiHo sebenarnya tak bisa berkata-kata
"Entahlah, lagipula ini bukan hal biasa. Namun ini juga bukan hal yang besar. Jika dianggap besar, lihatlah nenek GyeonWoo tadi, orang akan berbohong sayangnya hal itu terlihat jelas. Begitulah faktanya, jika tampak berani, kau dikasihani. Jika tampak sedih, Kau diremehkan. Jika kau berbohong untuk menghindar. "
Begitu tersadar mereka masuk dalam kamar GyeonWoo, SeongAh berusaha menyelipkan jimat terakhirnya, tapi niat JiHo untuk membantu malah menjatuhkan sekotak barang dari atas lemari. GyeonWoo yang dari tadi sudah menguping lekas membuka pintu dan menangkap basah keduanya yang hanya terpaku.
Di sekolah, sang pelatih tim panahan teringat siapa anak lelaki yang berada di sebelah JiHo saat berpapasan di jalan sepulang sekolah tadi. Ia adalah Bae GyeonWoo, primadona panahan yang menjuarai perlombaan panah tingkat SMA di sekolah lamanya.
JiHo dan SeongAh berupaya menyusun isi kotak dan melihat banyaknya medali milik GyeonWoo. Mereka bertanya apakah bisa melihat GyeonWoo memanah lagi, namun GyeonWoo bilang Ia sudah berhenti.
GyeonWoo melihat bungkus jimat yang berwarna merah di tangan SeongAh dan mengiranya terluka. Dengan cepat JiHo berimprovisasi berpura-pura perasannya lah yang terluka saat SeongAh menyelipkan jimat di meja belajar GyeonWoo.
Bibi menghubungi karena antrean klien sudah ramai. SeongAh buru-buru pamit dengan alasan ada pekerjaan paruh waktu. GyeonWoo terlihat marah, sedangkan JiHo kesal karena biasanya pekerjaan SeongAh akan selesai tengah malam, jadi Ia tak akan kembali. Artinya Ia yang harus merapikan semuanya.
Nenek GyeonWoo menyusul SeongAh dan mengangsurkan bungkusan makanan. Ia berterimakasih pada Peri Surga dan Bumi. SeongAh reflek menjawab iya dan baru sadar penyamarannya terbongkar. Nenek tahu karena melihat waktu JiHo dan SeongAh menyelipkan
GyeonWoo mengancam JiHo untuk tak menyebarkan soal masa lalunya dan jangan anggap mereka berteman serta sampaikan pada SeongAh juga. Ia hanya tak suka pada manusia pada umumnya
Malam itu, di sekolah sang pelatih mencari informasi mengenai Bae GyeonWoo. Sementara GyeonWoo dapat chat misterius dari sesorang yang menuntut permintaan maaf darinya.
Keesokan harinya rumor GyeonWoo seorang arsonis dengan cepat menyebar dan semua teman sekelas menghindarinya. JiHo yang tahu lebih dulu memberi tahu SeongAh bahwa GyeonWoo tak ingin berteman, meski menutupi soal rumor. SeongAh tahu sendiri setelah mendengar percakapan di toilet wanita.
Jam makan siang, rumor dan pengucilan ditunjukkan terang-terangan. Hanya SeongAh dan JiHo yang mau semeja dengan GyeonWoo. Bahkan mereka pura -pura tak dengar saat GyeonWoo bertanya apakah mereka mengasihaninya. Mereka pun mengaku sudah tahu soal rumor tapi cuek saja dan lanjut makan.
Rupanya JiHo dan SeongAh sudah membahas, meski arsonis adalah orang yang berbahaya tetapi orang yang dikutuk sial selalu dikelilingi hal buruk dan semua jenis roh jahat akan mendekat untuk membunuh mereka. SeongAh lebih percaya apa yang bisa dia lihat sebagai orang yang punya kemampuan khusu. Ia melihat kebaikan GyeonWoo yang menghangatkan airnya karena hanya itu yang dimilikinya.
GyeonWoo pulang dan melihat neneknya menyiapkan porsi besar Japchae untuk temannya. GyeonWoo curiga dengan teman yang dimaksud jadi Ia membututinya diam-diam. Ternyata nenek mengunjungi SeongAh yang makan dengan lahap. GyeonWoo memaksa masuk lalu melabrak SeongAh --yang buru-buru memakai masker demi melindungi identitas rahasianya-- yang dianggapnya tak punya malu, lalu memaksa neneknya pulang.
Bibi pendamping mengkhawatirkan SeongAh dan heran neneknya sangat lembut tapi Ia sangat pemarah. Tapi SeongAh lebih kawatir pada pertanda GyeonWoo yang akan mati terbakar.
Neneknya berulang kali meminta maaf pada GyeonWoo uang kesal kenapa neneknya harus menjadi pesuruh peri Surga dan Bumi. Ia hanya marah pada dirinya sendiri, neneknya tak bersalah.
Keesokan harinya di sekolah, sikap teman-teman makin tak tertahankan dan mengingatkan GyeonWoo saat di sekolah lamanya. Ia pergi keluar dengan alasan mau mendaur ulang sampah dan menyapu. Ia masuk ke gudang yang anehnya langsung terkunci sendiri.
SeongAh yang baru datang langsung bertanya soal GyeonWoo ke JiHo. Awalnya JiHo kesal karena SeongAh bahkan tak menyapanya terlebih dahulu, tapi jujur menceritakan keberadaan pria itu. SeongAh membongkar tas GyeonWoo dan menemukan ponselnya yang ditinggalkan.
Mendadak teman sekelas melihat api dari arah gudang. SeongAh mengangkat telfon GyeonWoo yang dbawanya. Ternyata master Bunga memang membuat jimat yang justru menghina para dewa, pantas jadi tak ampuh.
GyeonWoo terjebak dalam api sekaligus kenangan masa lalunya yang pernah berada dalam kebakaran dengan seorang gadis bernama In Hui di SMA lamanya. Gadis itu yang sering mengirim pesan bernada ancaman bahkan meminta GyeonWoo mati saja. Sehingga Ia hanya memutuskan untuk memurutinya dan terpaku .
SeongAh mendobrak pintu dan berusaha melawan Hantu Api dengan garam yang sudah dimantrai. GyeonWoo menolak ajakan SeongAh dan menyuruhnya pergi saja. Disaat SeongAh terpojok, JiHo dengan heroik memecahkan kaca jendela gudang dan menyemprotkan APAR sehingga Hantu Api menyingkir. Dalam kabut asap, akhirnya GyeonWoo menerima ukuran tangan SeongAh yang mengajaknya keluar bersama.
Di ruang guru, SeongAh dan JiHo mati-matian membela GyeonWoo yang diminta membuat laporan kebakaran. Ternyata itu adalah pilihan GyeonWoo sendiri, karena Ia tak mau menjelaskan alasan rumor di sekolah lamanya.
SeongAh berargumen, jika senyum tak bisa mengubah keadaan buruk menjadi baik, apalagi jika hanya diam saja. GyeonWoo masih ngotot tak ada bukti yang menunjukkan bahwa Ia bukan yang memulai kebakaran itu. GyeonWoo menyudahi perdebatan itu dengan meminta SeongAh bercermin saja, karena senyumnya sangat menyedihkan daripada harus menolong orang lain. "Jika semua orang mengira Aku yang membakar, maka biarkan saja" pungkas GyeonWoo sebelum berlalu.
SeongAh dan JiHo menilik gudang. SeongAh kesal karena Hantu Api berhasil kabur. Sementara JiHo berusaha membersihkan seragamnya dan bertanya apakah misi menyelamatkan GyeonWoo masih berlangsung. SeongAh bimbang karena saat Ia maju selangkah, GyeonWoo bukan mundur selangkah melainkan sepuluh langkah. JiHo malah meledek SeongAh yang diusir GyeonWoo tapi menurut SeongAh itu bukan mengusir, hanya melarang mendekat. JiHo menyimpulkan bahwa karena kesialannya GyeonWoo cenderung menyia-nyiakan orang lain.
Malamnya, SeongAh yang galau menerima kedatangan nenek GyeonWoo di Kuil Surga dan Bumi meski hari ini tidak ada praktek. Ia meminta maaf atas nama GyeonWoo yang selalu menolak bantuan SeongAh. SeongAh mengeluh bahwa tembok GyeonWoo berlapis bahkan seolah Ia punya pulau terpencil sendiri. Sang nenek membenarkan, karena masa lalu GyeonWoo setiap kali membangun jembatan untuk orang lain, maka orang lain itulah yang memutuskan hubungan dengannya. Nenek mengenang meski GyeonWoo selalu dinaungi kesialan, Ia selalu berupaya menunjukkan sikap baik-baik saja. Bahkan ketika mereka bepergian ke negara lain demi menemui dukun atau peramal yang sudah punya nama, Ia tak merasa lelah karena senyuman GyeonWoo yang seolah sinar mentari selalu memenuhi relung hatinya.
Kesialan tak membunuh manusia. Diberi julukan anak yang sial, mendengar orang tua lain melarang anak-anaknya bermain dengan GyeonWoo atau sikapnya yang tetap diam saat batas usianya dijadikan bahan taruhan seolah-olah Ia orang yang sudah mati, karenya kehidupan GyeonWoo sedikit demi sedikit memudar.
Di sekolah, di saat yang bersamaan, GyeonWoo menolak langsung tawaran bergabung ke pelatih. Sang pelatih tim panahan rupanya sudah bertemu langsung dengan mantan pelatih GyeonWoo yang lama. Ia mendengar semua rumor yang beredar mengenai kesialan tim panahan GyeonWoo di sekolah lama : bus terguling, langit-langit ambruk dan anggota tim panahan keracunan makanan, sampai peforma tim menurun, tak ada yang menang kecuali GyeonWoo. Sehingga pelatih tim panahan yang lama memilih melepaskan GyeonWoo demi tim secara keseluruhan. Tapi pelatih tim panahan di sekolah baru tetap memutuskan untuk membimbing GyeonWoo karena Ia tak akan meninggalkan satu domba tersesat demi domba lainnya.
Jadi saat GyeonWoo menolak masuk tim panahan, Ia bertanya apa alasan GyeonWoo ikut panahan. GyeonWoo bilang karena neneknya suak melihatnya memanah, tapi Ia keluar karena dijauhi, Ia terbiasa dibenci orang lain tetapi tak sanggup dan tak ingin neneknya melihat bahwa Ia dibenci orang lain. Setelah GyeonWoo pamit, sang pelatih tetap merasa Ia imut dan bertekad tetap membuatnya ikut panahan lagi. Hoahaha
Nenek melanjutkan percakapannya dengan SeongAh. Nenek bilang selalu sedih melihat GyeonWoo, SeongAh mengerti bahwa meminta maaf adalah cara nenek menunjukkan rasa sayang. Nenek membenarkan karena orang lain tak pernah meminta maaf padanya yang berhak. Sehingga GyeonWoo selalu merasa pembuat masalah, oleh karena itu nenek yang meminta maaf demi GyeonWoo yang berhak menerima permintaan maaf dari dunia. GyeonWoo tak bersalah, Ia bukan orang yang jahat hanya takdirnya.
SeongAh berusaha menggenggam tangan sang nenek tapi tak bisa. Air matanya menetes deras, terutama saat nenek bilang "Ibu peri Surga dan Bumi, sekarang GyeonWoo benar-benar sendirian." Hati SeongAh mencelos, menyadari yang datang adalah arwah sang Nenek dimana jasadnya sedang ditangisi oleh GyeonWoo yang menemukannya tergeletak di lantai rumah mereka.
SeongAh berlari sekuat tenaga, teringat pesan terakhir neneknya "Sekali ini saja, bisakah kau menggenggam tangan GyeonWoo?"
Sementara di rumah sakit, GyeonWoo menangis sendirian ketika neneknya dinyatakan tiada.
"Sepertinya Nenek meremehkanku, asal tahu saja, aku bersikap baik pada orang bukan hanya sekali. Seperti seorang Ibu yang tak meninggal anaknya, aku akan terus bersikap baik padanya. GyeonWoo, Aku akan menyelamatkannya." Janji SeongAh
Di rumah duka. GyeonWoo yang duduk seorang diri, ketika Ia keluar Ia berpapasan dengan SeongAh. Inner monolog SeongAh terdengar.
"GyeonWoo ya. Disana gelap ya? Aku tahu bintangmu satu-satunya baru saja padam. Aku tahu duniamu gelap gulita, tak terbayang sulitnya mencari cahaya saat dirimu dikelilingi kegelapan. Mulai saat ini Aku akan selalu mendekatimu. Maaf karena beginilah diriku. Dengan cara yang paling Kau benci."
GyeonWoo histeris mengusirnya, tapi SeongAh membentak balik "Dasar kurang ajar, Aku kemari untuk bertemu dengan Nenekmu. Dalam hatinya SeongAh tetap bertekad "Kau tak akan sendirian, Aku akan menyelamatkanmu"
Review Head Over Heels Episode 2
Reaksi pertama saya menonton episode ini adalah spesial efeknya smooth. Adegan pembakaran lengkap dengan Hantu Api dan efek asap yang menghadirkan dreamy-like scene itu keren.
Saya suka angle pengambilan gambarnya, bahkan untuk adegan sesederhana menumpahkan air dan mengambil tisu saja bisa terasa tensi tegang-romantis-manisnya.
Mengenai plot, sedikit demi sedikit masa lalu SeongAh terungkap. Mengapa Ia selalu berusaha tersenyum meski kondisi tak menyenangkan. Ternyata Ia pun ditinggalkan orang tua kandungnya untuk berlatih menjadi Shaman dengan ibu angkatnya. Orang tuanya tega meninggalkan SeongAh yang memang punya kelebihan melihat makhluk gaib sejak kecil.
Untunglah ibu angkatnya terlihat menyayangi dan mendukungnya. Dibalik sikap tegas dan sifatnya yang galak, hubungan keduanya sangat akrab dan manis.
SeongAh memahami perasaan GyeonWoo yang sama-sama ditinggalkan oleh orang tuanya. Meski sekarang sikap GyeonWoo masih dingin dan seolah membenci semua orang tapi pasti pada akhirnya Ia akan membuka hati dan bisa tersenyum sehangat mentari lagi.
Sekarang, Ia punya teman. SeongAh yang berupaya menyelamatkannya dan JiHo yang terlihat tulus sebagai sahabat sejati SeongAh. Tindakan JiHo membututi SeongAh ke gudang telah menjadi penentu karena api dapat dipadamkan oleh semprotan APAR.
Ditambah Sang Pelatih Tim Panahan yang terlihat sungguh-sungguh ingin merekrut GyeonWoo sampai menganalogikannya sebagai domba yang tersesat.
Episode ini makin menarik karena chemistry antara para pemain terasa hangat. Masih kurang kehadiran satu tokoh lagi nih. Tunggu saja di episode mendatang.











































Posting Komentar