Recap dan Review Head Over Heels Episode 3
Recap Head Over Heels Episode 3
SeongAh duduk seorang diri di rumah duka. Ia berdialog dalam hati pada para hantu yang mengerubungi ruang tersebut, "Aku tak takut pada kalian! Yang paling seram justru menatap di belakangku", Ia melirik GyeonWoo yang ternyata benar sedang menatapnya tajam. "Aku tak keberatan ditatap tajam, kalau bersalah, tapi Aku kemari untuk melindungi mu. Nenek, cucumu tak tahu terimakasih" lanjutnya kesal. "Awas saja, kalau kau sudah selamat (melewati 21 hari penuh kesialan), Kau harus membalasnya dengan cintamu".
GyeonWoo yang jengah meninggalkan ruangan tepat saat Ia hendak menyapa SeongAh, Ia dipanggil pengurus rumah duka yang mewajibkannya memesan minimal 30 paket makanan bagi pelayat. Ia agak kesulitan memutuskan karena dalam kontak ponselnya saja hanya ada 19 nama.
SeongAh mencoba menghubungi Ibunya tetapi telfonnya dimatikan. JiHo membaca pesan SeongAh yang mengabarinya rumah duka tempat nenek GyeonWoo disemayamkan dan memintanya datang kalau sempat.
Rupanya sang Ibu sedang ditengah ritual penting. Ia dan seorang Shaman yang terlihat lebih senior serta telah kehilangan penglihatan mendatangi rumah yang terlihat menyeramkan. Mereka masuk bersama para penabuh alat musik tradisional.
SeongAh kesulitan minum sembari menunggu karena tak bisa melepas maskernya karena takut ketahuan GyeonWoo. Tiba-tiba ada seorang wanita dan beberapa orang yang masuk ke ruang persemayaman. Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil menyesali ibunya yang pergi setelah seluruh hartanya dihabiskan untuk "menyembuhkan" cucunya.
Seorang pria bertubuh besar langsung mengkritik GyeonWoo yang tidak memberi bunga di sekeliling foto neneknya dan meminta GyeonWoo melepaskan bar lengan sebagai ketua penerima pelayat. Sang Wanita lanjut histeris mengingatkan suaminya hal tersebut percuma, seharusnya sedari dulu Ia mengusir GyeonWoo bahkan hingga ke luar negeri. Ternyata pria itu adalah anak sulung sang nenek alias paman GyeonWoo.
SeongAh berusaha membela tetapi keluarga GyeonWoo malah semakin murka dengan menganggap kehadiran Shaman berarti Sang Nenek menjadi arwah yang susah menyebrang ke alam baka. Pamannya mencengkram kerah GyeonWoo dan menanyainya apakah Ia yang mengundang si penipu ini sambil mendorong SeongAh yang berusaha menyangkal hingga terjatuh ke lantai.
SeongAh merasa lebih baik mengahadapi hantu karena manusia bisa lebih menakutkan. Saat sang paman menarik GyeonWoo pergi, SeongAh tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak "Jangan, lepaskan dia", saat sekonyong-konyong ada sesosok tangan yang menepiskan cengkraman paman dari GyeonWoo. Syukurlah JiHo datang menolong.
Di rumah beraura seram. Ibu SeongAh, sang Deong Cheon berusaha keras melakukan ritual lengkap dengan ayunan pedangnya. Tetapi Ia merasakan keanehan. Sunbaenimnya memerintahkan DeongCheon untuk segera keluar rumah menyadari adanya kutukan yang sangat kuat. Para pemusik berlari keluar dan DeongCheon menahan seorang diri serangan hantu hingga telinganya berdarah. Ia mengunci pintu rumah tersebut dengan segel.
Nenek GyeonWoo --namanya Oh Ok Sun-- dipindahkan anak-anaknya dari ruang persemayaman standar ke suite. GyeonWoo hanya bisa menatap nanar kala pelayat datang ke ruang baru yang dihiasi banyak bunga itu dari luar.
JiHo datang membawa minuman dan menodong ucapan terimakasih. GyeonWoo berterimakasih dan bertanya dari mana Ia tahu. JiHo keceplosan tahu dari SeongAh, tapi cepat-cepat beralasan kalau SeongAh melihat GyeonWoo dari lokasi kerja paruh waktunya. JiHo mengirim pesan agar SeongAh ganti baju dan berpura-pura baru datang. Tapi SeongAh membalas, Ia tak bawa baju ganti.
Seorang paman mendekati GyeonWoo dan menyampaikan bahwa orangtuanya akan segera tiba. Anehnya GyeonWoo bilang Ia akan segera pergi dan pamit pada JiHo. Sang paman malah berterimakasih sambil menepuk pundaknya ragu.
JiHo mendatangi SeongAh yang duduk dekat dekat posisinya tadi berdiri dengan GyeonWoo. JiHo heran mengapa SeongAh tak melarang GyeonWoo pulang, tapi menurut SeongAh ucapan terimakasih paman adalah hal terbaik yang diterima GyeonWoo hari ini.
SeongAh sedih karena Ia diperlakukan buruk sebabnya karena Ia seorang Shaman, tapi menurut JiHo mereka hanya anak ingusan jadi belum bisa membela teman diantara keluarga. JiHo pamit setelah memastikan SeongAh bisa pulang sendiri.
Di rumah berhantu, pemilik rumah mengeluh karena DeongCheon mengembalikan uangnya. Ia menganggap DeongCheon penipu. Tapi ibu SeongAh membela diri, hebat baru tiga orang yang mati didalam rumah terkutuk itu, jadi jangan minta Shaman lain mengusir hantunya. Bila ada yang menyanggupi justru itulah yang palsu. Menurut Shaman yang lebih senior, roh yang mengirim kutukan sangat kuat, jika Ia tak pergi atas keinginan sendiri manusia tak bisa berbuat apapun kecuali berdoa.
DeongCheon berpesan untuk melarang siapapun masuk ke rumah sementara Ia mencari solusinya. Ia memungut semacam anting dari lokasi sambil terlihat berpikir.
Ternyata anting sejenis digunakan oleh sesosok wanita cantik YeomHwa ( Choo Ja Hyun). Ia terlihat sedang berjalan di malam hari. Ketika berpapasan dengan seorang anak kecil bersepeda, Ia membalas sapaan anak tersebut. Anehnya setelah anak itu berlalu Ia berkomentar, menyayangkan sepedanya yang masih baru. Di kejauhan nampak sesosok gelap serupa grim reaper dan benar saja, tak lama ada suara tabrakan keras dan anak itu sepertinya terluka.
JiHo menemani GyeonWoo pulang ke rumah. Setibanya di rumah GyeonWoo menerima pesan jahat yang menyelamatinya, akhirnya neneknya meninggal dan terlepas dari dirinya. jiHo khawatir melihat perubahan ekspresinya tetapi GyeonWoo bilang itu bukan apa-apa.
SeongAh menelepon Master Bunga dan mengancamnya untuk membuatkan 100 jimat baru sebagai ganti tak melaporkan pada DeongCheon kalau Ia menipu dengan jimat palsu. Master Bunga mengirimkan tautan sesi belajar jimat daring. Harganya luar biasa 5,4juta Won untuk 12 bulan setelah diskon sepuluh persen! Hoahaha
SeongAh membalikan perkataan Master Bunga yang menuduhnya rampok. Master Bunga bersikukuh, SeongAh adalah putri dari Jendral Seong Cheon, artinya Ia pun seorang Shaman yang sangat hebat, kenapa anak Macan mengganggu Rubah? Hoahaha.
GyeonWoo mengemasi barang peninggalan nenek sambil teringat percakapan mereka terutama permintaannya pada SeongAh untuk menyelamatkannya. Ia pun teringat pada semua ucapan bibinya. Ia merasa bersalah dan meminta maaf sambil menangis seorang diri memeluk sepatu neneknya. ðŸ˜ðŸ˜
DeongCheon memandangi anting yang ditemukannya sambil keheranan ada orang yang rela menjadi tumbal untuk memperkuat roh jahat. Menggunakan mantra sejenis bisa membawa petaka bahkan kematian bagi diri sendiri. Sang Sunbae menarasikan ritualnya, di tempat lain sosok wanita tadi seolah sedang menjalankannya. Mereka menyimpulkan bahwa pelakunya bukan manusia lagi, tetapi hantu dalam wujud manusia.
SeongAh pulang sambil merengek kenapa ibunya tega mengabaikannya dan lebih memilih kliennya. Ibunya membalas balik, kalau Ia pun butuh bantuannya. Sang Bibi akhirnya menengahi dan mendengarkan cerita SeongAh tentang masalah hidup dan mati cinta pertamanya.
Ia harus melewati 21 hari agar bisa menerima permintaan maaf dan rasa sayang dari orang -orang yang salah paham dan jahat padanya. SeongAh minta bantuan pada keduanya karena merasa belum cukup kuat untuk melindungi GyeonWoo. Ia bahkan sampai rela berlutut. Ibunya protes, dan bibi bertanya apa SeongAh sungguh-sungguh menyukainya? Dengan mantap SeongAh menjawab Ia mencintai GyeonWoo. Ibunya sampai ternganga Hoahaha.
Bibi Shaman Senior berpesan SeongAh sendirilah yang harus melindungi orang yang paling berharga baginya sambil menyerahkan buku Buku Rahasia Melawan Kejahatan. Dalam kamarnya, SeongAh berusaha membaca ejaan lama dengan bantuan terjemahan internet. Utuh 30 menit untuk 4 huruf saja. Jadi butuh waktu sekitar sepuluh tahun untuk membaca semuanya. Ia langsung menyerah dan bilang butuh satu kehidupan untuk menyelesaikannya sambil berguling di kasur. Hoahaha
Keesokan harinya Ia berupaya mengartikannya di perpustakaan sekolah. JiHo yang keheranan melihatnya belajar malah ditanyai apakah bisa membaca Hanja (huruf kuno)? Konyolnya JiHo bilang bahkan Ia kesulitan membaca Hangul (huruf modern) Hoahaha
SeongAh menjelaskan menurut Bibi ada cara melindungi GyeonWoo yang tertulis di salah satu halaman buku kuno ini. Tapi saling sulitnya Ia tak mengerti satu pun. JiHo malah menutup bukunya dan mengajak sang teman mencari jalan lain.
Mereka menyelusuri koridor dan SeongAh menyadari GyeonWoo tidak masuk sekolah. Menurut JiHo ini saat yang tepat untuk GyeonWoo sendirian. JiHo tertangkap oleh pelatih tim panahan. Sekeras apapun upayanya melepaskan diri dari rangkulan sang pelatih gagal. Sang pelatih tetap memohon agar JiHo mau masuk tim.
Sementara, SeongAh memutuskan mengunjungi GyeonWoo dengan alasan ada barangnya yang tertinggal di rumahnya.
GyeonWoo tak mengizinkan tetapi SeongAh bilang itu barang khusus wanita dan Ia akan pergi setelah menemukannya.
Sambil berkeliling rumah, SeongAh menanyakan kabar GyeonWoo dan apakah Ia sudah makan. SeongAh khawatir karena sepanjang di rumah duka, Ia tak makan apapun. GyeonWoo curiga bagaimana SeongAh bisa tahu, dengan lihai berbohong kalau JiHo yang bercerita padanya.
SeongAh malah mau memamerkan kepandaiannya mencuci beras. GyeonWoo menolak dan menyuruhnya pulang. SeongAh yang berkeras tetap berjalan menuju dapur, pada saat itulah Ia melihat sesosok hantu bunuh diri duduk di antara konter dapur.
Ia menatap GyeonWoo sambil menanyakan pikiran buruk untuk bunuh diri. Inner monolognya bilang hantu ini hanya mendatangi orang yang ingin mati.
"Nenekmu pasti sedih melihatmu seperti ini." ujar SeongAh berkaca-kaca. GyeonWoo malah mengusirnya, SeongAh langsung pulang namun tak lama terdengar suara bel pintu.
GyeonWoo membuka gerbang sambil menyebut nama gadis itu tetapi dihadapannya berdiri JiHo yang bertanya apakah SeongAh datang menemuinya. GyeonWoo malah minta lupakan saja dan menanyakan maksud kedatanga JiHo. Ternyata JiHo menjalankan perintah pelatih tim panahan dan memberi kunci ruang latihan lalu pamit pulang.
Di suatu toko jimat dan benda-benda tradisional lainnya, DeongCheon memaksa meminta nomor telepon YeomHwa. Pemilik toko mengaku tak punya dan malah meminta DeongCheon membuka sosial media dan menghubunginya lewat pesan disana saja karena Ia sekarang sangat terkenal. (Sebagai Influenza Hoahahaha). Sebelum pulang DeongCheon berpesan agar jangan menjual benda apapun ke YeomHwa.
Setelah DeongCheon pergi ternyata YeomHwa ada dan bersembunyi di ruangan lain. Pemilik toko memarahinya karena YeomHwa memang berencana menemui DeongCheon. YeomHwa bilang hari ini Ia kurang cantik, Ia akan menemui DeongCheon dan membuatnya terpukau dengan kecantikannya.
SeongAh pulang langsung berlutut pada ibunya. Dengan mata bulatnya yang super imut, Ia minta bantuan sambil menyodorkan buku antik. Ibunya bilang itu melanggar aturan tapi Ia tetap tergerak kala SeongAh bilang GyeonWoo di dekati Hantu Bunuh Diri.
Hantu Bunuh Diri tangkas dan senyap, jika Ia menempelnya seperti bayangan tengah hari (sangat pendek), artinya GyeonWoo sudah tak tertolong dan akan meninggal.
SeongAh dan cinta pertamanya yang rumit, GyeonWoo harus menemukan semangat hidupnya sendiri. Menurut SeongAh saat ini GyeonWoo belum menemukannya. Wajar, Jika seseorang terlalu sedih, semangat hidup adalah hal pertama yang dilupakan. Ibunya meminta SeongAh membantu GyeonWoo menemukan hal tersebut.
Di rumahnya GyeonWoo kedatangan pamannya yang mengucap terimakasih di pemakaman. Ia menyerahkan alamat rumah persemayaman abu neneknya. Sang paman (yang bukan paman kandung, melainkan suami dari bibi GyeonWoo) bilang istrinya dan saudaranya tak punya foto ibunya. Sekeliling pasu abu tampak kosong, untuk itu GyeonWoo boleh memasang fotonya dan nenek disana. Ia mengambil beberapa foto kenangan mereka, terutama saat menang lomba panahan. Senyum GyeonWoo kala memandangi foto itu mendorong mundur Hantu Bunuh Diri.
SeongAh terlihat menggambari dirinya dengan tulisan mantra dengan cat merah. Sayup terdengar suara DeongCheon yang menjelaskan bahwa jimat hanyalah selembar kertas yang membedakannya dengan kertas lain adalah tekad dan harapan melindungi seseorang supaya selamat dan masa depan yang baik. Itulah yang megusir kesialan dan melindungi seseorang. Wujudnya bisa manusia, karena manusia lebih hangat dan kuat. Untuk itu SeongAh harus berbagi kehangatan dengan GyeonWoo. Ibunya memaklumi kalau SeongAh malu karena ini cinta pertamanya, ternyata malah sebaliknya SeongAh sangat bersemangat bisa melakukan skinship. Hoahaha. Ibunya mau menjitaknya, malah dianggap mau mengajak toss dan minta didoakan.
Konyolnya SeongAh berlatih pagi-pagi dengan bibi pendampingnya yang terlihat bosan. Saat menjemput GyeonWoo Ia masih salah tingkah dan makin cemas kala melihat Hantu Bunuh Diri malah makin dekat.
Ketika menaiki bus, SeongAh berupaya agar GyeonWoo mau duduk disebelahnya. Sayang GyeonWoo memilih duduk disebelah JiHo yang sudah naik duluan. SeongAh pindah kebelakang GyeonWoo lalu menempelkan jarinya. JiHo dan GyeonWoo sangat keheranan akan tingkahnya. SeongAh berpura-pura mengajak main tebak jari mana yang digunakan. JiHo menebak jari telunjuk tapi SeongAh dengan bangga bila itu salah sambil mengacungkan jari tengahnya (yang disensor sticker) Hoahaha.
JiHo langsung mengajak GyeonWoo berbalik kedepan sambil bilang ini masih terlalu pagi. SeongAh cuma bisa hopeless saat sadar maksud jarinya itu dan berbisik Ia hanya mau mengajak bermain.
Mereka tiba di kelas kala ketua kelas dan Beom sedang memarahi salah seorang teman sekelas yang menyebarkan rumor GyeonWoo seorang arsonis. Ternyata Beom yang datang ke ruang guru tak sengaja mendengar percakapan pelatih tim panahan dengan wali kelas mereka. Pelatih tim panahan mati-matian membela GyeonWoo, menurutnya satu-satunya api yang dinyalakan GyeonWoo adalah di hati para siswi dan dihatinya yang semakin membara untuk merekrut GyeonWoo masuk tim panahan sekolah.
Para teman merasa bersalah karena GyeonWoo sampai tak masuk sekolah gara-gara rumor. JiHo segera meluruskan, Ia tak masuk bukan karena alasan itu, melainkan neneknya meninggal dunia.
SeongAh memanfaatkan momen ini untuk menggenggam tangan GyeonWoo dan mengucapkan selamat tak dicurigai lagi. GyeonWoo memukul tangan SeongAh dan Hantu Bunuh Diri mundur lebih jauh. Selanjutnya SeongAh melancarkan serangkaian alasan untuk bisa menyentuh GyeonWoo:
- Membantu membersihkan papan tulis
- Pura-pura membersihkan seragam saat berpapasan di koridor
- Berguling ke arahnya saat olahraga dan
- Menjatuhkan pena saat belajar di kelas.
Upaya terang-terangan ini membuat JiHo jengah dan menuduhnya melakukan perundungan jenis baru. JiHo bilang akan lebih mudah kalau SeongAh bisa jujur. sayang menurutnya profesi Shaman justru akan menyulitkan GyeonWoo. SeongAh memilih lebih baik dibenci namun Ia akan tetap melindungi GyeonWoo. JiHo bilang ucapan SeongAh terdengar tulus, SeongAh membenarkan, Ia adalah sukun sungguhan yang tulus. JiHo terlihat semakin terpikat.
Sepulang sekolah, SeongAh membuntuti GyeonWoo, ternyata Ia menyadarinya. GyeonWoo mengajak SeongAh ke rumah abu. SeongAh melihat GyeonWoo meletakan foto di sekitar pasu abu. SeongAh bilang nenek adalah orang yang kompetitif, karena Ia selalu tersenyum pada saat GyeonWoo memenangkan kejuaraan. Jadi Ia hanya akan tersenyum jika GyeonWoo memberinya medali emas.
Bujukan SeongAh berhasil karena GyeonWoo terkenang masa kecilnya yang ditemani nenek di hari pertama masuk sekolah. Ia tersenyum sendiri mengenang kemenangannya di kompetisi panahan nasional saat nenek ya sangat bahagia. Ia bersyukur untuk itu dan Hantu Bunuh Diri semakin mundur.
GyeonWoo memutuskan mencoba fasilitas memanah di SMA Jonghyun dimana sang pelatih sudah mempersiapkan perlengkapan dengan namanya. Ia berlatih menembak dan langsung teringat kembali sensasinya. Meski tak sempurna, GyeonWoo membuat sang pelatih tim panahan yang mengamati dari jauh, harap-harap cemas.
Kelas SeongAh harus membuat program sosialisasi untuk salah satu mata pelajaran, masing-masing kelompok harus memilih satu topik. Ternyata SeongAh sekelompok dengan GyeonWoo, JiHo sang ketua kelas --yang minta dijadikan ketua kelompok-- serta seorang siswi bernama DoYeon yang ternyata ditempeli Hantu Bayi. Hantu jenis ini sulit dihibur karena tak bisa dibujuk untuk menyebrang. SeongAh sangat stress harus menghadapi keduanya.
Sepulang sekolah, sang pelatih mencegat GyeonWoo dan SeongAh. Ia bersemangat benar, Ia melihat panahan GyeonWoo semalam. SeongAh bertanya apakah GyeonWoo akan kembali memanah, Ia belum bisa memberi jawaban. Sang pelatih mengajaknya membersihkan ruangan tim panahan sambil mengajaknya membicarakan kisah pacarannya yang tragis. Jadi, jika GyeonWoo ingin putus dengan alat panah yang sudah bersama selama lebih dari sepuluh tahun maka GyeonWoo harus lebih berusaha. Jadilah GyeonWoo kembali berlatih dengan disaksikan anggota tim panahan dan SeongAh. Hasilnya Hantu Bunuh Diri semakin menjauh.
SeongAh memutuskan membayar pelatihan membuat jimat daring dari Master Bunga. Ia membuat jimat pengabul untuk mengatasi Hantu Bayi. Ia sangat bangga dengan hasilnya dan berniat meletakkannya di laci meja DoYeon pagi-pagi sekali.
Ternyata GyeonWoo juga datang pagi. Ia menjawab salam SeongAh dan mengajaknya berbicara di atap gedung sekolah.
GyeonWoo bilang akhir-akhir ini SeongAh terlalu menempel padanya. SeongAh mengelak. GyeonWoo masih menganggap SeongAh mengikutinya, lagi-lagi SeongAh membela diri kebetulan saja tujuan mereka sama.
SeongAh balik bertanya tentang perasaan GyeonWoo saat melepaskan anak panah. GyeonWoo teringat masa dia dibenci di sekolah lama namun tetap berhasil melepaskan panah dengan nilai sempurna. Ia bilang perasaannya semang karena sekuat apapun angin bertiup bisa dikalahkan dengan anak panah.
"Kau keren, aku bangga padamu". SeongAh mengelus rambutnya
"Anak-anak seharusnya dilindungi oleh orang dewasa tapi tidak padamu, jadi aku akan bersikap baik dengan mu, Apakah boleh?" SeongAh bertanya sambil tersenyum imut sekali
"Apa ini karena iba?" Tanya GyeonWoo
"Karena persahabatan" SeongAh menjawab penuh keyakinan
GyeonWoo tak urung melihat dunianya yang hitam putih mendadak berwarna dengan kehadiran SeongAh dan perlahan tersenyum.
SeongAh tak dapat menahan rasa gembiranya saat melihat Hantu Bunuh Diri menghilang di kejauhan. Ditengah sukacitanya, Ia mengajak GyeonWoo yang kebingungan melakukan toss.
Siapa sangka, desakan SeongAh diturutinya dan jari SeongAh yang menggenggam jemarinya malah dibalas genggaman balik dengan erat sambil GyeonWoo tersenyum manis untuk pertama kalinya.
Terdengar inner monolog
"Cinta pertama.. ' oleh SeongAh
"Kita mulai.." dilanjutkan oleh GyeonWoo.
Omo Omo Omo
Review
Salah satu ending episode Kdrama terbaik. Selain drama genre thriller, sejujurnya saya jarang sekali merasakan ketegangan, excited yang setara seperti ending episode ini. Latarnya matahari terbit dengan vibes yang positif. Manis sekaligus hangat khas kisah cinta pertama.
Chemistry GyeonWoo dan SeongAh semakin mendalam. Begitu pula JiHo-SeongAh-GyeonWoo. Aksi JiHo melepaskan tangan paman yang mencengkram GyeonWoo itu badass sekali. Sepertinya kali ini saya jatuh dalam second lead syndrom lagi nih.
Dunia perShaman-an semakin dinamis dengan kehadiran YeomHwa. Sepertinya Ia memiliki latar belakang yang bertautan dengan DeongCheon karena ibunya SeongAh ini bisa mengenali "karya" magisnya hanya dari anting yang sering dikenakannya.
Rumah yang belum selesai dibersihkan membawa aura mistis tersendiri. Termasuk apakah ada dampak bagi DeongCheon yang kena kutukan.
Adegan SeongAh menggambari dirinya sebagai jimat beruwujud manusia terasa sangat sureal. Bukan karena unsur mistiknya, lebih ke betapa menggemaskannya Cho Yi Hyun. Ia cocok sekali memerankan SeongAh yang rela melakukan apa saja untuk cinta pertamanya
Komedinya pas. Master Bunga sebagai salah satu tokoh komedi sangat realistis, Ia meluncurkan pelatihan membuat Jimat daring yang sesuai dengan zaman sekarang sekaligus menyebut dirinya Rubah (yang licik). Bagaimanapun Ia mengakui potensi SeongAh sebagai anak asuh sekaligus anak didik DeongCheon sebagai Anak Macan.
































Posting Komentar