Daniel Dae Kim, seorang aktor Amerika-Korea Selatan yang pernah membuat saya patah hati berat. Saya pernah "ditinggal" pas lagi sayang-sayangnya. Iya, diawal musim ke delapan serial Hawaii Five-O tiba-tiba Letnan Chin Ho Kelly yang diperakannya --dan Kono sepupunya yang diperankan oleh Grace Park-- meninggalkan serial bergenre legal-action yang menjadi salah satu favorit saya itu. Ternyata setelah membaca beberapa ulasan (bahkan akhirnya dimuat secara resmi di laman Wikipedia Hawaii Five-O versi reboot 2010), akhirnya saya tahu, awalnya keduanya menuntut kesetaraan gaji dengan dua pemeran utama lainnya, namun tak dipenuhi oleh studio CBS. Di satu sisi, saya sedih kehilangan dua figur yang membuat saya bangga sebagai sesama orang Asia, ada serial primetime Amerika Serikat dengan dua tokoh yang memberi warna lokal (meski settingnya di Hawaii), di sisi lain saya memahami keputusan mereka dan mendoakan yang terbaik.
Setelahnya saya tak banyak mengikuti perjalanan Grace Park, beda halnya dengan Daniel Dae Kim. Ia masih terdengar sebagai pengisi suara di Raya and The Last Dragon (2021) dan KPop Demon Hunter (2025) serta masih saya saksikan di Hellboy (2019), Serial New Amsterdam dan tahun lalu sebagai Raja Api Ozai di versi live action Avatar : The Last Air Bender. Senang banget, beliau makin eksis baik di depan layar maupun sebagai produser di serial The Good Doctor (favorit adek saya nih) dan yang baru tayang 13 Agustus 2025 lalu, Butterfly.
Judul : Butterfly
Kreator : Steph Cha dan Ken Woodruf
Sumber : Komik / Grafik Novel BOOM! Studios Butterfly oleh Arash Amel
Penulis Naskah :
Sutradara : Kitaro Sakurai, Kim Jin Min, Jann Turner
Pemain : Daniel Dae Kim, Piper Perabo, Reina Hardesty, Kim JiHoon, Park HaeSoon, Kim TaeHee, Charles Parnell, Sung DongIl dan Sung Joon
Genre : Spy-Thriller
Jumlah Episode : 6
Jaringan : Prime Video
Sinopsis
Seorang pria misterius, David Jung, kembali ke kehidupan yang ditinggalkannya sembilan tahun lalu, demi seorang agen wanita yang sedang melakukan misi berbahaya di Korea Selatan. Dari interaksi seru keduanya, terungkap ada campur tangan agensi rahasia Caddis yang berpusat di Amerika Serikat dan didirikan oleh David dan seorang sahabat wanitanya --Juno-- serta segala sesuatu yang terlibat dalam dunia mata-mata yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Review Butterfly
Asli, nontonnya berasa lagi nonton drakor! Gimana enggak, adegan pembukanya saja para ajusshi sudah nyanyi bareng di noraebang dengan lagu-lagu populer angkatan saya Hoahaha.
Judul setiap episodenya pun menggunakan nama lokasi di Korea Selatan seperti Daegu, Busan, Pohang dan Seoul. Tak Sekedar menjadi latar cerita yang berlangsung, namun memberikan nuansa yang KorSel banget. Dari toast pertama dengan Makgeolli antara seorang ayah dengan anak perempuan yang baru bertemu kembali setelah dewasa (dan legal untuk minum minuman keras), kosa kata dan percakapan dalam bahasa Korea, background music "Blackpink on your areaah" hingga soundtrack yang diisi oleh J-Hope BTS.
Serial ini beruntung dikembangkan oleh orang-orang yang memahami kebudayaan Korea Selatan dengan baik. Selain sang produser eksekutif, Steph Cha sang kreator adalah penulis wanita keturunan KorSel yang lahir di Amerika Serikat, sehingga menurut saya, Ia mampu membawa the best of the both world.
Pemainnya terasa familiar. Selain Daniel Dae Kim, ada Piper Perabo yang menjadi Juno si tokoh antagonis namun setiap kemunculannya membuat saya pengen nyanyi Can't Fight The Moon Light (oleh LeeAnn Rimes, OST Coyote Ugly, film lawas beliau yang berkesan buat saya). Reina Hardesty sebagai Rebecca yang di episode perdana membuat saya ngebatin "Buset, mirip banget sama Jesicca Iskandar sebelum menikah lagi", berwajah campuran Asia-Kaukasia yang ga ngebosenin dengan akting yang keren baik dari segi aksi maupun kedalaman emosional.
Apalagi pemeran warlok yang sering wara-wiri di drama Korea Selatan. Ada Kim TaeHee yang menyusul sang suami, Rain, dalam debut Hollywood. Aktingnya yang suka pasang muka seolah ngeblank somehow cocok banget sebagai Kim EunJu, istri David Jung yang dinikahi dalam masa persembunyiannya. Lee JiHoon sebagai Gun si pembunuh bayaran yang terampil memainkan pisau, pas banget mengimbangi baik dalam koreografi pertarungan dengan David dan Rebecca sekaligus bertukar dialog baik dalam bahasa Inggris dan Korea Selatan. (Penggemar Lee JiHoon Sang Raja di the Haunted Palace boleh banget nonton aksi beliau nih). Ada pula Park HaeSoo yang sukses menjadi scene stealer meski tidak banyak muncul.
Cameo oleh Sung DongIl dan Sung Joon juga mencuri perhatian saya. Agak out of topic, saya pernah bertanya-tanya mengapa Sung Joon --yang sudah menjadi male lead sejak era In Need Romance 3 (2014)-- akhir-akhir ini selalu mengambil peran 2nd lead bahkan jadi cameo? Sepertinya beliau mengambil peran yang benar-benar disukainya dan agar avaiable jika ada proyek yang menantang seperti Butterfly ini. Adegan makan sekeluarga menjadi salah satu favorit saya. Dialognya lucu dan cerdas menggambarkan dinamika keluarga Asia sekaligus AS.
Cameo dari Hollywood ada Henry Ian Cusick sebagai mantan suami Juno. Ia saya kenali sebagai Russ di versi reboot serial MacGyver yang rutin saya tonton berbarengan dengan Hawaii Five-O (bahkan masih satu semesta karena dikembangkan oleh tim produksi yang sama).
Pace-nya cepat. Aksi laga dan dramanya cukup berimbang. Pertarungan jarak dekat baik dengan senjata tajam, senjata api bahkan tangan kosong membuat kita lumayan deg-degan. Koreografi aksi kendaraan yang berpacu cepat memberi pemandangan landskap yang indah. Penggunaan teknologi canggih khas dunia mata-mata sebenarnya kurang dieksplor, tapi tak mengurangi sisi serunya.
Konflik utamanya bukan hanya mengenai dunia spionase, melainkan hubungan interpersonal manusia dan pencarian jati diri. David yang meninggalkan kehidupan lamanya, apakah cukup mampu menjalani kehidupan sebagai "orang biasa"? Mampukah Ia berbahagia kemudian membahagiakan EunJu dan si kecil MinHee? Rebecca sebagai seorang wanita dewasa muda pun terlihat mengalami konflik batin, Ia mempertanyakan, apakah profesinya yang sekarang mencerminkan dirinya yang sesungguhnya? Atau Ia berhak kembali ke masa ketika Ia hanya seroang Daddy's little girl yang polos dan penuh rasa keingintahuan?
David meyakinkan Rebecca, mereka berdua berhak melanjutkan hidupnya. Sementara kemarahan Rebecca pada sang ayah yang meninggalkannya ketika baru berusia 14 tahun dengan alasan demi melindungi keselamatannya, kemudian malah memiliki keluarga dan anak perempuan lagi juga valid.
Selain hubungan David dan Rebecca, kompleksitas hubungan Juno dan Oliver putranya juga menarik. Di satu sisi, Sang Ibu yang menjadi salah seorang wanita berpengaruh dibidang yang biasanya dikuasai lelaki, mengklaim semua usahanya adalah demi sang putra tunggal. Di sisi lain, Oliver bergabung di Caddis --yang disebut sebagai family business-- ingin mendapatkan pengakuan dari Sang Ibu yang selalu lebih memfavoritkan Rebecca sebagai agent lapangan yang handal.
Rebecca pun sangat menghormati Juno sebagai mentor yang turut membesarkannya setelah ayahnya menghilang dan Ibu kandungnya meninggal dunia. Loyalitasnya pada Caddis diuji saat pertemuan kembali dengan sang ayah dan terungkapnya lapisan demi lapisan alasan beliau menghilang.
Satu hal yang agak saya pertanyakan adalah bagaimana mungkin Tuan Kim seorang Ayah Asia (yang notabene kerap ikut campur mengenai jodoh anak-anaknya) mengizinkan putrinya menikah dengan David yang memiliki latar belakang misterius? Awalnya saya mengira David menutupi jati dirinya, namun dalam salah satu percakapan yang terjadi antara EunJu dan Rebecca, terungkap mereka jatuh cinta saat David membutuhkan bantuan dalam pelariannya. Yang artinya EunJu tahu betul resiko berumahtangga dengannya, begitu pula sepertinya kedua orang tuanya tahu tapi rela menahan diri demi kebahagiaan anak (dan selajutnya cucu) mereka. Sesuatu yang agak jarang bagi keluarga Chaebol KorSel sebagaimana yang sering kita saksikan dalam drakor kan ya...

Judul Butterfly akan terjawab dalam salah satu episodenya, pas banget dengan filosofi kupu-kupu yang meski hidupnya terlihat rapuh sesungguhnya sudah melewati tahapan metamorfosis sempurna. Tak mudah memang, tapi selalu ada harapan untuk menjadi yang lebih baik. Bagi saya, selaras pula dengan Daniel Dae Kim, yang saya tonton pertama kali di serial Lost dua dekade lalu, semakin mengepakkan sayap di dunia seni peran maupun di balik layar. Malah terakhir saya baca bahwa beliau masuk jajaran The World's Most Influential People tahun 2025 dari majalah Time dalam kategori artist bareng Ed Sheeran dan ScarJo serta Blake Lively dan Demi Moore dalam kategori yang berbeda lho.
Ohya, saya nonton keenam episodenya dalam "sekali duduk", lebih tepatnya sambil disambi menyetrika pakaian. Buat yang sering nonton Drakor, dialog berbahasa Korselnya cukup mudah dipahami tanpa harus membaca terjemahan. Ya, terkadang membuat saya agak mengernyitkan dahi, karena antar tokoh tetiba saling mengubah bahasa Inggris-KorSel atau sebaliknya dalam satu kalimat (atau dialog) yang sama meski keduanya sama-sama fasih bahasa satu dan lainnya. Tapi tak semengganggu itu, wajar saja bagi keluarga yang bilingual.
Kesimpulan saya Butterfly is sooo entertaining!! Saya beri 9,5/10. Kurang sedikit karena plot-twist di ending malah jadi penasaran dengan musim selanjutnya.
apalagi bisa ditonton hanya beberapa jam saja sambil mengerjakan hal lain
ibu rumah tangga seperti saya gak ada alasan buat tidak nonton, hehehe
Rasanya berdosa gitu jika cuma nonton (jenis ibu jadul :D )
Baca reviewnya Mbak Annisa jadi penasaran pingin nonton juga
apalagi ada pergumulan batin antara ayah dan anak perempuannya
Aku juga sama senangnya sama sentuhan cultural nuance yang kamu soroti—judul episode seperti Daegu, Busan, Seoul, lengkap dengan ngoraebang di adegan pembuka, musik latar Blackpink, sampai soundtrack J-Hope—semua itu bikin suasana “K-feels” nyatu banget. Kamu berhasil bikin ledekan lucu tapi penuh kasih sayang, misalnya saat kamu ngebatin “mirip banget sama Jessica Iskandar sebelum nikah lagi”—itu bikin senyum, serius deh!
Komentar soal chemistry Daniel Dae Kim sebagai David Jung, kompleksitas emosi Rebecca dan Juno, sampai cameo menyenangkan dari aktor-aktor favorit—semuanya kamu kupas dengan apik, personal, dan sangat relatable. Summarizing-nya juga kece: “Butterfly is sooo entertaining!!” dengan 9,5/10. Sama-sama penasaran sama musim selanjutnya!
Jujurly aku suka sama pemeran yang macho2 gitu deh hehe
fix kalo ini bakalan ditonton sih
Dan aku rasa, karena ini film Asia-Amerika, karakter Asia-nya bakalan gak banyak. Tapi ternyataa.. keren loh! Cukup mendominasi dan buat yang nub banget nonton drakor, bisa memulai dengan drama berlatar belakang KorSel yang bercerita mengenai kisah melodrama keluarga menjadi film thriller penuh aksi.
Jadi ini tuh "drakor" yang dibuat Amerika Serikat kali, ya. Vibe pas nonton lebih berasa kayak nonton drakor daripada serial Hollywood :)