" ".

Recap dan Review Would You Marry Me Episode 3

Table of Contents

 

Recap Would You Marry Me



MeRi dengan kebingungan menatap ke arah WooJoo yang melambaikan tangannya. MeRi malah balas melambai sebelum sadar maksudnya adalah jangan mendekatinya. Kemudian Ia segera bersembunyi di balik pagar saat WooJoo mengajak SangHyun mengecek jalur pejalan kaki.




Ibunya EungSoo penasaran siapa teman WooJoo yang tinggal di perumahan ini. Mereka berkendara pelan saat terdengar suara ponsel MeRi yang terjatuh di jalan saat buru-buru ngumpet. Ibunya berusaha mengembalikan ponsel tersebut meski EungSoo bilang itu terlalu kepo. 

Lucunya, MeRi bersembunyi dalam kandang anjing dan membuat kedua ibu dan anak itu ketakutan dengan caranya berjalan ala zombi. Untunglah dia berhasil menutupi wajahnya dengan rambut. Kedua orang itu jadi mengira sang gadis tak stabil mentalnya.

Malam itu MeRi dan WooJoo saling bertukar cerita lewat sambungan telpon . WooJoo heran MeRi menghilang begitu saja tapi gadis itu hanya tertawa mengingat masuk ke kandang anjing. WooJoo mengkonfirmasi bahwa orang yang berada di mobil tadi kerabatnya dan akan jadi masalah kalau MeRi tetap tinggal di sana. WooJoo bertanya apakah MeRi sudah menemukan tempat tinggal baru agar Ia tak khawatir lagi. Ia pun mengakhiri kesepakatan mereka. MeRi mengucapkan terimakasih dan berjanji tak membebaninya lagi. WooJoo menutup telfon dengan kesal sementara MeRi mengomel bahwa WooJoo kejam dan jahat tapi bagaimanapun Ia adalah penyelamat hidupnya.

Nenek WooJoo menerima JinGyeoung dan ayahnya yang mengecek kesehatannya. Menurut JinGyeoung sang nenek terlalu stress dan banyak bekerja. Nenek memujinya yang telah dewasa dan sebagai dokter sudah bisa menasehatinya. Ayahnya bilang sudah waktunya menikah tapi JinGyeoung masih mengincar cinta monyetnya sejak kecil. Rupanya semua orang tahu JinGyeoung naksir WooJoo. Sang Nenek memberi restu dan memintanya bertidak menyatakan perasaannya. Nenek dan ayahnya bahkan bergurau pernikahan akan dilaksanakan tahun ini.


Di toko roti, SeJeong juga mencoba mendekati WooJoo. Ia sengaja mengambil beberapa roti dan menyapanya di kasir. WooJoo memujinya yang datang sebelum waktu kerja. Sebagai yang termuda, menurutnya wajar Ia datang paling cepat dan Ia memang suka berada di kantor mereka. WooJoo hanya mengangguk sopan dan membayari minum plus rotinya.



Saat menuju bagian kantor, mereka berpapasan dengan EungSoo. Pria itu mencoba menghindar tapi SeJeong memanggilnya ceria. WooJoo langsung mengajaknya bicara empat mata. EungSoo pura-pura lupa tapi WooJoo hanya menyipitkan matanya sambil minum. Akhirnya sang sepupu mengakui keberhasilannya dengan tawa pergaulan yang akwardnya nembus layar Hoahaha.

Lucunya, saat EungSoo bertanya apakah WooJoo butuh bantuan dari tim nya (pengembangan khusus), WooJoo bilang Ia cukup diam dan fokus pada pekerjaannya saja. 

EungSoo bertanya apakah WooJoo dan MeRi, dirut perusahaan desain saling kenal, WooJoo mengelak, Ia tak kenal siapapun di Seoul kecuali keluarga dan kerabat macam JinGyeoung. Tapi EungSoo curiga apa yang ditawarkan WooJoo jadi MeRi sepakat dengan mudah meski nilai kontraknya sama. WooJoo bertanya apakah EungSoo iri tetapi sang sepupu pura-pura mau belajar triknya.

WooJoo mendekatkan dirinya ke telinga EungSoo lalu berbisik " Tak akan kuberi tahu, tanyakan saja langsung padanya jika ingin tahu".

EungSoo sangat kesal dan mendoakan WooJoo tersandung, eeh beneran kejadian WooJoo kesandung di tangga Hoahaha.

Di ruangannya sang paman menerima laporan dari Tn. Ko Bahwa J-Consulting, perusahaan yang membantu perusahaan masuk pasar AS melakukan penggelapan dana yang ditransfer untuk biaya pembangunan pabrik di AS. Buktinya berupa dokumen yang diserahkan dan informasi dari mitra mereka.Anehnya sang paman meminta hal ini dirahasiakan, terlebih hanya dirinya yang tahu. Paman berjanji akan menyelidiki terlebih dahulu.


MeRi mencari tempat tinggal baru tetapi semua meminta deposit, minimal lima juta Won. Ia menghubungi teman satu-satunya yang menetap di Seoul. Ternyata Ia masuk militer dan sudah melepas rumahnya bulan lalu. Temannya bertanya tentang rencana pernikahannya dan khawatir ada masalah. MeRi berusaha menenangkannya dan mengingatkan untuk tetap sehat. Tak sengaja Ia melihat pamflet sebuah motel. Ia pun menuju Motel DaJeong dengan barang bawaannya yang hanya sebuah koper.




Baru masuk sudah disambut pasangan yang bertengkar. Penjaganya seorang pria paruh baya yang mengingatkan larangan masak di kamar serta harus mencuci bajunya di laundry. Di lorong, Ia berpapasan dengan pria mabuk yang seram. Saat masuk kamar, dalamnya sangat sederhana dan MeRi harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya untuk sementara.


MeRi sulit tidur hingga pas paginya kesiangan, Ia terburu-buru mandi dan menata rambutnya, sampai lupa melepaskan rol rambut dan memakai coat.

Untunglah Ia ingat membawa sample kemasan skincare yang akan di tunjukkan kepada pemilik klinik. Ia menjelaskan desain yang digunakan. Saat keluar ruangan, Ia disapa JinGyeoung yang mengajaknya minum kopi bersama.

JinGyeoung cemas MeRi sakit karena datang ke klinik seniornya ini, tapi MeRi bilang berkat perawatan Bu dokter malam itu, Ia baik-baik saja. Ia kemari untuk urusan pekerjaan. 

JinGyeoung berusaha menyelidiki hubungan MeRi dan WooJoo Oppa. Ada sedikit kecelakaan dan MeRi sangat berterimakasih karena pemuda itu mau mengantarnya berobat, membayar tagihan dan mengantarnya pulang. JinGyeoung yakin WooJoo memang sangat baik, memang sih, dia menggerutu dulu tapi pasti membantu.

JinGyeoung bertanya kenapa MeRi masih menghubungi Oppa sampai memintanya menjadi suaminya. JinGyeoung mengisyaratkan mereka sangat dekat sampai tak punya rahasia. MeRi mengumpat dalam hati dan berusaha mengalihkan pembicaraan "itu hanya lelucon, bukankah ada banyak candaan begitu?" Ketika JinGyeoung hanya terpana, MeRi bilang "Ooh rupanya hanya di lingkungan ku". Hoahaha.


MeRi mempresentasikan desain kemasan baru Myungsoondang di hadapan WooJoo dan timnya. Sebelumnya Ia mengomel seharusnya membuat perjanjian kerahasiaan karena WooJoo yang bodoh malah membocorkannya Hoahaha.

Untunglah visinya membuat kemasan baru yang bisa berguna menarik pengguna media sosial dan terlihat cantik serta modern, dipuji. WooJoo bilang Ia harus mempresentasikannya kepada pimpinan.




Bu Oh menanyakan apakah MeRi senggang sore ini, rupanya beliau mengajak makan malam dengan tim. Mereka makan daging untuk merayakan kolaborasi Studio Desain MeRi dengan Myunsoondang



SeJeong langsung melancarkan serangannya pada WooJoo. Ia meletakan potongan daging panggang di mangkuk kepala Tim-nya itu dan mulai mengajukan pertanyaan :

"Apa kau punya pacar?' 

"Tidak" WooJoo menjawab formal

"Ada tipe wanita ideal?'

"Ooh.. " WooJoo terlihat berpikir tapi matanya mengerling ke arah MeRi yang sibuk makan "Tidak juga"

"Apa Kau tak ingin menikah?"

"Tidak, Aku bukan tak mau menikah, tetapi juga bukan suatu keharusan"

Untunglah WooSeok mengalihkan pembicaraan dengan mengajak WooJoo toss tinju sebagai sesama pria tampan. Bu Oh langsung to the point bahwa dalam kasusnya Ia belum laku, bahkan saat mendaftar di acara perjodohan ditelevisi, Ia tak dihubungi lagi untuk tahap wawancara Hoahaha.

Bu Oh mengomelinya yang belum mempersiapkan apartemen untuk pernikahan. SeJeong terus terang dengan gaji mereka hampir mustahil beli apartemen. Tapi Bu Oh bilang selalu ada jalan, misalnya ikut undian toserba. Semua terdengar berminat, jadi Ia mengecek ponselnya. MeRi segera menggeleng pelan pada WooJoo yang sigap menyerahkan buku menu pada Bu Oh, menawarkan daging sapi Korea. Saat wanita yang lebih dewasa itu teralihkan perhatiannya, WooJoo mengambil ponselnya dan mendudukinya Hoahaha.

SeJeong bilang pemenang undian itu sudah diumumkan dan sebelum Ia sempat mengecek ponselnya, MeRi yang duduk disebelahnya segera mengajak minum ala Love Shoot. Hoahaha.

Celakanya WooSeok sudah mengecek artikel, syukurlah nama mereka benar-benar disamarkan, tapi fotonya terasa familiar. WooJoo segera menyuapinya daging kemudian MeRi mengajak semua orang bersulang. WooJoo mengawasinya dengan khawatir.

Di toilet Bu Oh menemui MeRi yang mabuk dan menegaskan bahwa Ia lah yang harus membayar. 



Sayang, saldo dua kartunya kosong begitupula dompetnya. Untunglah saat itu WooJoo datang dan mengangsurkan black cardnya

Bu Oh bilang kali ini MeRi yang menawarkan diri membayar tapi WooJoo tegas itu melanggar kebijakan perusahaan. WooJoo berterimakasih atas perhatian MeRi.

WooJoo pamit pulang dan meminjamkan kartunya jika mereka mau pergi ke sesi dua. WooSeok semangat mengajak ke noraebang, Bu Oh langsung mengajak MeRi dengan harapan ditraktir.

Tapi WooJoo bersikeras mengantarnya pulang dan memberi instruksi agar MeRi masuk ke mobilnya dalam bisikan.

Di jalan MeRi merengek mau ikut karaoke tapi WooJoo memintanya pulang agar tak keceplosan. MeRi ingat percakapannya dengan JinGyeoung tadi dan membalas "Seharusnya ketua Tim yang lebih berhati-hati.' WooJoo yang tak paham yakin Ia jarang melakukan kesalahan semalam itu. Ia malah menceramahinya untuk tak banyak minum dan berhati-hati. Rupanya MeRi sudah ketiduran, untungnya berhasil memberi tahu tempat tinggalnya yang baru.


WooJoo terpaksa memapahnya ke depan kamar motel. Sayangnya saat WooJoo hendak pulang, MeRi yang sudah membongkar tasnya, disadari WooJoo bahwa kuncinya tertinggal di dalam kamar. WooJoo menawarkan diri membantu meminta kartu cadangan ke penjaga motel yang artinya harus turun lagi dari lantai 5, tapi MeRi pun bersikeras bisa pergi sendiri. Jadilah mereka bergelut di depan kamar Hoahaha.

Akhirnya penjaga motel datang membukakan pintu. WooJoo kembali membopong MeRi yang tertidur sampai ke atas kasurnya. Ia melihat semua barang MeRi yang berserakan dan meletakan tas MeRi yang disandangnya ke atas meja. Sesaat sebelum keluar kamar, Ia menyadari bahwa penjaga motel memberi tatapan aneh. Bahkan pria itu terang-terangan memandangi MeRi yang tertidur dengan posisi kakinya setengah terjuntai ke lantai.

WooJoo jadi cemas dan menyelimuti MeRi. Saat Ia akan pergi kembali berpapasan dengan sang penjaga. Instingnya seolah berkata ada yang tak beres tapi WooJoo tetap kembali ke mobil. Sayangnya, kuncinya terjatuh di kamar MeRi. Rupanya yang bersangkutan bangun untuk mengambil air mineral di kulkas.

Ketika WooJoo menelpon untuk menanyakan kunci, terdengar teriakan wanita itu. Tanpa pikir panjang, Ia segera berlari naik lagi. Ia mencemaskan si penjaga, terlebih memang ruangannya kosong. Pintu kamar MeRi terlihat terbuka.

WooJoo menyeruak masuk dan bertanya 'Apa yang terjadi?' ternyata si penjaga terlihat mendekati MeRi dan saat Ia berbalik bertanya "Kau kembali?" WooJoo segera melayangkan pukulan telak ke wajah pria paruh baya itu. Sebelum Ia sempat menyerang lagi, MeRi mencegahnya dan bertanya khawatir "Apa Kau tak apa-apa?" Sayangnya hidung pria itu sudah berdarah dan wajahnya lebam.

MeRi meminta maaf dan segera menolongnya sambil mengomeli WooJoo. Suami bohongannya ini tampak terlalu menghayati perannya Hoahaha.

Ia hanya kebingungan dan bilang pria itu memegang kaki MeRi (jadi dipikirnya melecehkannya). Rupanya penjaga motel hanya membantu mengobati MeRi yang kena luka bakar akibat menumpahkan air panas saat menyeduh mie gelas.

WooJoo bolak balik meminta maaf, MeRi diusir dan uang jaminannya dipotong untuk membersihkan karpet Hoahaha.

Di luar motel, WooJoo masih mengomeli MeRi yang makan mie gelas sesudah pulang makan malam tim. "Aku terlalu lapar untuk tidur. Aku juga mau makan daging tapi mencemaskan tagihannya" bentak MeRi frustasi.

WooJoo kembali minta maaf, tapi MeRi juga minta maaf, Ia bukan marah pada WooJoo (tak dipanggil ketua tim nih), hanya kesal dengan keadaannya sendiri. 



.

WooJoo memintanya tinggal di hotel, buat apa berhemat kalau Ia sebentar lagi punya rumah milyaran.

MeRi jujur sebelum rumah terjual, Ia tak punya uang. Sementara harus bayar cicilan pinjaman dan gaji karyawannya. Keduanya berjalan dan kaki MeRi yang terluka terasa sakit. Mereka duduk di taman dan MeRi memasang obat dan plaster meski WooJoo berkeras seharusnya Ia ke dokter. 

WooJoo khawatir saat MeRi bilang tak kenal siapapun di Seoul dan mungkin akan tidur di kantornya saja malam ini. WooJoo mengantarnya ke Beaute Palace. Mereka mengendap-endap masuk rumah. WooJoo menyarankan meRi berhati-hati agar tak ketemu SangHyun. MeRi berjanji berangkat subuh dan tak menghidupkan lampu.

Pamannya yang masih di kantor menyapa pak Ko yang masih lembur. Ia memberikan sebotol obat energi yang diklaimnya dari pimpinan (nenek WooJoo). Pak Ko meminumnya di parkiran dan efeknya terasa tak lama kemudian. Ia mulai mengalami micro sleep dan malangnya Ia mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawanya.

Keesokan paginya MeRi bangun dengan perasaan bagai mimpi. (OST nya dreamy dan liriknya banyak bahasa Inggrisnya). Untung, Ia menangkap sosok SangHyun yang mulai jogging pagi, kemudian bersembunyi.

YeonWoo yang asyik main game online diberikan briefing oleh SangHyun tentang wawancara yang akan dilakukannya sehubungan sidak ke rumah pemenang undian toserba. Untuk kepentingan humas Ia harus berkunjung akhir pekan depan. YeonWoo menganggap kehilangan satu rumah ini adalah kesalahan SangHyun dan dia tak boleh mengacaukan kesempatan selanjutnya.

SangHyun segera menghubungi MeRi yang bilang Ia akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan suaminya. 

Berita duka segera disampaikan paman WooJoo pada Sang Nenek. Beliau ingin datang ke rumah duka tapi saking terpukulnya jadi terlihat lemas. Sang menantu menawarkan diri menggantikannya dan meminta beliau pulang saja. Di rumah duka, Ia menyapa anak dan istri tuan Ko dengan kata-kata manis.

SangHyun berolahraga dengan warga perumahan lain. Rupanya JinGyeoung juga tinggal di lokasi yang sama. Saat Ia berlari sekuat tenaga demi mengalihkan kekesalannya pada YeonWoo, gadis itu menyadari keberadaannya.



MeRi sangat kerepotan hidup dalam gelap. Begitu Ia membersihkan wajah dan menepukkan tangannya, semua lampu di seluruh rumah mulai menyala. MeRi dengan panik berusaha mematikan lampu tapi malah jadi berkedip-kedip. Jadilah SangHyun --yang baru pulang bekerja dan memarkirkan mobilnya-- mendatangi rumahnya.

MeRi langsung panik melihat ponselnya nomor Direktur Pelaksana Baek dan orangnya hadir di hadapan kamera interkom. Rupanya beliau menyerahkan formulir parkir karena MeRi (dan suaminya Hoahaha) belum mendaftarkan mobilnya. MeRi bilang Ia akan menyerahkan pada kantor pengelola. Ia pun bertanya apakah kantor pengelola bisa memperbaiki lampunya yang hidup mati sendiri.

SangHyun bertanya apakah Ia menghidupkan sensor suara. Karena MeRi memasang wajah bingung jadilah sang direktur yang memberi contoh langsung. Satu tepukan untuk menyalakan lampu, dia tepukan bisa mematikan lampu di seluruh ruangan. 

Cara menonaktifkannya cukup menekan tombol tersebut di remot kontrol. Rumah pintar yang memudahkan penggunanya kala malas. Hoahaha

SangHyun bertanya apakah WooJoo belum pulang dan MeRi beralasan jika beliau kerja lembur sebagai pekerja kantoran biasa. SangHyun curiga apakah 'beliau' itu benar-benar tinggal di sini, karena semua barang nampaknya hanya milik MeRi dan mobilnya tak pernah ada. MeRi beralasan semua barang suaminya masih dilantai atas dan belum dirapikan. SangHyun memastikan kedatangan dirutnya akhir pekan depan.


MeRi langsung mengirim pesan singkat pada WooJoo menanyakan apakah Ia punya baju dan celana ekstra. WooJoo langsung menghubunginya balik dan MeRi menceritakan kedatangan SangHyun dan rencana kunjungan Dirut YeonWoo. 

WooJoo terkejut mendengar kisah lengkapnya dan mengomeli MeRi yang kurang bertekad kuat dalam menghadapi nyamuk "Kuatkan dirimu kalau mau melakukan penipuan! Bagaimana bisa berhasil dengan pemikiran itu!" Ocehnya. MeRi hanya bisa menjawab lemah "Aku mengerti,"

"Kapan Dirut mereka akan berkunjung?" WooJoo bertanya setelah berdehem.

"Kau mau datang?" MeRi bertanya.






Di sebuah studio foto self potrait, mereka bersiap untuk membuat foto pernikahan. WooJoo tampak terpesona saat MeRi yang mengenakan gaun pengantin memasuki ruangan studio swafoto mereka. Gadis itu merasa foto pernikahan terlalu berlebihan tapi WooJoo berfikiran mana ada pasangan yang tak foto nikah zaman sekarang. Intinya Ia tak mau ketahuan dan kena masalah, jadi all out sajalah. 

Ia menyerahkan sebuket bunga Lily. MeRi terlihat senang dan mengendusnya, dengan gaya yang sama saat WooJoo menutup dagu JinGyeoung yang menguap, Ia mendorong buket bunga itu dari bawah "Ayolah, ini hanya plastik, Aku menemukannya di sebelah sana".

Jadilah mereka memulai sesi foto. WooJoo diminta MeRi duduk, sementara Ia berdiri disebelahnya. Helaan nafasnya yang berat ternyata karena gaunnya kekecilan. WooJoo pun berdiri dan memohon izin menurunkan resletingnya. Setelahnya dengan mulus Ia kembali beragumen harus melakukan dengan benar walau tak nyaman, karena setengah-setengah bisa ketahuan sambil menarik MeRi duduk diatas pahanya. MeRi pun mohon izin untuk merangkulnya. WooJoo lalu menarik pinggang MeRi mendekat ke arahnya. Inner monolog MeRi yang mengomeli dirinya sendiri menyadarkan pemirsa kalau ini bukan (eh belum kali ya) foto pernikahan mereka yang sungguhan Hoahaha. Mereka berfoto dengan beberapa gaya meski agak akward.

Di lokasi yang sama SeJeong dan gengnya akan berfoto juga. Mereka berlatih beberapa gerakan dulu. 



Setelah beberapa jepretan, MeRi merasa sudah cukup tapi WooJoo malah menatapnya dengan hangat selama beberapa detik yang canggung.

Setelahnya Ia seolah tersadar dan segera pergi, meminta MeRi berganti pakaian.

Saat baru melangkah keluar, Ia menghembuskan nafas nervous dan melihat kehadiran SeJeong. Ia segera ngumpet dan berbalik arah ke ruangan mereka sambil menarik MeRi. SeJeong merasa Ia pun melihat Ketua Tim Kim. Temannya menyuruhnya menyapa. MeRi jadi ikut panik, terlebih saat SeJeong benar-benar membuka pintu ruang foto. 


WooJoo meminta maaf dan mengecup MeRi perlahan untuk menyembunyikan wajah mereka. Saat Ia perlahan menjauh, SeJeong malah nyaris bertatapan dengan MeRi, jadilah sang pengantin wanita justru melingkarkan lengannya di leher pemuda itu dan balas menciumnya. WooJoo yang awalnya terkejut perlahan terhanyut dalam kecupan itu dan menutup kedua matanya

Review Would You Marry Me Episode 3

Ahh.. senang sekali Would You Merry Me ini pace-nya super sat set. Kadang suka kesal nungguin kemajuan OTP, tapi WooJoo dan MeRi langsung kisseu di episode 3!! Daebak.

Beberapa hal mulai terungkap di episode ini. Yang terduga adalah kelicikan Paman WooJoo. Ia yang nampak penuh simpati ternyata seorang pembunuh berdarah dingin. Semakin curiga dengan keterlibatannya di kasus kecelakaan WooJoo dan orangtuanya dulu.

Jangan-jangan, Ia dan anak-istrinya sama-sama menginginkan menguasai Myunsoondang. Caranya saja yang beda, anaknya mengutuki WooJoo (yang anehnya beneran kesandung) sedangkan Ayahnya lebih smooth, mainnya penggelapan dana.

Agak OOT, ini ayah anak pernah main bareng di Military Prosecutor Doberman, tapi seingat saya waktu itu tak terlalu banyak berinteraksi. Plus sahabat MeRi yang sama-sama tinggal di Seoul itu, sepertinya juga dari Drakor yang sama.

Masih ngomongin Myunsoondang, timnya WooJoo makin terlihat karakternya. Bu Oh ini sering menyalahgunakan kekuasaan dengan bolak-balik memaksa vendor (MeRi) mentraktir mereka. Memang lazim sih, tapi tetap tak etis ya kan?

SeJeong terang-terangan berusaha menarik perhatian WooJoo, mulai dari pura-pura ketemu saat memesan roti, bertanya tentang pacar dan tipe ideal WooJoo sampai menceritakan ketampanannya pada teman segenk. 

Dari Grup Beaute, SangHyun ada hint berhubungan dengan JinGyeoung. Dari adegan lari bareng dalan grup olahraga. Ini lebih baik sih, daripada tiba-tiba Ia naksir MeRi, karena bagaimanapun setahunya MeRi punya suami. Bosnya masih menyebalkan, masih saja menyalahkan SangHyun dan menuntut untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tanggung jawabnya sendiri.

Untunglah plot kunjungannya membawa MeRi dan WooJoo jadi memuat foto pernikahan. Chemistry mereka tumpah ruah dan adegannya romantis sekali. Tominie cantik banget meski tata rambut dan gaun pengantinnya terbilang sederhana. WooShik juga, dimata saya baru kali ini kelihatan dominan cakep dibanding kiyowo Hoahaha.

Selain adegan romantis, Would You Marry Me menghadirkan adegan tegang dengan cukup baik. Kecelakaan tuan Ko mencekam bahkan saya ikut sempat curiga dengan Penjaga Motel akibat musik latar dan asumsi liar bayangan WooJoo. Hoahaha.

WooJoo ternyata kuat juga. Sekali pukul langsung bikin mimisan Hoahaha dan benar kata JinGyeoung, meski mengomel diawal dia tetap setia mengantar MeRi yang mabuk sampai benar-benar mendapatkan tempat tinggal yang aman. Tatapan matanya yang penuh cinta di studio foto jadi membuat kita ikutan salting, apakah Ia sudah benar-benar naksir MeRi?

Semakin penasaran dengan misteri dan kelanjutan hubungan para tokohnya ya..



Posting Komentar