" ".

Review Ejen Ali 2 : Misi Satria dalam "Bahasa Bayi"

Table of Contents

Nasib tinggal di kepulauan yang mengandalkan transportasi laut dan tidak ada bioskop tuh, ya nyesek. Saya dan Abang Z sudah membuat janji jauh-jauh hari untuk menonton Ejen Ali 2 di bioskop. Janji yang dibuat kala menyaksikan penutup musim ketiga Serial Ejen Ali, lama sebelum trailer film layar lebarnya diungkap ke khalayak. 

Sayang, di hari H yang diniatkan untuk nonton bareng, kami urung menyebrang ke Batam. Saya khawatir karena bila cuaca buruk, kapal pompong Belakang Padang - Batam sering dihentikan sementara. Ayahnya pun tak memberikan restu kami pergi nge-date nonton berdua. Sesuatu yang memang sudah lama sekali tak dilakukan. Keesokan harinya pun kami bertolak ke Tanjung Balai Karimun, tertutup sudah kesempatan itu.

Alhasil, saat Ejen Ali 2 mulai masuk OTT maka saya dan Abang Z semangat untuk nonton. Rupanya, menuliskan review di blog ini tidak semudah itu, ada hal paling fundamental yang saya sadari justru sebagai fans garis keras Ejen Ali. Apakah itu? Check it out!

Judul : Ejen Ali 2 : Misi Satria

Judul Lain : Ejen Ali The Movie 2
Penulis Naskah : Usamah Zaid Yasin, Hilam Bin Muhammad, Khairul Anwar Suwandi
Sutradara : Usamah Zaid Yasin
Pengisi Suara : Ida Rahayu Yusoff, Noorhayati Maslini Omar, Shafiq Isa, dll
Genre : Animasi - Aksi - Sci-Fi
Tayang :  22 Mei 2025 / Indonesia 27 Juni 2025
Durasi : 120 menit 
Jaringan : Disney
+, Netflix, Vidio 

Sinopsis

Ali bin Ghazali, saat ini sudah naik ke kelas 6 setingkat sekolah dasar di Cyberaya, sebuah kota futuristik fiktif yang berada di Malaysia. Ia tinggal bersama ayahnya seorang peneliti Auzurium --zat paling kuat yang menjadi sumber energi-- setelah kepergian ibunya, Aliya, salah seorang agen terbaik M.A.T.A untuk selamanya.


Selain menjalankan kegiatan sehari-harinya seperti belajar sebelum ujian bersama sahabatnya Victor, Ali tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai ejen di Meta Agent Tactical Agency (M.A.T.A). Lembaga rahasia yang menjaga kestabilan dan keamanan kota Cyberaya.

Perubahan kepemimpinan pun terjadi di M.A.T.A di mana dua agen pillar atau pimpinan yang tersisa, Ejen Dayang dan Gans akan ditemani oleh Amir dan Elle atas dasar keputusan Datuk Othman, pemimpin Cyberaya sekaligus pendiri M.A.T.A. Amir sang ketua pengawalnya akan menggantikan Ejen Zain yang telah gugur sebagai ketua pillar Neuro, sedangkan Elle keponakannya akan menggantikan posisi Uno (yang berkhianat ke Numeros) yang telah lama kosong  sebagai ketua pillar Inviso.

Ali sendiri saat ini tidak izinkan ikut misi aktif M.A.T.A, setelah gagal memenangkan turnamen bagi Ejen Muda di musim ketiga serialnya, Infinity Retinal Intelligence System (I.R.I.S) harus dikembalikan. Ia sedang berlatih kelas mensinkronisasikan dirinya dengan System Advanced Tactical Raid Intelligence Armor (S.A.T.R.I.A). Sebuah baju zirah baru yang dilengkapi dengan AI / Akal Imitasi. 

Pemegang I.R.I.S yang baru ialah Alicia, putri angkat Jendral Rama, teman sekelas Ali yang sangat cerdas dan tangkas, sekaligus pesaing beratnya. Hubungan mereka berdua yang kompleks (awalnya saling benci, hingga saling menyelamatkan dalam misi dan mulai terjalin persahabatan), semakin diuji dengan Neonimus --yang ternyata mantan ejen muda yang dikeluarkan dari akademi M.A.T.A.-- mengancam akan meruntuhkan terowongan cerdas yang dilalui banyak kendaraan di Cyberaya.

Dengan bantuan pamannya, Bakar dan tim baru Bobby dan Fit, Ali harus membuktikan mampukah Ia menjadi pengguna sejati S.A.T.R.I.A dan menentukan posisinya terhadap Rizwan, mantan agen ganda M.A.T.A dan Numeros yang saat ini sedang mencari kebenaran tentang Cero -- pemimpin asli Numeros, bersama Doz dan Trez

Review

Spoiler Alert

Hal paling mendasar saya dan anak-anak sadari saat menonton  adalah film Ejen Ali 2 : Misi Satria memang diperuntukkan bagi penggemar serial tersebut. Cara bercerita yang digunakan menurut saya bagus untuk menghindari kebosanan fans karena tidak terasa mengulangi lagi kisahnya. Namun bagi penonton yang tidak mengikuti tiga musim ditambah satu film pendahulu (Ejen Ali : the Movie), kemungkinan besar akan bingung dengan alur maupun penokohan, diantaranya :

1. Ali langsung ditugasi mengemban misi S.A.T.R.I.A dengan alasan Ia adalah satu-satunya orang yang pernah mengunakan dimensi I.R.I.S

2. Bagaimana Struktur pemerintahan Cyberaya, siapa Datuk Othman ( bahkan kenapa pula Ia duduk di kursi roda)? Lalu kedudukan Amir dan Elle?

3. Peran M.A.T.A dan para Ejen. Siapa pula Ejen Zain dan Uno yang disebut-sebut oleh Ejen Dayang?

4. Keluarga Ali dan Alicia? Bagaimana mungkin anak kelas 6 SD main di rumah temannya sampai malam tanpa terlihat kehadiran orang tuanya? 

5. Siapakah Rizwan dan timnya yang muncul tiba-tiba? Beliau mengaku bukan ejen lagi tetapi pergerakannya membayangi Ali maupun musuh.

6. Apa Dimensi I.R.I.S dan Satria? Siapa pula penemunya? Kenapa Ali yang harus melanjutkan misi? 

7. Siapakah Neonimus? 

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sebisa mungkin telah saya rangkum dalam sinopsis dengan 'bahasa bayi'. 

Dengan pertanyaan lanjutan --yang terjawab di filmnya

8. Kenapa Alicia bisa memprediksi masa depan ketika memakai I.R.I.S? 

Karena kekuatan I.R.I.S sangat bergantung pada kekuatan penggunanya. Alicia --seperti diakui banyak orang-- jauh lebih kuat dari Ali, termasuk secara mental. Sehingga potensinya bisa mengaktifkan kekuatan I.R.I.S yang infinity alias tak terhingga, termasuk melihat kejadian di masa depan.

Atau melalui analisa abal-abil saya :

9. Kenapa Ali mudah dipengaruhi oleh sistem AI S.A.T.R.I.A?

Kebalikannya, meski Ali sudah berlatih keras, baik di akademi maupun atas bantuan Alicia dengan main catur, menjadi pelayan di rumah makan India, sampai berlatih fisik, potensinya masih kurang kompatibel dengan S.A.T.R.I.A sehingga AI (yang disusupi Cero dengan bantuan Neonimus) justru bisa menguasainya secara fisik.

Serta pertanyaan yang kemungkinan baru akan terjawab di musim keempat serial Ejen Ali-- semacam :

10. Apa ingatan Alicia akan hilang permanen?

11. Bagiamana dengan M.A.T.A setelah dua pillar utamanya mengundurkan diri?

12. Bagaimana kabar Jendral Rama dan Timnya serta para ejen muda dan para guru akademi yang kalah saat bertarung?

Yang menarik dalam film ini adalah progress Ali sebagai pra-remaja. Di sekolah, Ali semula nilainya kurang baik dan Ia punya hubungan yang canggung dengan Alicia meski sekelas dan sama-sama menjadi ejen. Kedekatan mereka yang terasa lebih genuin baru di film inilah yang akan menjadi titik balik emosional yang dipersiapkan untuk serial musim mendatang.

Terlepas dari semuanya, Ejen Ali 2 : Misi Satria tetap menjadi salah satu film panjang animasi yang paling sukses dari Malaysia.

Sisi teknikalnya tak perlu diragukan lagi. Animasinya mulus, pertarungan paralel antara dunia nyata dengan dimensi AI visualnya luar biasa. 

Pengisi suara oleh nama-nama yang sama jadi terasa familiar di telinga dengan scoring khas Ejen Ali. OST-nya juga ear-catchy dan mudah diingat. Nidji menyumbang satu lagu berjudul Teman Sejati yang pas banget diputar bareng sahabat.

#NontonBarengAnakZR

POV Abang Z

Ali is his first name! Sudah tentu, si abang mengikuti kisahnya sejak musim pertama tayang di televisi. Malah ada masa-masanya nontonnya double di Tv 3 Malaysia yang masih bisa ditangkap dengan jelas  sebelum siaran analog negeri Jiran terebut resmi dihentikan. Saya dan ayahnya sampai ikutan hafal para tokohnya. 

Abang Z bilang Ejen Ali 2 bagus. Ia tetap tak bisa menyembunyikan kekecewaannya batal nonton di bioskop karena penasaran dengan scoringnya di ruang yang lebih luas. Tapi secara bersama-sama menurut kami, filmnya tidak se-emosional film pertama. Abang Z nangis banget pas nonton film pertama. Mungkin karena saat itu usianya lebih muda atau karena temanya mengena sekali untuk anak-anak, tentang kehilangan Ibu.

Nah, Ejen Ali 2 ini ceritanya lebih kompleks. Saking kompleksnya, mungkin agak sulit bagi anak-anak yang lebih muda untuk mencerna.

Sebenarnya cocok banget buat Abang Z yang memasuki usia pra-remaja. Belajar menavigasikan hubungan dengan teman, termasuk lawan jenis dan melawan tantangan baik dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri. Berkaca dari Ali, Abang Z bisa mulai mengatasi tantangan dari dalam diri misalnya godaan untuk malas belajar, karena pada akhirnya Ali bisa mencapai potensinya justru setelah Ia lebih tekun belajar dan berlatih.

POV Adik R

Adik R masih bisa mengikuti filmnya karena tak perlu membaca terjemahan. Pun bahasa Melayu Malaysia dengan Kepulauan Riau sangat mirip.

Menurutnya Ejen Ali 2 ini lucu, terutama di bagian Ali dan teman-teman sekolahnya main game console bareng. Sayang, baginya Comot, kucing Ali kurang banyak porsinya. Maklum, si Adek fansnya Comot. Hoahaha. Memang porsi komedinya tak terlalu banyak tapi kehadiran Cikgu Munah sebagai imajinasi Ali dalam pertarungan cukup menggelitik syaraf tawa.

Di sisi lain, sesuai dugaan, adik R agak bingung dengan Ali yang melawan para robot (padahal itu adalah para Ejen M.A.T.A sendiri akibat manipulasi A.I Satria) tapi merasa sangat bersalah setelahnya. Mungkin karena tidak ada pembeda yang signifikan antara sudut pandang Ali dengan kenyataan, sebelum masuk ke dimensi AI.

Hal yang Bisa Dibahas Bersama Anak

1. Nilai -nilai Luhur

Film bertema pahlawan memang mudah untuk memantik pembicaraan mengenai karakternya. Nilai-nilai luhur yang ditunjukkan seperti heroisme, persahabatan, tanggungjawab, kebaikan, kepemimpinan, kejujuran, kerjasama dan lain-lain 

Ada satu hal yang bisa menjadi topik diskusi hangat, bagaimana dengan pendapat SATRIA/Cero yang ingin mengorbankan sebagian kota termasuk orang-orang di dalamnya demi kebaikan yang lebih besar?

2.. Nepotisme

Dato' Othman menempatkan dua orang terdekatnya di posisi yang strategis, langsung diangkat sebagai ketua pillar M.A.T.A. Hal ini tentu tak adil bagi ejen yang sudah meniti karir sejak lama, misal Ejen Geetha, Karya dan Leon yang layak dipromosikan.

Apakah Amir dan Elle mampu menunjukkan kemampuannya sebagai ketua pillar yang baru?

3. Pro - Kontra A.I

Alicia pertama kali mendapatkan pengelihatan tentang masa yang akan datang saat kisahnya baru dimulai. Ia bisa melihat pergerakan musuh, namun energinya terlalu banyak tersedot hingga Ia pingsan.

Alicia sudah mencoba membahas hal ini dengan Ali tetapi pemuda itu hanya mengabaikannya dan malah menuduh Alicia iri akan keberhasilannya dipilih sebagai pengguna SATRIA. Apatah lagi saat Alicia memperingatkan kalau sistem AI SATRIA akan mengkhianati Ali setelah di hack oleh musuh. Ali yang dikuasai oleh SATRIA justru menyerang teman-temannya sendiri, namun dalam pengelihatannya seolah memerangi robot android jahat.

Suatu konsekuensi dari teknologi AI yang harus menjadi sorotan kedepannya. Apakah film Terminator itu bisa jadi kenyataan? Wallahu a'lam bii shawab 

4. Cinta 'Monyet'

Usia Ali saat ini hampir sama dengan Abang Z. Kedekatan Ali dan Alicia bisa memantik pembicaraan untuk mencari tahu apakah anak sudah mulai punya rasa ketertarikan pada lawan jenis. Bukan buat dihakimi justru diarahkan pada batas-batas persahabatan yang sesuai dengan koridor agama masing-masing. 

5. Amnesia

Alicia dipenghujung cerita, kembali sadar setelah bertarung di dimensi AI. Sayangnya Ia kehilangan ingatannya dan tak bisa mengingat semua orang disekelilingnya.

6. Bermain Game dengan Bertanggung Jawab

Victor dan Ali (serta Alicia) bermain game konsol sebelum belajar. Memang terasa menyenangkan tapi tetap harus bertanggungjawab, jangan sampai lupa waktu.

Ali pun diajari Alicia untuk bermain catur sebagai sarana mempertajam kemampuannya memprediksi serangan musuh lanjutan.

7. Smart City

Cyberaya adalah kota terpadu yang jadi impian saya. Terkesan distopia, tetapi siapa juga yang tidak ingin tinggal di kota yang bisa menyokong sumber energi bersihnya sendiri? Auzurium memang zat fiktif, tetapi layak dijadikan suatu tesis sederhana, mampukah manusia menciptakannya?

Kemudian apakah tampuk pimpinan dapat dipercaya? Atau justru otoriter dan korup seperti Dato' Othman yang akan membawa kota tersebut ke jurang kehancurannya?


☺☺☺☺

Overall, saya dan anak-anak merasa Ejen Ali 2 : Misi Satria layak mendapat 9 / 10 poin. Kurangnya, ya karena beberapa hal yang telah saya kemukakan diatas ditambah sejujurnya saya kurang suka visual baju zirah S.A.T.R.I.A. Warna metaliknya terlalu monokrom dan tidak ada ciri khas khusus kecuali ornamen serupa tanjak dibagian kepalanya (padahal ini sudah bagus, sangat mencerminkan budaya Melayu).


Saya merekomendasikan film Ejen Ali 2 : Misi Satria sebagai tontonan yang berkesan bagi anak maupun dewasa. Agar lebih nyaman, sebaiknya bisa menonton terlebih dahulu serial animasi Ejen Ali yang saat ini di Indonesia tayang di RTv atau saluran OTT D+ dan si merah

1 komentar


Comment Author Avatar
12/18/2025 09:05:00 AM Delete
aku belum nonton Ejen Ali tapi keliatan seru, jadi penasaran :D