Review Our Secret Diary : Manisnya Rahasia Cinta Remaja
Setahunan terakhir, saya lebih banyak menonton J-Movie dan dorama dibanding drakor atau C-drama. Semacam binge watching dari beberapa tahun kebelakang. Ada banyak yang saya sukai dan akui kualitasnya dan ada juga beberapa yang saya kecewa, diantaranya karena adaptasi dari manga yang saya sukai namun jauh banget dari kisah aslinya atau kualitas produksinya yang (maaf) lebih kureng dari sinetron lokal.
Ngehype dorama itu sepi. Di dunia nyata, segelintir teman saya, yang dulu sama-sama suka Jejepangan sepertinya sekarang sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Adik saya hanya nonton yang benar-benar populer semacam Marry My Husband. Di dunia maya, tetap tak seramai penggemar K-drama. Fenomena ini sebenarnya gara-gara sulitnya akses buat nonton dorama juga. Banyak yang masih harus dikejar ke website penyedia fansub. Ya, sekarang agak mendingan, beberapa OTT mau menjadi wadah, judul pun jadi variatif.
Mencari referensi review pun agak sulit. Pengen lho, setiap habis nonton langsung menulis review ya. Tapiii seperti biasa keinginan untuk mereview selalu menghadapi berbagai kendala. Kemudian, sebagian besar saya sadari kehilangan momentum alias sudah berlalu masa hype-nya. Akhirnya numpuk sampai puluhan judul (dari berbagai negara) di draft blog ini. Huhuhu.
Nah, akhir-akhir ini saya berazam menulis review semua yang saya tonton, termasuk tonton ulang. Salah satu yang sudah saya rewatch adalah film Our Secret Diary. Cek di draft, eeh emang ada sejak tahun lalu🤣 Lupa-lupa ingat, saya nonton perdana dulu di app si merah atau web JFF Teather gitu ya karena tahun lalu memang film ini termasuk yang ditayangkan juga (CMIIW beneran ga ingat Hoahaha).
Judul : Our Secret Diary
Sinopsis
Si gadis pemalu, Nozomi Kuroda (Hiyori Sakurada), menemukan sehelai kertas terlipat di laci meja kelasnya. Rupanya kertas itu ditinggalkan oleh siswa kelas lain yang mengikuti konsep sekolah SMA mereka, siswa yang berpindah ruangan. Isinya pernyataan rasa suka dari Jun Setoyama (Fumiya Takahashi), cowok paling populer di sekolah.
![]() |
| Hiroyi mirip Yuki Kato |
![]() |
| Fumiya sekilas mirip Park HyungSik |
Nozomi membalas surat tersebut, ia mengaku belum mengenalnya jadi Jun mengusulkan mereka mulai bertukar buku harian secara rahasia di loker sepatu. Agar tak tertangkap basah menyerahkannya, lokasi pertukaran dipindah ke kotak request lagu di ruang siaran dimana Nozomi menjadi DJ saat istirahat makan siang.
Namun, Nozomi kemudian menyadari bahwa surat itu sebenarnya ditujukan untuk sahabatnya, Erino Matsumoto. Belakangan, ketahuan Jun salah mengira bahwa Erino adalah gadis yang duduk di kursi yang sama dengannya.
Alih-alih jujur, Nozomi terjebak dalam pertukaran buku harian yang membawa mereka semakin dekat. Tetap berpura-pura sebagai Erino, ia beralasan Nozomi yang memberikan izin menggunakan kotak request lagu tadi, sehingga awalnya Jun pun mengira gadis itu mendukungnya juga mendekati sahabatnya.
Kesalahpahaman semakin berlarut-larut kala sahabat Nozomi yang lain, Yuko mengajaknya ikut serta dalam perjalanan ke taman hiburan bersama Erino, Jun dan sahabatnya Yone(da).
Bisakah Nozomi dan Jun bersatu setelah mengetahui kalau selama ini kenyataannya mereka berdualah yang saling bertukar kabar lewat buku harian setiap hari?
Review
Hal Yang Membuat Saya Sampai Rewatch:
1. Pemain yang Familiar
Fumiya Takahashi sudah wara-wiri di banyak dorama dan film. Karya berikutnya akan sangat diantisipasi ialah perannya sebagai Shin Asakura dalam film live action adaptasi manga Sakamoto Days, baru akan tayang sekitar golden week holiday tahun depan.
Menurut saya, ia membuktikan mengapa ia menjadi salah satu aktor muda paling bersinar saat ini. Sebagai Jun, aktingnya saat mengekspresikan emosi lewat tatapan mata menjadi daya tarik utama film ini
Hiroyi Sakurada wajahnya imut banget mirip sekali dengan artis lokal Yuki Kato. Dorama terakhirnya yang saya tonton adalah Inheritance Detective (yang nasib reviewnya masih mengendap di draft juga btw🤣) dan baru nonton episode awal Escape.
2. Penokohan Khas Remaja
Nozomi Kuroda : Seorang siswi kelas 2-A sekolah menengah yang mengisi radio sekolah. Pembawaanya pemalu meskipun aslinya pandai, ia akan kesulitan saat akan menyampaikan pendapatnya. Ia diam-diam menyukai music grudge. Di sekolah, ia bersahabat dengan Erino Matsumoto dan Yuko Hayashi.
Jun Setoyama : Siswa kelas 2-E sekolah menengah yang jago olahraga terutama Sepak Bola dan Basket. Pembawannya riang meski kadang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dan mengambil tindakan. Berkat ketampanannya Ia menjadi idola sekolah. Diam-diam menyimpan dilema dan termotivasi kembali setelah membaca tulisan yang ditorehkan di laci meja kelansnya.
Erino Matsumoto : Sahabat Nozomi yang luwes, banyak teman, ketua OSIS, cantik serta punya body goals dan rambut panjang lurus. Intinya, Ia adalah cewek idola yang terkenal bahkan hingga ke sekolah lain.
Yuko Hayashi : Sahabat Nozomi yang lain. Menyukai sahabatnya Jun, Yone yang eksentrik dan agak tengil.
Haruhito Yoneda : Sahabat Jun dari kelas 2-E yang riang dan sama-sama suka sepakbola. Diduga menyukai Erino.
Hiroto Yano : Senior Nozomi di klub penyiaran sekolah. Cakep dan tinggi. Menyukai Nozomi dan pernah menjadi pacarnya tapi putus karena Nozomi menganggap kurang ekspresif. Sekarang malah mengajak balikan karena menurutnya Nozomi berbeda.
3. Seting Sekolahan yang Tak Monoton
Seperti kebanyakan film adaptasi manga atau novel shoujo Jepang, film ini memiliki palet warna yang lembut dan sinematografi yang indah. Penggunaan cahaya matahari (film ini ahli menggunakan golden hour) memberikan kesan dreamy pada setiap adegannya.
Berkat angle pengambilan gambar menarik, misalnya kamera dari sudut pandang dari dalam loker, kita bisa memahami kebahagiaan Nozomi dan Jun kala menerima buku harian itu.
4. OST Bagus
5. Kisah Ringan Namun Berisi
Di era digital, premis menggunakan buku harian fisik terasa sangat romantis dan klasik. Film ini menyentuh tema tentang sulitnya mengekspresikan diri secara langsung dan bagaimana tulisan tangan bisa menyampaikan perasaan dengan lebih jujur dibandingkan kata-kata lisan atau pesan instan.
Ada juga tentang pencarian jatidiri, khas anak muda terutama saat menuju cita-cita.
6. Ending Manis
Ending manisnya pas, ga kemanisan alias giung kata orang Sunda.
❤❤❤❤❤
Saya rekomendasikan untuk penyuka drama remaja yang ringan tanpa mikir. Setipe sama Crazy Little Thing Called Love (2010), film Thailand yang super booming itu.
Poinnya 8,5 / 10, kurangnya karena plot-wise mudah ketebak, apalagi kalau sudah pernah nonton film India legend Mujshe Dosti Karoghe! (2002), dengan peran utama Hrithik Roshan, Kareena Kapoor dan Rani Mukherjee.







Posting Komentar