" ".

Recap dan Review Idol I Episode 6

Table of Contents
 

Recap 



Laik dan Hyejoo berbincang berdua di halaman rumah Sena. Sementara sang pemilik rumah masuk ke dalam walau sebenarnya menjadi sangat gelisah.

Laik memarahi Hyejoo yang mencari dirinya. Ia mengingatkannya sudah melarangnya mendekatinya. Hyejoo mendesaknya memberitahukan sejak kapan Laik tinggal bersama Sena. Laik tambah marah, tidak ada urusannya juga dengan Hyejoo karena hubungan mereka sudah lama berakhir dan ia tak boleh muncul begini.

Bagi Hyejoo mereka tak pernah putus, dulu ia terlalu takut, dia pikir Laik akan bahagia jika ia melepaskannya. Tapi situasinya berubah, Laik menderita dan membutuhkannya. 

Laik tegas menjawab, ia tak membutuhkannya sebagai mana dulu Hyejoo pernah bilang Laik yang merusak hidupnya. Jadi jangan mengulangi kesalahan. Ia tak butuh bantuan dan memohon agar Hyejoo meninggalkannya. Saat Hyejoo bertanya apa hubungan Laik dan Sena serta mengapa ia memilih disisinya, bagi Laik hanya Sena yang bisa dipercayainya sekarang. 

Setelah hubungan mereka berakhir, Laik sangat menderita. Ia pergi terapi dan minum obat tapi semua tak ada yang berhasil. Tapi ia sudah lepas obat, bahkan saat Wooseong meninggal dan ia pun nyaris meninggal, ia bisa bertahan berkat Sena. Jadi jika Hyojoo benar-benar peduli, Laik memohon agar jangan hadir lagi.

Laik minta maaf dan meminta Sena jangan mencemaskan Hyejoo lagi.



Di perjalanan pulang, Hyejoo teringat pertengkarannya dengan Laik. Gadis itu membanting foto perselingkuhannya dan mengkonfrontasi Laik, kenapa ia pura-pura tidak tahu meski sudah lama tahu dan malah berpura-pura peduli perasannya. Laik mendengus dan menjawab hanya berusaha melindungi Hyejoo. Jika artikel menyebar, keluarga Hyejoo tak akan tinggal diam. Ia tak ingin merusak hidup gadis itu. 

Hyejoo marah dan membenarkannya, hidupnya rusak karena Laik mengabaikannya. Laik minta maaf, ia akan menjauhi Hyejoo jika menurutnya itu yang terbaik. Hyejoo dengan angkuh bilang Laik bukanlah apa-apa baginya. Ia bersikap sangat jahat, mengungkit masa lalu Laik dan mengucapkan kata-kata jahat. Pangkal masalahnya justru karena Laik tak mengakuinya di hadapan publik. 

Laik tak mampu menjawab dan dengan lirih hanya meminta Hyejoo mampukah melihat dan mencintai dirinya yang sebenarnya. Hyejoo dengan dingin malah menjawab jika tanpa cangkang tersebut, apa yang ada hal yang tersisa disebaliknya. Hyejoo terbawa kembali ke masa kini dan memerintahkan asistennya mencari informasi tentang Sena serta utang Laik.

Malam itu, Sena sulit berkonsentrasi bekerja karena teringat genggaman tangan Laik. Tak lama pemuda itu memanggilnya untuk menyerahkan nama-nama orang di sekelilingnya yang tadi diminta Sena untuk membantu penyelidikan besok.

Laik minta maaf dari balik pintu. Menurutnya ia kacau saat ada di dekat Sena. Tanpa tahu malu, ia ingin tinggal lebih lama di dalam pagar kecil yang dibangun Sena untuknya ini. Ia merasa tenang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Ia berjanji akan menemukan ingatannya dan berjuang bersama demi kasusnya.



Keesokan harinya, sebelum menaiki mobil rental (Laik sempat menawarkan diri, ia saja yang menyetir) Sena mengingatkan Laik untuk tak defensif saat membalas pernyataan Jaehee, jawab sebatas yang ia tahu. Kemudian jika tak paham, ia boleh bertanya maksud pertanyaan serta yang paling penting jangan sampai emosional apapun yang terjadi.

Laik berjanji demikian tapi kenyataannya, ia langsung menggebrak meja. Ia marah karena Jaehee berbohong dan memintanya menunjukkan bukti. Di sisi lain, Jaehee justru menunjukkan pada Jaksa Kwak yang mengangguk senang, bahwa inilah Laik yang sesungguhnya dan sering bertengkar dengan Wooseong.

Jaehee semakin menyudutkan Laik. Sena langsung memotong perkataannya yang mengaku pernah mendengar ancaman pembunuhan dari Laik kepada rekan yang telah tiada itu, Jaehee telah terbukti berbohong tentang alibinya sebelum ini. Pengacara Hwang bilang mereka punya bukti.



Jaksa Kwak menengahi dan bertanya apakah Laik punya masalah dengan Goldie Ent dan akan pindah agensi. Laik marah ke Jaehee yang masih percaya rumor sampah itu. Tapi Jaehee dengar sendiri dari WooSeong bahwa Laik akan meninggalkan grupnya dan sudah berhubungan dengan agensi lain.

Jaehee menceritakan dari sudut pandangnya.  Wooseong membawakan makanan dan berkata Laik sangat peduli dengan Jaehee. Jaehee mendengar dari temannya  bahwa Laik sudah menerima uang muka dalama jumlah besar dari agensi saingan. Besok, ia akan ungkap semuanya ke media. WooSeong mencegahnya dan ia akan memastikannya sendiri pada Laik jadi Jaehee tak boleh membocorkannya pada siapapun. Termasuk Youngbin yang baru keluar dari toilet.

Jadi menurut Jaehee, Laik pasti melakukan sesuatu pada Wooseong malam itu agar berita tersebut tak bocor. Laik menyangkalnya tapi Jaksa Kwak menyebut nama ibu Laik sebagai penerima transfer uang muka kontrak baru.

Laik merasa hancur dan Sena hanya bisa menatapnya sedih. Di depan kantor Jaksa Sena berjanji akan mencari tahu keberadaannya tapi Laik ingin bertemu ibunya langsung. 

Jaksa Kwak berterimakasih pada Jaehee dan minta ia hadir jika dipanggil lagi. Jaehee mengira, setalah memberi pernyataan ia akan aman. Bagi jaksa Kwak tak ada kebenaran mutlak, selalu ada cara memandang secara relatif, jadi ia harus selalu kooperatif. 


Ibu Laik sedang di lokasi perjudian dan anaknya langsung menariknya ke gang belakang. Ia menjerit baru saja hendak menang dan Laik menghalanginya. 

Laik lebih kesal karena ibunya masih hidup begini. Ia pun menyindir wanita itu, uang itu tak seberapa dibanding uang muka hang diterima karena menjualnya ke agensi lain. Laik berteriak histeris minta jawaban. Ibunya membenarkan, dengan alasan, ia yang memberinya nama jadi ia pun berhak menggunakannya untuk mendapatkan uang. Laik mulai menangis, gara-gara itu anaknya jadi tersangka pembunuhan, tapi ibunya gak peduli.

Ibunya sedih, kenapa anaknya bisa sejahat ini. Ia sampai dipanggil jaksa dan sebaiknya Laik menyerahkan diri agar hukumannya cuma sepuluh tahun. Laik histeris kenapa ibunya tak mempercayainya 

Sena ---yang juga terlihat merasa sama hancurnya dengan Laik-- segera maju dan bertanya apakah selama interogasi si ibu mengetahui nama perusahaan agensi baru tersebut. Ibunya teringat ancaman Jaksa Kwak jadi merahasiakannya dan janji tuntutan pembunuhan tak sengaja akibat mabuk. Ia pura-pura lupa letak kontrak dan kartu perusahaan itu. Sena bertanya tentang nomor handphone dan ia pun mengaku baru menukar ponsel. Malah ia melarang Sena diatur Laik dan harus mulai membujuknya meyerahkan diri. Laik langsung mengusir ibunya.

Dalam perjalanan pulang. Laik hanya murung jadi Sena mengajaknya ke suatu tempat yang sangat ingin dikunjungi Laik. Rupanya itu atap gedung. Saat ia terengah-engah naik tangga, Sena sampai menggenggam tangannya bilang mereka harus bergegas.

Setibanya di atap gedung mereka memandang videotron di gedung lama agensi tempat ia dan Wooseong berlatih dulu. Penggemar GoldBoys mengumpulkan uang untuk memasang iklan, sebagian untuk mengenang Wooseong, sisanya untuk mendukung Laik dan menunggu nya.

Sena bilang semua dari masa lalu masih ada dan tak pernah hilang, tetap sama tapi  yang lebih penting dari itu adalah, entah dulu atau sekarang masih ada yang mendukungnya dan percaya padanya tak peduli siapa dirinya. Laik menangis.

Manajer memarahi Jaehee seharusnya mereka membahasnya dengan CEO Geum dahulu. Menurut Jaehee beliau selalu menyuruhnya diam. Akibatnya sekarang ia yang dicurigai. Jaehee pun kesal manajer selalu membelanya padahal ia sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan lain. Manajernya berteriak, kenyataannya itu bukan Laik. Pokoknya jangan sampai berita ini bocor. Jaehee mengancamnya CEO Geum harus memperpanjang kontraknya atau ia akan bicara ke media. Manajer berjanji akan mengurus perpanjangan kontaknya dan Youngbin. Tapi si bungsu bilang tak perlu.  Ia membawa tas, tak mau lagi melanjutkan ini. Ia merasa bersalah pada Laik, tak mungkin Laik melakukan hal ini. Buat Youngbin satu hal yang ia tahu pasti, mereka tak boleh terus begini. Manajer mengejarnya.



Ayah Jaksa Kwak menerima laporan dari anaknya. Ia berencana menginvestigasi saksi dan tersangka secara sekaligus. Ayahnya tetap memaksakan pendapatnya sendiri. Pola pikir anaknya dinilai rapuh dan menyebabkan ia terus teralihkan. Pilih target sejak awal, jika ia mengganti tersangka maka sama saja menodai kejaksaan. Apalagi jika Laik mengeluarkan pernyataan bahwa ia menjadi target fitnah sejak awal oleh jaksa. Maka karirnya akan tamat.

Investasi sama seperti berburu. Begitu memilih mangsa. Kejar sampai tertangkap. Begitu caranya mendapat trofinya.

Di rumah Sena mereka membahas kontrak dengan agensi baru yang dibahas Jaehee. Sena menenangkannya, meskipun ibunya menerima uang tapi Laik tak pernah menandatanganinya sendiri. Masalahnya ada melawan narasi konflik dengan Goldie Ent. Laik berjanji akan berbicara langsung dengan CEO Geum. Mereka sudah ada pembicaraan awal pembaharuan kontrak tapi orangnya susah ditebak apakah ia mau menantu atau tidak.


Sena menerima pesan dan pergi keluar. Ternyata ia menemui sang mantan pacar Laik. Hyejoo minta maaf dengan alasan ia panik dan Sena menjelaskan Laik di rumahnya gara-gara rumahnya sendiri disita. Hyejoo menyerahkan sehelai kartu nama. Firma terbaik ingin membantu Laik, Sena tetap jadi pembela utama tapi dengan bantuan yang lebih baik. Sena mengembalikan kartu tersebut sambil tersenyum, bukan demikian cara kerjanya. Hyejoo bilang ia dan Laik sudah bersama selama sepuluh tahun, dan mereka cinta sejati satu sama lain. Jadi ia harus membantunya kali ini. Sena menjawab sopan, ia akan menghubungi Hyejoo jika butuh bantuan. 

Sena dan Laik ke kantor Goldie Ent. Laik ingin bertemu berdua saja dengan bosnya itu, karena ia tahu pasti si bos akab diam begitu ada orang lain. Bagaimanapun Sena akan menjadi backupnya dan menunggu di luar. Sebelum berpisah. Sena dipanggil Laik yang mengucapkan terimakasih. 

Kedua orang itu bercakap-cakap mengenang masa lalu dan CEO Geum bersedia bersaksi di pengadilan bahwa Laik akan tetep di agensinya dan sudah ada pembicaraan perpanjangan kontrak sebelum kasus ini.



Saat menunggu, Sena bertemu atasannya. Beliau mengajaknya minum kopi bareng. Ia mengingat kisah mereka berdua yang sering menunggu di halte bus dalam cuaca kering berdebu, hujan bahkan salju untuk menemui ayah Sena di penjara. Rupanya beliau adalah pengacaranya. Ia yang awalnya memerintahkan Sena mundur dari kasus ini akhirnya paham, mengapa Sena berkeras mendampingi Laik. Bagi Sena, Laik adalah klien dengan posisi yang sama dengan ayah Sena dahulu. Ia sangat mempercayai ayah Sena tak mungkin melakukan apa yang dituduhkan. Dan Sena ---yang hingga akhir tak punya cukup keberanian bilang langsung pada ayahnya kalau ia percaya ayahnya tak bersalah-- sangat berterimakasih pada bosnya itu. Sebelum berpisah sang bos berjanji akan mendukung Sena jika terjadi sesuatu.



Laik sempat mendengar bagian ujung pembicaraan ini. Ia jadi kepikiran sampai tak bisa tidur Hoahaha. Ia mencoba mengobrol tapi Sena yang mengaku bisa membaca pikirannya, menebaknya sedang ngantuk jadi ia harus beristirahat. Laik beralasan Sena tahu semua tentang dirinya tapi ia tak tahu apapun tentang tuan rumahnya ini. Sena benci pertanyaan pribadi tapi Laik berjanji hanya akan bertanya yang umum. 

Mulanya ia bertanya makanan kesukaan Sena. Sena suka segala yang gampang dimakan, tapi Laik mencecarnya harus yang spesifik jadi Sena menyebut Gimbab. Laik senang sekali mereka sama-sama menyukai sesuatu yang rumit dalam pembuatannya. Sena jadi salting dan beralasan Gimbab praktis dan bergizi seimbang.

Sena makin salting dipertanyakan selanjutnya yaitu tentang hobbynya. Pikiran Sena langsung ke zaman fangirlingnya tapi ia pasang poker face dan ngeles tak punya hobby.





Laik jadi bergurau pantas saja kehidupannya terasa kering dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Rupanya ada piano di lokasi ini dan Laik memainkan lagu yang pernah dinyanyikannya kepada Sena di tepi sungai bertahun-tahun yang lalu. Lagu ini berbagai ucapan terimakasihnya atas semua pertolongan Sena padahal ia belum pernah berbuat apapun. Laik bilang musik tak akan pernah berbohong, jadi Sena memancingnya ingin tahu bagaimana jika ada orang kepercayaannya yang menyembunyikan sesuatu darinya. Laik (yang masih belum sadar Sena fans beratnya) hanya menanggapi santai, saat ini ia tak memasang ekspektasi apapun pada siapapun lagi.







Keesokan harinya Sena berpamitan akan menyelidiki info dari Chungjae tentang agensi yang berhubungan dengan ibu Laik. Sebelum berangkat Sena menyerahkan kunci rumah cadangan karena Laik bilang ia ingin pergi berolahraga. Sena mengizinkan dengan catatan tak boleh tertangkap fans apalagi difoto. 

Rupanya Laik berniat memasak buat Sena. Menunya Gimbab. Jadi ia berbelanja dengan memakai masker dan cemas ketahuan Hoahaha. Ia pun menelpon bibi pengurus rumahnya dulu untuk bertanya resep dan caranya. Keduanya melepas kangen dengan haru. Bibi bersedih, ia tak bisa menyapa Laik di pemakaman Wooseong dan memintanya makan teratur. Saat Laik bertanya resep Gimbab yang sering dibuatkannya, bibi menawarkan untuk membuat dan mengantarkannya tapi Laik bilang kali ini ia akan masak untuk seseorang yang penting sambil tersenyum malu-malu.

Saat bersiap menyusun bahan-bahan isian Gimbab yang sudah dipotong rapi ke dalam nori, Laik baru sadar, tak ada nasi. Jadilah ia berkeliling mencari sampai menelpon Chungjae, bertanya dimana tempat penyimpanan beras. Pria itu bilang biasanya Sena menyimpan barang di loteng, jadilah Laik naik. Ia mulai mencari lalu melihat barang-barang kenangan Sena. Ia melihat foto bayi Sena dan plakat juaranya. Wajahnya penuh senyum dan kebanggan, sampailah ia dikotak berisi semua memorabilia GoldBoys. Tangan Laik terlihat terkulai lemah.

Sementara di kantor agensi baru, Sena mengetahui bahwa yang membuat pihak agensi dengan gegabah mengikat kontrak, dan menyerahkan uang muka ke rekening Ibu Laik karena Wooseong yang berjanji akan membawa Laik. Ia galau bagaimana cara menyampaikan informasi ini kepada Laik yang selalu menganggap Wooseong sahabatnya yang baik dan setia. 

Saat Sena pulang malam itu, semua benda kenangan itu terserak di lantai. Laik yang menunggu kepulangannya, menatapnya dengan tatapan tajam namun penuh penderitaan dan tuduhan. Ia mengetahui bahwa Sena adalah fansnya.

Review

Saya bukan fans K-Pop atau secara umum grup band atau aktor/aktris tertentu sampai level fanatik ya, jadi tak begitu relateable dengan para fansgirl/boy. Tapiii, bukan membela Sena, sebenarnya wajar lho kita punya hobby atau sesuatu yang menjadi guilty-pleasure yang dirahasiakan.  Kenapa juga kita harus mengumumkan kepada semua orang? 

Makanya fans banyak yang membuat akun anonim untuk nge-hype biasnya. Selain alasan estetik, whatsoever, melindungi privasi juga sama pentingnya. Kita kadang tak mau juga penilaian seseorang lebih dititikberatkan pada suatu hal. Saya pun melakukannya. Sejujurnya saya selalu nonton banyak film/serial sejak dahulu kala, itupun di blog ini saya baru mulai membuat review film dan serial setahunan terakhir. Sebenarnya karena saya tak ingin terlihat terlalu banyak nonton. Dulu, saya sebisa mungkin menulis sesuatu yang saya sukai tapi selain nonton. Misal review buku atau hal lain.

Jadi saya memaklumi Sena merahasiakan fangirlingnya pada rekan kantor. Hanya Chungjae yang tahu. Dan ketika Laik menjadi kliennya, wajar saja ia menutupinya. Terlebih ketika ia melihat betapa kecewanya Laik terhadap para penggemar fanatiknya dan perasaan pria itu yang secara umum selalu insecure : ia merasa semua orang hanya mencintai Laik dari GoldBoys.

Persepsi yang salah ini sudah mengakar di benak maupun sanubarinya juga gara-gara orang disekelilingnya. Ibunya hanya memandangnya sebagai sumber uang sama dengan CEO (dan manajernya). Mantan pacarnya pun bersikap demikian! Bagaimana mungkin ia melukai Laik dengan mempertanyakan apakah ada hal lain dibawah cangkangnya? (Dan sekarang berani-beraninya pula ngajak baikan, pakai alasan belum putus lah headeuuh) 

Jadi persis seperti pohon gelitik yang dibahas Sena di episode lalu, Laik menebalkan cangkang itu dan menutup diri. Merasa dirinya tak pantas dicintai. Padahal masih ada fans yang percaya dan orang seperti bibi pengurus rumah yang terlihat tulus mengkhawatirkannya.

Ohya, Jaksa Kwak juga rupanya sama. Ia selalu dikecilkan oleh ayahnya yang jaksa berprestasi. Padahal sebenarnya ia cukup idealis dan bersungguh-sungguh mencari si pembunuh. Semoga ia bisa mempercayai instingnya sendiri.

  #ODOBp30days #4

  

Posting Komentar