" ".

Review Can This Love Be Translated : Potret Kompleksitas Cinta

Table of Contents

Saya merasa beruntung nonton di satu-dua hari penayangan pertama Can This Love Be Translated tanpa terpapar spoiler kecuali promo resminya. Sebaiknya kalau mau dapat pengalaman menonton yang "kaya" memang sebaiknya jangan baca review dulu apalalagi mencari ending explained gitu, Hoahaha.

Setelah selesai menonton, saya jadi agak sulit menuliskan reviewnya, saya sendiri pun jadi bertanya-tanya. Toh selama ini saya kan ngereview abal-abil saja, sekenanya. Itu pun bisa sampai ribuan kata, Hoahaha. Ternyata setelah membaca review dari dorama ini dari seorang teman blogger lain, saya seolah mendapat Aha momen. Akhirnya, saya bisa juga menuliskannya.

Judul : Can This Love Be Translated?

Judul Lain : Can This Love Be Interpreted? / 이 사랑 통역 되나요?
Penulis Naskah : Hong JeunUn, HongMiRan
Sutradara : Yoo YoungEun
Pemain : Kim SeonHo, Go YounJung, Lee YiDam,
Sota Fukushi, dll
Genre : romansa - komedi - drama
Tayang : 16 Januari 2026
Jumlah Episode : 12
Durasi : 60 menit 
Jaringan : Netflix
Rating usia : 15+

Sinopsis 

Saya coba sederhanakan plotnya tanpa menyebut nama : 

Dua orang asing bertemu di negara yang jadi destinasi wisata kala salah satunya baru mau memutuskan hubungan. Ada percikan kecocokan diantara mereka, tapi yang satu masih mau memastikan perasaan pada orang yang telah lama ditaksirnya.



Keduanya berpisah, mengira tak akan bertemu lagi. Membuat kenangan hanya di sosial media. Ternyata, salah seorang jadi  terkenal jadi yang seorang lagi bisa mengetahui kabar terbarunya, termasuk kecelakaan yang menimpanya, kemudian berkunjung ke rumah sakit saat sang sensasi internasional mengalami koma dan dirawat di rumah sakit. Ketika si sakit tersadar enam bulan kemudian, mereka bertemu lagi karena urusan pekerjaan. Salah seorang menjadi sangat tertarik tapi yang lain masih fokus dengan pekerjaan, jadilah yang ia membujuknya menerima pekerjaan diluar negeri demi menemaninya. 

Siapa sangka, pekerjaan itu menjadi kompleks karena cinta pertama yang berusaha dihindari justru hadir. Sementara bagi yang seorang lagi, hadir orang baru yang meski pun awalnya orang itu terlihat tak tertarik justru menaruh hati dan mencoba menjalin hubungan dengannya.

Dapatkah keduanya menjadi semakin dekat sembari berpindah-pindah antar negara satu dan lainnya demi kepentingan syuting dan pekerjaan? 

Review

Setiap orang berbicara dalam bahasanya sendiri. Makanya mereka salah paham, salah tafsir, dan saling menyinggung."

Kim YoungHwan

Saya merasa menonton Can This Love Be Translated memberi sensasi yang sangat kompleks karena :

1. Melanjutkan Sejarah Menonton Karya Hong Sisters

Sebenarnya saya selalu merasa drama dua penulis naskah bersaudari yang terkenal dengan nama Hong Sisters, terbagi dua spektrum, setidaknya bagi saya :

1. Keren, populer, banyak yang suka tapi saya susah menamatkannya : A Korean Odyssey (2017-2018), Alchemy Of Soul 1 dan 2, The Master's Sun (2013).

2. Keren, populer, banyak yang suka dan saya suka banget

Favorit saya tetap Sassy Girl Chunhyang (2005). Saya pun suka banget Hotel Del Luna (2019).

Menurut saya, dari semua karya Hong Sisters Can This Love Be Translated tidak segrande Hotel Del Luna, tapi berhasil menangkap esensi rumitnya jatuh cinta tak kalah dari Sassy Girl Chunhyang, salah satu drakor favorit saya sepanjang masa.

2. Akting Mumpuni 

Kim SeonHo belajar banyak bahasa asing sebagai bentuk komitmen yang tinggi dalam memerankan Ju HoJin. Bahasa Jepangnya terdengar fasih, sementara Italia dan Inggrisnya pun lumayan bagus.

Go YounJung memerankan Cha MuHee si aktris yang jadi sensasi internasional sebagai Do RaMi dalam film zombie yang viral. Kerapuhannya menusuk nurani penonton. Transformasinya kala memerankan Do Rami pun patut diapresiasi lebih.

Lee YiDam memerankan Shin JiSeon cinta pertama HoJin yang direkrut sebagai produser pengganti lalu ikut menyertai mereka dalam perjalanan keliling dunia.

Selain peran kedua para tokoh pendampingnya juga menonjol, ada  Kim WonHae sebagai penulis Kim YeongHwa  dan Sung Joon si Abang tiri yang kemunculan sesekalinya menyita perhatian saya.

Kemampuan akting yang baik membuat chemistry tumpah ruah antara setiap tokoh yang ada.

3. Sinematografi Outstanding

Budget Netflix berhasil membawa lokasi syuting berkeliling dunia :

a. Pertemuan pertama yang membekas di Jepang

b. Melihat Aurora di Kanada

c. Keindahan klasikal di Tuscany, Italia

d. KorSel sebagai kampung halaman yang hangat

Semua tangkapan gambarnya estetik. Tangkapan jauh dengan keindahan latar dipadukan para tokohnya yang rupawan cocok buat wallpaper ponsel atau PC.


Sorotan close-up pada para pemerannya sangat membantu kita menangkap mikro ekspresi para tokohnya.

4. Tema Kompleksitas Cinta 

Lupakan sejenak plot twist yang berhasil disembunyikan dengan baik selama draKor ini belum dirilis. Intinya beginilah tarik ulur kisah cinta yang nyata dialami kebanyakan pasangan. 

Kenapa bagian sinopsis lebih menarik jika saya tak sampai menyebut nama? Karena seperti yang saya ungkap, saya merasa kekuatan drakor ini ada di kejutan yang disiapkan jika kita menontonnya tanpa terpapar spoiler lebih dulu.

Saya beruntung bisa menghindari spoiler dan sengaja menonton dengan perlahan demi menikmati segala kompleksitas jatuh cinta diantara para tokohnya.

Di dunia nyata, tidak ada OTP (One True Pairing) yang jelas seperti di drama. Kita tidak akan pernah bisa mengetahui apakah seseorang yang baru kita kenal itu sebenarnya adalah tokoh utama, pemeran pendukung atau bahkan sekedar cameo dalam kehidupan kita sendiri.

Saat jatuh cinta dengan seseorang artinya rangkaian peristiwa kompleks sedang terjadi. Banyak pula faktor yang berperan, termasuk yang saya percayai adalah campur tangan yang maha kuasa. 

Dalam kehidupan MuHee, ia bertemu HoJin saat mendatangi mantan pacarnya. Pria itu kembali dengan mantannya yang dicurigai MuHee berselingkuh darinya. Namun kenyataan justru berkebalikan, justru ia adalah awalnya selingkuhan dan pria itu kembali kala mantannya sedang mengandung tapi bermasalah dengan suaminya pertamanya. Dari sini saja sudah cukup kompleks.

Dari Sisi HoJin juga, wanita yang dicintainya akan segera menikah dengan Abang beda ibunya (tapi karena anak diluar nikah tetap memakai marga ibunya). Ternyata hubungan tersebut juga berakhir dan mereka kembali dipertemukan dalam pekerjaan. Padahal HoJin pun sudah cukup dekat dengan MuHee.

Kemudian ada Hiro, pasangan MuHee di acara realitas yang perlahan menumbuhkan rasa sukanya. 

Apakah cinta segi empat klasik yang muncul? Ternyata ada seorang tokoh lain yang hadir sebagai penyeimbang hubungan yang kompleks ini.

Drakor ini cukup bisa menyajikan kompleksitas jatuh cinta itu sendiri dalam beberapa aspek yang menarik. Hubungan MuHee dan HoJin naik turun mirip kehidupan ini, ada masa-masa manis dan bikin berbunga-bunga, lalu ada kesalahpahaman, pertengkaran, nyaris berpisah namun ada kerinduan, saling peduli dan pada akhirnya  cinta mereka saling menguatkan. 

5. Makna Filosofis Lost in Translation 

Lebih dari sekedar salah paham karena keterbatasan pemahaman bahasa (language barrier), lalu menimbulkan efek salah penafsiran / lost in translation, menurut saya, letak utama masalahnya justru filosofis sekali. 

Siapakah yang berhak menerjemahkan cinta?

Ketika Hiro menyatakan cintanya pada MuHee di Italia dalam bahasa Jepang, Hojin (setelah terdiam cukup lama), menerjemahkan secara verbatim tapi ia tak sanggup menyampaikan maksud dan konteksnya karena di saat yang bersamaan, hati dan pikirannya sendiri juga berkecamuk dengan perasaannya sendiri terhadap MuHee.

Jadi, apakah tindakan HoJin etis sesuai kode etik penerjemah profesional?

Atau ini semua salah MuHee yang kurang peka mengartikan perasaan dua orang yang ternyata diam-diam menyukainya hingga akhirnya tiba di situasi yang sangat canggung ini?

Ataukah Hiro juga bersalah karena tak sadar kedekatan dua orang itu? 

Apakah kita penonton yang gemes sendiri yang salah karena terlalu menginvestasikan pikiran, perasaan dan energi pada tokoh fiktif di layar kaca?

Bisa jadi iya, karena kisah cinta mereka ini saking kompleksnya menampilkan emosi bisa ditafsirkan dengan berbagai sudut pandang tergantung siapa yang menonton dengan latar belakang pengalaman, pengetahuan dan preferensi yang tentunya berbeda-beda.

6. Jepang jadi Bagian Penting

Well, teman pembaca mungkin sudah ngeh kesukaan saya terhadap segala sesuatu yang berbau Jepang tumbuh duluan dibandingkan KorSel. Dimulai dari baca komik saat kecil, lanjut nonton anime, Oshin, dan beragam karya sinema, dengerin J-Pop, ikut klub bahasa Jepang di kampus dan sederetan hal lain meski tak pernah sampai spesifik mengakui diri sebagai otaku atau wibu. Hoahaha.

Makanya saya cukup senang ada Sota Fukushi yang memerankan Hiro Kurosawa, pasangan MuHee dalam acara realitasnya. Yang juga mencuri perhatian adalah Hyunri (istri Keita Machida dari Alice in Borderland series), selaku Nanami manajer Hiro yang sempat menggantikan tugas HoJin. Style-nya keren banget deh.

Selain itu Jepang jadi lokasi pertemuan  HoJin dan MuHee. Juga lokasi penuh kenangan bagi keduanya karena Enoshima secara kebetulan adalah daerah asal cinta pertama HoJin dan (mantan) pacar MuHee.




What I didn't really like :

1. Promo Awal (teaser) yang Kurang Pas

Meski (seingat saya) memang tidak dipasarkan secara resmi sebagai rom-com, melihat teaser promo-nya sebagian besar menduga drama ini adalah rom-com biasa. Ternyata dipertengahan kita disuguhkan isu kesehatan mental yang cukup mendalam. Seperti yang saya ungkap diawal, saya merasa beruntung tak terpapar spoiler sebelum nonton jadi saya mengakui, ini langkah yang luar biasa, memberikan efek kejutan terhadap plot twistnya. Tapi saya yakin, bagi sebagian orang ini seolah misleading, pengennya tontonan healing ringan malah jadi stressor baru atau parahnya  baru mau membaik, justru ke-trigger. Huhuhu 

Jadi, alangkah lebih bijak sejak awal sudah ada hint atau semacam trigger warning bagi penonton agar mempersiapkan emosinya.

2. It Was Hit So Hard

Salah satu highlite-nya masalah kesehatan mental yang berkaitan dengan masa lalu. Baik HoJin mau pun MuHee menyimpan luka dan beban masing-masing. Sebagian besar disebabkan oleh keluarga, khususnya ibu masing-masing. 

Nah, meski keluarga saya cemara tapi karena saya pernah dititipkan semasa bayi-balita, hubungan saya dengan ibu sendiri pun sangat kompleks. Jadi menontonnya tuh rasanya berat dan menuliskannya lebih berat (dan saya baru sadari setelah membaca review dari teman, Hoahaha).

Satu lagi, meski tak sampai melihat perwujudan Do Rami yang ngasar seperti di Drakor ini, saya pun sejak kecil aslinya cukup sering berbicara dengan diri sendiri. Saya selalu memanggil nama saya sendiri untuk menyemangati diri kala menghadapi masa sulit atau bertanya dipenghujung hari, apakah saya kelelahan, sedih dan sebagainya, bahkan ngobrol panjang lebar. Malah metode belajar yang paling efektif adalah dengan bercerita di hadapan cermin (aneh tapi nyatanya saya Alhamdulillah selalu masuk sepuluh besar). Dan setelah nonton, itu ternyata itu kembali membawa rasa cukup mengkhawatirkan diri sendiri, Am I crazy? Haoahaha. Sebenarnya saya sadar tak boleh self diagnose, dulu pun saya pernah cerita sama seorang psikolog (konteksnya ngobrol biasa bukan konsultasi resmi), tapi seingat saya, sejauh itu ya saya dianggap baik-baik saja.

3. Penokohan HoJin dan MuHee

Saya suka Kim SeonHo walau bukan fans berat ya. Dalam drakor ini banyak yang menyukai HoJin sebagai pria yang pengertian dan pendengar yang baik. Ia pun terlihat memiliki kecerdasan emosional sehingga bisa mengendalikan ekspresi wajah dan dirinya secara keseluruhan.

Bukan mau sok edgy, berbeda dengan pandangan pada umumnya, HoJin adalah karakter pria yang saya hindari: tidak berani menyatakan perasaan, wishi-washi, ribet banget dan terlalu banyak pertimbangan serta terlalu baik kepada semua orang. Baik itu bagus ya, tapi konteksnya baiknya HoJin ini malah menimbulkan kesalahpahaman. 

Diawali dari cinta pertamanya, HoJin tidak bisa menyatakan perasaannya tapi terhadap orang asing (MuHee) ia bersikap terlalu baik hingga menumbuhkan ketertarikan dari sisi MuHee.

Sepanjang berlangsungnya cerita, saya makin dibuat frustasi dengan HoJin yang tidak jelas stance-nya. Ia mau ikut tim produksi reality show karena di 'blackmail' MuHee dan ingin menghindari pernikahan abangnya. Tapi ketika hubungannya dengan MuHee makin dekat dan JiSeon menyusul sebagai produser pengganti, sikapnya goyah. Apalagi ketika ia tahu bahwa Hiro juga menyukai MuHee. Ini tuh kalau istilah anak zaman sekarang MuHee jadi berjuang sendirian.

Selaras dengan pendapat saya dengan karakteristik HoJin, saya jadi kasihan dengan MuHee. Seolah-olah ia adalah pasangan yang problematik padahal memang ia punya masalah mentalnya sendiri --kehadiran Do RaMi-- tapi bukan berati MuHee mengejar HoJin tanpa alasan. Dari awal HoJin memang terlihat memberi harapan akibat sifatnya yang terlalu baik tadi. 

Entah kenapa MuHee yang diberi beban berat bahwa ia yang salah menafsirkan kebaikan HoJin. Kita balik posisinya dalam K-drama pada umumnya, kebanyakan yang mengambil posisi ini adalah pemeran utama pria. (Begitu pun statistik di lapangan, baru baca tentang pembacokan mahasiswi di Pekanbaru, Riau kan? Dimana si pemuda yang baper terhadap teman KKN-nya tak terima hubungan mereka tak bisa berkembang lebih jauh).

Terakhir, Do RaMi yang hadir sebagai manifestasi dari Gangguan Identitas Disosiatif (DID) atau setidaknya bentuk mekanisme pertahanan psikologis MuHee terhadap trauma masa lalunya. Tokoh dari filmnya itu muncul saat MuHee merasa terancam, merasa tidak layak dicintai, atau saat ia ingin menyabotase kebahagiaannya sendiri. Diawal, MuHee bisa mengabaikannya namun perlahan, persona ini turut mengambil alih kesadarannya bahkan berinteraksi dengan orang lain (terutama HoJin). 

Dari sudut pandang saya yang awam pun, menurut saya penyelesaiannya terlalu disederhanakan. Tanpa konsultasi, terapi dan pengobatan yang intensif (ada adegan MuHee menjumpai psikiater), semua berhasil diatasi berkat kekuatan cinta (HoJin! Yang aslinya menurut saya luka batinnya sendiri pun belum tuntas benar). Yah, ini seklise ciuman yang membangunkan Snow White dari tidurnya.

❤❤❤❤❤

Overall, Can this Love Be Translated saya beri nilai 8 / 10. Saya rekomendasikan buat penggemar Kim SeonHo dan Go YounJung, penggemar rom-com with a twist atau justru drama makjang (yang seringnya mengharu biru dan kadang plotnya 'ajaib').

Ohya, Kalau belum nonton, siapkan mental terutama jika pernah mengalami mommy-issue atau hal-hal lain yang saya ungkap diatas.

.

Posting Komentar