" ".

Review Curtain Call (2022) : Menyibak Tabir Metafora Panggung Kehidupan

Table of Contents


Kalau ada drama Korea dengan jeda paling panjang yang pernah saya tonton, Curtain Call adalah juaranya. Saya nonton sekitar tahun 2023, saat ditayangkan di ONE channel, saluran televisi berlangganan yang menayangkan siaran asal KorSel. Masalahnya, penayangannya tepat setelah drama My Dearest yang begitu membekas dihati. Sehingga saya yang gagal move-on baru bisa menonton enam episode awal. Setelahnya saya tinggalkan. 

Sekitar awal tahun 2025, saya sempat mencoba menamatkannya dengan nonton di aplikasi Prime Video namun lagi-lagi gagal. Baru sukses beberapa waktu yang lalu saat diputar ulang kembali di ONE. Rasanya seperti lingkaran sempurna ya?

Judul : Curtain Call

Judul Lain : Curtain Call : Tree Dies Standing / 커튼콜: 나무는 서서 죽는다
Penulis Naskah : Jo SungGirl
Sutradara : Yoon SangHo
Pemain : Kang HaNeul, Ha JiWon, Jung JiSoo, Sung DongIl, Gu DoShim, Kwon SangWoo, Nih SangHyun, Choi DaeHoon, dll
Genre : Drama - Romansa - Tragedi
Tayang : 31 Oktober - 27 Desember 2022
Jumlah Episode : 16
Durasi : 60 menit 
Jaringan : KBS2, Prime Video 
Rating usia : 16+

Sinopsis 

berkisah tentang Ja GeumSoon (Gu DoShim), seorang wanita tua kaya raya sebagai pendiri sekaligus pemegang saham terbesar Hotel Nakwon. Salah satu hotel termewah dan papan atas. Ia berjuang mendirikannya dari sebuah kedai makan dan losmen sederhana sejak beberapa dekade yang lalu. 

Saat ini meski kehidupannya nyaman dikelilingi tiga orang cucu (dari suami keduanya) plus cucu menantu serta para asistennya yang setia, GeumSoon sedang bersedih. Menjelang akhir hidupnya, ia diagnosa kena kanker ganas dan harapan usianya tinggal tiga bulan saja. Ia menolak pengobatan medis dan hanya punya satu sederhana sekaligus mustahil: bertemu kembali dengan cucunya yang tertinggal di Korea Utara. Terungkap, ia terpisah dari keluarga serta tanah kelahirannya akibat Perang Korea.

Selain wajahnya yang mirip suami pertama GeumSoon, JaeHoon sudah biasa memerankan tokoh Korea Utara di drama dan mempelajari dialeknya

Karena keterbatasan politik dan realitas perbatasan dua Korea, keinginan itu tak mungkin diwujudkan secara nyata. Maka lahirlah sebuah rencana yang absurd sekaligus menyentuh dari asistennya Jung SangCheol (Sung DongIl). Ia yang sudah bertahun-tahun menyewa detektif untuk melacak keberadaan cucu sang nenek, memutuskan menyewa Yoo JaeHeon (Kang HaNeul), seorang aktor teater yang hidup pas-pasan. Pemuda tampan itu diminta untuk berpura-pura menjadi cucu GeumSoon yang berhasil datang dari Korea Utara. Tak sendiri, ia bersama 'istrinya' Seo YoonHee (Jung JiSoo)

Dari sinilah kisah berkembang. Kebohongan kecil berubah menjadi panggung besar yang melibatkan keluarga, pewaris hotel, dan rahasia masa lalu yang selama ini terkubur. Tiga orang cucu GeumSoon : Park SeJoon (Ji SeungHyun), Park SeYeon (Ha JiWon) dan Park SeGyu (Choi DaeHoon), kini berselisih soal masa depan Hotel Nakwon; satu ingin menjual, yang lain menolak, serta si tengah yang terombang-ambing diantara keduanya, menciptakan ketegangan keluarga.

Dapatkah JaeHoon menuntaskan misinya? Hubungannya dengan SeYeon pun mengalami dilema, apalagi setelah kehadiran mantan tunangan SeYeon, Bae DongJe (Kwon SangWoo) yang terlibat dalam pusaran rencana akuisisi hotel. Lantas bagaiman ketika sang cucu asli, Ri MoonSeong (Steve Noh SangHyun) hadir di kehidupan nenek GeumSoon? 

Review

Aku tak pernah melupakannya. Aku memenuhi bagian janji itu tapi kami tak bisa memenuhi janji untuk bertemu kembali."

Nenek GeumSoon 

Apa sih yang bikin saya mencoba berkali-kali tetap melanjutkan nonton drakor ini meski biasanya kalau sudah berhenti  biasanya saya skip untuk selamanya?

1. Memberikan Pengalaman Sinematik Cukup Baik 

Adegan pembuka yang menggambarkan Evakuasi Hungnam itu visual masterpiece. Salah satu adegan di K-drama yang begitu membekas bagi saya. Adegan masa lalu nenek ditampilkan sebagai flashback ke tahun 1950-an. 

Ha JiWon dan Kang HaNeul didapuk sebagai nenek GeumSoon kala muda dan suaminya membuat kita penonton semakin pada bersimpati pada kepedihan akibat perpisahan mereka.

Setting digarap dengan sangat kolosal, melibatkan banyak pemeran pendukung yang berdesakan demi menyelamatkan nyawa masing-masing.

Menggunakan tone sepia yang agak keabu-abuan. Ini memberikan kesan memori yang memudar sekaligus menggambarkan kedinginan musim dingin di dermaga Hungnam. Laut yang gelap dan salju yang kotor menciptakan atmosfer keputusasaan. Di sini, sinematografi berfungsi untuk menekankan bahwa sejarah itu kelam dan berat.

Kita diingatkan bahwa perpisahan antara Utara dan Selatan bukan cuma soal ideologi, tapi soal tangan yang terlepas di tengah kerumunan, soal janji untuk bertemu lagi yang ternyata memakan waktu puluhan tahun. 

Ketika berhasil bertemu kembali di program rekonsiliasi yang digagas pemerintah sekitar awal tahun dua ribuan, vibes jadulnya pun cukup terasa. Nenek GeumSoon berjumpa kembali dengan putranya yang saat itu membawa cucunya, MoonSeong yang masih kanak-kanak. Janji itu pun diulangi, ia akan membawa keduanya hidup nyaman di KorSel. Sayang, hingga usianya nyaris berakhir, janji-janji itu belum berhasil dikabulkan.

2. Karakter Unik diperankan Pemeran Bintang

pemilihan cast-nya juara!

Selain sebagai suami nenek GeumSoon muda, Kang HaNeul memerankan JaeHeon, lalu menyamar sebagai MoonSeong benar-benar menunjukkan kenapa dia menang Baeksang. Dia bisa berubah dari aktor yang clueless jadi sosok cucu yang sangat hangat. Tatapan matanya yang penuh rasa bersalah tapi juga sayang itu... duh, bikin meleleh! 

Sebagai aktor teater, ia terbiasa memerankan orang lain. Namun kali ini, peran yang ia mainkan bukan sekadar karakter fiktif, melainkan identitas seseorang yang hidup di negara yang selama ini hanya ia dengar lewat berita. Lengkap dengan aksen Korea Utara, Ia berusaha tampil se-otentik mungkin 

“Kalau aku salah bicara, bukan cuma aktingku yang gagal. Aku seperti sedang menghapus hidup seseorang.”

Adegan ini menandai pergeseran besar dalam karakternya. Ia tidak lagi melihat peran ini sebagai pekerjaan, melainkan sebagai tanggung jawab moral. Korea Utara yang selama ini terasa abstrak baginya, perlahan menjadi nyata lewat cerita GeumSoon, seiring kedekatan mereka.

Ha JiWon sebagai Park SeYeon memberikan performa yang elegan dan tenang. Hubungannya dengan JaeHeon sangat menarik karena berada di wilayah antara rasa sayang pada adik (palsu) dan ketertarikan pada pria yang sangat mengerti dirinya. 

SeYeon adalah gambaran angkatan muda KorSel masa kini: rasional, ambisius, dan hidup dalam ritme kapitalisme. Ia mengelola hotel mewah yang menjadi pusat cerita, hotel yang berdiri megah sebagai simbol keberhasilan ekonomi.

Namun hotel itu dibangun oleh neneknya yang berakar dari KorUt. Artinya, kemewahan masa kini berdiri di atas fondasi masa lalu yang penuh kehilangan.

Dalam dialog konfrontatif dengan salah satu anggota keluarganya, SeYeon berkata:

“Kita hidup nyaman sekarang karena seseorang dulu kehilangan segalanya.”

Kalimat ini terasa seperti pengakuan kolektif. Drama ini secara halus mengkritik bagaimana generasi muda KorSel menikmati hasil pembangunan tanpa benar-benar berdamai dengan sejarah pahit yang menyertainya. SeYeon selalu merasa bersalah dan berempati dengan sepupunya hahh terjebak di KorUt, MoonSeong.

MoonSeong asli adalah kontras yang sangat tajam dari karakter JaeHeon yang hangat. Ia tumbuh besar di KorUt dan melihat ayahnya meninggal dalam kepedihan karena merasa ditelantarkan oleh ibunya yang hidup mewah di Selatan.

Baginya, Nenek GeumSoon bukanlah sosok pahlawan, melainkan alasan di balik penderitaan keluarganya, jadi ia menaruh dendam. Dia datang bukan untuk meminta kasih sayang, tapi untuk menuntut hak dan meluapkan rasa sakitnya.

 Hidup sebagai penyelundup dan terlibat dalam dunia kriminal bukan pilihannya melainkan tuntutan bertahan hidup di sistem yang keras. Ini yang membuatnya punya vibe yang sangat mengancam saat pertama kali muncul.

Jangan lupakan Gu DoShim yang jadi tokoh sentral, nenek GeumSoon. Kita pasti merasakan kelekatan setelah melihat penderitaan dan perjuangannya. Sekaligus kagum akan keputusan yang diambilnya sebagai kepala keluarga sekaligus pebisnis ulung.

3. Metafora Panggung yang Sangat Kental

Pernah nggak sih teman pembaca ngerasa kalau hidup itu sendiri adalah sebuah panggung sandiwara besar? Bedanya, di dunia nyata kita tak mengetahui naskah yang pasti. Nah, drama yang tayang di KBS2 ini bener-bener bawa premis itu ke level yang lebih tinggi.

Method Acting yang Berbahaya:

JaeHeon melakukan method acting tingkat dewa. Dia tak cuma menghafal dialog, tapi mencoba merasakan penderitaan MoonSeong. Masalahnya, dalam teater, ada batas antara panggung dan penonton. Di kehidupan Nenek GeumSoon, panggung itu adalah interaksi sehari-hari di rumah megah dan hotel sementara penontonnya adalah orang-orang yang perlahan jadi tulus mencintainya. Ketika ia mulai naksir SeYeon, pembatas akan semuanya mulai bercampur. Ia sulit membedakan mana realitas dan kebohongan.

Akting jadi pasutri

The Script (Naskah) vs. Improvisasi:

Awalnya, JaeHeon punya naskah yang disusun bareng Pak SangCheol. Tapi hidup nggak bisa diprediksi. Dia harus melakukan banyak improvisasi saat bertemu dengan anggota keluarga lain yang curiga. Ini mencerminkan hidup kita sendiri: kita sering mengalami hal yang menghancurkan hati, tapi seringkali kita harus berakting (sok) kuat dihadapan dunia.

Curtain Call (Panggilan Tirai):

Dalam istilah teater, curtain call adalah momen di akhir pertunjukan ketika para aktor keluar untuk membungkuk dan menerima tepuk tangan. Di drama ini, curtain call adalah momen kebenaran. Apakah saat tirai ditutup dan rahasia terbongkar, para 'penonton' (keluarga besar terutama sang Nenek) akan memberikan tepuk tangan atau justru kemarahan?

Dengan metafora panggung drama, mengingatkan kita bahwa hidup sering kali memaksa manusia berakting. Namun di balik setiap peran, selalu ada kerinduan untuk jujur, pulang, dan diterima.

4. Kecintaan Saya pada Drama Berlatar Sejarah 

Meski di dramatisasi, drama ini berhasil mengajak kita mendalami apa yang terjadi saat semenanjung Korea terpisah menjadi negara Korea Utara dan Korea Selatan.

Alih-alih memposisikan konflik kedua negara sebagai isu politik, Curtain Call memilih sudut pandang manusia biasa. Menyoroti penderitaan orang yang dikenal sebagai silhyumin (orang-orang yang kehilangan kampung halaman). Nenek GeumSoon (dan anak serta cucunya Ri MoonSeong) adalah representasi generasi yang hidupnya terbelah oleh sejarah. Ia bukan sekadar survivor dari KorUt, melainkan seorang ibu, nenek, dan manusia yang kehilangan rumah.

Dalam salah satu dialog paling menyayat, GeumSoon berkata kepada JaeHeon:

“Aku tidak ingat lagi wajah rumahku di Utara. Tapi aku masih ingat bau tanahnya.”

Dialog ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Korea Utara di sini bukan simbol ideologi, melainkan ruang emosional, tempat kenangan yang tidak bisa dihapus meski puluhan tahun berlalu. Gambaran nyata akan trauma personal yang pada akhirnya berujung pada trauma generasional, diwariskan pada generasi berikutnya.

6. Banyak Hikmah yang bisa Dipetik

Ending dari Pengorbanan dalam Perpisahan 

Konflik Korea Selatan dan Korea Utara tidak disajikan sebagai hitam-putih, melainkan sebagai luka panjang yang membentuk manusia-manusia di dalamnya.

Jika konflik dua Korea adalah drama sejarah yang belum menemukan ending-nya, maka Curtain Call menawarkan satu hal sederhana: empati. Dan mungkin, itu adalah bentuk rekonsiliasi paling jujur yang bisa kita dapatkan saat ini.

Jalinan Kekeluargaan yang Lebih Kuat dari Darah

Kehadiran MoonSeong palsu sejatinya memaksa kita sebagai penonton untuk bertanya: “Siapa yang lebih berhak disebut cucu? Dia yang punya pertalian darah tapi penuh rasa benci, atau dia yang palsu tapi memberikan kedamaian di hari tua sang Nenek?”

Pak SangCheol juga melakukan kebohongan ini pada mulanya sebagai bentuk pengabdian terakhirnya telah diselamatkan di malam evakuasi tersebut. Ia selama berpuluh tahun mendampingi dan mengabdikan hidupnya pada nenek GeumSoon.

❤❤❤❤❤
Dari saya 8 / 10 poin. Minusnya agak draggy di tengah-tengah dan rasa iba saya pada karakter YoonHee, cintanya bertepuk sebelah tangan karena selalu dianggap adik oleh JaeHoon serta SeJoon yang awalnya terlihat jahat dan ingin menghalalkan segala cara, seolah  mudah luluh dan mengikuti keinginan nenek dan adiknya melanjutkan pengelolaan hotel Nakwon.
 

Posting Komentar