" ".

Review Even If This Love Disappears From the World Tonight Jepang : 7 Alasan Saya Terpikat

Table of Contents

Saya pertama nonton Even If this Love Disappears from the World Tonight sekitar tahun 2024. Sebagai konteks saat itu saya langsung nonton berturut-turut film Jepang. Semacam bingewatching lah ya.. Jadinya koq kurang berkesan, tertutupi dengan judul lain yang punya tema sama (melodrama dengan sentuhan tragedi khas Jepang) atau film lebih masuk ke selera saya seperti Our Secret Diary

Nah, pas timeline sosmed ramai dengan peluncuruan remake versi Korea-nya, saya jadi pengen nonton ulang versi Jepangnya dulu ya.. Saya belum baca novel yang diadaptasikan menjadi film ini.

Kali ini saya mencoba menuliskan dengan bantuan Asisten AI agar bisa lebih komprehensif bagian ilmiahnya.

Judul : Even If This Love Dissapeares From The World Tonight 

Judul Lain : Konya, Sekai kara kono Koi ga Kietemo
Sutradara: Takahiro Miki
Penulis Naskah : Misaki Ichijo (novel), Sho Tsukikawa, Hana Matsumoto
Pemain : Shinsuke Michieda, Riko Fujimoto, Kotone Furukawa, dll
Genre : melodrama, romantis, komedi
Durasi : 121 menit
Tayang perdana : 29 Juli 2022
Rating Usia : PG-13
OTT : (?), web wibusubs
 

Sinopsis

Sepulang sekolah, Toru Kamiya (Shinsuke Michieda) dari kelas 1-1 menembak Maori Hino (Riko Fujimoto), seorang gadis populer dari kelas 1-7. Awalnya, ia hanya membela temannya yang dibully dan bersedia di rekam sebagai balasan sang teman tidak diganggu lagi oleh para perundungnya. 

Siapa sangka, Maori menerima pernyataannya dan mereka berpacaran setelah videonya menjadi viral. 

Toru jujur dengan alasannya dan memaklumi kalau Maori malah atau membatalkannya tapi gadis itu justru menyarankan agar hubungan pura-pura ini dilanjutkan, agar teman yang dilindungi Toru tidak sedih dengan pengorbanannya. Tapii ia mengajukan tiga syarat :

  1. Tidak saling bertegur sapa sampai saat pulang sekolah
  2. Meminimalisir kontak personal (lewat chat)
  3. Tidak saling jatuh cinta sungguhan

Tanpa prasangka, Toru menerima dan mulai menemui Maori di jam pulang sekolah bahkan di luar sekolah. Mereka berjalan-jalan menikmati piknik dan kegiatan lain bak sepasang kekasih sungguhan. Toru menyadari, Maori selalu mencatat segala hal yang diceritakannya, it's kinda cute and romantic. 


Suatu hari mereka pergi piknik, tiba-tiba, Maori yang tak sengaja tertidur di atas matras piknik bangun dalam keadaan panik. Ia bingung kenapa bisa ada di lokasi tersebut dan tak mengenali Toru sama sekali!


Di tengah berkeliling mencari Maori, ia mendapat telepon dari Izumi Wataya (Kotone Furukawa) --sahabat Maori yang sudah pernah mencurigai kedekatannya dengan Maori di sekolah-- yang berjanji akan menjelaskan kondisi pacarnya itu.

Namun tanpa diduga, Maori sendiri yang menceritakan kecelakaan yang membuatnya tak bisa mengingat kejadian pasca kejadian. Setiap habis tertidur, maka ia akan melupakan semuanya.

Agar bisa 'mengingat' semuanya keesokan harinya, Maori rutin menulis di buku harian. Juga membuat catatan yang ditempel di dinding kamarnya. Setiap paginya, ia akan terbangun dan membaca ulang semuanya.

Bagaimanakah kelanjutan hubungan Maori dan Toru? Dapatkah Maori kembali mendapatkan kemampuannya mengingat secara normal? Ketika tragedi besar mengguncang hubungan mereka, apa pula peran Izumi dan kakak perempuan Toru, Sanae (Honoka Matsumoto)?

Review 

Spoiler Alert

Entah kenapa, aku terus saja melukis gambar dirinya. Seolah-olah tanganku mengingatnya, berulang kali. Meskipun cinta sirna dari dunia malam ini"

Maori

Hal-hal yang sungguh saya sukai dari film ini :

1. Mengingatkan Akan Film 50 First Dates (2004)

Sejujurnya, saya tidak suka (banget) dengan Adam Sandler. Saya tetap nonton banyak filmnya dan satu-satunya yang saya sukai hanyalah penampilannya di 50 First Dates. Mungkin karena pemeran utama wanitanya adalah Drew Barrymore, salah seorang aktris Hollywood yang saya sukai. 

Saking sukanya, saya masih hafal sebagian besar alur cerita film ini dan begitu nonton Even If This Love Disappears From the World Tonight, kesan pertama saya langsung mengingatkan akan film tersebut. 

Di 50 First Dates, Lucy (Drew Barrymore) juga jago melukis. Ketika Henry (Adam Sandler), mengabulkan keinginan Lucy untuk putus --agar ia bisa melanjutkan penelitiannya ke antartika-- mereka menghapus semua catatan tentang dirinya dari kehidupan Lucy. Namun saat Henry menyadari Lucy mulai bisa mengingat dirinya, ia menemui Lucy di saat gadis itu mengaku tidak mengenalinya tapi memimpikannya setiap malam dan sudah membuat banyak lukisan dirinya.

2. Mengulik Ingatan Ngekos Bareng Anak Psikologi 

Sisi lain yang membuat nonton 50 First Dates begitu berkesan adalah saat itu saya tinggal di kosan yang didominasi oleh mahasiswi fakultas psikologi! Artinya menonton film tersebut (ramai-ramai di kosan dengan VCD modal rental Hoahaha), menimbulkan pembahasan secara ilmiah yang menarik.

Samar-samar, saya masih ingat sebagian besar perdebatan seru. Seingat saya, ada teman sekelas dari teman sekosan yang mengajukan pertanyaan mengenai Lucy di kelas kepada dosen, tapi saya lupa dosen jurusan apa ya.. 

Jadilah, ingatan samar tersebut yang saya jadikan dasar menulis dengan dibantu riset internet dan asisten AI (saya coba prompt yang sama di Google Gemini Pro versi gratisan dan Chat GPT Go versi berbayar, eh tapi saya dapat gratis 3 bulan dari aplikasi belanja langganan). 

Analisa abal-abil tentang :

1. Maori

Maori mengalami kecelakaan dan kesulitan mengingat kejadian setelah kejadian itu. Membuat kita yang awam bertanya-tanya, apakah itu suatu penyakit?

Dari beberapa literatur saya memahami bahwa ini dikenali sebagai Anterogate Amnesia. Jadi, di dalam otak manusia, ada bagian kecil berbentuk mirip kuda laut yang disebut Hippocampus. Ini ibaratnya sakelar "tombol menyimpan " di otak kita.

Fungsi Normal di Otak: Informasi masuk → Short Term Memory (STM) → Konsolidasi di HippocampusLong Term Memory (LTM) di Korteks.

Akibat kecelakaan, rangkain fungsi ini terganggu pada Maori. Ia tetap menerima informasi (STM berfungsi) dalan kesehariannya, tapi saat tidur (saat proses pemindahan ke LTM seharusnya terjadi), datanya gagal tersimpan.

MemoryLoss=(Encoding+Storage)−Retrieval

Pada kasus Maori, masalahnya ada di bagian penyimpanan memori. Ibarat komputer yang RAM-nya bekerja, tapi Hard Disk-nya corrupt. Setiap kali shut down (tidur, bahkan sekedar tidur siang), data di RAM hilang.


Mengapa Dia Masih Bisa Menggambar atau Bersepeda?

Ini detail ilmiah yang dieksekusi dengan indah oleh film ini. Dijelaskan juga secara singkat oleh Toru (sambil googling Hoahaha). Meskipun Maori lupa wajah Toru, dia masih bisa melukis sketsa wajah Toru secara tidak sadar. Kenapa?

Karena memori manusia terbagi dua:

Memori Deklaratif (Eksplisit): Fakta, nama, kejadian (contohnya : setelah kecelakaan Maori sekarang pacaran dengan Toru). Ini yang hilang dari Maori karena kerusakan Hippocampus.

Memori Prosedural (Implisit): Keahlian, kebiasaan, respons emosional (Cara menggambar karena pernah ikut kursus seni saat SMP atau perasaan nyaman saat melihat pria ini). Ini tersimpan di Cerebellum dan Basal Ganglia, yang seringkali tetap utuh meski Hippocampus rusak.

2. Toru

Toru adalah karakter pemuda--selain tampan, menurut saya perpaduan Park HyungSik dan Jerry Yan!-- yang too good to be true. Ia baik, sopan, rendah hati, setia kawan bahkan pandai mengurus rumah dan memasak. Tapi dari sudut pandang psikologi, perilaku Toru bisa dikategorikan sebagai bentuk Altruisme Ekstrem yang berakar pada kesepian eksistensial.

Toru digambarkan memiliki hubungan yang dingin dengan ayahnya dan kehilangan ibunya. Dia merasa hidupnya tidak berwarna. Ia cenderung menyenangkan orang-orang disekitarnya. Pertama, ia membela temannya yang di bully dan mau saja 'berkorban' menembak Maori dengan tujuan akan dipermalukan satu sekolah. Kemudian kala hubungan tersebut justru berhasil, menjadi jangkar bagi ingatan Maori memberinya Sense of Purpose (tujuan hidup).

ketulusan Toru pada akhirnya meluluhkan Izumi dan  menjadi bentuk yang menjadi terapi terbaik bagi kecemasan Maori. Toru menciptakan lingkungan yang psychologically safe. Dia tidak memaksa Maori mengingat. Dia selalu mengikuti persyaratan Maori. Setiap harinya ia  memperkenalkan diri ulang dengan senyum yang sama. Konsistensi ini menurunkan kadar kortisol (hormon stres) Maori setiap bersamanya bahkan merasakan kebahagiaan yang dikiranya mustahil.

3. Izumi 

Karakter yang paling membuat saya merasa relateable adalah Izumi, sahabat Maori yang akhirnya menganggap Toru sahabatnya juga. Izumi mengakui setelah melihat kedua orangtuanya berpisah, ia jadi percaya lagi dengan kekuatan cinta setelah melihat interaksi Toru dan Maori.


Makanya, ia harus menanggung beban mental yang berat. Saat kondisi psikologisnya sendiri sedang kurang baik --menimbang orangtuanya akan bercerai-- tahu-tahu dia diamanati permintaan Toru yang sungguh berat : menghapus eksistensinya dari buku harian (plus ponsel) Maori yang artinya menghapus semua kenangan tentang dirinya. 

Izumi harus menahan dukanya sendiri atas kematian Toru. Ia sangat mencemaskan Toru yang bercerita akan memeriksakan diri karena khawatir dengan kesehatan jantungnya dan menelponnya berkali-kali sampai pada akhirnya menerima kabar duka dari Kakak Toru. 

Ia kemudian mengambil keputusan yang sulit, menjalankan keinginan terakhir Toru, menghapus kehadirannya dalam buku diary sehingga Maori tak pernah tahu pernah berpacaran dengannya

Sedihnya lagi, Izumi harus berpura-pura ceria di depan Maori. Ia tidak bisa berduka secara terbuka karena dia sibuk memanipulasi realitas demi melindungi sahabatnya.

Kudos to Kotone Furukawa, pemeran Izumi yang saya jadi sukai sekali. Sayang, saat di Where does the Sea Begin?, dramanya yang saya tonton beberapa waktu lalu, perannya kurang menonjol. Semoga kelak ia bermain sebaik di film ini lagi.

3. Persahabatan yang Mengharukan

Izumi menyayangi Maori, sahabatnya. Ia membantunya mengingat segala sesuatu, termasuk melindungi Maori dari teman-teman yang tak diberitahukan kondisinya. 

Izumi awalnya protektif 

Meskipun awalnya ia curiga dengan motif Toru, seiring waktu  bonding mereka ternyata sangat erat. Sama-sama menyenangi karya sastra khususnya seorang  penulis berbakat ---yang ternyata kakak Toru, Sanae, Izumi melunak bahkan menganggapnya sahabat juga. Oleh karena itu menjadi eksekutor keinginan terakhir Toru sungguh mengharukan. 

Melihatnya menangis pilu saat mencabut post it Maori yang berpesan untuk dirinya sendiri agar tak melupakan Toru, bagi saya merupakan puncak kesedihan dalam film ini.

4. Kompleksnya Hubungan Keluarga

Orang tua Izumi akan bercerai, sementara keluarga Maori setiap hari 'terpaksa' mengulangi percakapan yang sama berkaitan dengan kondisi istimewanya.

Orangtua Maori yang suportif

Keluarga Toru lebih kompleks, ibunya meninggal mendadak akibat penyakit jantung bawaan. Ayahnya tak berhasil menyelesaikan novel yang ditulisnya sejak lama, meski sudah berjanji pada almarhumah istrinya. Sementara waktu kakak Toru yang mengurus rumah, tapi saat mendapat kesempatan menulis novel yang kemudian memenangkan hadiah sastra, ia pindah tanpa memberitahu ayahnya alasannya.

Hubungan keluarga yang kompleks ini  memberi kedalaman lebih pada penceritaan. Jadi bukan unsur percintaanya saja.

5. Merefleksikan "Bolehkah Kita Memutuskan Sesuatu Untuk Orang Lain dengan Alasan Sayang?"

Pertanyaan terbesar dari film Even if this Love Dissapeares From the World Tonight adalah apakah etis menghapus kenangan seseorang demi menyelamatkan mereka dari rasa sakit?

"Jangan lupakan Toru Kamiya"

Izumi, yang meminta bantuan kakak Toru untuk menimbang masalah ini, akhirnya memutuskan untuk memanipulasi buku harian Maori dan menghapus semua tulisan tentang Toru. Memang ini adalah permintaan terakhir pemuda itu, logikanya: jika Maori membaca tentang Toru yang sudah meninggal setiap pagi, dia akan stuck dalam fase denial dan anger selamanya tanpa pernah bisa masuk ke fase acceptance dalam lima tahap berduka.

Secara psikologis, ini disebut protective buffering. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar, Maori merasa ada yang hilang. Ada lubang hitam di jiwanya. Setiap bangun pagi, ia masih menangis tanpa alasan.

Ia melukis sosok laki-laki yang tidak dia kenal (yang disamarkan Izumi sebagai model yang berkenan digambarnya setelah berjumpa di perpustakaan).

Lukisan Maori semua wajah Toru, Izumi menangis melihatnya dan kita yang nonton pasti ikutan terharu bahkan nangis juga

Ini membuktikan teori bahwa emosi tidak butuh memori kognitif untuk eksis. Emosi memiliki jalurnya sendiri. Dengan menghapus memori kognitif (buku harian),  justru tercipta disonansi kognitif pada Maori (Perasaan: Sedih/Rindu vs Logika: Tidak ada siapa-siapa).

Menurut saya, tindakan ini, meskipun didasari niat baik (benevolent), sebenarnya melanggar otonomi Maori. Rasa sakit adalah bagian dari validasi cinta. Menghapus rasa sakit berarti menghapus jejak keberadaan cinta itu sendiri.

6. Mengambil Pelajaran Penting

Apa yang bisa kita bawa pulang dari film berdurasi 2 jam ini selain mata sembab?

1. Memori Bukanlah Satu-satunya Definisi "Kita"

Maori mengajarkan bahwa meskipun kita kehilangan data masa lalu, esensi diri kita (kebaikan, selera seni, cara kita memperlakukan orang) tetap ada. Kita lebih besar dari sekadar kumpulan ingatan kita.

2. Pentingnya Mendokumentasikan Segalanya



Maori selalu menulis diary dan mengambil foto Toru

Bagi teman pembaca yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental, journaling adalah terapi yang sangat powerful. Seperti Maori, menulis membantu kita menata kekacauan di kepala menjadi narasi yang terstruktur. 

3. Cinta Mengubah Struktur Otak

Cinta Toru tanpa syarat, ia hanya ingin Maori merasa bahagia setiap harinya. Meskipun Toru sudah tiada dan namanya dihapus dihapus dari diary Maori, jejaknya ada pada habit baru Maori. Cara dia memandang dunia, keberaniannya melukis, itu semua adalah hasil dari neuroplastisitas positif yang dipicu oleh hubungan yang sehat dengan Toru. 

4. Hargai Kebersamaan dengan Orang yang Tersayang

Even If This Love Disappears from the World Tonight adalah pengingat yang indah sekaligus menyakitkan bahwa waktu adalah aset paling mewah yang kita miliki. Manfaatkanlah sebaiknya bersama orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.

5. Kejarlah Impianmu Apapun Kondisinya

Kakak Toru meninggalkan rumah agar serius menjalani hidup sebagai novelis, meski ia meminta maaf meninggalkan Toru berdua ayahnya yang dingin.

Maori pun memutuskan tetap menggambar dan melukis. Pada akhirnya, ia bersiap masuk perguruan tinggi di jurusan seni.

7. Hal Teknis Bagus

Akting, chemistry (Toru-Maori cocok banget! + Izumi yang keren), pacing, editing, scoring, alur maju mundur yang membuat kita sedikit berpikir, di masa yang mana penceritaan ini berlangsung (hint : panjang rambut Maori atau perbedaan gaya rambut Izumi adalah koentji) dan sinematografi yang outstanding.

Satu lagi, endingnya tidak jatuh ke dalam klise bahwa cinta menyembuhkan penyakit atau mengatasi semua rintangan. Maori tidak sembuh karena ciuman cinta sejati ibarat kartun Snow White. Kondisinya membaik seiring berjalannya waktu, tapi jiwanya disembuhkan oleh pengalaman dicintai secara tulus, meskipun dia tidak ingat nama orang yang mencintainya. 

❤❤❤❤

Dari saya 8,5 / 10. Kurangnya karena tidak dijelaskan bagaimana Maori menghadapi tantangan yang seharusnya jadi topik utama lain : bersekolah! Memang dibantu Izumi sebagaimana ia berterimakasih saat upacara kelulusan, tapi bagaimana dengan ujian? Maori terjebak di usianya sebelum kecelakaan, bagaimana catch-up pelajaran? Sementara buku diary-nya sebagian besar menceritakan Toru! 

Satu lagi, saya cek di aplikasi nonton si merah sudah ga ada. Eh, saya lupa dulu nontonnya di aplikasi tersebut apa langsung ke web wibusubs.

Boleh banget ditonton saat sedang jenuh dengan hidup yang terasa monoton. Atau sebelum nonton versi remake Korea-nya (saya juga belum nonton nih Hoahaha) karena biasanya versi Jepang itu lebih melankolis.

Baca juga :

Review Even If This Love Disappears From The World Tonight KorSel : On Par dengan Versi Jepang 

Posting Komentar