Review No Tail To Tell : Dilema Hidup Siluman Rubah Berekor Sembilan
Salah satu drakor yang saya nantikan adalah Human From Today atau judul resmi internasionalnya No Tail, To Tell. Sebagai proyek comeback Kim HyeYoon dan Lomon yang seharusnya sudah tayang akhir tahun lalu sebelum dimundurkan hingga awal tahun 2026 ini. Sayang, sambutan netizen tidak semeriah hype yang diharapkan. Ratingnya --hingga postingan ini di tulis baru tayang 10 dari 12 episode-- berkisar 2-4% saja. Di aplikasi merah, posisinya naik dan turun dalam kisaran sepuluh besar serial yang paling banyak di tonton di Indonesia.
Judul : No Tail To Tell
Sinopsis
Kenalkan EunHo (Kim HyeYoon), rubah berekor sembilan yang jahil sekaligus menggemaskan. Sejak era kerajaan, hutan dan kawasan pegunungan telah menjadi taman bermainnya. Ia punya kekuatan yang bisa mengabulkan segala keinginan dan bisa menampakkan diri pada manusia dalam wujud yang gadis muda yang rupawan. Misalnya, saat Ia bertanya pada pencari herbal lokasi ibu kota Hanyang.
EunHo menarasikan seekor rubah berekor sembilan berusaha mengumpulkan kebajikan di Gunung Myohyangsan, agar bisa menjadi manusia. Tapi ternyata itu bukan dirinya, melainkan seseorang yang dipanggilnya eonnie. Ia datang ke Hanyang demi menghadiri pernikahan sang kakak dengan manusia yang dicintainya. EunHo mengaku bosan tanpa kehadirannya dan mendoakan kebahagiaan beliau.
Anehnya, saat prosesi pernikahan berlangsung, EunHo mendapat penglihatan tentang masa depan yang suram. Tak seperti dongeng yang selalu berakhir dengan kedua mempelai hidup bahagia selamanya. EunHo paham kehidupan itu sulit dan kematian terasa dekat karena Kak GeumHo (Lee SiWoo) memilih jadi manusia. Akhirnya ia memutuskan tak mau jadi manusia yang rapuh dan bisa meninggal kapan saja.
Kemudian ia mengungkit kisahnya yang mundur ke sembilan tahun lalu. Di suatu lapangan sepakbola SMA Kang ShiYeol (Lomon), bermain dengan bersemangat. Pelatihnya sudah mengingatkan, ia harus bermain sesuai briefing, hanya memberikan assist. Hari ini ada pencari bakat yang datang untuk mengamati rekan setimnya, Hyeon WooSeok (Jang DongJoo). Namun bagi ShiYeol tak ada yang lebih penting dari mencetak gol. Dan ketika pertandingan berlangsung, ia benar-benar mencetaknya, membuat sang pencari bakat merasa terkesan. ShiYeol dimarahi pelatih habis-habisan. Ia merasa tambah sedih kala ayah WooSeok hadir ke pertandingan dan membagikan makanan. Pria itu tampak bangga dengan pencapaian anaknya.
Ternyata ShiYeol yatim piatu. Saat ini ia tinggal bersama neneknya yang kesulitan keuangan. Tapi wanita tua itu mencintainya, ia berusaha membayari uang eskul sepakbola ShiYeol tapi cucunya berbohong, ia mendapat beasiswa penuh berkat bakatnya. Padahal aslinya ia mengantar barang sebagai pekerjaan sampingan.
WooSeok dan ShiYeol tetap berteman baik, sehingga di suatu hari libur, pemuda yang akan mendapat kontrak dengan merk sepatu olahraga mengajak ShiYeol ke mall untuk memilih sepatu bola baru. ShiYeol yang menyadari maksud temannya itu menolaknya dan saat mencoba pergi, ia bertabrakan dengan EunHo.
ShiYeol kaget karena sempat terdorong kebelakang meski body EunHo lebih kecil darinya. Sementara EunHo pun dibuat kaget ia sampai jatuh pingsan dalam pelukan ShiYeol--yang lebih kaget lagi melihat penampakan sembilan ekornya.
Sebuah kecelakaan tak terduga yang juga melibatkan WooSeok membuat EunHo kehilangan sebagian kekuatannya dan menjelma menjadi manusia, satu hal yang selama ini sangat ia hindari.
Di sinilah perjalanan emosional dan romantis mereka dimulai. Meleburkan batasan antara dunia magis dan realita, antara cita-cita yang tak pernah dipahami dan kehidupan yang sungguh ada di hadapan mata
Mampukah EunHo mengembalikan kekuatannya? Apakah mereka berdua memang ditakdirkan untuk bersama selamanya?
Review
Jelas aku berarti buatmu, tapi bagiku kamu juga seseorang yang sangat istimewa. Kamu adalah teman manusia pertama yang tidak terasa ‘sekadar bisa diganti'
EunHo kepada ShiYeol
Yang saya sukai dari No Tail, To Tell
1. Premis Segar dengan Unsur Fantasi
Sky is the limit untuk unsur fantasi. Kali ini terasa segar karena EunHo adalah rubah berekor sembilan yang menentang pakem. Berbeda dari siluman rubah yang berlomba melakukan kebajikan agar jadi manusia sejati, ia menolak jadi manusia dan ingin terus hidup abadi sebagai siluman alias manusia jadi-jadian.
Walaupun ada aturan dasar yang disebutkan EunHo dan dari interaksinya dengan para 'penguasa langit', kisah ini berkembang secara dinamis dan endingnya sukar ditebak.
2. Parade Style EunHo dan Gaya Hidup ShiYeol
Dari era Joseon, retro, sampai kekinian, tak ada yang gagal. Fashionable dan trendy.
Begitu juga dengan ShiYeol, saat ia menjadi bintang lapangan hijau klub Thames di Eropa, kita bisa melihat gaya hidupnya yang bergaya. ShiYeol menulis autobiografinya sendiri (meski dibantu oleh ghostwriter), pulang ke KorSel naik pesawat kelas business dan punya alat terapi kesehatan setelah olahraga yang terlihat mahal.
Semuanya terasa jomplang saat mereka harus menghadapi kenyataan terkini, keduanya harus hidup sederhana tanpa kemewahan dan kekuatan.
3. Scoring dan Backsound lucu + OST Bagus Sealbum
Backsound efeknya lucu-lucu menambah seru suasana nonton. Scoring musik secara keluruhan diperkuat dengan versi akustik dari OST yang bisa dibilang bagus-bagus sealbum. Favorit saya Fireworks dari Jang YooJoon yang membawa semangat olahraga. Cocok buat jadi teman lari nih. Ada pula Chaeryeoung dari Itzy dan Wendy dari Redvelvet yang ikut urun suara.
4. Mengajak Merenungkan Kehidupan
EunHo yang menolak jadi manusia karena takut kehilangan kekuatan yang bisa membuatnya mengontrol segala sesuatunya. Relevan dengan para penguasa yang cenderung akan melakukan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya. Begitu lengser pun banyak yang terkena post-power syndrom.
Di sisi lain, ShiYeol sebagai atlet bintang, sangat tenar dan dipuja banyak orang serta kaya. Tapi sesungguhnya ia kesepian. Teman setim banyak yang tak menyukainya akibat sikapnya yang terlalu bossy. Mereka pun kesal dilarang berpesta dan minum miras meski dalam acara perayaan kemenangan tim. Ini potret nyata atlet pro yang mengorbankan segalanya termasuk kehidupan sosial.
Sekarang keduanya kehilangan hal-hal yang dulu mereka anggap biasa serta harus memulai dari nol. Mengajak kita merenungkan takdir hidup masing-masing yang memang ada naik turunnya.
5. Cameo dan Peran Pendukung
Kehadiran Woo DaVi sebagai gadis yang disihir EunHo agar menjadi sahabat instan (sekali saja lalu di lupakan) di episode perdana menyenangkan hati saya yang jadi sangat menyukainya sejak menonton Dynamite Kiss.
Ditambah kehadiran Lee SiWoo, saya selama ini kurang notice di drama-drama sebelumnya, kali ini tampil menonjol baik versi eonnie GeumHo maupun Palmiho reinkarnasinya (?) yang lebih muda dari EunHo.
Bahkan keluguan dan tampang polosnya seolah ia menjadi anak diantara EunHo --yang bagaikan ibu pemarah dan otoriter-- dan ShiYeol --si ayah yang baik hati dan selalu melindunginya dari omelan EunHo. Hoahaha
Sebegitu menyenangkan nontonnya tetap ada beberapa bagian bikin malesin, antara lain:
1. Akting HyeYoon yang Super Lebay
Mengingatkan saya saat nonton Extraordinary You (2019) yang tak berhasil saya selesaikan itu karena tak tahan mendengar pitch suara HyeYoon.
Saya memahami sebagai aktris ini adalah tuntutan skenario dan arahan sutradara. Tapi sebenarnya tanpa ia harus tampil super lebay pun, dari awal EunHo adalah tokoh yang istimewa. Ia adalah mahkluk legendaris yang selalu bersikap sinis, ceplas ceplos dan memanfaatkan kekuatannya secara matrealistis. Flexing to the max.
Namun bagaimanapun, sulit untuk benar-benar kesal padanya yang selalu clueless serta menampakan ekspresi konyol.
2. Chemistry Tak Segacor Ekspektasi
HyeYoon membidik penghargaan pasangan favorit SBS Awards saat menjadi MC di penghargaan yang sama tahun sebelumnya atau sebelumnya lagi. Namun setelah nonton, rasanya gelar tersebut agak jauh dari genggaman, apalagi ini masih awal tahun ya.. (tetap saja, pemenang tergantung voting fans, dan fans HyeYoon terkenal militan).
Lomon sebenarnya mengalami peningkatan sejak pertengahan. Ia terlihat makin charming. Sayang, tidak jelas perbedaan antara ketika keduanya masih sering berantem hingga saat mulai sadar kalau mereka saling menyukai.
3. Aspek Rom-com Medioker
Mungkin ada faktor dalam jangka waktu yang bersamaan saya nonton beberapa judul Rom-Com secara ongoing sekaligus, jadi drakor ini terasa B saja.
Lucunya tak sampai bikin ngikik yang gimana. Sebagai besar sketsa komedi timbul karena situasi EunHo yang clueless akan dunia manusia.
Romantisnya pun sejauh ini biasa saja. Apalagi saya kurang bisa menangkap chemistry diantara kedua OTP.
4. Terlalu Mengandalkan Efek CGI
Saya akui bahwa penampilan hasil CGI sembilan ekor EunHo sangat baik. Nampak megah dan fluffy, saya pun ingin membelainya. Namun menambahkan efek CGI sebagai rona merah jambu di pipi EunHo kala tersipu rasanya sangat berlebihan.
Ada beberapa titik lagi yang saya rasa tanpa efek CGI pun masih bisa tersampaikan maksudnya pada penonton melalui trik kamera atau kekuatan akting para pemeran.
5. Plot Tipis
Sejauh ini permasalah besar adalah ShiYeol bertukar nasib dengan teman baiknya, WooSeok. Dilemanya adalah WooSeok meminta waktu satu bulan sebelum ia mau membayar upah pengambilan kondisinya dan ShiYeol. Celakanya pada saat yang sama EunHo kehilangan kekuatan sebagai hukuman dari penguasa langit atas ulahnya sendiri.
Jadi, jika trio ini akan kembali pada masa lalu, pertanyaan besarnya seharusnya adalah masa lalu yang mana? Karena dipenglihatan EunHo sembilan tahun lalu, justru WooSeok lah yang berhasil (jadi kondisi sekarang justru kenyataan yang seharunya terjadi seandainya kecelakaan itu tak terjadi).
Kehadiran orang-orang yang terdampak langsung dengan pertukaran nasib -- misalnya Lee Yoon (Choi SeungYoon) mantan klien EunHo yang menaruh dendam antar generasi dengannya, nenek ShiYeol dan mantan manajernya yang telah menikah dan punya dua orang anak-- ini belum menjadi poin penting yang patut dipertimbangkan dalam memutuskan pilihan itu.
Overall, No Tail To Tell berhak atas poin 8 / 10. Saya rekomendasikan untuk penggemar drama komedi romantis dengan sentuhan fantasi dan sedikit mistis. Semoga dua episode pamungkasnya memuaskan dan menjawab semua pertanyaan kita.








Posting Komentar