" ".

[How to] Lebih Memahami Open Source Software

Table of Contents


Memahami Open Source 

Sebagai blogger Abal Abil, sedikit banyak saya sering bersinggungan dengan software atau aplikasi untuk memudahkan pekerjaaan. Untuk aplikasi mengedit foto misalnya, saya menggunakan versi berbayar, lebih dari sehelai uang merah melayang ke tagihan bulanan dan setelah di kalkulasikan pertahun terasa lumayan juga.

Sebagai kaum mendang mending, rasanya sudah waktunya saya mencari alternatif dan sewaktu saya browsing, malah menemukan sesuatu yang menarik minat saya sejak lama, namun belum pernah kesampaian --baik tenaga maupun waktu-- untuk mencari tahu lebih lanjut atau mengoprek sendiri berbekal pengetahuan coding dasar. Ya, Open Source Software adalah Perangkat lunak sumber terbuka adalah jenis perangkat lunak yang kode sumbernya dirilis di bawah lisensi yang memberi hak pengguna untuk menggunakan, mempelajari, mengubah, dan mendistribusikan perangkat lunak beserta kode sumbernya kepada siapapun dan untuk tujuan apapun.

Itu berdasarkan definisi 'resmi'nya, tapi tenang, sebenarnya kata "Open Source" tidak hanya  lumrah digunakan oleh tech-bro/sis apalagi hacker bertopi hitam ala film Hollywood atau drakor ---yang terakhir saya nonton hacker berbakat di Villains tapi reviewnya belum ditulis juga Hoahaha-- masih bisa dianalogikan secara sederhana.

Komunitas Open Source itu lebih mirip acara arisan makanan kampung yang skalanya jadi global. Ibarat potluck, ada yang bawa hidangan utama, ada yang cuma bawa perlengkapan makan, ada juga yang cuma datang buat nikmati hasil karya bersama (alias yang cuma download  tanpa ikut kontribusi sama sekali --saya ada dibarisan ini nih hoahaha).

Kalau secara analogi, bayangkan dulu kita lagi makan mie ayam terenak dan jadi favorit. Kalau mie ayam itu termasuk Closed Source (alias Perangkat Lunak Milik Pribadi seperti aplikasi editing foto berbayar langganan saya tadi), maka penjualnya tidak akan pernah mau kasih tahu resepnya. Resepnya disimpan rapat-rapat kayak resep Krabby Patty yang terkenal rahasia. Hoahaha.

 Kita, para pelanggan, cuma boleh beli dan makan, meski boleh dibawa pulang jelas, harus bayar dulu. Soal rasanya, kalau mienya terlalu asin, atau tak sesuai selera dari segi kematangan atau kondimen tak cocok, kita sebagian besar cuma bisa menyampaikan request pada Abang penjual. Beliau lah yang punya kuasa, mau mengikuti permintaan kita atau tidak. Yang pasti  bumbunya rahasia penjual dan tidak bisa diutak-atik karena ya rahasia perusahaan tadi.

Nah, kalau itu Open Source Software, penjual mie ayamnya nggak cuma jual mie doang, tapi malah memajang resep lengkapnya di gerobak atau gerainya! Mulai dari takaran bumbu, kondimen, sampe yang terkecil seperti merk kecap yang digunakan semuanya tertulis jelas. Lebih serunya lagi, ada pemberitahuan terbuka ke pelanggan: "Eh, kalau menurut para pelanggan rasa resepnya kurang pas, boleh banget diubah saja. Mau tambah topping keju atau sosis atau saus kekinian, terserah! Kalau modifikasinya enak, jangan lupa bagi-bagi resepnya ke orang lain juga ya!" Seru banget kan?

Beda Open Source dan Software / Aplikasi Gratis

Terus, apa dong bedanya dengan aplikasi gratis atau freemium?

Ada banyak software gratis tapi bukan open source (misalnya beberapa aplikasi mobile yang bisa kita unduh dari Play Store tapi tidak bisa dilihat kodenya), dan ada juga open source yang bisa dikenakan biaya untuk layanan atau dukungan profesionalnya. Artinya, fokus utama Open Source adalah kebebasan. Kebebasan bagi siapa saja membongkar lalu menambahkan berbagai elemen baru dan melihat bagaimana aplikasi itu bekerja. Meskipun kebanyakan Open Source memang gratis, tapi intinya bukan soal uang melainkan soal transparansi.

Mengapa Pegiat Open Source Membuka Akses Software-nya?

Suka atau tidak, saya mengakui coding bukan pekerjaan mudah. Menguras waktu, tenaga dan pikiran, belum lagi butuh modal berupa perangkat yang mumpuni maupun sambungan internet. Ketika seorang developer memutuskan membuka akses karyanya, saya yakin mereka memiliki pertimbangan matang, selain mencari cuan.

Beberapa alasan diantaranya :

A. Kolaborasi Level Global 

Pasti pernah dengan tentang Linux? Sebagai perangkat lunak komputer atau laptop andalan sebagian dari kita, ternyata tujuan utama diterapkan open source adalah supaya aplikasinya bisa cepat jadi lebih baik. Sebagian penggunanya yang memiliki kemampuan coding, ketika mereka menemukan bug maka mereka akan segara melaporkan anomali tersebut kepada developer. Kolaborasi ini membuat software menjadi lebih cepat berkembang sekaligus aman dan stabil.

B. Mencegah Monopoli dan Mengutamakan Transparansi

Open Source memungkinkan kode aplikasi yang  bisa dibaca siapapun. Ketika ada programmer mencoba memasukan kode yang berbahaya, misalnya untuk mencuri data, pasti langsung ketahuan oleh ribuan programmer lain dan jadi viral di X atau GitHub sebagai tempat nongkrong favorit para tech-bro/sis. 

C. Sebagai Portofolio Developer

Di dunia programmer, ternyata suatu kebanggaan jika bisa memamerkan "Kotak Hijau" di profil GitHub (tanda seberapa sering mereka berpartisipasi coding di proyek open source). Banyak developer sengaja ikut berkontribusi di proyek besar agar CV  dan portofolio mereka lebih menarik. Sehingga mereka berpeluang mendapat kepercayaan lebih baik dari kolega maupun calon investor.

D. Mendorong Perkembangan dunia Software

 Banyak inovasi open source lahir dari rasa tidak puas atau frustasi. Ada programmer yang kecewa karena aplikasi favoritnya mulai banyak iklan atau harga langgananya naik drastis. Daripada cuma sambat, mereka membuat versi alternatifnya yang lebih ringan, tanpa iklan, dan diberikan gratis buat semua orang. 

E. Menghapus Ketergantungan pada Vendor (Vendor Lock-In) 

Selaras dengan poin sebelumnya, akibatnya kita tidak terjebak pada satu vendor tertentu. Kalau perusahaan yang membuat software proprietary keluar dari bisnis atau meningkatkan harga secara drastis, kita bisa mencari aplikasi atau software pengganti. Open source memungkinkan kita mengambil kode sumbernya dan mengembangkannya sendiri atau meminta bantuan dari komunitas.

F. Membantu Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan

Open source adalah sekolah gratis untuk para developer. Kamu bisa belajar dari kode yang dibuat oleh ahli dunia, berlatih mengirim kontribusi, dan mendapatkan umpan balik langsung dari komunitas.

Pemanfaatan Open Source dalam Kehidupan

 "Ah, coding cuma buat orang IT yang suka ngetik di layar hitam dengan tulisan hijau kayak di film The Matrix!" Eits, siapa bilang? Sadar atau tidak, tanpa coding-an Open Source, internet dan kehidupan digital kita mungkin sudah tidak ada lagi. Kegunaannya sangat luas dan ada di setiap bagian kehidupan kita yang berhubungan dengan teknologi, misalnya :

 A. Kegunaan untuk Pengguna Sehari-hari

Kita, tanpa menyadarinya pun, sebenarnya adalah salah satu penerima manfaat utama dari kerja keras komunitas Open Source. Ini contohnya:

-Hiburan Tanpa Batas (Tanpa Bayar Lisensi Mahal): Sering nonton video di PC atau laptop dengan format yang aneh-aneh? Pasti pernah menggunakan VLC Media Player kan? Ikon kerucut oranye itu adalah pahlawan yang tidak terlihat bagi kita semua. Open Source memungkinkan kita nonton lebih hemat meski sebaiknya jangan diikuti karena biasanya file diperoleh secara non-legal.

- Buat Konten Jadi Lebih Murah: Para streamer gaming di YouTube atau Twitch, hampir 99% dari mereka pake aplikasi OBS Studio buat live streaming. Gratis, kuat, dan Open Source

- Desain Tanpa Langganan Mahal: Tidak sanggup bayar Photoshop? Ada GIMP. Mau bikin animasi 3D menyaingo Pixar? Ada Blender. Keduanya gratis dan open source, lho! Bahkan Blender sering dipake di industri perfilman Hollywood.

B. Kegunaan untuk Dunia Bisnis dan Startup

- Buat Website Jadi Mudah: Sekitar lebih dari 40% website di dunia berbasis WordPress., yang .dikembangkan secara Open Source.

- Sistem Operasi Server yang Super Kokoh: Mayoritas server penyimpan data di internet menggunakan Linux yang gratis, sangat aman dari virus, dan bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan perusahaan.

C. Kegunaan untuk Sains dan Perkembangan Umat Manusia

 Bukan cuma buat warnet atau startup aja, roket Falcon 9 dari SpaceX atau helikopter Ingenuity dari NASA yang terbang di Mars, coba tebak sistem operasinya apa? Ya, sistem berbasis Linux! Kegunaan Open Source di sini adalah memberikan dasar teknologi yang sangat stabil, bisa dimodifikasi oleh para insinyur roket supaya sesuai dengan kebutuhan misi luar angkasa. Keren kan? Kode buatan manusia yang open source sekarang lagi jalan-jalan di Mars!

D. Untuk Pemerintah dan Organisasi Non-Profit: Meningkatkan Transparansi dan Efisiensi

Banyak pemerintah di dunia yang mulai beralih ke open source untuk menghemat anggaran dan meningkatkan transparansi. 

 E. Untuk Penelitian dan Inovasi Teknologi

 Open source menjadi dasar bagi banyak penelitian di bidang teknologi. TensorFlow – framework machine learning open source dari Google – digunakan oleh ribuan peneliti dan perusahaan untuk mengembangkan aplikasi AI seperti pengenalan wajah, terjemahan otomatis, dan sistem rekomendasi .

 F. Untuk Membangun Komunitas dan Jaringan Profesional

 Banyak orang yang menemukan teman, mentor, bahkan pekerjaan baru melalui komunitas open source

 Di Indonesia, ada juga berbagai komunitas open source lokal seperti Indonesia Linux User Group (ILUG) dan Python Indonesia yang sering mengadakan pertemuan atau acara untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Tantangan yang Dihadapi Open Source

Meskipun banyak kelebihan, open source juga punya tantangan sendiri. Berikut adalah beberapa masalah yang sering dibahas di komunitas:

a. Kurangnya Dukungan Profesional

Meskipun ada dukungan komunitas yang biasanya gratis, terkadang kita tetap membutuhkan bantuan yang cepat dan ahli untuk masalah kompleks. Ini menjadi tantangan bagi perusahaan besar yang membutuhkan layanan 24/7.

Untunglah, sekarang sudah banyak perusahaan yang menawarkan layanan dukungan profesional untuk open source software – seperti Red Hat untuk Linux atau MongoDB untuk basis data mereka.

b. Risiko Keamanan

Sebagaimana yang telah saya ulas, mekipun transparansi kode membuat keamanan lebih baik secara umum, ada risiko bahwa orang jahat bisa mengeksploitasi kerentanan sebelum komunitas punya waktu untuk memperbaikinya. 

c. Sulitnya Menjaga Keberlangsungan Proyek

Banyak proyek open source dikelola secara independen oleh sukarelawan, jadi terkadang proyek bisa terhenti jika tidak ada orang yang mau melanjutkannya. Oleh karena itu, penting bagi komunitas untuk membangun sistem yang bisa menjaga keberlangsungan proyek bahkan jika kontributor utama berhenti berkontribusi. 

d. Kesulitan dalam Dokumentasi

Beberapa proyek open source memiliki dokumentasi yang kurang jelas atau tidak lengkap, membuatnya sulit bagi pemula untuk mulai menggunakan atau berkontribusi. Namun, komunitas sekarang semakin menyadari pentingnya dokumentasi.

e. Lisensi yang Berbeda

Tidak semua open source sama tata caranya, ada berbagai jenis lisensi yang mengatur bagaimana kita bisa menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan software tersebut. Beberapa lisensi populer antara lain:

GPL (GNU General Public License)

Kalau kamu modifikasi software dengan lisensi ini, hasil modifikasi juga harus open source.

MIT License

Lebih fleksibel karena kita bisa menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan baik untuk tujuan komersial maupun non-komersial tanpa harus membuka kode asli

Apache License

 Cocok untuk perusahaan karena mengizinkan penggunaan dalam produk komersial dan melindungi hak cipta kontributor.

FAQ Singkat Mengenai Open Source 

- Apakah Open Source pasti aman dari virus?

Secara teori lebih aman karena sebagaimana yang sudah saya ulas diatas, ribuan orang bisa mengecek kodenya. Tapi bukan berarti 100%, karena membuka peluang yang sama bagi hacker untuk menyusupkan susunan kode jahat dan belum ketahuan selama beberapa waktu oleh pengguna lain. Jadi tetap harus waspada dan berhati-hati!

- Apakah saya boleh menjual software Open Source yang sudah saya modifikasi?

Boleh, selama lisensinya mengizinkan (misalnya MIT License). Makanya banyak orang yang mengambil sistem operasi open source, kemudian di desain ulang agar lebih menarik, lalu jual beserta paket layanan pelanggan.

- Bagaimana cara saya mendukung proyek Open Source kalau saya nggak bisa ngoding?

Kalau jadi penasaran dan ingin ikut serta dalam dunia open source, berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Mulai Menggunakan Open Source Software

Langkah pertama yang paling mudah adalah mulai menggunakan aplikasi open source dalam kehidupan sehari-hari. Coba ganti Microsoft Office dengan LibreOffice, atau coba pasang Linux di laptopmu.

2. Baca dan Pelajari Kode Sumber

Kita bisa mengunjungi GitHub atau GitLab untuk melihat kode dari proyek yang kita minati. Jangan takut jika tidak mengerti semuanya, setiap orang mulai dari nol!

3. Berkontribusi ke Proyek

Banyak proyek membutuhkan bantuan dalam hal dokumentasi, pengujian, desain, atau bahkan hanya berbagi ide. Cari proyek yang memiliki label "good first issue" atau "beginner friendly" untuk memulai.

Selain menjadi pengguna (sebagai penguji coba kita pun bisa membuat laporan jika menjumpai bug, glitch, error atau anomali apapun), kita bisa berdonasi lewat platform misalnya Patreon atau GitHub Sponsors. Kita juga bisa membantu bagian penerjemahan aplikasinya ke Bahasa Indonesia, atau cuma berbagi tautan atau mempromosikan aplikasinya di akun sosmed melalui review positif. Developer pasti merasa diaprsiasi

4. Bergabung dengan Komunitas

Ikuti komunitas open source di sosial media atau forum lokal. Di Indonesia, kamu bisa ikut grup Facebook atau Telegram dari ILUG atau Python Indonesia, atau mengunjungi repositori GitHub .

5. Ikut Acara dan Hackathon

Banyak acara seperti Hacktoberfest yang diadakan setiap tahun untuk mengajak orang baru untuk berkontribusi ke open source. Ini adalah cara yang bagus untuk belajar dan bertemu orang-orang dengan minat yang sama.

- Apa Saja Tren Open Source Terkini Tahun 2026?

Berkat keterbukaan sistemnya, secara global open source terus berkembang dengan cepat. Berikut adalah beberapa tren terbaru yang sering dibahas di sosial media dan forum:

1. Open Source AI

Semakin banyak model bahasa dan framework AI yang dibuat sebagai open source, seperti Open RAG dari Langflow AI yang dirilis baru-baru ini. Ini memungkinkan lebih banyak orang untuk mengembangkan aplikasi AI tanpa harus bergantung pada platform besar seperti OpenAI (ChatGPT) atau Google .

2. Open Source Hardware

 Konsep open source tidak hanya untuk software lagi – sekarang ada juga perangkat keras seperti papan sirkuit dan robot yang desainnya dibuka untuk umum.

3. Decentralized Social Media: 

Platform seperti Mastodon yang berbasis open source dan terdesentralisasi semakin populer sebagai alternatif bagi platform sosial tradisional yang sering dikritik karena masalah privasi dan kontrol data .

4. Open Source untuk Kesehatan

Banyak proyek open source yang dibuat untuk membantu sistem kesehatan, seperti alat untuk mengelola data pasien atau mengembangkan obat baru.

 ☺☺☺☺☺

Singkatnya, Open Source Software adalah bukti nyata bahwa di dunia maya yang kadang penuh dengan ujaran kebencian dan perselisihan, konsep gotong royong tanpa pamrih masih ada dan dampaknya sungguh nyata. Dari definisinya yang memberikan kebebasan, tujuannya melawan monopoli,  kegunaannya yang mencakup segala bidang mulai dari desain grafis sampe roket luar angkasa, semuanya dibangun atas filosofi kolaborasi.

Jadi, lain kali teman blogger yang menggunakan platform WordPress, bisa banget luangkan waktu sebentar buat tersenyum dan berterima kasih dalam hati pada ribuan developer yang begadang ngetik kode sambil ngopi, supaya kita bisa menggunakan aplikasi keren tanpa harus boros uang. 

Gimana? Apakah teman pembaca sudah pernah menggunakan open source software, atau mungkin kamu punya ide untuk proyek sendiri? Atau minimal sama seperti saya, jadi semakin penasaran untuk menjelajahi dunia Open Source? Ayo ceritakan pengalaman atau ide tersebut di kolom komentar!



Posting Komentar