" ".

Recap dan Review Perfect Crown Episode 4

Table of Contents

 Recap

HuiJoo masih terkesiap dengan kecupan Ian, menutup matanya saat sang Pangeran kembali mendekatkan wajahnya. Namun rupanya beliau hanya mau berbisik ada paparazi. HuiJoo yang sering digelari clout chaser oleh jurnalis, sangat sadar kamera jadi ia memperbaiki postur dan minta dicium ulang agar angle foto yang diberikan lebih baik.



Ian hanya tersenyum penuh arti sambil menatapnya yang membuka satu mata, ngintip mendesak ciuman lagi. {Aww tatapan tersipu-sipu BWS di sini bikin meleleh banget}.

Keesokan harinya semua abdi istana menggosipkan betapa mesranya ciuman sang Pangeran-HuiJoo semalam. Ian mendengar sepintas saat berjalan di pelataran istana (tempat Ia menggotong HuiJoo yang pura-pura pingsan di eps 3). 


Kehadiran Ian diumumkan dalam ruangan rapat yang dihadiri PM Min dan Tuan Inpyeong. Semua headline koran cetak maupun berita online membahas cinta tanpa memandang kasta. 

Suasana tegang dan para pembesar istana maupun kabinet berpendapat statement apapun akan mempengaruhi pendapat publik. Ian bersikukuh untuk mengeluarkan statement karena bersikap diam hanya akan memperburuk keadaan. Ia menyadari bahwa mereka semua menginginkan ia menyangkal hal tersebut tetapi menurutnya seorang pangeran Agung tak pantas mencium seorang wanita kemudian menganggapnya sekedar permainan. Itu bukan kehormatan yang ingin dijaganya. 

Tuan Inpyeong memperingatkan status HuiJoo yang hanya rakyat biasa dan anak diluar pernikahan pula, dengan tatapan dingin Ian menatapnya.

Kemudian PM Min berpendapat lebih baik memitigasi dampaknya. 

"Mengendalikan kerusakan?' Ian balik memandang temannya dengan tatapan tak percaya.

PM Min melanjutkan argumennya mereka tetap harus mengakui hubungan ini selama Ian mengakui bahwa belum ada pembicaraan mengenai pernikahan. Tak ada yang aneh dengan pasangan muda untuk jatuh cinta bila istana menganggapnya ringan maka yang lain pun akan menganggapnya demikian begitu argumen PM Min.

Ian tersenyum tipis kemudian menyetujui hal tersebut. Lagi-lagi, Tuan Inpyeong angkat bicara dan memberikan syarat agar HuiJoo segera keluar dari kediaman pribadi Ian. Pria berambut putih itu membentak ketika Ian mempertanyakan alasannya. Ian khawatir HuiJoo tak hanya dilempari telur di rumah pribadi, menanggung cacian di internet, sampai difoto di halaman belakang istana (dengan pengamanan kerajaan), jika terjadi sesuatu apakah beliau mau menanggung akibatnya?

"Kami mungkin akan berpisah atau mungkin dia menjadi istriku kelak" tambah sang Pangeran yang membuat kabinet semakin bereaksi. "Kediaman pribadiku sudah dihuni oleh banyak pihak. para pelayan, pengawal kerajaan, kucingku, jadi tidak ada salahnya untuk menambahkan gadisku ke dalam daftar tersebut" Ujarnya.

Lalu PM Min mengusulkan agar Ia tetap tinggal di istana untuk menampakkan citra bahwa istana tidak terpecah, apalagi hanya gara -gara gadis biasa.

Ibu Suri sangat marah saat membaca lembaran penyataan resmi Sekretariat Kerajaan. Bahkan ketika pernikahan dikesampingkan, opini sudah sangat memihak mereka. Dampaknya akan semakin besar apabila melibatkan gadis itu ke dalam kegiatan kenegaraan. Ayahnya malah marah balik, Ia mengatakan bahwa saat ini opini publik sedang memberi dukungan kepada Ian-HuiJoo. Terutama sejak ada isu yang berhembus bahwa ibu Suri menentang keduanya. Ayahnya memintanya santai dan berjanji tidak akan sulit untuk mengatasi keduanya. Pertama karena banyaknya bangsawan yang menginginkan Ian menjadi menantu mereka sedangkan para pebisnis menginginkan HuiJoo. Jadi, bila sesuatu terjadi tidak  terlalu mengejutkan..

Berita hari itu heboh, untuk pertama kalinya sekretariat Kerajaan mengumumkan hubungan anggota keluarga Kerajaan yang bukan pertunangan atau pernikahan. Ada sesi pembahasan spesial dengan mantan jubir kerajaan Professor Hwang WookYeong.

HuiJoo tak mengenali siapa pria yang tampil necis di layar televisi tersebut. Salah seorang staf menjawab Ia dulu mantan jubir kerajaan sebelum diasingkan. Ia dipecat karena berani membahas bahwa Raja terdahulu meninggal bukan karena kecelakaan akibat kebakaran. Kesimpulannya dia dianggap orang sinting yang mendukung teori konspirasi.

Menurutnya, HuiJoo adalah rakyat biasa dan pebisnis. Kapabilitasnya jauh dari calon istri kerajaan tradisional menurut standar istana. Huijoo mendengarkan semua itu sambil duduk santai menikmati minuman segar, semeja dengan para staf sampai tak menyadari kedatangan Ian yang bersama-sama mendengarkan kelanjutan temu wicara : banyaknya kesaksian yang melihat menyebabkan istana akan kesulitan menyangkal hubungan tersebut namun Keluarga Kerajaan tetap sulit untuk menerima rakyat jelata sehingga pernikahan pun peluangnya sangat kecil. terjadi.

Para Staf buru-buru berdiri sementara HuiJoo hanya melirik sinis pada Ian yang mendadak nampak gugup. Hoahaha.




Pembicaraan pindah ke ruangan yang lebih private. HuiJoo mengomel dia sudah menduga hal ini akan terjadi maka sebaiknya semalam Mereka mencoba lagi. Sudut foto yang diambil menunjukkan seolah-olah mereka anak-anak yang sedang poppo. Ian sungguh tak percaya, dari segitu banyak topik yang dibahas tadi yang lebih dicemaskan HuiJoo justru angle fotonya Hoahaha.

"Jaga, rahasia pemasaran sukses haruslah bersifat sangat seksi atau tidak tahu malu." {Ini HuiJoo bicara dari pengalaman sebagai  pebisnis sukses}.

Menurutnya kencan di hotel itu seksi sementara pernikahan kilat Pangeran Ian itu terdengar tidak tahu malu. HuiJoo menjilati bibirnya--suatu kebiasaan yang mungkin tak ia sadari--sambil berpikir mencari strategi sementara pikiran Ian justru melayang ke adegan ciuman mereka semalam. 

Lamunannya buyar ketika gadis itu menangkup pipinya, "Makin cepat kita menikah maka makin cepat pula kita bercerai." Ujarnya sambil menatap tegas kedua bola mata sang Pangeran yang masih terkesima.

Ian kembali ke akal sehatnya dan berusaha memberikan alasan bahwa pernikahan kerajaan biasanya dilakukan tahap demi setahap. HuiJoo segera memotongnya, mengatakan bahwa ia tidak punya waktu lagi untuk dibuang. 

"Lalu bagaimana? Kita sungguh buat pernikahan kilat? Seksi dan tak tahu malu?"



"Ya. Saat mengejar sesuatu Anda tentang semua orang jangan berikan waktu orang tersebut untuk berpikir menolaknya." Mengabaikan Ian yang tersentak dan semakin gelisah, HuiJoo mendekatkan wajahnya dan menahan tatapan Ian yang duduk terpojok di kursi. HuiJoo minta waktu Ian untuk mempercepatnya sedikit. Ian mengabulkan keinginannya.

Pengurus Kim menata rambut HuiJoo. Gadis itu terlihat menolak karena merasa ia bukan lagi anak kecil. Pengurus Kim malah menggeplak kepalanya. Ia merasa mereka harus menunjukkan kemampuan mereka kepada dunia. Ia sangat kesal karena di foto ciuman tadi malam HuiJoo  hanya mengenakan celkana santai. Ia khawatir orang di luar sedang menertawakan selera pangeran. 

HuiJoo heran sejak kapan orang menyayangi orang lain dengan penampilan rambutnya saja. Sang gadis kaya itu pun membalas bahwa harga celananya sangat mahal lagi pula selera Ian justru luar biasa karena memilih dirinya sebagai calon istri.

Pengurus Kim malah meledek bahwa HuiJoo sangat menyukai burung karena di kepalanya terdapat sarang burung yang sangat megah, kemudian kembali menata rambutnya. Hoahaha. HuiJoo terpaksa menahan sakit.




Di halaman, Hyeon mempertanyakan kembali keputusan Ian untuk mengosongkan jadwalnya kembali di seluruh hari itu. Ia mencemaskan betapa sibuknya esok hari. Tapi tidak ada pilihan lain karena HuiJoo ingin jadi Putri Diana. Ian pun setuju karena tak ingin semua keributan ini mereda seiring waktu sebagaimana yang diinginkan oleh ibu suri.

Pengurus Kim memanggil gelarnya kemudian Ian pun menoleh HuiJoo yang tampil sangat menggemaskan dalam balutan bodycon bermotif floral yang klasik. 

Meski terlihat terpana dan sempat menyetujui pendapat Pengurus Kim bahwa HuiJoo terlihat seperti malaikat hidup, Ian malah protes HuiJoo terlihat seperti putri yang manja dibandingkan membumi.

Huijoo jelas cemberut kemudian balik kembali ke kamar sambil mengomel bahwa ini tuh memang bukan gayanya sejak awal Hoahaha. Ian hanya tersenyum jahil.





Setelahnya pengurus Kim dan Hyeon sempat menggosipkan mereka berdua. Buat apa Ian tampil bak pangeran, tapi justru berkomentar sebaliknya. Ketika HuiJoo keluar dengan gaya casual dengan sepatu sneakers, celana jeans, kaus dan jacket dilengkapi topi, kedua staf bersiap mengubah tampilannya tapi Ian justru berkata tidak perlu dan meminta HuiJoo menggandeng lengannya. 



Diperjalanan, HuiJoo sibuk bercermin. Ia bahkan meminjam tangan Pangeran untuk memegangi cermin kecilnya. Hyeon mencoba memberi masukan bahwa tampilannya terllau polos. Huijoo salah paham mengira Ian yang dianggap polos dan membosankan. Huijoo menilai penampilan pria duduk sebelahnya itu kemudian memutuskan untuk melepaskan sapu tangan sakunya. Saat Ian protes, Hyeon bilang justru pendapat tadi adalah untuk HuiJoo sendiri. Hoahah

Huijoo tak percaya Hyeon berani menyebutnya polos dan meminta Ian mengangkat cerminnya lagi. Lalu Ia beraksi seolah bayangan dari cermin begitu menyilaukan lalu memuji dirinya sendiri yang sangat cantik. Kedua pria itu hanya dapat menatapnya tak percaya (bahkan Ian mendengus kesal tapi diam-diam malah menyunggingkan senyumnya).

Di stadion sedang berlangsung pertandingan tim Castle Shark, grup baseball yang disponsori oleh Castle group. Para penonton telah ramai hadir dengan kostum jersey kebanggaan dan dilengkapi dengan berbagai atribut. Mereka pun meneriakkan yel-yel maupun lagu-lagu yang berkaitan dengan tim kesayangan mereka itu.

Ian turun diparkiran dengan dipayungi Hyeon. Hyeon masih khawatir apakah sebaiknya mereka memanggil pengamanan kerajaan Tapi menurut Ian ini jauh lebih baik. 

HuiJoo datang sambil membawakan ayam goreng dan jersey yang ukurannya pas sekali dengan Sang Pangeran. Ia menggoda lucu, jika mereka memakai seragam couple maka itu akan menimbulkan kehebohan baru (dan sangat bagus untuk marketing). Hyeon dengan tegas melarangnya mengatakan bahwa meskipun ini bukan afiliasi politik anggota kerajaan tidak boleh terlihat memakai seragam apapun.

Huijoo terlihat kesal karena rencananya tak berjalan mulus, Ia menyerahkannya kepada Hyeon. Jauh lebih seru menyemangati dengan ini ujarnya sambil  bergoyang lucu menunjukkan bando bertulisan 'Jimat keberuntungan Castle Shark." 

HuiJoo berlarian ceria meninggalkan Ian yang mengambil payungnya sendiri serta baju yang terlampir di bahu Hyeon. Hyeon jelas senang sekali karena berdasarkan undertone-nya warna ini akan cocok sekali. Ian hanya menatap dingin dan melarangnya memakai baju itu tanpa mengelaborasi lebih jauh.

Di dalam Gocheok Sky Dome Stadion, mereka berada di bagian tribun teratas. HuiJoo berpapasan dengan abangnya yang mengomeli kekurangajarannya karena mengabaikan seluruh telfonnya Hoahaha. HuiJoo tak beraksi dan hanya buang muka tepat saat Ian masuk dan si abang sangat kaget lalu berusaha berbasa-basi dengan sang pangeran. Hyeon langsung berdiri di hadapannya dan si Abang malah kebingungan melihat ayam goreng yang dibawa si ajudan. Hoahaha

Istrinya akhirnya menariknya sedikit mundur sambil menjelaskan kalau Ian yang seharusnya menyapa mereka terlebih dahulu baru mereka diijinkan bicara. 

Ian langsung mengangsurkan tangannya untuk bersalaman sambil berujar HuiJoo telah banyak bercerita tentang si Abang. Jelas, TaeJoo penasaran apa saja yang sudah diceritakan adiknya tapi HuiJoo langsung memberikan kode agar ia menjaga mulutnya.

Selanjutnya, Ian melepaskan tangganya dari genggaman TaeJoo lalu mengajak DaYeong bersalaman. Mulanya ia tampak ragu, tapi langsung mengaku terhormat dapat berkenalan dengan Ian dan mengenalkan dirinya. Ian bertanya siapa nama ayahnya dan setelah dijawab DaYeong, Hyeon mendekat dan berbisik bahwa beliau mantan menteri kehakiman.




HuiJoo hanya memutar bola mata kala Ian memuji garis keturunan kakak iparnya. Perhatiannya segera teralih berkat sorak sorai dari lapangan. Ia mengenali PM Min yang mulai memasuki lapangan. Sang Oppa akan menjadi pelempar kehormatan pertama dalam game hari ini. HuiJoo meneriakkan nama Min JungWoo dengan ceria sambil membentangkan syal berlogo tim kesayangannya itu.

Komentator menjelaskan bahwa PM Min pendukung Castle Shark, bahkan beliau pernah bercita-cita jadi pemain baseball saat kecil. Lemparannya strike dan publik langsung bersorak, begitupula HuiJoo. Ian mulai menunjukkan wajah tak suka.

Pertandingan berlangsung seru. Sang raja kecil menonton melalui televisi. Tiba-tiba dayang Jung masuk mengantar corndong namun tersandung. Raja nyaris membungkuk membantunya, namun segera teringat nasihat ibunya dan memperbaiki posturnya baru bertanya apakah sang pengasuh baik-baik saja. Iapun tetap ingin mengambil cemilan yang sudah terjatuh itu namun dengan segera Dayang Jung menyembunyikannya dibalik tubuhnya sendiri.

Kembali di stadion, TaeJoo yang duduk dibagian bawah, mulai sok akrab. HuiJoo melarangnya melihat ke arah mereka lalu DaYeong kembali menyuapi suaminya ayam goreng.





PM Min datang menyapa dan HuiJoo kaget karena mengira Ia sudah langsung pulang setelah melempar tadi. Wajah Ian semakin masam, terlebih HuiJoo memintanya bergeser agar PM Min bisa duduk bersama mereka. 

Sorotan pada PM Min yang diminta sekretarisnya untuk tampil berfoto turut menarik minat HuiJoo. Ia melambai ke arah kamera. 

Karena PM Min membawa makanan sendiri, dan membaginya pada HuiJoo, gadis itupun menawarkan corndong pada Ian. Ian menolaknya dan HuiJoo bertanya apakah Ia tak lapar. Ian mengaku Ia lapar tapi tetap bergeming. HuiJoo jadi kesal karena ia pilih-pilih makanan.

PM Min membantu menjelaskan bahwa sebagai seorang Pangeran Agung, Ian hanya bisa makan di restoran. Karena selain kurang pantas mutu dan kualitas makanan hanya bisa dijamin jika berasal dari restoran menurut. HuiJoo mulai cemas bahwasanya Ia pun harus melakukan hal demikian titik tetapi belum sempat Ian menjawab tiba-tiba publik segera heboh berteriak "Cium! Cium!".

Rupanya mereka berdua tertangkap Kiss cam dan wajah mereka terpampang di kedua videotron raksasa stadion. Abang dan kakak iparnya pun tampak heboh apalagi Hyeon yang berusaha melarang kamera menyoroti kedua orang itu. (PM Min juga berusaha memerintahkan pada pengawalnya melakukan pelarangan).

HuiJoo terlihat panik namun Ian dengan tenang membisikkan sesuatu di telinganya. HuiJoo terlihat berpikir sambil menggigit bibirnya. Namun kemudian ia menunjukkan ponselnya yang menyala dengan tulisan mereka harus menjaga tata krama dan tidak boleh berciuman. Gersture-nya yang menyilangkan lengan berkali-kali membuat Ian tertawa geli.

Pulang dari acara, HuiJoo berusaha agar difoto sebanyak mungkin namun pengawal kerajaan telah datang dan melindungi jalan keluar dengan bentangan payung berwana gelap. 

PM Min mengajaknya makan malam dengan menu yang pernah direquest HuiJoo. Ian yang ikut mendengarnya sudah nampak kesal apalagi saat HuiJoo meminta Ian kembali duluan ke istana. Namun Ian  menolaknya dengan alasan mereka datang barengan maka akan terlihat aneh Jika ia pulang duluan jadi ia harus ikut kegiatan makan-makan itu. 

HuiJoo menyetujuinya namun sebelum masuk mobil--yang lagi-lagi dibuka oleh Ian-- terlihat melompat-lompat kecil sambil melambaikan tangannya ala Princess ke arah publik. PM Min tersenyum melihat tingkah pujaan hatinya itu.

Mereka makan di restoran Jepang yang menyajikan sashimi premium. HuiJoo--yang duduknya disamping PM Min dan berhadapan dengan Ian--tak sabar lagi dan minta Ian untuk segera memulainya karena mereka tidak bisa  mendahului pangeran.

Ian hanya diam saja sambil mengamati PM Min menyiapkan shoyu dan wasabi untuk cocolan HuiJoo. 

Akhirnya PM Min buka suara dan berkata bahwa seharusnya Ian kembali saja ke istana. HuiJoo merasa kebingungan bukannya sekarang mereka sudah berada di restoran lalu apalagi masalahnya. 

PM Min menjelaskan ada hukum yang melarang bangsawan untuk makan makanan mentah. Beliau menawarkan untuk memesan menu lain yang telah dimasak namun Ian menolaknya.

HuiJoo mengumpat setelah tersadar bahwa sebagai bangsawan ia dilarang makan makanan street food maupun makanan mentah. Lalu di mana lagi pria itu harus mencari kesenangan hidup? Hohahaha.

"Itulah sebabnya jangan menikah dengan yang mulia, terlalu banyak batasan." PM Min tersenyum.

"Lalu, apalagi yang tidak boleh kau lakukan?' tanya HuiJoo terlihat berpikir.

Ingatan Ian melayang ke masa kecilnya. Ian dan abangnya sedang bermain mobil-mobilan sebagaimana anak normal lainnya di istana. Hubungan mereka sangat akrab. Tiba-tiba Ian ingin mencoba jubah naga milik Hwan. Abangnya membolehkan kemudian memasangkannya di adiknya. Mereka tertawa-tawa bahagia dan Hwan merasa Ian sangat cocok mengenakannya.

Tiba-tiba ayahnya datang dan tanda tanpa peringatan langsung menampar pipi Ian. Dia sangat murka karena menurutnya ini merupakan tindakan yang meremehkan wibawa putra mahkota. Ian menangis sambil menelusuri lorong teringat perkataan ayahnya bahwa ia tidak boleh memakai warna merah dan berjalan di depan karena raja selalu memimpin. Terakhir, Ian tidak boleh mempertanyakan apapun karena itu merupakan titah raja. 

Kembali di restoran wajah Ian hanya mengeras sebelum mengambil mangkuk shoyu yang disiapkan PM Min lalu dengan tenang mengambil potongan sashimi terbaik menatanya di piring, kemudian menyerahkannya kehadapan HuiJoo. "Makanlah selagi bisa. Setelah pernikahan kerajaan, kau tidak akan bisa lagi." {Savage, Ian memilih tak meladeni komentar frontal PM Min, ia justru menunjukkan gesture gentleman, meyiapkan piring untuk HuiJoo dengan mengambil shoyu yang disiapkan PM Min sekaligus menjanjikan mereka toh akan tetap menikah}.

HuiJoo terlihat berpikir lalu makan dengan gembira. 


Sekembalinya di Ahnwandang, dayang Choi mengomeli Ian ke restoran sashimi. Ian menenangkannya, ia tak makan apapun. Sedangkan mengenai stadion semua aman bahkan tak ada reporter.

Dayang Choi mengomelinya, Huijoo tak menjaga tata krama. Ian membela gadis itu belum perlu melakukannya karena toh dia belum menjadi anggota keluarga kerajaan. 

"Apa kau sungguh tak lihat bahwa kekurangannya jadi kekuranganmu?" (Ini Hyeon coba meniru mimik Dayang Choi Lucu banget. Apalagi pas Hyeon yang diomeli. Haoahaha).

"Tak ada pilihan lain, aku harus turun tangan. Yang mulia tak mungkin diharapkan memahami kepantasan seorang wanita sementara Ibu Suri tidak mungkin turun tangan langsung sendiri. Jadi yang tersisa hanya aku, bukan?"

"Aku tak mengerti?" Ian tampak semakin kebingungan.

"Izinkan Aku mendisiplinkannya." Wanita yang lebih tua itu membungkuk dalam (sementara Ian dan Hyeon bertukar komentar panik untuk mencari alasan mencegahnya lalu pura-pura tidak terjadi apapun ketika wanita pengasuh Ian itu kembali berdiri). {One of the funniest moment of this series}.

Dayang Choi nampak yakin dan percaya diri saat kedua pemuda dihadapannya akhirnya cuma bisa pasrah dan Hyeon bertepuk tangan karir sambil mengelu-elukannya Hoahaha.


Keesokan paginya, HuiJoo bersiap untuk pergi bekerja. Pengurus rumah Kim menyuapinya apel meskipun HuiJoo sudah bilang ia tidak terbiasa sarapan. Sementara para staf yang lain menyediakan sepatunya, membersihkan bulu di bajunya dan membungkuk hormat sambil mendoakan harinya menyenangkan. HuiJoo yang tak terbiasa sebenarnya sudah mengingatkan mereka bahwa tidak perlu begini setiap hari. 

Di halaman, Ia bertemu dengan Dayang Choi yang nampak dalam mode serius. HuiJoo menjentikkan jarinya, teringat mereka pernah berjumpa di istana waktu itu. Dayang Choi memperkenalkan dirinya sebagai Kapala dayang di Ahnwandang, kediaman Pangeran Agung di istana. Sebagai gantinya HuiJoo menyerahkan kartu namanya. Dayang Choi baru saja hendak memberi tahukan tujuan kedatangannya tapi tepat saat itu telepon HuiJoo berbunyi. HyeJeong mendesaknya untuk segera berangkat ke kantor. HuiJoo memanfaatkan keadaan ini untuk segera masuk ke dalam mobilnya (mobil berlogo kerajaan sebagaimana yang dijanjikan Ian) dan meninggalkan Dayang Choi yang hanya bisa speechless Hoahaha.

Di jalan, HuiJoo menghubungi Ian yang tersenyum menyadari Dayang Choi pasti kesal ditinggalkan Huijoo begitu saja. Hoahaha. Ian menjelaskan kedatangannya untuk mengajari HuiJoo protokol umum, sejarah dan hierarki Keluarga Kerajaan. HuiJoo menganggapnya sia-sia tetap bersedia mengikuti pelajarannya. Ia sudah tiba dikantor dan berkata harus pergi lalu menutup telponnya.

Ian masih tersenyum kecil ketika tiba-tiba Hyeon berseru, "Wauw!' dekat sekali di samping wajahnya. Ajudannya itu memastikan lagi apakah benar, mereka  tidak akrab sejak masa sekolah dulu. 

"Apa? Kenapa?" Ian seolah tak peduli

"Hanya saja, kalian seperti pasangan yang manis." Hyeon tertawa geli. {Imho peran ini cocok banget buat Yoo SooBin, jadi inget polahnya di Tastefully Yours, makcomblang OTP yang lucu}

"Pasangan yang manis, apanya?!" Ian terlihat kesal namun tak dapat menyembunyikan senyum riangnya.

❤️

Di kantornya, HuiJoo terkejut dengan jadwalnya padat.  HyeJeong menjelaskan dengan ringkas mulai dari pertemuan internal Castle Beauty dan dengan pemimpin Castle Farma, Gang TaeHyun--yang selama ini dikenali HuiJoo sebagai pendukung abangnya. Ia merasa sinis dengan sikapnya yang mendadak itu.

HyeJeong membalasnya, HuiJoo sendiri pun tiba-tiba mencium pangeran Ian. Hoahaha HuiJoo sampai memuncratkan kopi yang sedang diminumnya. 

HyeJeong terus menggodanya, menanyakan apakah Ian pandai berciuman karena malam itu ia tampak tersipu. HuiJoo membela diri, malam itu ia cuma kepanasan dan bukan lagi remaja sehingga tak perlu berdebar karena ciuman sepele itu. 

HyeJeong malah memaklumi Ian kan belum pernah pacaran karena tak pernah ada rilis resmi kerajaan bahkan sekedar liputan gosipnya. HuiJoo akhirnya terpancing, seolah membenarkan pertanyaan awal HyeJeong bahwa sang pangeran pandai berciuman.

TaeJoo dan DaYeong membahas HuiJoo mendapatkan undangan spesial dari PM Min. Mereka heboh karena ayah mereka pun tak pernah dapat undangan meski sudah menyumbang banyak umah.

DaYeong tiba-tiba mendapat insight. Mereka harus mendukung hubungan HuiJoo dan Ian. Suaminya protes, ia keberatan membungkuk dan memanggilnya "Mama" Tapi menurut istrinya, justru kalau HuiJoo jadi anggota keluarga kerajaan maka ia tak boleh melakukan kegiatan ekonomi. Suaminya tetap tak suka karena tetap peluang perceraian. DaYeong memegang kedua pipinya dan menatap mata suaminya apakah pernah mendengar perceraian dikalangan royalti? Ketika suaminya terdiam, DaYeong meyakinkannya, jika TaeJoo adalah miliknya, maka Castle Grup adalah milik TaeJoo. 

HuiJoo sedang mengukur pakaian di penjahit. HyeJeong mengira ia tak membawa mobil merah terbukanya karena dilarang Ian. HuiJoo hanya mencemooh, tak mungkin ia akan menurut. Rupanya mobil itu sedang di servis karena bempernya ada yang menabrak. HyeJeong terlihat berpikir kala ia menyebut banyak orang yang mungkin ingin menabrak mobil bosnya. 

Malamnya HuiJoo pulang membawa segenap barang belanjaan. Para staf berebut membawakan dan sibuk menawarinya makan malam. Mereka menawarinya sujeonggwa (jamu ala KorSel nih). Namun begitu Dayang Choi muncul menegur keterlambatannya, semua orang kabur meninggalkan HuiJoo seorang diri Hoahaha. Mereka saling bertukar senyum karir terbaik Hoahaha. 

Setelah berganti pakaian, HuiJoo langsung ditahan Dayang Choi yang lengkap membawa sebilah rotan yang akan dihentakkannya jika HuiJoo melakukan kesalahan. Yang pertama, HuiJoo dilarang mengulangi perkataannya dan kedua, ia juga tak boleh bernada kekanakan misalnya menarik ujung perkataannya. 'Ne' jawaban HuiJoo langsung tegas. 

Pendidikannya akan menyeluruh. Untuk peran publik, ia akan belajar protokol kerajaan, sejarah kerajaan, sikap yang pantas dan hierarki istana. Untuk peran pribadi, ia akan belajar siapa yang ditemui dan siapa yang dihindari. Apa yang harus dikatakan dan apa yang terlarang. 

Di mulai dari postur berdiri HuiJoo, ia dianggap lulus. Cara berjalannya pun hanya perlu ditambah semangat. 

Di istana, Ibu Suri melatih postur Baginda dan memintanya berdiri tegap. Postur adalah martabat baginya meskipun tubuhnya masih kecil. 

Kembali ke HuiJoo, ternyata malah ia yang mengajari Dayang Choi pilates. Tanpa ragu, HuiJoo pun memijat bagian bahu Sang Datang yang dirasa kaku. Ia meyakinkan Dayang Choi ini adalah waktu yang paling tepat, karena setelah latihan pilates selama sepuluh tahun, HuiJoo bisa melihat dari posturnya. Ia membantu sang dayang sampai memegangi kakinya. 


"Katamu biar kau yang urus. Beginilah caramu mendisiplinkan? " Tahu-tahu suara Ian bergaung di ruangan. 

"Jaga.. " HuiJoo segera berlari memeluknya. Ian mundur sampai beberapa langkah akibat dorongan itu. 

AhReum dan seorang staf lagi segera berbalik badan lalu pergi setelah sempat membungkuk. 

Ian mengingatkan HuiJoo banyak mata melihat. HuiJoo menatap mata Ian {dengan puppy eyes}  dan sambil pura-pura tersenyum, memintanya membawa pergi Dayang Choi karena ia banyak pekerjaan. Tak mungkin memperbaiki postur semalaman.{ini lucu banget, HuiJoo menggemaskan sekali}.

Dayang Choi mendekat dan bertanya alasan Ian sampai datang ke kediaman pribadi. Ian beralasan ia sudah terlalu lama meninggalkan HuiJoo (yang malah makin nempel hoahaha). Ian juga penasaran akan pelajaran kerajaannya sambil mengerling HuiJoo yang menggeleng manja. Akhirnya Ian meminta Dayang Choi pulang karrn aturan utamanya adalah melindungi Ahnwandang. "Jangan membantah, itu perintahku". HuiJoo akhirnya mengangguk girang. 

Keesokan paginya Ian dan PM Min bermain catur di Ahnwandang. Ian bidak putih  sedangkan PM Min yang hijau. Mereka membahas rencana kunjungan kerja Ian ke negara lain. Jumlahnya hampir sama dengan tahun lalu. PM Min bisa merasakan keengganan Ian, dan bertanya apakah sebaiknya jumlah negaranya di kurangi saja. Ian pun heran kenapa PM Min tidak berusaha mencegah pernikahannya tapi menurut PM Min, mereka tak sama. Ia tak bisa memutuskan hanya berdasarkan apa yang ia sukai karena negara taruhannya. (Ada satu user X yang paham catur membahas tentang makna filosofis permainan ini. Saya lupa capture, tapi seingat saya kurang lebih : PM Min adalah benteng, Ian dan HuiJoo adalah raja dan ratu putih, sementara Ibu Suri adalah ratu hijau. Ini menyimbolkan pembagian aliansi. Bahwa Ian dan HuiJoo akan VS ratu dan PM Min. Apalagi PM Min yang menang dengan skakmat setalah mengambil ratu putih kemudian malah dipamerkan lalu dipegang lama, seolah -olah menyelamatkan HuiJoo si ratu putih). Ian tampak kecewa kalah dan berujar ia lebih senang dimarahi oleh PM Min. Pria berkacamata ini pun mengabarkan insiden kebakaran Junghwajeon sudah beres dan Ibu Suri seharusnya tak lagi mempermasalahkannya. 

Di kediaman pribadi, Dayang Choi menjelaskan tahapan pemakaman istana. Jenasah dibersihkan dan dimandikan di tempat wafat, disertai ritual tangisan dan beberapa langkah berikutnya. HuiJoo sempat dimarahi karena menyela dengan pertanyaan, ia cuma heran apakah kenapa ia tidak ingat rangkaian kegiatan ini tiga tahun lalu. Dayang Choi mengakui upacara pemakaman publik terakhir yang diadakan oleh keluarga kerajaan berlangsung tahun 2005 ketika Ratu UiHyeon (Ibu Ian) meninggal. Tujuh tahun kemudian, Raja HuiJong Wafat tujuh tahun kemudian. Lalu, abang Ian Raja Seongjong wafat. Karena begitu banyak tragedi. (BwS akting sedihnya kece banget, pas ayahnya meninggal dan abangnya meninggal beda sedihnya. Pas abangnya, sambil menemani keponakannya, ia menahan tangis dan berupaya tegar).

"Pantas saja Pangeran Ian punya beban dihatinya. Maksudku, aku sudah tahu, tapi mendengar satu demi satu begini.. " HuiJoo tak kuasa menahan tangisan pilunya. Dayang Choi terlihat khawatir tapi HuiJoo malah minta jangan dihiraukan karena ia ingin sendiri. Ia langsung berlari ke kamar sambil menyeka ingus dengan tisu {Ini termasuk akal-akalan HuiJoo juga deh kayaknya setelah hari pertama kabur karena sibuk kerja lalu malamnya minta Ian bawa pulang Dayang Choi?}

Di atas kasur, di kamarnya, Gadis itu  browsing penyebab kematian Ibu Ian adalah lakalantas, sementara ayahnya serangan jantung dan abangnya kebakaran di istana. HuiJoo teringat reaksi keras Ian saat ia memberi ramyeon pada raja. Ia hanya khawatir pada keselamatannya. HuiJoo mencoba menelfon tapi tak diangkat. 

Rupanya Ian sedang menghadap Ibu Suri. Beliau memperkenalkannya pada Jaegyeong yang dimintanya mendampingi Ian saat makan malam dengan pihak jurnalis istana. Ayahnya adalah seorang pemuka dunia media. Ibu Suri memakai alasan ia tak bisa hadir karena sakit. Ian membalikan keadaan dengan mengomentari kakak iparnya yang sering sakit. Ia memanggil Dayang Im lalu bertanya apa keterangan dari dokter istana. Ian menilai Dayang Im lalai menjalankan tugasnya. Selanjutnya wanita kepercayaan Ibu Suri harus memanggil dokter yang memantau kondisi Ibu Suri tiga kali sehari. Karena takut penyakitnya bisa menular, maka audensi pribadi dilarang termasuk dengan ayahnya, tuan Inpyeong apalagi baginda. Ian segera pamit sambil berjanji akan pergi sendiri ke acara tersebut besok malam.

Ian kembali ke Ahnwandang dengan kesal. Dengan nada penuh amarah, ia memerintahkan Hyeon menyelidiki harian milik orang tua Jaegyeong lengkap dengan penyelidikan latar belakang secara menyeluruh. Hyeon menginformasikan HuiJoo menelfon Ian dan ia mengecek ponselnya ada tiga pesan tak terjawab. Ian duduk di meja kerjanya sebelum akhirnya menghubungi kembali.

HuiJoo yang sedang berguling di ranjang langsung mengangkat telfon Ian dan terkejut dengan nada dingin, "Ada apa? Aku Sibuk!" Ia nyaris balas marah, sebelum mendekatkan ponselnya ke dada dan berusaha memgafirmasikan dirinya sendiri untuk mengasihani jiwa malang ini.

"Aku hanya akan mengatakan hal ini sekali, jadi dengarkan baik-baik. Jaga, Aku dipihakmu." 

Ian langsung membelalakan matanya tapi tetap terdiam

"Aku mengatakannya bukan karena aku memujamu atau apa. Tapi katanya suami dan istri adalah satu, jadi jika aku hendak berhasil maka kau juga harus berhasil. Yeobseo? Halo? Apakah kau memutuskan sambungan?' HuiJoo bingung dengan Keheningan Ian.

Diam-diam Ian menekan tombol hentikan tapi Ia memandangi ponselnya sambil tersenyum. Ia memerintahkan Hyeon menyiapkan kepulangannya ke kediaman pribadinya malam itu. Hyeon mengingatkannya akan pesan PM Min tapi Ian hanya menatapnya tajam dan Hyeon berseloroh entah dari mana PM Min dapat ide konyol tersebut. Hoahaha.

Di sekolah, putra mahkota tak sengaja ditabrak rekan-rekannya. Ia langsung dibantu para pengawal namun tampak kecewa karena anak lain seolah takut dan menjaga jarak. Padahal ia sudah berusaha bersikap hangat dan membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan--meski Ibu Suri berpesan agar ia tak pernah membungkukkan diri.

PM Min menjemputnya untuk memberikan pelajaran sejarah mingguan sebagai ganti pelajaran mereka diakhir pekan ini karena ia ada kesibukan lain. Baginda tampak kecewa memandangi temannya bermain gembira, lalu ia mengajukan permintaan pada PM Min.

DaYeong berkumpul dengan teman-temannya, termasuk Jaegyeong. Wanita licik itu menyindir pernikahannya yang dilandasi cinta dengan pemuda tanpa status bangsawan nyaris membuat dirinya dibuang sang ayah. DaYeong dengan tak kalah bitchy balik menyindir bahwa meski status suaminya demikian, saat ini adik iparnya, HuiJoo adalah pacar sang Pangeran Agung 

Di jalan, ia curhat menyesal tak menjambak Jaegyeong yang tetap culas sama seperti di masa sekolah. TaeJoo menawarkannya untuk benar-benar menjambaknya saja dan tak usah mengkhawatirkan uang ganti rugi, karena ia mencari uang demi istrinya. DaYeong sangat berterimakasih pada suaminya itu. {Ini pasutri lovey dovey vibesnya lucu banget lho}.





Rupanya PM Min dan Baginda menuju ke kediaman pribadi Ian. HuiJoo--yang sedang berlatih berjalan sambil tersenyum dengan membawa mangkuk di kepala dan kedua bahunya, memecahkan semua porselin itu---langsung membungkuk hormat. Dibawah tatapan sebal dayang Choi dan keprihatinan para staf yang merasa sayang akan mangkuk yang pecah karena mahal. Hoahaha

HuiJoo bertanya tentang alasan Baginda yang datang tanpa membuat janji dengan pamannya terlebih dahulu. Itu artinya Ia sedang membolos aktivitas resmi. 

HuiJoo malah memujinya, hidup hanya sekali jadi setidaknya Ia harus membolos sekali juga. Lalu mengajak paduka bermain di halaman.

Dayang Jung (dayang utama paduka), berterimakasih pada PM Min karena akhir-akhir ini raja kecil tersebut terlihat murung. PM Min justru berandai-andai ada batas minimum usia raja. Setelahnya, ia nampak sibuk di telfon tapi HuiJoo berusaha memanggilnya dan mengajaknya bermain bersama.

HuiJoo--yang masa kecilnya belum masuk ke keluarga kaya--mengajak raja bermain bersama PM Min, dayangnya dan para staf rumah aneka permainan tradisional KorSel (kayak di trilogi Squid Game). Raja sangat senang dan tertawa bahagia. Termasuk PM Min yang sangat kentara, saat jadi dan berusaha mengejar musuh, sebenarnya berharap HuiJoo lah yang berhasil dipeluknya (padahal dayang Jung Hoahaha).

Mereka main sampai semua orang dewasa kelelahan. Terakhir raja kecil menang main lempar panah dan menagih janji pada HuiJoo. Kata-katanya saman dengan pamannya saat pertama kali bertemu HuiJoo dulu, apakah ia manusia berbudi atau hanya mau mengambil keuntungan. HuiJoo hanya tersenyum dan menepati janjinya bahwa Ia akan mengabulkan satu permintaan IYoon. Ternyata, ia menunjuk ke arah mobil bersayap, mobil merah Bugatti HuiJoo yang terparkir di halaman. Ia ingin mencoba naik mobil satu-satunya di Korea milik Seong-daepyo. Dayang Jung sudah melarang. HuiJoo dan IYoon sama-sama merajuk untuk membujuk PM Min yang masih menggeleng. IYoon langsung tantrum dan bergulingan di tanah, membuat tiga orang dewasa itu panik.


Akhirnya, mereka menuruti kemauan raja kecil. Dayang Jung memberi arahan bahwa kecepatan maksimum hanya 60 Km / jam , jendela harus selalu di tutup dan HuiJoo harus berjanji mengutamakan keselamatan Baginda. 

HuiJoo mengiyakan semuanya dan meyakinkan PM Min, memang harus dirinya sendiri yang menyetir. 

Agar tak terlihat sebagai iring-iringan resmi, Dayang Junh akan memakai kendaraan kerajaan di depan, sedangkan PM Min akan memakai kendaraan pribadi Ian yang sederhana di belakang mobil merah.

Dari rumah Ian menuju istana, ponsel HuiJoo tetap berhubungan dengan Dayang Jung. Awalnya tak ada masalah sampai di wilayah yang cukup ramai, IYoon minta agar kendaraanya lebih cepat. HuiJoo menuruti meski masih dibawah anjuran kecepatan. Masalah baru muncul saat Ia menekan tuas rem tapi mobil malah melaju makin cepat hingga diatas 100 km / jam. PM Min segera mengejarnya dan HuiJoo memekik panik bahwa remnya tidak berfungsi dan ada yang salah dengan mobilnya. Sayang, mobil PM Min bukan tandingan supercar HuiJoo.

Gadis itu segera berzigzag melawan arah di tengah jalur lalu lintas yang padat. Ia menyetir dengan skill pembalap profesional sambil memperingatkan Baginda untuk berpegangan dan menutup jendela. Raja kecil mulai menangis ketakutan tapi HuiJoo tetap berusaha tenang sambil melirik penunjuk jalan. Ia melihat tanda jembatan flyover dan dan berbelok ke arah sana. Ia berusaha menurunkan laju kendaraannya dengan menggesekkan bodi mobil ke pagar pengaman, kecepatannya perlahan turun namun masih belum berhenti, hingga datang mobil Benz hitam yang mengebut lalu mengerem di depan mobilnya. Perlahan speedometer menunjukkan kecepatan turun hingga 50an Km / jam sebelum mobil itu melepaskan diri dan malah parkir melintang di tengah jalan.


HuiJoo menggenggam jemari Baginda sebelum tabrakan tak terelakkan. Ditengah kepulan asap, Ian keluar dari mobilnya. HuiJoo mengenalinya, Ian terlihat super ganteng meski terlihat terluka di bagian kepala.

Epilog 




Kembali di stadion, rupanya yang dibisikkan Ian adalah, 'Apakah sebaiknya kita percepat? Dengan seksi dan tanpa tahu malu (berciuman)?"

Malam itu, Ian memakai seragam Castle Shark dari HuiJoo sambil tidur nyenyak dan bermimpi penuh senyum.

Review

Waow! Salah satu adegan kejar-kejaran di jalan raya yang paling epic. Sebagai penggemar franchise Fast Furious menurut saya ini kualitasnya bersaing lho. Empat menitan berintensitas tinggi yang menunjukkan kualitas HuiJoo. Ia tetap berpikir jernih dalam tekanan dan perasaan terdalam Ian. Saya merasa berdebar dan anak-anak saya pun suka banget adegan terakhir ini. {Mereka berempati dengan IYoon} Sebagai PP, pesannya pun jelas : Benz bisa lebih cepat dan tangguh dari si merah. 

Buat saya, inilah adegan yang meyakinkan  untuk memulai proyek recap lagi. Meski progressnya agak slow sebenarnya agak disengaja ya.. Stasiun televisi tiga huruf penayang aslinya ini melaporkan banyak akun sosmed yang membuat fans edit atas pelanggaran privasi. Semoga postingan saya yang cenderung detil tidak jadi masalah ya. Makanya saya rilis setidaknya semingguan setelah episode asli ditayangkan di televisi dan OTT kepala tikus.

Ok, kita bahas dari dinamika HuiJoo-Ian. Di sini mereka semakin solid. Meski tetap saling menggoda {iman masing-masing dan penonton}. Ian benar-benar terpikat pada HuiJoo dan mulai menampakkan kecemburuannya pada kedekatannya dengan PM Min.

Di sisi lain, HuiJoo mulai memahami alasan Ian sangat protektif pada raja kecil. Ia mengasihani tragedi berturut-turut dalam keluarga kerajaan. Statementnya mendukung Ian merupakan salah satu titik tonggak. Ian yang selalu merasa sendiri dan dinomorduakan, baru kali terang -terangan punya pendukung setelah ibunya tiada atau para ajudan, staf dan dayang Ahnwandang serta kediaman pribadinya. Makanya ia nampak sangat tersentuh dengan pernyataan HuiJoo.

Bahkan sebelumnya pun ia membela HuiJoo dihadapan para pembesar istana dan kabinet. Daripada membantah dan mendeskreditkan HuiJoo sebagaimana rencana kakak iparnya, baginya, HuiJoo adalah wanitanya. Entah apapun yang terjadi--putus atau justru kelak mereka menikah, Ian akan berusaha melindunginya. Termasuk mengorbankan nyawanya sendiri.

Sikap tegas Ian mulai nampak saat Ia membalikkan keadaan dengan ibu Suri dan  memilih kembali ke rumah pribadinya, menentang permintaan PM Min agar Ia tetap tinggal di Ahnwandang, istana.

PM Min sejauh ini masih memihaknya dan HuiJoo. Tapi perlahan komentarnya mulai menunjukkan rasa kontra yang cukup berbahaya.

Pertama, PM Min melarang HuiJoo menikahi Ian karena Ian punya banyak aturan dan larangan. Hal-hal tersebut pun akan mengikat HuiJoo kelak. Sesepele tak boleh makan makanan yang disukai sampai politik istana yang baru secara tersirat hadir dalam bentuk pendidikan oleh Dayang Choi. (Sesibuk apapun HuiJoo tetap menerima pengajaran itu, walau metode berjalan dengan porselen ala Joseon tak masuk akal sekalipun)

Kedua, komentarnya kepada Dayang Choi mengenai batas minimal usia Raja. PM Min membawa muatan politik, apakah artinya semakin mempertegas kemungkinan adanya pengubahan status kerajaan menjadi republik? Entahlah.

Ketiga, sepanjang bermain catur yang filosofis itu, sindirannya kepada Ian bahwa ia tak bisa memutuskan segala sesuatu hanya berdasarkan apa yang disukainya lebih mirip pernyataan rasa sukanya pada HuiJoo secara tersirat.

Jadi, apakah PM Min akan bertukar posisi menjadi pendukung Ibu Suri?

Ibu Suri semakin gelisah dan tetap mengenalkan Ian pada Jaegyeong meski kabar pacarannya dengan HuIjoo telah diakui istana. Sikap garangnya bukan hanya ditunjukkan pada ayahnya tapi juga anaknya, sang raja kecil. Kasihan IYoon yang kurang kasih sayang ibunya. Makanya, ia selalu mencari pamannya.

Beruntung, sekarang ada calon bibi baru yang juga siap memanjakannya. Seong-daepyo mengajaknya bermain kejar-kejaran seru seolah teman sebayanya. Ia tampak bahagia. HuiJoo juga gembira. Kedekatannya dengan staf di rumah Ian, termasuk Dayang Choi--yang diajari pilates dan berusaha dikibulin dengan aneka trik HuiJoo--menghangatkan hati. Jelas, mereka memujanya. Walaupun HuiJoo kaya raya, ia tetap mau memijat bahu dayang Choi, duduk semeja dengan para staf dan mengajak mereka bermain dengan Baginda raja.

HuiJoo yang tak terbiasa dilayani pun perlahan menerima masukkan Pengurus Kim dan Hyeon. Walaupun masih sering berantem dan diladeninya dengan style-nya yang biasa. Blak-blakan dan narsis tanpa ampun. Hoahaha

Di sisi lain, saya cukup khawatir dengan keselamatan HuiJoo setelah kendaraannya dimanipulasi dan ancaman halus tuan Inpyeong saat berbincang dengan anaknya, Daebi Mama. 

Untunglah, selain orang-orang disekelilingnya, HuiJoo akan mendapatkan dukungan tak terduga dari abangnya dan DaYeong. Bagaimanapun keluarga bangsawan DaYeong juga berpengaruh dan jelas ia sangat tak suka dengan Jaegyeong yang ingin dijodohkan oleh Ibu Suri.

Ohya, kemesraan duo ini membuat saya mulai yakin mereka harmless dan kelak akan jadi sekutu HuiJoo.

Dari segi teknis lain, saya suka tiga kostum HuiJoo yang memadukan siluet hanbok dengan daya nodern. Warnanya bagus dan modelnya sopan banget. Naksiiirr. 

Sayang, satu-satunya OST yang saya sukai sampai saat ini adalah Behind The Light dari Rizze.

Posting Komentar