Recap dan Review Perfect Crown Episode 5
Recap
Ibu Suri sangat terkejut dengan berita kecelakaan itu. Ia bergegas memerintahkan dayang Im untuk pergi bersamanya ke rumah sakit. Ia langsung melabrak PM Min yang berusaha menenangkannya.
Staf PM Min menjelaskan foto kejadian sudah menyebar di sosmed dan semua orang mengenali sebagai mobil HuiJoo karena modelnya yang limited edition.
PM Min memberinya laporan terkini soal kondisi sang Raja. Beruntung, IYoon hanya mengalami luka ringan. Ibu Suri kemudian menguping percakapan dan mengetahui bahwa sang Raja ternyata ada di dalam mobil HuiJoo saat kecelakaan terjadi.
Situasi ini langsung meledak menjadi bom waktu politik, PM Min memerintahkan anak buahnya menghapus setiap berita online mengenai hal tersebut dan menempatkan pengawal bagi HuiJoo.
Ia pun mencegah Ibu Suri yang murka mengonfrontasi HuiJoo di rumah sakit dan memperingatkan bahwa investigasi publik justru akan membahayakan sang Raja dan tahta
{Adegan PM Min menahan Ibu Suri ini menarik sekali. Di permukaan, ini terlihat seperti tindakan PM yang bijaksana melindungi kestabilan wibawa keluarga kerajaan. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada perasaan lain yang mungkin mendorong PM Min untuk sedemikian rupa melindungi HuiJoo. Dan itu akan terbukti relevan di adegan-adegan berikutnya.}.
Hyeon dan Dayang Choi menunggu cemas tapi dokter memberi kabar baik. Ian tidak akan mengalami efek jangka panjang karena tidak ada patah tulang.
PM Min menyempatkan diri menjenguk HuiJoo dan berpesan agar ia dikabari saat HuiJoo sadar.
Kita melihat dari POV Ian malam itu dengan tangkas mengejar mobil HuiJoo di jalanan. Ia segera membaca situasi kemudian menggeber mobilnya ke posisi depan mobil merah lalu menekan rem sekuat tenaga. Ia dengan sengaja membiarkan mobilnya ditabrak kendaraan HuiJoo untuk menghentikan lajunya. Ini adalah kelanjutan langsung dari cliffhanger episode 4, di mana rem mobil HuiJoo tiba-tiba blong saat ia sedang membawa Raja muda IYoon yang memaksa minta naik mobil bersayap satu-satunya di KorSel.
Dengan mengorbankan mobilnya sendiri dan menanggung sebagian besar benturan, Ian berhasil menyelamatkan nyawa HuiJoo sekaligus sang Raja. HuiJoo sempat melihat samar-samar sosok Ian yang berjalan keluar dari mobilnya yang ringsek. {Cara pengambilan gambar adegan ini luar biasa. Slow-motion, wajah HuiJoo yang pucat dan ekspresi Ian yang menahan sakit sambil tetap berdiri tegak itu visual storytelling level dewa. BWS tidak perlu banyak bicara di sini. Tatapan mendalamnya sudah cukup mengatakan segalanya.}
Sang Raja kecil yang hanya mengalami memar ringan mendatangi kamarnya, lalu teringat HuiJoo menggenggam jemarinya sesaat sebelum benturan, ia pun mengembalikan gesture yang sama. Ia menggenggam tangan HuiJoo yang akhirnya sadar.
Raja minta maaf karena permintaanya mereka malah celaka. HuiJoo menenangkannya, setidaknya mereka berdua baik-baik saja. Tapi HuiJoo panik teringat Ian dan ketika raja bilang pamannya harus menjalani operasi.
HuiJoo segera menuju kamar Ian. Pemuda itu baru sadar dari efek anastesi tapi HuiJoo segera mengomelinya, apalagi setelah melihat wajah Ian terluka, "Kau baik-baik saja? Apa kau gila? Mengapa kau melakukan hal itu?" Hyeon sampai tak tahan dan meninggalkan ruangan.
HuiJoo semakin mengomel melihat wajah Ian yang terluka, padahal hanya itu yang jadi andalannya Hoahaha.
Ian malah menatap HuiJoo dan menanyakan kabarnya, ia cemas karena HuiJoo sempat tak sadar. HuiJoo bilang baik-baik saja dan langsung beraksi mundur saat Ian mencoba melihat dan menyentuh dahinya yang diplester. Jemari Ian menggantung di udara
"Kemarilah, aku terluka." Suara Ian bergetar. Ia memeriksa luka HuiJoo yang kembali mendekat sambil meyakinkannya bahwa Ia tak apa-apa. Saat Ian mencoba membelai rambutnya, dengan jengah HuiJoo menjauh.
Setelahnya HuiJoo kembali mengomeli dan meminta Ian berjanji agar tak melakukan hal serupa. Ian setuju sepanjang HuIjoo tak melakukan hal-hal berbahaya lagi. Gadis keras kepala itu tak bisa menjanjikan hal seperti itu, jadi Ian pun mengaku tak bisa janji hal sebaliknya.
Sekali lagi HuiJoo menegaskan, Ian harus selamat untuk mendukungnya. Jika Ia celaka, pasti HuiJoo tak akan selamat dari amukan publik terutama fansnya Hoahaha.
HuiJoo heran kenapa Ian sebegitunya, seolah-olah sang Pangeran benar-benar mencintainya. Ian hanya tersenyum sedih sementara HuiJoo pun menyesali seharusnya begitulah isi headline berita.
❤️
Abangnya yang sedang berlatih yoga dengan DaYeong mendapat telpon dari ayahnya yang memintanya segera menghidupkan layar kaca. Kedua pasutri itu kaget melihat berita kecelakaan di Provinsi Gyeonggi yang melibatkan mobil HuiJoo. Ditengarai mobilnya melewati batas kecepatan.
Di RS, HyeJeong, asisten setianya, berusaha masuk ke ruang inap namun dihalangi pengamanan kerajaan. Beruntung HuiJoo keluar jadi bisa menjemputnya. HuiJoo mencoba santai, bergerak lincah sebagai pertanda bahwa ia baik-baik saja.
HyeJeong ngomel sambil menunjukkan tablet laporan saham Castle Grup real time yang anjlok parah dan menyampaikan pesan ayahnya yang langsung ingin bertemu sekeluarnya dari RS. HuiJoo makin sedih, keluarganya tahu ia terluka tapi tak ada yang ada berkata apapun.
HyeJeong mengintrogasinya dan menanyainya apakah ia mengebut demi sensasinya atau karena mabuk. Huijoo menjelaskan bahwa mobilnya dimanipulasi. HyeJeong menyarankan agar rekaman dashcam dirilis ke publik untuk membuktikan bahwa HuiJoo tidak bersalah. Namun HuiJoo menolak, karena rekaman itu justru akan mengungkap bahwa sang Raja ada di dalam mobilnya, sesuatu yang sama sekali tidak boleh tersebar ke publik.
{Inilah yang membuat karakter HuiJoo begitu kuat. Dia tahu cara melindungi dirinya. Dia BISA membela dirinya. Tapi dia memilih tidak melakukannya demi melindungi orang lain dalam hal ini, Raja yang bukan siapa-siapa baginya secara hukum, tapi sudah mencuri sepotong hatinya.}
HyeJeong malah memintanya mempertimbangkan lagi pernikahan. Semua jadi penuh masalah sejak Pangeran Ian masuk dalam hidupnya. Ia mengingatkan skandal telur, interogasi karena dituduh sebagai penyebab kebakaran istana dan kali ini nyaris tewas.
HuiJoo membela justru Ian yang menyelamatkannya. Bagi HyeJeong ini terlalu berlebihan, mereka berdua terlibat sangat dalam padahal toh akan bercerai dalam tiga tahun.
"Bercerai?" PM Min rupanya mendengarkan semuanya.
HyeJeong bergegas ke taman, Ia minum bareng dengan Hyeon yang terkejut wanita itu bertanya tentang pekerjaannya. Menurut HyeJeong dia akan ikut HuiJoo setelah menikah dan pindah ke istana. Hyeon langsung terpesona dengan karismanya.
PM Min kecewa karena HuiJoo mengaku semuanya sungguhan. HuiJoo bilang ini tak sepenuhnya bohong, lebih mirip pernikahan yang diatur oleh kalangan bangsawan yang pasti sudah diketahui oppa dalam lingkaran pergaulannya. PM Min memperingatkannya akan bahaya Istana.
HuiJoo bilang ia sudah tahu dan mempertimbangkannya bahkan sebelum melamar Ian. PM Min semakin kesal saat HuiJoo bilang justru ia ditolak tiga kali. HuiJoo membujuknya, ia punya segalanya kecuali status. Jadi PM Min meminta HuiJoo untuk menikahinya saja.
(Lalu ada dari POV PM Min, Huijoo menolaknya dengan halus, kenapa pula ia harus menikahinya. Jika terjadi sesuatu, PM Min masa jabatannya hanya lima tahun dan masih harus mencoba mendapatkan suara untuk putaran kedua. Sementara Ian statusnya melekat sebagai Pangeran Agung).
❤
Di ruangan rawat raja, ibunya memaksa Raja untuk segera pulang karena Ian juga akan pulang ke istana.
HuiJoo yang juga akan keluar dari RS pergi ke ruangan Ian yang sudah kosong.
Ian menerima PM Min di Ahnwandang sementara HuiJoo berusaha menelponnya berkali-kali tapi tak diangkat. HuiJoo kesal karena ini tak baik bagi hubungan pernikahan. Dari percakapan dengan HyeJeong, HuiJoo menyadari Ian mendengarkan percakapannya dengan PM Min. (HuiJoo menjerit sampai mengagetkan HyeJeong Hoahaha).
Ternyata, HuiJoo langsung diusir dari kediaman pribadi Ian dan ia sangat kesal. Ia berusaha terlihat keren saat Pengurus Kim memanggilnya HuiJoo mengira Ia akan ditahan tapi rupanya pria itu hanya meminta Hopae Ian. HuiJoo tertawa sinis sebelum menyerahkannya dengan berat hati.
Di Ahnwandang, Ian teringat tadi Ia sempat ke kamar HuiJoo. Dari luar Ia mendengar alasan HuiJoo yang ingin menikahinya karena status. Ia melepaskan gagang pintu lalu berjalan pergi. HuiJoo mengiriminya pesan, Ian harus menyampaikan langsung dihadapannya apapun itu.
HuiJoo datang ke istana dan berpapasan dengan Ibu Suri yang baru dari Ahnwandang. Ibu Suri tersenyum dan bilang ia senang tak perlu mengajari HuiJoo karena sehebat-hebatnya seorang guru tetap ada hal-hal yang tak bisa diajarkan. HuiJoo terlihat bingung.
Setelah berhadapan dengan Ian. Ia bertanya apakah pria itu sudah diizinkan keluar RS. Ian ingin tahu, apakah hal itu yang benar-benar dikhawatirkannya dan HuiJoo mempertanyakan pengusirannya. Apakah karena Ibu Suri atau karena PM Min. Ian curiga, memang ada apa dengan PM Min? HuiJoo mencoba mengalihkan pembicaraan. Gadis itu bilang ia harus tahu dulu kenyataannya baru memutuskan ikut dalam rencana Ian.
Ian berterus terang mobil HuiJoo di sabotase. Pelakunya belum tertangkap. Tapi ia mengubah rencananya, "Mari batalkan pernikahan ini." Mata Ian berkaca-kaca.
HuiJoo mendesak alasannya. Kalau karena kecelakaan, justru dirinya juga korban. "Karena itulah, kita harus membatalkannya. Jika Aku menikahi orang sepertimu, yang berulangkali melanggar aturan dan punya musuh dimanapun, takhta pasti akan runtuh."
HuiJoo tak bisa berkata-kata tapi matanya pun ikut memerah.
❤
Sementara itu, ayah HuiJoo memanggilnya ke pertemuan keluarga. TaeJoo menilai HuiJoo hanya mencari perhatian seperti biasanya.
Sang ayah menuntut penjelasan, dan semakin tersinggung ketika HuiJoo menyebut ini hanya "pertengkaran kecil sepasang kekasih." Sang ayah bahkan dengan pedas berkata bahwa sang pangeran hanya memanfaatkannya, dan HuiJoo pun membalas bahwa Grup Castle juga diuntungkan dari hubungannya dengan sang pangeran.
Ketegangan memuncak. Sang ayah menyalahkan HuiJoo atas terjunnya saham perusahaan. HuiJoo membalas dengan kalimat tajam: "Memangnya kenapa kalau kita merugi sedikit? Beberapa kerugian tidak akan membunuh kita. Kita semua pada akhirnya mati juga." Lalu ia berlalu, mengklaim dirinya sibuk.
{Kalimat itu bukan sekadar sarkasme. Itu adalah kalimat seseorang yang sedang sangat lelah. Si bungsu sudah lelah berjuang untuk diakui oleh orang-orang yang seharusnya ada untuknya. IU menyampaikannya dengan nada datar yang justru lebih menyayat daripada kalau ia menangis. Bravo.}
Setelah pertemuan keluarga yang menyakitkan itu, HuiJoo tidak berpangku tangan. Ia menghubungi HyeJeong dan memintanya memulai investigasi terhadap orang yang terakhir mengerjakan mobilnya.
Setelah staf eksekutifnya yang menelusuri rekaman CCTV, menemukan bahwa seseorang yang menggunakan kartu Grup Castle di sebuah minimarket di seberang kantor adalah pelakunya. HuiJoo juga meminta TaeJoo (yang merasa sangat girang diakui sebagai Oppa-nya) untuk menelusuri siapa yang mungkin merusak mobil tersebut. DaYeong benar-benar terlihat cemas saat HuiJoo bilang pria itulah yang mencoba membunuhnya.
Nahas, saat TaeJoo akhirnya mengidentifikasi siapa orang itu, ia sudah ditemukan meninggal. {Meninggalnya sang tersangka dengan cepat ini adalah sinyal jelas bahwa ada kekuatan besar di balik sabotase ini. Pelakunya bukan sekadar orang iseng. Ini terorganisir, rapi, dan berbahaya. Pertanyaannya: siapa dalang sesungguhnya? Petunjuk mengarah ke Ibu Suri, tapi ada kemungkinan lain yang juga tidak bisa diabaikan.}
❤
Hyeon berterus terang, Ia akan membela Ian sekalipun pemuda itu melakukan pembunuhan tapi untuk kali ini ia tak bisa membela Ian. Seorang Pangeran Agung tak mungkin dibolehkan menjanjikan pernikahan lalu membatalkannya. Apalagi mereka sudah sempat tinggal bersama (yang secara teknis disangkal Ian karena mereka selalu berbeda kediaman).
Ian pun akhirnya jujur kalau Ia melakukannya demi keselamatan HuiJoo sendiri. Mereka belum menikah pun, HuiJoo sudah menjadi target. Ia teringat ketika pulang berkendara dengan ibundanya, Ratu UiYeon, Ian menelpon dan meminta pergi membeli ayam goreng karena Hwan menghubunginya. Tiba-tiba setelah lampu berubah hijau, ada truk misterius menghantam kendaraan Ratu dan beliau terluka parah. Ian menyaksikan segalanya (bersama Dayang Choi yang duduk dimobil yang sama dengannya).
Kini, Ian merasakan kecemasan. Mimpi buruknya kembali. Kejadian itu terasa sangat membayangi keputusannya saat ini, seolah-olah takdir buruk yang sama terus mengikutinya dan orang-orang yang ia sayangi.
Oleh karena itu, ketika PM Min melaporkan hasil investigasi tentang kendaraan HuiJoo lalu memohon agar Ian melindungi HuiJoo, Ian ngide minta putus! {Sebenarnya ini sudah di prediksi, tapi tetap terasa menyebalkan. PM Min selama ini terasa seperti tokoh pendukung yang berwibawa dan bijak, teman baik sekaligus orang kepercayaan kerajaan. Tapi dengan proposal ini, dimensi karakternya tiba-tiba melompat jauh lebih kompleks. Apakah ini perasaan yang sudah lama terpendam? Atau semata-mata tindakan protektif seorang teman yang khawatir HuiJoo terluka?}
Namun, sebagai penutup pembicaraannya dengan Hyeon--yang juga tampak kecewa--Ian ingin memberikan kado perpisahan untuk HuiJoo.
Secara pribadi, di pagi sebelum kedatangan HuiJoo rupanya Ian meminta Ibu Suri untuk mengundang HuiJoo ke sebuah pesta dalam atau banquet kerajaan eksklusif. Ian rela memohon dengan alasan demi melindungi HuiJoo dari komentar negatif setelah berita putus mereka dirilis nanti.
Ibu Suri, yang puas dengan perpisahan itu, setuju dengan senang hati. PM Min pun telah menyetujui draft tamu undangan {Ini momen yang lucu sekaligus menyedihkan. Ibu Suri yang biasanya menolak apapun yang melibatkan HuiJoo, kali ini malah senyum-senyum menerima permintaan Ian. Tentu saja. Karena ia mengira ini tanda bahwa Ian akhirnya menyerah.}
Celakanya, Ian memerintahkan Hyeon menyampaikan undangan itu pada HuiJoo. Ia menerimanya saat suasana hatinya sedang buruk. Manajer PR baru saja memaparkan dua puluh nama undangan acara tersebut. Mereka adalah para gadis bangsawan dibawah usia tigapuluh dengan aneka prestasi. Menurut Manajer PR, jika salah seorang diantaranya dijadikan brand ambassador baru dari lini eksklusif mereka maka dampaknya akan sangat luar biasa.
HuiJoo pun semakin geram kala Manajer PR mengungkit bahwa dulu HuiJoo selalu ingin diundang, demi dukungan Istana. HuiJoo membenarkan, tapi itu dulu, sebelum ada pembicaraan pernikahan dengan anggota keluarga kerajaan.
Jadilah, Hyeon dengan akward memaparkan undangan lengkap dengan pakaian yang sebaiknya dikenakan HuiJoo di acara. Senyum riang HuiJoo dalam sekejap berubah menjadi tawa menakutkan kala ia mengungkap bahwa selama 600 tahun tak pernah ada gadis biasa yang diundang, jadi ini hanya kamuflase agar hubungan mereka tetap terlihat baik-baik saja saat putusnya hubungan mereka dirilis.
HyeJeong mendukung rencana ini. Oleh karena itu, dia selalu bersedia menerima telepon dari Hyeon bahkan Ian sekalipun yang berusaha membujuk HuiJoo untuk pergi. Semuanya dijawab "Shiero" dengan bergaya oleh HuiJoo. (Posisinya jadi satu sama dengan saat HuiJoo ditolak Ian untuk audensi pribadi).
Ian sampai kesal dan marah menganggap HuiJoo bodoh tapi Hyeon jujur jika Ia jadi HuiJoo pun akan melakukan hal yang sama. Ian memutuskannya dan sekarang HuiJoo tak ingin berhubungan dengan pria itu lagi. Tindakan Ian sekarang sangat tidak keren, lanjut Hyeon dengan ekspresi lucu. Jadilah Ian mengirim pesan dengan bunyi yang sama saat HuiJoo minta bertemu dengannya.
Pertemuan di rumah pribadi itu berlangsung dingin. Tatapan HuiJoo menghujam tajam. Ia ingin Ian mengungkap alasan yang sebenarnya. Dengan emosional, Ian mengaku ingin HuiJoo hidup tenang dan jauh dari masalah.
HuiJoo berdiri, mengambil busur di tembok dan mengancam akan menembak salah seekor kucingnya. Ian menerjang dan melepaskan busur tersebut hingga tangannya terluka.
HuiJoo menggunakan kata-kata Ian sendiri bahwa jika dirinya benar-benar berada dalam situasi seberbahaya yang Ian katakan, maka seharusnya inilah yang Ian lakukan, Ian harus aktif menyerang bukan hanya bertahan.
"Kau tidak pernah belajar menunduk.'
"Kau selalu menunduk jadi dikalahkan oleh orang dibawahmu." HuiJoo menatap tegas sambil memasangkan scarf rambutnya di tangan Ian yang tergores busur. "Begini caranya melindungi orang lain. Aku hanya minta status, bukan buaian nyaman dari kenyataan." {Dan di sinilah HuiJoo mulai melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Ian. Bukan lagi pangeran yang dingin dan terbelenggu aturan. Tapi seseorang yang ketakutan kehilangan orang yang mulai ia pedulikan. Dan HuiJoo, si gadis yang terbiasa tidak dipedulikan siapapun merasakan sesuatu yang baru dari pengakuan itu. Sekaligus HuiJoo menegaskan bahwa ia paham konsekuensinya namun ia tak ingin menyerah. Justru mereka harus bersatu dan melawan jika ingin berhasil dan mengalahkan musuh-musuh mereka bersama.}
Hyeon mengomel sambil memasangkan plaster ke tangan Ian. Ia mengutip peribahasa bahwa segalanya halal dalam cinta dan perang tapi kali ini gadis itu sudah melewati batasan. Ian membela HuiJoo, gadis itu tak pernah melepaskan busurnya, jadi ia tidak pernah melewati batas.
Ian lalu pergi ke halaman belakang istana, teringat kecupan manisnya dengan HuiJoo. Dayang Choi membujuknya untuk memaklumi HuiJoo. Ia harus berbaik hati karena gadis itu sudah mengahadapi penghakiman sosial dan online.
Ian menelpon HuIjoo memastikan undangan sudah dikirim jadi Ia tak bisa mundur lagi. HuiJoo pun minta maaf, ia tak benar-benar berniat melukai kucing apalagi Ian sendiri. Ian pun minta maaf karena tak menepati janji.
Keesokan harinya Hyeon datang lagi, menjelaskan tata krama dalan acara. Ironisnya, HuiJoo menyadari bahwa besok ia akan selalu duduk dan berjalan paling belakang karena statusnya yang rakyat biasa. Ia semakin kesal karena seharusnya Ia duduk di depan seandainya pernikahannya tidak batal.
Tapi malam itu Ia tetep mempelajari tata krama dan susunan acara. Ian menghubunginya dan mengajak bertemu di depan daerah rumah HuiJoo. Ian memakai pakaian kasual dan masker. Ia beralasan ini adalah pertemuan terakhir mereka. HuiJoo semakin kesal mendengar alasan Ian sangat pengecut. Entah kemana kah pria yang nekat memakai Cheolik saat jamuan ultah paduka itu.
Ian berjalan menelusuri trotoar dan HuiJoo tiba-tiba malah berjalan mundur. Ia beralasan harus berlatih kalau tidak pastilah besok ia berjalan paling depan karena sudah terbiasa jadi trend setter. Hoahaha
❤
Saat bersiap ke Banquet, HuiJoo terlihat semalam Ian bertanya tentang bagaimana caranya memimpin jalan sebagaimana yang tadi dibahas HuiJoo. Dia mengaku tak pernah belajar, ia selalu menjadi pengikut. HuiJoo terlihat tersentuh dan memintanya cukup berjalan di sisinya agar ia bisa mengajarinya.
Setelah sempat berpikir lama dihadapan pakaian yang disiapkan Ian, akhirnya, HuiJoo memutuskan untuk datang ke Royal Banquet. Tapi tentu saja tidak dengan cara biasa.
Jurnalis heboh memberitakan dan para gadis bangsawan yang diundang menggunjingkannya. Jika ia bisa berhasil menikahi Pangeran Ian maka ia akan jadi bangsawan. Dan gosip itu terdengar oleh ibu suri, belum sempat ia memarahi lebih lanjut..
HuiJoo datang terlambat, bahkan lebih telat dari Daebi Mama. Ia mohon maaf karena masih sering tersesat akibat belum hafal jalan di istana (tata bahasanya teratur, Dayang Choi pasti bangga nih Hahaha). Jurnalis menggila karena kemunculan dramatisnya di acara tersebut dengan setelan jas putih, bukan hanbok tradisional yang telah disiapkan untuknya {fashion statement: "Aku tidak perlu menyesuaikan diri dengan aturan istana." Kali ini dia memakai putih yang jadi warna Ibu Suri. Selain itu Kostum putih itu kontras sempurna dengan parade hanbok para bangsawan. Dan IU membawakan itu dengan natural, tidak ada kesan memaksakan atau overdramatic. Cukup angkat kepala sedikit, dan semua orang langsung merasakan otoritasnya.}
HuiJoo dan ibu Suri sempat bertukar kata-kata penuh sindiran dan senyuman karir paling sinis seabad.
Ketika HuiJoo berjalan bersama para tamu wanita lainnya, ia berada di barisan paling belakang. Ibu Suri yang melihatnya mengipas-ngipaskan tangannya kepanasan, berniat mengerjainya dengan berjalan-jalan lebih lama di bawah terik matahari. Namun ketika Ian tiba-tiba muncul, ia mengamit lengan HuiJoo, melingkarkannya ke tangannya sendiri, "Junior, Ajari aku memimpin jalan, sekarang aku sudah di sisimu." Ian langsung membawa HuiJoo ke barisan paling depan. membuat semua orang tercengang menyaksikan kemunculan mereka bersama (inner monolog Ian : Jangan tunduk pada orang lain, jangan mundur dan jangan berkompromi. Aku akan melawan sebaik mungkin, sama sepertimu). {Adegan penutup episode ini adalah cherry on top. Ian, yang tadi baru saja "memutuskan" hubungan mereka, kini secara terbuka menempatkan HuiJoo di posisi paling terhormat di depan semua orang. Ini bukan sekadar romantis. Ini deklarasi. Dan ekspresi campuran antara terkejut, kesal, dan lega di wajah HuiJoo? Priceless.}
Epilog
Kembali di masa sekolah. Di lapangan panah
Ian mengamati HuiJoo mencabuti anak panah dari sasaran. Ketika gadis itu nyaris melihatnya, Ian malah panik dan bersembunyi. Ia berpura-pura baru masuk dan menyapa HuiJoo sambil pura-pura acuh mengucapkan selamat atas penampilannya di laga eksebisi. HuiJoo malah curiga Ian justru minta dipuji balik dan malah berlalu.
Ian terlihat kecewa dan lebih kaget lagi saat melihat ada JeongWoo--yang mengaku melihat semuanya. Ian bertanya apakah JeongWoo dekat dengan HuiJoo dan bagaimana gadis itu. Menurut JeongWoo mereka seasrama dan gadis itu cantik.
Ian membenarkan sekaligus sesuatu dalam dirinya menyadari bahwa mereka sama-sama terpesona dengan HuiJoo (sebagai catatan ini PM Min muda emang tembakkannya jitu banget. Jadi pas minta ajarin HuiJoo juga cuma modus Haoahaha)
Review
Ya Allah, saking sukanya, menjelang episode 5 ini saya melakukan 2 hal 'gila' :
1. Langganan app nonton si kepala tikus padahal sudah memboikotnya bertahun-tahun. Yah kebetulan provider ponsel saya lagi ngasih promo diskon pula Huhu maafkan. Tapi saya emang belum nonton musim 18 Criminal Minds, musim 3 dan 4 The Bear dan reunian Malcolm In The Middle, jadi sekalianlah.
2. Ngide download aplikasi imbc dan aplikasi VPN dan hasilnya saya bisa nonton realtime meski harus menebak sebagian percakapannya
Episode 5 Perfect Crown berdurasi 'hanya' 70 menit tapi karena salah satu episode yang paling emosional sejauh ini, rasanya agak 'berat' Kalau episode-episode sebelumnya lebih banyak bermain di ranah komedi romantis dan trik-trik lucu kontrak pernikahan palsu, episode 5 ini seperti membalik meja, tiba-tiba semua terasa serius, menyakitkan, dan penuh tensi. {Saya akui, saya nonton sambil sesekali menahan napas. Terutama di adegan-adegan yang melibatkan IU. Wajah wanita ini adalah layar IMAX tersendiri. Setiap microexpression-nya bicara lebih keras dari dialog mana pun.}
Putusnya Ian dan HuiJoo bukan sekadar Ian melakukan noble idiocy. Ada lapisan trauma, rasa takut, dan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan yang membuat konflik ini terasa nyata. Tapii entah mengapa saya merasa Ian agak keluar karakter, minimal ini adalah lapisan kepribadiannya yang disembunyikannya dengan baik. Ternyata dia tak se-rebelious itu, meminjam istilah HuiJoo, dia jadi pengecut.
Trauma akan kecelakaan mobil yang merenggut nyawa ibunya berujung pada keputusan putus menunjukkan seberapa jauh Ian rela berkorban agar orang-orang yang ia sayangi bisa hidup dengan tenang. Padahal bermain defensif begini tak sejalan dengan prinsip HuIjoo. Ia berusaha kasih paham bahwa agar menang mereka harus ofensif! Bekerjasama untuk menyerang semua lawan.
Tapi bukan berarti HuiJoo kejam dan membabi buta. Toh secara bersamaan, HuiJoo pun menanggung semua kecurigaan dari khalayak dan rasa malu agar Ian dan sang Raja tidak terseret skandal. Sisi positifnya, HuiJoo dengan raja kecil jadi semakin akrab.
Begitupun hubungan HuiJoo dan TaeJoo serta DaYeong semakin membaik. Abangnya terlihat ge-er hanya dengan dipanggil Oppa. Dan saya tetap yakin duo suami istri menggemaskan ini akan jadi garda terdepan menyokong HuiJoo - Ian. Tapii bagaimanapun saya kecewa baik mereka berdua maupun ayahnya sama sekali tak mencemaskan HuiJoo selepas kecelakaan itu terjadi.
Untunglah masih ada HyeJeong yang setia mendampinginya. Ngomongin do-biseo ini sepertinya Hyeon jadi makin terpesona deh. Di sisi lain, walau Hyeon juga jadi stress banget menghadapi putusnya Ian, dia masih sempat jadi hati nurani yang baik buat bossnya.
Yang paling lucu tentu waktu Hyeon harus bantu membujuk HuiJoo buat datang ke royal Banquet itu. Komuknya kocak banget.
Yah, minimal diakhir episode ini Ian membulatkan tekad untuk fight. Meski alasannya subtle (karena malam itu pun dia masih bilang ke HuiJoo adalah pertemuan terakhir mereka kan), tapi bisa jadi salah satunya justru Ian ngeh HuiJoo belajar berjalan di belakang yang lain itu dia sadar, dia pengen membantu gadis yang dicintainya itu naik kedudukan.
❤
Ohya, selain masih dibandingkan sama Princess Hours (2016), drakor ini menerima ujaran kebencian yang masif di platform X dari orang-orang yang disinyalir penggemar Drakor BWS sebelumnya. Malah kebanyakan yang lewat di TL saya adalah akun lokal. Saya yang kayak, hah? Ini serius drama se-funloving (so far dan semoga sampai selesai ya) Perfect Crown ada haters-nya?🤣
Saya tahu sih, fans drama BWS sebelumnya tersebut (saya juga nonton ongoing dan cukup suka, btw), selalu mencocoklogikan kedua OTP di drama tersebut di kehidupan nyata. Yah, saya cuma mau bilang Go get a life! Ga semua pasangan OTP pasti jadian.
Lagipula kenapa yang lebih banyak dihujat justru IU? Saya bukan Ueana tapi saya cukup suka dengan beliau baik ketika bernyanyi, berakting maupun kegiatan sehari-hari yang ditampilkan di rekaman BTS atau variety show. Gelarnya saja Nation's Little Sister gitu lho.. She's cute, lovable dan dicintai oleh banyak fans termasuk pekerja seni lain di berbagai bidang.
Lebih baik ikuti style saya selama bertahun-tahun mengikuti budaya pop-culture : sukai dan ngefans lah sewajarnya. Selaras dengan 'naksir' tokoh atau pemerannya, jadikan kegiatan nonton drama / film atau apresiasi karya dibidang apapun itu ya sekedar bagian dari hiburan BUKAN kehidupan yang utama. Jadi ga perlu lah fan war segala demi membela satu fandom lalu justru menjatuhkan fandom lain.
Sampai jumpa di recap episode 6! 🤍
_20260502_143345_0000.png)











































Posting Komentar