Recap dan Review Perfect Crown Episode 6
Recap
Episode 6 dibuka dengan Ian yang dengan tidak sabar berteriak memanggil HuiJoo agar segera siap untuk acara after-party. Mereka sudah sangat terlambat tapi HuiJoo malah balas berteriak dan Dayang Choi--yang sedang membantunya bersiap--menahannya dan memintanya bersabar. Hyeon bahkan meladeninya bergurau, saat ini HuiJoo seharusnya sudah selesai menjahit dua gaun sekaligus. Hoahaha.
Begitu pintu terbuka dan mereka berdua menatap HuiJoo, tak ada yang mampu berkata-kata lagi.
Sementara itu, Raja muda IYoon bersikeras ingin ikut menghadiri acara tersebut karena sang paman memintanya hadir.
Di sisi lain, Ibu Suri terkejut PM Min datang dan akan jadi pasangan yang menemaninya. Ia memperkenalkan PM Min kepada Jaegyeong sebagai seorang calon istri Ian, karena Ibu Suri masih yakin bahwa Ian akan memutuskan hubungannya dengan HuiJoo setelah acara malam itu. PM Min berusaha tidak terpancing karena sepengetahuannya rencana HuiJoo dan Ian tetap berlangsung {Ibu Suri yang senyum-senyum penuh rencana ini selalu bikin saya greget. Tapi sebentar lagi senyum itu akan hilang seketika. Dan saya sudah siap menikmatinya, Hoahaha.}
Grand Entrance Ian yang diumumkan hadir sambil menggandeng HuiJoo membuat semua mata tertuju pada mereka. Ibu Suri masih merasionalkan pada PM Min bahwa ini hanya bagian dari rencana Ian, sebagai hadiah perpisahan untuk HuiJoo. PM Min mulai kebingungan.
Semua tamu memandang mereka dengan penuh rasa ingin tahu saat keduanya melangkah ke lantai dansa untuk tarian pertama mereka. Gerak tari mereka mengalir natural, dua orang yang seolah sudah terbiasa satu sama lain, padahal kontrak pernikahan mereka saja masih menjadi tanda tanya besar. {Adegan tarian ini adalah ouncak drama romantis yang sesungguhnya. Byeon Woo-seok yang menjulang tinggi dengan jas formalnya di sebelah IU — cukup berdua saja sudah seperti poster drama yang hidup. Pantas saja tayangnya di D+ ini jas formal Ian mirip banget sama kostum Pangeran di animasi Cinderella klasik. Untunglah warna gaun HuiJoo bukan biru muda Hoahaha. Saya malah suka banget ini champagne apa pink muda gitu.. favorit saya!}
Sepanjang menari sebenarnya mereka masih mengobrol dan menurut HuiJoo tarian ini saja belum cukup dan Ian pun setuju. Maka di penghujung tarian, Ian meminta HuiJoo untuk mengikuti arahannya. Lalu ia berlutut di satu lutut dan melamar HuiJoo menggunakan cincin bertahta berlian biru, yang dikenali semua orang milik almarhumah ibunya.
"Hobaenim, langkahku mungkin belum bisa mengimbangi kecepatanmu. Mau kah kau menjadi istriku?" Ian tetap memanggil HuiJoo dengan panggilan kesayangannya.
Seluruh kerumunan langsung gempar dan terkejut. Ibu Suri dan PM Min adalah yang paling terpukul. Ian kemudian meminta Raja IYoon untuk memberkati pertunangan mereka. Meski ibunya menggeleng dari kejauhan, raja kecil yang sudah menganggap HuiJoo tantenya, langsung merestui.
{Ini adalah langkah yang brilian dan berani sekaligus. Ian memahami satu hal: cara terbaik untuk melindungi HuiJoo dari serangan politik adalah dengan membuatnya tidak bisa diserang lagi. Dengan melamar secara terbuka, di depan semua orang termasuk sang Raja, Ian menutup semua celah bagi Ibu Suri untuk bergerak. Apalagi bila raja sudah merestui. Check mate.}
PM Min langsung merasa gerah dan Ibu Suri menyusulnya yang menepi. Ia berusaha lebih jauh untuk menghambat pernikahan tersebut, dengan meminta PM Min untuk intervensi dengan memveto di kabinet. PM Min menolak, menyatakan bahwa menentang kehendak Raja hanya akan menciptakan konflik yang lebih besar.
Setelah anggukan HuiJoo, Ian mengajak kakak iparnya yang masih nampak terguncang berdansa. Ibu Suri mengkonfrontasi Ian secara langsung. Teganya Ian membohonginya soal putus (ya padahal sebenarnya Ian tak bohong tapi batal putusnya karena tersulut lagi oleh nasihat HuiJoo). Namun di sinilah Ian mengeluarkan kartu truf-nya: ia mengungkapkan bahwa ia mengetahui bahwa Ibu Suri telah mengabaikan keinginan almarhum Raja yang ingin menyerahkan tahta kepadanya sebelum meninggal. Pengungkapan ini membuat Ibu Suri terhenti. Satu detail itu sepenuhnya menggeser keseimbangan kekuasaan, setidaknya untuk sementara. Ian memintanya untuk tetap tersenyum karena semua mata sedang memandangi mereka. Ibu Suri akhirnya mundur dan dengan enggan memberikan restu untuk pernikahan tersebut. {WOWWW. Jadi selama ini Ian sudah menyimpan informasi ini. Ia tidak gegabah. Ia menunggu momen yang tepat untuk memainkan kartu tersebut. Ini bukan pangeran yang naif dan terbelenggu aturan. Ini seseorang yang jauh lebih cerdas dan strategis dari yang kita kira. Dan saya suka sekali perkembangan ini.}
Di sisi lain, HuiJoo mengajak PM Min berdansa. HuiJoo meminta maaf dan mohon agar oppa selalu mendukungnya, karena selain beliau ia sudah tak punya siapa-siapa lagi. (Ada flashback di masa bersekolah di Royal Academy. PM Min pernah menyelamatkan HuiJoo yang dikurung di lift lalu mereka berlarian berdua dengan bergandengan agar tidak telat ujian. Dan HuiJoo memohon oppa yang menjelaskan pada guru agar dipercaya. ) PM Min memintanya berjanji agar tak berbohong lagi di masa depan.
Mereka pun sempat bertukar pasangan. Terjadi pengungkapan dramatis : Ibu Suri menyadari PM Min juga mencintai HuiJoo dari caranya menatap gadis itu dan PM Min pun menyadari perasaan HuiJoo mulai tumbuh dari caranya memandangi Ian meskipun mereka sedang berdansa berdua.
❤
Pertunangan itu pun segera menjadi sensasi nasional bahkan internasional.
Ian dan HuiJoo sempat menikmati momen di halaman istana. HuiJoo bilang, Ia ingat cincin tersebut karena pernah melihatnya masih kecil. Ia senang dengan cincin itu tapi khawatir soal status pusakanya. Ian bilang sebagai warisan nasional itu harus dikembalikan saat perceraian nanti. HuiJoo ngambek dan mencoba melepasnya, Ian mencegah dan cerita tentang ibunya yang tidak suka cincin itu (mungkin karena beratnya beban, secara tersirat karena dia harus menjadi ratu).
HuiJoo--yang mulai memperhatikan Ian sedikit lebih lama--berusaha menghibur Ian dan memujinya sebagai anak favorit ibunya karena cincin itu diwariskan padanya bukan sang putra mahkota. Ian mendengus dan menceritakan wasiat tersebut membuat marah ayahnya karena beliau tidak suka memberikan apapun untuk Ian. Mereka berbagi kesedihan soal ayah masing-masing. Angin semilir membuat rambut HuiJoo berterbangan dan Ian dengan lembut merapikan rambut HuiJoo. Ian sempat ragu-ragu tapi melanjutkannya setelah melihat reaksi HuiJoo. Momen intim dan manis ini bikin meleleh, tapi HuiJoo jadi salting Hoahaha.
Di Ahnwandang, Hyeon menunggu sambil merangkai bunga. HyeJeong sebagai anak florist menyadari pria itu menyukai mawar. Hyeon langsung tertarik dengan latar belakangnya tapi keburu dua atasan mereka kembali ke Ahnwandang. Publik nasional sampai internasional gempar dengan berita pertunangan mereka.
HuiJoo pamer cincin HyeJeong sambil memerintahkan agar besok segera dilakukan promo termasuk wawancara. Ian yang hanya tersenyum geli melihat tingkah calon istrinya mengizinkannya memakai cincin itu di wawancara besok.
Ian meminta HuiJoo kembali ke kediaman pribadinya. Jelas HuiJoo menolak, ia bukan seseorang yang mau datang dan pergi sesuai permintaan orang lain tapi HyeJeong berjanji mereka akan segera pindah. Asistennya akan ikut karena merasa lebih tenang HuiJoo dilindungi pengawal kerajaan.
Ian pun menginfokan ada mata-mata dalam jajaran staf rumahnya. Hyeon menunjukkan data-data AhReum. (Keren, Hyeon emang jago dalam melakukan pekerjaannya).
Respons publik sangat positif. Ibu Suri dan ayahnya marah besar. Mereka putuskan terima menerima rencana pernikahan tapi mulai mengawasi HuiJoo sebagai "kelemahan" Ian. Ada flashback kematian misterius raja (diduga karena wasiat asli yang dibakar).
❤
Berita pertunangan ini menyenangkan hati TaeJoo dan DaYeong. Mereka gembira resmi menjadi calon kakak ipar Pangeran Agung. Mereka pun berusaha membujuk sang ayah, sulit membatalkan karena sudah dapat restu Baginda Raja.
Sang ayah terlihat berpikir dan memerintahkan DaYeong menghubungi keluarganya. Mereka harus menempatkan seseorang yang bisa diandalkan HuiJoo di istana.
Duo suami istri itupun pergi ke kantor pusat Castle Beauty. DaYeong sempat heran, mengira ayahnya tak menyukai HuiJoo, tapi menurut TaeJoo ayahnya lebih tak suka jika ada yang menggangu putrinya.
DaYeong dan TaeJoo mengagumi cincin pertunangan HuiJoo sambil membujuknya melepaskan saham dan jabatannya. Sebagai karya seumur hidup, tak mungkin HuiJoo melepaskan pada orang asing. HuiJoo bersikap dingin, menurutnya itu adalah hak prerogatifnya.
Si Abang melaporkan hasil investigasinya. Mekanik itu ditemukan telah meninggal dunia dan setelah pemeriksaan lebih lanjut, pria itu tak punya keluarga. HuiJoo terlihat kecewa tapi ketika kedua orang itu hendak membujuk ternyata Ia hanya marah dan bersumpah serapah. DaYeong sampai shock mendengar dan melihat reaksi keras HuiJoo. Hoahaha untunglah HyeJeong segera masuk dan mengusir mereka secara halus karena sudah melewati batas waktu lima menit. Hohahaha.
❤
Di perjalanan menuju lokasi wawancara, HuiJoo sempat kesal membaca draft pertanyaan wartawan yang disebutnya klise. Tapi menurut HyeJeong ini sudah dikurasi pihak istana jadilah harus yang aman.
HuiJoo mengaku sudah kenal Ian sejak bersekolah di Royal Academy (sejak dulu sudah ada spark sambil mengenang pertemuan pertama mereka). Ketika ditanyai lebih lanjut perbedaan sikap Ian saat ini, menurut HuiJoo sekarang Ian sangat protektif. Seolah Ia adalah seseorang yang terbuat dari kaca yang rapuh sambil pamer cincin.
Malamnya, Hyeon sempat menunjukkan hasil wawancara tersebut pada Ian yang kelelahan setelah bekerja. Ian tersenyum geli dan penuh arti membaca dari tabletnya
Malam itu juga HuiJoo ditemani HyeJeong kembali ke kediaman pribadi Ian. Para staf menghambur keluar dan menyambutnya dengan suka cita. Pengurus Kim bahkan memeluknya, sambil bersenda gurau.
Saat menyusun barang-barang, HuiJoo memperhatikan AhReum menyukai salah satu tasnya. HyeJeong dengan tegas memintanya segera keluar karena ia sendiri yang akan melanjutkan. Ian menghubunginya dan meminta gadis itu ke istana keesokan harinya untuk mengurus pernikahan mereka.
Keesokan harinya, HuiJoo tiba berbarengan dengan PM Min. Pernikahan ini adalah agenda penting negara sehingga Ia harus dilibatkan.
PM Min menjelaskan dengan tenang dan profesional bahwa pernikahan kerajaan ini bisa menjadi momen penting untuk meyakinkan publik bahwa istana masih berdiri kokoh. Ia dan HuiJoo berbicara dengan santai dan akrab, seperti dua orang lama yang memang sudah nyaman satu sama lain.
Ian mengamati semuanya dari jauh. Dan dari tatapannya, terasa bahwa Ia tidak suka dengan apa yang dilihatnya.
Ia akhirnya memperingatkan PM Min dengan nada dingin tapi jelas:
Ian: "Jaga sikap dan bahasamu terhadapnya. Dia akan segera menjadi istriku."
PM Min menatapnya tenang dan menjawab:
PM Min: "Kita tidak perlu berpura-pura di depanku."
Lalu HuiJoo mengungkapkan sesuatu yang membuat Ian lebih tidak senang lagi:
HuiJoo: "Dia sudah tahu semuanya tentang perjanjian kita sejak awal."
Ian langsung berbalik menatap HuiJoo dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan, campuran terkejut, kesal, dan... terluka.
PM Min kemudian dengan tenang menambahkan:
PM Min: "Aku akan mendukung kalian, sampai perceraian kalian terlaksana."
{Kalimat PM Min itu terdengar profesional dan berjarak di permukaan. Tapi ada kepedihan yang sangat terasa di baliknya. Ia tahu. Ia mendukung. Dan ia akan terus mendukung, meski itu menyakitinya setiap hari. NSH menyampaikan ini dengan keren. Cukup satu kalimat dan satu ekspresi yang menyimpan segalanya. Dan Ian cemburu dengan cara yang paling klasik, sebenarnya ia tidak bilang apa-apa, tapi ekspresi mukanya bicara semuanya. BWS memainkan kecemburuan terpendam ini dengan sempurna. Bukan cemburu yang meledak-ledak, tapi cemburu yang diam dan panas.}
Saat mereka tinggal berdua, akhirnya mereka saling sindir.
Ian: "Kamu terlalu naif untuk seorang pebisnis. Kamu tidak seharusnya memberitahu dia soal kontrak kita."
HuiJoo: "Kenapa tidak? PM Min ada di sisi kita. Kita butuh dukungan Kabinet untuk pernikahan ini, dan kamu tahu itu."
Ian: "Jangan terlalu mudah mempercayai orang."
HuiJoo: (mencibir) "Aku punya sangat sedikit sekutu di dalam istana ini. Dan untuk sekarang, aku lebih mempercayai PM daripada kamu."
Ian: "Apa?"
HuiJoo: "Kamu plin-plan. Itu faktanya."
Ian tidak menjawab. Tapi ekspresinya yang menunjukkan campuran antara kesal, tersinggung, dan sadar bahwa ia tidak bisa membantah adalah komedi terbaik episode ini. {Kata "plin-plan" itu keluar dengan sangat natural dari mulut HuiJoo. Dan tepat sasaran. Ian yang baru saja berlutut melamarnya tadi malam, yang menghentikan tangannya saat melepas cincin, yang menghitung hari paling cepat untuk menit dan sekarang disebut plin-plan oleh perempuan yang sama.Dinamika ini yang membuat hubungan mereka begitu menyegarkan dan sangat menghibur.}
Akhirnya Ian setuju dibuat kontrak tertulis. (Yang disepakati antara lain : Pernikahan berlangsung maksimal tiga tahun. Setelah bercerai, HuiJoo mengembalikan semua pemberian kecuali pakaian dan gelar serta pangkat kerajaan. Terakhir semua yang terjadi di antara mereka harus dijaga kerahasiaannya, jika HuiJoo tidak bisa, berpura-pura saja tidak terjadi toh semuanya hanya sandiwara tambah Ian yang terlihat mengeraskan wajahnya menahan amarah).
Saat HuiJoo dan Ian sedang bertengkar soal detail kontrak mereka, Ibu Suri tiba-tiba masuk tanpa banyak basa-basi, nyaris tidak memberi mereka cukup waktu untuk menyembunyikan draf kontrak tersebut. Ian sempat mengatur nafasnya dan mengamit jemari HuiJoo, yang terpaksa dilepaskannya agar bisa membungkuk menghormati sang Ratu terdahulu. Rupanya beliau mengundang mereka untuk makan malam bersama.
Makan malam itu, awalnya berjalan biasa. Dayang Choi dan Dayang Im melayani atasan masing-masing. Ian mengambilkan makanan ke piring HuiJoo. Ibu Suri menawarkan HuiJoo minuman keras yang sudah berusaha di tolak Ian, tapi tetap diminumnya.
Namun tentu saja, menjadi ajang bagi Ibu Suri untuk menggali kenangan buruk dari masa kecil Ian, mempertanyakan apakah ia benar-benar tidak bersalah atas kematian kakaknya, dan bertanya apakah ia juga akan menyakiti keponakannya sendiri, IYoon. Seolah topik pembicaraannya belum cukup tidak pantas, Ibu Suri melanjutkan dengan mengingatkan Ian bahwa gelar kerajaannya yang berarti "Memerintah dengan Damai", adalah pengingat dari ayahnya agar ia tidak mengganggu stabilitas mahkota.
{Ini seru, Ibu Suri menjadikan meja makan sebagai arena konfrontasi psikologis pertama Dengan HuiJoo dan Ian. Dengan senyum di wajah dan wine di tangan. GSY memainkan karakter ibu Suri dengan sangat baik, saya membencinya tapi tidak bisa berhenti menatapnya.}
Di titik ini, HuiJoo mencapai batas kesabarannya dengan tirade mabuk Ibu Suri yang tidak tertahankan itu, dan ia menarik Ian keluar dari situasi tersebut. Ia beralasan mereka harus pamit karena sebentar lagi pagar istana akan ditutup. {Saya suka banget, pertama kali HuiJoo menyentuh jemari Ian untuk memastikannya baik-baik saja lalu menggenggamnya. Ian menggenggam balik jemarinya seolah saling menguatkan}
HuiJoo berjalan dengan buru-buru di lorong istana. Meski Ian memintanya perlahan. HuiJoo melepaskan kekesalannya terhadap Ibu Suri di lorong sampai Ian harus menutup mulutnya khawatir ada yang mendengar. HuiJoo berjanji, saat ini Ia hanya menahan diri, ketika mereka sudah menikah maka Ia akan menghapuskan segala sesuatu yang menghalangi jalan Ian. Pria itu hanya tersenyum dan ketika HuiJoo cemas Ia tak percaya padanya, justru sebaliknya Ian malah minta HuiJoo mengajaknya menghabiskan malam di luar istana.
Mereka mengendarai mobil meski HuiJoo cemas karena kecelakaan baru saja mereka alami. Ian mengaku Ia suka mengemudi karena seolah terbang. Ia tak mengerti logika aturan kerajaan yang melarangnya berlari atau naik sepeda tapi tetap boleh membawa kendaraan roda empat. {Momen ini adalah salah satu favorit saya di seluruh episode. HuiJoo tidak bertanya-tanya, tidak ragu-ragu. Ia melihat Ian hancur di dalam, dan ia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal: menariknya pergi dari sumber sakitnya. Dan tatapan HuiJoo semakin dalam pada Ian.}
HuiJoo berjanji akan membawa Ian seolah terbang. Ternyata HuiJoo membawa Ian Laguna untuk naik ke yacht pribadinya. Mereka flirting habis-habisan. Apalagi saat Ian terlihat cemas tak ada seorang pun yang terlihat. HuiJoo memberitahunya untuk bersantai dan melakukan apapun yang ia mau.
Namun tidak semua berjalan mulus. Ian mengalami gangguan pencernaan, dan HuiJoo mengejutkannya dengan menggunakan kemampuan pengobatan tradisional untuk membantunya mengungkap sisi dirinya yang lebih kompeten dari yang sering diasumsikan orang.
{HA! Pangeran yang gagah perkasa itu sakit perut gara-gara makan buah mentah! Dan HuiJoo dengan tenangnya mengurus dia seperti itu sudah hal biasa. Ini adalah momen yang lucu sekaligus hangat karena di sinilah kita melihat bahwa mereka mulai nyaman satu sama lain dengan cara yang paling sederhana.}
Jauh dari batasan-batasan kerajaan, HuiJoo mendorong Ian untuk bertindak bebas. Saat mereka bersantai dan menghabiskan waktu bersama secara privat, Ian memutuskan untuk bertindak berdasarkan perasaannya.
Saat keduanya berada di atas yacht yang melaju sendiri, HuiJoo berdiri di dekat tepi kapal (berpose terbang ala Jack dan Rose di film Titanic (1998), yang membuat Ian ketakutan. Dalam momen yang menegangkan, ia meraih HuiJoo untuk mencegahnya jatuh, tapi keduanya justru kehilangan keseimbangan dan jatuh bersama ke atas sunbed yang memang sudah disiapkan. Ian berusaha menahan dampak jatuh memeluk HuiJoo yang salah tingkah
Saat gadis itu bertanya apakah tunangannya itu baik-baik saja. Ian malah mempererat pelukannya dengan penuh senyuman. Momen itu bergeser dengan cepat dari ketegangan menjadi sesuatu yang lebih intim. Ian membalikan posisi mereka.
![]() |
| Ini dari BTS |
Ian mengingatkan HuiJoo bahwa ia tadi bilang ia boleh melakukan apapun yang ia mau dan dengan lembut, ia menciumnya. Awalnya hanya kecupan dalam, tapi perlahan HuiJoo meraih tengkuknya dan balas menciumnya panjang dan lama..
{Dan di sinilah 13,4% peak rating itu terjadi. Semua orang Korea berhenti melakukan aktivitas mereka untuk momen ini. Dan jujur saja? Saya pun melakukan hal yang sama. Ciuman itu tidak dipaksakan, tidak tiba-tiba terasa artifisial. Ini adalah puncak dari dua orang yang perlahan-lahan belajar melihat satu sama lain dengan benar. Ian yang selama ini terbelenggu aturan, kini untuk pertama kalinya melakukan sesuatu murni karena ia ingin, bukan karena protokol, bukan karena strategi.}
Malam itu, sebenarnya IYoon mendatangi kamar pamannya. Ia mendengar HuiJoo pun sedang berada di istana. Hyeon yang sedang menawarkan teh bunga pada HyeJeong--tapi Dayang Choi jadi obat nyamuk pengganggu--berusaha membujuk paduka yang terlihat kecewa sampai menghembuskan nafas panjang yang berat. Mereka mencoba menanyakan ada pesan apa yang bisa mereka sampaikan. Raja kecil malah berlalu pergi dengab cemberut karena kecewa, sementara HyeJeong menggunankan bahwa sang raja sangat menggemaskan!
Epilog
Malam sebelum mengantar HuiJoo balik ke kondominiumnya, Ian sempat bertanya apakah Ia pandai menari Waltz untuk after party. HuiJoo menjawab dengan berpose pembuka dan mengaku bahwa Ia sang juara kelas paling jago belajar. Hoahaha.
Mereka berdansa berdua dibawah temaram lampu jalanan.
Review
Saya nonton episode ini sambil senyum-senyum sendiri, terus tiba-tiba serius, terus senyum lagi. Rollercoaster emosi yang sangat menyenangkan. Dan adegan akhirnya? Saya harus jeda sebentar untuk mengumpulkan nyawa dulu sebelum bisa melanjutkan hidup. Hoahaha.
Rating 11,3% area metropolitan Seoul, 11,2% nasional, 5,9% di kalangan penonton usia 20–54 tahun. Drama ini menempati posisi pertama di antara semua program Sabtu di area metropolitan Seoul dan demografis 20–54 tahun, dengan rating per menit tertinggi mencapai rekor baru untuk drama ini.
Episode ini adalah perpaduan indah antara romansa dan tensi yang mengalir dengan effortless. Dengan taruhan emosional yang semakin tinggi dan hubungan yang semakin kompleks, Perfect Crown kini berada di titik paling menariknya. Keseimbangan antara politik istana, komedi ringan, dan momen romantis yang genuine semua hadir dalam proporsi yang tepat
Adegan lamaran secara visual sangat indah untuk ditonton. Setiap tatapan dan bisikan di kerumunan ditangkap dengan brilian untuk menunjukkan betapa gilanya proposal itu berlangsung.
Adegan yacht pun memberikan napas segar di tengah isu-isu politik yang besar, kita akhirnya melihat keduanya bebas dari beban istana. Terasa seperti momen di mana cerita secara diam-diam bergeser dari strategi menuju ketulusan, bahkan ketika para karakter itu sendiri belum sepenuhnya menyadarinya. Pandangan HuiJoo yang bertahan ke arah Ian lebih lama. Dan tatapan Ian yang semakin menunjukkan rasa sayangnya pada HuiJoo itulah inti dari semua ini. Bukan kata-kata besar. Bukan deklarasi cinta yang dramatis.
Elemen kecelakaan mobil dan kematian mekanik dihadirkan dalam episode ini, tapi terasa terburu-buru. Ini adalah plot point yang penting dan layak mendapat pengembangan yang lebih dalam. Sayangnya, benang merah ini terasa sedikit terburu-buru di tengah semua momen romantis yang mendominasi episode. Sebagai penggemar genre misteri / thriller, menurut saya Perfect Crown juga sangat baik membangun rasa penasaran. Kita berusaha menebak-nebak siapa dalang dari orang yang menjadi penyebab masalah ini dan apakah ada kaitannya dengan segala permasalahan yang terjadi dengan keluarga kerajaan. (Apakah Daebi Mama? Tapi waktu kecelakaan mama Ian ya dia juga masih piyik lho ya.. atau sesuai dugaan saya diawal, faksi keluarganya yang dikomandoi tuan Inpyeong?)
Ohya, highlight dari saya adalah kesepakatan tertulis yang dibuat Ian dan HuiJoo. Selain berpotensi tersebar kita harus melihat latar belakang tercetusnya sehelai surat tersebut.
Ian marah, kecewa dan cemburu karena HuiJoo tak sengaja membocorkan pada PM Min tentang rencana mereka. Meski HuiJoo sudah minta maaf dan berusaha merasionalisasi bahwa mereka memang butuh dukungan PM Min, pernyataan keras Ian diakhir agar HuiJoo melupakan semua yang terjadi toh karena semuanya hanya pura-pura, berakar pada rasa sakit hatinya itu. Ia kecewa, sejauh ini pun HuiJoo merasa hubungan mereka transaksional walau Ian sudah effort mengambil hatinya. Tenang ini baru separuh perjalanan kan ya.. Semoga tak ada lagi miskom di masa yang akan datang karena aslinya komunikasi kedua OTP baik sekali.
Satu lagi komplain saya masih soal OST. Menurut saya OST belum ada yang grande dan membekas banget, jadi scene-nya yang spektakuler itu ya terasa begitu saja karena pengaruh OST-nya yang mau tak mau jadi ingat ya karena sering didengar saja..
_20260506_170513_0000.png)
























































Posting Komentar