Recap dan Review Perfect Crown Episode 7
Recap
Episode 7 dibuka tepat dari momen terakhir episode 6 Ian dan HuiJoo di atas yacht, setelah ciuman yang mengguncang segalanya.
Keduanya akhirnya pulang bersama ke kediaman pribadi Ian. Saat tiba, para staf menyambut mereka dengan heran karena mereka meninggalkan penjaga kerajaan. Hyeon sampai stress. Hoahaha. Ketika ditanya apakah mereka pergi ke tempat yang menyenangkan, keduanya berteriak bersamaan: "Tidak!" dengan nada canggung yang justru sangat lucu dan sikap langsung membuang muka saat tak sengaja beradu pandang, menunjukkan bahwa sesuatu yang besar jelas sudah terjadi.
Malam itu, keduanya tidak bisa tidur. HuiJoo berbaring di kamarnya, terus-menerus memutar ulang ciuman itu di kepalanya. Ia merasa seolah ia yang maju duluan, dan itu membuatnya sangat tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ia duduk, mengacak rambutnya stress (sama dengan waktu dia pertama kali mengkonfrontasi Ian di era sekolah dan takut dikeluarkan karena menghina anggota keluarga kerajaan), berusaha meyakinkan dirinya bahwa tadi mereka hanya terbawa suasana dan tadi Ia terjatuh secara tak sengaja ke pelukan Ian.
Di kamar sebelah, Ian sama sekali berbeda. Senyuman hangat mengembang di wajahnya. Secercah rasa puas, dan yang terus ia ingat bukan ciumannya, melainkan momen ia bisa memeluk HuiJoo lama, mendekatkannya ke dirinya, dan merasakan hangat tubuhnya. {Ian, eh BWS, berhasil banget menghadirkan esensi jatuh cinta Hoahahaa.}
Ian bahkan mengetuk pintu kamar HuiJoo malam itu dan memanggil namanya dengan lembut. HuiJoo yang mendengar jelas, berpura-pura tidak mendengar dan tidak menjawab.
❤
Keesokan paginya, HuiJoo mencoba kabur ke kantor sebelum Ian sempat menemuinya. Rencananya gagal total ketika ia bertemu Ian di luar dan dalam upayanya kabur, malah Ia nyaris terpeleset dari tangga. Ian dengan refleks langsung menangkapnya.
HuiJoo yang tadinya menghindari kontak mata, terpaksa menatap wajah Ian dari jarak yang sangat dekat, tepat di mata dan tepat di bibirnya. Ia langsung memalingkan wajah.
Ian memperhatikan semua itu dengan tenang dan bertanya santai: 'Ada yang mengganggu pikiranmu? Kamu sudah aneh sejak tadi.
HuiJoo bukannya mengakui, malah kabur dengan alasan hari ini pekerjaannya sangat banyak. Ia harus mengalihkan posisi CEO-nya.
Rupanya HuiJoo berpakaian serba putih demi ke gereja. HuiJoo mengakui Ia bukan bagian dari umat katolik. Tapi ia merasa sesuatu merasuki dirinya, cara ia tidak bisa berhenti memikirkan Ian, cara jantungnya berdetak tidak normal, cara ia kehilangan kendali atas emosinya. Baginya, ini harus ada penjelasan supranaturalnya.
Di gereja, ia masuk ke bilik pengakuan dosa dan... meminta eksorsisme. Sambil menawarkan sejumlah besar uang kepada gereja. Sang pastor menutup jendela bilik pengakuan di hadapannya. {Pengakuan dosa itu gratis, HuiJoo-ya. Kamu tidak bisa menyuap pastor! Saya tertawa sangat keras di adegan ini. Ini adalah humor terbaik episode 7. Komedi slapstick yang halus tapi mematikan. IU memainkannya dengan ekspresi paling serius yang justru membuatnya semakin lucu. Apalagi biasanya tokoh utama pria yang biasanya mencurigai dirinya kesurupan.Hoahaha }
Saat berjalan keluar sambil ngedumel sudah bela-belain pakai baju putih demi ke gereja, HuiJoo bertemu dengan PM Min yang segera menawarkan tumpangan ke kantor, dan di sinilah terjadi hal yang makin memperumit segalanya. Ian menelpon menanyakan kesediaan HuiJoo untuk fitting pakaian pengantin di Istana. Ian khawatir ia benar-benar sibuk tapi HuiJoo mengiyakan dan saat itulah PM Min mengajaknya pergi bersama dan Ian mendengar dari ujung panggilannya.
Pria itu tampak tertegun, sampai Hyeon harus bertanya ulang apakah Ia akan naik mobilnya. Sikap dingin Ian sempat membuat Hyeon lesu Hoahaha.
❤
Di dalam mobil PM Min, ada percakapan kecil yang sekilas terlihat biasa tapi penuh makna:
HuiJoo:"Oppa suka menyetir juga?"
PM Min:"Tiba-tiba."
HuiJoo: "Ian juga tersenyum waktu menyetir. Katanya rasanya seperti terbang." (tertawa kecil). Dia kadang kekanakan ya."
HuiJoo berkata itu sambil tersenyum sendiri, senyum refleks yang muncul tanpa ia sadari saat mengingat Ian. Ekspresi PM Min langsung berubah, rahangnya mengunci. Ia memperingatkan:
PM Min: "HuiJoo-ya."
HuiJoo:"Kenapa?"
PM Min:"Jangan terlalu terikat. Baik itu uang, reputasi, atau... hatimu. Itu hanya akan menaikkan biaya perceraian nantinya."
HuiJoo:(mencibir) "Memangnya Oppa pikir aku bodoh?"
{Adegan ini adalah perbandingan dua karakter yang sangat cerdas dari penulis. PM Min mengingatkan HuiJoo untuk melindungi hatinya dari Ian. Sementara itu, Ian justru menawarkan hatinya bulat-bulat kepada HuiJoo. Dua pria, dua pendekatan yang berlawanan total. Dan saya serta semua penonton tahu, pendekatan mana yang lebih menyentuh hati.}
❤
Dalam sebuah flashback yang mencekam, kita menyaksikan momen di mana Ibu Suri memberi tahu ayahnya, bahwa mendiang Raja telah menulis sebuah titah kerajaan, ia ingin menurunkan Putra Mahkota dari tahtanya dan menyerahkan kekuasaan kepada Ian. Dokumen itu sudah diberi stempel kerajaan.
Lalu tibalah momen yang paling mengejutkan. Ketika Tuan Inpyeong menemui putrinya yang sedang menangis pili
Tuan InPyeong: "Apa yang kamu lakukan sebenarnya?!"
Ibu Suri: "Aku... membakar semuanya hingga rata dengan tanah.
Tuan InPyeong sendiri terlihat terkejut dan ngeri mendengar pengakuan anaknya. Ini bukan rencananya. Ibu Suri bertindak sendiri membakar titah kerajaan itu, dan dalam prosesnya, menyebabkan kebakaran yang merenggut nyawa sang Raja.
{Ini adalah plot twist yang tidak terduga. Selama ini kita mengira Tuan InPyeong adalah dalang di balik semua intrik Ibu Suri. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Ibu Suri-lah yang ambisius. Ibu Suri-lah yang memilih tahtanya atas nyawa suaminya sendiri. Dan ia melakukan itu semua "demi Putra Mahkota." Tingkat delusi seorang villain yang bisa membenarkan kejahatan terbesar dengan alasan kasih sayang... ini mengerikan.}
Kejutan besar episode ini: Ian ternyata menyimpan titah kerajaan almarhum sang Raja yang tidak sepenuhnya terbakar itu. Dokumen itu masih ada, lengkap dengan stempel kerajaan, bukti bahwa sang Raja ingin Ian yang mewarisi tahta.
Ian sudah menyimpan ini selama tiga tahun. Ia memilih diam, menunggu momen yang tepat untuk menuntut haknya. {Tiga tahun Ian membawa rahasia itu sendirian. Sambil berpura-pura tidak tahu. Sambil melihat Ibu Suri mengatur-atur kerajaan seolah ia yang paling berkuasa. Ini bukan seseorang yang lemah. Ini seseorang yang sangat sabar dan strategis. Dan kesabaran itu kini perlahan-lahan mulai berbuah hasil, dimulai dari rencananya menerima lamaran HuiJoo, selain demi cinta (of course!) juga karena dia tahu HuiJoo akan mendukungnya menjadi Raja}
❤
Di istana, Raja IYoon diminta memilih tanggal pernikahan Ian dan HuiJoo. Sang Raja yang jelas-jelas sayang kepada pamannya serta calon bibi barunya, ingin memilih tanggal paling dekat supaya pernikahan segera terlaksana.
Ian yang datang berkunjung memintanya untuk memberi sedikit waktu, karena bagi Ian, pernikahan ini kini terasa menjadi sesuatu yang nyata dan bukan sekadar formalitas kontrak. {Adegan kecil ini memberikan dimensi yang menarik. Ian yang tadinya memandang pernikahan ini sebagai strategi, kini mulai merasakannya dengan berbeda. Ia butuh waktu, bukan untuk mempersiapkan logistik, tapi untuk mempersiapkan hatinya.dan HuiJoo. Ingat semakin lekas mereka menikah maka semakin lekas juga perceraian terjadi}
❤
HuiJoo mengajak HyeJeong mengunjungi outlet dengan penjualan barang mewah tertinggi. Ia memperingatkan manajernya, meski ia mundur sebagai CEO, ia akan tetap mengawasi margin penjualan. (PP perhiasan mewah dimana IU adalah BA-nya).
TaeJoo datang bersama istrinya. Ia malah mengajak DaYeong melihat-lihat produk terbaru kala HuiJoo dengan kasual berjanji akan menyerahkan tampuk kepemimpinan Castle Beauty padanya. Pasutri itu menerima berita ini dengan gembira.
Diperjalanan HyeJeong sempat mempertanyakan strategi HuiJoo yang memilih sang Abang dibanding membayar CEO profesional. HuiJoo menyahut ini merupakan langkah cerdas, ayahnya dan para pemegang saham dalam dewan Castle Grup harus melihat kinerja nyata TaeJoo sehingga mereka tak bisa menyangkal lagi bahwa calon pewaris Castle Grup harus dirinya, Seong HuiJoo bukan orang lain apalagi TaeJoo.
❤
Setelah tiba di istana, HuiJoo nampak enggan melangkah sampai harus dibimbing HyeJeong Hoahaha.
Ian dan HuiJoo akhirnya bertemu untuk mencoba pakaian pernikahan mereka bersama. HuiJoo terus menghindari kontak mata dengan Ian sepanjang sesi fitting. Ia berpura-pura sibuk mengagumi perhiasan kerajaan yang disiapkan Dayang Choi dan pengurus kerajaan lain.
Namun Ian tidak membiarkannya. Ian mengulurkan tangannya yang mendekat untuk merapikan helaian rambut HuiJoo yang terselip di kerah hanbok-nya, matanya yang terus mencari tatapan HuiJoo membuat HuiJoo semakin gelisah.
Dayang Choi dan HyeJeong mengiranya jatuh sakit dan demam. Hyeon heboh memanggil dokter kerajaan sementara Ian hanya senyum-senyum menyadari HuiJoo salah tingkah karena ciuman semalam.
HuiJoo mencoba mengkode HyeJeong untuk segera meninggalkan istana ke jadwal mereka berikutnya tapi Hyeon menjelaskan selanjutnya HuiJoo ada pemerikasaan kesehatan dan besok mereka akan mengunjungi keluarganya.
HuiJoo semakin panik apalagi setelah Hyeon menjelaskan ini bagian prosesi lamaran resmi dan HyeJeong pun sudah menerima konfirmasi dari ayahnya.
HuiJoo nampak ragu-ragu ingin menghubungi sang ayah, namun ia keburu dipanggil Dayang Choi untuk diperiksa kesehatan dan kesuburannya. HuiJoo makin panik hingga denyut nadinya meningkat kala Dayang Choi menjelaskan tahapan malam pertama yang biasanya dipersiapkan bagi keluarga kerajaan. Ian yang memahami Huijoo minta waktu berbincang berdua saja.
Ian mencemaskan sikap anehnya sejak mereka berciuman semalam.
HuiJoo: "Kamu yang aneh. Kamu tiba-tiba manis sekali. Di depan semua orang tadi kamu menyingkirkan rambut di mukaku. Dan matamu... kamu terus menatapku dengan mata rusa itu."
Ian menjawab tenang : "Mataku tidak pernah berubah."
{Perhatikan kalimat Ian: "Mataku tidak pernah berubah." Ini bukan sekadar sanggahan. Ini pengakuan terselubung bahwa ia sudah memandang HuiJoo dengan cara itu sejak lama, bahkan sejak zaman sekolah. Dan HuiJoo melewatkannya begitu saja karena ia tidak dalam mode "menerima perasaan". Sayang, HuiJoo tak peka.}
HuiJoo mencoba kembali menjadi dirinya sendiri dan bersikap acuh. Ia merasionalkan kejadian itu karena mereka terbawa suasana. Tapi Ian menatap tajam, menegaskan bahwa dia hanya menciumnya, karena dirinya adalah HuiJoo sang Junior.
❤
Di tengah ketegangan itu, Ibu Suri yang mendengar sikap aneh keduanya dari datang Im mengajak "berjalan-jalan" bersama Ian. Ia mencoba lagi menggoyahkan keyakinan Ian:
Ibu Suri:"Kamu dan HuiJoo berasal dari dunia yang berbeda. Akan sulit bagi kalian untuk mencapai keselarasan yang sempurna."
Ian menjawab dengan tajam: "Kamu dan kakakku berasal dari dunia yang sama. Tapi kalian jauh dari bahagia."
Ibu Suri terdiam. Dan kita pun melihat kilas balik itu tentang betapa sepi dan terabaikannya ia dulu sebagai istri Putra Mahkota.
Dulu, Ibu Suri dan Ian sebenarnya memiliki hubungan yang hangat. Ian sering menggantikan tugas kakaknya, Putra Mahkota IHwan, yang sering "kabur" dari tanggung jawab kerajaan. Ian-lah yang menemani Ibu Suri dalam berbagai acara resmi saat sang kakak tidak hadir. Kita jadi paham bahwa bukan pertama kalinya IHwan kabur dari tugasnya. Meski tahu akan dihukum, Ian yang dengan rela menemani Ibu Suri sebagai penggantinya.
Ada kehangatan di antara mereka saat itu. Tapi semua berubah ketika sang Raja hendak menyerahkan tahta kepada Ian.
Percakapan itu berakhir dengan pertanyaan Ibu Suri yang terdengar seperti kalimat pamungkas: "Adakah kebahagiaan dalam sebuah pernikahan kerajaan?"
Ian tidak menjawab dengan kata-kata. Ekspresinya cukup berbicara: bahwa ia akan membuktikan bahwa jawabannya adalah ya dan nama orang yang akan membuktikannya bersama dia adalah HuiJoo.
Mewujudkan perkataannya, keesokan harinya dengan ditemani Hyeon, Ian mendatangi kantor PM Min tanpa pemberitahuan. Intensinya nyata, ia ingin memperjelas posisinya yang menyukai HuiJoo dan mereka menikah lebih dari sekedar kepentingan politik. Jadi PM Min harus bisa menjaga sikapnya mulai dari sekarang.
Dasarnya PM Min emang cool, beliau tak bereaksi berlebihan. Ia bertanya apakah HuiJoo tahu perasaan Ian dan hanya berpesan agar Ian tak mengacaukan kehidupan HuiJoo yang sudah berat, karena yang dicari HuiJoo dalam pernikahan ini bukan romantisme.
Ian keluar dari kantor PM sambil mempertanyakan keberadaan HuiJoo. Hyeon menjelaskan kesibukannya sambil mencemaskan nona Do. Hoahaha
Diperjalanan, Ian mengirim pesan agar HuiJoo tak melewatkan makan dan mengomentari baliho iklannya yang sudah diturunkan. Ia tetap harus mencari uang sebanyak mungkin saat masih sempat. HuiJoo uang yang membacanya hanya tersenyum simpul, kehilangan fokus di rapat internal tim eksekutif sampai HyeJeong harus menegurnya Hoahaha.
❤
Sebelum upacara resmi pernikahan, Hyeon mendatangi rumah HuiJoo. Ia disambut TaeJoo (yang mencoba style berponi ala Ian Hoahaha), DaYeong dan ayahnya.
Hyeon menyerahkan gulungan titah paduka pada ayah HuiJoo yang menerima dengan takzim. Sayang, tak lama kemudian beliau langsung mengomel agar Hyeon bicara lebih cepat karena Ia sudah terlanjur menunda dua rapat penting untuk agenda ini.
❤
Keesokan harinya Ian dan HuiJoo mengunjungi rumah keluarga HuiJoo untuk makan malam bersama. Sejak di mobil HuiJoo terlihat murung. Ia semakin panik saat Hyeon memberi briefing singkat tentang apa yang akan dihadapi dan durasi kunjungan yang sampai empat jam lamanya. Kalau terlalu cepat akan jadi omongan sementara jika terlalu lama maka anggota keluarga kerajaan lain akan cemburu
Di halaman rumah, TaeJoo dan istrinya DaYeong sangat antusias menyambut Ian. Meski mereka sempat cemas ayah akan kembali bersikap garang seperti kemarin. TaeJoo bahkan hampir menangis haru ketika Ian dengan tulus memanggilnya hyungnim, sebutan yang sangat hangat dan tidak terduga dari seorang pangeran. Sementara ayah HuiJoo, HyeonGuk tetap mempertahankan formalitas dan wajah stoik-nya.
Di meja makan, percakapan di mulai dari Taejoo yang mengaku sebagai CEO Castle hotel dan memanggil chef hotel untuk menyiapkan semua hidangan ini. HuiJoo telah menegur sang oppa, tapi beliau yang sepertinya sudah agak mabuk malah melantur ke mantan pacar HuiJoo. Ia heran sejak kapan Ian dan HuiJoo berpacaran karena mantan HuiJoo biasanya sangat kurus (anggota Idol kan), sementara Ian berbahu bidang nyaris selebar meja makan Hoahaha.
DaYeong berusaha menjelaskan maksud suaminya, bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi.
Sang ayah tiba-tiba bersikap protektif dan penuh perhatian terhadap HuiJoo, bertanya kepada Ian apakah ia akan menjaga putrinya dengan baik di istana. Sikap fatherly yang terasa sangat asing itu justru menyakiti HuiJoo.
Bagi HuiJoo, kepedulian itu adalah kepalsuan. Selama bertahun-tahun, sang ayah tidak pernah menunjukkan jenis perhatian itu. Termasuk saat baru-baru ini ia mengalami lakalantas. Dan sekarang, di depan seorang pangeran, tiba-tiba ia berpura-pura menjadi ayah yang baik?
Lalu ia mempertanyakan hadiah pernikahan untuknya, mengigat ketika TaeJoo menikah sang ayah memberikan banyak kado untuk kelurga besan. Mulai dari gedung sampai saham Castle Grup. HuiJoo mengusulkan ayahnya memberi sumbangan yang sangat besar untuk istana.
Abangnya sempat menegur, sikapnya membuat Ian tak nyaman. Meski yang dibicarakan tak menunjukkan reaksi nyata. Namun ketika HuiJoo akhirnya tidak tahan dan meninggalkan meja makan, Ian mengikutinya ke kamar masa kecilnya, yang penuh dengan piagam dan penghargaan.
HuiJoo memandangnya dengan ekspresi setengah bercanda, setengah jutek:
HuiJoo: "Kenapa? Kamu menyesal karena keluargaku berantakan?"
Ian menjawab dengan cara yang paling mereka banget: "Kamu punya ingatan yang buruk. Kalau kamu ingat apa yang Ibu Suri katakan kepadaku, tidak mungkin kamu bilang itu. {Momen kecil ini adalah salah satu yang paling saya sukai. Mereka sama-sama memahami keluarga mereka disfungsional. Dan dengan itu, beban HuiJoo sedikit terangkat. Inilah pasangan dengan level komunikasi yang baik, bukan saling menghibur dengan kebohongan manis, tapi saling mengingatkan kenyataan dengan cara yang penuh kasih.}
Ian nampak senang bahwa calon ayah mertua juga menyukainya. HuiJoo mengingatkannya dibalik sikap tersebut beliau hanya kalkulatif, sudah menghitung keuntungan apa yang bisa diperoleh dari menjadi besan kerajaan.
Ian berbicara dengan jujur dan langsung: bahwa Ia tak peduli selama Ia tulus.
HuiJoo pun to the point menanyakan perasaan Ian yang sesungguhnya
Ian: "Aku menyukaimu. Dan ini pertama kalinya bagiku. Keinginan selalu diikuti pengendalian diri. Tapi kali ini tidak mudah."
HuiJoo terdiam, tidak mampu merespons.
Ian: "Kenapa? Kamu menyesal? Khawatir aku tidak akan menceraikanmu?"
HuiJoo: "Akankah begitu ?"
Ian:"Jangan khawatir. Aku tidak ingin mengikatmu padaku. Kamu tinggal terima semuanya. Baik itu uang, kehormatan, atau hatiku."
HuiJoo yang tidak mau kalah, menjawab dengan gaya khasnya: "Aku selalu punya lebih banyak uang daripada kamu."
Ian:"Selalu?"
HuiJoo: "Selalu punya."
Ian: "Selalu punya?"
HuiJoo:"Dan selalu akan punya."
Mereka tersenyum bersama
{Ini adalah HuiJoo versi terbaik. Di saat pria yang ia suka baru saja mengaku perasaan dengan cara paling tulus dan menggemaskan, ia membalas dengan... adu kekayaan. Tapi lihat lebih dalam, ini cara HuiJoo bilang "oke". Ini cara dia menerima tanpa kehilangan dirinya sendiri. Dan Ian tahu itu. Senyumnya di ujung percakapan ini adalah senyum seseorang yang tahu ia sudah menang.}
Di perjalanan, Ian hendak menggenggam jemari HuiJoo yang duduk di sebelahnya. Namun tepat saat itu ponsel HuiJoo berdering, dari PM Min. HuiJoo mengangkatnya atas persetujuan Ian. Rupanya beliau ingin tahu kelancaran acara kunjungan tersebut langsung dari Ian jadi HuiJoo menghidupkan pelantang suara. Ian bergurau ayah mertuanya menyayanginya tapi PM Min hanya tertawa dan malah mengobrol tentang reaksi anggota keluarga dengan HuiJoo yang balas balik membahas tentang kebimbangannya menyerahkan tampuk CEO Castle Beauty pada sang Abang. Ian menyadari keakraban mereka dan nampak tak suka mendengar tawa HuiJoo membicarakan kesehariannya dan terlihat memperhatikan PM Min.
Ian mengantar HuiJoo kembali ke kediaman pribadinya. Tapi masih sempat flirting menggoda HuiJoo yang dijadikan bahan ledekan oleh para staf rumah. HyeJeong membocorkan, saking groginya, para staf sampai belum makan malam karena menunggu kabar baik dari kunjungan ini.
HuiJoo mengajak mereka makan malam, barbeque ala Korea. Keakraban segera memenuhi meja makan. Semua tertawa bahagia kecuali AhReum yang terlihat gelisah sampai tak menyentuh makanannya sampai HyeJeong menawarinya potongan daging panggang.
❤
Pagi hari sebelum upacara dimulai, PM Min menelepon HuiJoo untuk bertanya apakah Ia tak akan membatalkan pernikahannya. Pertanyaan itu sarat dengan berbagai makna, sebagai teman yang khawatir, sebagai pria yang memendam perasaan, dan sebagai orang yang tahu kontrak di balik pernikahan ini.
HuiJoo menjawab hanya dengan gurauan tapi dari nada suaranya yang tenang dan mantap, jawabannya sudah jelas, ia mantap menikahi Ian.
{PM Min, kamu adalah karakter yang kompleks dan menyedihkan sekaligus. Kamu tahu kamu sudah kalah. Tapi kamu tetap menelepon. NSH memainkan karakter ini dengan lapisan-lapisan emosi yang halus, tidak pernah berlebihan, tapi selalu terasa.}
Ibu Suri yang berpapasan dengannya sempat memberikan peringatan bahwa Ia hanya menunggu PM Min lepas kendali, karena biasanya amarah terpendam akan meledak dengan lebih dahsyat. (Gile ini gashlishting Daebi Mama luar biasa! Benar-benar memanfaatkan kelemahan PM Min yang diketahuinya mencintai HuiJoo untuk menjatuhkan pasangan Ian-HuiJoo).
Kembali di Ahnwandang, kakak iparnya datang lalu dengan cara yang menggemaskan memeriksa persiapan pernikahan. Sebagai keturunan bangsawan, ia merasa berhak agar semua sesuai standar istana.
Ia, TaeJoo dan ayahnya terpesona melihat kecantikan HuiJoo dalam balutan busana pernikahan tradisional. (Tapi TaeJoo tetap menggombal bahwa istrinya lebih cantik. Hoahaha.)
DaYeong jugalah yang menggantikan posisi ibu mertuanya, berdiri bersama ayah mertuanya di samping altar Sementara HyeJeong menjadi salah seorang pendamping HuiJoo saat berjalan menuju altar pernikahan.
HuiJoo tampil memukau dalam pakaian pengantin tradisional kerajaan, sayang karena sangat berat, ia sempat tersandung di depan meja persembahan. Ian yang melihatnya melangkah masuk ke aula upacara tidak bisa menyembunyikan ekspresinya kagum, geli melihat tingkahnya dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar itu.
Ayah HuiJoo bangkit memberikan kata-kata perpisahan. Ia menatap putrinya dan berkata dengan nada yang berat namun penuh makna : "Jangan menunduk. Itu membuatmu terlihat lemah."
Kata-kata yang membuat HuiJoo masih tetap cemberut dan curiga di momen paling sakral. HuiJoo menatap ayahnya, dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang bergetar di matanya.
Di penghujung upacara, Ian dan HuiJoo meminum wine seremonial dari cawan yang sama, ritual yang melambangkan penyatuan dua jiwa. HuiJoo sempat terbatuk sampai membuat Ian khawatir.
Pasangan pengantin itu kemudian keluar diarak menuju istana untuk berparade di hadapan rakyat yang bersuka cita. Sorak sorai menenggelamkan kenyataan bahwa dua orang yang datang dengan kontrak tiga tahun, kini berdiri sebagai suami istri di hadapan seluruh negeri.
Para staf kediaman pribadi menonton siaran langsungnya di televisi. Pengurus Kim dan adiknya sampai menangis haru. Mereka bangga Pangeran mereka sekarang sudah dewasa. Semua bahagia, mereka bersulang dengan minuman ringan kalengan kecuali AhReum yang nampak lebih gelisah dari semalam.
Setelah parade, pasangan pengantin tiba di istana. Disambut oleh Dayang Choi dan para abdi lain yang menyampaikan rasa suka cita. Mereka memasuki Aula Besar Iuntuk disambut oleh para pejabat kerajaan, termasuk PM Min yang memberikan sambutan resmi. (Suaranya tercekat dan bergetar, namun akhirnya Ia berhasil mengucapkan selamat untuk gadis yang dicintainya dan sahabatnya sendiri).
Para tamu, termasuk Ibu Suri dan PM Min, menyaksikan dari kursi kehormatan mereka keduanya dengan ekspresi yang sangat berbeda dari para tamu yang tersenyum bahagia.
Dan saat itulah...
HuiJoo tiba-tiba batuk, terhuyung dan jatuh pingsan.
Ian langsung berlari menangkapnya sebelum ia menyentuh lantai. Kepanikan meledak di ruangan. Para dokter kerajaan segera dipanggil.
Epilog
Ian kembali menjawab pertanyaan sekaligus penyataan PM Min dengan mengajukan pertanyaan sekaligus pernyataan mendalam : jika HuiJoo menikahinya hanya karena status, kenapa belasan tahun ke belakang Ia tak melakukannya dengan PM Min. Jadi ia melihat sesuatu yang lebih dalam hubungan mereka, sesuatu yang tidak ada dan tidak akan pernah ada dari hubungannya dengan PM Min sendiri.
Review
Meski genrenya rom-com, mau tak mau kita harus membahas politik istana. Berbeda dengan saat merekap Bon Appetit You Majesty dimana saya dibuat kesal sekali dengan lemahnya Heon yang tak kunjung mendapat Intel soal pergerakan Pangeran Jesan, kali ini Perfect Crown terutama Ian lebih maju satu langkah.
1. Ian tahu siapa mata-mata di kediaman pribadinya. Memecat AhReum bukan solusi--yang juga disadari HyeJeong--jadi mereka hanya harus mengawasi dengan ketat. Sikap gelisahnya yang nyata sangat mencurigakan. Ia terlihat tidak bisa makan ketika mereka pergi ke barbeque. Besoknya pun ia tampak hendak menangis ketika Pengurus Kim dengan bangga menyebut bahwa lipstik pengantin HuiJoo menggunakan "koral merah muda. Apakah ada kemungkinan ia mengoleskan racunnya disana?
Lalu siapakah dalangnya?
A. Ibu Suri: Setelah melihat flashback kebakaran yang menewaskan raja IHwan, kemungkinan besar memang bersumber dari kecerobohannya yang membakar gulungan titah.
Kali ini, ia punya akses kekuasaan paling besar. Dan dari semua orang, ia punya alasan paling kuat untuk tidak ingin Ian atau HuiJoo hidup. Bila benar ia tega menyingkirkan suaminya, apalah lagi cuma adik ipar dan istrinya. Dengan catatan, selama ini Ia malah mau melimpahkan tragedi kebakaran itu pada Ian. Gashlishting final boss. Hoahaha. Terlihat pula saat Ia memanas-manasi PM Min dengan cara serupa.
Yang agak meragukan adalah reaksi terkejutnya yang terlihat genuine kala HuiJoo pingsan.
B. PM Min: Ia juga tak menyukai Ian terutama setelah 'dilabrak' secara terbuka oleh temannya itu di kantornya sendiri. Tapi kecil kemungkinan Ia sengaja ingin mencederai HuiJoo, termasuk Ian yang diketahuinya hanya berhubungan sementara dengan sang pujaan hati. Apalagi ia baru satu periode dan berpeluang maju di putaran kedua.
C. Tuan Inpyeong: diperankan oleh seorang tokoh yang langganan memainkan pihak antagonis, wajar bila banyak penonton termasuk saya cenderung masih curiga padanya. Terutama sikap diamnya setelah mengetahui bahwa putrinya sendiri telah mengakibatkan kebakaran besar di istana. Dari segi usia, beliau memungkinkan menjadi pihak yang terlibat dalam kecelakaan Baginda ratu maupun raja terdahulu (orang tua Ian).
D. Pihak lain : masih jadi tebak-tebakan antara pihak keluarga HuiJoo sampai tokoh anti-monarki lain yang belum muncul
2. Ian menyimpan gulungan resmi titah paduka raja, abangnya yang ingin mengundurkan diri dan menyerahkan tampuk kekuasaan sebagai raja kepada dirinya. Inilah lapisan Ian yang paling dalam. Selama ini ia diam demi keponakannya. Sekaligus menekankan esensi ucapannya di episode dua saat HuiJoo bertanya alasan Ian menikahinya: Ia berniat menjadi raja dan ia yakin Huijoo tidak akan menghujat serta malah mendukungnya.
3. Ian langsung menyatakan perasaan pada HuiJoo lalu mengkonfrontasi PM Min. Dan pernyataan Ian di Epilog menjelaskan dengan baik bondingnya dengan HuIjoo. Lebih dari cinta yang passionate, hubungan mereka didasari oleh mutual respek dan kesadaran bahwa mereka masing-masing memiliki kelebihan yang memang diinginkan dan dicari selama ini. Mereka mencari aliansi yang sama-sama memahami luka batin yang pernah mereka rasakan sekaligus penguatan dari sikap pasangan yang juga punya sisi rebel dan kegilaan masing-masing 🤣😂.
Ibarat dalam konsep Islam sakinah, mawadah, warahmah. Mereka sekufu, chemistry luar biasa dan rasa sayang perlahan tumbuh satu sama lain. Mereka bertumbuh menjadi diri mereka yang terbaik saat bersama-sama.
Satu lagi, sebagai cewek yang punya banyak pilihan (termasuk menurut ayahnya lebih baik HuiJoo menikah dengan seseorang yang berada dibawahnya agak Ia yang lebih 'berkuasa') sejak awal, HuiJoo YAKIN Ian adalah calon suami yang ia butuhkan. Keyakinan ini yang sulit lho.. Pacaran bertahun-tahun pun masih bisa bimbang.
Ngomongin soal keyakinan, yang tampak paling tak yakin dengan pernikahan ini justru bukan pihak Kerajaan tapi pihak Keluarga HuiJoo.
Ayahnya mendadak jadi protektif, menitipkan HuiJoo pada Ian. Apakah sebenarnya aslinya dia sayang anaknya tapi kurang menampakkannya karena kedatangan HuiJoo menyebabkan istrinya meninggal? (Makanya ia juga merasa bersalah pada TaeJoo jadi ingin menebusnya dengan menyerahkan Castle Grup padanya).
Sebagai catatan, beliau tak pernah menikah lagi. Semua waktunya untuk bekerja. Nampaknya Castle Grup juga konglomerasi yang aman dan jujur karena tak ada satupun pihak Kerajaan yang mengungkit kaitan HuiJoo dengan Castle. Malahan HuiJoo mendapat anugrah sebagai pengusaha muda terbaik dari kerajaan.
Meski berkali-kali ingin diundang istana melalui sumbangan, ayahnya (sejauh ini) tidak menampakkan koneksi jalur ordal dengan istana. Ketika ingin memasang mata-mata yang bisa diandalkan HuiJoo di istana pun yang diandalkannya adalah lewat DaYeong, menantu yang memang saling mencintai dengan anaknya.
Menarik melihat dinamika keluarga HuiJoo apalagi ibu kandungnya belum muncul.
Terakhir, saya lumayan suka scoring episode ini. Apalagi pas adegan pernikahan itu ada juga akhirnya musik tradisional Korea tapiii malah efek CGI di episode ini yang agak kurang. Contoh jelas saat adegan PM Min jalan ke istana, duh itu awannya Hoahaha banget deh (ada yang bilang mirip backdrop ruang latihan tari milik agensi SM zaman dulu) sama semua adegan berkendara itu CGI semua pemandangan luar jendelanya (dan ga begitu bagusðŸ˜).
_20260508_145512_0000.png)












































Posting Komentar