" ".

Recap dan Review Perfect Crown Episode 8

Table of Contents


Sinopsis 

HuiJoo dan Ian saling menatap saat memasuki gerbang Balairung Agung. PM Min menyampaikan ucapan selamat dan saat HuiJoo akan menjawab dengan ucapan terimakasih, HuiJoo terbatuk lalu pingsan di depan para pejabat kerajaan tepat saat menghadap ke Baginda Raja sebagai  bagian dari tuntutan upacara pernikahan adat. Semua orang syok, Ibu Suri langsung memerintahkan dayang Jung membawa raja serta memanggil dokter kerajaan. 

PM Min berusaha mendekati HuiJoo tapi Ian langsung bereaksi. Ia menangkap HuiJoo sebelum tubuhnya menyentuh lantai, lalu berdiri menghadapi seluruh ruangan dengan ekspresi yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, bukan ekspresi pangeran yang tenang dan terukur, tapi ekspresi seorang pria yang ketakutan kehilangan.

Ia berteriak kepada seluruh staf dan pejabat yang ada: "Tidak ada yang boleh menyentuh istriku. Siapapun yang bertanggung jawab atas ini. Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja."

Ian langsung menggendongnya sendiri  dan berteriak memanggil Hyeon, menyuruhnya menghubungi ayah HuiJoo. Mereka membawanya ke mobil yang kemudian dengan kesepakatannya memerintahkan pengawal kerajaan membawa HuiJoo ke Rumah Sakit milik Castle Grup bukan Rumah Sakit Kerajaan. Sebuah keputusan yang sangat politis sekaligus taktis. Ian tidak mempercayai lingkungan istana saat ini. Di rumah sakitnya sendiri HuiJoo aman dalam perlindungan keluarganya.

PM Min bergerak cepat, ia memerintahkan agar jalanan dikosongkan dan konvoi bergerak dalam hitungan detik. {Adegan pembuka ini adalah Ian versi yang paling kita inginkan. Tidak ada protokol. Tidak ada kalkulasi politik. Hanya seorang pria yang mencintai istrinya dan tidak peduli siapa yang melihatnya. Dan ia berlarian menggendong HuiJoo, sesuatu yang terlarang bagi keturunan bangsawan Kerajaan}

Ian menemani HuiJoo sampai diusir paramedis yang bersiaga menyelamatkannya. Tak lama keluarga HuiJoo yang terdiri dari ayah, abang dan kakak iparnya datang dengan wajah penuh kepanikan.



Dokter segera memberikan penjelasan bahwa HuiJoo diberikan obat yang bukan miliknya dalam dosis berlebih. Jika tidak ditangani tepat waktu, ini bisa berakibat fatal.

TaeJoo sempat mengomel nyaris kena serangan jantung tapi lega setelah mendengar lebih lanjut bahwa HuiJoo tidak terancam jiwanya hanya butuh detoksifikasi menyeluruh. 

Namun tidak dengan Ayahnya, HyeonGuk berbalik kepada Ian dan menamparnya. Keras. Di depan semua orang. 

Ian tidak mengelak. Ia menerima tamparan itu sambil berdiri tegak. Semua pengawal kerajaan segera bergerak mendekat dengan siaga termasuk Hyeon tapi Ian memerintahkan mereka mundur.

Ayah HuiJoo berbicara sambil menatap mata menantunya itu dengan suara rendah tapi penuh ancaman "Kamu harus menemukan siapa yang bertanggung jawab. Jangan biarkan ini berlalu."

Ian menatap ayah mertuanya dengan ekspresi yang hanya bisa dibaca satu cara: "Aku tidak akan."

{Tamparan itu adalah hal yang paling manusiawi yang dilakukan seorang ayah sepanjang drama ini. Dan Ian menerimanya tanpa sepatah kata pun pembelaan diri. karena ia tahu bahwa ayah istrinya itu benar. HuiJoo hampir mati di hari pernikahannya. Di bawah perlindungannya. Dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah dengan argumen manapun. Apalagi Sang ayah memang menentang pernikahan mereka, setelah terpaksa setuju pun, Ia menitipkan HuiJoo padanya}

Ian langsung melancarkan investigasi menyeluruh ke seluruh istana dan kediaman pribadi. Ia menugaskan PM Min sebagai kepala penyelidikan. Keputusan yang menarik, mengingat PM Min sendiri adalah salah satu dari sedikit orang yang punya akses.

Tidak ada yang boleh meninggalkan kediaman pribadi sampai diperiksa. Tidak ada yang dikecualikan.

Di kediaman pribadi Ian, HyeJeong--yang terlihat hendak menangis--menyampaikan instruksi, tidak ada staf yang pergi ke rumah sakit atau keluar rumah. Semua tetap di sini dan menunggu giliran pemeriksaan. Amankan semua yang digunakan dalam ritual pernikahan tadi.

Di sudut ruangan, AhReum berdiri dengan wajah pucat. Tubuhnya gemetar. Dan siapapun yang memperhatikan bisa melihat bahwa getaran itu bukan hanya dari cemas dengan keselamatan HuiJoo tapi ada sesuatu yang lain.

PM Min yang ditugaskan Ian sebagai kepala penyelidikan langsung melakukan pemeriksaan awal kepada seluruh staf. Tapi sebelum itu, ia sempat mencari keberadaan  Ian di koridor. Dengan nada dingin yang jarang ia tunjukkan, ia mengingatkan Ian bahwa Ia  sudah memperingatkan temannya itu. Bahkan satu hari setelah pernikahan pun Ian tidak bisa menjaga HuiJoo

Ian tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.{Kalimat PM Min itu menyakitkan karena benar. Dan Ian tahu itu. Tapi yang menarik adalah kalimat itu juga terdengar seperti kalimat seorang pria yang memendam rasa sakit, bukan sekadar kepala penyelidikan yang profesional. PM Min, kamu tidak bisa menyembunyikan perasaanmu sebaik yang kamu kira.}

Ian menegaskan Ia mengizinkan penyelidikan publik ke istana

Sementara itu, di kediamannya, Ibu Suri--yang ternyata sangat terampil bermain piano--mendapat informasi dari dayang Im soal HuiJoo. Ia nampak benar-benar terkejut ipar barunya diracuni.

Saat PM Min datang menyampaikan perintah Ian, ia pun bereaksi keras menolak keluarga kerajaan juga diinterogasi.

PM Min memintanya mengizinkan polisi memasuki istana dan mengingatkannya posisi Ian selaku wali raja / king's regent.


Selanjutnya PM Min memberi pernyataan pada pers bahwa penyelidikan dilakukan secara adil oleh pihak berwenang. Untuk pertama kalinya istana diselidiki secara terbuka. Sesuatu yang mengherankan bagi publik terutama DaYeong dan suaminya yang nonton berita itu dari televisi sambil menunggui HuiJoo di kamar rumah sakit.

HuiJoo sadar dan Hyeon segera menghubungi HyeJeong--yang masih di kantor polisi setelah diinterogasi bersama seluruh staf kediaman pribadi Ian. Dayang Choi yang menerima informasi tersebut segera melaporkannya pada Ian yang sedang berdoa dihadapan altar kedua orang tuanya. Ia sempat meragukan apakah ini hukuman karena ambisinya, tapi langsung berlari secepat mungkin begitu mendengar HuiJoo sadar.

Ian berlarian termasuk saat ke kamar HuiJoo. Ketiga orang yang ada di ruangan diam-diam meninggalkan mereka.



Lalu ia meraihnya dan memeluknya erat, pelukan yang tidak meminta izin, yang tidak mempertimbangkan apapun, yang tidak peduli siapa yang melihat.

"Aku pikir aku akan kehilanganmu."

HuiJoo yang terkejut dengan intensitas pelukan itu tidak langsung membalas. Tapi tangannya perlahan naik dan membalas pelukan itu pelan, ragu, tapi nyata. Bahkan HuiJoo menepuk perlahan punggung suaminya.

{Reaksi HuiJoo yang menerima pelukan Ian yang menangis dan menepuk punggungnya sambil menenangkannya. Ekspresi nangis BWS dan suaranya yang sedikit bergetar itu adalah hal yang paling jujur yang pernah ia ucapkan. Menurut saya adegan ini dibuat dengan sangat indah tidak berlebihan, tidak melodramatik. Cukup dua tubuh yang akhirnya jujur satu sama lain}

Sayang momen itu terhenti dengan kedatangan PM Min yang memanggilnya untuk menjalani pemeriksaan sebagai bagian dari protokol investigasi. Sebelum pergi, ia berpesan pada Hyeon untuk menjaga istrinya.

Saat diperiksa penyidik polisi, Ian tidak berputar-putar. Ia langsung menyatakan apa yang sudah ia yakini:

"Aku percaya aku adalah target sebenarnya. Aku kadang mengonsumsi obat itu. Jika aku yang meminum minuman itu, aku pasti sudah mati." Ucapnya tenang, meski penasehat dari kerajaan berusaha memfilter perkataannya.

Pemeriksaan lebih lanjut mengonfirmasi: zat yang ditemukan di tubuh HuiJoo adalah digoxin, obat jantung yang biasa dikonsumsi Ian untuk aritmia yang ia derita. Dosis yang aman untuk tubuhnya, tapi mematikan untuk orang lain. {Dan di sinilah detail medis yang penting terungkap: Ian mengonsumsi digoxin secara rutin karena aritmia, kondisi jantung yang ia warisi. Ayahnya meninggal karena jantung yang lemah. Dan sekarang kita tahu bahwa Ian pun membawa kondisi yang sama. Ini bukan sekadar plot device. Ini adalah layer emosional yang sangat dalam, sang pangeran yang tampak tak tergoyahkan itu sesungguhnya menyimpan kerentanan yang sangat manusiawi.}


Selama Ian menjalani pemeriksaan, PM Min datang mengunjungi HuiJoo di kamarnya. Dengan profesionalisme yang selalu ia jaga, ia duduk dan menjelaskan temuan awal investigasi.

Saat PM Min berbicara, HuiJoo diam-diam memproses semuanya dan tiba-tiba ingatannya kembali ke momen di upacara pernikahan. Ia tersandung. Kedua cawan wine disusun ulang oleh HyeJeong setelah itu.

Bola mata HuiJoo bergerak cepat. Ia sudah tahu. Bukan dirinya yang menjadi target melainkan suaminya, Sang Pangeran Agung.

PM Min menatapnya. Kagum dengan ketajaman pikiran HuiJoo bahkan dalam kondisi baru sadar dari keracunan. Sekaligus terluka melihat kobaran kecemasan di mata wanita yang disukainya itu untuk suaminya. HuiJoo bahkan berteriak kepadanya sambil mencabuti selang infusnya sendiri demi pergi mencari Ian. Namun setibanya di depan kamar, Hyeon mencegahnya dan menyampaikan pesan Ian bahwa keselamatan HuiJoo adalah segalanya.

{Adegan ini adalah pengingat bahwa HuiJoo bukan hanya karakter romantis. Ia cerdas. Tajam. Bahkan saat berbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya, otaknya bekerja lebih cepat dari orang-orang yang sudah sehat di luar sana. Dan ekspresi cemburu PM Min yang meski berusaha menyembunyikannya adalah hal yang sangat menyenangkan untuk ditonton.}

Jika cawan wine tidak tertukar, jika HuiJoo tidak sengaja tersandung saat itu, maka Ian yang akan mati malam itu. Di hari pernikahannya sendiri.

PM Min pun diberitahukan bahwa keluarga Ibu Suri yang rata-rata bekerja sebagai dokter di rumah sakit kerjaan pernah mengakses file riwayat kesehatan Pangeran Ian. 

Ian yang menerima laporan ini dari PM Min tidak menunjukkan reaksi besar. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya, sesuatu yang lebih dingin, lebih tekad, lebih dari sekadar investigasi.

PM Min mengerti apa yang dimaksud. Sabotase mobil. Dan sekarang ini. "Aku akan melakukan penyelidikan terbuka dan menyeluruh ke seluruh istana." Kalimatnya menggantung

Ian: "Tidak ada yang dikecualikan. Tidak ada." Nada suara Ian saat mengucapkan "tidak ada" itu cukup jelas. Termasuk Ibu Suri, jika penyelidikan mengarah ke sana, Ian tidak akan melindunginya.

PM Min meminta Ian kembali ke istana meski Ia ingin ke rumah sakit untuk bersama HuiJoo. Akhirnya Ian setuju setelah PM Min menyebutkan bahwa di Istana adalah tempat ia yang paling berkuasa.

Setibanya di istana, Ian memerintahkan pengamanan luar biasa bagi istrinya pada Dayang Choi. Ia akan menugaskan pegawai baru di lingkungan istana, intinya mereka akan membuat benteng perlindungan.

Pagi hari, matahari terbit, HuiJoo yang tak bisa tidur menghubungi Ian dan langsung mencecarnya dengan pertanyaan sehubungan keselamatannya dan interogasi. Ian hanya tersenyum, terlebih saat HuiJoo mengungkit Hyeon yang ditinggalkan menjaganya alih-alih Ian. Ian hanya memintanya--dan Hyeon--datang ke istana.

Agak siangan, DaYeong datang dan memanggilnya ceria. HuiJoo langsung memutar bola matanya tapi kakak iparnya itu berkeras bahwa ia diutus oleh ayah HuiJoo, begitupula Ian dan HyeJeong yang menghubunginya. 

Menurut dokter kondisi HuiJoo stabil, detoksnya sudah selesai tetapi sebaiknya ia dipantau EKG setidaknya dua hari kedepan. 

DaYeong mengkonfirmasi bahwa Hyeon sudah mengabari istana. (Lucunya ekspresi Hyeon terlihat senang bahkan hanya mendengar tentang HyeJeong dari DaYeong).

Tiba-tiba DaYeong mengomentari kecantikan HuiJoo. Setengah tak percaya, ia langsung bertanya pada Hyeon, "Iya, selalu sangat cantik, setiap saat." Tapi Hyeon jadi bingung harus berkomentar apa saat HuiJoo malah terlihat kesal kecantikannya tidak bisa istirahat bahkan saat sedang sakit pun. Hoahaha.


HuiJoo segera meminjam cushion pada DaYeong untuk memberi kesan pucat. Sambil mengomel, ia sudah membaca komentar netizen yang menuduhnya membawa sial ke istana. Untuk itu ia tak boleh terlihat memukau saat pulang. DaYeong menjentikkan jari, ia teringat TaeJoo pun pernah memakai 'kartu simpati' saat terakhir kena masalah. Jadi ia membantu dan mengusulkan agar HuiJoo berakting dramatis dan menyedihkan. HuiJoo awalnya menolak tapi nyatanya saat keluar melalui ambang pintu rumah sakit, HuiJoo malah berakting batuk-batuk dan dramatis sampai-sampai DaYeong harus memberi kode dengan menggoyangkan tangannya Hoahaha.

Di kantor pusat Castle Beauty, HyeJeong memberi instruksi pada para staf eksekutif untuk menuliskan berita yang menghighlite kerapuhan HuiJoo. Opini publik digiring agar mereka bersimpati daripada hidup nyaman sebagai chaebol, HuiJoo malah menderita sebagai rakyat jelata yang masuk istana karena menikahi sang Pangeran.

Hasilnya dibaca oleh Ibu Suri yang bersiap akan menggantikan tugas kenegaraan HuiJoo. Bahkan Ibu Suri menyambutnya di pintu istana dan menyatakan keinginannya tersebut.

Kak DaYeong langsung cepat tanggap dan mengajak adik iparnya yang dianggap lemas masuk ke dalam.

Rupanya saat tiba di Ahnwandang, Raja kecil mendatangi kamar pamannya untuk menyambut bibinya. Ia menanyai Kabar HuiJoo dan cemas soal kedatangan polisi. HuiJoo mencoba menenangkannya dengan bilang semua juga ditanyai termasuk Hyeon. Hyeon secara lebay bilang sampai kucing pun akan diinterogasi. Jelas raja protes karena hewan tak bisa bicara. Saat mereka semua tertawa, Ian masuk dan raja sangat ceria menyambutnya tapi Ian sempat bergeming sebelum memberi salam hormat.

Di gerbang istana, HyeJeong melepas lanyard Castle Grup dan menggantinya dengan kalung berbandul pin kerajaan baru. Ia menyapa DaYeong dan mengucapkan terimakasih atas nama HuiJoo, tapi baru saja DaYeong berkata bahwa baginya HuiJoo adalah keluarga, HyeJeong keburu mengalihkan perhatian pada Hyeon untuk menanyakan keberadaan Putri Agung.

Cue to.. Ian sedang memberi serangkaian instruksi pada Dayang Choi mengenai kesehatan dan keselamatan Istrinya. HuiJoo dengan aegyo  minta waktu berdua saja, Ian sampai salting tapi akhirnya sanggup meneriakkan instruksi mengusir semua orang. Di luar kamar Dayang Choi sampai menari girang sambil berseloroh bagaimanapun mereka adalah pengantin baru.

Dan HuiJoo berbaring kelelahan. Ian merapikan helaian rambutnya, ia paham tujuan HuiJoo mengusir semua orang. Menurut HuiJoo Ia hanya jengah tak terbiasa dipanggil Daegun Buin yang membuatnya seolah harus selalu jadi lambang keanggunan. Semua orang terasa mengawasi tapi Ian mengkoreksi itu demi perlindungan. 

HuiJoo teringat interogasi Ian. Dan pelan-pelan membahas bahwa Jaga yang butuh perlindungan. Ia hanya tersenyum dan mengatakan Ia akan ketakutan jika HuiJoo yang ditargetkan. Bila ternyata itu dirinya sendiri, ia justru bersyukur. HuiJoo yang kesal dengan ketenangannya hanya menatapnya lama, lalu matanya berkaca-kaca dan Ia memukuli Ian dengan bantal sambil mengomelinya. Jika sesuatu terjadi pada Ian, bagaimana mungkin ia tinggal di istana sendiri sebaga janda. Dan artinya ia tak bisa bercerai Hoahaha. 

Tapi Ian yang lama kelamaan juga memahami istrinya hanya tersenyum. HuiJoo kesal karena Ian menganggap ini lucu. 

"Caramu mengekspresikan kekhawatiran sangat dramatis." 

HuiJoo malah cemberut jadi Ian memintanya berbaring. Ian berstrategi sebagai anggota keluarga Kerajaan, HuiJoo akan menjadi kebanggan dan kejayaan bangsa. HuiJoo menyindir mentang-mentang Ian begitu makanya kadang Ia bertindak sesuka hatinya. Ian membela diri, itu hanya ketika Ia melakukan hal menuruti kata hati.

HuiJoo bangun lagi, teringat tadi Ibu Suri mengatakan akan menggantikan seluruh tugas publik HuiJoo. Ian tersenyum penuh konspirasi. Rupanya Ia telah menolak semuanya dan HuiJoo membalas dengan senyum yang sama. (Duh makin kompak dah ini strateginya. Kasihan sama Hyeon dan HyeJeong yang lembur sampai terkantuk-kantuk demi menyeleksi agenda Kerajaan yang akan dihadiri pasangan ini. Dari pekan mode sampai bertumpuk kegiatan lain).

Di kediamannya, Ibu Suri menerima kunjungan ayahnya, Tuan InPyeong. Tapi kali ini, Ibu Suri bersikap berbeda dari biasanya. Ia tidak menyambut ayahnya dengan hangat. Sebaliknya, ia memintanya untuk membatasi kunjungannya untuk sementara waktu. Ayahnya malah memberikan peringatan samar padanya.

(Tidak banyak yang diucapkan. Tapi dari cara Ibu Suri berkata itu, dan dari ekspresi yang melintas di wajahnya, jelas bahwa ia mulai mencurigai keterlibatan ayahnya dalam upaya pembunuhan terhadap Ian.)

PM Min menerima laporan tentang kejadian itu dan mengingat percakapannya dengan HuiJoo (terutama bagian HuiJoo membentaknya karena mencemaskan suaminya) di RS. Ia pun memanggil AhReum yang terlihat panik.




Malam pertama Ian dan HuiJoo sebagai suami istri HuiJoo masih sibuk menerima telepon dari HyeJeong--dan berusaha meyakinkannya bahwa Ia baik-baik saja-- saat Ian selesai mandi dan hanya memakai jubah.

Ia mendekati HuiJoo yang masih dalam masa pemulihan. Jarinya masih terpasang alat EKG yang mencatat detak jantungnya, mengeluarkan bunyi bip yang stabil dan konstan. Kemudian Ian mendekatkan wajahnya sambil menggoda istrinya 'Malam pertama kita akan dimulai sekarang, apakah kau siap?"

HuiJoo gugup sampai menjatuhkan ponselnya sementara monitor menunjukkan detak jantungnya yang meningkat (sampai membentuk logo hati Hoahaha).

HyeJeong dan Hyeon berjalan bersama dari Ahnwandang menuju ke kamar barunya. HyeJeong mengandalkan petunjuk resmi tapi Hyeon mengajari jalan pintas.

Gadis itu jadi penasaran kenapa pria yang terlihat masih sangat muda ini mengenali staf dan lokasi istana seolah lahir disini. 

Hyeon berujar mungkin sejak usia lima atau enam tahun. Ia yang yatim piatu ditelantarkan di depan kediaman pribadi Ian. 

HyeJeong meminta maaf dan menyesal sudah bertanya. Tapi Hyeon tak mempermasalahkannya, malah ia merasa berterimakasih ditelantarkan di lokasi yang membuatnya merasa jadi pria yang beruntung. Sikap Hyeon tiba-tiba memunculkan sensasi aneh di jantung HyeJeong. (Horeee Hyeon tak bertepuk sebelah tangan. Subplot Hyeon dan HyeJeong ini adalah dessert yang manis di tengah semua drama besar. Dua orang yang paling loyal kepada atasan masing-masing, ternyata punya cerita mereka sendiri. Sukaaaa. )







Malam itu, keduanya berbaring di ranjang yang sama. HuiJoo gugup, memegang selimutnya erat-erat. Ian tenang di sisinya.

Paralel dengan kejadian saat HuiJoo baru pertama kali datang ke istana dan tidur di kamar Ian, Huijoo menyarankan Ian tidur di sofa tapi Ian membalas dengan kata-kata yang sama dengan yang dulu diucapkan istrinya itu.

HuiJoo ngambek dan kembali memasang bantal di antara posisinya dengan Ian. Ian menyingkirkan pembatas itu dan dalam satu gerakan mulus, Ian melakukan sesuatu yang tidak terduga: ia menarik HuiJoo dalam pelukannya. Ian hanya menutup matanya sambil bergurau sebaiknya mereka tetap tidur dengan tenang sebelum para dayang bergosip ia dicampakkan istrinya di malam pertama. HuiJoo yang terkejut, gelisah dan tak bisa tidur. Ia malah menatap alat EKG di jarinya dan bertanya: "Apa aku harus melepas ini? Suaranya sangat kuat"

Ian tetap merem, ia mengaku menyukai mendengar bunyi bip itu sebagai pertanda bahwa HuiJoo masih hidup.

HuiJoo hanya menatap Ian, pria yang berlari melanggar protokol kerajaan hanya untuk sampai ke sisinya, yang menangis memeluknya, yang sekarang berbaring di sisinya mendengarkan bunyi detak jantungnya seperti itu adalah musik paling berharga di dunia.

Dan HuiJoo melakukan sesuatu yang kecil tapi penuh arti: ia memberikan Ian sebuah kecupan kecil di bagian pipi dekat dengan bibirnya. Ciuman itu ringan dan bukan romantis tapi membuat Ian membuka matanya, tersenyum bahagia dan balas mengecup pelipis istrinya dengan penuh sayang. Ian pun memeluknya lebih erat, menariknya lebih dalam ke pelukannya sambil menepuk pelan punggung HuiJoo.

Di dalam pelukan itu, dengan bunyi bip monitor yang terus berdenyut, keduanya akhirnya tertidur.

{Ini adalah adegan malam pertama yang paling tidak konvensional dan justru sangat normal bagi pasangan yang kelelahan habis pesta adat besar-besaran Hoahaha. Justru karena itulah yang membuatnya begitu indah. Tidak ada kemewahan, tidak ada dramatisasi berlebihan. Hanya seorang pria yang menolak melepas EKG istrinya karena bunyi itu adalah bukti bahwa ia masih ada. Dan seorang perempuan yang memberikan kecupan kecil sebagai cara bilang: aku tahu kamu takut. Aku di sini. Lalu berusaha bersembunyi dibawah selimut karena merasa malu Hoahaha. HuiJoo pun tertidur dengan perasaan ringan karena ternyata Ia bukan hard to love, karena Ian mencintainya dengan mudah.}

Keesokan harinya, dokter menyatakan HuiJoo sudah sehar. Ia memanggil HyeJeong, tapi yang datang malah Hyeon. HuiJoo sampai memekik panik memanggil asisten kesayangannya itu "HyeJeong ah!!"

Rupanya ini ide Ian, Hyeon dianggap lebih fasih urusan protokoler istana jadi lebih tepat mendampingi istrinya (selain itu, dari segi faktor keamanan, Ian lebih percaya Hyeon untuk melindungi istrinya).

Cue to HyeJeong menjelaskan agenda penting: Ian dan HuiJoo akan menghadiri acara beasiswa di Royal  Academy. Sekolah tempat pertama kali mereka bertemu bertahun-tahun lalu. Skalanya kecil dan Ian pasti sudah akrab dengan sebagian tamu yang merupakan alumni. Terbukti, sikap HyeJeong yang peka ternyata cocok banget dengan Ian, yang langsung tersenyum meski tak disadari gadis itu. (HyeJeong mengambilkan Ian minuman saat Ian berdehem dan paham bahwa yang harus Ian antisipasi adalah PM Min Hoahaha. Iihhh bener kan prediksi saya saat mereview episode 3.) 

Di ruangan HuiJoo, Hyeon membriefingnya untuk tak boleh berjalan di depan Ian, harus menerima semua kado dan surat serta tak boleh memberi lirikan mautnya yang biasa (Hyeon langsung menunjukkan "Tuh kan, kau mulai lagi Hoahaha). Selain itu HuiJoo harus berbicara lebih dulu kepada lawan bicaranya dan harus tetap memakai sepatu atau sandal bila disediakan. Tidak boleh pula menyilangkan kaki atau membuat tanda hati apalagi tanda hati di pipi.

HuiJoo hanya menghela nafas panjang sebelum kembali memilih berlian yang akan dikenakannya. Ia memakai brand sendiri sebagai bagian teknik marketing Hoahaha. Hyeon menanggapi dengan jenaka pilihannya, termasuk gurauan HuiJoo yang memuji pantulan dirinya sendiri di cermin. (Energinya matching banget nih! Hyeon bahkan tanpa diminta langsung mengabadikan foto HuiJoo lengkap dengan ungkapan "Omo! Omo!" Sampai Ian ikutan tersenyum geli.)

Ketika Ian dan HyeJeong tiba, HuiJoo bersikeras agar pakaian mereka dikoordinasikan. Ian yang biasanya tidak peduli hal semacam ini, terpaksa masuk kembali ke kamar untuk mengganti bajunya. Tapi Ian sempat-sempatnya bertanya pada HyeJeong benarkah Ia tampak suram. Jelas, HyeJeong tak terima, bisa-bisanya boss lamanya berkata begitu pada pria yang paling tampan di seluruh dunia Hoahaha (HyeJeong bete karena HuiJoo menabraknya dengan keras saat keluar ruangan, kayaknya sebel sekarang HyeJeong jadi asisten Ian).

{Adegan HuiJoo memaksa Ian ganti baju untuk dikoordinasikan adalah hal kecil yang sangat berbicara besar. Ini HuiJoo versi baru yang sudah cukup nyaman untuk menuntut hal-hal kecil yang sebelumnya tidak berani ia minta. Dan Ian sebenarnya senang-senang saja akhirnya bisa couple-an dengan istrinya}.




Di gerbang Royal Academy, pasangan Agung berpose untuk kamera. Ian mengajak HuiJoo segera masuk tapi HuiJoo masih sibuk berpose menggemaskan. (Berpose hati padahal sudah dilarang oleh Hyeon. Saat diprotes Hyeon, HuiJoo malah mengirim hati bertubi-tubi dan Hyeon terpaksa menghindar menolak. Lucunya, Ian yang duduk di dekat mereka justru menggeser tubuhnya mengikuti arah hati di jari HuiJoo Hoahaha}.

HyeJeong berbisik pada Hyeon bahwa keduanya sangat serasi dan mesra

HuiJoo melangkah masuk dan meluangkan waktu untuk benar-benar menyerap momen itu bahwa ia berhasil kembali ke tempat yang pernah membentuknya, kali ini sebagai Grand Princess. Di ruang tunggu HyeJeong memberi info bahwa PM Min akan sedikit terlambat karena urusan pekerjaan. 

HuiJoo reflek menyebut Oppa, dan Ian langsung protes, memintanya mengganti panggilan untuk pria itu. HuiJoo sedikit bingung, tapi HyeJeong dengan cepat menyodorkan berkas, sebaiknya HuiJoo yang menyampaikan kata sambutan menggantikan PM Min.

HuiJoo naik ke podium ditengah gemuruh tepuk tangan. Ia mengaku ingin memperkenalkan dirinya sebagai HuiJoo dari wisma Jujak atau Direktur Eksekutif Castle Grup. Tapi kali ini dirinya hadir dan memperkenalkan diri sebagai sosok yang paling ingin didengar khalayak, "Annyeong haseo, Daegun Buin, Seong HuiJoo-mita."

Dan ia berbicara bukan hanya soal beasiswa, namun ia berbicara soal perjalanannya. Soal menjadi seseorang yang selalu diremehkan, dan bagaimana ia sampai di titik ini. Kata-katanya mengalir dengan keyakinan yang hanya bisa datang dari seseorang yang benar-benar pernah merasakannya sendiri.

Hyeon dan HyeJeong memujinya dan Ian berdiri di samping panggung, memandang HuiJoo berbicara. Dan untuk pertama kalinya di depan publik, ia tidak menyembunyikan ekspresinya : cinta, kebanggaan yang penuh, kagum yang tulus.

{Ian yang memandang HuiJoo di panggung itu adalah salah satu visual terbaik episode ini. Tidak ada kata-kata. Hanya tatapan seseorang yang sangat bangga dengan orang yang ada di sisinya.}

Tiba-tiba Hyeon panik menyodorkan tablet pada Ian. Ibu Suri--yang sedang mengajari Raja menulis kaligrafi pun mendapat info yang sama. Di tengah pidato HuiJoo yang memukau, ponsel-ponsel di seluruh aula mulai bergetar bersamaan. Berita menyebar dengan kecepatan kilat dan tiba-tiba, para wartawan menerobos masuk ke dalam aula. Blitz kamera menyala tanpa henti. Teriakan pertanyaan memenuhi ruangan dari segala arah:  "Apakah benar pernikahan Anda dengan Pangeran Agung Ian adalah pernikahan kontrak dengan klausul cerai tiga tahun?!" atau "Apakah Anda akan mengembalikan semua hak kerajaan setelah bercerai?!"

HuiJoo berdiri di podium, mikrofon di dihadapannya, dikelilingi hiruk pikuk yang tiba-tiba meledak. Wajahnya pias dan untuk pertama kalinya dalam seluruh drama ini, terlihat tidak punya jawaban.

Kontrak pernikahan mereka bocor. 

Ian maju ke hadapan HuiJoo, menempatkan tubuhnya di antara HuiJoo dan para kamera. Tangannya meraih tangan HuiJoo, "Ayo."

Dan ia menariknya pergi, melindunginya dari blitz kamera dan teriakan yang tidak berhenti, seperti yang selalu ia lakukan sejak pertama kali mereka bertemu.

{Adegan terakhir ini adalah pukulan yang tepat sasaran. Tepat saat HuiJoo mendapat identitas baru yang sungguh-sungguh ia impikan : Seorang Grand Princess yang berdiri di podium untuk pertama kalinya, berbicara kepada generasi muda tapi semuanya runtuh dalam satu berita. Penulis drama ini tahu persis di mana harus menancapkan pisaunya. Dan Ian yang meraih tangannya dan membawanya pergi  adalah satu-satunya hal yang benar di antara semua kekacauan itu. Saya suka banget, Ian dengan tubuh bidangnya benar-benar melindungi HuiJoo dari kilatan blitz wartwan}

Epilog

Dayang Choi, Hyeon dan HyeJeong datang untuk membangunkan pasangan Agung di pagi hari setelah malam pertama mereka di Ahnwandang.

Pintu kamar masih terkunci jadi Dayang Choi berteriak memanggil sementara Hyeon berpikir untuk mendobrak masuk. 

HuiJoo langsung gelisah dalam tidurnya mendengar kebisingan tersebut. Ian kemudian perlahan-lahan mencoba mengambil ponselnya  yang terselip di bawah bantal sambil menahan lengannya yang menyangga tubuh HuiJoo yang masih tidur. Ia bergerak sangat hati-hati, menahan napas, berusaha tidak membangunkannya. Ekspresinya selama proses itu serius tapi lucu, seperti seseorang yang sedang melakukan operasi penyelamatan paling sulit dalam hidupnya adalah komedi yang sempurna.

Ia kemudian mengirim pesan peringatan kepada Choi Hyeon: "Siapapun yang membangunkan Daegun Buin akan menanggung akibatnya."

Lalu ia kembali ke posisinya, membelai rambut istrinya lalu lanjut memeluk HuiJoo sambil senyum bahagia menghiasi bibirnya.

{Ini adalah Ian yang sesungguhnya. Bukan pangeran yang dingin dan terencana. Bukan ahli strategi yang selalu dua langkah di depan. Ini adalah seseorang yang rela tidak tidur semalaman hanya untuk memastikan wanita yang ia cintai tidur dengan tenang. Dan cara ia berjuang mengambil ponselnya tanpa membangunkan HuiJoo itu, komedi fisik yang halus ini dengan sangat sempurna melalui ekspresi Ian eh BWS}

Sementara HyeJeong langsung mengajak Hyeon untuk sarapan terlebih dahulu. Mereka pergi dengan bersemangat sambil membahas resto pajeon. Hoahaha.

Review

Duh, baru saja menikah, seharusnya mereka menikmati masa bulan madu, ini pasangan Jaga dan Buin malah kena musibah bertubi-tubi.

Selain kasus keracunan HuiJoo sosial media pun diricuhkan dengan  berbagai analisis siapa yang Membocorkan Kontrak? (Sebagai catatan postingan ini dipublikasikan setelah penayangan episode 9-10 yang semakin memperjelas para pelaku, tapi saya mengulas sesuai tebak-tebakan saya dan netizen sebelumnya ya)

Ibu Suri: Motif jelas. Tapi ia kemungkinan tidak tahu tentang kontrak ini. Jadi kecuali ada seseorang yang membocorkan kepadanya lebih dulu, ini tidak mungkin dilakukan sendirian.

PM Min: Ia tahu kontrak itu sejak awal, bahkan  ia adalah penyebab utama draft itu dibuat. Kunjungan AhReum ke kantornya masih menjadi tanda tanya besar. Apakah ia membocorkan ini? Motivasinya ambigu, apakah ini cara untuk "membebaskan" HuiJoo? Tapi bukankah itu justru menyakitinya?

AhReum: Ia adalah mata-mata yang sudah lama bekerja di kediaman pribadi Ian. Tapi kontrak dibuat dan disimpan di Ahnwandang, istana. Kunjungan misterius ke kantor PM Min belum terjawab. Kemungkinan ia menjadi pelaksana dari mastermind.

Keluarga HuiJoo: kontrak itu dibicarakan di banyak tempat yang bisa didengar orang. Ayah HuiJoo punya jaringan informasi yang luas melalui Grup Castle. Apakah ia yang membocorkannya dengan alasan yang, dalam logikanya mungkin adalah untuk melindungi putrinya dari cengkraman kerajaan? Yang jelas saya masih menyukai TaeJoo dan DaYeong. Mereka pro hubungan HuiJoo - Ian karena akhirnya  apa yang diucapkan DaYeong saat bertemu dengan Jaegyeong di depan rumahnya dulu (saya lupa nih di episode berapa, karena pas nge-recap saya skip karena saya anggap filler doang eh ternyata kejadian Hoahaha)

 1. Hubungan TaeJoo dan HuiJoo sebenarnya sangat akrab hanya tak terlalu tampak dihadapan publik. Grup Castle tetap solid siapapun penerusnya.

2. DaYeong akan masuk ke istana menjadi pendamping HuiJoo. Dan terbukti, ia mengantikan ibu mertuanya mendampingi ayah mertua saat prosesi pernikahan dan ia pun menjemput sang adik ipar dari RS lalu mengantarkannya ke..Istana! Saya selalu suka chemistry duo ciwi-ciwi kakak-adik ipar ini. Selalu lucu meski tanpa TaeJoo sekalipun. Ohya, Ian juga mempercayai DaYeong, buktinya Ian memberi izin hanya untuk beberapa orang yang boleh menemui istrinya, termasuk kakak iparnya juga. Hoahaha

Kembali lagi ke kontrak pernikahan, yang asli terakhir kita lihat di episode lalu disimpan Ian dalan brankas Ian di Ahnwandang. Ini berarti siapapun yang membocorkannya harus memiliki akses langsung ke momen privat di kediaman mereka.

Di tengah investigasi yang berjalan, ada satu detail yang membuat kita semakin berspekulasi. AhReum terlihat mengunjungi kantor PM Min secara diam-diam. Kunjungan ini tidak dijelaskan secara eksplisit membuat kita bertanya-tanya Apakah AhReum adalah mata-mata PM Min selain Ibu Suri? Ataukah ia datang untuk menyerahkan diri? Atau ada alasan ketiga yang belum terungkap?

Yang menambah misteri: saat nama ibunya disebut dalam pemeriksaan, Park Malja ada sesuatu dalam reaksi AhReum yang tidak biasa. Seolah nama itu menyimpan arti yang jauh lebih besar dari sekadar identitas keluarga.

Detail nama Park Malja ini membuat saya jadi berpikir apakah juga terkait dengan kematian ibu Ian? Apakah ada hubungan antara AhReum dan keluarga Ian yang tidak kita ketahui? Penulis drama ini tidak pernah menyebutkan sesuatu tanpa alasan. Saya menandai ini sebagai detail yang akan sangat bisa jadi relevan di episode-episode mendatang.

Dan di tengah semua itu, PM Min berdiri di persimpangan yang berbahaya antara melindungi HuiJoo, melindungi tahkta, dan melindungi hatinya yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu yang tidak bisa ia miliki. 

Ok, capek ya sama angst dan politik kerajaan ini.. Hoahaha.. mari kita tinjau momen manis pasutri baru. Lovey Dovey-nya tembus layar banget.

Tangisan Ian dan tatapan penuh derai air matanya betul-betul berhasil menguras emosi kita, para penonton dan HuiJoo sendiri. Selama ini, gadis itupun selalu mengemis perhatian dan cinta ayahnya, tapi sekarang dia bisa melihat cinta dan ketulusan itu dalam sorot mata Ian (yang dibilangnya mata rusa Hoahaha). Kecupannya di malam pertama adalah cara subtle HuiJoo untuk membalas perasaan suaminya itu, dia ada disebelahnya dan baik-baik saja karena ia dicintai dan mencintai Ian juga.

Ian jelas semakin dalam mode perlindungan penuh. Ia memerintahkan Hyeon menjaga istrinya, memperketat penjagaan Ahnwandang sampai secara nyata menutupi HuiJoo dari kilatan blitz wartawan diakhir episode. Saya yakin, Ian yang sudah pernah menangkap HuiJoo saat jatuh--baik secara harfiah maupun kiasan--tidak akan membiarkan dia jatuh kali ini. Bahkan jika itu artinya ia harus melawan seluruh dunia.

Detail kecil pun terungkap kalau Hyeon adalah seorang anak yatim yang ditemukan dan dibesarkan di kediaman pribadi Ian. Ini adalah alasan mengapa loyalitasnya kepada Ian tidak perlu dipertanyakan. Ia tidak akan pernah mengkhianati seseorang yang memberinya segalanya. Dan bonding mereka sangat erat. Begitupula antara Hyeon dengan istri Ian bahkan dengan HyeJeong, termasuk antara HyeJeong-Ian-yang lagi-lagi berhasil saya analisis dengan tepat di review beberapa episode lalu. Yeay!!

Overall, Episode 8 adalah konfirmasi bahwa Perfect Crown benar-benar layak mendapat semua pujian yang diterimanya, baik dari segi rating dan gegap gempita hype para fans. Drama ini tahu persis kapan harus memperlambat dan kapan harus menginjak gas. Dan lebih dari itu, drama ini memperlakukan karakternya dengan hormat. HuiJoo, sejauh ini tidak pernah menjadi "korban yang perlu diselamatkan." Ia adalah perempuan yang menyelamatkan dirinya sendiri dan kebetulan juga menyelamatkan laki-laki di sisinya dalam prosesnya.



Posting Komentar