" ".

Recap dan Review Perfect Crown Episode 9

Table of Contents

Recap


Ian bergerak lebih dulu dari siapapun. Ia meraih tangan HuiJoo dan berjalan keluar dari ruangan, mereka tidak berlari, tidak panik tapi dengan langkah tegas yang tidak mengizinkan siapapun menghalangi mereka.

HyeJeong dan Hyeon yang sudah memeriksa kondisi di luar memberikan kabar buruk: seluruh area parkir sudah penuh wartawan, dan kendaraan kerajaan sudah dikenali.

Ian ingin keluar menghadapi media tapi HuiJoo tak setuju. Genggaman erat jemarinya yang masih bertaut dengan Ian menegaskan Ia akan pergi bersama dengannya.

PM Min hanya bisa menelan ludah dengan pahit menyaksikan semuanya dihadapan pasangan itu

Rencana darurat pun dijalankan. Pasangan asisten menyamar sebagai pasangan kerajaan. Mereka masuk ke kendaraan kerajaan dan keluar lewat pintu utama, menarik perhatian seluruh wartawan bersama mereka.

{Ide menyamarkan HyeJeong dan Hyeon sebagai pasangan kerajaan ini adalah keputusan yang jenius sekaligus lucu. Tapi yang lebih menarik: saat keduanya sudah di dalam kendaraan kerajaan itu, mereka baru menyadari bahwa tangan mereka saling menggenggam tanpa disengaja, sebagai reaksi dari ketegangan situasi. Keduanya langsung diam dan saling menatap. Hoahaha}.

Mereka berdua tiba di istana dan disambut oleh Dayang Choi. Yang lebih mengejutkan Ibu Suri pun mencegat menanyakan keberadaan keduanya. Hyeon nyaris buka mulut tapi HyeJeong dengan cepat mencubitnya. Hoahaha. Ibu Suri nampak murka.




Sementara itu, Ian dan HuiJoo kabur lewat pintu belakang  Di kantor PM Min, mereka melihat kepanikan para staf. Kunjungan internasional Ian nampaknya akan batal. PM Min memerintahkan pengendalian media.

Kredibilitas monarki dipertanyakan dan semua hal yang berkaitan dengan HuiJoo diulas. Ia dianggap mendapat perlakuan istimewa, mulai dari penyelidikan lebaran JungHwajeon sampai anugrah pengusaha yang baru-baru ini diterimanya dari Kerajaan.

HuiJoo terlihat tak fokus. Ian berusaha menanyakan apakah Ia baik-baik saja sambil menggenggam jemarinya. Hal yang tak luput dari perhatian PM Min yang satu elevator dengan mereka. Dan ekspresinya berubah sangat singkat. Hanya sepersekian detik sebelum kembali ke topeng profesionalnya.

Ian dan HuiJoo duduk bersebelahan dan berhadapan dengan PM Min. Pria berkacamata itu bertanya dengan serius apakah mereka membuat sendiri kontrak tersebut dan Ian menatap istrinya untuk persetujuan, lalu HuiJoo lah yang mengangguk. Selanjutnya PM Min bertanya, apakah tak ada yang mengetahui soal kontrak selain dirinya. Ian menjawab kedua asisten pribadi mereka tahu. langsung memulai briefing situasi: publik sudah mengetahui kontrak pernikahan mereka, media sedang dalam mode penghancuran penuh, dan tekanan politik terhadap Ian untuk mundur dari posisi Regent sudah mulai menguat.

PM Min merekomendasikan membuatkan semua mereda sendiri. Ian tidak setuju. Ia merespons dengan sesuatu yang mengejutkan semua orang di ruangan, termasuk HuiJoo: "Itu hanya lelucon pada awalnya."

HuiJoo yang mendengar ini langsung menatap Ian dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca : terkejut, terharu, dan sesuatu yang lain.

PM Min merespons dengan dingin: "Jadi pembelaan mu, hanya pura-pura diawal tapi kalian akan bercerai dalam tiga tahun. Dapatkah kalian menjamin tidak akan ada perceraian setelah tiga tahun berlalu?"

Ian hanya menatap istrinya dan keheningan memenuhi ruangan terasa pahit. Spekulasi media meledak ke arah yang semakin tidak terkendali bahkan ada yang mengklaim bahwa HuiJoo sengaja berpura-pura pingsan di hari pernikahan, dan bahwa ia menerima keistimewaan khusus dari istana.

{Arrggh kesel banget! Kontrak itu ada justru gara-gara Ian cemburu dengan PM Min. Sebagian besar diri Ian pasti ingin menegaskan mereka tak mungkin bercerai tapi Ia teringat janjinya pada HuiJoo saat ia menyatakan cinta di kamar masa kecilnya, Ian tak akan mengikat HuiJoo jika ialah yang mau pisah. Tapi HuiJoo--yang masih terguncang--belum bisa memberikan kepastian apapun saat ini. Lagipula, imho, dalam hubungan pasutri, sebenarnya itu bukan urusan PM Min apalagi satu negeri sih ya. 

Sekarang PM Min yang merekomendasikan diam itu adalah ironi terbesar episode ini. Ia tahu mengapa kontrak itu bocor. Ia bahkan tahu siapa yang membocorkannya--nanti terungkap bahwa ia adalah bagian dari rencana itu. Sementara ia duduk di sana memberikan saran "profesional" kepada pasangan yang baru saja ia tusuk dari belakang.}

Ian semakin mencemaskan istrinya tapi HuiJoo menjawab diplomatis, Ia tak merasa punya aib karena sejak awal belum pernah punya kehormatan. Sebaliknya, Ian yang paling dirugikan, ia balik bertanya apakah Ian baik-baik saja dan apakah Ian takut. Ian menatap lambang bunga di bendera monarki dan menjawab jujur bahwa Ia takut kehormatan yang dimilikinya justru akan menyakiti HuiJoo.

PM Min meminta mereka kembali ke istana untuk keamanan. Besok akan ada gelombang demonstrasi. Isunya Ian mengincar tahkta dan kebakaran saat ultah Baginda sangat pas dengan narasi tersebut

TaeJoo yang memantau berita dari condo mewahnya tampak gelisah. DaYeong di sisinya lebih khawatir soal kondisi HuiJoo secara personal daripada soal bocornya kontrak. Kakak iparnya ini masih yakin ketulusan Ian tampak saat ciuman mereka di halaman belakang istana dan menggendongnya saat ia keracunan.

TaeJoo kadung emosi dan mencemaskan kehancuran keluarga dan perusahaannya. 




Ibu Suri paham benar semakin Ian dicintai khalayak, artinya semakin besar pula rasa kecewa mereka. Ia bersorak akan hal ini dan menantikan kedatangan ayahnya. Ia memerintahkan semua pembesar istana hadir ke Balai Konsulat.

HuiJoo dan Ian langsung mendapat panggilan melalui Hyeon dan HyeJeong setibanya di istana. Ian hendak datang sendiri tapi HuiJoo mengikutinya masuk. 

Di aula yang besar dan dingin itu, Ibu Suri memimpin "pertemuan darurat" yang sejatinya adalah persidangan. Para kerabat kerajaan duduk berjajar, semua memandang Ian dan HuiJoo dengan campuran penghakiman dan rasa ingin tahu.

Mereka berdua masuk lalu memberi hormat dan Ian langsung protes tindakannya ini sebelum mereka membahasnya secara pribadi.

Ibu Suri memanfaatkan momen ini untuk membentak Ian, menegaskan bahwa mereka menodai kehormatan istana dan raja. Beliau mempertanyakan keabsahan pernikahan mereka di depan seluruh Kabinet. Ian dan HuiJoo akan menghadapi tekanan dari dua arah: publik yang mempertanyakan ketulusan pernikahan mereka, dan istana alias Ibu Suri yang mencari celah untuk menghancurkan keduanya.

Ibu Suri memarahinya yang menjual status kerajaan dan HuiJoo yang membelinya. Sejak awal ia sudah curiga, terlebih status HuiJoo membuatnya bisa bertingkahlaku seenaknya. Ian hendak meledak menghadapi iparnya tapi HuiJoo menahan lengannya dan menggeleng perlahan. Ian hanya mengepalkan jarinya kuat-kuat.

Lalu, sebelum pertemuan resmi dimulai, Ibu Suri menyampaikan sesuatu yang dirancang untuk merendahkan: mengusir Ian dan HuiJoo, dari ruang pertemuan kerajaan mereka sendiri. Di depan semua orang, ia memakai cara paling feodal, meminta Hyeon dan HyeJeong untuk mengantar atasannya keluar! {Ngomong langsung saja kenapa?? Aneh banget}

HuiJoo berdiri tegak menghadapi itu. Di luar ia tidak melirik seinci pun. Tapi di dalam hatinya untuk pertama kalinya dalam drama ini, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Ian pulang ke Ahnwandang dengan kemarahan. HuiJoo mengejarnya dan tahu ia tak baik-baik saja. Ia membuka kepalan tangan Ian yang sudah berdarah. HuiJoo hendak meminta obat pads Hyeon saat Ian menarik lengannya dan memeluk sambil mengelus rambutnya, "Aku tidak apa-apa. Tidak sakit."

{Adegan Council Hall ini adalah eksekusi yang sangat brilian dari Gong SeungYeon. Ibu Suri dengan timbre beratnya, setiap kata maupun jeda, setiap gestur kecilnya dirancang untuk menegaskan kekuasaannya dan  menghancurkan pasangan OTP.}

Keesokan harinya demo besar berlangsung di depan istana. Hyeon menginformasikan kepada HyeJeong bahwa ada artikel HuiJoo memalsukan pingsannya. Mereka cemas ini akan jadi bumerang baru.

Terpisah dari HuiJoo, PM Min menghadap Ian secara langsung untuk pertemuan yang akan berlangsung tiga jam penuh. Ian ingin menjelaskan sendiri status hubungan mereka. Tapi Ian tak akan menyangkal bahwa Ia memperjuangkan posisinya sebagai raja yang sah, dan minta pendapat PM Min.

PM Min menyampaikan posisinya dengan jelas: "Aku memintamu untuk menanggung kejatuhan ini sendiri. Ini untuk melindungi mahkota dan bangsa. Segera mundur dari posisi regent / wali raja "

Ian memandangnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Ian menatap PM Min kali ini, seolah ia sedang melihat sesuatu yang baru saja menjadi jelas. Ian terdiam sejenak. Ia adalah orang yang tidak pernah mengekspresikan kejutan secara berlebihan  tapi kali ini, keterkejutannya terasa nyata.

Di ditengah perdebatan ini, kita di lemparkan ke masa lalu, lima hari sebelum kebocoran kontrak.

AhReum datang ke kantor PM Min, bukan sebagai mata-mata, tapi untuk mengaku.

Dengan berurai air mata, ia menceritakan segalanya: adiknya membutuhkan operasi transplantasi ginjal yang mahal. Dalam kondisi putus asa, ia setuju untuk bekerja secara diam-diam untuk Tuan InPyeong dengan balasan crypto. Tugasnya: mengoleskan sesuatu ke cawan minum Ian sebelum upacara pernikahan. Tapi AhReum betul-betul tidak tahu bahwa "sesuatu" itu adalah racun yang dirancang untuk membunuh.


PM Min menyadari bahwa Ian agak merepotkan. Tapi ia tak bisa menemukan alasan kenapa harus sampai diakhiri hidupnya. Demi memverifikasi pernyataan AhReum dan dengan bukti itu di tangannya, ia pergi menemui Ibu Suri.

Pertemuan itu mengungkap sesuatu yang bahkan mengejutkan Ibu Suri sendiri: ayahnya, Tuan InPyeong, yang memerintahkan percobaan pembunuhan terhadap Ian. Tanpa sepengetahuan Ibu Suri. Ia melakukannya setelah mengetahui bahwa mendiang Raja ingin Ian yang mewarisi tahta, bukan IYoon.

Ibu Suri yang selama ini selalu tampak terkendali, kali ini terguncang sungguhan. Tapi walau terkejut dan terluka oleh tindakan ayahnya. Ia tetap memilih melindunginya. PM Min jujur Ian belum mengetahui hal ini. Jadi, Ibu Suri minta waktu.

Hebatnya saat berpapasan dengan Ian di depan kamar Ibu Suri. PM Min masih sempat berbohong tentang alasan kedatangannya, hanya meminta Ibu Suri kooperatif bekerja sama saat penyelidikan.

Ian melihat reaksi aneh kakak iparnya. Ibu Suri beralasan istana sedang tak menentu. Apalagi Ian meminta penggantian staf Ahnwandang karena kasus istrinya.

PM Min tiba di halaman istana dan berpapasan dengan HuiJoo yang sedang berjalan bersama Dayang Choi serta staf istana lainnya. PM Min mencemaskannya tapi HuiJoo merasa tak perlu mendengarkan nasehat serupa lagi dari Oppa-nya itu.

Celakanya di saat yang sama Dayang Choi malah membocorkan HuiJoo kelelahan karena Ian berusaha keras melindunginya dan melihat upaya mereka, melahirkan keturunan bukan hal yang sulit. HuiJoo langsung memberi kode dengan jarinya tapi PM Min keburu berwajah dingin.


HuiJoo mengajak PM Min berjalan-jalan. HuiJoo mempertanyakan bagaimana kelanjutan penyelidikan tentang Ian. Jika mereka tidak bisa mempercayai Rumah sakit kerajaan maka HuiJoo menawarkan pengobatan Ian ke rumah sakit Castle saja 

PM Min malah menyindirnya bahwa ia sangat nampak berdedikasi kepada Ian. Pengabdiannya tampak nyata termasuk di hadapan para dayang. HuiJoo membela diri bahwa mereka harus bisa menipu para dayang jika ingin menipu seluruh negeri. 

Dengan wajah dingin PM Min malah bertanya "Jadi kau juga mencoba untuk menipuku?"

HuiJoo terlihat bingung dan masih mencoba berjanji akan menelponnya lagi tapi pria itu sudah berlalu bersama ajudannya.

{HuiJoo ini tak terbiasa menerima cinta, jadi dia tuh clueless banget soal cinta-cintaan Hoahaha}


Malam itu rupanya Ibu Suri pulang ke rumahnya. Ia menghempaskan bukti yang diserahkan PM Min tentang keracunan HuiJoo.

Ketika ayahnya hanya bertanya dari mana ia memperoleh semua itu, meledaklah emosinya. Ia berteriak histeris, jika terbongkar maka ia sendiri termasuk anak-cucunya, sang raja akan terseret skandal.

"Pangeran Agung harus disingkirkan. Menurutmu, kenapa selama ini Ia pura-pura tidak tahu dan baru bicara sekarang? Kamu sendiri pernah membakar dekret raja demi mahkota itu. Api yang sama telah membunuhnya." Tuan Inpyeong berkata dingin tepat memandang mata putrinya.

Ibu Suri menyangkal, kematian suaminya yak ada hubungan dengan dirinya tapi ayahnya yakin tak ada yang akan percaya alasan lemah begitu. Ibu Suri kecewa ternyata itulah yang menjadi pikiran ayahnya selama ini. 

Ayahnya memintanya untuk menjaga keselamatan nama keluarga dan raja kecil tanpa peduli apapun tindakan yang harus dilakukan.

Ini adalah retakan pertama yang nyata dalam hubungan Ibu Suri dan ayahnya. Ia melindungi ayahnya, tapi mulai tidak bisa sepenuhnya membela tindakannya.

{Detail ini sangat penting untuk memahami karakter Ibu Suri secara menyeluruh. Ia adalah perempuan yang ambisius dan kejam dalam politiknya, tapi percobaan pembunuhan itu bukan rencananya. Ia menginginkan Ian dijauhkan dari kekuasaan, bukan dibunuh. Dan mengetahui bahwa ayahnya melangkahi batasnya sendiri--tanpa izin, tanpa konsultasi-- adalah sesuatu yang bahkan Ibu Suri tidak bisa telan dengan mudah.}

Saat tiba di istana, Ibu Suri yang berpapasan dengan HuiJoo memperingatkannya untuk selalu berhati-hati.

Dan di sinilah tikungan yang paling mengejutkan terjadi.

Ibu Suri kemudian menghubungi PM Min. Tiga hari sebelum kebocoran kontrak mereka bertemu di pemakaman ayah PM Min. Ibu Suri ingin tahu bagaimana rasanya jadi putra PM paling legendaris dalam sejarah. PM Min malah menyindir dengan bertanya balik bagaimana rasanya menjadi anak dari orang paling pengkhianat dalam sejarah.

Ibu Suri tersenyum dan membalikan keadaan. Ia paham, jika menurut PM Min dirinya bersalah seharusnya bukti itu dibawa pada Ian alih-alih dirinya. Lalu Ia memberikan kontrak pernikahan Ian dan HuiJoo kepada PM Min-- dan memintanya untuk membocorkan isi kontrak itu ke publik. Tujuannya: mengalihkan perhatian dari kasus percobaan pembunuhan, menggoyahkan posisi Ian, dan memaksa HuiJoo keluar dari istana, sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam kontrak.



PM Min tidak akan membiarkan HuiJoo terluka, maka ibu Suri berjanji akan mengalihkan beban isu ini pada Ian. Semakin terdesak maka keduanya akan semakin mudah dihancurkan. 

PM Min tahu rencana itu. Ia memahami dengan persis apa dampaknya kepada Ian, kepada HuiJoo, kepada orang-orang yang selama ini ia anggap sahabat.

Dan ia tidak menghentikannya. Karena ia ingin HuiJoo. Sepeninggal Ibu Suri, ia melepaskan rosario yang selalu melingkari pergelangan tangannya dan meninggalkannya di atas pusara ayahnya.

{Ini adalah momen yang paling menyakitkan di seluruh episode 9. Bukan Ibu Suri yang jahat--kita sudah tahu dia jahat. Tapi PM Min, yang selama delapan episode kita saksikan melindungi HuiJoo, menolak perintah Ibu Suri, berdiri di sisi yang benar berulang kali--ternyata memilih untuk membiarkan orang yang ia cintai dihancurkan, demi kesempatan kecil untuk memilikinya. Itu bukan cinta. Itu obsesi yang memakai topeng cinta. Steve Noh memainkan ini dengan sangat baik. Sejauh ini saya merasa tidak ada momen di mana PM Min terasa seperti karikatur jahat Ia selalu terasa seperti manusia yang membuat pilihan yang buruk demi alasan yang ia sendiri yakini sebagai benar. Dan itu justru membuatnya lebih mengerikan.}

Kembali ke masa kini, Ian dengan nada sedatar mungkin menyindir PM Min yang  memintanya mundur dan seolah-olah dirinya hendak menghancurkan tahkta. Tiga jam yang sia-sia, keduanya tidak menyerah. Ian menolak mundur. PM Min tidak menarik permintaannya. Keduanya keluar dari pertemuan itu tanpa satu pun dari mereka yang bergeser dari posisi awal.

{Ian yang tidak menjawab permintaan PM Min dengan kemarahan atau tuduhan adalah detail karakter yang sangat penting. Ian tidak kalah. Ia tidak goyah. Ia hanya... tahu dimana posisi PM Min saat ini. Dan ketidakterkejutannya yang sesungguhnya, kemarahan yang ia simpan di balik ketenangan itu, adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari ledakan emosi apapun.}

Di sisi lain istana, Ibu Suri memanggil HuiJoo untuk pertemuan pribadi empat mata.

Ibu Suri membuka percakapan dengan bertanya bagaimana rasanya menjatuhkan pangeran kesayangan negeri ini. Sebelum Ian bertemu dengannya, Ian adalah kebanggan tahkta. Jadi, apa yang HuiJoo tawarkan dan Ian dapatkan dari hubungan ini?

HuiJoo si wanita jenius langsung bisa membaca situasi, mendengus pelan dan menyindir balik, apakah Ibu Suri belum baca kontraknya. "Ian tidak menginginkan apapun. Dia bahkan menerima tiga tahun, selama aku bersamanya, jadi aku menerimanya", senyum sinis HuiJoo mengembang. 

Ibu Suri nampak mati kutu

Tapi diluar HuiJoo memikirkan kata-katanya. Sesuatu di dalam dirinya--sebuah keraguan kecil yang akan terus tumbuh sepanjang episode ini. Meski HuiJoo mencoba menggelengkan kepala menyangkalnya.

{Yang membuat adegan ini berbeda dari semua konfrontasi HuiJoo vs. Ibu Suri sebelumnya adalah bahwa kali ini, Ibu Suri tidak sepenuhnya salah. Dan HuiJoo tahu itu. Itulah yang membuatnya jauh lebih menyakitkan untuk ditonton. Di sisi lain, jawabannya HuiJoo banget. Ia percaya diri dan menegaskan bahwa Ian mencintainya dan mereka menikah ya karena keinginan Ian agar mereka bisa bersama}

Sementara pertemuan dengan PM Min berlangsung, situasi di dalam istana semakin kritis. HyeJeong meminta Ian ke ruangan keponakannya. 


Tuan InPyeong, yang sudah terpojok oleh bukti percobaan pembunuhan--memutuskan untuk menggunakan senjata andalannya selaku bangsawan: memaksa Raja muda Yi-yoon untuk menandatangani surat permintaan resmi agar Ian dicopot dari posisi Regent. Ditandatangani oleh ketua dewan bangsawan dan 190 anggota. 

IYoon yang masih kecil itu duduk di singgasana, berhadapan dengan kakeknya. Ia jelas ketakutan tapi tidak mau menurut. Tuan InPyeong terus menekan dengan suara yang semakin keras, semakin mengintimidasi.

IYoon berusaha melawan kakeknya meski mulai menangis tapi Ian tiba tepat pada saat yang kritis. Ia masuk ke ruangan itu dan dalam hitungan detik, tangannya sudah menggenggam kerah Tuan InPyeong. "Beraninya! Kau mengancam paduka! Kamu pikir aku tidak tahu semua yang sudah kamu lakukan?", dengan suara rendah yang mengancam dan meledak pada akhirnya.

Ian memanggil Dayang Jung untuk membawa pergi keponakannya. Di luar, HuiJoo yang dikabari oleh HyeJeong melalui Hyeon berlarian menuju lokasi yang sama.

Tuan InPyeong yang biasanya angkuh, kali ini tidak bisa berkata-kata karena tercekik.

HuiJoo masuk dan memanggilnya, tegas ia berdiri di sisinya dan memintanya melepaskan Tuan Inpyeong.  "Kau takut Aku jadi Raja? Jika Kau ingin mengusirku dari istana, kau harus membunuhku terlebih dahulu." Ian murka. 

Tuan Inpyeong terbatuk-batuk dan Ian meninggalkan ruangan termasuk istrinya.

{Wah akting BWS keren!! EunHo pemeran IYoon juga nih mantep banget aktingnya}.


Tiga tahun yang lalu, Ian teringat ketika mendatangi abangnya, Dayang Im bilang  ada Ratu di ruangan abangnya. Ian malah disapa IYoon yang mengajaknya main mobil-mobilan bareng. Karena pembatas ruangan yang tipis, Ian ikut mendengarkan pertengkaran terakhir suami-isteri itu di ruangan sebelah. IYoon mulai menangis dan Ia memeluknya sambil menutupi telinga keponakannya itu.


Kembali ke masa kini. Ian pun memeluk IYoon yang menangis dipundaknya, "Kalau kamu ketakutan, selalu datang padaku. Kapan saja" Suara Ian bergetar lalu menghapus air mata IYoon sambil disaksikan HuiJoo dan Hyeon yang keluar bersama.

{Momen Ian memeluk IYoon ini adalah adegan yang sangat kontras dengan seluruh kekacauan politik yang mengelilinginya. Di tengah semua konflik besar-- pengkhianatan PM Min, tekanan Ibu Suri, tuduhan publik-- Ian masih sempat memastikan bahwa seorang anak kecil merasa aman. Ini adalah karakter yang sesungguhnya.}

Setibanya diAhnwandang, Ian terlihat gelisah. HuiJoo bertanya apakah Ian melakukan kesalahan padanya. Ian meminta maaf untuk pemandangan yang menurutnya tak baik itu. Sebaliknya menurut HuiJoo begitulah cara menyerang yang ofensif dan itu baik (lalu scoringnya irama peperangan.)

Malam itu, HyeJeong yang berjalan pulang bersama Hyeon secara ambigu menanyakan kesukaan. Hyeon menjelaskan bahwa Ia suka bunga. Ternyata maksud HyeJeon adalah sang Pangeran. Menurut HyeJeong ia ingin melakukan hal baik untuk mengurangi stress Ian. Menurut Hyeon Ian suka Ocha dan coklat pahit serta tak suka aroma atau musik apapun. Hyeon salut HyeJeong sangat peduli bahkan terhadap Ian sama dengan dulu pada HuiJoo. "Apa yang kau sukai?" Hyeon bertanya langsung membuat HyeJeong salah tingkah tapi Hyeon langsung mengalihkan pembicaraan ke cuaca Hoahaha.


Malam itu HuiJoo memandangi Ian yang tertidur. Ia menekan pelipisnya yang berkerut demi meredakan ketegangan dalam mimpi Ian. Huijoo pun teringat percakapan mereka sebelumnya dan kali ini ialah yang merasa ketakutan, bahwa dirinya akan menjadi sumber kehancuran Ian. Lalu merapikan selimut di sekeliling suaminya itu. 

Keesokan harinya abangnya mengabari bahwa semua anggota dewan direksi Castle Grup sudah dipanggil kejaksaan. Artinya sebentar lagi ayah mereka juga akan dipanggil juga.

Ian yang mendengarkan terlihat khawatir, namun HuIJoo berbohong ayahnya hanya sakit. Jadi Ian mengajak menjenguk bersama tapi HuiJoo menolak karena justru akan menarik perhatian tidak perlu dari publik.

Jadi ia lebih baik pergi dengan Hyeon dan mendorong Ian dan HyeJeong pergi menjalani hari dengan produktif lagi.

Ia minta Hyeon menyiapkan mobil yang bisa dikendarainya sendiri. Hyeon sampai tegang diajak ngepot sepanjang jalan oleh Daegun Buin.

Ia menemui PM Min di kantornya. Bukan sebagai sekutu. Bukan sebagai pihak yang meminta strategi. Tapi sebagai seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan.

Huijoo marah saat PM Min memintanya jangan bertindak apapun. Melihat airmata menggenang di mata HuiJoo, PM Min mendesaknya dan HuiJoo jujur, lebih jujur dari yang pernah ia izinkan dirinya sendiri di depan siapapun: "Aku Menyukainya, Pangeran Agung. Sangat."

Dan Sang PM menghela nafas panjang, terluka. PM Min memandangnya lama. Ada sesuatu yang melintas di wajahnya. Mungkin terlalu banyak hal sekaligus untuk bisa diidentifikasi dengan satu kata.

Lalu ia menjawab: "it quite unfortunate."

HuiJoo keluar  dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia tahu, tidak akan mendapat bantuan dari arah ini. Jadi ia hanya mengajak Hyeon pergi...

Menuju rumahnya sendiri. Dihadapan ayahnya--dan TaeJoo serta DaYeong, yang shock berat---HuiJoo akhirnya melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan kepada siapapun sepanjang drama ini.HuiJoo berlutut di hadapan ayahnya, HyeonGuk. Lutut di lantai. Tangan mengepal di pahanya. Seluruh keluarga memandang dalam diam yang tidak percaya karena HuiJoo tidak pernah berlutut di hadapan siapapun dalam hidupnya.

{Kalimat respons PM Min kepada pengakuan cinta HuiJoo adalah kalimat paling dingin yang pernah ada di K-drama 2026. Yang menarik: dalam bahasa Korea, kata yang digunakan PM Min — 안타깝네요 (antakkapneyo) — lebih dekat ke "itu disayangkan" atau "kasihan sekali" yang terdengar sangat merendahkan. Makanya saya sampai memindahkan terjemahan ke dalam bahasa Inggris "It's quite unfortunate." Dalam konteks apapun, itu adalah jawaban yang paling kejam yang bisa diberikan seseorang kepada orang yang baru saja membuka hatinya sepenuhnya. PM Min bukan lagi sahabat HuiJoo. Ia adalah pengkhianat. Minimal HuiJoo sadar, oppa bukanlah sekutu yang bisa diandalkan lagi.}

Di istana, HyeJeong menyiapkan teh bagi Jaga dan memberi kabar bahwa kantor PM meminta Ian mundur dari kegiatan sehari-hari di urusan istana. Ian menyadari implikasi maksud PM Min tapi mendapat pesan dari HuiJoo yang mengabarinya bahwa Ia akan segera pulang jadi Ian bergegas pergi menunggunya di Ahnwandang


Ketika HuiJoo memanggil namanya, Ian yang sebenarnya sedang penuh pikiran, langsung membalikan badan, tersenyum dan bertanya tentang kabar ayahnya. HuiJoo malah berlari memeluknya dan melingkarkan tangannya di tubuh Ian dengan erat. Ian tertawa meledeknya apakah ini hadiah sambil mempererat pelukannya sendiri.

"Jaga, mari kita bercerai.." HuiJoo menatap mata suaminya dan dunia seolah berhenti di sekeliling mereka.

{Pelukan itu. Itu bukan pelukan orang yang akan menyakiti seseorang karena tidak peduli. Itu adalah pelukan orang yang tahu ini adalah terakhir kalinya ia boleh melakukan ini dan ingin menyimpannya selama mungkin sebelum harus melepaskannya. Dan Ian yang berdiri menerima pelukan itu, lalu mendengar kalimat terakhir HuiJoo, wajahnya yang tidak punya ekspresi justru adalah ekspresi yang paling menyakitkan. BWS tidak perlu menangis. Matanya sudah cukup bercerita.}

Epilog





HuiJoo berlutut di hadapan ayahnya. Seluruh keluarga memandang dalam diam yang tidak percaya karena HuiJoo tidak pernah berlutut di hadapan siapapun dalam hidupnya.

Ayahnya bertanya siapakah yang ingin disematkan?

HuiJoo: "Pangeran Agung. Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri. Tapi aku butuh Ayah untuk menyelamatkan dia."

Ruangan itu membeku. TaeJoo dan DaYeong semakin terkejut. Sang ayah memandang putrinya dan untuk pertama kalinya dalam drama ini, ekspresi HyeonGuk tidak bisa dibaca dengan sederhana.

{Ini adalah adegan yang paling kuat di seluruh episode. HuiJoo yang tidak pernah meminta tolong siapapun--yang selalu menyelesaikan segalanya sendiri, yang selalu menjadi yang terkuat di ruangan manapun--berlutut di hadapan ayah yang selama ini tidak pernah benar-benar ada untuknya. Dan alasan ia berlutut bukan untuk dirinya sendiri. Tapi untuk Ian. Ini adalah HuiJoo yang paling manusiawi yang pernah kita saksikan. Dan IU menyampaikannya tanpa satu kata pun berlebihan. Di sisi lain, DaYeong dan TaeJoo pun memahami perasaan HuiJoo sebagai cinta sejati.}

Review 

Bagi saya, episode 9 Perfect Crown adalah episode yang paling berat untuk di recap dari seluruh drama sejauh ini--bahkan melebihi episode pernikahan. Kalau episode 7 dan 8 adalah tentang Ian dan HuiJoo yang akhirnya menemukan satu sama lain dengan tulus, maka episode 9 adalah tentang bagaimana dunia mencoba memisahkan mereka dari segala arah sekaligus. 

HuiJoo Berlutut. Bukan di Depan Ibu Suri, bukan pada PM Min. Ia memilih untuk merendahkan dirinya di hadapan satu-satunya orang yang selama ini ia paling sulit untuk meminta pertolongannya. Dan itu bicara banyak tentang seberapa seriusnya situasi yang sedang ia hadapi. bagaimana HuiJoo, yang selalu terlihat tak terkalahkan, akhirnya memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi orang yang---akhirnya ia sadari--sangat ia cintai.

Saya menonton episode ini sambil mengagumi akting IU. Dari HuiJoo yang defiant di hadapan Ibu Suri, ke HuiJoo yang mengaku cinta kepada PM Min sambil memohon bantuan, ke HuiJoo yang berlari memeluk Ian sambil menahan tangis dan minta cerai itu adalah tiga register emosi yang berbeda total, dan semuanya terasa nyata. Mana nih, yang bilang Perfect Crown tak cocok untuk IU? Ini RomCom tapi angst-nya tetap menggigit.

Episode 9 mengonfirmasi apa yang sudah lama kita curigai tapi tidak ingin kita percaya: PM Min adalah orang yang membocorkan kontrak pernikahan. Ia masuk dalam villain era!

Kronologinya jelas: setelah mengetahui dalang keracunan HuiJoo, PM Min malah melaporkan pada Ibu Suri. Sebagai gantinya, Ibu Suri memberikan kontrak itu kepadanya dan memintanya melakukan yang "perlu". PM Min, yang tahu bahwa ia bisa menghentikan ini, memilih tidak melakukannya. Bukan karena ia membenci Ian. Bukan karena ia percaya ini untuk kebaikan bangsa seperti yang ia klaim. Tapi karena ia ingin HuiJoo dan ia melihat ini sebagai kesempatan. Adegan melepaskan rosario itu bermakna subtle bahwa akhirnya Ia jatuh ke kuasa kegelapan. Huhuhu

Menurut saya, Perfect Crown berhasil melakukan sesuatu yang sangat sulit: membuatnya terasa adil bahwa Ian dan HuiJoo harus menderita sebesar ini, tanpa membuat penonton merasa ceritanya tidak masuk akal. Setiap keputusan yang diambil oleh kubu antagonis--yang sekarang aliansinya mulai terbentuk--dari PM Min yang membocorkan kontrak, ayah ibu suri yang meracuni Ian sampai ke IRang yang masih membela ayahnya, pun ke pihak protagonis, HuiJoo yang meminta cerai-- semuanya terasa sebagai konsekuensi yang logis dari pilihan-pilihan yang telah dibuat oleh karakter-karakter ini sejak episode pertama.

Bahkan sebenarnya sudah pernah dibayangi saat adegan Ian dan PM Min main catur dulu dan saya sudah pernah ulas di recap Episode lalu.

Apakah aliansi jahat ini akan bertahan? Kita akan lihat bagaimana reaksi Ibu Suri jika Ia tahu ayahnya juga mencoba mengatur anaknya. Adegan IYoon menolak menandatangani surat permintaan meski ketakutan, dan kemudian mencari perlindungan dari Ian, adalah detail kecil yang memperkuat bahwa sang Raja kecil ini sudah memilih pihaknya sejak lama.

Di sisi lain, perkembangan Hyeon dan HyeJeong tanpa sadar saling menggenggam tangan di dalam kendaraan kerajaan menjadi salah satu momen kedekatan mereka yang sudah lama ditunggu. Cara eksekusinya yang tidak dibuat-buat justru membuatnya terasa lebih manis. Pertanyaan Hyeon tentang hal yang disukai HyeJeong itu pun keren banget. Sebagai seseorang yang sepeka HyeJeong, pertanyaan ini langsung kena di hatinya.

Episode 10 akan menjawab pertanyaan  terbesar yang ditinggalkan episode 9: bagaimana Ian merespons permintaan cerai HuiJoo?

Sampai jumpa di recap episode 10! 🔥



Posting Komentar