Review Sold On On You : Laris Manis, Bapernya Lebih dari Sekedar Rating
Pertama kali dengar terminologi "sold out" dalam hubungan percintaan itu pas saya dinasehati (baca : diledekin) Abang tingkat. Konteksnya saya punya bestie satu fakultas yang sering saya tebengin mobilnya karena kebetulan searah dengan kosan saya di Tembalang (angkatan saya anak Undip jurusan sosial pun masih kuliah di Peleburan karena gedung baru jurusan kami di Kampus Terpadu masih dalam tahap pembangunan), beliau jadian sama Abang tingkat juga dan saya jadi sering ngintilin mereka berdua di kampus. Hubungan saya dan si Abang tingkat cukup baik, jadi kalau bareng pun kami sering diskusi juga.
Then, out of the blue salah seorang Abang tingkat lain--yang sebenarnya tergolong akrab dengan saya dan bestie serta pacarnya--'nasehatin' saya : biar ga jadi 'obat nyamuk', pacarin Abang tingkat (lain) juga lah biar statusnya 'sold out'. Saya yang kayak "Hah?". Saya tahu, dia jago bahasa Inggris tapi yang bukannya istilah 'sold out' pikir saya, ya kalau sudah resmi menikah saja?
Saking bingung sama terminologinya saya waktu itu cuma manggut-manggut, malas mau debat kalau saya sendiri sebenarnya saat itu punya pacar, hanya saja bukan sekampus dan kayaknya tak pernah saya ceritakan sampai ke Abang tingkat itu karena saya menganggapnya kita cuma teman. Lama-lama baru ngeh, kalau di era saya, punya pacar pun sudah dianggap sold out jadi bukan hanya taken atau in relationships or not available. Hoahaha
So, pas baca judul internasional Sold Out On You disematkan pada drama ini, awalnya saya ngikik dulu sendiri, teringat memori jadul tadi.
Walau sebenarnya saya tetap kurang suka istilah sold out setelah punya pacar, saya merasa judulnya cerdas setelah tahu latar cerita sang pemeran utama wanitanya berasal dari dunia penjualan berbasis televisi / home shopping. Bergelar ratu sold out jadi maknanya bisa ganda, produk yang ditawarkan laku semua sekaligus dirinya. Hoahaha.
Eits.. Setelah nonton sampai selesai ternyata saya bisa menemukan satu makna Sold Out lainnya!
Sinopsis
Kita langsung diajak melihat ketegangan tim Home Shopping HIT, salah satu channel belanja dari rumah paling besar di Korsel, mencari keberadaan pembawa acara Dam HyeJin (Chae WonBin). Saat itu produknya adalah lap multifungsi kekinian, sayang host cadangan yang hadir di studio tak bisa mempresentasikan dengan baik. Alhasil, tak satupun produk laku. Untunglah, YeJin muncul dengan siaran langsung dari salah satu gedung tertinggi di Seoul. Ia rela naik gondola bersama pembersih kaca sungguhan dan mempraktekkan kegunaan lap tersebut di jendela kaca dengan debu tebal. Hasilnya yang berkilau membuat produk sold out dalam hitungan menit. Semua orang merasa puas sekali.
Ia dijuluki "Ratu Penjualan Habis", produk apa pun yang ia promosikan pasti ludes seketika. Sukses, populer, dan selalu tampil sempurna. Para rekan mengakui bahwa Ia adalah workaholic sejati. Persiapannya tak kaleng-kaleng untuk riset dan presentasi.
Namun diam-diam hal ini membawa dampak dalam kehidupan sosialnya. Ia tak punya waktu bahkan untuk berkencan, sampai diputuskan oleh kekasihnya yang merasa lelah berusaha sendiri. Selain itu, ia terungkap mempunyai gaya hidup serba palli-palli. Makan maksimal sepuluh menit, rapat sepuluh kali per hari dan harus sat set. Parahnya, ia hidup mengandalkan obat tidur dan pereda maag serta menderita insomnia kronis bahkan tidur berjalan.
Paralel dengan Matthew Lee HaeSeok (Ahn HyoSeop), seorang pemuda yang diam-diam hidup dengan dua dunia: di satu sisi, ia petani pendiam di Desa Deokpung yang merawat tanaman jamur noori berwarna putih sekaligus sebagai Co-CEO dan peneliti jenius Gojeuneok Bio. Perusahaan ini memegang hak paten bahan alami langka yang dicari seluruh industri kosmetik tersebut.
Ia bersikap dingin, bermulut tajam dan menolak semua tawaran kerja sama, padahal hatinya paling peduli pada orang lain, terutama pada warga desa Deokpung.
Pertemuan mereka dimulai saat YeJin datang ke desa untuk mencari pemilik kebun jamur noori. Ia berharap sang pemilik bersedia menandatangani perpanjangan kontrak pasokan untuk brand kecantikan L'Etoile. Brand kosmetika global berbasis di Perancis ini akan menghadirkan serum dengan sistem penjualan terbatas melakui HIT Home shopping. Pria yang sering dipanggil Mechoori (si burung puyuh) oleh warga desa itu jelas menolak. Tapi YeJin punya seribu satu akal untuk mengejarnya tanpa henti.
Berkat dukungan nenek Yang SangGeum (Goo DooShim), perlahan hubungan keduanya membaik. Ternyata di balik kesalahpahaman awal yang berujung pada pertengkaran dan perdebatan konyol, keduanya sama-sama memiliki luka yang berhubungan langsung dengan produk dan pekerjaan yang mereka tekuni. Matthew menyembunyikan rasa bersalah akibat tragedi masa lalu yang melibatkan produknya, sementara YeJin menanggung beban rasa bersalah akibat produk kosmetika yang pernah ia jual lima tahun lalu.
Di tengah itu, ada Seo Eric (Kim Bum), perwakilan L'Etoile di KorSel yang ambisius. Ia pernah berjumpa YeJin dan langsung jatuh hati namun sayangnya di kencan yang dijanjikan keesokan harinya, YeJin tidak datang. Kemudian Ia pindah ke Perancis dan baru kembali lagi. Eric ternyata juga menyimpan luka dan pencarian jati diri sendiri agar terlepas dari bayang-bayang kakak perempuannya
Bersama warga desa yang hangat, konflik bisnis yang menegangkan, dan proses saling menyembuhkan, kisah ini berjalan hingga akhir yang mengajarkan: kesuksesan sejati bukan saat barang habis terjual, tapi saat kita mampu "menjual" kebahagiaan untuk diri sendiri.
Review
Sejujurnya, saya sempat mau skip nonton saat baru ditayangkan dua episode. Nontonnya demi Kim Bum tapi sayang kurang sesuai ekspektasi, screen time beliau terlalu sedikit. Akhirnya, saya menunggu selesai semua episode dulu baru gaskeun nonton sisanya.
Menurut saya drakor ini sisi positifnya
1. Penokohan Lovable Sekaligus Kompleks
Paket lengkap deh, berikut impresi saya : Matthew Lee alias Mechoori (Ahn HyoSeop) bukan sekadar tipe pria dingin tapi baik hati yang klise. Saat dia menolak proposal kerjasama dari YeJin, saya tidak melihatnya sebagai kesombongan, melainkan manifestasi dari rasa dirinya yang merasa tidak pantas untuk kembali ke dunia bisnis dan pada akhirnya berbahagia. Saya pribadi sangat mengagumi bagaimana karakternya berubah secara perlahan dan alami.
YeJin (Chae WonBin): Saya suka sekali YeJin yang lovable dengan energinya yang tegas, namun tetap menyimpan sisi rapuh yang tersembunyi dengan apik. Ia adalah seorang pekerja keras. Proses healing-nya pun terasa sangat dekat di hati. Ia berusaha mengatasi ketegangan dengan ibu yang meninggalkannya sejak kecil dan ayahnya yang terasa berjarak akibat kesalahpahaman.
Eric (Kim Bum): Ini dia karakter yang paling menarik perhatian saya sepanjang cerita. Bagi saya, Eric bukan sekadar "orang ketiga pengganggu" atau musuh jahat yang dangkal. Karakter ini digambarkan dengan begitu mulus oleh akting Kim Bum. Dia ambisius dan memilih bertindak jahat tapi membuat saya iba, karena terasa sangat kesepian. Konflik batin Eric antara persahabatan, persaingan cinta dan ambisi pribadinya bener-bener menjadi salah satu alur cerita terbaik di drama ini.
Selain tiga pemeran utamanya, peran pendukungnya pun punya penokohan yang kuat dengan kisah latar belakang sampai percintaan yang cukup seru! Bahkan nenek SangGeum ternyata bukan sekedar mak comblang berlogat daerah.
2. Seimbang Antara Kehidupan Desa dan Kota
Drama lain biasanya kurang balance. Salah satunya pasti lebih dominan. Sementara dalam drama ini menurut saya cukup berimbang. Malah secara harfiah saat YeJin mau ke desa malam hari demi mengambil obatnya, Mechoori menawarkan bertemu di tengah-tengah saja karena jarak Seoul - Desa Deokpung itu lima jam perjalanan dengan kendaraan roda empat.
Kehidupan perkotaan digambarkan dalam pekerjaan YeJin, Dunia Belanja dari Rumah. Tidak hanya sisi glamor sebagai pembawa acara dan para staf. Menunjukkan tantangan yang dihadapi mulai dari tekanan waktu, ketegangan saat produk kurang laku, cara mereka harus tersenyum meski sedang sakit atau sedih dan yang paling krusial tanggung jawab moral terhadap produk yang dipromosikan. Inilah yang membuat tragedi masa lalu begitu menyakitkan. Produk Kosmetika dengan kandungan berbahaya yang membawa efek negatif termasuk hubungan dengan ibu kandungnya sendiri. Jadi, sejak saat itu, ia bekerja dua kali lipat, berusaha menebusnya dengan kesuksesan.
Kehidupan di desa Deokpung yang komunal dijabarkan dalam kegiatan menanam, merawat, panen, hingga mematenkan produk dijelaskan dengan cara yang cukup mudah dimengerti. Ada juga kecemburuan dari pemilik cafe satu-satunya saat perusahaan mengirim truk kopi ke lokasi kebun jamur saat syuting dilakukan.
Selain itu Mechoori bukan sekadar petani biasa, tapi ilmuwan yang peduli pada kualitas, sehingga nilai produknya terasa mahal dan berharga.
Kedua belah pihak menjunjung tinggi Etika Bisnis: bukan cuma cari untung, tapi ada keselamatan bahkan nyawa orang lain yang jadi taruhannya. Sebagai pusat cerita ada isu tentang keamanan produk kosmetika, tanggung jawab produsen, distributor sampai pelaku pemasaran dan keserakahan korporasi yang diselipkan.
3. Tema Cerita Unik dan Relevan
Sold Out On You bukan sekadar drama komedi romantis atau drama healing ke desa. Ini adalah cermin bagi kita semua yang sering lupa batasan bahwa kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Kita menciptakan dan menjual hal-hal indah, tapi jangan sampai kita sendiri yang menjadi sosok burn out yang habis terjual, kosong, dan tidak tersisa apa pun untuk diri sendiri.
Pesan tentang Kesehatan Mental diangkat dari trauma masa lalu YeJin. Kebiasaan minum obat tidur jangka panjang membuatnya kena efek samping sleep walking. Mechoori yang pertama kali menyadari bahwa Ia sendiri pernah melalui fase yang sama. Sebagai seorang yang pernah sangat ambisius, berdedikasi dalam pekerjaan, namun saat terjadi masalah berujung burn out dan terbakar habis. Ia lalu memilih kabur dan membangun tembok tinggi di sekitar hatinya. Jadi sekarang sedang dalam mode survival.
Ketika keduanya bertemu, mereka tidak langsung sembuh. Tapi secara perlahan, tanpa disadari, mereka mulai memberi satu sama lain sesuatu yang tidak pernah mereka minta: waktu yang berjalan lebih lambat dan kepercayaan yang terbangun menghangatkan hati. YeJin pertama kali bisa tertidur secara alami saat berkendara dengan Mechoori. Begitu pula sebaliknya, tembok yang dibangun Mechoori pun perlahan runtuh. Ia pun berhasil mengatasi traumanya sendiri.
Eric juga punya luka batinnya sendiri. Sebagai SML dia belajar menghargai bakatnya dibanding sekedar mengikuti jalan yang diatur oleh kakak dan keluarganya.
Ini pesan yang sangat relevan untuk zaman sekarang, di mana kita sering menilai diri sendiri lewat pencapaian, jabatan, atau hasil kerja di mata orang lain.
4. Komedi LOL, Romansa Manis
Komedinya mengalir di sepanjang cerita. Menurut saya, puncak komedi terjadi di episode lima saat tim HIT datang untuk syuting di rumah kaca jamur Nuri. Saat jeda makan siang, semua makan bersama secara lesehan. YeJin duduk diantara Mechoori dan Eric.
Melihat kecanggungan sekaligus chemistry dengan YeJin, dua warga desa melakukan telepathy battle, masing-masing menjagokan Eric VS Mechoori. Konyolnya mereka hanya saling beradu tatap dengan mimik wajah lucu tanpa sepatah kata pun, sementara seluruh warga desa bisa paham dan memilih kubu masing-masing. Hoahaha.
Eric dan Mechoori yang sama-sama kepedasan pun jadi sama-sama berharap YeJin mau menuangkan air untuk mereka. YeJin kebingungan terjebak di tengah-tengah rivalitas kocak itu, dan hasilnya adalah puncak komedi yang paling terasa khas K-drama.
Untuk bagian romansa saya suka dua pria itu yang duluan menyadari perasaan lebih mereka pada YeJin. Sementara sang gadis masih sibuk dengan pikirannya soal pekerjaan dan luka dari masa lalu.
Antara OTP hitungannya slow-burn. Bonus ada beberapa pasangan sampingan yang cukup menggemaskan. Ini cukup langka juga di dunia K-drama. Tapi saya senang-senang saja, jodoh memang misterius kan ya..
Ohya, chemistry antara Eric dan Mechoori pun cukup baik. Second male lead kita tak kebanting dengan lead-nya. Kim Bum yang awet muda, on par banget dengan Ahn HyoSeop.
5. Bidang Teknis Baik
Sutradaranya cukup jago. Layar yang dibagi dua saat awal ala panel komik, berhasil menunjukkan kontras dua dunia. YeJin yang sibuk di kota, didominasi dengan warna-warna terang dengan pencahayaan lampu dalam ruangan. Ritme hidupnya hectic dengan sudut pengambilan gambar yang sering dilihat dari atas atau sudut sempit, menggambarkan tekanan dan kurungan.
Kontras dengan kehidupan Mechoori di desa yang natural. Cahaya matahari menghiasi wide-shoot. Setiap kali YeJin ada di desa, terasa warnanya lebih hidup, senyumnya lebih alami
Visual pedesaan cocok ditonton saat kita sendiri butuh istirahat dari kehidupan yang terlalu bising. Cocok juga dengan lagu latar yang tidak berlebihan. Justru sering hening, suara alam, atau instrumen lembut. Musik hanya muncul saat emosi karakter memuncak, membuat momennya terasa lebih dalam.
6. Banyak Referensi Drama Populer
Buat yang suka mencari easter-eggs (istilah di dunia film/drama berupa pesan tersembunyi, referensi yang jadi inside joke dari penulis atau sutradara), seru banget mengingat-ingat ini referensi dari drama apa. Saya ngehnya paling saat YeJin bilang wajah Mechoori mirip tokoh utama pria di drama yang ingin di tontonnya, tentang CEO naksir wanita di kencan buta pertama, meski cewek itu bersikap ugal-ugalan. Ini tuh meta Business Proposal-nya Ahn HyeSeop banget Hoahaha
Ternyata ada beberapa lagi ditemukan beberapa fans jeli, misal Eric dan Mechoori serta tokoh pria lain yang berjalan beriringan bak anggota F4 (Boys Before Flowers) lengkap dengan OST legendarisnya, adegan kecupan jauh dari YeJin yang membuat hati Mechoori berdebar (When Life Gives You Tangarines). Ada juga saat YeJin melatih Na SomYi (Ahn SeBin) berpidato meneriakkan nama JiNu selaku tokoh idolanya (K-Pop Demon Hunter). Ketika mencicipi makanan, efek lebaynya mirip Bon Appetit Your Majesty. Begitu pula saat para tokoh saling mengkhayalkan tentang skenario yang dialami tokoh lainnya, berlebihan maksimal Hoahaha.
Lantas mengapa Drakor ini ratingnya hanya berkisar di 2,5-3%? Selain karena tayang di slot Rabu-Kamis malam yang terakhir di isi Dynamite Kiss serta tayang juga di OTT merah, Saya rasa penyebabnya antara lain :
1. Glorifikasi Jamur Noori
Jamur Noori yang digadang-gadang esensnya bak ramuan ajaib dari negeri dongeng ini kurang dijelaskan secara ilmiah. Baik dari keistimewaan sampai cara ekstraksinya terkesan dianggap semua penonton sudah paham sendiri. Lah, jamurnya saja varian fiktif belaka, jadi dari mana kita--para penonton--bisa dapat referensi yang valid?
Sehingga saat menjelang peluncuran produk essence L'Etoile ditemukan mikroba dalam kemasan, saya sempat mikir dulu, bukankah jamur memang memiliki spora, yang ukurannya bisa jadi mikroskopis? Jadi mikroba berbahaya ini apakah datangnya dari si jamur sendiri atau salah saat pengolahan?
Kemudian saat perebutan hak paten terjadi, justru bertele-tele dan teknis.
2. Beberapa Sub-Plot Kurang Masuk Akal
Dinamika di dunia kerjanya juga terlalu dipengaruhi hubungan emosional. Konflik bisnis dan romansa berjalan beriringan, tidak terpisah. Masalah perusahaan memengaruhi hubungan, dan masalah hubungan memengaruhi keputusan bisnis. Ini membuat cerita terasa kurang realistis karena levelnya korporasi dan saluran televisi nasional.
Sebagai pewara home shopping, YeJin suka bertindak sesuka hati bahkan sampai melawan direkturnya. Bukankah etos kerja di KorSel sangat konservatif? Ia bisa tidak mengabari PD-nya sendiri dan langsung potong kompas mengambil keputusan semacam siaran langsung dari gedung demi menjual lap. Meski hasilnya sepadan, tapi kenapa dia tak mendapat terguran sudah bikin cemas satu studio (termasuk pengiklan/pemilik produk yang sudah bayar agar dipromosikan).
Dinamika yang sama juga dijalankan oleh Eric dan Mechoori dalam perusahaan masing-masing meski beda skala usaha. Bikin bingung juga karena biasanya di kenyataan (atau drakor lain), minimal ada tim khusus yang menangani per kasus tapi di perusahaan selevel L'Etoile pun semua yang mengurus langsung adalah Eric, sang Direktur Eksekutif dan asistennya!
3. Second Lead Sindrom yang Klise
Duh ini sebenarnya subjektif banget karena saya fans Kim Bum. Rasanya jatuh ke second lead syndrome terasa lebih menyedihkan karena dari awal langsung jelas siapa endgame YeJin. Padahal kalau mau mengikuti red-string theory, justru pertemuan pertama Eric dan YejIn yang sepayung berdua itu romantis banget. Sayang, mau se-charming apapun Eric, dia langsung tak punya peluang karena YeJin langsung menolaknya, dengan alasan tak mau menjalin hubungan personal dengan rekan bisnis karena bisa menyebabkan rusaknya hubungan profesional.
Sebenarnya agak standar ganda, karena Mechoori juga rekan bisnis meski secara tak langsung karena kontrak kerjasamanya dengan L'Etoile. Hoahaha
4. Tempo Melambat di Pertengahan, Terburu-buru di Bagian Akhir
Bagian awalnya potensial sekali. Penurunan tempo terjadi di pertengahan dan permasalahan yang berulang membuat saya merasa sedikit bosan. Apalagi saya nontonnya maraton. Eh, pas menjelang akhir seluruh permasalahan segera mendapat jalan keluarnya.
















Posting Komentar