" ".

Review the WONDERfools : Nostalgia 90an yang Quirky dan Lucu banget

Table of Contents

The WONDERfools sudah lama masuk radar saya berkat kehadiran Cha EunWoo dan Park EunBin. Apalagi ini sutradara yang sama dengan Extraordinary Attorney Woo (2022), salah satu drama genre legal dan slice of life yang saya sukai bahkan membawa EunBin dapat Daesang di Baeksang Arts Award 2023

Judulnya juga menarik, mash-up kata yang sepintas terdengar seperti wonderful. Berpotensi Menggambarkan penokohan dengan karakternya yang menarik.



The WONDERfools
Judul Lain 원더풀스 (Wondeopulseu)
Penulis Naskah Heo DaJoong
Sutradara Yoo InSik
Pemain Park EunBin, Cha EunWoo, Kim HaeSook, Choi DaeHoon, Im SeongJae, Son HyunJo
Genre  Superhero, Komedi, Action, Sci-fi 
Tayang  15 Mei 2026
Jumlah Episode 8
Durasi 60-92 menit
Jaringan Netflix
Rating Usia 15+

Sinopsis 

Eun ChaeNi (Park EunBin), seorang gadis yang saat ini berusia 27 tahun. Ia belum bekerja dan mengidap gagal jantung kongenital sangat parah. Jangan tertipu dengan penampilannya yang quirky dan acakadul seadanya, aslinya ia adalah cucu dari pemilik restoran besar di kawasan Haeseong, Kim JeonBok (Kim HaeSook).

Berlatar di tahun 1999, era dikala semua orang sedang dalam masa kepanikan akhir zaman. Semua orang khawatir dunia akan berakhir saat jam berganti ke tahun 2000 atau dikenal sebagai fenomena Y2K. Lembaga keagamaan berlomba-lomba mempromosikan penyelamatan. Salah satunya Gereja Keselamatan yang Abadi. ChaeNi sampai histeris di tengah pasar saat menerima vonis dokter bahwa hidupnya tinggal sebentar tapi Ia hanya ingin hidup sampai kiamat itu tiba. Dan melampiaskannya pada relawan gereja yang aktif merekrut anggota baru dengan membagikan selebaran.

Semakin mengenalnya, ChaeNi  kekanakan, bahkan tega mengambil eskrim dari seorang bocah. Untunglah ada Lee WoonJeong (Cha EunWoo) yang membujuk bocah tersebut dan menggantikannya dengan permen. Temannya, memintanya menghindari ChaeNi yang punya reputasi sebagai biang rusuh. 

ChaeNi yang punya daftar impian yang ingin dipenuhinya sebelum meninggal--melihat Aurora dan ke Kilimanjaro--nekat merekrut temannya Kang RoBin (Im SeungJae) untuk membuat rekaman penculikan lalu meminta tebusan pada sang nenek. Kebetulan saat itu sahabatnya Son GyeongHoon (Choi DaeHoon) sedang berada di kamar kontrakannya. Jadilah ChaeNi menjanjikan masing-masing lima juta won dari tebusan yang akan diajukan.

Malang tak dapat dicegah, jantung ChaeNi yang memang bermasalah keburu berhenti berdetak. RoBin panik sekaligus hancur melihat cucu bosnya itu meninggal dan ingin segera menghubungi pihak berwajib. Tapi Pak Son--yang merasa lebih cerdas, yakin mereka akan dituduh sebagai pembunuh--memikirkan anak dan istrinya mengajak RoBin membuang jenasah gadis itu di lokasi pembuangan limbah, sebuah danau yang terpencil. Sebenarnya dia sudah pernah komplain tentang bau menyengat  pada WoonJeong tapi belum ditanggapi, jadi menurutnya tidak ada yang akan datang mencari.

Tak disangka, WoonJeong yang juga mengenali ChaeNi dari pertemuan tak sengaja, juga berada di lokasi tersebut dan menemukan jenasah lalu melaporkan kedua pemuda itu kepada polisi. Ditengah kechaosan pertikaian dalam danau itu, ChaeNi malah menghilang. Rupanya dia tak meninggal!

Lebih anehnya setelah diperiksa dokter, ia dinyatakan sembuh dan sehat. Kemudian dia menyadari bahwa sekarang dia punya kemampuan berpindah alias teleportasi. RoBin pun mendadak punya kekuatan yang dahsyat sementara Pak Son bisa menempelkan anggota tubuhnya ke berbagai bidang.

Sementara itu, WoonJeong yang sedang menyelidiki kasus orang hilang mulai menyadari ada hubungan antara kejadian aneh itu dengan hilangnya warga. Ia mendekati ChaeNi dan meski awalnya mereka sering bertengkar--karena sifat ChaeNi yang bebas bertolak belakang dengan sifat WoonJeong yang kaku---mereka perlahan bekerja sama. Mereka sadar bahwa di balik semua itu ada Ha WonDo (Son HyunJoo) yang berencana menghancurkan kedamaian Haeseong.

Di tengah ketakutan warga yang semakin memuncak menjelang akhir tahun, kelompok “orang aneh” ini harus belajar menguasai kekuatan mereka, mengatasi perbedaan, dan bersatu untuk melawan kejahatan. Bukan sebagai pahlawan sempurna, tapi sebagai orang biasa yang berusaha melakukan yang terbaik demi orang yang mereka cintai. 

Mampukah mereka bertiga mengendalikan kekuatan baru ini? Lalu apakah hubungannya dengan EunJeong yang diam-diam juga punya kekuatan telekinesis? Kemudian bahaya apakah yang mengintai kota mereka kala banyak orang tiba-tiba menghilang?

Review

Saya bisa menyelesaikan menonton sepanjang weekend, disambi mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga sih. Dan suka banget karena 

1. Penokohan yang Menegaskan tak Harus Sempurna untuk Jadi Pahlawan

Park EunBin sebagai Eun ChaeNi

Superpower: Teleportasi (sering salah sasaran)

Perempuan dengan jantung lemah bawaan yang memberinya filosofi "hari ini adalah yang terpenting." Berisik, impulsif, dan punya daftar hal-hal yang ingin dipenuhinya sebelum meninggal. 

Cha EunWoo sebagai Lee WoonJeong

Superpower: Telekinesis (dimiliki sejak lama, disembunyikan)

Pegawai negeri dari Seoul yang sangat kaku secara sosial. Tipe orang yang baca peraturan dulu sebelum melakukan apapun. Demi menyembunyikan identitasnya yang asli, prinsip berhati-hari ini termasuk saat hendak menyelamatkan orang.

EunWoo ganteng maksimal. Apalagi ketika memakai kekuatannya. 

Choi DaeHoon sebagai Son GyeongHoon

Superpower: Kemampuan "lengket" yang sulit dijelaskan

Seorang bapak rumah tangga yang kerap gagal berbisnis. Ingin membuktikan diri dihadapan anak dan istri. Orang yang suka sok tahu dan cerewet.

Im SeongJae sebagai Kang RoBin

Superpower: Super strength (tapi orangnya minderan dan pemalu)

Pegawai nenek ChaeNi terutama tim mengupas bawang Bombay. Punya fisik paling kuat di tim, tapi secara psikologis paling tidak siap menggunakan kekuatan itu. Agak lemot dan sering diomeli oleh Pak Son.


Kim HaeSook sebagai Kim JeonBok

Nenek ChaeNi yang menjalankan restoran. Pilar emosional cerita karena ternyata punya keterikatan dengan masa lalu wunderkids. Hubungannya yang hangat dengan ChaeNi kontras dengan keengganannya memberi cucunya yang dan sikap penuh kalkulasi saat menjadi boss.

Son HyunJoo sebagai Ha WonDo

Seorang ilmuan yang terobsesi pada kehidupan abadi melalui proyek Wunderkids. Beraura misterius karena sangat tenang dan dingin. 

Saya salah seorang fans lawas Son HyunJoo merasa senang kali ini perannya cocok banget.

Bae NaRa sebagai Kim PalHo

Pemilik kekuatan gravitasi. Ada sesuatu di matanya yang memancarkan aura ketakutan. Bae NaRa kali ini jadi penjahat yang bertarung dengan para tokoh utama. Sayang, ketampanannya kegeser EunWoo.

Jeong Yi Seo sebagai Seok JuRan

Salah seorang anak wunderkids yang setia pada WonDo. Terlibat dalam pengendalian pikiran jemaat gereja berkat kekuatannya.

Choi YoonJi sebagai Seok HoRan 

Adik JuRan yang punya kekuatan menciptakan ilusi. Terlihat naksir WoonJeong sejak kecil.

2. Nostalgia 90an: Bukan Sekadar Kostum dan Properti

Ini bagian yang paling ingin saya bahas panjang, karena menurut saya inilah keberhasilan terbesar The WONDERfools.

Tim produksi tidak menggunakan tahun 1999 sebagai backdrop dekoratif. Mereka sungguh-sungguh membangun dunia itu dari dalam ke luar.

Dari kaset CD player di kamar ChaeNi, radio jadul, fashion, elektronik, poster, rambu jalan, toko kelontong, kantor balai kota lama  sampai mural graffiti di jalanan Haeseong City, semuanya dipikirkan serius oleh tim untuk merekonstruksi sensibilitas akhir 90an di Korea. Bukan sensibilitas yang dipoles untuk Instagram, tapi sensibilitas yang terasa seperti kita masuk ke rekaman video lama.

Kalau teman pembaca usianya sepantaran saya dan tumbuh besar era 90an, pasti akan ngerasa naik mesin waktu sendiri nonton drama ini. Dan the WONDERfools menampilkannya bukan sebagai lelucon kuno belaka. Telepon rumah dan ponsel jadul menjadi media komunikasi yang digunakan.

Lalu ada kehidupan tanpa internet cepat, tanpa smartphone, tanpa Google Maps. Ketika karakter harus menyelidiki sesuatu,  mereka bertanya ke orang yang dianggap tahu. Ketidakhadiran teknologi modern ini bukan sekadar batasan, ini yang membuat cerita terasa lebih intim dan lebih manusiawi. Para pahlawan kita tidak bisa googling cara menggunakan superpower. Mereka harus figuring it out sendiri, bersama.

Dan konteks kepanikan Y2K di Korea datang di atas luka yang masih segar dari krisis finansial 1997-1998, ketika ekonomi Korea hampir runtuh dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Jadi ketika warga Haeseong terlihat begitu mudah dimanipulasi oleh gereja misterius, itu bukan karena mereka bodoh. Itu karena mereka masih trauma. Dan orang yang trauma lebih mudah percaya pada narasi yang menjanjikan penjelasan atas kekacauan yang mereka rasakan. Drama ini menangkap konteks sosial itu dengan sangat cerdas, meski tidak pernah mengatakannya secara eksplisit.

3. Lucunya Kebangetan

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri dari The WONDERfools: drama ini benar-benar lucu. Bukan lucu yang dipaksakan dengan lelucon yang harus dijelaskan dulu supaya kita paham tapi lucu yang mengalir alami dari situasi dan karakter yang sudah punya urat lucu, quirky dan  absurd sejak awal.

Ambil contoh adegan penculikan palsu di episode awal. Idenya sudah konyol dari sananya:  menculik diri sendiri, minta tebusan ke nenek sendiri, dibantu dua orang yang jelas-jelas tidak punya pengalaman jadi penjahat. Eksekusinya lebih kacau dari rencananya. Dan ketika ChaeNi malah meninggal beneran di tengah proses itu, reaksi RoBin dan GyeongHoon yang panik setengah mati sambil debat mau ngapain dengan jenazah itu adalah salah satu adegan paling kocak sekaligus absurd yang pernah saya tonton di drama Korea.

Lalu ada momen-momen ketika kekuatan super mereka misfiring di waktu yang paling tidak tepat. ChaeNi yang teleportasi ke tempat yang salah saat sedang berusaha terlihat keren. RoBin yang tidak sengaja menghancurkan benda di sekitarnya karena refleks. GyeongaHoon yang menempel di dinding dan tidak bisa turun. Semua ini dieksekusi dengan timing komedi yang sangat pas, tidak berlebihan, dan tidak tertahan-tahan.

Yang paling membuat drama ini berhasil secara komedi adalah chemistry antar empat karakter utama. Empat kepribadian yang bertolak belakang ChaeNi yang chaos, WoonJeong yang kaku, RoBin yang kuat tapi minderan dan pemalu, serta GyeongaHoon yang cerewet dan sok tahu berhasil menghasilkan dinamika grup yang terasa seperti grup  pertemanan yang paling disfungsional tapi paling hangat.

Ada kejutan kemistri yang sangat meledak di bagian menjelang akhir.

4. CGI yang Justru Jadi Kelebihan Tak Terduga

Kalau sesuka itu dengan animasi paus di Extraordinary Attorney Woo, maka ikan di drakor ini CGI-nya next level.

Efek teleportasi ChaeNi, kekuatan telekinetik WoonJeong yang menggerakkan benda-benda di sekitarnya, dan kekuatan super  RoBin semuanya dieksekusi dengan visual yang lebih mulus dari yang saya ekspektasikan dari drama Korea bergenre superhero.

Terutama di adegan pertarungan yang dikoregrafikan dengan baik, terpadu dengan unsur CGI hingga mampu menghadirkan elemen aksi badass sekaligus sentuhan komedi.

Tapi yang paling menarik adalah bahwa beberapa ketidaksempurnaan CGI di episode-episode awal justru memberikan kesan yang tidak disengaja namun sangat pas. Mirip rasanya seperti menonton film Spider-Man era Tobey Maguire di televisi sekarang dan bisa melihat perbedaan pixel CGI-nya dengan jelas. Ada tekstur "produksi lama" yang tanpa sengaja memperkuat ilusi bahwa kita sedang menonton sesuatu yang terjadi di 1999 ketika dunia perfilman memang belum sepenuhnya sempurna.

Semakin ke belakang, efek CGI semakin mulus dan klimaks episode 7-8 sudah benar-benar terasa seperti produksi blockbuster. Peningkatan bertahap ini mungkin disengaja, mungkin tidak, tapi hasilnya tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Entah ini kebetulan atau keputusan artistik yang sangat cerdas. Saya pilih percaya yang kedua.

5. Kisah Superhero

Konsep "defective superhuman" adalah ide yang terdengar sederhana tapi punya kedalaman makna yang tidak dipaksakan. Kita sudah terlalu sering melihat drama atau film superhero di mana sang pahlawan dengan cepat menguasai kekuatannya, lalu menjadi sempurna. The WONDERfools dengan sengaja tidak memberi tim kita kemewahan itu. Mereka tidak menguasai kekuatan mereka dengan cepat.

Mereka pun harus berhadapan dengan penjahat yang sama -sama meraba-raba dalam ketidakpastian. Dokter WonDo memanfaatkan anak-anak super bimbingannya untuk menjadi kaki tangan merekrut orang-orang yang ketakutan dan berjiwa religius dengan sangat dingin. Dan kita tahu cara seperti itu benar-benar ada di dunia nyata.

Keterkaitan antara sebagain hero dengan para villain serta latar belakang yang  membuat saya ingin terus menonton. Bukan sekedar ingin tahu siapa yang menang, tapi ingin tahu mengapa semuanya bisa sampai di titik ini.

6. Pesan Mendalam

Ketakutan akan kiamat milenium menjadi alasan mengapa warga begitu mudah dipengaruhi oleh WonDo, dan kesederhanaan hidup tanpa teknologi membuat hubungan antar manusia terasa lebih tulus dan hangat. The WONDERfools bisa menangkap perasaan itu dengan sangat tepat: campuran antara takut, penasaran, dan rasa persaudaraan karena kita semua menghadapi hal yang sama.

Banyak penonton yang bisa merasa terhubung dengan cerita ini karena tokoh utamanya bukan orang hebat atau terpilih, mereka adalah tetangga biasa, pegawai kantor, orang yang kadang membuat kesalahan. seolah mengingatkan saya, bahwa kita semua punya kekuatan untuk membuat perubahan, meski kita merasa tak cukup hebat.

Satu lagi cerita ChaeNi yang ternyata hidup dengan jantung milik "Anak Keabadian", anak yang menjadi korban eksperimen WonDo dan ditinggalkan dalam kondisi mati otak membuat seluruh perjalanan ChaeNi terasa seperti pesan tentang perjuangan dan tanggung jawab. Dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dan ketika dia tahu kebenaran itu, pilihan untuk tetap berjuang terasa jauh lebih berat sekaligus jauh lebih mulia.

 ❤❤❤❤

8.3
MyDramaList Score
8.5
Rotten Tomatoes
#1
Most Anticipated K-Drama 2026
14K+
Watchers MDL

The WONDERfools adalah K-drama yang menyuguhkan perpaduan sempurna antara nostalgia tahun 90-an, cerita pahlawan super yang tak biasa, akting yang luar biasa, dan tawa yang tak henti-hentinya. Ia mengajak kita kembali ke masa lalu, mengenang kesederhanaan dan ketakutan yang kita alami bersama, sekaligus mengingatkan kita bahwa kebaikan dan keberanian selalu ada, bahkan pada orang-orang yang tampak paling biasa sekalipun.

Bagi yang merindukan masa tahun 90-an, ini adalah kesempatan emas untuk kembali merasakan suasana itu. Bagi yang belum mengalaminya, ini adalah jendela yang indah untuk memahami bagaimana rasanya hidup di masa yang lebih sederhana namun penuh semangat. Dan bagi semua orang yang menyukai cerita yang menghibur, hangat, dan sedikit gila, drama ini pasti akan menjadi salah satu favorit kalian tahun ini.

Satu hal yang pasti: setelah nonton ini, kita akan berterima kasih karena sekarang hidup di era yang punya teknologi mumpuni. Tapi juga sedikit rindu zaman ketika menyelamatkan seseorang berarti kamu harus benar-benar hadir secara fisik.

Tapi bukan berarti tanpa kekurangan juga ya.. kalau mengajak nonton keluarga terutama anak-anak, pastikan beri pemahaman adegen merokok dan riset yang dilakukan pada anak-anak wunderkids dengan baik.

Ohya, yang bikin penasaran, apakah tahun 99 tisu basah dalam packingan besar sudah lazim digunakan di Korea? Karena seingat saya, dulu saya senang sekali kalau ayah pulang dari dinas dan naik pesawat karena dalam kotak menu disediakan tisu basah dan waktu itu hanya berbentuk kemasan kecil isi satu lembar. Bagi saya itu adalah salah satu treasure item (logonya aja maskapai penerbangan Hoahaha). Sering saya bawa dalam tas dan jadi penyelamat.

TOTAL SCORE / RATING
8,5
dari skala 1 - 10

Posting Komentar