" ".

Recap dan Review Perfect Crown Episode 11

Table of Contents


Recap

Flashback di malam kebakaran. Ian menerima pesan dari PM Min Jeong-woo yang memintanya menemui sang PM di gedung balai Konsulat sebelum upacara berlangsung. Ian pun pergi ke sana. Di saat yang sama, HyeJeong menerima kabar bahwa IYoon ingin masuk ke aula takhta bersama pamannya, atas permintaan Ian, ia lalu bergegas menjemput raja cilik itu.

Jadi Ian pergi sendirian, disaat yang bersamaan dengan HuiJoo berpapasan dengan Tuan Inpyeong. Ledakan terjadi dan semua orang terkejut. Ibu Suri memerintahkan dayang Im mencari informasi.

{Jeong-woo minta ketemu duluan, terus tidak kunjung masuk, dan bangunannya meledak. Halo? Siapapun yang masih bilang "mungkin dia tidak terlibat" setelah ini tolong ikhlaskan diri sendiri.}


Ketika HuiJoo melihat HyeJeong menangis di depan balai Konsulat dan menyadari suaminya masih ada di dalamnya. Tidak ada yang bisa menghentikan HuiJoo. Ia berlari masuk ke gedung yang terbakar seorang diri.



Di dalam, Ian masih setengah sadar ia mendengar suara HuiJoo memanggil namanya, untuk pertama kalinya HuiJoo memanggilnya "Lee/Yi Wan". Satu-satunya hal yang ia pikirkan saat itu adalah percakapannya dengan HuiJoo dan ia memintanya pergi karena itu berbahaya. Tapi HuiJoo tidak pergi. Ia menemukan Ian, berusaha mendengarkan detak jantungnya  dan mencoba menyeretnya keluar sendirian. Tidak bisa karena Ian jauh lebih berat dari apa yang sanggup di angkanya.

{Selain kebakaran yang berulang, saya masih bisa memahami keinginan HuiJoo untuk menolong Ian meski tak sesuai logika mitigasi bencana, dimana penghuni negara maju pasti lebih aware dibandingkan WNI kayak kita ((KITA))}

Raja kecil datang sambil menangis, mengabari Ibunya bahwa pamannya yang terjebak di Balai Konsulat. Ibu Suri terlihat kalut menanyakan kabarnya pada Dayang Im yang sama-sama terlihat terpukul.

Ian dibawa ke kamarnya. Tabib kerajaan menyatakan kondisinya stabil, tapi ia masih tidak sadarkan diri. Dayang Choi meminta HuiJoo beristirahat dan mengomelinya yang masuk dalam kobaran api. HuiJoo bilang jika posisinya dibalik, Ian pasti akan datang untuk menyelamatkannya seperti biasanya.

Tepat saat itu PM Min datang. Ia malah memarahi HuiJoo karena berani memasuki gedung yang terbakar dan membahayakan diri sendiri.

HuiJoo menatapnya dan meminta memelankan suara karena bisa terdengar para dayang. Melihat tangannya yang dibalut (HuiJoo kena luka bakar akibat memegang pegangan pintu menuju ruangan Ian yang panas), PM Min memintanya pergi ke rumah sakit tapi bagi HuiJoo karena menurutnya kebakaran ini bukan sekedar kecelakaan, jadi Ia tak percaya rumah sakit istana. 

PM Min mengajukan pertanyaan yang sangat menyebalkan, "Jika benar bukan kecelakaan, Kau mau tetap masuk dan mati menggantikannya?"

HuiJoo bertanya balik jadi seharunya, Ia harus membiarkan Ian mati?

Dan PM Min menegaskan hal itu. Ia mempertanyakan berapa lama lagi harus melihat HuiJoo terluka karena Ian

HuiJoo terdiam melihat itu semua. 


Setelah semua kembali selamat, Hyeon mencari HyeJeong dan menemukannya seorang diri. HyeJeong hanya bengong melihat Hyeon yang tetap ceria seperti biasanya. Hyeon memintanya jangan terlalu khawatir karena kedua atasan mereka baik-baik saja.

HyeJeong terlihat menangis dan dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia minta maaf. Ia menyesal sudah meninggalkan Ian sendiri.

Ketika melihat tangan Hyeon yang diperban. Ia mengucapkan terima kasih dan mengakui bahwa ia khawatir setengah mati padanya. Teringat pada saat Hyeon berusaha mengejar HuiJoo tetapi HyeJeong menahannya. Setelah menenangkan gadis itu, Hyeon masuk dan menggendong Ian keluar dari kobaran api. 

Hyeon memastikan pada HyeJeong: kebakaran ini bukan salahnya. Sama sekali dan Ia membalas genggamannya sambil mengucapkan terimakasih kembali karena berkat HyeJeong ia jadi merasa sembuh total. Lalu ia balas menggenggam jemari gadis itu

Hyeon bergurau sambil menghapus air matanya.

{Pasangan pendukung terbaik drama ini. Dua orang yang hidupnya dihabiskan untuk melindungi orang lain,  akhirnya ada yang melindungi mereka juga.}

HyeJeong dipanggil HuiJoo yang bertanya alasan Ian ada di Balai Konsulat alih-alih menerima abdikasi. HyeJeong menceritakan apa adanya tentang pesan dari PM Min.

{Dari sini HuiJoo yang cerdas seharunya mulai menyusun kepingan informasi ini sendiri. Dan hasilnya tidak menyenangkan untuk PM Min.}

HuiJoo menunggui Ian di kamar mereka di Ahnwandang. Ia mengingat semua pertemuannya dengan Ian dan mendengarkan detak jantungnya memikirkan apakah ada tempat yang aman bagi Ian. Jadi Ia duduk di sisinya sepanjang malam, tidak beranjak, tidak tidur. Matanya tidak berhenti memandangi wajah suaminya yang pucat.

Sementara PM Min mendapat laporan dari ajudan tentang kebakaran. Ia mencegah adanya pernyataan bersama dengan pihak kerajaan dan membiarkan situasi ini sampai Ian siuman.

Keesokan paginya, HuiJoo memantau CCTV Istana GyeonBokgung. HyeJeong dan Hyeon yang menemaninya memberikan informasi bahwa mereka butuh izin Ibu Suri untuk memeriksa para staf yang bekerja di istana. Jadi HuiJoo kemudian menemui IRang secara langsung. 


Ibu Suri memulai percakapan dengan mengutarakan keinginannya menjenguk Ian tapi kata-katanya dipotong HuiJoo dengan dingin. Dengan nada yang tenang tapi tajam, ia memberikan peringatan: Ibu Suri adalah pihak yang paling mencurigakan karena hanya dirinya yang terang-terangan menolak abdikasi Ian. Jika Ibu Suri ingin melindungi diri sendiri, berikan izin untuk melakukan penyelidikan.

HuiJoo meyakinkannya bahwa Jan akan selamat dan Ibu Suri bisa keluar dengan aman. Terakhir, HuiJoo pun menumpahkan tehnya, menegaskan bahwa sekarang ia tak boleh sembarangan minum (karena bisa saja diracuni lagi dan ia tak percaya pada Ibu Suri).

Ibu Suri memahami maksudnya. HuiJoo sudah tahu segalanya.

HuiJoo berjalan beriringan dengan Hyeon. Pria yang lebih muda melaporkan bahwa unit penyelidik kerajaan (yang dulu pernah membawa paksa HuiJoo dari kediaman pribadi Ian ke istana), akan memulai duluan baru akan disusul kepolisian tanpa diketahui publik. Semua atas permintaan PM Min dengan alasan penyelidikan kasus keracunan masih dibuka jadi ia ingin mencegah keadaan memburuk. 

HuiJoo langsung berlari kencang saat Hyeon bilang PM Min berada di Ahnwandang. Setibanya di kamar Ian, PM Min duduk di kursi yang biasa diduduki Huijoo. Untunglah ada HyeJeong menemani. Huijoo cemas tapi agak lega setelah mendengar penjelasan dokter kerajaan Ian hanya hampir koma karena stress dan dia akan bangun sendiri nanti setelah tubuhnya pulih. Tidak ada cara yang pasti untuk mengetahuinya jadi PM Min mengajak HuiJoo bersabar saja.

HuiJoo mengantarnya sampai gerbang dan meminta maaf akan sikapnya. Mungkin ia gelisah karena semuanya. Ia pun menanyakan rosario yang tak nampak lagi di pergelangan tangan PM Min. Pria itu beralasan, memang dilepas karena mengganggu pekerjaan. Mereka berbasa-basi padahal air muka mereka saling mengeras saat berpaling.

Malam itu, TaeJoo dan istrinya makan di restoran yang fancy. Belum sempat mereka memesan mereka mendengar dua pelanggan lain membahasa tentang kebakaran di istana dan gosip Ian meninggal. Keduanya langsung panik menghubungi HuiJoo. TaeJoo mengomeli adiknya yang tak pernah mengangkat teleponnya. Tapi telpon DaYeong pun tak diangkat oleh HuiJoo karena ia tak ingin diganggu saat menunggui suaminya.

{Ini duo pasutri tetap mencuri perhatian dan kocak banget. Mereka khawatir dengan HuiJoo dan Ian karena rumor tapi belum dapat info akurat}

Ajudan PM Min kembali memberi informasi bahwa sekretariat kerajaan ingin merilis pernyataan karena isu yang berkembang itu. Tapi lagi-lagi PM Min bersikap dingin. Ia malah mendatangi Ibu Suri. Ia mengancam akan memerintahkan secara resmi Ibu Suri mengambil alih posisi regent. Meski Ibu Suri enggan karena yakin Ian akan sadar, PM Min mendesak secepat mungkin karena apabila Ian sadar maka akan sulit membatalkannya.

Saat posisi genting, Ian hadir dan memberi salam pada kakak iparnya serta permintaan maaf telah membuatnya khawatir dan tertekan.

HuiJoo dan Hyeon memeriksa daftar orang yang punya akses ke balai Konsulat. Berlembar-lembar dokumen tapi HuiJoo yakin bisa menemukan anomali. Saat HyeJeong masuk dan mengabarkan Ian sudah sadar, HuiJoo sempat terpaku namun langsung berlarian pulang ke Ahnwandang


Ian mencegat dan menarik  lengannya langsung ke dalam pelukan suaminya itu. HuiJoo dan Ian berpelukan dalam keheningan sebelum Ian mulai mengomelinya yang nekat masuk sampai tangganya terluka.

HuiJoo mulai menangis dan bertanya balik bagaimana mingkin ia tetap diluar saat tahu Ian ada di dalam balai yang terbakar. HuiJoo mulai menangis tersedu dalam pelukan Ian. Suaminya meminta maaf lalu berujar berulangkali "Gwenchana" sambil mengelus rambutnya lembut.


Di ruangan pribadinya, PM Min minum sendirian. Memori tentang percakapannya dengan Ian hari ini membuatnya kesal. Menurut Ian itu hanya tidur siang yang lama jadi Ia harus mengubah opini publik dengan kembali menjalankan tugasnya. PM Min menghubungi Tuan Inpyeong dan memberi perintah untuk membereskan beberapa hal berkaitan dengan hal ini. Setelah menenggak minumannya, ia  tak dapat menahan diri dan membanting gelasnya sampai berkeping-keping.

{PM Min sudah menunjukkan warna aslinya nih}



Malam itu HuiJoo yang khawatir, tidur dalam pelukan Ian. Ia bertanya mengapa Ian justru langsung ke kamar Ibu Suri. Ian menjelaskan ia perlu mencegah PM Min mendesak kakak iparnya mengambil alih posisi regent.

HuiJoo bertanya tentang kepercayaan Ian terhadap PM Min. Ian mengaku selalu mempercayainya yang terikat kebinet, meski ada waktunya ingin memukul pria itu. HuiJoo terlihat cemas tapi Ian mengingatkan bahwa dulu HuiJoo lah yang mengingatkannya untuk selalu percaya PM Min. Ian pun mengajak HuiJoo kembali tidur dalam dekapannya dan HuiJoo menurutinya.

{Pasutri kita domestik banget ya.. Tapi masih geregetan nih, mereka masih juga berusaha percaya pada PM Min}

Pelaku pembakaran menyerahkan diri, Tuan Shin adalah anggota pengawal Kerajaan. Demo untuk meminta pelengseran pangeran Agung tetap berlangsung meski seluruh negeri terkejut. 

Ian menemui IYoon yang sangat gembira. Namun setelah mendengar bahwa Ian baik-baik saja, IYoon mengaku sangat cemas, teringat kebakaran yang merenggut nyawa ayahnya. 

Di istana, Tuan Inpyeong datang mengunjungi Irang. Ia mendesaknya untuk mencegah Ian kembali pada posisinya yang semula. IRang yakin tidak ada yang akan mendengarkan pendapatnya lagi. IRang justru berbalik bertanya dengan curiga, darimana ayahnya tahu bahwa sumber kejadian adalah ledakan gas. Hal tersebut sengaja disembunyikan dari publik. Dengan senyum culas, Tuan Inpyeong mengakui dirinya lah orang yang memerintahkan untuk menyalakan api di aula, sama seperti insiden-insiden sebelumnya. 

IRang berdiri memandangi kaca di kamarnya sambil menahan tangis. Selama ini ia berjuang mati-matian untuk mengikuti keinginan ayahnya untuk menjadi ratu lalu  melindungi ayahnya. Namun pria jahat itu ayahnya terus berulang kali mencoba membunuh Ian, pria yang diam-diam disukainya sejak lama. IRang melepas atribut kerjaan dan bertekad melawan. 

Ia memanggil AhReum dan berkata bahwa ia tak bisa lagi melindungi gadis itu. Namun ia berjanji keluarganya akan aman, sehingga AhReum berlutut menghormatimya.

{Akhirnya IRang sampai juga di titik akal sehatnya.}



HuiJoo pun tak dapat menerima tentang pelaku pembakaran. Menurut Hyeon Unit Perlindungan Kerajaan masih mencari komplotannya atau dalangnya. HuiJoo mendapat ide untuk mengajak Hyeon meninggalkan istana. Ia mengunjungi PM Min yang sedang berlatih menembak target. PM Min mengeluh tahun ini tak ada yang bisa memimpin kegiatan berburu tahunan karena Ian cidera dan Ibu Suri tak peduli dengan hal berbau perburuan. HuiJoo menawarkan dirinya sendiri, ia cukup mahir, bahkan mempraktekannya dengan  mengambil senapan dan dengan senyum tipis yang tidak menjangkau matanya, ia mengarahkan laras senjata itu ke arah PM Min.

HuiJoo bertanya dengan santai tentang bagaimana tradisi berburu ini bisa masih dipertahankan, padahal sangat merugikan. HuiJoo menyadari bahwa orang yang sangat dipercayainya inilah yang justru mengambil segala keputusan dengan berlindung demi kepentingan rakyat. PM Min tidak berkedip dan tak menanggapi sindiran HuiJoo mengenai reformasi. HuiJoo menurunkan senjatanya. "Sepertinya kita ada di sisi yang berbeda sekarang."

{Scene paling keren dari HuiJoo sepanjang drama ini. IU memegang senapan dengan ekspresi senyum tapi kamu seharusnya takut itu adalah definisi reinkarnasi Jang ManWool, Hotel DeLuna (2019)}

Ternyata di saat yang bersamaan, kala Ian sedang bekerja bersama HyeJeong, Ibu Suri IRang datang menemui Ian. Ia berpakaian serba putih yang sederhana tanpa atribut kerajaan apapun dan yang menggemparkan, Ia berlutut.

Ian langsung memintanya berdiri tapi Ibu Suri mengatakan bahwa Ia ingin melaporkan pelanggaran berat. Ayahnya lah yang berusaha membunuh Ian. IRang menyerahkan bukti penyelidikan saat hari pernikahan Ian dan HuiJoo. Alih-alih minta perlindungan bagi ayahnya, Ibu Suri justru berkata "Hukumlah aku dan ayahku," 

Ian terdiam lama. Lalu bertanya dengan tenang: "Apakah kamu siap jika aku benar-benar melakukannya?"

IRang menahan tangis tapi dengan tegar berjanji akan mencobanya.

{Gong Seung-yeon dalam adegan ini. Luar biasa. Karakter yang sejak awal dikonstruksi sebagai antagonis, akhirnya terlihat sebagai manusia yang hancur oleh ambisi keluarganya sendiri. Saya tidak bisa membencinya sepenuhnya karena saya yakin alasannya adalah cintanya pada Ian dan IYoon, putra yang ingin dilindunginya.}

"Kenapa kau takut padaku sekarang?" Ian masih mendesaknya

"Bukannya aku takut padamu, aku punya kewajiban melindungi tahkta dan karena itu aku melindungimu." Ia berjanji keserakahan keluarganya tak akan membahayakan Ian atau tahkta lagi di masa depan. Dan ia hanya memohon agar Ian mengampuni IYoon. 

Ian memintanya untuk menanggung aib selaku pendosa dalam sejarah kerajaan dan Irang siap.



Malam itu, Ian menelpon HuiJoo memintanya datang ke kediaman pribadi mereka.

HuiJoo tiba dan menemukan suaminya sudah setengah mabuk.

"Daegun Jaga", sapa HuiJoo sambil mendekat.

"Buin", Ian langsung mengamit pinggangnya. Mereka duduk bersama di beranda sambil memandangi sinar rembulan yang tengah penuh. Ian berbicara pelan, tentang kerisauan hatinya, ia tak tahu harus bagaimana ia harus menentukan hukuman yang tepat untuk IRang dan ayahnya. Bukan dari posisi amarah, tapi dari posisi seseorang yang benar-benar tidak tahu mana keputusan yang benar.

HuiJoo mendengarkan. Lalu malam itu sambil membelai Ian yang tertidur, tekad kuat tergambar di wajahnya

{Ini adalah versi dewasa dari romance mereka. Bukan ciuman dramatis atau pernyataan cinta berlebihan hanya dua orang yang lelah, duduk berdampingan, dan tetap memilih satu sama lain sambil menceritakan masalah mereka..}

Sang Raja menuliskan dekret untuk pamannya dengan bimbingan ibunya. Mereka menyerahkannya pada sekretariat kerajaan.

Ian menemui PM Min dan memujinya telah menemukan pelaku pembakaran. Ia pun bertanya mengapa hingga saat ini pelaku yang berniat meracuninya saat pernikahan masih belum terungkap. PM Min dengan santai berjanji tidak akan lama lagi. Ia akhirnya mengakui sudah mengetahui bahwa Tuan Inpyeong adalah dalangnya. Ian teringat bahwa kakak iparnya sudah memperingatkan tentang PM Min yang sebenarnya sudah tahu semuanya tapi berusaha menyembunyikannya dari Ian. 

Ibu Suri pun memberikan perumpamaan bahwa PM Min sebagai orang yang dipenuhi hasrat nekat akan melakukan banyak pilihan yang salah.

Ian masih mencoba mengorek alasan PM Min mempertimbangkannya. PM Min malah membentaknya dan meminta Ian agar tak bersikap kekanakan. Tuan Inpyeong adalah ayah Ibu Suri dan skandal ini akan menodai serta bisa menghancurkan tahta.

Ian heran, mengapa justru tahkta tak boleh dihancurkan. Tahkta tak akan bertahan selamanya dan begitu ia diangkat, ia akan mengajukan penghapusan monarki. 

PM Min menuduhnya hanya menginginkan kebebasan. Ian menimpali, kebebasan itu tak hanya baginya sendiri.

PM Min sangat kesal sampai tak menghiraukan HuiJoo yang berpapasan selasar istana. 

Huijoo mencemaskan Ian dan mengamit jemari suaminya. Sayang, meski akhirnya PM Min menyetujui penangkapan Inpyeong hal yang ingin dikonfirmasi oleh Ian langsung belum berhasil didapatkan dari PM Min.

{Ini Ian dan HuiJoo masih berharap PM Min mengaku?}



Unit perlindungan Kerajaan dan Polisi segera menggerebek Inpyeong di kediamannya. Kaitan antara dirinya dengan kejadian saat HuiJoo keracunan ditemukan dalam bukti-bukti. Berita penangkapan Inpyeong mengguncang seluruh istana dan negara. 

IRang menontonnya dengan perasaan campur aduk. Saat IYoon mendatanginya, ia memeluk putranya dan berpesan jika anaknya takut, ia harus menemui sang paman.

Ian pergi menemui Inpyeong di penjara. Ketika pria tua itu masih mengeyel, Ian menyuruhnya tutup mulut dan menegaskan nasib IRang dan IYoon tergantung pada seberapa dalam dirinya  bertobat.

Pria itu hanya bisa menatap Ian. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi cara untuk kabur.

HyeJeong melaporkan bahwa sentimen rakyat maupun dunia internasional sangat positif setelah ia menerima abdikasinya


Dan dengan itu Ian dilantik sebagai raja melalui upacara kenegaraan.

Review

Mengendap lebih dari sebulan, sejujurnya saya malas melanjutkan recap ini karena kontroversi yang timbul di episode ini. Anehnya pihak MBC selaku tim produksi sepanjang pantauan saya justru tidak mengeluarkan pernyataan resmi sama sekali. Kesalahan justru seolah dilimpahkan pada para pemeran yang merilis permintaan maaf di media sosial masing-masing. Sutradaranya juga memohon maaf pada netizen atas kekeliruan yang ditimbulkan dalam adegan pengangkatan raja tersebut, yaitu: 

Jumlah Jumbai Mahkota: Ian menggunakam berjumbai 9. Padahal secara historis, pemimpin dari negara berdaulat atau kaisar itu harusnya memakai mahkota dengan 12 jumbai.

Sorakan Rakyat yang Keliru: Ada adegan di mana rakyat berseru "Cheonse" (hidup seribu tahun). Nah, istilah ini dinilai kurang pas buat level kaisar, karena harusnya seruan yang dipakai adalah "Manse" (hidup sepuluh ribu tahun).

Etiket Minum Teh yang Tertukar: Adegan nge-teh antara HuiJoo dan Ibu Suri juga tak luput dari kritikan. Bukannya menampilkan tata krama tradisional istana Korea, gestur dan pembawaan mereka justru dinilai lebih condong ke budaya teh ala China.

Saya paham rakyat KorSel memang sensitif tentang sejarahnya. Tak ayal jika dinilai ada distorsi sejarah, mereka sampai membuat petisi yang akan ditindak lanjuti di level kenegaraan. 

Saya sangat mendukung langkah mereka tapi di sisi lain tetap mengasihani para tim yang sudah berperan dalam drakor ini. Semoga K-Netz mau melihat dari sisi bahwa drakor ini telah mencantumkan disclaimer bahwa kerajaan Korea yang diangkat adalah fiktif belaka. Jadi, bisa saja dalam tradisi kerajaannya memang seperti yang ditampilkan justru untuk membedakan dengan kerajaan yang pernah berkuasa di Korea. 

Balik ke politik istana, di episode kali ini, kita akhirnya bisa melihat  sisi asli PM Min Image-nya yang selama ini kelihatan tenang langsung luntur, berganti akan sifat aslinya yang manipulatif dan antagonis banget.

Saya akhirnya bisa bersimpati juga dengan IRang dan maklum sikapnya memilih untuk melindungi putranya termasuk dari ayahnya sendiri. Ia lelah dijadikan pion dan berhasil disadarkan Ian bahwa Ia pun akan melakukan hal yang sama, memaksa IYoon selama ini untuk selalu mematuhi keinginannya

HuiJoo juga tak kalah gigih mendukung keinginan Ian untuk menjalankan wasiat terakhir abangnya, mendiang sang raja. Ian pun tetep teguh pendirian  untuk mengakhiri monarki.

Alhasil, situasi di dalam istana langsung goyang, makin tak stabil, dan taruhannya nyawa. Proses abdikasi dan rencana suksesi takhta ini bener-bener jadi menu utama yang bikin penonton ikutan deg-degan sebelum masuk ke episode final.

Ketegangan yang muncul antara HuiJoo dan PM Min di area latihan berburu juga dieksekusi dengan sangat keren. 

Untung masih ada momen-momen manis antara Ian-HuiJoo. Tangisan HuiJoo di pelukan Ian itu melegakan semua orang, termasuk saya. HuiJoo sudah menyadari betapa besar rasa cintanya pada sang Suami. Bonding mereka pun semakin erat.

Masih ada bonus romantisme antara HyeJeong dan Hyeon yang semakin terbuka mengakui perasaan pada satu sama lain.

Posting Komentar