" ".

Review As Long As The Trees Grow : Cinta yang Tumbuh di Tengah Suriah yang Runtuh

Table of Contents



Hai Assalamu'alaikum 

Rendahnya semangat membaca saya ditegaskan dengan belum berhasilnya saya menamatkan buku As Long As The Lemon Trees Grow yang saya beli sejak akhir tahun lalu. Padahal belinya ikutan Pre-order di e-commerce penerbitnya dalam rangka cetakan edisi kedua dengan bonus bab tambahan cerita ekslusif.

Alasan klasik, ya karena kesibukan. Bisa jadi karena sebenarnya saya pernah baca edisi pertama tapi waktu itu pun tidak selesai dan berhubung bukunya pinjaman jadi keburu saya kembalikan. Tak selesainya karena waktu itu rasanya berat, kehadiran sosok Khawf sebagai perwujudan alam bawah sadar Salama, agak kurang selaras dengan kesehatan mental saya sendiri kala itu.

Trigger Warning

Beberapa adegan di rumah sakit digambarkan secara sangat grafis, yang mungkin memicu ketidaknyamanan / triggering bagi pembaca yang sensitif terhadap deskripsi luka medis atau darah. Penyintas PTSD atau Gangguan Identitas Disosiatif (DID) harap membaca dengan bijak. 


As Long as the Lemon Trees Grow
Judul As Long as the Lemon Trees Grow
Edisi Edisi Kedua / Republish 2025
Penulis Zoulfa Katouh
Penerjemah Berliani M. Nugrahani, Esti Ayu Budihabsari
Penerbit Mizan Pustaka (Grup Mizan Indonesia)
Tahun Terbit 2025 (Edisi 2); Cetakan awal 2023
Tebal 512 halaman
ISBN 9786024413132
Kategori Novel Fiksi, Keluarga, Perjuangan
Bahasa Indonesia

Sinopsis

Salama Kasaab, seorang wanita muda berjalan memasuki supermarket yang ada di Homs, sebuah kota tua di Suriah. Langkahnya berat, matanya juga, terutama ketika kenangan akan masa kecil yang menyenangkan kembali menyapa lewat rak-rak yang kini kosong. Dulu, ia dan para saudaranya bisa membeli berbagai macam cemilan namun kini yang tersisa hanyalah roti yang mengering serta buah lemon yang kisut.

Ia berjalan menelusuri puing-puing negerinya yang hancur dalam pertikaian konflik saudara. Saat ini yang menantinya di rumah hanyalah Layla, kakak iparnya yang seorang seniman dan tengah mengandung. Mereka menetap di rumah Layla yang dibelikan oleh Hamza, Abang Salama yang menghilang ditangkap pihak bersenjata. Hingga kini masih belum jelas nasibnya, kadang Salama berdoa Abangnya selamat sehingga bisa mengaplikasikan ilmu kedokterannya, tapi disisi lain ketika membayangkan siksaan yang dihadapi tawanan, ia mendoakan abangnya menjadi syuhada. Meskipun itu artinya sang Abang menyusul kedua orang tua mereka.

Salama sekarang bekerja di rumah sakit secara sukarela. Sejatinya, ia hanyalah mahasiswi farmasi tahun pertama tapi setelah apoteker rumah sakit itu gugur, ia wajib mengisi posisinya. Di rumah sakit ia berada di bawah bimbingan dr. Ziad. Di tengah segala keterbatasan, mereka berupaya menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Setiap hari ia melihat korban perang saudara Suriah, anak-anak yang kehilangan keluarga karena bom atau kelaparan, hingga dokter yang gugur. Semuanya terasa menyesakkan dan penuh keputusasaan hingga seolah menghancurkan hidupnya. 

Satu-satunya jalan keluar adalah mengungsi secara gelap ke Eropa dengan kapal. Biayanya tentu tak sedikit, beruntunglah Layla dan Salam masih punya emas simpanan. Layla mendesaknya segera menghubungi 

Ketika hadir Kenan, seorang pemuda bermata hijau yang punya semangat membara untuk mendokumentasikan kebenaran perang, Salama ragu antara rasa takut untuk tetap tinggal dan dorongan untuk pergi mencari keselamatan, Salama dihadapkan pada pilihan yang berat, tetap tinggal demi mempertahankan tanah airnya atau memenuhi janji terakhirnya pada Hamza?

Lalu siapakah Khawf, sesosok pria bertubuh besar yang menakutkan dengan poni menjuntai menutupi mata? Kehadirannya selalu membuat Salama meragukan setiap keputusan dalam hidupnya sekaligus menegaskan rasa takut yang selalu coba ia halau dengan menyebutkan nama bunga-bungaan uang disukainya "Daisy.. daisy.. daisy.."

Review 

Spoiler Alert
Ahmad
"Bibi, jangan menangis, kalau aku masuk Syurga aku akan menceritakan semuanya kepada Tuhan "

Yang saya sukai dari novel As Long As The Lemon Trees Grow :

1. Versi Terjemahan Edisi Kedua yang Kece

Pertama dari segi tampilan edisi kedua ini tuh cakep banget deh. Edisi cover baru dengan ilustrasi yang lebih menarik, ada Salama dan Kenan di bawah pohon lemon yang berbuah lebat. Jadi sekali lirik pembaca sudah tahu, ada romansa yang ditawarkan.

Terjemahan Edisi Kedua Mizan Pustaka cukup bagus. Bahasa Indonesianya mengalir enak dibaca. Istilah-istilah bahasa Arab dan referensi budaya Islam di dalamnya diterjemahkan dengan sangat baik tanpa kehilangan konteks spiritual dan emosionalnya.


Terasa lebih spesial dengan bonus cerita eksklusif di akhir. Bonus bab yang berjudul Kebahagiaan (atau Joy dalam versi Bahasa Inggris) itu seperti “hadiah” buat pembaca setia, memberi momen tambahan antara Salama dan Kenan yang bikin hati lega setelah emosi naik-turun sepanjang buku.

2. Bahasa Puitis Tapi Tak Berlebihan 

Sebagai debut novel, menurut saya kualitasnya bagus banget. Bahasanya puitis tapi tidak yang sastra-banget. Prosanya sederhana dan mudah menyentuh emosi, cocok untuk target usianya, young adult. Cukup banyak yang bisa dikutip / quote, diantaranya :

Deskripsi suasana kota yang dulu indah dan kini hancur begitu vivid. Saya bisa membayangkan nestapa Salama sekaligus konflik batin yang dirasakannya. Pergulatan batin seorang gadis muda yang harus memilih antara tinggal demi tanah air atau pergi demi masa depan.

Ketika Salama berada di rumah sakit, dalam kisahnya, palet warna hidupnya didominasi oleh warna merah darah dan abu-abu debu reruntuhan. Namun, setiap kali Kenan hadir atau ketika Salama memikirkan masa depannya, warna-warna cerah seperti hijau daun lemon dan kuning cerah mulai masuk ke dalam narasi. Ini adalah teknik penceritaan visual yang luar biasa.

Nama tokohnya pun simple dan karena Indonesia negara mayoritas muslim, sebagian besar sudah familiar. Ada Hamza, dr.Ziad, Ahmad, Layla, nama salah seorang adik ayah alias bibi saya.

3. Meningkatkan Awareness Tentang Perang Suriah dan daerah Konflik Lainnya

Meski tidak secara eksplisit menjelaskan latar belakang perang Suriah yang memang kompleks (silahkan cari tahu sendiri, saya ikut belajar online selama dua jam dari Prof Dina Sulaiman, ahli Hukum Internasional UNPAD saja merasa masih kurang ilmu untuk menjelaskan kembali), buku ini sedikit banyak menjadi tenar karena banyak korban perang atau para pembaca yang merasa related atau bersimpati. Penggambarannya akan kondisi negara pasca konflik akan membuat siapapun terkesiap. Begitu banyak kengerian yang bisa dirasakan, mulai dari kegentingan saat penyerangan terjadi, kesulitan bahan pangan dan obat-obatan, keadaan kota yang kelabu dan porak poranda, kehilangan anggota keluarga dan orang-orang yang disayangi serta efeknya bagi kesehatan mental para penyintas (selanjutnya akan saya ulas lebih mendalam di bawah).

4. Awareness tentang Kesehatan Mental terutama Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Khawf adalah metafora PTSD pada seorang penyintas tragedi seperti Salama. Tidak mewajarkan, namun kemungkinan berhalusinasi itu tetap kuat.

Tapi setelah membaca hingga tahu tujuan lahirnya Khawf, saya tak bisa bilang saya tak menyukainya. Bagi saya yang kerap berbicara dengan diri sendiri, Khawf bukan villain.

Ia memang perwujudan rasa takut dan trauma Salama SEKALIGUS mekanisme bertahan hidup yang diciptakan alam bawah sadarnya.

Interaksi antara Salama dan Khawf di dalam narasi buku ini terasa sangat sinematik. Sebagai pembaca di era modern, kita bisa melihat ini sebagai representasi kondisi mental Salama. Bagaimana kecemasan (anxiety) dan rasa bersalah sebagai penyintas (survivor's guilt) berbicara kepada kita. Penulis berhasil mengubah sesuatu yang begitu personal, yang biasanya hanya berupa inner monolog internal menjadi dialog dua arah yang tajam, menegangkan, sekaligus memilukan

Letak kehebatan As Long As Lemon Trees Grow adalah secara perlahan menunjukkan bahwa rasa takut bukan musuh. Kadang rasa takut adalah bagian dari diri kita yang sedang berusaha menyelamatkan kita. Diperlukan sebagai boost untuk mendorong agar keberanian bangkit, disaat paling genting sekalipun. Jadi tugas kita bukanlah menghilangkannya, melainkan mengatasinya dengan menjadi berani.

5. Pesan Moral dan Simbolisme Pohon Lemon

Zoulfa Katouh mengangkat tema berat dengan sudut pandang buku young adult. Jadi sekali tepuk dua nyamuk mati, selaras dengan filosofi pohon lemon. Saya menemukan ketika riset untuk mengulas, judul novel ini sendiri diambil dari kutipan terkenal penyair Nizar Qabbani (penyair dan diplomat Suriah), yang menyiratkan bahwa selama pohon lemon masih tumbuh, harapan tidak akan pernah mati.

Salama awalnya merasa bersalah setiap kali membayangkan meninggalkan Suriah. Ia tak ingin meninggalkan para pasien yang memang membutuhkan keahlian medisnya dan rasa cintanya pada tanah air. Tapi di sisi lain ia menginginkan keselamatan terutama bagi Layla dan calon keponakannya.

Sebenarnya sikap Salama sangat realistis. Ia hanya berusaha bertahan meskipun sambil mempertanyakan apakah dirinya sendiri masih pantas hidup. Ia telah kehilangan seluruh keluarganya dan kehidupan normal.

Justru konflik terbesar Salama terjadi di dalam kepalanya sendiri. Ada Khawf yang terus menerus berbisik agar ia pergi ke Eropa. Ketika ia bertemu Kenan, maka hal ini akan semakin kompleks. Pria muda ini idealis, pemberani, tapi juga lembut. 

Hubungan antara Salama dan Kenan tidak berkembang seperti romansa klise remaja pada umumnya. Romansa di sini adalah bentuk bertahan hidup. Di dunia di mana mereka bisa mati keesokan harinya oleh serangan udara, setiap percakapan, setiap tatapan mata, dan setiap janji kecil menjadi sangat berharga. Kenan mengajari Salama--dan kita sebagai pembaca---bahwa bahkan di tempat yang paling hancur sekalipun, manusia masih memiliki hak untuk merasakan cinta, keindahan, dan harapan. Beberapa momen mereka berdua bisa bikin saya senyum-senyum sendiri, meski latar belakangnya perang. 

Pohon lemon di Suriah memang terkenal karena aromanya yang kuat dan kemampuannya untuk bertahan di berbagai musim. Ini adalah cerminan dari rakyat Suriah itu sendiri. Salama menemukannya dalam wujud kisah cinta bersama Kenan.

Seperti pohon lemon yang bisa hidup panjang, sepanjang kita tetap berjuang maka selalu akan ada harapan dalam hidup. 

Rasa buah lemon yang asam dan manis berair, selalu jadi pengingat akan tanah air dan penyemangat, bahwa di balik asamnya kehidupan selalu ada kesegaran yang bisa kita peroleh.

6. Momen Refleksi

Ketika kita menutup buku ini untuk makan malam dengan tenang atau tidur di kasur yang empuk, kita tersadar bahwa apa yang fiktif bagi Salama adalah realitas sehari-hari bagi jutaan orang di Suriah, Palestina atau belahan dunia lainnya hingga hari ini. 



Kita harus bersyukur bisa menjalani keseharian yang relatif normal--meski sering dizolimi penguasa! Untuk itu sebagai momen refleksi kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan tak ada salahnya mulai berperan aktif meringankan beban saudara kita atas dasar kemanusiaan. Caranya bisa bermacam-macam, mulai dari aktif advokasi di sosial media, boikot produk pro penindas, menyisihkan sebagian rezeki untuk di donasikan sampai yang lebih serius seperti ikut gerakan pro-penyintas.


Satu-satunya keberatan saya akan novel ini hanyalah di halaman ucapan terimakasih  dan perkenalan sang penulis. Cita-cita Zoulfa adalah agar RM alias Kim NamJoon dari BTS membaca novelnya ini. Ya, dari segi mewujudkan impian dan kemajuan literasi saya mendukung banget sih, tapii sudah menjadi rahasia umum bahwa anggota grup tersebut--hingga kini, bahkan setelah dishout out oleh para Army, fansclubnya sendiri---masih menjadi bintang iklan produk yang jelas-jelas mendukung genosida di Palestina. Sebut saja minuman berkarbonasi warna merah dan resto ayam goreng dengan logo lengkungan emas. Belum lagi agensinya yang memang pro entitas pelaku genosida, terlihat dari pendapat Scooter Braun, CEO Hybe Amrik dalam beberapa kesempatan.

Ya, memang novel aslinya di rilis jauh sebelum 7 Oktober 2023 (yang sering dianggap tonggak awareness dunia terhadap serangan di Gaza), tapi tetap saja, bagi saya, agak mengecewakan juga kalau seorang penyintas malah mengidolakan tokoh yang pro penindas. Saya memang sulit memisahkan antara karya dan tokohnya ya.. Sesuka itupun saya dengan Harry Potter, saya memaksakan diri untuk tak membeli satupun merchandise-nya saat berkolaborasi dengan berbagai merk, setelah membaca rangkaian cuitan J.K Rowling di X yang saya simpulkan bias, lebih pro penindas setelah peristiwa tersebut..

Kalau suka membaca buku The Kite Runner karya Khaled Hosseini atau A Thousand Splendid Suns, buku ini punya vibe yang mirip tapi dengan sentuhan young adult yang lebih ringan di bagian romance-nya. Mirip juga dengan beberapa novel sejarah/perang lain, tapi latar Suriah modern membuatnya terasa lebih dekat dan relevan.

Cocok juga bagi para penyuka novel yang memadukan isu kemanusiaan, kesehatan mental, romansa yang hangat, dan refleksi mendalam tentang harapan. Novel ini mungkin tidak akan mengubah dunia, tetapi ia berpotensi mengubah cara kita memandang para penyintas perang. Mereka bukan sekedar angka statistik, melainkan sebagai manusia yang terus berusaha tumbuh, selama pohon-pohon lemon masih  tumbuh. Selama ada orang-orang seperti Salama dan Kenan yang berani bertahan dan mencintai, maka dunia pun masih punya kesempatan untuk lebih baik

Psst.. Kalau mau beli, versi kedua saja ya..  Sprayed edges biru elegan banget buat dikoleksi. Plus ada tambahan catatan pesan khusus  penulis untuk pembaca Indonesia, menjelaskan latar belakang pengalaman pribadinya yang menginspirasi cerita ini, lengkap dengan tanda tangannya!


TOTAL SCORE 
8,5
dari skala 1 - 10


Posting Komentar