Review Husbands in Action: Eks Suami dan Suami Kini, Misi Penyelamatan Penuh Aksi dan Komedi!
Akhir pekan yang masih diisi dengan kegiatan menyusun laporan kepengurusan parenting di sekolah si bungsu membuat saya terpaksa membatalkan ikut dalam perjalanan ke luar pulau bareng keluarga besar. Hanya si sulung yang berangkat. Setelah laporan selesai, saya dan si bungsu menghibur diri dengan nonton film di aplikasi merah, pas banget Husbands in Action, baru rilis.
Sinopsis
Hwang ChoongShik (Jin SeonKyu) adalah seorang detektif polisi yang sudah lama bercerai. Di sela-sela kesibukannya menangkap penjahat khususnya bandar narkotika yang paling menyebalkan sekalipun, ia selalu berusaha hadir dalam momen penting anaknya, Hwang YeonJoo (Oh EunSoo). Meski jarang bisa bertemu, tetapi hubungannya dengan sang mantan istri, SiNae (Kang HanNa) yang sudah menikah lagi dengan dokter hewan Lee MinSeok (Gong Myung), sebenarnya tak seburuk itu. Buktinya, ia masih diundang dalam kegiatan perlombaan sekolah yang diikuti YeonJoo.
Sayang, kursi yang disediakan untuk ayah hanya satu, sehingga kedua ayah berebut duduk bersama di kursi yang sama (akhirnya mereka nekat duduk sekursi berdua! Hoahaha) ChoongSik merasa harga dirinya sebagai ayah kandung dan pria alfa terusik oleh kehadiran MinSeok yang lebih muda, tampan, kaya dan lemah lembut.
Sebaliknya, MinSeok juga merasa tidak nyaman dengan intimidasi fisik ala polisi dan senioritas usia (selisih usianya hingga 12 tahun) yang terus-menerus dilontarkan ChoongSik. Mereka tetap tidak akur padahal pernikahan kedua ini sesungguhnya juga telah berlangsung beberapa tahun.
Ketika ibu dan anak itu tidak juga hadir hingga acara selesai, keduanya baru panik. Terlebih ketika ada telepon yang masuk ke ponsel ChoongSik dari HyeRan (Lee DaHee). Ia mengabarkan keduanya diculik dan sebagai bentuk pertukaran, ChoongSik harus membebaskan suaminya yang ditangkap saat penggerebekan kemarin, sang gembong narkoba Ma DoJoon (Kim JiSeok).
Di sisi lain, ada Kim YongGang (Yoon KyungHo), seorang mantan bos narkoba lama yang merasa kekuasaannya luntur sejak keluar dari penjara. Ajakan kerjasamanya yang ditolak mentah-mentah oleh DoJoon dan HyeRan membuatnya dendam kesumat. Celakanya, ia masuk ke dalam pusaran ini dengan niat menghabisi DoJoon dan mengambil alih kembali takhta kriminalnya tepat disaat ChoongSik dan MinSeok menyusun strategi melepaskan DoJoon saat penyerahan dari pihak polisi ke Kantor Kejaksaaan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, para suami harus mengesampingkan ego mereka yang setinggi langit. Mereka berdua terpaksa membentuk aliansi demi menyelamatkan SieNa dan YeonJoo yang sama-sama mereka kasihi.
Sepanjang perjalanan, aksi penyelamatan ini dibumbui juga oleh aliansi tak terduga dengan DoJoon dan kehadiran Jo ARa (Jeon SoMin), seorang jurnalis investigasi yang telah lama menyukai ChoongSik sebagai sumber berita eksklusif.
Apakah duet maut mantan dan suami baru ini berhasil menyelamatkan SiNae dan putri mereka? Dan bagaimana nasib ego mereka setelah misi ini selesai?
Review
Saya suka Husband in Action ini tuh ga perlu sampai mikir keras yang gimana, cukup duduk dan nikmati keplengerannya.
1. Pemainnya Familiar Semua
Jajaran pemainnya pasti sudah sering kita lihat wara-wiri di layar kaca maupun perak. Ada Jin SeonKyu, Gong Myung, Kim JiSeok, Yoon KyungHo, Jeon SoMin, Lee DaHee, Kang HanNa dan Yoon ByungHee.
Kesamaannya? Mereka semua aktingnya ekspresif banget dengan range luas dari yang mikro ekspresi yang halus sampai yang paling cringe dan dramatis. Maklum saja, trio Jeon SoMin, Lee DaHee dan Kang Hana sudah sering ambil bagian dalam acara varietas.
Kalau Gong Myung dan Jin SuKyu reuni setelah main di film Extreme Job (2019), tiga pemeran wanita yang juga menjadi favorit saya itu pernah seru-seruan bareng di acara varietas Running Man. Sekitar tahun 2018, berformat "Family Package Tour", Kang HanNa dan Lee DaHee diundang menjadi bintang tamu tetap selama berminggu-minggu, berinteraksi langsung dengan Jeon SoMin yang saat itu masih menjadi anggota.
Jangan lupakan si imut Oh EunSeo. Sepertinya syuting film ini tahun lalu, karena di My Royal Nemesis yang baru tayang, gadis yang sangat populer sebagai pemeran kecil tokoh utama dalam drama ini sudah bertambah tinggi.
Bahkan sampai ke para pemeran tambahannya saja kalau di cek laman AsianWiki-nya kebanyakan sudah pernah mengambil cukup banyak peran-peran kecil sebelumnya. Masih ada bonus cameo di akhirnya, yang menghadirkan istri Yong Gang, yang diperankan Im Yoona!
2. Representasi Perempuan yang Menyegarkan
Ketiadaan petugas polisi wanita di unit narkotika, terbayar dengan kehadiran Trio Lee DaHee - Kang HanNa - Jeon SoMin. Penampilan mereka kece badai, apalagi Lee DaHee, badass dalam balutan outfit elegan.
Dinamika karakter di antara ketiga wanita ini di dalam film seolah-olah membalikkan semua tropes tradisional dalam film aksi Korea (atau kebanyakan negara manapun). Biasanya, dalam film aksi bertema penculikan, karakter wanita diposisikan sebagai damsel in distress yang cuma bisa menangis dan menunggu diselamatkan oleh para pria.
Tapi di Husbands in Action, berkat energi alamiah dari tiga wanita yang sama-sama sering didapuk jadi pemeran utama (minimal 2nd female lead ini), dinamika itu berhasil dipatahkan.
Ketiganya punya karakter yang berbeda. HyeRan adalah dalang penculikan SieNa dan YeonJoo. Ia pun otak kreatif dalam jaringan narkotika yang dijalankan bersama sang suami. Sebagai ahli IT, ia mampu menciptakan NaBi, AI yang sangat canggih dan 'mesin' utamanya sudah berukuran compact. SieNa adalah ibu yang tangguh, berbekal kemapuan bela dirinya, ia berusaha tetap kuat dalam tekanan dan demi melindungi YeonJoo. Sikapnya tegas, ia bukan tipe yang masih mencari perhatian mantan suami, ia jelas berkomitmen dengan suami barunya. Jo ARa adalah jurnalis yang penuh rasa ingin tahu. Rasa percaya dirinya pun tinggi. Ia selalu berusaha mendekati ChoongSik yang dianggapnya sumber berita eksklusif dengan agresif dan lucu. Ia pun tanpa malu-malu memperkenalkan diri pada YeonJoo sebagai calon ibu baru. Hoahaha
Bertiga, atas dasar kesamaan nasib, mereka langsung bisa kompak menyusun strategi menghadapi penjahat. Termasuk membantu para suami menghajar komplotan anak buah YongGang dalam final battle.
3. Naskah Kuat
Mungkin salah satu faktor yang menarik banyak aktor seru berkumpul dalam film ini adalah naskah dan dialognya tak ada yang sia-sia.
Kisahnya sebagian besar disampaikan dengan bertutur alias dalam percakapan antar tokohnya. Menurut saya, narasi terbangun dengan jelas. Diantaranya apa latar belakang tokoh A melakukan ini, kenapa si B ditangkap polisi, kenapa si wanita bisa suka dengan pria yang jadi suaminya--atau sebaliknya. Bahkan jika melihat hubungan mereka yang jadi dekat, si suami baru pun bisa bertanya langsung apakah ChoongSik menyesali keputusannya berpisah dengan SieNa.
Ada juga skill yang diceritakan salah satu tokohnya diawal mungkin cuma dinggap random atau humble brag karena merasa egonya tersaingi, eh, ternyata memang terpakai banget. Bagi penggemar film yang memang kurang suka kalau harus menebak-nebak atau harus interpretasi sendiri, ini tuh nyaman banget.
Meski dengan kehadiran post credit scene yang membuka peluang sequel tapi sebenarnya film ini sudah mengikat semua kisahnya dengan--boleh saya katakan--sempurna. Jelas banget semuanya.
4. Masih Ada Suprisenya
Bagi saya, ritme-nya pas. Cukup berimbang antara aksi, drama dan komedi. Adegan aksinya tidak berlebihan, tetap masuk akal. Adegan kejar-kejaran, baku hantam, tembak-menembak dikemas rapi, tidak membosankan. Koreografi pertarungan jarak dekat yang seru, dinamis, dan tidak berlebihan. MinSeok yang memang tak ada basic bertarung tidak mendadak jadi jago tapi ada lebay-nya juga terutama bagi kekuatan ChoongSik dan DoJun.
Kualitas produksi Netflix yang sinematik, meski terbilang tidak ada adegan aksi berskala masif yang bener-bener mind-blowing. Skalanya cenderung personal tapi sesuai karakter, misalnya memanfaatkan kalung kejut anjing atau panah berujung obat bius untuk hewan sebagai senjata.
Ternyata lebih dari itu, film ini masih memunculkan aha momen, terutama karena saya menemukan pola polaritas yang bertentangan, yaitu :
a. ChoongSik VS MinSeok
Film ini secara halus mengkritik konsep hyper-masculinity (maskulinitas berlebih) tradisional yang sering kali toksik. Karakter ChoongSik di awal film digambarkan sebagai representasi pria maskulin. Ia merasa sebagai detektif polisi handal dengan latar belakang juara beladiri, kekuatan pria adalah segalanya. Ia memandang kelembutan MinSeok sebagai sebuah kelemahan.
Namun, seiring berjalannya cerita, film ini membuktikan bahwa ego maskulin dan sifat mendominasinya yang terlalu tinggi justru sering kali menjadi batu sandungan terbesar dalam menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, MinSeok, dengan segala kelembutannya sebagai dokter hewan, justru mampu membaca situasi psikologis, menggunakan taktik penjinakan emosi, dan memanfaatkan pengetahuannya tentang sains untuk melumpuhkan musuh tanpa perlu pertumpahan darah yang sia-sia. Sebenarnya, ia pun tetap memiliki kelemahan, ia gegabah ingin segera bertindak dalam menyelamatkan anak-istri walaupun kemampuannya pas-pasan.
Pada akhirnya, film ini mengajarkan bahwa mereka harus bekerja sama memadukan dua sisi yang mereka wakili. Ego seorang pria sejati diukur dari bagaimana dia bisa mengesampingkan harga diri pribadinya demi keselamatan dan kebahagiaan anak serta keluarganya.
b. Style Berbisnis Narkoba ala Kartel 'Keluarga' Lama VS 'Pegawai' Perusahaan Kekinian
YongGang masih menjalankan kartel narkoba dengan gaya jadul. Ia memanfaatkan otot dan loyalitas pendukungnya. Setelah ia dipenjara, sebagian besar pendukungnya terpencar. Ia pun seolah kehilangan pamor dalam dunia hitam.
Terbukti saat ia berusaha mendatangi kantor DoJoon, tidak ada yang 'kenal' atau mengetahui sepak terjangnya dahulu. Ia pun merasa kesal karena tak dihargai, apalagi setelah mengetahui skala bisnis yang dikembangkan DoJoon lebih masif dari segi penghasilan maupun jangkauan kekuasaan.
Di sisi lain DoJoon adalah representasi generasi yang lebih muda. Kerjasamanya dengan HyeRan berhasil memanfaatkan teknologi, termasuk AI untuk menopang kegiatan bisnis gelap mereka. Mereka mendirikan perusahaan profesional sebagai kamuflase sekaligus sarana pencucian uang. Karena dijalankan secara lebih efisien, maka hasilnya pun lebih profitable dan pengikut mereka pun lebih banyak meski aslinya adalah pegawai dan tak seloyal persaudaraan tim YongGang.
c. Kisah Cinta yang Menggebu-gebu VS Penuh Ketenangan
Ada banyak kisah cinta antar pasangan dalam film ini. Ada yang menggebu-gebu, langsung jatuh cinta sejak pandangan pertama dengan passionate, ada juga yang penuh ketenangan hingga akhir.
d. Wanita Sebagai Korban VS Sebagai Dalang
Dalam organisasi kriminal yang sedang menguasai daerah mereka, DoJoon sebenarnya hanyalah pion. HyeRan yang pertama kali mengajukan kerjasama dengannya. Ia adalah otak kriminal yang brilliant.
Sama halnya ketika plot twist terjadi ketika mereka semua malah diculik YongGang, para wanita sudah menyusun strategi kabur--minimal meloloskan YeonJoo--sebelum kehadiran para suami.
Plus ARa yang nekat melacak keberadaan YeonJoo berbekal jam tangan pintar yang diambilnya secara diam-diam dari loker ChoongSik di kantor polisi.
5. Memaknai Hubungan Keluarga
Sebenarnya, plotnya sudah gampang di prediksi alias klise banget. Action comedy dengan duo peran utama yang saling bertentangan tapi bakal jadi buddy diakhir. Tapi bagi yang sudah berkeluarga, apalagi yang ada anggota keluarganya berpisah, film ini makna kekeluargaannya dapet banget lho.
ChoongSik yang awalnya merasa ego-nya tersaingi, apalagi saat YeonJoo memamerkan jam pintar asli dari ayah tirinya yang lebih kaya, akhirnya bisa menerima bahwa dia sudah melewati babak itu. Ia merasa bahagia selama mantan istri bisa bahagia. Dan untuk urusan anak, tidak akan pernah ada namanya 'perceraian'.
MinSeok pun--setelah percakapan hati ke hati---mengerti bahwa dia tidak perlu menghapus jejak mantan suami dari hidup istrinya. Keduanya bisa menjadi orang yang sama-sama menyayangi YeonJoo dan SieNa, bukan saingan.
Ini pesan yang sangat relevan untuk zaman sekarang. Banyak orang menganggap hubungan baru harus memutuskan hubungan dengan masa lalu, padahal kenyataannya, setiap orang punya sejarah yang membentuk dirinya. Film ini mengajarkan keluarga juga bisa terbangun dengan blended family yang sehat. Bahwa hubungan pasca-perceraian tidak selamanya harus diwarnai dengan kebencian dan kompetisi abadi.
6. Lucu Maksimal
Berkaitan dengan cara bertutur yang menggunakan narasi tadi, meski dalam bentuk percakapan tetap ada unsur komedinya. Ada permainan kata, ada banyak sinisme sampai sarkasme serta jokes bapak-bapak banget. Tensi kompetisi ego antar lelaki ini bener-bener digambarkan dengan komedi satir yang bikin kita geregetan sekaligus ngikik.
Komedi situasi berbalut aksi ugal-ugalannya juga lucu dan seru. MinSeok yang punya bakat terpendam dalam mengemudi, mengendari mobil kliniknya yang dibentuk menyerupai anjing ala-ala drifter jago ngepot.
Apalagi kalau kisahnya sedang diceritakan secara flash back, asli kocak. Komedi slapstick jelas bertaburan, ada gerakan stunt yang menggabungkan bela diri serius dengan elemen komedi fisik (seperti terpeleset, salah pukul, atau menabrak barang). Tapi keabsurdan atau memakai bahasa yang lagi tren saat ini, keplengeran para tokohnya itu masih terasa masuk akal bagi saya. Sekali lagi, intinya nonton saja tanpa harus banyak berpikir yang gimana gitu deh.
Kelemahannya adalah pihak kepolisian yang jadi tampak lemah dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kepala divisi narkotika terlalu percaya dengan ChoongSik? Sejak awal melihat rekaman CCTV, ia langsung berpikir positif bahwa ChoongSik lah yang diintimidasi membebaskan DoJoon (bukan pelakunya Hoahaha). Tambah lagi setelah diminta ChongSik memberi waktu agar bisa membebaskan anak dan mantan isteri, beliau pun benar-benar memberi instruksi untuk menunda tiga jam sebelum bergerak bersama pasukan. Kayaknya beda banget sama tim yang biasanya selalu bentrok dengan sang kepala di universe lain (termasuk dunia nyata, kan ya?)
Overall, kalau bertanya "Annisakih, film ini worth it nggak sih buat di tonton weekend ini?" Jawaban saya adalah: SANGAT WORTH IT!
Husbands in Action adalah tipe tontonan yang sempurna untuk melepas penat setelah seminggu penuh bekerja atau belajar. Kita tidak perlu memeras otak terlalu dalam untuk memahami teorinya, cukup duduk manis, nikmati kegilaan interaksi antar-karakter, dan bersiaplah untuk tertawa lepas.
Cocok juga ditonton bareng keluarga. Cukup berikan pemahaman saja bagi anak-anak yang ikut nonton dibagian kekerasan dan moralitas yang bertentangan seperti penyalahgunaan obat terlarang.










Posting Komentar