Gejala Mata SePeLe Pas Maraton Nonton Drakor Sampai Pagi? Jangan Sepelein, Insto Dry Eyes Lekas Mengatasi!
'Candu' itu Bernama Drakor
"Hoaaamh"
Adegan menguap sudah saya 'lakoni' berkali-kali, saya lirik jam di sudut kamar, nyaris jam tiga dini hari! Di hadapan, gadget saya masih menyala, memutar adegan klimaks dari episode terakhir drama asal Korea Selatan. Drakor, begitu akronim yang sudah jadi bagian dari keseharian saya sebagai penggemar sejak dua dekade lalu.
Lalu tiba-tiba layar mengabur.
Bukan, bukan karena efek dramatis dari adegan flashback yang lagi diputar, tapi karena mata saya sendiri yang protes keras. Kedua bola mata saya rasanya sudah SEpet, PErih dan LElah sekali hingga terasa berat.
Tapi saya masih belum mau menyerah. Seolah kecanduan, logika dikesampingkan atas dasar rasa 'penasaran'. Tanggung nih, sedikit lagi terungkap siapa pelaku sebenarnya, benar atau tidak tebakan saya dan apakah para tokoh utamanya berbahagia?
Adakah teman pembaca yang seolah merasa deja vu?
Well, welcome to the club!
Bukan, bukan klub ekslusif bagi pecinta drakor tapii.. Klub orang-orang yang menyepelekan gejala mata SEpet, PErih, LElah demi nonton drama semalam suntuk atau yang ngetren disebut binge watching a.k.a maraton drama.
Bagi para pelakunya, seolah ada kepuasan batin tersendiri, setelah menamatkan drama--apalagi drama yang emang beda dari yang lain. Bukan cuma tontonan pengisi waktu luang, tapi momen nonton drama yang udah dinanti-nanti dari jauh-jauh hari, entah karena reuni pemain favorit, entah karena hype-nya udah ramai di base penggemar drakor sejak teaser pertama rilis. Begitu hari H tayang perdana tiba, dan ternyata semua episode langsung bisa ditonton sekaligus, rasanya kayak langsung memberi izin resmi buat diri sendiri begadang semalaman.
Memang sih, nonton drama yang baru ditayangkan langsung di hari yang sama dengan penayangan perdananya! Kita jadi bisa ikutan berkomentar di forum penggemar drama Korea. Atau bisa segera menuliskan review komprehensif baik di sosial media, movie aggregator atau seperti saya, di blog ini.
Era Drakor di Platform Streaming : Godaan Maraton yang Makin Susah Dihindari
Kalau dulu, setelah era nonton di televisi nasional atau VCD (ketahuan umur Hoahaha), penonton drakor berprivilage bisa streaming pun dipaksa sabar menunggu episode baru yang tayang setiap dua hari dalam seminggu. Lazimnya format drama Korea memang tayang demikian, misalnya Senin-Selasa atau Sabtu-Minggu di stasiun TV Korea.
Sekarang pola itu sudah banyak bergeser. Beberapa judul yang tayang di platform streaming global sekarang langsung dirilis lengkap dalam satu waktu, bukan lagi dua episode per minggu. Tergantung kisahnya tapi berkisar antara enam sampai sepuluh episode sekaligus dalam sehari, siap ditonton tuntas tanpa jeda. Beberapa contohnya bisa teman pembaca lihat di label serial di blog ini. Contohnya yang paling baru saya review, The East Palace yang langsung tayang delapan episode.
Secara langsung, model perilisan begini jelas beda banget efeknya buat mata dibanding zaman drama harus ditonton mingguan. Dulu, mau tak mau ada jeda alami ketika harus menunggu seminggu, berarti mata otomatis istirahat dari drama itu.
Sekarang, begitu semua episode tersedia, satu-satunya yang menahan kita berhenti cuma ketangguhan mendengarkan kata hati sendiri. Dan buat pecinta drakor sejati, itu biasanya kalah sama rasa penasaran. Jujur saja, siapa yang beneran bisa berhenti di episode lima kalau semua episode sudah ada di depan mata?
Jadi, bukan cuma kebiasaan nonton kita yang berubah, tapi juga cara industri drakor mendesain godaan buat maraton semalaman. Ini yang bikin risiko mata SePeLe makin relevan dibahas sekarang dibanding beberapa tahun lalu.
Btw, ini sudah menjadi fenomena global ya..
Para penggemar drama atau serial dari negara apapun pasti pernah mengalaminya kan? Di akhir pekan, setelah berjibaku dengan segala aktivitas, sebagai self reward kita ingin nonton serial favorit kita. Apalagi di saat aplikasi menonton menawarkan judul drama atau serial baru yang pemainnya kita sukai atau genre-nya favorit kita banget deh!
Didukung pula dengan faktor semakin beragamnya aplikasi streaming, tersedianya pilihan paket yang menarik (in this economy, demi menghemat, saya memanfaatkan gratis langganan dari bundling provider ponsel dan biasanya terbatas hanya untuk pemutaran di gadget. Oleh karena itulah saya kebanyakan nonton di gadget meskipun bisa di tonton di televisi atau laptop yang ukuran layarnya lebih mumpuni) serta metode pembayaran yang semakin mudah.
Kenapa Maraton Drakor Beda dari Screen Time Biasa?
Ternyata, nonton drakor itu bukan cuma screen time biasa, misalnya scroll media sosial atau nonton YouTube sambil rebahan.
Ada tiga hal yang bikin marathon drakor lebih berat buat mata dibanding aktivitas layar lainnya.
Pertama, Subtitle.
Sebagai penonton yang hanya paham sekelumit bahasa Korea, tentu saya atau banyak penggemar drakor memilih opsi menghidupkan teks terjemahan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Alhasil, setiap kali ada dialog dalam adegan, mata kita harus bekerja secara dobel : baca teks di bagian bawah atau atas layar (bila bisa diatur sesuai preferensi kita), sambil tetap menangkap ekspresi wajah pemain di bagian atas.
Gerakan bolak-balik bola mata ini terjadi puluhan kali bahkan tak terhingga dalam satu episode. Belum lagi kalau dramanya penuh dialog cepat kayak drama aksi atau dari genre yang butuh penjelasan panjang misalnya dari genre drama medis atau hukum, mata praktis tidak sempat istirahat.
Kedua, Kedipan Mata yang Berkurang Drastis
Ini bukan cuma mitos. Hasil riset menunjukkan bahwa, saat kita fokus membaca atau menatap layar dengan intens, frekuensi berkedip otomatis menurun.
Normalnya, mata orang dewasa berkedip sekitar 15-20 kali per menit. Tapi begitu fokus menatap layar apalagi sambil baca subtitle kayak pas drakor-an, frekuensi itu bisa turun drastis menjadi cuma 5-7 kali per menit. Artinya, lebih dari separuh kedipan alami kita hilang begitu aja gara-gara terlalu fokus ke layar.
Padahal, tiap kali berkedip, itu adalah cara alami mata menyebarkan air mata ke seluruh permukaan bola mata biar tetap lembap. Semakin jarang berkedip, semakin cepat lapisan air mata menguap, dan semakin cepat pula gejala SEpet, PErih, LElah muncul.
Kombinasi harus membaca subtitle plus adegan menegangkan membuat permukaan bola mata makin cepat kering karena air mata tidak sempat disebar ulang dengan normal. Posisi kita yang menentang jam biologis tubuh pun, membuat kita merasa malas untuk sekedar berkedip.
Ketiga, Waktunya
Maraton drakor paling sering terjadi malam hari, di ruangan gelap, dengan satu-satunya sumber cahaya adalah layar itu sendiri. Kontras terang-gelap yang ekstrem ini membuat pupil--sebagai bagian penting mata yang mengatur banyaknya jumlah cahaya yang masuk--bekerja lebih keras dan mata jadi lebih cepat lelah dibanding nonton di ruangan dengan pencahayaan normal.
Jadi kalau ada yang merasa bahwa mata lebih cepat sepet pas nonton drakor dibandingkan pas kerja di depan laptop seharian, itu bukan perasaan doang. Memang secara mekanisme, marathon drama itu kombo yang pas buat bikin mata protes.
Besoknya baru kerasa efeknya. Mata jadi lebih sensitif terkena cahaya, gampang lelah walau cuma buka laptop sebentar buat riset artikel, dan yang paling menyebalkan jadi susah fokus nulis review drama yang baru aja saya tonton semalaman itu. Ironis banget, kan? Sudah bela-belain begadang demi konten, giliran mau nulis malah mata tak bisa diajak kompromi.
Faktor usia juga turut berperan. Semakin bertambah usia seseorang, produksi air mata alami cenderung menurun, sehingga mata jadi lebih rentan kering dibanding waktu masih muda. Jadi buat teman pecinta drakor yang pernah nge-batin "Dulu saya kuat maraton drakor semalaman, sekarang baru dua episode udah sepet", itu bukan cuma soal mager, tapi memang ada faktor biologis usia yang berperan.
Dari sinilah saya sadar, gejala SEpet, PErih, LElah ini tidak boleh dianggap remeh cuma karena "Kan cuma nonton drama doang." Justru karena hobi ini butuh mata yang fokus lama dan berulang, risikonya malah lebih besar dari yang saya kira.
"Dua episode lagi deh, nanggung banget."
Tahu-tahu jam sudah 03.00.
Kalau layanan streaming kesayangan langsung menjatuhkan 8-12 episode sekaligus, jari refleks nge-tap Next Episode. Tapi di tengah keseruan itu, mata kita sebenarnya lagi menjerit minta tolong. Gulir ke bawah buat lihat apa yang terjadi, episode demi episode.
Sepet
Konflik utama baru mulai terbuka, seru-serunya. Tapi bersamaan, kelopak mata mulai terasa berat. Tiap berkedip, ada rasa kesat dan mengganjal, mirip ada partikel pasir halus yang terselip di balik kelopak.
Ini early warning system dari tubuh. Saat fokus menatap layar sambil baca subtitle, frekuensi berkedip anjlok drastis, lapisan air mata jadi lebih cepat pecah dan menguap, dan kornea mulai kehilangan benteng pertahanan utamanya.
Refleks yang harusnya dihindari: mengucek mata pakai ujung kaus lalu lanjut pencet Play. Mengucek mata saat kering berisiko menggores permukaan kornea.
Perih
Tengah malam makin hening. Rasa sepet berubah jadi perih yang tajam dan panas. Anehnya, mata justru suka mendadak berair sendiri sampai menetes ke pipi.
Air mata yang keluar mendadak ini bukan hidrasi sehat, melainkan reflex tearing, sinyal darurat karena kornea mulai mengalami mikro-iritasi akibat gesekan kering. Air mata refleks ini nyaris murni air tanpa lapisan minyak, jadi menguap lagi dalam hitungan detik tanpa sempat melembapkan kornea.
Refleks yang harusnya dihindari: mengusap air mata pakai tisu, meram sebentar sambil membatin "perih banget", lalu nekat melek lagi demi plot twist.
Lelah
Fajar mulai menyingsing. Pandangan ke layar membayang, subtitle kelihatan kabur, pelipis cenut-cenut, dan mata jadi super sensitif kena cahaya terang.
Otot siliaris, otot kecil pengatur fokus visual, mengalami tegang tingkat tinggi karena dipaksa mengunci jarak pandang yang sama berjam-jam. Saraf mata benar-benar kelelahan menahan paparan blue light dan dehidrasi jaringan.
Refleks yang harusnya dihindari: menutup laptop sambil membatin "nanti juga sembuh sendiri habis tidur". Kalau berulang, ini bisa menumpuk kerusakan sel epitel dan berujung sindrom mata kering kronis.
Boleh maraton, asal mata tetap dijaga.
Nikmati terus hiburan drakor kesayangan, tapi siapkan pelumas mata di samping meja dan kasih jeda istirahat tiap beberapa episode, ya.
Insto Dry Eyes · Siaga di Samping MejaRutinitas Nonton Sehat Ala Drama Lover
Bukan berarti solusinya berhenti nonton drakor sama sekali ya, buat penggemar berat itu mah tidak mungkin. Mengurangi nonton secara marathon tentu juga berpengaruh bagi kesehatan secara umum.
Kalau pun belum bisa, ada beberapa kebiasaan kecil yang sekarang saya terapkan biar hobi tetap jalan tanpa mata jadi korban.
Gejala mata SEpet, PErih, LElah ini sebenarnya cara tubuh ngasih tahu kita buat mulai lebih peduli, bukan cuma dianggap efek samping. Lupakan pameo "namanya juga hobi." Apalagi buat saya yang kerjaan sehari-hari juga tidak bisa jauh-jauh dari layar, untuk riset, nonton, sampai menulis review, kalau mata sampai bermasalah beneran, bukan cuma hobi nonton yang keganggu, tapi juga kerjaan.
Kenalan Lebih Dekat Sama Insto Dry Eyes
Sebelum saya rutin pakai, saya juga penasaran sebenarnya apa sih yang bikin Insto Dry Eyes bisa meredakan gejala mata SePeLe. Jadi saya coba cari tahu kandungan lengkapnya, sampai cara pakai yang benar biar efeknya maksimal.
1Tentang Insto Dry Eyes
2Cara Pemakaian yang Benar
- Cuci tangan sampai bersih sebelum menyentuh botol
- Dongakkan kepala sedikit ke belakang, tarik kelopak mata bawah membentuk kantung kecil
- Teteskan 1-2 tetes tanpa membiarkan ujung botol menyentuh mata atau tangan
- Kedipkan mata perlahan supaya cairan merata
- Tutup kembali botol dan simpan di tempat yang sejuk, jauh dari jangkauan anak-anak
3Do's and Don'ts
- •Kalau pakai lensa kontak, lepas dulu sebelum meneteskan, pasang lagi minimal 15 menit setelahnya
- •Simpan di tempat sejuk, jauh dari sinar matahari langsung
- •Tutup botol rapat setiap habis dipakai
- •Jangan dipakai lebih dari 1 bulan setelah botol dibuka
- •Jangan dipakai kalau cairan berubah warna atau keruh
- •Jangan dipakai rutin jangka panjang tanpa konsultasi dokter. Kalau gejala nggak membaik dalam 3 hari, atau malah muncul nyeri mata dan gangguan penglihatan, segera periksa ke dokter mata
![]() |
Insto Dry Eyes siap menjadi pelindung setia yang mengembalikan kelembapan alami, melumasi kornea, dan meredakan iritasi akibat maraton layar secara cepat dan aman. Jadi #BebasMataKering deh.
Terimakasih banget kepada adik saya yang dahulu menyarankan saya menggunakan Insto Dry Eyes.
Kelebihan lainnya, Insto mudah ditemukan di minimarket atau toko obat dan apotek terdekat dari rumah. Harganya pun terjangkau! Satu lagi, ukurannya yang imut dan ulir tutupnya erat jadi aman dibawa kemana-mana.
Teman pembaca, kalian tim maraton semalaman atau tim sabar nonton drakor mingguan? Dan drakor apa yang bikin teman pembaca bersiap untuk maraton sambil begadang lagi? Cerita di kolom komentar, yuk? Siapa tahu kita senasib habis begadang demi plot twist yang sama!
Hati-hati, kalau muncul gejala #MataSePeLeJanganSepelein. Tetesin #InstoDryEyes selalu ya..
Referensi
1. Dry Eyes: Symptoms and Causes. Diakses dari mayoclinic.org (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dry-eyes/symptoms-causes/syc-20371863) pada tanggal 06 Agustus 2026
2. Blue Light Has a Dark Side, Harvard Medical School. Diakses dari health.harvard.edu (https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/blue-light-has-a-dark-side) pada tanggal 6 Agustus 2026
3. Insto Dry Eyes, diakses dari https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes pada tanggal 08 Agustus 2026
4. Pengalaman pribadi penulis
Pengolahan gambar menggunakan Canva
_20260810_094259_0000.png)

_20260810_094300_0001.png)
Aku sepakat. Kalau sudah fokus nonton tuh kadang sampai nggak terasa lupa kedip. Kayak pingin terus nonton dan nggak mau ada adegan yang terlewat. Padahal, apalah arti ngedip. Paling sedetik doang.
Aku juga sedia Insto Dry Eyes di rumah. penolong banget kalau pas nonton drakor maraton atau kerja di depan layar seharian.
Teraso mato lelah, capek, dan langsung memerah. Memang nian ye harus stok INSTO ini. Biar pacak sekalian ngajak mato istirahat sebentar.
habis jalan kaki pagi dan mulai blog walking dan mata gatel mungkin karena kena debu
Begitu mata ditetesin Insto Dry Eyes, barulah bisa jalan-jalan ke blog teman-temen karena mata rasanya nyaman
Bagus banget ulasannya lengkap dan informatif tentang Insto Dry Eyes ini. Jadi makin paham kalau kesehatan mata saat menikmati me-time nonton itu nomor satu. Makasih udah ngingetin pentingnya jaga kesehatan mata lewat tulisan yang seru ini ya, Nis. Sehat-sehat terus buat matanya yaaa
Ternyata ada Insto Dry Eyes ya, seampuh itu? Wow keren sih.
Selain saya ga mau mata saya jadi mengalami kendala SePeLe gara2 nonton maraton, jujur saya bukan tipe orang yang penasaran harus langsung tuntasin semua episode.
Seminggu per episode atau max 2 episode kayaknya cukup buat saya
Tapi ya itu kendala yg suka dialami sering terasa gejala mata kering. Aku juga selalu pakai Onsto Dry Eyes kalau sekira dirasa dah ga nyaman
Akhirnya besoknya mata bintitan. Hehe...
Mengatasinya tentu saja dengan obat tetes mata ya. Saya selalu sedia Insto Dry Eyes di rumah
Tapii.. sekarang tuh hanya beberapa drakor yang bikin aku betah nonton.. lainnya kayaa.. mending bobok. Hahaha.. mungkin karena aku nonton di lepi yaa.. jadi kek berasaa uda nyerah duluan. Mager ngliat layar kecil di HP ((orangnya rewel, huhuhu))
Alhamdulillah, kebantu banget ada Insto Dry Eyes.
Kemarin juga mata sempet kering karena masa-masa ujian. Jadi kudu melototin layar jauh lebih lama buat murojaah.
Sekarang selalu sedia Insto Dry Eyes kemasan biru di rumah.