Kangen Oleh-Oleh Khas Bandung? Ini Pilihan Hits Sejak Era 90'an
Hai Assalamu'alaikum
Sedang bersih-bersih galeri ponsel, saya tak sengaja melihat folder yang berisi kumpulan foto tiga tahunan yang lalu saat staycation singkat di Hotel Santika Batam. Selain lokasinya yang super strategis, highlight-nya adalah sarapan pagi di Restoran Gurindam. Restoran yang terletak dilantai 11 ini, punya rooftop dengan pemandangan Batam Center dan laut yang sangat memanjakan mata, jadi tempat yang pas untuk sarapan sambil menikmati suasana kota Batam dari ketinggian.
![]() |
| Pemandangan dari Restoran Gurindam, Hotel Santika Batam Centre |
Ala food blogger dadakan, saya sampai foto-foto dulu sebelum makan. Hoahaha. Eh, tapi makanan utama, salad bar dan juice station plus jamu tradisional yang disimpan dalam chiller tak terfoto.
![]() |
| Ada proll tape diantara jajanan Nusantara yang terhidang |
Flashback dulu ya.. Era 90'an Ayah saya dulu sering bolak-balik ke Bandung karena pekerjaan. Bahkan beliau pernah pelatihan dalam jangka yang cukup panjang dan karena bahasa cinta ayah saya adalah oleh-oleh, saya jadi terbiasa sekali dengan aneka buah tangan dari Bandung dan Jawa Barat secara keseluruhan.
Apa saja Oleh-Oleh Khas Bandung yang Dulu Sering Dibawakan Ayah?
1. Peyeum
Makanan tradisional satu ini tak pernah luput dari tentengan ayah. Kami sekeluarga sangat menyukai olahan singkong yang bertekstur lembut dengan rasa manis dengan sedikit hint asam sebagai hasil fermentasi. Meski di banyak daerah selalu ada yang menjual tape singkong, buat kami Peyeum lebih enak, mungkin karena lebih padat dan terasa kering.
Ternyata Peyeum memang punya segudang manfaat, mulai dari sumber karbohidrat, serat, vitamin dan aneka mineral serta mengandung prebiotik yang menjaga kesehatan saluran pencernaan.
Kini selain disantap langsung, peyeum telah menjelma menjadi bahan bagi aneka menu yang diolah secara kekinian. Kesukaan saya adalah versi jadul yaitu colenak alias dicocol enak. Peyeumnya dibakar lalu dicocolkan ke saus kinca yang dibuat dari larutan gula merah, kelapa parut dan daun pandan sebagai aromatik.
2. Brownies
Brownies adalah salah satu oleh-oleh khas Bandung yang tersohor. Merek yang populer antara lain adalah Kartika Sari dengan Brownies panggangnya dan Amanda yang dibuat secara dikukus. Menurut saya sama lezatnya, tergantung preferensi saja, yang panggang sedikit lebih awet dan kalau memilih si top brand tadi harganya pun lebih tinggi dibanding para pesaingnya.
3. Pisang Bolen
Sebagai penggemar pisang, saya paling senang kalau dibawakan pisang bolen. Balutan kulit pastry renyah yang mengenyangkan, kadang masih ditambahi toping keju, semakin membuat saya tak cukup makan sepotong saja.
Seingat saya, dahulu ayah bergantian membelikan dari outlet Kartika Sari atau Prima Rasa. Saat ini semakin variatif baik dari topping, penyajian yang tentu saja berpengaruh pada harganya.
4. Kaus Factory Outlet
Saya yang di masa remaja cenderung tomboy sangat cocok dengan kaus-kaus factory outlet yang booming banget menjelang pergantiang milenia di seantero Bandung.
Selain style-nya yang up-to-date, bahan pakaian yang memang disasar oleh pabrikan sebagai produk impor, memiliki kualitas yang cukup baik, jadi awet dipakai.
5. Kerajinan Kulit Khas Cibaduyut
Saya, adik dan ibu pernah dibelikan dompet karya pengrajin yang dengan mudah kita temukan di kawasan Cibaduyut. Dompet kulit asli yang terlihat halus serta awet sampai sekarang pun masih ada tersimpan di rumah orang tua.
Ketika berkuliah saya sempat mampir kembali tapi tidak beli apa-apa karena tersadar, yang kualitasnya sangat baik harganya kurang pas untuk budget mahasiswa. Hoahaha
Sekilas Sejarah Kota Bandung, Sang "Paris van Java"
Kalau ngomongin oleh-oleh khas Bandung, rasanya kurang lengkap tanpa menengok sedikit sejarah kotanya. Kota Bandung resmi berdiri pada 25 September 1810 dan kini menjadi ibu kota Provinsi Jawa Barat sekaligus kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.
Jejak sejarahnya bisa ditelusuri sejak masa VOC menguasai kawasan ini sebagai wilayah perkebunan, karena topografinya yang tinggi diatas permukaan laut.
Pada tahun 1786 dibangun jalan yang menghubungkan Batavia (Sekarang Jakarta) dengan Bandung. Jalan ini kemudian berkembang menjadi bagian dari Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg sepanjang seribu kilometer yang membentang dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa, dan Bandung menjadi salah satu kota penting yang dilewatinya.
Memasuki awal abad ke-20, Bandung mengalami modernisasi pesat. Pemerintah Hindia Belanda mengembangkannya sebagai kota hunian bagi para pejabat Eropa, dengan tata kota bergaya Eropa lengkap dengan jalan lebar dan taman kota, serta gaya arsitektur Art Deco yang mendominasi bangunan-bangunan pada era 1920–1930-an. Beberapa gedung ikonik peninggalan masa itu seperti Gedung Sate, Hotel Savoy Homann, dan Gedung Merdeka masih berdiri kokoh sampai sekarang.
Julukan "Paris van Java" sendiri konon pertama kali mencuat dalam sebuah kongres arsitektur internasional di Swiss pada 1928, ketika seorang arsitek Belanda menyinggung gaya pembangunan Bandung yang dianggap terlalu kebarat-baratan. Meski awalnya bernada sindiran, julukan itu justru melekat dan terus dilestarikan hingga menjadikan Bandung sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Jawa sampai hari ini.
Mengetahui latar belakang ini membuat saya jadi lebih menghargai setiap oleh-oleh yang dulu dibawa pulang ayah. Ternyata bukan sekadar jajanan, tapi juga bagian kecil dari sejarah panjang kota yang penuh cerita. Saat ini, sebagai destinasi liburan favorit, Bandung dan kawasan sekitarnya memang menawarkan banyak lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Mulai dari wisata alam, wisata sejarah dan edukasi, kulineran sampai wisata belanja. Oleh-oleh yang bisa dibawa pulang pun semakin beragam.
Jadi, kapan nih, main ke Bandung lagi?
_20260802_223611_0000.png)



.jpg)
.jpg)
.jpg)




Posting Komentar