" ".

Review The East Palace : Intrik Pelik Politik Istana Berbalut Mistik

Table of Contents


Belajar dari teman-teman blogger yang   dengan bangga menamai diri sebagai generasi Blogger Lolita (Lolos Lima Puluh Tahun), cara menikmati tontonan saya tentu ikut bergeser. Kini, saya tak lagi sekadar mencari kisah romansa manis ala remaja, melainkan cerita dengan kedalaman konflik, atmosfer yang kuat, serta karakterisasi yang matang. 

Mengingat tahun ini drama si merah gacor semua, meski super sibuk plus penyesuaian lagi setelah pindah kota dan bantuin kakak ipar pindahan, saya bela-belain tetap nonton The East Palace di hari pertama tayang. Selain memang penasaran, tentu saja demi menghindari spoiler yang akan lekas bertebaran.

Setelah nonton, sebagai seorang ibu, saya merasa drama Korea ini menarik banget lho dari sisi parenting. Saya langsung nge-draft review ala-ala blogger parenting yang genah sampai sudah mendesainkan Ilustrasi canva Hoahaha. Eh, tapi takut ilmunya terlalu cetek nih, jadi mending yang biasanya saja deh, apalagi saya malah langsung dapat judul yang bikin saya sreg banget (Biasanya saya menentukan judul itu dibagian akhir Hoahaha). 

Namun, proses menuliskan reviewnya agak tersendat, tapi gapapa, saya puas banget mengerjakannya sampai cari subjudul yang berima no AI-AI Hoahaha.

The East Palace
Judul Asli 동궁 (Donggung)
Judul Lain Istana Timur
Negara Asal Korea Selatan
Genre Dark Fantasy, Sageuk (Drama Sejarah), Misteri, Horor, Aksi
Pemeran Utama Nam JooHyuk, Roh YoonSeo, Cho SeungWoo
Sutradara Choi JungKyu
Penulis Kwon SoRa, Seo JaeWon
Produksi Showrunners, Imaginus
Tayang 17 Juli 2026 (serentak 8 episode)
Jumlah Episode 8 episode
Durasi ± 46–59 menit/episode
Streaming Netflix (Original Series Seluruh Dunia)
Rating Usia 15+  Remaja 15 tahun ke atas

Sinopsis

Ibu Suri (Jang YoungNam) memekik histeris saat putra mahkota ditemukan meninggal dunia. Ia begitu terpukul karena sejarah seolah terulang kembali. Tiga puluh tahun yang lalu, para putra raja meninggal acara berturut-turut, sehingga raja saat inilah yang naik takhta, Raja JuSang (Cho SeungWoo).

Wanita secara de facto yang berkuasa walau di balik layar itu mengingatkan kutukan wanita yang tenggelam di kolam lalu bersumpah akan balas dendam dengan menghabisi seluruh anggota kerajaan.

Sang Raja masih menyangkal, tak mungkin di era Konfusius masih percaya pada kutukan arwah. Ia menjelaskan bahwa dua putra tertuanya meninggal karena sakit, sedangkan putra ketiganya--sebagai putera mengakhiri hidupnya sendiri karena tak kuat mengahadapi tekanan. Raja pun mengamuk ketika para pembesar istana meratap dalam prosesi pemakaman anaknya itu. Ia tetap berkeras pada pendiriannya.

Malang tak dapat ditolak, tiba-tiba putra bungsunya--sekaligus anak lelaki terakhirnya--secara mendadak mengalami sakit keras yang misterius. Ketika Sang Raja berkunjung, sang pangeran yang saat ini secara otomatis didapuk sebagai putera mahkota mengalami kerasukan. Meski usianya masih kanak-kanak, suara yang keluar adalah suara orang dewasa yang kembali mengatakan bahwa seluruh keturunan Raja akan dihabisi.

Diam-diam, Raja mendatangi seorang biksu serta memintanya melakukan ritual. Atas alasan usia, beliau menolak tetapi merekomendasikan Gu Cheon (Nam JooHyuk). Ia adalah seorang pemuda yang memiliki latar belakang misterius. Ditengarai, karena ketika masih kecil ia pernah mati suri, maka ia memiliki kemampuan masuk ke alam roh.

Sebagai pengawas, raja memerintahkan Dayang Saeng Gang (Roh YoonSeo) untuk selalu mengikuti Gu Cheon. Keduanya nampak saling tak menyukai sejak awal, namun perlahan sama-sama membuka hati untuk menceritakan masa lalu mereka.

Mampukah Gu Cheon mengatasi masalah mistis yang terjadi di Istana Timur?  Siapakah jati diri Saeng Gang sebenarnya? Dan benarkah kutukan Hantu Kolam adalah penyebab kemalangan yang menimpa para pangeran sebagai putera mahkota, baik 30 tahun yang lalu maupun saat ini?

Review

Spoiler Alert
Raja JuSang
"Jika kau ingin keluar dari istana ini hidup-hidup, segera tangkap roh itu dan singkirkan dia. Jika kau berhasil melakukannya, aku akan mengabulkan apa pun yang kau minta."

Saya suka banget dengan drama yang sekaligus tayang seluruh episodenya ini, karena : 

1. Premis Klasik yang dikemas Menarik

Drama ini memadukan mitologi asli Korea Selatan dengan narasi yang bisa diterima secara global : kutukan!

Menariknya, dikemas sebagai dark-fantasy drama dengan latar belakang keluarga kerajaan dan seorang ahli spiritual yang pernah mati suri. Di budaya manapun, saya yakin pasti familiar! Hebatnya, tanpa menghilangkan identitas budaya asli KorSel, konsep tersebut dikemas menjadi delapan episode yang menarik.

The East Palace  menawarkan pengalaman menonton yang berbeda, sesuatu yang semakin langka di tengah banyaknya serial yang mengikuti formula serupa. Drama ini berani mengambil risiko dengan tidak mencoba menyenangkan semua orang. Dari membaca komentar para reviewer, hasil akhirnya seolah terbagi dua, ada yang benar-benar menyukainya atau justru menganggapnya kureng banget, namun--sepanjang riset saya--drama ini jauh dari kata biasa-biasa saja.

2. Alur Non-Linear yang Ciamik

Drama ini tidak selalu menjelaskan semuanya melalui dialog. Alurnya maju mundur yang membuat kita akan sedikit berpikir dan berusaha menyatukan kepingan misteri yang ada. Ini seru banget dan cukup memuaskan saat jawaban terangkai dalam garis waktu :

Kronologi secara garis waktu kejadian di kerajaan

  • Raja terdahulu menikah dengan ratu yang seorang putri bangsawan (kini bergelar Ibu Suri), tanpa keturunan.
  • Tiga puluh tahun lampau, Sang Raja menikahi beberapa selir dari keturunan bangsawan dan putra lelaki, yang salah satunya telah dinobatkan jadi putra mahkota. Namun ia justru sangat menyayangi seorang selir dari rakyat biasa. Sang selir kesayangan--yang bisa masuk istana setelah di rekrut ratu untuk menjadi dayang--diketahui hamil. 
  • Ratu yang cemburu, memfitnahnya berselingkuh dengan seorang pengawal. Selir kesayangan menyangkal tapi tekanan membuatnya nekat melompat ke dalam kolam. Meninggalkan pakaian bayi yang telah dibuatnya dengan sepenuh hati. 
  • Semua saksi dihabisi ratu. Lalu berhembus isu bahwa sang hantu kolam yang dendam akan menghabisi keturunan raja yang lain.
  • Putra mahkota meninggal mendadak, seolah dikutuk. Begitu pula dua adiknya, pangeran yang lain. Sehingga Raja saat ini lah--sebagai pangeran terakhir--yang naik takhta.
  • Plot twistnya dalang semuanya bukan Ratu alias yang saat ini bergelar sebagai Ibu Suri, melainkan ibu kandung raja. Ia seolah polos tetapi menyuruh seorang dayangnya melakukan aksi meracuni tersebut. 
  • Sang dayang pun seharusnya akan disingkirkan sebagaimana seluruh saksi yang tahu trik kotor ini, tetapi Raja yang sebenarnya paham semua yang dilakukan ibunya lalu menikahi sang dayang demi menyelamatkan nyawanya (Pada saat itu, sang raja sudah punya tiga orang anak lelaki).
  • Pasangan ini melahirkan Saeng Gang. Sedari kecil, sang putri ini ternyata mewarisi keahlian dari keluarga ibu sang raja untuk mendengarkan suara arwah atau roh.
  • Sang Raja melarang Saeng Gang membicarakan kemampuannya. Ia pun diusir dari istana bersama ibunya ketika bersikeras memberitahukan ayahnya pesan dari para hantu. 
  • Tak lama di pengasingan, ibu Saeng Gang pun meninggal, diduga beliau di racun. Oleh karena itu, gadis cantik ini punya misi sendiri. Ia masuk ke istana demi menemukan pelakunya.
  • Kurang lebih dalam rentang waktu ini Gu Cheon pun tenggelam bersama ibunya. Ia selamat meski ibunya berniat mengajaknya bunuh diri bersama.
  • Fast forward, anak raja JuSang yang pertama dan kedua meninggal dunia, diduga karena sakit. Tanpa terduga anak ketiga  mengakhiri nyawanya sendiri. Adegan pemakamannyalah yang menjadi pembuka.

3. Keluarga Kerajaan Penuh Konflik dan Intrik 

Tak ada Harimau yang tega menghabisi anaknya sendiri sepertinya tak berlaku dalam drama Korea The East Palace.

Sebagaimana yang sudah saya bahas di bagian kronologi, ambisi terselubung ibu Raja JuSang membuatnya menjadi serakah. Ia tega melakukan segala cara demi memuluskan anaknya--yang notabenenya--hanyalah anak selir dan berada diurutan yang cukup jauh jika hendak menjadi raja.

Hampir semua konflik dalam cerita berakar pada keputusan generasi sebelumnya. Anak-anak harus menanggung kesalahan orang tua. Pewaris tahta harus memikul rahasia yang bahkan tidak pernah mereka ciptakan sendiri.

Dalam sudut pandang ini, hantu hanyalah bentuk visual dari rasa bersalah yang diwariskan turun-temurun.

Ini membuat The East Palace terasa lebih dekat dengan drama psikologis dibanding horor konvensional.

Ketakutan terbesar ternyata bukan makhluk gaib, melainkan kenyataan bahwa dosa yang tidak diselesaikan akan terus membayangi generasi berikutnya.

Dari sudut pandang parenting kekinian, Ibu Suri dan Ibu Kandung Raja adalah tipe orang tua yang gagal berdamai dengan masa lalunya. Mereka memproyeksikan ketakutan dan rasa tidak amannya kepada generasi di bawahnya, menciptakan lingkaran setan di mana kekuasaan dianggap sebagai satu-satunya alat validasi diri.

Sementara sang Raja ketika menjadi orangtua kembali menegaskan hal serupa. Ketika Ia menyadari putra ketiganya mengetahui rahasia kelam dibalik naik takhtanya sendiri, lalu melakukan tindakan keji dengan menghabisi abang-abangnya, sang raja yang berdarah dingin langsung turun tangan sendiri.

4. 'Megahnya' Dunia Mistik

Horror-nya KorSel itu unik karena kental unsur okultismenya. Dan itu berhasil banget dalam drama ini. Kita 'dipaksa' memahami berbagai macam mahkluk ghaib, terutama yang dikenal dengan istilah Gwi Mae

Tidak ada adegan jumpscare berlebihan yang sengaja dibuat supaya penonton menjerit. Ketakutannya perlahan merayap. Istananya megah, tetapi terasa kosong. Lorong-lorongnya indah, tetapi selalu menghadirkan perasaan seolah ada seseorang yang sedang mengawasi. Perasaan ini thriller.

Setting istana, desain dunia monster dan sinematografi gelapnya juara!

Termasuk scoring-nya. Suka banget! 

5. OTP yang Romantik 

Awalnya saya agak bingung dengan gaya bahasa yang kurang terasa saeguk. Secara tuturan formil kerajaan, seharusnya Saeng Gang disapa sebagai Ongju Mama (meski ia sedang dalam misi penyamaran sebagai dayang, setelah diusir waktu kecil), tapi Gu Cheon hanya memanggilnya Ongju saja. Entah kenapa, malah menjadikan hubungan kedua OTP terasa lebih akrab. 

Mereka pun perlahan saling mengenal dan mulai memperhatikan keselamatan satu sama lain serta menunjukkan loyalitas tinggi, termasuk saling berbagi 'Yang' (energi positif penuh kehangatan dalam sinergi Yin Yang).

Tanpa skinship berlebihan, interaksi keduanya terasa cocok dengan zamannya.

6. Diperankan dengan Artistik 

Para tokoh dimainkan bukan sekadar menyuarakan teks naskah atau mengikuti arahan sutradara, melainkan menghidupkan karakter melalui olah rasa yang mendalam, estetika gerak tubuh yang indah, serta penjiwaan emosi yang kuat.

Nam JooHyuk hadir sebagai pemuda kurang motivasi yang menjalani hidupnya secara ogah-ogahan. 

Cho SeungWoo di paruh akhir, patut mendapat pujian atas  akting yang benar-benar all-out. Ia adalah seorang raja, ayah yang berduka sekaligus anak yang 'berbakti' pada ibunya. Kemampuannya untuk mempilkan berbagai wajah itu patut diacungi jempol.

Tapi buat saya, Roh YoonSeo sangat berhasil membawakan Saeng Gang. Gesturenya bak putri sejati meski ia menyamar sebagai seorang dayang. Ia juga memiliki rasa loyalitas tinggi dan ingin membalas budi pada Gu Cheon yang telah menyelamatkan nyawanya.

7. Tokoh Imut yang Ikonik

Ggeomeoksali adalah makhluk roh dari cerita rakyat Korea yang menyerap energi 'Yang' dari makhluk hidup. Secara cerita rakyat, ggeomeoksali digambarkan sebagai makhluk hitam pekat seukuran anak tiga tahun yang berlari sambil meneriakkan namanya sendiri di tikungan gunung. Namun, dalam serial ini digambarkan sebagai sesosok imut dan adorable yang justru jadi favorit penonton di berbagai negara. 

Karakter kecil yang awalnya cuma elemen horor malah jadi maskot tak resmi yang menyelamatkan mood saya dan banyak penonton lain.

8. Pesan yang Mengusik 

The East Palace bukan sekadar drama tentang roh gentayangan di dalam istana. Di balik unsur fantasi dan horornya, serial ini berbicara tentang trauma, rasa bersalah, serta beban sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Inilah alasan mengapa drama ini memicu begitu banyak diskusi di komunitas penggemar. Sebagian orang datang mencari kisah horor, tetapi pulang dengan renungan tentang keluarga, kekuasaan, dan keberanian menghadapi masa lalu.

Bagi saya, kekuatan terbesar drakor ini bukan pada sosok hantunya, melainkan pada kemampuannya membuat kita bertanya: apakah yang paling menakutkan benar-benar makhluk gaib, atau justru kesalahan manusia yang terus hidup dalam ingatan?

Dan mungkin, itulah alasan mengapa drama ini tetap terasa menghantui, bahkan setelah episode terakhir selesai.

Sayang, ada beberapa bagian yang saya kurang sreg :

1. Pacing Turun Naik

Bagian awal agak lambat dan membosankan. Barulah memasuki akhir episode ketiga akan mulai terasa ketegangan yang sesungguhnya.

Malah menurut saya ada beberapa inskonsistensi dalam penyusunan narasi cerita. Entah saya yang kurang fokus karena nontonnya maraton, yang jelas ada beberapa bagian yang kurang terselesaikan dengan baik. 

2. Penggambaran Dunia Roh yang Over-realistik

Entah karena color gradingnya yang sephia banget atau terlalu mengandalkan efek CGI, rasanya jadi terlalu berlebihan, malahan maaf ya--jadi lebih mirip ke konten buatan AI. Padahal pertarungan di dunia roh ini seru banget lho. 

Bisa jadi pendapat saya sangat subyektif ya.. Karena saya memang kurang suka efek yang berlebihan, spesifiknya yang mirip animasi dari ciri khas negara tirai bambu. Contoh, se-booming dan gongnya Ne Zha 2 (jadi film dengan pendapatan tertinggi di dunia tahun 2025, tanpa mengurangi rasa hormat dengan jajaran pembesutnya, saya tetap kurang menyukai efeknya, huhu maaf ya)

3. Tokoh Utama yang Problematik 

Sejujurnya saat Nam JooHyuk tampil di Weight Lifting Fairy Kim Bok Joo (2016), dia begitu mencuri perhatian. Namun seiring perjalanan karirnya yang beralih dari modelling ke akting, ia sempat diterpa kontroversi.

Kini ia kembali ke dunia akting setelah rehat tiga tahun, termasuk menjalani wajib militer, sekaligus berusaha memulihkan citra pasca tuduhan pelaku perundungan yang mencuat tahun 2022 (ada kaitan juga dengan JiSoo sang sahabat yang sekarang mundur dari dunia entertainment KorSel tapi masih aktif di Filipina). Pengadilan sebenarnya sudah memvonis salah satu penuduh bersalah atas pencemaran nama baik dengan denda sekitar 7 juta won, tapi seperti yang sering terjadi di industri hiburan, vonis hukum tidak otomatis menghapus persepsi publik yang sudah telanjur terbentuk. 

Tambah lagi, saat meriset untuk tulisan ini, saya sempat membaca ada satu klip promo (tapi sayang, saya tak berhasil menonton langsung), yang menunjukkan bahwa ia seolah menyepelekan Roh YoonSeo. Istilahnya mansplaining.


8.5
MyDramaList Score
Top 2
Netflix Global Non-Inggris
83
Top 10 di Negara
28.184
MDL Watchers

Terlepas dari segala kontroversinya, The East Palace tetap seru banget dinikmati sekali duduk. Dicicil per episode pun tetap menarik dan tak sememusingkan itu. Bolehlah ditonton bersama keluarga di akhir pekan, walaupun demikian tetap waspada dengan adegan kekerasan dan dunia ghaib yang membutuhkan penjelasan bagi anggota keluarga yang lebih muda.


TOTAL SCORE 
8,5
dari skala 1 - 10

Posting Komentar