" ".

Rukazam Mini Zoo : Secercah Wisata Edukasi di Tanjung Balai Karimun

Table of Contents


Sebagai warga Karimun coret, alias selama bertahun-tahun hanya numpang kartu keluarga orangtua padahal tak pernah benar-benar menetap di sana, aslinya saya tak paham banyak tentang kawasan ini. 

Saya hanya pulang saat liburan sekolah lalu kuliah (dan kelak rutin datang mengajak anak saya menjenguk Opapa dan Omama-nya dalan rentang 1-2 Minggu).

Lucunya, setelah saya menikah dan ikut suami di Belakang Padang, ada tetangganya mertua yang bercerita dengan penuh semangat semasa muda pernah ditahan di penjara alias Rumah Tahanan Negara / rutan Karimun. Sang Mbah yang sudah sepuh sebenarnya lupa-lupa ingat garis waktunya tapi ia masih ingat benar, lokasinya yang langsung berada di tepi lautan dan digadang-gadang sebagai salah satu lokasi penahanan yang paling sulit bagi tahanan untuk kabur. (Mirip Nusakambangan gitulah).

Entah kisahnya benar atau tidak, saat mendengarkan kisah yang berulang kali dibahas ketika kami berjumpa, saya tuh cuma manggut-manggut sok iye. Hoahaha Aslinya? Saya sama sekali tak pernah menapakkan kaki bahkan melewatinya. Padahal si Rukazam (Rutan Karimun Berazam, dinamai demikian sesuai dengan moto Kabupaten Karimun : Berazam - Empat Azam Kabupaten Karimun yaitu Beriman dan taqwa, peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan ekonomi masyarakat dan pengembangan seni dan budaya khususnya khas Melayu) berada tak sampai sekilo meter jaraknya, bahkan mungkin hanya 500 meter saja dari rumah. Meski ini diukur dengan menarik garis lurus melewati perbukitan dengan tebing yang curam. Saya pun hanya tahu keberadaanya cukup dekat dari suara sirine yang kadang terdengar sampai rumah.





Sebenarnya ada jalan yang melalui gerbang utamanya, tetapi walau saya hobi jalan kaki sebagai olahraga, memang di tahun-tahun itu, Jalan Lubuk Semut yang menjadi jalur satu-satunya kawasan ini adalah titik mati yang mana kalau tidak ada keperluan penting tidak perlu dilalui. 

Kemudian Tanjung Balai Karimun berkembang. Dilakukan reklamasi pantai secara masif dan dibuat jalan lingkar yang disebut kawasan Coastal Area. Jalan ini melintasi sisi terluar Rukazam. Jadilah bisa dilalui dari sisi luar juga dan tak langsung menghadap laut lagi.

Berhubung lokasinya masih luas, ada sebagian tanaman bakau (mangrove) yang dipertahankan. Luasnya sekitar satu hektar. Lokasinya yang strategis di tengah kota dan wilayahnya yang cukup luas namun tidak sampai melelahkan untuk dikelilingi membuat Wisata Mangrove ini sempat cukup populer sejak dibuka pertama kalinya pada tahun 2024.

Ada titian berbahan kayu yang dibuka untuk umum selama beberapa waktu. Pengunjung bisa mengelilingi area bakau yang beberapa titiknya difungsikan sebagai spot foto. Menariknya berbagai tulisan yang dimuat adalah hasil karya dari penghuni rutan, yang biasa dipanggil warga binaan. Tulisannya cukup menarik dan menggelitik, ini beberapa yang sempat kami abadikan dalam kunjungan ke sana di bulan Oktober 2025.





Sayangnya ketika saya mengajak keponakan berkunjung lagi di pertengahan tahun 2026, kawasan ini sedang ditutup untuk umum. Alasannya karena beberapa bagian kayunya sudah rapuh, jadi takut membahayakan pengunjung.

Kemudian, berdasarkan keterangan Pak Daeng, salah seorang pegawai rutan yang kebetulan mengawasi ketika rombongan PAUD Anak saya datang, atas inisiatif Kepala Rukazam,  Bapak Yoga Hadhi Wijaya dikembangkanlah Mini Zoo. Kalau dari arah Jalan Lubuk Semut, bisa ditempuh dari Jalan masuk samping gerbang masuk Rumah Tahanan Kelas IIB Tanjung Balai Karimun. Sedangkan kalau dari Jalan Coastal Area, patokannya adalah Mushala Sidrathal Muntaha, Rutan Karimun.


Rukazam Mini Zoo diresmikan oleh Bupati Karimun bapak Ing. Iskandarsyah pada tanggal 17 Agustus 2025. Setelahnya beberapa orang yang sudah tahu informasinya mulai berdatangan. Pembangunan fasilitas dilakukan secara bertahap dan jumlah hewannya pun  bertambah.

Selain dukungan dari Pemerintah Daerah, sebagian hewan rupanya ada yang disumbangkan oleh masyarakat. Saya menyaksikan sendiri, saat seorang ibu paruh baya datang melaporkan bahwa di rumahnya ada seekor buaya rawa yang telah berhasil diamankan. Aparat yang membantu prosesnya menyarankan agar buaya tersebut diserahkan ke Rukazam.  Kemudian pihak rutan menjadwalkan penjemputan ke lokasi.  









Si Bungsu dan sepupunya sangat suka memberi makan hewan. Memang, karena tidak memungut biaya masuk, pengelola membudidayakan kangkung untuk dijual sebagai pakan bersama irisan wortel dan sayuran lainnya. Satu gelas bekas minuman dihargai Rp 5.000,-. Perputaran uang ini digunakan untuk biaya operasional.









Saat ini Rukazam menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Tanjung Balai Karimun serta para pendatang. Mayoritas membawa anak kecil. Paling gemas jika yang datang adalah kakek dan atau nenek beserta cucunya. Memang, selain ekonomis, ada nilai edukasi sekaligus bisa melekatkan bonding keluarga.

Anak sekolah tingkat Paud / KB dan TK bisa mengajukan surat kunjungan secara resmi. Nanti akan diterima dan ditemani oleh beberapa guide dengan beberapa aktivitas menarik. Cocok banget karena wilayahnya memang tak begitu luas, jadi anak-anak tak sampai kelelahan. Rindang dan adem juga jadi aman. Palingan oleskan saja lotion atau minyak telon anti nyamuk.




Selain hewan anak-anak juga bisa melihat beberapa kebun tanaman yang dijadikan sumber makanan seperti kangkung.

Para penjaganya, yang sebagian besar adalah warga binaan Rutan, sangat friendly. Mereka gampang akrab dengan anak-anak dan mau memberikan edukasi singkat mengenai hewan yang ada. Seperti Pelanduk alias kancil, dimana biasanya bersembunyi, kebiasaan makannya, dan lain sebagainya.

Di kawasan ini ada juga minimarket mini yang menjual merchandise. Sayang, belum ada yang spesifik dibuat custom sebagai kenang-kenangan dari Rukazam. Tapi lumayan lah, kalau haus atau ingin ngemil ringan.




Pun kalau mau makan berat, cukup keluar gerbang dan kawasan wisata kuliner Coastal Area akan siap menjamu selera kita. Yang terdekat, tepat di samping Mushalla Sidrathal Muntaha ada booth jajanan Korea, sejauh ini kami sudah mencoba toppokki dan bulgogi . Rasanya lumayan lah, meski masih jauh kalau disebut otentik. Disajikan dalam gelas plastik minuman sesuai ukuran yang biasa Rp 12.000,-/ porsi sedangkan yang jumbo > Rp 15.000,- sebelum ditambahi aneka topping ekstra. Disebelahnya lagi ada booth kopi yang menjual aneka kopi kekinian, menu paling hits adalah yang menggunakan sea salt. 

Di sebelahnya lagi ada booth es krim potong ala Singapura. Ini favorit kita. Dengan Rp 9.500,- saja kita sudah mendapat sehelai roti tawar tebal dengan isian es krim sesuai rasa pilihan dan satu jenis toping yang juga bebas dipilih sendiri. 

Jadi, kalau teman pembaca ada yang berkunjung ke Tanjung Balai Karimun. Boleh banget mampir ke Rukazam. Rutenya gampang banget koq. Dari pelabuhan utama Tanjung Balai Karimun sebenarnya bisa di tempuh dengan berjalan kaki menyelusuri kawasan Coastal Area kurang lebih tiga puluh menitan. Ya, ini juga kawasan jogging paling hits jadi buat yang sudah terbiasa dengan rute ini, terasa dekat banget karena jaraknya hanya sekitar 2,6 Km. Kalau tak mau capek, bisa naik ojek atau taksi online atau taksi resmi pelabuhan. Tarifnya masuk dalam range kawasan Teluk Air yaitu Rp 50.000.,- sekali jalan, tentu menggunakan taksi online yang beroperasi di Balai harganya jauh lebih kompetitif.

Ohya, buat yang sudah sering travel di Jogja seperti mbak RianaDewi.com, ayo berkunjung ke Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau dan jangan lupa singgah di Rukazam Mini Zoo!

Posting Komentar