" ".

Review The Apartment Job : Anti-Hero dalam Penyamaran yang Mengungkap Realita Dunia Perumahan

Table of Contents


Hai Assalamu'alaikum 

Saya nonton demi duet JiSung dan Ha YoonKyoung. Di tengah carut marut dunia persilatan, nonton the Apartment Job terasa utopia sekali, tapi dalam artian positif bagi saya.  Kapan ya di Indonesia ada penerapan regulasi seketat KorSel yang langsung menegaskan setiap hunian (vertikal termasuk apartemen), memiliki serikat pemilik dan transparansi pengelolaan dana iuran pengelolaan lingkungan (IPL)?

Yah, meskipun tetap bisa dicari titik butanya, sebagaimana yang ingin dimanfaatkan oleh protagonis kita kali ini.



The Apartment Job
Judul Asli 아파트 (Apateu / Apartment)
Judul Lain The Apartment Job, 公寓黑風暴, マンションのお仕事
Genre Komedi Kriminal, Thriller, Misteri, Drama Keluarga
Pemeran Utama JiSung, Ha YoonKyung, Park ByungEun, Moon SoRi
Sutradara Jo YongWon
Penulis Naskah Kim YoonYoung
Produksi SLL, Rednine Pictures
Jaringan Penyiaran JTBC (Sabtu & Minggu, 22:40 / 22:30 KST)
Tanggal Tayang 11 Juli 2026 – 16 Agustus 2026
Jumlah Episode 12 Episode 
Durasi ± 60–70 menit/episode
Rating Usia 15+

Sinopsis 

Park HaeGang (Ji Sung) adalah seorang CEO. Ia menjalankan pekerjaannya sebagai direktur perusahaan fiktif yang aslinya adalah sarang perjudian. Segala jenis judi tersedia dan dikelola dengan sistematis. Ketika ada pelanggan yang mangkir dalam membayar tunggakan, ia akan mengusut aset dengan presisi. Aset berupa saldo tabungan dorman sampai uang ganti rugi dari negara terhadap tanah milik leluhur pun akan dibalik nama untuk melunasi utang pelanggan yang bersangkutan.  

Sejatinya, ia hanyalah bos secara defacto, Park YoungMan adalah bos besar yang telah pensiun. HaeGang menganggapnya ayah angkat yang telah berjasa dalam hidupnya. 

Untuk menjaga hubungan baik dengan pihak kepolisian, ia rela menjadi pesuruh saat para petinggi melakukan outdoor activity. Ia menyiapkan pelicin berupa snack berisi gulungan uang. Selain itu ia pun memberi segala sesuatu yang diinginkan. Mulai dari tas edisi khusus, tiket konser dibantu oleh anak buahnya yang memiliki skill masing-masing. Ada si bungsu Big Brother (Kim GyuWon) yang berbadan tambun karena suka makan sekaligus jago masak; Jang JaeGil (Hwang Hee) yang mengandalkan otak serta Kim GyeongNam (Jung SoonWon) seorang ayah tunggal dari Kim GyeongBook (Kim HanGyeol).

Suatu hari, seorang pelanggan tetap Hwang InSik (Kim WonHee) mengamuk untuk dipinjami uang. Selama ini ia selalu melunasi pinjamannya tepat waktu. Setelah ditelisik, ia berkerja selalu manajer di sebuah komplek apartemen. Secara diam-diam ia korup dan menghabiskan uangnya di meja judi.

Ketika komisaris polisi membutuhkan uang sepuluh miliar won untuk bergabung dengan klub one yang berisikan petinggi negara, salah seorang polisi dari Polda, Pak Son mengusulkan meminta uangnya pada HaeGang. Malangnya, HaeGang menolak dan keesokan harinya, seluruh orang kepercayaannya di tangkap dengan pelbagai alasan. Puncaknya ialah sang ayah angkat, Park YongMan (Jung JinYoung) ditangkap dan karena beliau mengidap penyakit ganas dengan harapan hidup tinggal tiga bulan, HaeGang dan para adik-adiknya berusaha keras harus mengumpulkan uang itu secepatnya.


Langkah pertama, mereka melakukan pernikahan palsu demi mengumpulkan uang angpau pernikahan dari relasi bisnis kriminal. Pasangan bohongannya ialah seorang gadis bernama Kang HaRi (Ha YoonKyoung).  Ia bersedia melakukan berbagai pekerjaan asalkan dibayar, akibat berbohong bahwa Ia bekerja di hukum setelah lulus ujian advokat. Padahal sehari-hari HaRi masih berkerja di biro konsultasi hukum pro-bono.

Sayang, uang angpau belum mencukupi. Dari InSik mereka mendapatkan ide untuk mencuri uang pemeliharaan jangka panjang apartemen. Dana tersebut berjumlah cukup besar dari setoran setiap warga dan sengaja diendapkan sebagai modal perbaikan apartemen dan operasional lainnya. Mereka menyasar True Value, hunian apartemen campuran (boleh disewakan) yang terdiri atas 9.800 unit. 

Untuk bisa mengakses dana tersebut, HaeGang harus terpilih sebagai ketua asosiasi warga apartemen. Mampukah Ia memenangkan persaingan pemilihan Ketua dengan dukungan keluarga palsu? Lalu siapakah Jang SeokJin (Moon SooRi) dan Lee ChungWon (Park ByungEun) yang juga memiliki kepentingan atas True Value?

Review 

Spoiler Alert
intermittent Family
"Kalau diperlukan, kita akan menjadi ibu, ayah, anak, paman, dan keponakan bagi satu sama lain."

Ternyata setelah nonton episode perdana, saya sangat menyukai Apartemen Job dan tak menyesal nonton sampai selesai secara ongoing.

Premis Heist yang Penuh Twist

Premisnya mengingatkan saya akan serial bertema heist serta beberapa serial yang bersetting apartemen seperti Happiness (2021). Satu lagi, formula anti-hero, dimana orang jahat berubah jadi pahlawan tanpa sadar ala Vincenzo (2021).

Rasa familiar itu awalnya saya kira bakal jadi kelemahan. Ternyata justru jadi kekuatan. Penonton kawakan seperti saya cepat akrab dengan pola heist jangka panjang, tapi drama ini terus menyisipkan twist kejutan yang segar. Birokrasi pengembang apartemen yang dikendalikan Lee ChungWon ternyata jauh lebih licik daripada sindikat pencucian uang biasa. Sebagai developer, perusahaan sejak awal memangkas anggaran bahan bangunan, lalu membebankan biaya perbaikan ke dana perbaikan apartemen. Kejahatan berlangsung berlapis, karena saat perbaikan terjadi, dilakukan mark up, bahkan dana tersebut pun dikuras habis. Triple kill, deh.

Serunya, meski problemnya sebenarnya cukup pelik, penyajiannya tetap kocak. Drama kriminal ini tahu cara membuat kita tertawa. Ketika konflik mulai serius, tensi tetap naik tanpa kehilangan identitas comedic-nya. Penipuannya bukan hanya soal rencana yang disusun secara sempurna, tapi soal orang-orang biasa yang memasang startegi pura-pura. Entah bagaimana, sejak urun ide, pikiran dan skill masing-masing anggota bisa padu.

Jadi, ketika langkah mereka berhasil, rasa lega dan senangnya benar-benar tembus layar. Begitupun sebaliknya, ketika ada masalah baru, ikutan kepikiran juga, ide anomali macam apa lagi yang akan dieksekusi oleh tim 'aneh' ini Hoahaha.

Pemain Banyak, Penokohan Karismatik

Ji Sung membuktikan lagi kenapa dia layak jadi salah satu aktor paling diandalkan buat genre seperti ini, dan debut Netflix-nya ini jadi pembuka yang manis.

Sebagai anti-hero, HaeGang justru lebih berbahaya (dan lebih menarik) karena ia menerapkan pengalamannya di dunia gelap untuk melawan sistem yang lebih gelap lagi. Ia bukan orang baik dari awal. Ia hanya lebih baik dari lawannya. Dan justru karena itu, kita terus meragukan niatnya, terus bertanya-tanya, apakah ia akan tetap setia pada uang untuk kepentingan pribadinya, atau akhirnya memilih warga?

Namun awalnya, untuk membangun citra sebagai penghuni biasa dan family man, HaeGang membangun keluarga pura-pura. Selain ketiga adiknya yang memang memiliki loyalitas tanpa batas, si kadal sebagai penasehat berperan sebagai ayah mereka. Sementara GyeongBok menjadi anaknya dan HaRi pun dibujuk melanjutkan peran selaku istrinya. Terbentuklah keluarga yang menerka sebut intermittent family (terinspirasi dari intermittent fasting yang dijalani big bro ni Hoahaha).


Terciptalah kelompok aneh yang sebenarnya tidak punya hubungan darah, tapi perlahan berubah jadi keluarga sungguhan. Lucunya, semakin lama mereka berpura-pura, semakin sulit membedakan mana akting dan mana perasaan yang nyata.

Trope keluarga pura-pura biasanya dipakai di komedi romantis ringan. Di sini, ikatan emosional yang terbangun  lebih dalam, sampai saya selaku penonton hampir lupa kalau dari awal semua ini cuma modus.

Kim WonHae sebagai InSik yang berjulukan Kadal, jadi sumber tawa tak terduga. Di balik penampilan konyol dan perilaku mencurigakan, tersimpan kesetiaan yang jarang ditemukan. 



Park ByungEun sebagai Lee ChungWon adalah antagonis yang elegan sekaligus mengerikan, kita sering ragu apakah dia  murni jahat atau korban sistem juga? Perlahan kita akan diajak melihat korupsi, kolusi dan skandal sistemik yang berasal dari sisi penguasa. Jadi beliau memiliki sisi jahat sekaligus sisi manusiawi berupa keserakahan yang nyata serta keinginannya untuk menghindari tekanan kelompok penguasa. Interaksinya dengan HaeGang terasa banget chemistry  persaingannya.



Kalau drama ini hanya bergantung pada Ji Sung--meski kali ini tetap ganteng paripurna dan seolah tak menua sejak era drama pertamanya yang saya tonton Swallow the Sun (2009), mungkin akan terasa berat. Untungnya, para pemain pendukung bekerja sangat baik. Chemistry seluruh cast menjadi alasan utama drama terasa menyenangkan dari awal sampai akhir. Dalam ensemble drama, karakter pendukung tidak boleh hanya jadi dekorasi. Di sini mereka punya fungsi, kepribadian, dan hubungan nyata dengan konflik.

'Keluarga' dan Tetangga yang 'Manis'

HaeGang tumbuh tanpa orang tua dan hanya dibesarkan oleh bos yang dianggap ayah. Di kompleks apartemen itu, dia secara tidak sengaja membangun ikatan baru yang mengubah seluruh hidupnya. Sesuatu yang tidak ada dalam rencana keluarga dan tetangga serta komunitas apartemen.

Ia datang sebagai orang luar. Lalu perlahan menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Konsep keluarga palsu jadi jauh lebih bermakna. Mereka bukan sekadar gimmick untuk membuat penonton terharu atau  tertawa. Mereka mampu menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu terbentuk karena darah. Kadang ikatan kekeluargaan terbentuk karena orang-orang yang awalnya hanya punya kepentingan masing-masing tiba-tiba saling menjaga.

Begitu pula dengan warga apartemen. The Apartment Job mengingatkan bahwa komunitas bukan sekadar orang-orang yang kebetulan tinggal berdekatan. 



Moon SoRi sebagai Jang SeokJin adalah wanita paling anoying, sekaligus paling tulus di dunia. Awalnya HaeGang menghindarinya setengah mati, tapi lama-lama menyadari bahwa sikapnya itu adalah bukti kepedulian terhadap True Value. Ada juga para ibu muda yang berjuang demi kepentingan mereka dan anak-anak.

Keakraban antara HaeGang dengan para penghuni mengirimkan pesan nyata bahwa kebaikan sekecil apa pun yang kita berikan pada orang asing bisa berbalik menjadi kebaikan terbesar bagi diri kita sendiri. Tidak ada orang yang benar-benar jahat sepenuhnya selama masih ada kesempatan bagi hati mereka untuk berubah melalui kebaikan lingkungan sekitar.

Kritik Sosial dan Politik yang Realistis

The Apartment Job memanfaatkan politik lingkungan tempat tinggal alias perumahan sebagai miniatur politik masyarakat. Ada uang, kekuasaan, kepentingan pribadi, dan orang yang pura-pura peduli pada kepentingan bersama.

Drama ini bicara isu yang sangat dekat dengan kehidupan nyata warga Korea (dan mungkin juga kita di Indonesia), pertama adalah bagaimana apartemen menjadi simbol status. Di Korea Selatan, apartemen bukan sekadar tempat tinggal. Ia berkaitan dengan kelas sosial, harga properti, pendidikan, keamanan, fasilitas, dan status.

Penghuni biasa melihat apartemen sebagai rumah. Orang have melihatnya sebagai aset. Pengurus melihatnya sebagai sumber kekuasaan. Investor melihatnya sebagai peluang. HaeGang? Awalnya melihatnya sebagai ATM raksasa. Masalahnya, ATM tersebut dihuni ribuan manusia.

Kedua, politik praktis ketika tiba masa pemilihan ketua asosiasi warga. Selain saling memaparkan keunggulan, persaingan antar calon penuh negative campaign, suap, janji-janji kosong, mirip pemilihan RT di kompleks kita, tapi dengan budget miliaran. 

HaeGang menggunakan semua trik yang kerap digunakannya ketika menjadi gangster. Strategi dan karismanya (plus dukungan keluarganya) berhasil membuatnya menang. 

Tapi begitu menang, dia menyadari satu hal warga apartemen pun mengalami ketidakadilan sistemik. Mereka butuh solusi yang konkret. Misalnya layanan antar paket hingga depan pintu rumah karena kurir hanya bisa berhenti di lobby. Di Indonesia, kita sering komplain ketika ketua RT cuma bisa ngomong, tapi di sini kita lihat apa yang terjadi kalau penjahat profesional yang terpilih, dia malah lebih efektif karena terbiasa mengatur organisasi ilegal!

Kita ikut paham bahwa berkat peraturan perumahan, ada dana perbaikan jangka panjang apartemen yang sering luput dari perhatian. Mengapa fasilitas rusak tak kunjung diperbaiki padahal dana dikumpulkan rutin? Mengapa para penghuni diam saja meski tahu ada yang tidak beres karena takut harga properti turun atau dianggap mengganggu? Drama ini mengangkat isu “biasa” itu menjadi pusat perhatian dengan cara jenaka namun tajam, dari posisi stasiun kereta yang menentukan harga properti sampai rencana pengembangan yang memecah belah kepentingan warga.


Drakor ini membungkus isu berat jadi black comedy yang mudah dicerna, tapi tetap menyisakan rasa tidak nyaman untuk kita ikut mengamati sekeliling kita juga serta kompas moral diri sendiri. Apalagi ketika kita ingat bahwa target curian HaeGang sebenarnya adalah uang yang dikumpulkan susah payah oleh warga biasa demi keamanan hidup mereka sendiri. Ketegangan moral inilah yang bikin drama tidak terasa lebih kaya. Nurani saya kesal dengan niat jahatnya, tapi di saat bersamaan tetap tertawa melihat caranya berinteraksi dengan warga dan berusaha menyelesaikan problem yang terus bermunculan.

Aksi yang Melankolis

Beda dengan drama lain yang aksinya murni gedebak-gedebuk, mayoritas adegan aksi HaeGang (and the gang! Hoahaha), ada sisi melankolisnya juga. Misalnya, ketika ia ditugasi untuk menabrak sesosok misterius di halte bus dengan iming-iming komisi sepuluh miliar sesuai yang dibutuhkanya, HaeGang mendasarkan pilihannya pada alasan yang melankolis. Ia menolak tugas itu (setelah aksi dramatis) dan mengkonfortasi langsung ChungWon. 

Romansa Tipis-Tipis

Romansanya memang setipis tisu. Ha Yoonkyung sebagai Kang HaRi, yang kadang dianggap kurang menonjol, justru memegang peran vital sebagai hati nurani yang terus mengingatkan HaeGang pada jalan yang benar.


Hubungan HaeGang dan HaRi tumbuh perlahan dari kontrak dan profesionalisme, saling curiga, sampai rasa saling percaya. The Apartment Job tidak memaksakan mereka menjadi pasangan. Ending-nya bahkan meninggalkan ruang interpretasi, lebih fokus pada perubahan diri masing-masing daripada happy ending romantis klasik. Bagi saya, itu justru terasa menarik karena hanya dari saling bertatapan, saya bisa merasakan keduanya berhak bahagia sebagai pasangan.

Ending yang Ironis

HaeGang yang tadinya individualis dan hanya peduli pada uang 10 miliar won, perlahan luluh melihat perjuangan warga biasa yang ditindas pengembang perumahan jahat. Dia belajar bahwa jadi pahlawan tidak harus menyelamatkan dunia dari kejahatan besar. Kadang, memperjuangkan transparansi uang pengelolaan apartemen sudah cukup berarti.

Sebagai anti-hero, ia adalah representasi sempurna dari orang yang dulu memanfaatkan sistem, lalu akhirnya memilih melawannya dari dalam. (Duh, jadi inget, sesosok artis nasional yang berdalih akan mengubah sistem dari dalam nih, Hoahaha).

Ini cerita tentang seorang pria yang awalnya menganggap semua orang sebagai bagian dari rencana, lalu perlahan belajar bahwa beberapa orang justru lebih penting daripada rencana itu sendiri. Orang-orang yang ingin dia lindungi serta sebenarnya juga berusaha melindunginya.

Dan menurut saya, inilah keberhasilan utama drama Korea ini. 

Bukan ketika uang yang ingin dicuri tapi ternyata telah diambil duluan oleh pengembang, berhasil ditemukan. Bukan pula ketika penjahat kalah dan praktik korupsi serta kolusi berskala besar berhasil diungkap.

Tetapi ketika seorang mantan bos geng akhirnya menemukan sesuatu yang tidak pernah ia cari:

Rumah.

Bukan rumah dalam artian komplek apartemen saja. Melainkan tempat di mana kita bisa datang sebagai orang asing dan pergi sebagai keluarga.

Dan ironisnya, semua itu ditemukan HaeGang di tempat yang awalnya ingin ia ambil uangnya.

8.1/10
MyDramaList — 5.193 penilai
6.8/10
IMDb — 873 suara
78%
Rotten Tomatoes — Skor Penonton
17.883
MDL Total Penonton
Ending-nya memberi penutup yang hangat dan penuh harapan. Tiga tahun kemudian, HaeGang sudah jauh dari dunia gelapnya. Ia membuka kantor yang fokus membantu warga mengungkap korupsi di kompleks apartemen. Uang yang sempat hilang kembali ke pemiliknya. Para penghuni mendapatkan keadilan. Karakter-karakter pendukung juga mendapat penutup yang manis. HaeGang yang dulu datang untuk mencuri, akhirnya menjadi pelindung. Perubahan itu terasa natural, bukan dipaksakan.

The Apartment Job bukan drama heist paling spektakuler. Tapi ia adalah drama yang paling pintar memanfaatkan rasa familiar, mengubah tetangga jadi keluarga, dan membuat kita merenung tentang sistem yang selama ini kita anggap biasa. Kalau suka crime-comedy yang ringan di permukaan tapi tajam di dalam, drama ini layak ditonton sampai akhir.

Nah, gimana menurut teman pembaca? Apakah ikut ngerasa déjà vu pas nonton The Apartment Job? Kalau iya, mirip drama apa? Cerita-cerita dong di kolom komentar, saya penasaran banget sama pendapat teman pembaca soal drama satu ini! Eh, Kak Suci si Travel Blogger Medan yang juga suka nonton konten KorSel, sudah nonton belum nih?


TOTAL SCORE 
8,5
dari skala 1 - 10

Posting Komentar