Anak "Titipan" : POV berdasar Pengalaman
Hai Assalamu'alaikum
Beberapa waktu yang lalu, Saya cukup terkejut ketika membaca laman media online nasional ada berita seorang artis wanita yang merupakan anak dari penyanyi legendaris Indonesia, digugat oleh anaknya sendiri dengan alasan penelantaran. Sang (katakanlah yang mengaku sebagai) anak-- sekarang sudah berusia dewasa--selama ini 'dititipkan' secara berpindah-pindah pada kerabat ibunya di suatu kota yang berbeda dengan domisili sang (terduga) ibu kandungnya, tanpa pernah mendapatkan kepastian diakui sebagai anak kandung.
Padahal, selama ini sosok sang artis (yang juga pernah jadi penyanyi, pembawa acara serta main film/sinetron) dikenal sebagai seorang ibu yang benar-benar berjuang seorang diri, setelah bercerai demi kesembuhan putrinya --yang setahu kita baru seorang. Ia rela pindah ke negara lain, menjual aset-asetnya sampai melakukan pekerjaan non-keartisan demi biaya pengobatan di negeri tetangga yang tak sedikit.
Saya dan mungkin jutaan orang Indonesia khususnya para ibu, bersimpati. Ia berulangkali di wawancarai stasiun televisi nasional. Membicarakan keajaiban sang putri yang berhasil memasuki masa remisi. Salutnya lagi, bertahun-tahun ini ia konsisten menolak donasi atau menjual kisah sedih sang anak bahkan selalu menutupi wajahnya yang telah diganti namanya agar lebih Islami itu dengan sticker lucu ketika membagikannya di sosmed.
Lamat-lamat saya teringat suatu penggalan memori yang terkubur lama. Salah seorang teman saya pernah membahas hal ini lebih dari dua dekade lalu. Ia mengaku berkerabat jauh dan memberitahu saya serta seorang rekan lain, mirip informasi yang kini beredar, anak tersebut diklaim sebagai adiknya alias anak dari si penyanyi legendaris.
Meski--seingat saya--kami cukup kaget, saya dan teman tadi tidak berkomentar banyak atau bertanya lebih lanjut karena memang kami tak hobby gossip, apalagi tentang artis yang rasanya jauh dari dunia keseharian.
Tapi, hari ini selaku seorang ibu dan sebagai anak saya juga pernah dititipkan di rumah nenek (dan yang mengasuh adalah para uwak alias kakak-kakak perempuan ibu saya sendiri) saya merasakan relevansinya dan ingin membuat sedikit tulisan dari sudut pandang saya.
Menitip Anak, Dilema Orang Tua Modern
Anak adalah titipan amanah dari yang Maha Pengasih dan Penyayang. Menjaga, mengasuh atau mendidik serta beragam kata kerja lain terhadap anak bukanlah tugas mudah.
Kita lupakan sejenak, jika hal yang saya kemukakan diawal benar adanya, apapun alasannya (wallhu'alam bii shawab), saya menyadari orang tua yang berkerja--khususnya ibu--dihadapkan pada dilema luar biasa. Bekerja tentu ada banyak alasannya, mulaibdadi mendukung keuangan keluarga, mengamalkan ilmu, menjaga eksistensi diri dan sebagainya. Namun, jika tak ada support sistem keluarga atau nanny / Asisten Rumah Tangga (ART) yang bersedia datang ke rumah apatah lagi daycare yang memang langka di daerah yang bukan kota besar, menitip anak adalah praktek yang saya amati banyak terjadi.
Ada yang durasinya setengah hari atau sepanjang jam kerja orangtua (atau salah satu orang tua). Lazim terjadi di kota tempat tinggal saya sekarang, anak diantar pagi hari ke rumah atau lokasi orang yang bersedia menjaga kemudian dijemput sore harinya. Tentu ada sejumlah uang yang jadi 'imbalan' jasa. Nominalnya cukup lumayan, menyesuaikan di daerah mana, usia sang anak dan aktivitas apa saja yang harus dilakukan orang / keluarga yang dititipkan. Misal anak usia prasekolah tentu berbeda dengan anak usia sekolah yang kadang harus di jemput terlebih dahulu dari sekolah oleh penjaganya. Belum lagi antar-jemput jika ada les tambahan atau mengaji.
Kegiatan titip menitip ini cocok-cocokan. Berdasarkan pengamatan (pengalaman kakak ipar saya), menemukan seseorang atau keluarga yang sungguh-sungguh mau dititipkan anak cukup sulit pula. Pencarian biasanya dari kerabat dekat lalu meluas menjadi tetangga atau orang yang sudah berpengalaman mengasuh anak dan sedang 'kosong' alias tak ada anak asuh. Jadi, opsinya bisa sangat terbatas. Tak bisa dipungkiri, ada perbedaan bahkan standar yang harus diturunkan katakanlah dalam penerapan aturan atau teknik parenting keluarga.
Setelah dicapai kesepakatan, biasanya berlangsung selama jangka waktu yang cukup panjang. Akibatnya, ada keakraban bak saudara antara keluarga si anak dengan keluarga yang dititipkan harmonis terjalin sampai si anak menuju dewasa. Tapi ada juga yang berpeluang sampai merusak kekerabatan. Contohnya salah seorang keponakan suami yang berusia batita baru saja didiagnosa kena animia defisiensi besi. Usut punya usut, jam makan pagi dan siangnya di rumah pengasuhnya. Makanan bergizi seimbang yang dipersiapakan sebagai bekal oleh orangtuanya justru lebih banyak dimakan oleh anak pengasuhnya (yang seringkali sudah disiapkan bekal ekstra juga). Ini jadi dilema banget karena yang menjaga adalah kakak ipar alias istri dari si Ibu sang anak sendiri. Mau memberitahukan secara frontal rasanya tak mungkin, tapi kalau tak ada tindakan drastis lebih tak mungkin mengorbankan kesehatan dan masa depan si anak.
Dampak positif lainnya berdasarkan pengamatan saya, anak yang dititipkan kebanyakan lebih mandiri sekaligus tetap memiliki kedekatan dengan orangtuanya. Yang harus disoroti adalah anak yang dititipkan secara menginap, apalagi di kota berbeda.
Terpaksa Karena Keadaan
Saya adalah salah seorang anak yang dititipkan di rumah oma dan uwak saya. Jadi, ketika engkong saya sakit keras --saya yang waktu itu baru berusia tujuh bulan dan ikut orang tua saya menjenguk ke kampung halaman ibu-- diamanatkan untuk ditinggal saja.
Penggalan kisahnya pernah saya ceritakan di artikel "Anak Dekat Dengan Ayahnya, ialah Bukti Selalu Ada Cinta di Hati Ibu". Intinya, saya jadi dititipkan di kota kecil di pedalaman Sumatera sejak usia tujuh bulan hingga tiga setengah tahun. Sementara Ayah dan Ibu saya berkerja di Jakarta dan baru bisa pulang setidaknya sebulan sekali. Itupun tidak lama karena ayah saya abdi negara dan ibu saya terikat kedinasan.
Terkesan singkat, tapi buat para ibu yang sudah lebih melek ilmu parenting langsung paham. Itu adalah usia sepanjang masa keemasan (golden age) saya.
Saya tak kekurangan kasih sayang. Saya cucu pertama dan baru satu-satunya. Saat itu, dua orang kakak perempuan ibu saya belum menikah. Mereka menyayangi dan mencintai saya bagai anak sendiri. Belum lagi oma saya, yang meski saat itu usianya sudah 70 tahun tapi sangat enerjik.
Lebih epic-nya saya sampai menjodohkan uwak tertua dengan salah seorang tukang yang merenovasi bedeng (rumah petak yang disewakan) miliknya. Saat itu beliau sudah berusia 38 tahun dan siap melajang seumur hidup. Bahkan beliau sudah berazam membesarkan saya sebagai anaknya (dan ini sebenarnya berpotensi jadi polemik juga-- saya akan bahas lagi di bagian selanjutnya--). Atas kehendak dan izin Allah SWT, mama--begitu saya memanggil uwak sulung tadi setelah menikah--diberi keturunan seorang putra.
Papa Mul--begitu saya memanggil suami mama-- memang sayang sekali dengan saya. Melihat interaksi kami berdua, mama mau dipinang papa. Padahal sejak muda mama menolak banyak sekali pinangan (bukan lebay, engkong saya salah seorang tokoh terpandang dan mama sendiri waktu muda bak duplikat artis Suzanna, cuma versi chubby Hoahaha).
Bisa dibilang, ada empat orang yang menjadi orangtua ekstra untuk saya. Sampai menjelang akhir hayat oma --yang ikut kami pindah kota setelah saya kembali kepada kedua orangtua saya, (kisahnya bisa dibaca juga di Sepotong Cin(t)a Dalam Kue Keranjang)-- saya tetap tidur sekamar dengannya. Selain punya teman curhat sepanjang masa, saya dipijat sekujur tubuh setiap malam menjelang tidur. Kemewahan yang belum tentu didapatkan anak atau cucu manapun, bukan?
Almarhumah mama serta papa dan waknga --yang sekarang menikah setelah mama tiada (kisahnya bisa dibaca di Pernikahan Turun Ranjang) hingga hari ini tetap menganggap saya anak mereka. Bahkan anak-anak saya pun adalah cucu yang sangat mereka perhatikan dengan loyal.
Menghormati Keputusan Masa Lalu
Meski dicintai sebegitunya dan disayangi oleh kedua orang tua saya, efeknya saya tidak akan pernah memiliki kedekatan yang sama dengan kedekatan antara ibu dan adik perempuan saya. Dan itu adalah fakta. Tak kan pernah ada satupun alasan atau teori yang bisa membenarkan namun saya pun tak kuasa menyalahkan keputusan yang dibuat keluarga saya di masa lalu.
Apa yang bisa saya lakukan hanyalah menghormati keputusan masa lalu sekaligus bertekad tak mengulangi hal serupa. Alhamdulillah, atas izin Allah dan atas restu suami, saya bisa jadi ibu rumah tangga sepanjang golden age kedua anak kami. Tak akan ada yang bisa menggambarkan rasa syukur saya saat milestone anak kedua terlewati baru beberapa bulan lalu. (Si sulung pun saya baru bekerja kembali saat ia berusia tiga setengah tahun). Ini 'prestasi' pribadi yang mungkin urgensinya tak dapat dipahami oleh siapapun, tapi buat saya pencapaian ini merupakan jawaban doa saya sejak saya masih anak-anak Hoahaha.
Keputusan Yang Menentukan Masa Depan Anak
Lalu, bagaimana dengan orangtua lain yang sedang mempertimbangkan menitipkan anaknya dengan orangtuanya / mertua atau kerabat di kota berbeda? Jika kebetulan ada yang membaca tulisan ini, sejujurnya saya tak pantas memberi nasihat atau jawaban saklek. Semuanya terpulang pada kondisi keluarga masing-masing.
Namun sebagai gambaran, mama--saking sayangnya-- pernah berniat tak mau mengembalikan saya pada orang tua saya. Dan saya pun kenal dengan beberapa orang dengan pengalaman serupa. Bahkan ada yang sampai mengaburkan garis keturunan alias tidak jujur pada si anak akan orang tua kandungnya (lebih tepatnya diangkat jadi anak, tapi apakah prosesnya benar secara legal saya pun kurang paham namun secara agama, ini mengacaukan informasi tentang nasab asli si anak). Ada juga kerabat jauh saya yang ditahan neneknya tinggal bersama dengan alasan menemani diusia senja sampai ia tumbuh dewasa dan baru bisa pindah setelah neneknya meninggal dunia.
Saya hanya bisa menyarankan agar berdoa memohon petunjuk terbaik dan bila yang muslim tunaikan Shalat Istikharah. Orangtua waras manapun pasti menyadari kehadiran anak sejatinya adalah rezeki tiada banding dan segala keputusan yang menyertai kehadirannya itu pasti akan menentukan masa depannya. Dan kita--selaku orangtua yang dititipkan amanah oleh Allah SWT-- yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.
Akhir kata, pada akhirnya berita tersebut mulai mendapat titik terang, dari berita terlihat si artis dan anaknya menemukan jalan saling memaafkan dan merangkul. Jika saya berada di posisi si anak, saya tak butuh apapun kecuali pengakuan atas nasabnya dan (mungkin) tuntutan hukum itu hanya buah kekecewaan yang dipendam selama ini. Ia bingung atas identitas dirinya sendiri dan ingin tahu alasan dibalik semuanya.
☺☺☺☺☺
Tulisan ini sebenarnya sempat saya simpan di draft begitu lama. Saya khawatir, bisa saja ingatan saya yang salah atau sang kawan lama (sudah hilang kontak pula jadi tak bisa dikonfirmasi lagi) yang menyebarkan berita hoax. Hoahaha. Bagaimana kak Yuni, Lifestyle Blogger Madura, apakah ada pengalaman serupa atau mengikuti berita artis tersebut?

Posting Komentar