" ".

In His Hand : Serial Singapura Siap Bersaing Dengan Dracin

Table of Contents


Hai Assalamu'alaikum 

Kena writer block justru membawa hikmah tersendiri. Saya jadi lebih 'produktif' nonton bahkan membaca buku, Hohahaha. 

Salah satu yang paling saya ikuti sekarang adalah In His Hand, yang tayang di MediaCorp Channel 8. Yah, ini adalah salah satu keuntungan kembali ke Kepri, televisi bisa menangkap siaran TV Singapura hanya dengan tambahan antena digital. Dan Alhamdulillah, di televisi yang baru, karena yang lama tidak kami bawa pindahan, ada pengaturan sarikata alias bisa diprogram sekalian teks terjemahan dalam Bahasa Inggris (yang memang sejak dulu kala sudah disediakan oleh MediaCorp pada sebagian besar kontennya mengingat negara tetangga itu menganut multibahasa). Mantap Jiwa.


In His Hand
Judul Asli 神之手
Judul Lain Crisis Man
Genre Action, Romance, Crime, Thriller
Sutradara Chen Yi You, Gao Shu Yi, Yan Li Jiao
Penulis Naskah Bai Xue Ning, Li Wei Ming
Jaringan Penyiaran Channel 8, mewatch (Senin–Jumat, 21:00), YouTube MediaCorp
Tanggal Tayang 21 September 2026 – 16 Oktober 2026
Jumlah Episode 20 Episode
Durasi ± 60 menit/episode
Rating Usia PG13 / 13+

Sinopsis 

Diawali dengan aksi penyiksaan brutal dari anggota geng  yang dipimpin PornChai (Brandon Wong) terhadap seseorang yang selama ini mereka cari-cari. Orang tersebut berhasil ditemukan setelah meminta bantuan seorang 'ahli' sebagai gantinya, Situ Feng (Jasper Liu) meminta imbalan berupa kalung dengan tag nama.

Aslinya Situ Feng tinggal di rumah seorang diri. Barang-barangnya ditutupi kain pelindung. Waktunya seolah terhenti di hari Minggu, 22 Desember 2002. Foto keluarga menampilkan keluarga lengkap yang terdiri dari seorang anak lelaki dan kedua orangtuanya yang tersenyum bahagia. 

Ia tinggal bak hantu, diruangan penuh furniture yang dilapisi kain. Tapi ia tak sepenuhnya menjalankan gaya hidup analog, kamar masa kecilnya dan dapur modern masih berfungsi. Sehari-hari, ia hanya makan tomat segar dan minum suplemen. Ketika ia mendapat telepon dari Miss O (Cynthia Koh), seolah memang telah menantikannya. Ia pun tersenyum.

Di bagian kota yang lain, dalam mobil, sepasang detektif polisi sedang mengintai seorang anak orang kaya, Li Dekai (Desmond Ng) yang terlibat dalam suatu kasus tabrak lari. Pemuda kaya itu terlihat keluar dari apartemennya dengan menggunakan hypercar terkini. Ia menyadari sedang dikuntit jadi ia menunjukkan kemampuan mobil tersebut dengan melakukan manuver di jalan raya.

Sang detektif, Cheng Feng (Tyler Ten) pun menyunggingkan senyum separuh. Ia yang merasa tertantang, turut memacu kendaraannya. Siapa nyana sang pemuda kaya justru berhenti di lampu lalu lintas dan berlari. Cheng Feng dan rekannya mengejarnya hingga ke kawasan pasar. Cheng Feng menangkapnya setelah adu cepat. Li Dekai dicegat oleh Situ Feng yang memberhentikan mobilnya tepat di depan pasar. Dengan sigap, Cheng Feng menangkapnya.

Mereka merayakan keberhasilan dengan makan fast food bersama. Sebagai bukti keakraban mereka, Situ Feng bahkan hapal kalau Cheng Feng selalu minum kopinya dengan sedotan plastik

Di kantor Grup Li, SD card diserahkan pada sang CEO. Ia menyaksikan rekaman putranya ditangkap dan Cheng Feng mengintrogasi anaknya. Sang pewaris diduga telah menabrak seseorang hingga meninggal dunia. Tiba-tiba seorang polisi lain masuk dan melaporkan bahwa supirnya menyerahkan diri dan mengaku sebagai pelaku kejahatan.

Tim Pengacara keluarga Li berdebat tentang kemungkinan terburuk yang akan didakwakan padanya. Apalagi kadar alkoholnya terlalu tinggi meski mereka berusaha menyuap pihak-pihak terkait. Tak lama viral bukti video yang memberatkan. Ia memohon pada ayahnya, merengek sebagai putra satu-satunya untuk diselamatkan. Ayahnya yang tak sengaja mendengar percakapan tentang Hands Of God mendatangi kantor Situ Feng.


Untuk menjalankan Hand of God, sekaligus kantor pengacara, Ia memiliki tim untuk membantunya mulai dari penyelidikan, menyamar sekaligus beraksi. Selain Miss O ada Lin Xiaolong (Nick Teo), mantan juara tinju bawah tanah sekaligus pelarian dari kawasan Golden Triangle. Lalu hadir Wang Ruonan (Hong Ling), peretas white-hat yang bergabung karena ingin menemukan ayahnya. Ayah Ruonan menghilang setelah melakukan pembunuhan, dan keinginan untuk tahu keberadaannya mendorong Ruonan masuk ke dunia Situ. Keputusan yang kemudian membuatnya berhadapan dengan banyak dilema moral.

Di sisi lain, Cheng Feng, teman masa kecil yang saking akrabnya bak saudara, yang kini jadi polisi dengan prinsip berbeda. Dia masih percaya pada hukum, meski sadar Situ kadang bisa menemukan jalan keluar dari kasus yang buntu kalau lewat prosedur resmi. Hubungan keduanya jadi salah satu konflik utama. Cheng Feng butuh kemampuan Situ, tapi dia juga tidak mau sahabatnya melewati batas yang tidak bisa diperbaiki.

Situasi makin ruwet karena Ruonan ikut terlibat dalam dinamika perasaan di antara kedua pria itu. Belum lagi mantan istri Situ Feng, Leah (Cheryl Chou), sekaligus ibu dari anak perempuannya, JiaJia, datang kembali dengan agenda misterius. 

Semua hubungan itu bertaut dengan misteri pembunuhan orang tua Situ. Semakin jauh pemuda itu mengejar kebenaran, semakin besar kemungkinan bahwa ancaman sesungguhnya datang dari orang yang selama ini ada di dekatnya.

Review 

iCheng Feng
"Saudaraku, kuharap hari itu tak akan pernah tiba, hari dimana aku terpaksa akan menangkapmu."

1. Pemain Familiar dengan Stellar Acting

Jasper Liu, yang sebelumnya telah berapa kali saya saksikan drama Taiwan (dan China), bergenre romantisnya, rasanya semakin matang memerankan Situ Feng. Sosok yang seolah tanpa perasaan, terlalu ambisius dan fokus pada misi balas dendamnya. Namun setelah lapisan emosionalnya terkuak, aslinya ia sangat sensitif dan hangat. Walau entah kenapa setiap kali ia tersenyum, rasanya masih ada unsur komedinya. Tapi pas saja, ia adalah tipe yang ironisnya menertawakan dirinya sendiri. Keren deh, kali ini dia melebarkan sayap ke Singapura.

Ngomongin soal pemain lokal Singapura, ada Nick Teo, yang aslinya suami Hong Ling, harus main di cerita kriminal bareng istrinya. Tapi keduanya tidak memiliki kisah kasih, justru lebih sering berantem dan seperti kakak-adik. Keren sih, sebagai penonton, kita tetap jadi bisa membedakan hubungan aktor di luar layar dengan hubungan karakter di dalam cerita. Chemistry personal mungkin membantu proses kerja, tapi hubungan fiktif tetap harus dinilai dari bagaimana cerita dan akting membangunnya.

Kita pun tetap bisa melihat chemistry romansa antara Rounan dan Situ Feng serta Cheng Feng yang diam-diam juga menyukainya. Selanjutnya akan saya ulas lebih dalam dibagian genre.

Miss O, yang punya keterkaitan lama dengan Situ Feng seolah menjadi figur ibu bagi semua anggota Hands Of God. Serta Leah yang benar-benar sesuai digambarkan Situ sebagai ular Viper Pit, sangat cantik walau berbisa.

Latar belakang masing-masing diungkap perlahan seolah mengupas bawang baik secara eksplisit maupun melalui adegan flashback.  Menontonnya jadi tak monoton, apalagi bagi penggemar konten dari negara Singa, para pemeran tersebut termasuk yang sering wara-wiri di layar kaca.

2. Aspek Teknis Mumpuni 

Ruang kantor Hands Of God, Suasana kota XinCheng serta Landskap Golden Triangle ditampilkan dengan cukup nyata setiap lokasi diberi petunjuk dengan tulisan berukuran besar. Dari nontonin behind the scene, saya jadi tahu bahwa syutingnya justru sebagian besar dilakukan Malaka, Malaysia. Suasananya yang netral (baca : tidak ada tokoh ataupun figuran dari etnis lain), masih bisa disamarkan sebagai Singapura atau justru suatu kota di China sekalian.

Pengambilan tone warna di drama ini beneran dipikirkan banget sampai kelihatan estetik dan niat. Pemilihan palet cool tone yang dominan berhasil membangun suasana misterius, tegang, sekaligus makin mempertegas kesan kelam sepanjang cerita. Apalagi pas adegan berpindah dari ruangan mewah khas para elite ke sudut-sudut tersembunyi yang jadi tempat lokasi kejahatan, kontras visualnya dapet banget dan bikin jurang perbedaan sosial di dalam ceritanya makin berasa nyata. Editingnya juga rapi, membuat peralihan antar adegan terasa cukup mulus.

3. Eksekusi Genre Thiller-Mistery-Drama Berimbang

Adegan penyelidikannya menarik dan adegan aksinya lumayan baik. Pertarungan dengan tangan kosong ala MMA atau dilengkapi senjata dan kejar-kejaran di jalan raya turut memacu adrenalin. Penggunaan gadget canggih juga menambah keseruan.

Yang saya suka, beberapa serial fokus pada bagian misteri dan pemecahan masalah saja sementara bagian dramanya itu terasa sangat dikesampingkan. Dalam In His Hand setiap tokoh memiliki porsinya masing-masing untuk tampil dan menampakkan bagian dari diri mereka yang jauh lebih manusiawi.

Drama ini pun tidak membuang waktu dengan adegan filler yang tidak penting. Dari episode awal, tempo cerita langsung bergulir cepat. Setiap kali Situ Feng mencoba menyelesaikan satu masalah dan menyusun kepingan puzzle kematian orang tuanya, ada lapisan masalah baru yang lebih besar langsung menghadang. Poin plusnya, twist demi twist disajikan secara rapi sehingga penonton sulit menebak siapa kawan dan siapa lawan sesungguhnya. 

Selain misteri kriminal, serial ini turut menghadirkan dinamika romantis antara Ruonan, Situ Feng, dan Cheng Feng. Situ Feng menarik sekaligus berbahaya. Ia cerdas, penuh rahasia, dan suka menentukan jalannya sendiri. Cheng Feng menawarkan sisi lain lewat profesinya sebagai polisi dan persahabatan panjangnya dengan Situ.

Buat Ruonan, keduanya bukan sekadar dua pria dengan penampilan fisik dan karakter berbeda, tapi juga bagian dari perjalanan emosionalnya. Situ yang lebih tenang terhubung dengan dunia yang dia masuki demi mencari ayahnya. Cheng Feng yang lebih bulky bisa jadi tempat bersandar ketika Ruonan harus menghadapi Situ dan semua masalah yang menyertainya.

Pertanyaannya, lebih baik memilih hubungan yang terasa intens atau yang menawarkan rasa aman?

Di cinta segitiga ini, saya lebih tertarik melihat apakah Ruonan punya ruang untuk memutuskan berdasarkan keinginannya sendiri. Jangan sampai karakternya cuma jadi hadiah yang diperebutkan dua pria, sementara semua urusan penting diselesaikan mereka berdua. Ruonan punya tujuan pribadi, keterampilan teknis, dan konflik keluarga. Semua itu seharusnya tetap jadi inti identitasnya.

Rounan pun menjadi perwakilan kita, para penonton yang awalnya ikut terkejut dan bingung dengan dinamika hubungan Situ Feng dan Leah. Wanita cantik itu ternyata sangat berbahaya dan toksik namun Situ seolah dengan sukarela selalu masuk perangkapnya.

4. Kasus dan Pesan Moral Relevan

Kasus yang dibahas sangat menarik, sesuai dengan perkembangan zaman. Mulai dari kasus anak orang kaya tadi, ransomware terhadap bank, penipuan pencari kerja secara online, judol dan scam, penyalahgunaan kekuasaan di perusahaan demi menutupi kesalahan produksi sampai kekeliruan dalam proses IVF alias bayi tabung. 

Meski terdengar sedikit fantasi, sesungguhnya Apa yang dilakukan oleh Situ Feng dan agensi Hands Of God sangat relevan dengan apa yang terjadi di dunia pada saat ini. 

Selaku agensi pemecah masalah, kliennya sebagian besar justru orang-orang berduit dan berpengaruh.

Situ Feng sendiri bukan tipe pahlawan yang bisa langsung kita cap "orang baik". Dia punya agenda pribadi, trauma masa lalu, dan alasan kuat untuk tidak lagi percaya pada sistem peradilan. Kalau biasanya tokoh utama drama kriminal membantu polisi menangkap penjahat, Situ justru bekerja di area abu-abu yang bikin saya mikir, ini penegakan keadilan atau buka cabang usaha kejahatan dengan customer service yang lebih ramah? Hoahaha. Karena cara dia (dan timnya) menyelesaikan masalah tidak selalu sesuai hukum.

Yang bikin menarik bukan cuma misteri pembunuhan orang tua Situ Feng, tapi pertanyaan yang lebih bikin kepikiran: kalau hukum gagal memberi keadilan, bolehkah seseorang menegakkan hukumnya dengan caranya sendiri? Sejauh mana batas moralitas dan idealisme pribadi bisa dipertahakan.

Akses ke kemampuannya bergantung pada siapa yang sanggup membayar dengan harga mahal. Dari sini drama ini bisa dibaca lewat kacamata ketimpangan ekonomi.

Di kehidupan nyata, uang memang tidak selalu bisa membeli kemenangan di pengadilan. Tapi uang bisa membantu seseorang mendapat pengacara berpengalaman, tenaga ahli, penyelidik independen, dan waktu untuk menghadapi proses hukum yang panjang. Sebaliknya, orang yang tidak punya sumber daya sering harus menghadapi urusan hukum sambil tetap mikirin biaya hidup sehari-hari. Duh, relate banget nggak sih?

Sekarang bayangkan ada orang yang bisa menyelesaikan krisis dengan cepat, tapi jasanya hanya untuk yang mampu membayar. Apakah dia sedang memperbaiki ketidakadilan, atau malah menciptakan ketidakadilan baru?

Pertanyaan ini penting karena bisa menyelesaikan masalah itu beda dengan memastikan penyelesaiannya adil untuk semua pihak. Klien mungkin merasa urusannya beres karena bukti yang merugikannya sudah diatasi. Tapi korban dari tindakannya belum tentu mendapat keadilan.

Jadi In His Hands menawarkan pintu masuk untuk membahas hal yang dekat dengan keseharian kita, seringkali kita terbiasa menilai keberhasilan dari hasil akhir tanpa terlalu peduli prosesnya. Padahal hasil yang kelihatan rapi belum tentu lahir dari proses yang benar.

Ohya, dilema moral ini kita pelajari bersama dengan kehadiran Wang Rounan. Padahal ia punya dilemanya sendiri, peretas white-hat yang bergabung dengan tim Situ demi menemukan ayahnya. Dalam konteks keamanan siber, white-hat hacker biasanya memakai keterampilan teknis untuk menemukan celah sistem secara etis dan dengan izin yang jelas. Makanya menarik melihat Ruonan masuk ke tim yang bekerja lewat cara-cara tidak konvensional.

Di satu sisi, dia punya skill untuk membongkar informasi tersembunyi. Di sisi lain, motivasinya sangat personal. Ia mencari anggota keluarga yang menghilang setelah melakukan pembunuhan. Konfliknya punya potensi emosional yang kuat. Sikap neneknya yang seolah membencinya karena Rounan tidak seratus persen membela ayahnya dan pihak keluarga korban yang masih sering dipedulikannya menambah garam diatas luka.

Sewajarnya, ketika seseorang mencari keluarga yang terlibat kejahatan, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah orang itu bersalah. Ada pertanyaan yang lebih dalam, masih bisakah kita menyayangi seseorang setelah tahu dia melakukan hal yang tidak bisa dibenarkan?

Kita sering mengira mengetahui kebenaran akan bikin hidup lebih ringan. Kenyataannya, kebenaran kadang justru meruntuhkan cerita yang selama ini kita pegang tentang keluarga sendiri. Ayah yang dianggap pelindung ternyata menyimpan rahasia. Orang yang kita sayangi punya sisi yang tidak pernah ingin kita lihat. Ruonan harus siap menghadapi kemungkinan itu.

Posisinya sebagai peretas juga bisa dibaca sebagai metafora. Dia mampu menembus sistem digital, tapi menembus pertahanan emosional manusia jelas jauh lebih susah. Data bisa dilacak, jejak digital bisa dianalisis, tapi memahami kenapa seseorang berbuat jahat belum tentu memberi jawaban yang memuaskan. Apalagi kalau jawabannya memaksa kita memilih antara keluarga, prinsip, dan kepentingan diri sendiri.



Last but not least, kalau Situ Feng mewakili orang yang sudah tidak percaya pada sistem hukum, Cheng Feng mewakili orang yang masih berusaha bekerja di dalamnya. 

Konfliknya jauh lebih menarik daripada sekadar polisi baik lawan penjahat jahat. Tujuan mereka kadang beririsan, tapi cara mencapainya beda. Keduanya mungkin sama-sama ingin kebenaran terungkap, bedanya ada di pertanyaan: batas apa yang tidak boleh dilanggar demi kebenaran itu?

Cheng Feng menghadapi persoalan yang akrab buat kita semua, sebagai sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, haruskah kita memejamkan mata pada kesalahannya? 

Kita mungkin ingin membantu karena merasa berutang budi atau tidak tega. Tapi loyalitas tidak seharusnya jadi alasan untuk menghapus tanggung jawab. Cheng Feng harus mempertahankan prinsipnya tanpa kehilangan kemampuan memahami orang lain. Tantangan itulah yang membuat karakternya berpotensi jadi penyeimbang penting bagi Situ.

Cheng Feng tetap melibatkan Situ di kasus-kasus sulit, meski tidak selalu setuju dengan metodenya. Dinamika ini menempatkan mereka di wilayah abu-abu. Kalau Cheng Feng menolak semua bantuan Situ, dia bisa kehilangan informasi penting. Tapi kalau terus membiarkan tindakan Situ tanpa batas, prinsip yang dia pegang berisiko dilanggar sendiri.

5. OST Ciamik

Saya sudah lama tak terlalu mengikuti mandopop, berulang kali nonton C-drama atau TW drama rasanya tidak ada yang benar-benar saya sukai belasan tahun terakhir. Lagu pembuka drama ini entah kenapa langsung terasa aroma misterinya. Mungkin karena Desmond Ng yang menyanyikan juga turut andil. Begitu pula dengan Jasper Liu yang ikut sumbang suara. Ada satu lagu yang dinyanyikan penyanyi cewek yang belum berhasil saya jumpai nama penyanyi atau judulnya berhubung saya tidak bisa berbahasa Mandarin, padahal menurut saya bagus banget karena liriknya sebagian besar berbahasa Inggris.

6. Bisa Ditonton Ulang

Sama dengan sebagian besar konten milik MediaCorp lainnya, In His Hand bisa ditonton di aplikasi MeWATCH. Episode yang ditayangkan malah lebih dahulu dibandingkan yang akan tayang di televisi. Sayangnya, selain harus berlangganan, aplikasi ini memiliki keterbatasan wilayah. Untungnya sekarang MediaCorp juga mengunggah kontennya ke channel YouTube resminya.  Ya meski kita harus menunggu setidaknya setelah satu minggu setelah penayangannya di Channel 8. 

BTS-nya juga worth it banget buat ditonton. Kedekatan pemain terasa genuin, malah Jasper Liu yang notabene lebih terkenal, justru sangat terpesona dengan gaya hidup mindful dan sehat Tyler Ten dan Nick Teo sampai berniat untuk tetap menjaga kebiasaan makan dan olahraganya.

❤❤❤❤

Kekurangannya adalah episode awal membuat saya cukup waspada untuk mengetahui who is who meski sudah mencari tahu dari laman resmi MeWatch. Malah awalnya saya menduga ini formatnya adalah kasus per kasus, mengingat setelah ada satu kasus terselesaikan langsung ada klien baru lagi. Barulah pada penghujung minggu pertama (artinya di episode 4 atau 5 ya saya agak lupa), Situ Feng mengungkap bahwa orang-orang yang diterimanya sebagai klien sesungguhnya justru adalah orang-orang yang memang diincarnya sejak awal. Mereka saling terkait dengan kasus pembunuhan orangtuanya! Brilliant.

Yang agak annoying adalah adegan livestreaming hacker bertopeng misterius yang sering muncul, terlalu dipaksakan dengan komentar 'live' yang cepat dan sulit dibaca serta suara yang disamarkan.

Serta kenyataan bahwa sarang penjahat kembali berpusat pada kawasan Asia Tenggara. Dalam hal ini Golden Triangle.

Overall, In His Hand adalah gebrakan cukup berani dari MediaCorp di jalur drama. Selain mengajak Jasper Liu, jika selama ini Channel 8 dan Channel U memutar ulang drama China daratan atau Taiwan (serta KorSel), menurut saya, kali ini penggemar drama di negara tersebut pun layak mendapat kesempatan untuk menonton In His Hand.



Nah, gimana menurut teman pembaca? Kalau seandainya jadi Ruonan, pilih Situ Feng yang karismatik tapi penuh rahasia atau Cheng Feng yang berpegang pada hukum? Atau malah tim Xiaolong yang lugu tapi baik hati? Hoahaha. Masih sempat nih mengikuti Minggu terakhir penayangannya!


TOTAL SCORE 
8,5
dari skala 1 - 10

Posting Komentar