" ".

Review Milly dan Mamet : Lebih Baik dari Cinta dan Rangga

Table of Contents


Pas lagi rame-ramenya launching OST Rangga Cinta, remake musical dari film hits Ada Apa Dengan Cinta? Beberapa hari lalu, saya baru inget pernah suka OST film spin-off AADC, Milly dan Mamet, Ini Bukan Cinta Dan Rangga. Judulnya Luruh yang dinyanyikan Isyana Sarasvati dan kakak perempuannya, Rara Sekar.

Saya suka lagunya padahal belum nonton filmnya! Eh, sebenarnya pernah sih nonton filmnya pas ditayangkan di televisi swasta, tapi saya ga fokus Hoahaha.

Alhasil, saya menyempatkan diri nonton lagi di salah satu kanal OTT (setahu saya ada di Prime Video atau Vidio dan seinget saya dahulu juga tayang di Hooq sebelum aplikasinya ditutup).


Judul : Milly dan Mamet : Ini bukan Cinta dan Rangga
Sutradara : Ernest Prakasa
Penulis skenario: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Pemain : Sisi Prescillia, Dennis Adhiswara, Julie Estelle, Roy Marten, Yoshi Sudarso, Eva Celia, Isyana Sarasvati, Arafah Rianti, Dinda Kanya Dewi, Ernest Prakasa, Bintang Emon, Acho, Aci Resti, Surya Saputra dan Melly Goeslaw. 
Penampilan spesial : Dian Sastrowardoyo, Ardinia Wirasti dan Titi Kamal
Produksi : Starvision Plus, Miles Film dan Hooq Originals
Genre : Drama, Komedi
Durasi : 101 menit
Tayang di OTT : Prime Video / Vidio

Sinopsis

Setelah dikejutkan dengan hubungan Milly (Sisi Prescillia) dan Mamet (Dennis Adiswara) yang telah menikah serta sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka di Ada Apa Dengan Cinta 2? Kita diajak menyelami perjumpaan kembali keduanya dalam suatu reuni sekolah yang bermuara pada memadu kasih.

Fast forward setelah sang putra pertama lahir, Milly memilih resign dari pekerjaannya sebagai seorang bankir dan menjadi Ibu rumah tangga sementara Mamet membantu ayah Milly dengan menjadi pengawas di Pabrik Konveksi. Mereka berdua sedang berusaha menyesuaikan ritme hidup ketika hadir kesempatan bagi Mamet mewujudkan impian mendirikan restoran dengan menu makanan sehat. Mampukah Mamet yang memilih bekerjasama dengan Alex (Julie Estelle) --teman lamanya dengan suntikan dana dari James pacarnya-- menyelaraskan visi rumah tangganya dengan Milly?

Review

Sesuai judulnya ya.. Ini benar-benar bukan kisah Cinta dan Rangga, terutama sampai nyambung ke film kedua setelah mereka terpisah Indonesia-AS. (Pandangan saya tentang hal ini, bisa dibaca di postingan Kutunggu Dudamu dan Review Ada Apa Dengan Cinta 2 : Kala Rangga terlihat tak seganteng itu lagi).

Berhubung review ini saya tuliskan nyaris tujuh tahun sejak film ini ditayangkan di layar lebar, saya kira banyak orang yang sudah nonton ya.. Jadi tulisan ini akan Penuh Spoiler.

Saya paham kenapa Mirles mempercayakan pengerjaan film ini kepada Ernest dan istrinya, keduanya telah terbukti mampu menyusun naskah dengan pengembangan karakter yang baik (Imperfect is one of my fave book+movie). Milly dan Mamet, serta karakter lain mengalami perkembangan yang bisa dirasakan pemirsa.

Dua tokoh yang paling lovable ini melakukan sesuatu yang bahkan kedua OTP di Ada Apa Dengan Cinta? itu sulit lakukan bahkan hingga 14 Tahun lamanya yaitu BERKOMUNIKASI dengan baik. Iya, mereka berdua yang dalam film perdananya digambarkan sebagai Milly si cantik yang agak lemot dan Mamet yang canggung dan cupu abis, keduanya tumbuh menjadi orang dewasa yang menurut saya mampu menyampaikan isi hati dan kepala mereka dengan lumayan baik. 

Sepanjang film kita diberikan banyak sekali bukti mengenai hal ini. 

Milly :

  1. Milly memperlakukan Sari (Arafah Rianti), asisten rumah tangganya yang lugu dengan sabar. Ia berusaha mengikuti becandaan dari Sari meskipun kadang Ia sendiri agak loading dulu. Bahkan ia tak marah ketika Sari meninggalkan sisa pecahan gelas di lantai. Ia hanya menasehati Sari agar lebih hati-hati lagi karena sebentar lagi Sakti akan mulai belajar merangkak. Meskipun kakinya luka dan harus ditutupi dengan plester, ketika Mamet bertanya, Ia hanya menjawabnya itu sekedar aksesoris belaka. Dan Sari notice hal tersebut dengan wajah penuh ucapan terima kasih dan respek yang mendalam. 
  2. Ketika Mamet dan Papanya (Roy Marten) mengalami sedikit perselisihan, Milly berusaha menjembatani kedua orang yang sama-sama disayangi itu. Ia meminta maaf kepada papanya atas nama Mamet, begitupun sebaliknya. Ia yang ternyata hanya tumbuh besar bersama papanya saja begitu memperhatikan orang tuanya itu terutama dari segi kesehatan dan agar tak terlalu lelah dalam pekerjaan.
  3. Di hadapan Cinta dan sahabat-sahabat lainnya Milly tetap sahabat yang paling ceria. Meski bagian ini kurang dieksplorasi (Genk Cinta minus Rangga tak lebih jadi cameo saja nih) tapi ada satu bagian di mana Ia dapat secara tegas langsung mengutarakan pendapatnya kepada Maura. Termasuk langsung menanyakan apa maksud Maura ketika mendoakan agar papanya segera mendapatkan pengganti di pabrik. Menurut saya ini karakter development yang hebat banget dibandingkan Milly yang dulu terlalu planga-plongo dan selalu mengikuti suara mayoritas atau pendapat para sahabatnya.
  4. Milly adalah ibu yang penyayang, Ia menikmati momen kebersamaannya dengan Sakti dan belum tega melepaskannya untuk diasuh orang lain. Ia pun tak gampang panik, saat Sakti nangis tanpa henti, Ia paham si bocil sedang dalam masa tumbuh gigi jadi wajar agak rewel.
  5. Ia juga seorang istri yang baik. Selalu mendukung suami, mulai dari hal yang kecil semisal menyiapkan bekal (meski Mamet yang masak) sampai meminta izin kepada Mamet sebelum ikut membantu papanya sebagai pengawas pabrik dengan alasan yang logis
  6. Berbicara langsung hati ke hati dengan suaminya bahwa ia menyukai sang suami sebagai seorang Slamet, apa adanya tanpa embel-embel Chef sekalipun.
  7. Punya hubungan yang baik dengan mantan kekasihnya, Rama (Surya Saputra) baik secara personal maupun profesional.
  8. Punya persahabatan yang harmonis dengan Jojo (Eva Celia), tetangga sebelah rumahnya, seorang wanita karir single yang berada dipuncak masa keemasannya.
  9. Milly berani mengkonfrontasi langsung James (Yoshi Sudarso) mengenai dugaan pencucian uang yang melakukannya ketika berinvestasi di restoran didirikan oleh suaminya dan Alex.
Mamet : 
  1. Ia secara jujur mengakui pada Milly bahwa pasionnnya adalah memasak. Meski Ia merasa turut bertanggung jawab atas kelanggengan pabrik konveksi milik mertuanya.
  2. Sebagai seorang pemimpin, Ia mampu membawa dirinya menjadi atasan yang disukai namun tetap disegani. Ia pun mampu bekerja dengan baik berdasarkan kemampuan dan instingnya.
  3. Ia berani langsung minta resign dihadapan mertua demi melindungi perasaan istrinya.
  4. Percakapannya dengan Milly ketika Sakti menangis tanpa henti, adalah percakapan yang jujur sebagai pria banyak yang memiliki sudut pandang yang sama (suami adalah provider, sementara istri sebaiknya di rumah saja). Tetapi ketika pembicaraan semakin memanas, Ia memilih meninggalkan lokasi daripada semakin melebar. 
  5. Ia langsung bertanya pada Alex mengenai kebenaran dugaan James dan ayahnya menggunakan restoran mereka untuk pencucian uang.
  6. Ia langsung meminta maaf pada Milly ketika menyadari bahwa Alex dan James hanya memanfaatkannya saja.
  7. Hubungan persahabatannya dengan Alex tetap terjaga meski keduanya sempat berselisih paham.
  8. Ia (dan Milly) merekomendasikan Yongki (Ernest Prakasa) sebagai pengawas di pabrik Konveksi, meski pria itu terkesan slengekan, tetapi Ia punya  integritas yang tinggi dalam pekerjaannya.

Jadi, selain benang merah utamanya tentang mahligai rumah tangga pasangan muda yang masih mengejar impian (taglinenya "Coba aja dulu, kalau ga dicoba, ga akan tahu, 'kan?) sebenarnya banyak banget pelajaran yang bisa kita serap dari film yang penyampaian nya terbilang ringan ini :

1. Pentingnya pemberian ASI eksklusif selama 2 tahun dan mempersiapkan MPASI sendiri di rumah. 

2. Kriteria dalam memilih jodoh tidak hanya cakep, utamakan yang baik hati serta direstui oleh keluarga (plus para sahabat).

3. Selalu menerapkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat dan mengurangi stress di tempat kerja. 

 4. Persahabatan antara pria dan wanita dewasa bisa terjadi selama keduanya sama-sama menjaga batasan dan bersikap profesional jika berkaitan dengan pekerjaan

5. Integritas di bidang pekerjaan, dimulai dari sumber pendanaan dan etos kerja yang maksimal.

6. Pemengaruh sosial media sejatinya haruslah lebih bijaksana dalam memberikan review.

7.  Meski terlihat ga penting, pameo apalah arti sebuah nama, sangat mempengaruhi. Alex yang diduga Milly sebagai sahabat lelaki suaminya, ternyata bernama lengkap Alexandra, seorang gadis cantik jelita.

8. Perdebatan panjang antara wanita idealnya menikah muda atau menunda, bahkan lebih baik single serta setelah menikah baiknya menjadi IRT atau lanjut bekerja sesungguhnya tak ada jawaban yang 100% benar. Kembali lagi ke sudut pandang masing-masing pelakunya dan kasus setiap orang tentu berbeda pula baik input ataupun outputnya

9. Menjadi orang tua membutuhkan persiapan yang matang dan kerjasama antar keduanya. Mengasuh anak sebenarnya bukan hanya tanggung jawab istri atau sang Ibu belaka. Ibu yang kelelahan di rumah pun bisa mengalami burnout

10. Film ini dibuat sebelum era pandemi, tapi bisa jadi gambaran model bisnis makanan yang akan sangat berkembang: menu makanan sehat homemade yang diantar langsung ke pelanggan.

11. Ada pembahasan yang seolah sepintas lalu, di tahun 2018, perusahaan Papa Milly berusaha untuk mempertahankan keberadaannya justru demi menyerap tenaga kerja lokal. Sangat relevan dengan realita saat ini : Pasar Konveksi kita di gilas produk asing yang biaya produksinya lebih murah sebagaimana yang dikemukakan James.



Hal positif lainnya, dibranding sebagai film komedi, sesuai ekspektasi. Lawakannya lucu, pemerannya menjiwai (Isyana Sarasvati benar-benar cocok jadi komedian genre absurd), muatannya kaya dan menghibur banget. Tapi balik lagi tergantung selera masing-masing ya. Menurut saya agak berlebihan juga karena hampir semua peran punya jatah melucu. Iya, kecuali Papa Milly dan Rama sang mantan pacar Milly yang pembawaannya serius (plus Sakti tapi ya namanya baby pasti gemesin kan bikin senyum-senyum juga). Padahal duo bintang utamanya saja tuh punya jiwa komedi yang oke banget. Gesture, mimik dan timing apalagi chemistry keduanya sebenarnya cukup banget jadi pusat komedi tanpa kehadiran para komika atau cameo lainnya.

Akhir kata, bagi saya (dan mungkin sebagian besar penonton angkatan saya), AADC terutama Cinta dan Rangga menang di nostalgia dan kenangan rasa jatuh cinta pertama. Dengan segala insight menarik yang bisa kita ambil, Saya nobatkan Milly dan Mamet ini salah satu film spin-off terbaik-yang-tak-tahu-saya-butuhkan-untuk-ada. Skornya 9/10.


7 komentar


Comment Author Avatar
8/31/2025 09:46:00 AM Delete
Saya kayaknya pernah nonton film MILLY DAN MAMET ini tapi tahunan yang lalu. Ternyata bener, ini film lama ya. Dulu terkesan banget sama acting Sisi dan Dennis. Klop banget. Apalagi si Sisi ini kan memang kelihatan pinpinbo tapi baik hati. Sementara Dennis tuh polos dengan niat baik yang kelihatan banget.

Fase terbaik dari film ini adalah hubungan suami istri yang naik turun karena keadaan dan saling menyesuaikan. Bagus banget untuk dijadikan contoh kepada pasutri baru. Bahwa semua itu gak selalu manis di awal2 pernikahan. Ada proses penyesuaian dan pemahaman. Saling menerima kekurangan dan melengkapi kelebihan.
Comment Author Avatar
Adi
9/01/2025 05:39:00 AM Delete
Ini sih full komedi segar yang bikin ngakak sepanjang film. Jenis film ringan yang cukup layak untuk dinikmati.
Comment Author Avatar
9/01/2025 10:09:00 AM Delete
Sebagai penikmat AADC 1 di masanya, saya senang ada film Milly Mamet ...Saya belum nonton, dan happy baca review di artikel ini. Asli keren, film spin-off tapi sebagus ini. Kok saya kayaknya jadi lebih suka ini daripada AADC 2 yaaa
Comment Author Avatar
9/01/2025 10:27:00 AM Delete
lupa-lupa inget pernah enggak nonton drama ini
Yang pasti aktris aktornya saya suka banget, apalagi Dennis sejak film Jomblo
tapi yang paling saya suka pastinya Isyana, walau cuma pemeran pendukung
Heran ni anak setau saya pemalu, ternyata bisa ngocol abis di film ini
Comment Author Avatar
9/01/2025 11:06:00 AM Delete
Daku belum nonton ini mbak. Kayaknya belum ada tayang ulangnya di tivi.
Pernahnya lihat trailer nya aja, yang kayaknya gereget sih kisahnya, apalagi si Milly yang kocak
Comment Author Avatar
9/01/2025 12:14:00 PM Delete

Ini dia film yang vibes-nya tuh kayak sisa chat mantan : nggak penting tapi susah dilupain wkwkk..

Makasih Annisa udah nulis review-nya, jadi nostalgia banget sama universe-nya AADC tapi dari sisi yang lebih receh tapi real. Aku juga sukaaa banget sama karakter keduanya!

Milly dan Mamet tuh definisi pasangan Gen Z yang tumbuh di dunia millennial—nggak drama-drama amat, tapi dalem juga. Setuju banget, film ini tuh ringan tapi ngena, kayak gorengan pas hujan.

Ditunggu ulasan film lainnya yaa, siapa tau abis ini giliran Mamet jadi CEO startup sukses yang tetep ngurus popok..
Comment Author Avatar
9/01/2025 04:19:00 PM Delete
Aku belum nonton secara utuh sih film Milly dan Mamet ini. Cuma memang sudah pernah lihat potongan-potongan adegannya, khususnya bagian yang lucu-lucunya. Kan banyak tuh berseliweran di media sosial.

Jadi pingin nonton dah. Soalnya, aku suka drama komedi begini