" ".

Recap dan Review Would You Marry Me Episode 2

Table of Contents



Recap Would You Marry Me Episode 2 


WooJoo tidur dan mengalami mimpi buruk. Hari dimana Ia mengalami kecelakaan maut yang menewaskan Ibu dan Ayahnya. Mobil yang dibawa ayahnya lepas kendali ketika berpapasan dengan sebuah truk dan jatuh dari jembatan ke jalan di bawahnya. 

Setelah bangun dari ingatan mencekam tersebut, WooJoo masih tersengal-sengal. Keringat mengucuri dahinya, Ia bergegas mengambil obat di laci dan teringat sesorang menyelamatkannya dari mobil yang terbalik. 

Di rumahnya, MeRi membaca ulang pesan singkat dari WooJoo yang bertanya tentang progres pengobatannya. MeRi teringat kebaikan WooJoo kala membawanya ke dokter dan segera menghubungi JinGyeoung. Setelahnya Ia pun masih mau menawarkan mengantar MeRi pulang. MeRi menyimpulkan Ia bukan orang jahat, jadi Ia serius mempertimbangkan minta bantuan WooJoo. Dalam perkiraan MeRi itu hanya sekali waktu saat upacara.

WooJoo memandangi telepon dari MeRi dan rupanya Ia setuju bertemu di cafe. MeRi mengaku terlalu sibuk ke dokter dan mengajukan pertanyaan apakah WooJoo sudah menikah. Lalu, secara terus terang berkata hanya WooJoo lah harapannya dan memintanya menjadi suaminya. WooJoo sangat terkejut. MeRi menjelaskan ini hanya pura-pura untuk sehari dan bukan sungguhan. 

WooJoo terlihat kesal, menganggap semua ini hanya prank. Awalnya Ia menduga ini tentang tagihan medis. MeRi berusaha menahan kepergiannya  dan memegang lengannya, kemudian bilang ini sangat mendesak. Butuh setidaknya empat hari untuk menjelaskan seluruh ceritanya, tapi hidupnya sangat tergantung pada hal ini.

WooJoo bersedia mendengar lebih lanjut tapi MeRi masih ragu memberi informasi mengenai hadiah lomba. WooJoo bingung bagaimana Ia bisa membantu tanpa tahu kapan dan harus bagaimana, karena Ia pun punya kehidupan pribadi. 

MeRi membocorkan waktunya hari Sabtu pukul tiga sore di Toserba Beaute. Sebagai gantinya akan ada kompensasi yang sepadan. WooJoo bertanya berapa dan MeRi memberi kode angka satu, jadi WooJoo menyimpulkan sama dengan malam itu, Ia meminta seratus juta Won Hoahaha.


MeRi meminta maaf malam itu dia mabuk sampai salah sangka mengira WooJoo orang lain. WooJoo jadi kesal dan bilang sepertinya MeRi masih mabuk, dinilai dari caranya yang mengganggunya. "Membayarku untuk berpura-pura menjadi untuk suamimu selama sehari? Mudah untuk membayangkan bagaimana endingnya" lalu imajinasi WooJoo membayangkan MeRi akan berkencan rahasia di mobil kemudian meminta WooJoo --sang suami-- menjebak pria itu dengan tampilan gahar kemudian meminta ganti rugi. Ujungnya ini semua tentang uang. Hoahaha

MeRi sebenarnya membenarkan ini soal uang tapi Ia tak berniat memeras siapapun. WooJoo malah menceramahinya untuk berusaha mencari uang halal, karena Ia tak akan membiarkan penipu beraksi Hoahaha bahkan Ia mengancam jika sudah tahu waktu dan tempatnya maka MeRi harus berhati-hati atau Ia akan melaporkannya pada yang berwajib.

Saat WooJoo berdiri meninggalkan meja, MeRi yakin sejak awal sang pemuda memang tak mau setuju membantu, tapi Ia bertanya kenapa Ia tetap mau mendengarnya. 

Alasan WooJoo sangat kejam "Lebih menyakitkan berharap dahulu, lalu ditolak". MeRi hanya menghela nafas kecewa "Kau bahkan tak tahu ceritaku". WooJoo malah marah "Seolah Aku mau tahu, Aku tak cukup baik bagi penipu".

Di kantor pusat Myungsoondang, nenek WooJoo mengganti posisi EungSoo dengan WooJoo. Ibunya jelas tak terima dan protes keras, kenapa anaknya diusir. Neneknya mengkoreksi, istilah yang benar adalah demosi. Hoahaha 

Sang Nenek berterus terang EungSoo kurang rajin dan cakap. Sebagai bukti sejak Ia yang memegang jabatan, penjualan menurun. Ibunya masih membela Ia baru bekerja setahun dan belum terbiasa

Ayahnya malah berterus terang bahwa sebelumnya Ia sudah dua tahun di  pengembangan dan menghancurkan tiga proyek. Hoahaha.

Ibunya masih ngeyel, asal jangan diganti WooJoo karena nanti orang menilai ibunya lebih memfavoritkan cucu dari anak lelakinya (ayah WooJoo) dibandingkan dari anak perempuannya.

"Ibu bukan menganakemaskan WooJoo. EungSoo sudah diberi kesempatan namun kinerjanya buruk" tegas ibunya. 

Bibi kembali merengek, "Abang dan istrinya sudah lama meninggal, Akulah yang akan mengurus Ibu saat tua, jangan begini kepadaku."

Ibunya hanya mengabaikannya dan terus memeriksa dokumen kemudian memberikan instruksi pada menantunya untuk menyajikan Hangwa di jamuan kepresidenan di Gedung Biru. Ia pun minta agar anaknya dibawa keluar saja karena membuatnya pusing Hoahaha

Di ruangnya EungSoo sedang nonton drama sambil mencicipi produk baru. Ibunya datang dan langsung marah karena Ia malah bisa-bisanya santai saat diganti oleh WooJoo. "Jika gunungnya tak bisa ditaklukan lebih baik ambil jalan berputar. Bagiku, mengikuti arus itu kebijaksanaan sejati."

Ibunya malah makin emosi, tanpa persetujuan nenek maka WooJoo akan mengambilalih semuanya dari mereka. EungSoo masih berusaha menenangkan ibunya karena Ia sudah punya rencana sendiri. Ibunya langsung memukulinya sampai ayahnya datang. 

Ibunya langsung merengek pada suaminya. Nenek semakin meremehkan EungSoo karena ayahnya juga tak membela. Sang Suami beralasan, dia harus bilang apa, karena mereka menjalankan bisnis. Tidak ada gunanya berdebat diantara anggota keluarga, lagipula WooJoo akan membantu EungSoo. Kompetisi akan membantu perkembangan. Dengan bijak, Ia meminta istrinya beristirahat di sauna dan ke restoran sushi kesukaannya saja. Sang Istri yang awalnya sangat kesal sampai memukuli dadanya sendiri akhirnya ikut juga.

Di Rumah Sakit, dr. JinGyeoung baru bisa tidur pagi hari setelah berjibaku semalaman. Tapi saat ponselnya bergetar dan tampak nama WooJoo, dia langsung bersemangat.

WooJoo menepati janjinya dengan mentraktir kopi. JinGyeoung bertanya kapan WooJoo mulai bekerja. Di satu sisi Ia sedih artinya pemuda ini akan semakin sibuk, tapi disisi lain Ia senang karena neneknya yang tak bisa berkunjung ke AS karena tak bisa naik pesawat sekarang bisa menjumpainya setiap hari.

WooJoo berterimakasih karena JinGyeoung bisa diandalkan menjaga neneknya. JinGyeoung mengelak, Ia bilang tak bisa selamanya melakukannya karena Ia bukan cucu menantu. Konyolnya WooJoo malah menduga JinGyeoung tertarik pada EungSoo. Hoahaha

Gadis itu langsung sewot dan bertanya tentang wanita kaktus. WooJoo bilang Ia baik-baik saja tapi segera meralatnya, sepertinya yang cedera adalah kepalanya, bukan bokongnya karena Ia aneh, tiba-tiba meminta WooJoo menikahinya. Hoahaha.



JinGyeoung langsung nampak cemburu namun belum sempat berkata apapun, seorang anak perempuan berlari dan terjatuh di samping mereka. Gantungan ditasnya, boneka berwarna kecoklatan membuat WooJoo tersenyum. Ia teringat ada seorang gadis yang memberikannya boneka beruang yang bisa 'bicara' "Cukup menngisnya nanti harimau datang menangkapmu"

WooJoo menyerahkan tas itu dan mengulanginya. Sang Ibu tersenyum dan anaknya berhenti menangis, mereka pun pergi. JinGyeoung bertanya dimana Ia mendengarnya. WooJoo bilang mungkin dari neneknya. 

WooJoo bertanya apakah gantungan boneka di tas sedang tren. JinGyeoung langsung mengira Ia ingin (dan pasti bersiap mau membelikan Hoahaha). Gadis itu pun teringat mainan sejenis yang dibawa WooJoo sampai ke Amerika. Sesuatu yang jadi bahan ejekan saat mereka kecil dulu, sesuatu dari cinta pertama. WooJoo berpura-pura lupa, Ia mengaku tak ingat namanya dan yakin gadis itu hidup dengan baik di suatu tempat.

Cue to.. MeRi didatangi lagi oleh pemilik apartemennya. Wanita itu memaksa membawa tukang yang akan melakukan renovasi mulai pekan depan. Ia terpaksa membiarkan mereka masuk. 

Setelahnya, Ia duduk dengan lunglai di ayunan taman. Ibunya menelpon dan Ia berusaha terdengar ceria. Ibunya memastikan tanggal pernikahannya agar adiknya dapat me-reschedule jadwal tiket penerbangan dari Amerika. MeRi menenangkan ibunya tak usah memikirkan pernikahan, tetapi Ia berkata ada sesuatu yang harus dijelaskan terlebih dahulu pada ibunya. Ibunya malah berpesan agar Ia menurut segala keinginan WooJoo1 karena mereka toh sudah mencatatkan pernikahan. Terkadang mengalah berarti menang. Belum sempat MeRi menceritakan yang sebenarnya, Ibunya sudah menutup telepon karena ada pelanggan.



Keesokan harinya, WooJoo menyapa pamannya, Jang HanGu (Kim YoungMin) yang menyambut dengan hangat diruang kantornya. Terungkap, WooJoo sempat kemari saat kecil namun sebelum kantor pusat semaju sekarang. 

"Cepatlah menyesuaikan diri WooJoo, banyak yang harus dilakukan. Anggap aku ayahmu dan beritahu jika ada masalah." Paman tersenyum. WooJoo berterimakasih karena sang paman selalu menjaganya sejak Ia kecil.

Sang paman mengenalkannya pada timnya. WooJoo lulusan MBA di Amerika dan pernah bekerja di konsultan asing selama empat tahun. Mereka di pesan untuk saling menyesuaikan diri. Timnya terdiri dari Cha SeJeong (Kim SiEun), Bu Oh SunHee (Hur JiNa) dan Han WonSuk (Jang SeHyun) .


Ayahnya berjumpa EungSoo di dalam lift. Ia mengingatkan akan rapat dengan Pimpinan Perusahaan siang ini.

Rapat membahas Hangwa tujuh rasa yang telah dipamerkan di Pameran Pencuci Mulut Internasional di Paris tahun lalu. Produk ini jadi viral karena ada seorang artis K-Pop yang memposting di sosial media. Produk ini perdana dijual di toko bebas bea. Mulai bukan depan akan dijual secara bebas di toserba dalam rangka menyambut hari raya.

Kemasannya mendapat penghargaan desain dalam pameran pencuci mulut. EungSoo mengingatkan bahwa ada batas waktu hak cipta penggunaan desain. Karena perusahaan mereka memilih opsi untuk sebulan saja dengan alasan harganya lebih murah. Saat itu, mereka tak berencana merilisnya sebagai produk resmi. Jadi Bu Oh tidak memperpanjang kontraknya. Ini bisa menjadi masalah yang sensitif zaman sekarang tekan EungSoo sambil menembak WooJoo selaku ketua Tim.

WooJoo meminta maaf karena tak menyadari masalahnya dengan segera. Ia berjanji akan menghubungi perusahaan desain dan segera memperpanjang kontrak. 

EungSoo menyindir WooJoo sebagai amatiran. Neneknya urun suara dan menegaskan bahwa WooJoo akan memastikan kontrak diperpanjang. 

SeJeong segera menghubungi kantor desain yang ternyata pihak MeRi. Mereka menuntut biaya 50 juta Won yang mana sepuluh kali lipat dari nilai kesepakatan awal. SongHee bersikeras karena mereka harus melepaskan hak cipta desain maka mereka harus menghitung biaya peluangnya. Dan SeJeong bilang akan mengabari setelah diskusi.

Rupanya EungSoo main curang, Ia mengubah suaranya dan menelpon MeRi terlebih dahulu. Ia mengabari perkembangan di Myunsoondang, bahwa pihak perusahaan akan menghubungi MeRi sehubungan desain kemasan HangWa dan MeRi harus meminta hingga sepuluh kali lipat nilai saat ini. Untuk itu MeRi mencoba peruntungannya mengikuti saran tersebut meski SongHee khawatir nanti kontraknya malah batal sama sekali.

WooJoo meminta timnya mengubah desain dan mencari perusahaan lain saja. Sayangnya itu tak akan mudah karena sudah lebih 150 juta won dihabiskan untuk praproduksi HangWa terutama untuk desainnya saja. Jadilah WooJoo meminta hubungi kembali studio MeRi.

Di toserba Beaute, YeonWoo, sang dirut menonton rekaman dirinya saat salah mengambil potongan tiket pengundian hadiah utama. Lucunya Ia malah melampiaskan kekesalannya pada sang asisten, SangHyun. Pria berkacamata itu hanya bisa tertunduk dan berjanji akan menemukan cara menarik kembali hadiahnya. 

Jahatnya  YeonWoo memanggilnya mendekat dan menendangnya dengan keras dua kali. SangHyun hanya bisa menahan amarahnya dan pergi sambil memunguti sepatu bosnya. Ternyata jabatannya adalah Direktur Pelaksana. Ia teringat tiga bulan lalu bosnya bercerita walikota menginginkan salah satu Townhouse berharga lima miliar Won di Perumahan Beaute Palace  sebagai ganti pemberian izin pendirian toserba. 

SangHyun lah yang meminta YeonWoo mengalah karena jika konstruksi tak berjalan sesuai rencana maka bunga.  pinjaman dan penundaan lebih mahal. YeonWoo mengomel, yang dikhawatirkannya adalah ayahnya tahu tentang pencucian uangnya. SangHyun pula yang memberi ide memberikan rumah melalui undian toserba pada ponakan walikota yang baru menikah.

Ia penuh tekad membereskan masalah ini dan menginformasikan pada bawahannya, jika suami MeRi tidak datang maka akan dilakukan pengundian ulang.

Di studionya, MeRi menatap ponselnya, Ia terlihat berpikir. SongHee menawarkan akan menelepon kembali Myunsoondang dan berpura-pura keliru akibat mabuk tapi MeRi bilang sebaiknya mereka menunggu. Pesan yang masuk ternyata dari toserba Beaute. MeRi panik karena jika suaminya tak datang maka hadiahnya tak akan berlaku lagi.

Ia mencari alternatif dengan mencoba meminta bantuan dari abangnya SongHee namun teringat ancaman WooJoo yang akan melaporkannya.


Di rumah WooJoo1, ibu Chun EunSeok (Kim YoungJu) dan kakaknya Kim JinHwa (Moon SeungYou) sedang makan ramen sambil mengeluhkannya yang pergi tanpa kabar ke Hongkong. Kakaknya tanpa malu mengakui sejak adiknya dan MeRi putus, Ia tak bisa lagi menikmati kimchi dan makanan lain yang kerap dikirim MeRi dan ibunya ke rumah mereka. Ibunya setuju tapi tak sebanding dengan pacar baru WooJoo1 yang kaya raya, setara chaebol. Kakaknya meledek akhirnya putra Ibunya akan memberi kehidupan mewah, selama ini Ia kesal karena MeRi tak kaya. Ibunya marah jangan mengungkit nama MeRi lagi.


Ibunya menerima telepon dari WooJoo1 dan mereka membahas agar jangan menerima telepon dari MeRi. Rupanya kucing putih Jenny, Elizabeth di rawat di rumah WooJoo1. Mereka hanya memberinya pelet organik terbaik. WooJoo1 bilang Ia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan baru akan kembali bulan depan. 

Tiba-tiba ada yang membunyikan bel. ibunya mengira tukang ramyun yang akan mengambil mangkuk, tetapi saat sang Kakak membuka pintu, ada MeRi di depan pagar.


Ia membawa buah tangan dan terus terang ada masalah mendesak. Ketika ibu WooJoo1 membahas tentang penipuan sewa, MeRi jadi paham bahwa mereka bisa berhubungan. Ibu WooJoo1 menuduh MeRi disuruh ibu kandungnya menahan WooJoo1 dengan cara apapun. Ia menuduh MeRi tak tahu malu karena Ia lulusan universitas kelas tiga dengan ibu tunggal yang sudah tua, bagaimana mungkin berniat menikahi WooJoo1 yang lulusan SMA dan universitas bergengsi. Ibunya mengungkit semua jasa membiayai semua termasuk kursusnya. Ibunya terus mengomel, toh MeRi hanya bisa menyewa tempat tinggal atas namanya sendiri. 

MeRi meluruskan bahwa pinjaman untuk jaminan memang memakai namanya. Langsung sang Ibu memotongnya karena dia menandatangi sendiri maka Ia harus membereskan semua masalah yang timbul sendiri juga. 

MeRi berusaha memberitahu kedatanganya justru karena mereka menang hadiah rumah. Tapi belum sempat Ia bicara, Kakak WooJoo1 memotong dan bilang "Jika punya nurani, jangan tarik WooJoo1 jatuh bersamamu. Kau mendaftarkan pernikahan di awal untuk menjebaknya, dasar mata duitan!"

MeRi tak terima. Ibunya mengusir MeRi dan memintanya kelak untuk saling pura-pura tak kenal. Ketika sang ibu berdiri dan hendak pergi, MeRi bilang jangan khawatir Ia tak akan menghubungi WooJoo1 lagi, Ia kemari untuk alasan lain namun tampaknya sudah tak ada gunanya. Jika mendengar kabar tentangnya pun harap abaikan saja. Ia membungkuk menghormat sebelum menambahkan "Bisa kulihat betapa WooJoo1 mirip denganmu Ibu. Kini kutahu dari mana Ia mendapatkan kelancangannya."


Sang Ibu menampar MeRi tapi gadis itu dengan gesit menangkap tanggan wanita yang lebih tua. "Ini tak pantas dari keluarga pendidik. Jika kau memukulku akan ku pasang poster di lingkungan, suamimu dipecat karena melecehkan asistennya." Ibunya WooJoo1 hanya terbelalak dan mengumpat.


MeRi keluar dan bersedih. Ia bilang sudah berusaha sebisanya namun sedih karena peluangnya mendapat rumah menjadi tertutup. SongHee menghubungi tentang janji dengan Myunsoondang.

Di kantor WooJoo bersiap rapat dengan Pimpinan kantor desain. Ia berjalan di koridor dan berpapasan dengan EungSoo. Sepupunya meledeknya bekerja keras di hari pertama. Ia berpura-pura perhatian sambil memijat bahu WooJoo yang penuh beban. WooJoo membalas sedangkan EungSoo justru sangat ringan karena tak ngapa-ngapain Hoahaha.

EungSoo bilang sampai kemarin jabatan WooJoo adalah miliknya. Jadilah WooJoo menekannya seharusnya Ia sudah membereskannya ketimbang dibebankan pada orang baru.

EungSoo pura-pura bodoh, mengaku Ia akan membereskannya tapi keburu ada pertukaran personel. Jika WooJoo memang sanggup perpanjang kontrak tanpa kenaikan harga maka Ia akan mengakui bakat dan kompetensinya. Sebaliknya jika gagal maka WooJoo harus mundur dari posisinya. (Nantang sekaligus dengan gerakan bertinjunya Hoahaha)

WooJoo berpikir sejenak dan menyetujuinya. Kemudian Ia menyuruh sepupunya itu minggir karena Ia akan membereskan kekacauannya. EungSoo masih yakin dengan rencananya.

MeRi mampir di toilet dan merasa melihat WooJoo. Ia yakin salah lihat dan berkhayal karena stress. Rupanya mereka memang saling berhadapan. SeJeong memperkenalkan ketua tim baru. Untuk menghindari kecurigaan, WooJoo dan MeRi (yang langsung melihat peluang terakhir) saling berkenalan dengan formal.

WooJoo langsung to the point bilang mereka akan menawarkan keuntungan tambahan jika MeRi setuju dengan harga yang sama, yaitu menangani desain kemasan produk terbaru mereka. kemitraan dengan Myunsoondang akan membangun portofolio yang bagus bagi Studio Desain MeRi.

MeRi langsung setuju sampai SeJeong melotot kaget. Tapi ada satu syarat dan Ia meminta waktu bicara berdua. Setelah SeJeong pamit, MeRi bilang dinamika mereka sekarang berubah. WooJoo juga butuh, jika Ia menolak maka perusahaan akan milyaran (rupanya waktu di toilet MeRi sempat mendengar nyonya Oh berbicara di telepon bahwa kemasan sudah dicetak massal dan poster promosi sudah dibuat). 

WooJoo berniat membatalkan perjanjian, lebih baik merugi daripada menipu. Ia malah mengancam akan melaporkan MeRi.

MeRi berusaha menjelaskan bahwa Ia menang rumah lima miliar Won dan tak ada waktu mencari suami pengganti. WooJoo memikirkannya, jadi itulah inti semua ini. Ia merasa kasihan tapi nuraninya tak mengizinkannya melakukan semua ini. Pas sekali ponselnya bergetar dan pesan sepupunya masuk, mamastikan kesepakatan mereka. Ia pun teringat kata-kata neneknya di rapat lalu.



MeRi melihat wajah WooJoo dan mengingatkannya pada luka di sikunya saat tertabrak WooJoo dan resiko jangka panjangnya. Saat WooJoo mulai ragu, MeRi langsung merebut kontrak dan menandatangani kesepakatan. 


Jadilah di waktu yang ditentukan, keduanya menuju Toserba Beaute. WooJoo nampak cemas. MeRi memastikan WooJoo membaca pesan yang dikirimnya tentang pernikahan mereka. Pria itu nampak terganggu dan terus berjalan saja.


Di elevator, MeRi memberikan cincin pernikahan dan kacamata agar sesuai foto WooJoo1. WooJoo sempat khawatir bagaimana bisa Ia punya salinan dokumen diri WooJoo1. MeRi meluruskan itu demi keperluan bulan madu, jadi di kirim ke biro perjalanan. WooJoo masih sempat mengomel betapa beresikonya ini dan bagaimana mungkin WooJoo1 diam saja. MeRi lagi-lagi yakin kalau pria itu tak akan tahu. Rumahnya pun akan langsung dijual. Sebagai gantinya MeRi akan memberi WooJoo sejumlah uang, Ia bahkan menyodorkan kelingkingnya untuk berjanji Hoahaha. WooJoo tak mau menerima yang haram atau apapun yang tak baik. 

MeRi menjelaskan lagi situasinya yang tertipu dan butuh melunasi hutang ibunya. WooJoo bilang semua orang juga punya cerita sedih tapi tak semua orang menipu. MeRi jadi ngegas, Ia pun sebenarnya ingin hidup dengan hati nurani tapi tak ada pilihan lain. WooJoo bertanya apakah Ia memarahinya dan MeRi langsung meminta maaf. 

YeonWoo, si Dirut yang asik main, terkejut tetap akan diadakan upacara penyerahan hadiah, karena dipikirnya sudah dibatalkan. Ia marah lagi dan mendorongkan stik golf pada dada SangHyun.

YeonWoo takut dimarahi ayahnya namun SangHyun sudah lebih dahulu mengabari bahwa ini kegiatan pengabdian masyarakat. YeonWoo aktif di sosial media, pers pun akan tertarik jika mereka mendukung pasangan muda yang belum punya rumah. Citra publik yang positif akan bagus untuk pembangunan toserba. 


Di lounge naratama WooJoo dan MeRi disambut oleh pegawai Beaute yang sebelumnya menjadi MC saat pengambilan hadiah, Tuan Kwon.

Pria itu mencoba mengajak keduanya berbincang namun WooJoo terlihat cuek. MeRi berusaha memuluskan percakapan, mengaku bahwa suaminya kelelahan setelah pulang dari luar negeri, termasuk menyerahkan kartu identitasnya yang asli. Tn. Kwon menyadari WooJoo sedikit berbeda dengan foto identitas dirinya,  yang aslinya sayangnya tertinggal di mobil. Akhirnya WooJoo menyebutkan nomor identitas diri WooJoo1 lengkap dengan alamat dan tanggal pencatatan pernikahan mereka. MeRi takjub dengan daya ingatnya.

Setelah itu Tn. Kwon memberi tahukan mereka harus berpartisipasi dalam kegiatan promosi termasuk siaran pers. WooJoo langsung panik dan meminta MeRi mencegahnya dengan bahasa isyarat. MeRi bilang Ia tak bisa masuk berita, ketika Ia kesulitan menemukan alasan yang tepat, M

Tn. Kwon malah mengira mereka takut ditagih kreditur. Soalnya dari pengalaman pribadi, Ia pernah menang lotre lalu mengumumkannya di sosmed, eh sampai harus mentraktir banyak orang termasuk membayari uang kuliah keponakan istrinya Hoahahaha. 

WooJoo protes mereka tak setuju, tapi rupanya ada di syarat dan ketentuan yang dibuat dengan tulisan super kecil. Jadilah disepakati dengan nama palsu. 



WooJoo terlihat berpikir keras. Tiba-tiba Ia dapat ide pura-pura menerima telpon yang mengabarkan rekan satu penerbangannya terkena gejala Ensifalitis Afrika --yang dibesarkan sebagai penyakit paling menular saat ini. Jadilah Ia meminta masker pada MeRi (manggilnya 'Jagiya' Hoahaha) karena takut menulari orang lain.

Tn Kwon langsung melaporkan pada SangHyun. Sayangnya upacara tetap harus dilakukan demi artikel tentang YeonWoo. MeRi memuji kepekaan WooJoo. Pria itu pun sempat menyambar topi dan meminjamnya pada ibu cleaning service. Membuat penyamaran yang lumayan saat difoto. MeRi pun menutupi wajahnya dengan masker dan bunga.

SangHyun menyerahkan kunci rumah secara simbolis. MeRi main langsung tanda tangan tanpa membaca syarat dan ketentuan lainnya. 


SangHyun yang bertugas mengantarnya ke Townhouse tapi Ia bertanya dimana WooJoo, MeRi beralasan suaminya akan ke rumah sakit untuk tes lanjutan. celakanya mereka malah berpapasan di bagian depan kantor. SangHyun memaksa mengantar WooJoo sekalian, akhirnya WooJoo bilang tesnya negatif dan ikut juga ke Townhouse. MeRi hanya bisa meminta maaf dalam bisikan lirih.

Sepanjang jalan, MeRi terpesona dengan keindahan Beaute Palace. SangHyun menjelaskan pembangunan didasarkan pada konsep FengShui dan ditinggali para pembesar dan selebritis. Rumah mereka ada di kompleks dua dari tiga kompleks yang ada. WooJoo sebaliknya merasa bosan dan bolak balik melihat jam tangan dan bahkan menguap.

EungSoo mengantar ibunya di perumahan yang sama. Mereka membawa sogokan untuk seorang direktur kenalan mereka.





Sementara MeRi berkeliling rumah yang sudah lengkap dengan perabotan karena dijadikan rumah contoh. MeRi merasa bersyukur dan tak perlu mengeluarkannya lagi. Ia terpesona dengan halaman dan pengaturannya yang bagai resor mewah. SangHyun bertanya kapan mereka akan pindah. MeRi bilang mereka tetap akan tinggal di dekat tempat mereka bekerja. Rupanya tadi MeRi terlewat membaca ketentuan bahwa rumah baru bisa dijual tiga bulan lagi demi kredibilitas acara. 

SangHyun menyadari ketegangan antara mereka. Tapi MeRi berusaha memuluskan dan bilang Ia mungkin bersedia pindah. WooJoo langsung menatapnya khawatir. Apalagi saat dijelaskan sebagai bentuk formalitas ada inspektur yang akan menghubungi mereka sebelum datang melakukan inspeksi. "Kurasa dalam kasus kalian tidak perlu karena Aku salah satu penghuni disini dan tinggal di seberang jalan"



MeRi dan WooJoo serempak menunjuk dengan panik. SangHyun undur diri dan berjanji menunggu mereka di luar 20 menit lagi untuk menunjukkan fasilitas umum perumahan.

WooJoo langsung stress dan mengomeli MeRi yang bilang mau pindah ke sini. Jadilah Ia bercerita, bahwa Ia diusir dan harus pindah akhir pekan ini. MeRi yakin akan jarang bertemu SangHyun sehari-hari. MeRi butuh saran dari WooJoo tapi pemuda itu marah dan kesal sekali "Bagaimana aku tak khawatir, karena aku sudah terlibat, maka aku akan ikut terkena masalah jika ketahuan."

WooJoo marah sambil melepaskan cincin dan meninggalkannya di meja. Ia bergegas keluar namun baru beberapa langkah, Ia merasa bersalah lalu menghubungi MeRi. Ia minta maaf tepat saat mobil EungSoo membunyikan klakson meminta petunjuk alamat. 

Mereka saling terkejut, WooJoo mengaku mengunjungi temannya sementara Bibi dan EungSoo berusaha menyembunyikan alasan kedatangan mereka. (Bibinya berusaha ngumpetin sogokannya Hoahaha).


Semakin tegang ketika kehadiran SangHyun yang sudah berganti pakaian bertanya dimana istri WooJoo? Jadilah Bibinya super kepo plus SangHyun melihat MeRi berjalan di kejauhan (karena Ia mencari WooJoo yang tiba-tiba memutuskan sambungan telpon).





Review Would You Marry Me Episode 2 

Would You Marry Me ini mengingatkan saya akan Drakor genre roncom jadul. Semua troops klasik diborong :

✅ Nikah kontrak

✅Antara pemuda Chaebol (generasi keempat, Karena nenek mengembangkan usaha milik mertuanya) dan  gadis 'rakyat biasa'

✅OTP pernah bertemu saat kecil

✅ Cinta bersegi-segi

✅Perebutan kekuasaan dan harta

✅ Karakter jahat banyak 

✅ Penuh kejadian konyol yang bikin LOL 

Menariknya dikemas dengan cara yang cukup fresh. Misalnya pengenalan WooJoo di episode pertama, seolah Ia pemuda brengsek yang tak mau mengalah tenyata justru melindungi seorang nenek dari anaknya yang serakah.

Sama halnya dengan episode ini, EungSoo dan Ibunya selalu menampakan sikap licik, haus kekuasaan dan harta tapi paman nampak cukup tulus. Apakah ini justru menyiapkan kejutan? Mengingat saat WooJoo kecelakaan nampak paman dan nenek yang menjemputnya ke Kantor Polisi.

Keluarga WooJoo1 jangan ditanya deh, jahat banget, beruntung MeRi tak jadi menantunya. Ibu dan Kakaknya matre, kejam, gongnya ayahnya malah pelaku kejahatan seksual. Mereka masih berani menghina MeRi cuma karena tak dianggap sekufu dengan WooJoo1. Lah padahal MeRi dan Ibunya lebih terhormat ya...

Belum lagi pihak toserba Beaute, YeonWoo dan SangHyun masih belum jelas posisinya selain pengusaha yang berusaha mengakali birokrasi dengan menyogok walikota. 

Jahatnya YeonWoo yang salah dalam proses pemilihan pemenang townhouse justru selalu melemparkan pada SangHyun. Kasihan sih, tapi mengingat Ia akan menjadi tetangga MeRi (dan WooJoo) --dan akan sering menginspeksi mereka-- jadi agak gimana gitu. 

Ohya, rumahnya indah sekali. Lima milyar Won dalam kurs rupiah perhari ini lebih dari 58 milyar, jadi yah wajar saja lah ya.. 

Satu hal yang paling berkesan dari mengunjungi rumah ini bukan hanya pemandangannya tetapi sikap WooJoo. Setelah sempat agak marah dan pergi, Ia justru segera menghubungi MeRi untuk meminta maaf duluan. WooJoo ini greenflag banget deh. Mana aktingnya sebagai pasangan MeRi boleh juga, langsung luwes manggil 'Jagiya' Hoahaha.

Ohya, adik MeRi, SoRi berada di Amerika juga. Apakah Ia pernah berjumpa WooJoo? Ataukah gadis kecil dalam ingatan WooJoo itu justru SoRi bukan MeRi?

Duh jadi semakin penasaran ya.

Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me 

Episode 1


Posting Komentar