Review Abadi Nan Jaya : Sepenggal Lirik, Sejuta Makna
"Indonesia, tanah air Beta...
Pusaka, abadi nan jaya.."
Penggalan lagu Indonesia Pusaka
Lagu tersebut merupakan lagu favorit saya sepanjang masa untuk meninabobokan kedua anak saya. Terutama bagi si Sulung yang sebagian ceritanya pernah saya bahas di sini.
Saya memang suka sekali liriknya. Mengajarkan semangat cinta tanah air, kasih sayang orang tua dan tentu saja penghujung lagu yang terang-terangan menyebutkan "sampai akhir menutup mata" as a clue buat anak-anak jadi merem. Meski secara metafora dalam lagu adalah akhir hayat.
Jadi, bisa ditebak, saat ada film horor dengan sub-genre zombie dengan penggalan lirik lagu tersebut, si sulung langsung semangat nonton. Ok, saatnya saya bikin hastag sendiri ya #NontonBarengAnakZR semoga bisa sedikittt berbagi pengalaman nonton suatu film/drama bareng anak dan insight apa saja yang bisa diambil dari sudut pandang keluarga kami.
Judul Lain : The Elixir
Penulis Naskah : Kimo Stamboel, Agasyah Karim dan Khalid Khasogi
Sutradara : Kimo Stamboel
Pemain : Eva Celia, Mikha Tambayong, Donny Damara, Marthino Lio, Dimas Anggara, Claresta Taufan, Ardit Erwandha dan Varen Erianda Calief
Genre : Horror-Thriller- Drama
Tayang : 23 Oktober 2025
Durasi : 118 menit
Jaringan : Netflix
Rating usia : 18+
Sinopsis
Perhelatan pesta hajatan yang sejatinya berbahagia berubah jadi mencekam saat sebuah mobil berkecepatan tinggi malah menabrak tenda para tamu yang menutupi ruas jalan. Ketika supir dimintai pertanggungjawabannya, yang keluar justru sesosok orang yang matanya nyalang dan wajahnya justru menyerupai makhluk buas. Terlebih, Ia mengincar manusia lain dan menggigitnya.
Seorang gadis bernama Ningsih (Claresta Taufan) menatap nanar di tengah kerumunan yang keos, dalam hatinya seolah membenarkan selorohannya beberapa saat yang lalu, ketika pacarnya Rahman (Ardit Erwandha) tak kunjung melamar, "Mau tunggu sampai kapan? Momen aku meninggal?"
Cerita kembali ke awal mula, ketika pasangan suami istri Kenes (Mikha Tambayong) dan Rudi (Dimas Anggara) serta anak tunggal lelaki mereka Raihan (Varen Erianda Calief), berkendara dari Jakarta menuju Wanirejo, sebuah desa di Jawa Tengah (my guess based on local people dialect).
Tujuannya adalah minta tanda tangan pak Dimin (Donny Damara), ayah Kenes sang pemilik perusahaan jamu tradisional Wani Waras. Mereka sudah dikenal secara nasional, tetapi demi memajukan perusahaan, sang menantu berambisi melakukan merger dengan perusahaan farmasi pemodal besar.
Dari interaksi mereka, terungkap ketegangan antar anggota keluarga. Nasib hubungan pasutri yang berada diujung tanduk, diperkeruh dengan merenggangnya hubungan persahabatan sejak kecil antara Kenes dengan Kirana (Eva Celia Lesmana), yang sekarang menjadi ibu tirinya. Serta kehadiran si anak sulung alias abangnya Kenes, Bambang (Marthino Lio), yang lebih senang bermain game online dibanding bekerja.
![]() |
| Sumber masalah dengan kearifan lokal : Jamu Abadi Nan Jaya |
Saat pertemuan itu memanas, tiba-tiba Dimin menunjukkan gejala aneh, ditengarai sebagai akibat minum sample jamu Abadi Nan Jaya yang dikirim oleh bagian pengembangan Jamu Wani Waras sendiri. Apakah keluarga ini mampu bertahan menghadapi zombie outbreak ditengah suasana desa Wanirejo yang asri?
Review Abadi Nan Jaya
Para wanita tangguh yang jadi sorotan saya nih, ada Mikha Tambayong yang sudah saya ikuti karirnya sejak sinetron kepompong (2008) tampil cukup relateable sebagai seorang ibu. Kenes sungguh mengkhawatirkan putranya dan sepanjang cerita menjadi salah seorang sudut pandang utama. Hubungannya yang kacau dengan suaminya yang berselingkuh disiram lukanya oleh ayahnya sendiri dengan terang-terangan menyalahkannya akibat kurang pandai merawat diri (dibanding Karina sang ibu tiri yang selalu tampil menggoda plus ada adegan sedang pilates di halaman!).
Eva Celia memang sudah waktunya didapuk jadi peran utama. Dulu waktu remaja, saya sempat mikir, berat ya beban Eva, di dunia musik, standarnya ayahnya Indra Lesmana, di dunia peran, ibunya Sophia Latjuba! Sejauh ini menurut saya Ia menjalani kedua dunia dengan cukup berimbang dan tak nampak 'ngoyo'. Senang sekali, akhir tahun 2025 ini Ia dipercaya mengisi OST Cinta dan Rangga serta memerankan tokoh Karina yang mencuri perhatian. Sebagian orang pasti merasa hubungannya dengan ayah sahabatnya sendiri tak pantas, mengingat Bambang, anak sulungnya Pak Dimin saja lebih tua usianya, tapi Ia berusaha mengimbangi beliau dan menjadi istri yang baik. Kali ini, peran Karina menampilkan kemampuan akting Eva dengan sangat baik. Menurut saya, soal bertahan hidup, Ia juga jadi salah seorang MVP karena bisa membawa berbagai kendaraan dari motor modifikasi sampai truk barang!
Kemistri antar anggota keluarga Wani Waras yang canggung tapi sebenarnya saling sayang bisa tersampaikan dengan baik. Begitupula kisah romansa Ningsih-Rahman yang sempat diwarnai ketegangan. Dialognya sebagian ada yang filosofis, ada juga yang lucu banget, meski suasana lagi genting.
Untuk para zombie, koreografi gerakan transformasinya believeable, jadi ada sensasi merinding meski belum masuk adegan makan orang. Dukungan makeup prostetik dan kostum penuh darah membuat penampilan semakin mencekam. Tak kalah dari zombie Hollywood. Malah yang ini lebih tangguh. Setelah tubuhnya tercerai berai pun masih bisa bergerak mengejar mangsa.
Penceritaan yang menggunakan alur non-linear sesungguhnya hanya terjadi sekali di awal. Kita tak akan dipusingkan dengan alur bolak-balik ke masa lalu keluarga ini --misalnya-- semuanya terungkap melalui kekuatan dialog dan akting antar tokoh.
Sebagai sutradara horor kenamaan, Kimo Stamboel dan tim produksi mampu menghadirkan lokasi cerita yang terasa dekat dan familiar. Desa Wanirejo yang asri digambarkan dikelilingi sawah nan hijau, lanskap yang memanjakan mata lengkap dengan air terjun yang indah dan rumah penduduk yang otentik. Populasi lokalnya pun tidak terlalu padat tapi akrab.
Setting semi tertutup ini menjadi lokasi yang pas untuk merebaknya wabah. Yang sebenarnya belum diketahui penyebabnya dengan gamblang oleh para penduduknya. Sebagian mengira ini adalah kesurupan, keluarga Dimin sebagai pasien '0' pun pada awalnya mengharap kesembuhan dengan berusaha membawanya ke rumah sakit. (Kembali ke adegan awal dimana supir keluarga yang telah terjangkit, menghantamkan mobilnya ke tenda pesta kala memanggil pihak berwenang).
Ohya, mungkin tindakan ini terkesan kontra produktif bagi kita, para pemirsa yang sedikit banyak telah mengetahui tentang zombie, meski dalam setiap medium ada sedikit perbedaan cara mengatasinya dengan efektif misalnya. Perlu ditekankan, tidak sekalipun mereka menyebut bahwa ini adalah mayat hidup alias zombi yang makan orang. Semua sama-sama kebingungan, dan dalam keadaan benar-benar bingung, sejatinya reaksi mereka adalah wajar. Ada mekanisme fight or run yang langsung memacu diri saat menghadapi marabahaya.
Misalnya Bambang yang merasa bersalah terhadap ayahnya, karena melepaskan tembakan fatal begitu pula Raihan yang masih berharap anggota keluarganya utuh lagi meski sudah melihat sendiri perubahan mereka.
Intinya, kita sebagai penonton tetap turut peduli pada keselamatan para karakter meski kadang tindakan mereka tak sesuai nalar (kita, penonton yang sudah dicekoki aneka medium tentang mayat hidup / zombie).
Menurut saya kekuatan lain dari Abadi dan Jaya ada di pengambilan gambarnya. Menggunakan drone untuk menunjukkan situasi Polsek yang telah dikepung zombi itu wah banget. Saat menyoroti "final battle" itu juga keren, perpaduan nuansa malam hari dengan permainan pencahayaan tambahan (plus bonus kembang api warna warni) yang ciamik. Suka banget!!
Efek CGI juga mulus dan scoringnya juga cukup menarik, latar suara yang kerap hadir di pedesaan dipadukan dengan suasana penuh ketegangan.
Saya menyayangkan tidak ditayangkan di bioskop dulu. Karena bisa memberikan ambience sinematik yang lebih bagi para movie goers yang rindu dengan film Indonesia yang lumayan berbobot.
#NontonBarengAnakZR
Disclaimer : Dua anak lelaki saya yang sulung usia pra-remaja, adiknya masih balita.
Biasanya sebelum nonton bareng anak yang saya lakukan adalah :
1. Mencari tahu sebanyaknya tentang film / serial tersebut untuk mengantisipasi pertanyaan yang akan diajukan anak saya dan menandai bagian-bagian yang belum cocok mereka lihat (bisa di skip atau percepat).
Dalam film ini tentu ada banyan adegan yang gore dan ada satu adegan panas, clue-nya adalah setelah Pak Dimin menemukan dirinya menjadi kembali muda setelah minum jamu Abadi Nan Jaya. Langsung skip saja
2. Menjelaskan latar belakang singkat lengkap dengan penjelasan rating dan kesediaan mereka jika saya meminta mengalihkan pandangan sejenak.
Rating film ini di OTT merah adalah 18+, jadi sadari benar ini sebenarnya belum pantas disaksikan anak seusianya.
Kalau saya, sejak Abang Z kecil sudah memberikan pemahaman rating. Kode angka menandakan usia minimal pemirsa. Sedangkan kode huruf ini yang agak tricky karena beda sedikit antara versi Indonesia dan luar negeri :
- G : General Audience atau / SU : semua umur
- PG : Parental Guidence / BO : Bimbingan Orangtua
- PG-13 : Anak 13+ / R13 : Remaja 13 tahun keatas
- R : Restricted 17 tahun kebawah harus dengan pendampingan orang tua / D17
- NC-17 : Semua yang dibawah 17 tahun harus dengan pendampingan orang tua
- D21 : Dewasa 21 tahun keatas.
3. Mengkondisikan ruangan dan kenyamanan mereka.
POV Adik R
Beberapa adegan terlalu menakutkan, jadi Ia menutup matanya meski mencuri-curi pandang. Akhirnya di pertengahan film Ia ketiduran di pelukan saya. Besoknya, ketika saya tanyakan apakah Ia ingat tentang film yang kami saksikan semalam (sebagai gambaran, Ia cukup mampu memahami alur cerita dan mengingat garis besar film Tron:Ares yang kami tonton semingguan sebelumnya walaupun belum pandai membaca subtitle), Ia berceloteh tentang zombie dan filmnya seram, tapi Ia mengaku tak takut lagi karena sudah diajari surah pendek Hoahaha
POV Abang Z
Menurutnya bagus, ada lucunya, ada sedihnya, mengingatkan Abang sama Train to Busan. Satu lagi, sawahnya hijau banget, jadi kangen masa-masa kami tinggal di pedalaman Sumatra.
Ok, jadi si Abang memang cukup suka dan beberapa kali ikut nonton film bergenre zombi. Seingat saya kami pernah nonton My Daughter is a Zombie, Zombieland 1,2 dan Ia beberapa kali ngintip saya nonton beberapa seasons terakhir The Walking Dead.
So far, pemahamannya tentang zombie bahwa itu fiksi dan hanya ada dalam dunia buku atau sinema. Serta bagaimana bisa survive dalam dunia zombie antara lain dengan menghancurkan kepalanya dan --tentu saja-- menghindari terjangkit.
Dalam nuansa bahasa dan lokasi yang terasa begitu dekat, saya bisa lihat keterikatan emosional jadi lebih kuat. Kebetulan, kedua anak saya sama-sama punya teman yang terbilang akrab bernama Raihan. Jadi mereka bisa berempati sekali dengan tokoh tersebut. (Kuddos buat pemilihan nama tokohnya, ga terlalu generik terasa Indonesianya dan pas dengan gen alpha, ya meski gen Millenial juga ada yang akrab dengan grup Nasyid Raihan ya).
Sesuai kebiasaan kami, selalu berdiskusi setelah nonton, beberapa poin yang bisa dijadikan topik pembahasan setelah nonton
1. Kehidupan Pedesaan
Suasananya yang asri dan sejuk. Pedesaan di Pulau Jawa digambarkan tenang dan tentram tapi telah tersentuh modernisasi juga. Contohnya rumah mewah bergaya klasik milik Pak Dimin lengkap dengan kamar Bambang yang penuh komputer modifikasi ala pro-gamers dan kendaraan roda empat.
Masyarakat dikenal lebih guyub misalnya rewang saat ada acara salah seorang warga, pergi kondangan ramai-ramai naik truk bak terbuka juga merupakan suatu hal yang wajar.
2. Lelaki Harus Tumbuh Jadi Qawwam
Selain memberi pentingnya hubungan keluarga, nilai lebih yang bisa saya bahas dengan dua anak lelaki saya adalah Qawwam.
Ada beberapa paramenter kegagalan keluarga Dimin. Selaku kepala keluarga Ia tak bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anak dan selalu mengambil keputusan secara otoriter. Alhasil anak sulungnya, Bambang yang sampai dewasa hanya main game dan bersenang-senang, dianggap gagal dalam konteks sosial. Ini kembali menjadi sumber perselisihan dengan ayahnya.
Suami Kenes, Rudi yang berselingkuh juga gagal sebagai bapak dan ayah yang baik.
Di sisi lain, karena kejadian tak terduga ini, Raihan dituntut untuk lebih cepat dewasa saat menyaksikan orang-orang terkasihnya satu persatu berubah menjadi sosok asing.
Penting mengingatkan anak lelaki agar kelak menjadi pria yang Qawwam ini.
3. Kegagalan Negara Hadir melindungi Rakyatnya
Paling ga banget dari film ini adalah kehadiran para polisi. Okelah, kegagalan para polisi di Polsek mengamankan warga masih masuk akal, namun bantuan dari Polres terdekat yang datang hanya satu mobil patroli. Lebih anehnya, setelah mobil tersebut gagal melakukan misi, hingga malam menjelang tidak ada follow up dari Polres lagi! Apakah sebegitu biasanya setelah bertugas tidak langsung kembali ke base atau bagaimana nih?
Rahman sang polisi pun enggan menghubungi Polsek atau polres terdekat lain karena paling mendapat respon yang lebih kurang serupa. Lah, bukannya seharusnya kalau sudah begini yang harusnya dihubungi pemerintah pusat sekalian?
Ini sekaligus menjadi kritik sosial yang membangun.
4. Keserakahan Berujung Petaka
Jamu Abadi Nan Jaya diciptakan dengan tujuan agar manusia bisa tampil awet muda. Selain itu diharapkan bisa jadi sumber cuan dan membawa jamu Wani Waras semakin jaya.
Sayangnya melawan kehendak alam selalu bukan langkah yang bijaksana. Kita bisa mengajak anak berdiskusi tentang topik ini
5. Kantung Semar
Pembuatan Jamu dengan ekstrak tumbuhan kantung semar bisa menjadi awal pembelajaran mengenai tanaman ini. Ciri khasnya yang berupa kantung kemudian menangkap serangga dan hewan kecil lain demi mengekstrak enzim tertentu yang dibutuhkan menarik untuk dicari tahu. Bila sulit untuk melihat secara langsung, bisa cari buku atau searching ya.
Erat pula dengan penampakan orang yang terinfeksi dengan penampilan tanaman ini. Matanya kelabu dengan bibir melebar. Ada lubang-lubang kecil di bagian wajah, bisa menjadi trigger pengidap trypophobia.
6. Fenomena Hujan
Kali ini, saya yang mengajukan pertanyaan, masih ingatkah si sulung dengan proses turunnya hujan.
Mengamati hujan membawa efek yang dramatis pada zombie juga menarik. Saya baca wawancara dengan sang Sutradara, berdasarkan riset terhadap kantung semar yang menutup sebagian kantongnya kala hujan, zombie pun jadi tenang saat tersiram hujan.
Ada salah seorang pengguna sosmed yang mempermasalahkan hujan yang datang dan berhenti secara mendadak. Saya mengasumsikan Wani Rejo berada dekat di pesisir pantai selatan. jawa. Dari pengalaman tinggal di kawasan yang sama, wajar jika hujan tiba-tiba turun dan berhenti karena turut dipengaruhi angin laut.
☺☺☺☺☺
Overall, saya menilai film ini layak mendapat 8,5/10 poin. Kurangnya cuma sedikit, saya kecewa judul internasionalnya The Elixir, yang kurang mewakili filosofi judul aslinya.
Satu lagi, seolah mengenyampingkan peran riset&development perusahaan Wani Waras sendiri, bagaimana mungkin, sample Jamu langsung di berikan pada pemilik perusahaan. Apakah tanpa melewati tahapan uji coba klinis? Ya, walaupun biasanya yang berusaha bebas dari animal cruelty, tak memakai tester hewan, bukan kah ada prosedur lain?
Bagi kami, Abadi Nan Jaya bagus dan layak tonton. Kalau masih ada yang mencoba cari kekurangannya (terutama dari segi logika dan kerangka berpikir para tokoh), jelas tak ada karya yang sempurna, tapi dukungan terhadap karya Indonesia patut digaungkan.
Ohya, kami sangat menantikan jika Abadi Nan Jaya dibuatkan sequelnya, mengingat sejak awal sudah dipersiapkan demikian. Hint : ramuan sample tersebut bukan hanya satu paket yang dikirim ke Dimin melainkan ke mitra bisnisnya Bu Grace (cameo oleh Karina Suwandhi) di Jakarta.







Wah, filmnya menarik juga, jarang-jarang ada film Indo cerita tentang zombie
Tapi kelihatan banget serunya suh.. 🤭