" ".

Review Dongeng Sang Kancil : Animasi Wajib Pendampingan Orangtua

Table of Contents


Setelah nonton Ejen Ali 2, saya dan anak-anak nonton Dongeng Sang Kancil besutan Les' Copaque, Malaysia. Rumah produksi kartun Upin dan Ipin yang tayang di televisi swasta nyaris sepanjang hari Hoahaha.

Dongeng Sang Kancil merupakan bagian dari Serial Kartun Pada Zaman Dahulu, yang juga tayang di televisi lokal. Bedanya,  di serial animasinya terasa lebih sederhana dan tokoh utamanya adalah Abang dan Adik, Aris dan Ara yang mendengarkan petuah dari Kakek mereka, Aki, mengenai dunia hewan dengan muatan moral. Para hewan bisa bergerak dan berbicara dengan tokoh utama si Kancil, Arnab (Kelinci), Tupai, Kerbau, Gajah, Harimau, Ular, Monyet dan lain-lain.

Versi layar lebar masih menampilkan tokoh hewan tersebut (dengan beberapa modifikasi), kecuali si Kerbau dan Monyet yang porsinya jauh berkurang serta penambahan para tokoh baru.

Judul : Dongeng Sang Kancil

Sutradara: Ahmad Razuri Roseli, Nik Ahmad dan Rasyidi Nik Othman
Penulis Naskah : Hjh. Ainon Ariff, Nur Naquyah dan Burhanuddin
Pengisi Suara : Nini Razali, Dinda Dania, Amir Masdi, dll
Genre : Animasi, Petualangan, Musikal
Durasi : 99 menit
Tayang : 26 Desember 2024
Rating Usia : PG-13
OTT : Netflix, LokTv

Sinopsis 

Di suatu malam yang kelam, Sang Kancil (Nini Razali) muda berjuang menghindari pemangsa. Ibunya mengorbankan dirinya agar anaknya bisa menyelamatkan diri. Sang Kancil muda terlempar dari tebing tinggi ke hutan tropis di bawahnya.

Tahun demi tahun berlalu, Ia sekarang dikenal karena kecerdikannya. Meski para pemangsa masih mencoba menangkapnya, Ia mampu mengatasi semuanya.

Sahabat sekaligus mentornya si Tupai (Terbang)
 

Ia pun menjadi 'tokoh' yang dicari warga hutan ketika timbul masalah. Misalnya saat Gajah Belukar (Fadzrian Ildzan), pemimpin kawanan gajah hendak menguasai sungai dan melarang hewan yang lain minum di alirannya, kancil memutuskan akan dilakukan duel sebagai penentu. Gajah yang terkenal kuat merasa sombong tapi Kancil mengutus Ratu Semut (Nur Shazlin Kamarudin). Tubuhnya yang kecil membuatnya mudah menyelusup ke dalam belalai Gajah Belukar,  yang langsung menyerah setelah kesakitan karena digigiti.

Kancil sendiri masih punya misi pribadi. Ia ingin membalaskan dendam ibunya kepada sosok Bayang Kelam yang misterius. Ia menyusun rencana dengan dibantu oleh Gagak, yang menjanjikan bantuan Helang Perkasa untuk membawa Kancil ke tebing yang ditujunya.

Mengapa Tupai menasehatinya untuk mengurungkan niatnya? Berhasilkah Kancil menggapai tujuannya?

Review

Spoiler Alert

Saya akui, sedikit banyak saya kecolongan. Kali ini saya langsung mengajak anak-anak nonton tanpa riset yang cukup (cuma baca sinopsisnya agar menghindari spoiler). Pikir saya, 'Ah, paling mendekati serialnya atau minimal adegan aksinya setara Upin Ipin deh.' Eh, ternyata, baru adegan pembuka sudah 'gelap' banget. 

Setelah nonton, saya merasa serba bingung. Mau mereview pun saya agak kesulitan mencari sudut pandang (karena setiap membuat review pun saya memang tak punya pakem, tergantung hal yang paling dominan yang saya rasakan). Kali ini entah kenapa, semua terasa kontradiktif, jadi mari saya coba jabarkan:

1. Cara Bertutur

Dongeng Sang Kancil menggunakan formulasi yang sama dengan film Upin dan Ipin  : Keris Siamang Tunggal. Tak hanya menampilkan cerita yang koheren, para binatang juga bernyanyi sebagai bagian dari menyampaikan narasi cerita. Bisa dibilang ini adalah film musikal. 

Para pengisi suaranya ternyata cukup mampu bernyanyi dengan baik. Pantas saja, Amir Masdi, pengisi suara Harimau Kumbang ternyata mengawali karirnya sebagai juara festival nyanyi di televisi.

Namun cara bertutur yang familiar ini sesungguhnya sekaligus membuat bosan. Plot terasa repetitif dan bagi yang pernah nonton serialnya serasa hanya mengulangi kisah yang sama.

Kancil menghadapi lawan regulernya yaitu Ular Sawa dan Harimau. Adegannya serupa dengan serial dengan sentuhan efek berbeda. Bahkan si Harimau sampai terhantam balok kayu dengan gerakan nyaris identik sebanyak dua kali. (Yang anehnya, setelah hantaman pertama, Ia langsung kembali, sedangkan yang kedua Ia tak balik juga hingga pertempuran akbar di hutan yang mana kehadirannya justru dibutuhkan sebagai penyeimbang kekuatan--lebih lanjut akan saya bahas dibawah.

Kisah Kancil yang hendak menyebrangi sungai penuh dengan Buaya kemudian memperdaya Raja Buaya dan gerombolannya persis sama dengan salah satu episode lawas Pada Zaman Dahulu. Sementara pertarungan antara Gajah Perkasa tadi dengan Ratu Semut bak membaca kisah dari zaman Nabi Sulaiman, AS. Hal ini masih diulangi lagi dengan Kancil VS Helang Perkasa sebelum pada akhirnya menghadapi musuh besarnya si Bayang Hitam yang misterius.

2. Animasi Hibrida 2D dan 3D

Animasi serialnya yang full 2D berbeda dengan film ini yang menggabungkan teknik 2D dan 3D, 2.5D.

Secara teknis, penggunaan animasi 3D untuk karakternya cukup solid, mengingatkan kita pada gaya khas Les' Copaque

Namun, ketika elemen 2D yang lebih stylized masuk sebagai background atau special effect (terutama di adegan aksi), di satu sisi, ini adalah pendekatan yang segar dan unik. Pembagian menjadi beberapa panel seolah sedang membaca komik. Berhasil memberikan estetika visual yang tidak mainstream, semacam komik bertema noir yang tiba-tiba hidup. Pendekatan ini juga membantu, seperti yang diklaim Les' Copaque, mengurangi biaya dan waktu produksi. 

Di sisi lain, bagi mata kita penonton yang terbiasa dengan konsistensi animasi 3D penuh ala Pixar atau Disney, percampuran ini terkadang terasa tidak konsisten. Ada beberapa momen di mana latar belakang 2D terasa terlalu flat dibandingkan karakter 3D di depannya (ditambah gerakan lambat ala the Matrix), menciptakan semacam paradoks visual yang bisa membuat sebagian penonton sedikit terdistraksi. Apalagi adegan yang acap menggunakan teknik ini adalah dalam pertarungan. Hewan alias tokoh yang kalah nampak diserang dengan ganas lalu terluka dalam gerakan slow-motion menambah rasa ngilu membayangkannya.

3. Penokohan dan Karakter 

Sebagaimana yang sudah saya ulas, selain Harimau yang tak kunjung kembali, sejak awal tokoh Kerbau dihilangkan. Padahal dalam serialnya karakternya yang sedikit lamban dalam berpikir adalah salah satu sumber komedi. Selain itu dalam pertarungan dengan pihak musuh, Kerbau yang berbadan besar --walau agak penakut--sejujurnya akan membawa kekuatan baru.

Karakter yang hadir masih mirip mendekati dengan yang biasa kita lihat. Tupai bijaksana dan jago bertarung, Arnab gampang panik, Buaya sombong dan sebagainya.

Si Kancil sebagai tokoh utama sedikit berbeda. Ia terkadang terlihat sedikit lebih kejam, mungkin karena kita bisa melihat kisah latar belakang dengan ibunya.

Inkosistensi karakter yang paling nampak adalah pada Ratu Semut. Ketika bersedia melawan Gajah, Ia dan para anggota koloni sangat percaya terhadap kemampuan Kancil. Anehnya, ketika rapat besar warga hutan membahas langkah mereka menolong Sang Kancil melawan musuh utamanya, Ratu dengan berapi-api menyerukan itu adalah masalah Kancil sendiri!

Like whaaaatt??

Giliran warga hutan yang bermasalah, semua mencari Kancil untuk membantu menemukan jalan keluar. Kenapa giliran Kancil yang butuh bantuan, malah ada yang kontra?

4. Pesan Moral yang Ingin di Sampaikan

Selaras dengan karakter, banyak pesan moral yang baik yang ingin disampaikan oleh Dongeng Sang Kancil. Diantaranya tentang keberanian, musyawarah, kerjasama, kekompakan dan kepahlawanan.

Sayang, nuansa balas dendam terlalu pekat, sampai tak tersisa ruang untuk pemberian maaf. Hingga akhir Harimau Kumbang tak merasa bersalah karena sesuai kodrat alamiah, Ia adalah predator dan Ibu Sang Kancil adalah makanannya. Namun sikap sombong dan pongahnya yang mengeksplorasi hutan hingga sumber daya habis seharusnya diberikan kesempatan untuk intropeksi.

Kancil pun dielu-elukan setelah berhasil memimpin warga hutan melawan tokoh antagonis tadi dan membalaskan dendam ibunya. Sesuatu yang secara harfiah memang diteriakkannya kala mendorong sang Harimau Kumbang dari tebing sungai. Ini memberi pesan yang sedikit aneh untuk anak-anak.

5. Rating

Di aplikasi merah ratingnya adalah PG-13. Dibutuhkan kebijakan orang tua karena menurut saya tampilannya sangat gore. Adegan pembuka, saat Sang Kancil dan Ibunya dikejar Harimau Kumbang yang seharusnya sudah disertai peringatan graphic violent. Belum lagi final battle yang berdarah-darah, ibarat kalau masuk di genre seharusnya ini adalah slasher yang lazimnya dipasarkan dengan rating 17+ bahkan 21+ Apakah karena versi animasi jadi tetap PG-12 atau PG-13? 

Ditambah pula tentang pesan balas dendam yang kuat tadi, benar-benar dibutuhkan pendampingan orang tua saat menyaksikan film ini.

#NontonBarengAnakZR

POV Abang Z

Awalnya Abang kembali mempertanyakan pertanyaan yang pernah diajukannya saat berusia 4-5 tahun, "Bukannya Kancil yang Cerdik ini cerita Indonesia ya, Bu?"

Sebenarnya saya lupa dulu menjawab apa sampai Ia masih tak rela fabel lokal yang sangat populer khususnya bagi kami warga Sumatera (harimau adalah salah satu tokoh sentral dan Kancil Mencuri Ketimun adalah dongeng yang sering diceritakan Opapa), justru diangkat jadi film layar lebar dari negeri Jiran. Jadi kali ini saya hanya tertawa dan mengingatkannya pada episode Si Tanggang VS Maling Kundang dalam kisah Upin Ipin. Abang pun langsung paham-paham sendiri.

Baru adegan pembuka, Abang mulai nampak tak nyaman. Ia sangat sensitif soal kisah kehilangan orangtua, menjadi sedih melihat Kancil kehilangan ibunya di hutan.

Jadilah sepanjang menonton, Ia memasang muka berkerut. Adegan kekerasannya pun beberapa kali membuatnya berjengit.

POV Adik R

Adik R takut!

Ya jelas saja, saya juga bingung nih sama ratingnya. Ini mah gore banget. Balita --apalagi yang penyayang hewan-- kemungkinan besar akan ketakutan dan sedih melihat tokoh yang kurang disukai sekalipun, tiba-tiba diserang dengan Afgan (baca : sadis) di depan mata. 

Beberapa Hal yang Menarik untuk dibahas Bersama Anak :

1. Keseimbangan Ekosistem

Makan dan dimakan adalah hal yang pasti terjadi dalam ekosistem alam. Setiap anak sekolah dasar pastinya sudah mengenal topik ini dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Ada hewan yang berstatus sebagai produsen atau sumber makanan bagi konsumen lain berdasarkan konsep Jaring-jaring atau Piramida Makanan. Saatnya mengulas kembali dan menyikapi dengan bijak inti permasalahan yang dihadapi Kancil dan hewan lain yang menjadi mangsa para Konsumen tingkat diatasnya 

2. Eksplorasi Hutan

Salah satu tokoh antagonis dalam serial Pada Zaman Dahulu  adalah pemburu yang tak pernah diperlihatkan wajahnya. Dalam film ini kita hanya melihat sisa-sisa perburuannya. Misalnya balok kayu yang dipersiapkan sebagai jebakan untuk hewan buas.

Harimau Kumbang pun menghabiskan sumber daya hewan di daerah asalnya. Ini bisa kita kaitkan dengan keserakahan manusia yang menimbulkan bencana alam banjir besar yang terjadi baru-baru ini sebagai akibatnya.

3. Balas Dendam

Bisa dikaitkan dengan ajaran agama masing-masing.

4. Nilai Heroisme dan Pesan Luhur lainnya

Sesungguhnya seperti yang saya ulas banyak pesan moral yang bisa kita pelajari. 

Dalam sudut pandang orangtua yang berusaha mendidik anak, Kancil ini sebenarnya mengabaikan pesan langsung Ibunya dan Tupai, untuk merelakan masa lalu dan berfokus pada keselamatannya dimasa kini dan yang akan datang.

Anti tesis dari nilai baik pun cukup banyak, seperti bahaya keserakahan dan perpecahan kala menghadapi musuh.

5. Bahasa Melayu  

Karena kami tinggal di Kepulauan Riau, satu hal yang bisa digunakan sebagai acuan dengan baik dari film ini adalah penggunaan Bahasa Melayu Malaysia yang bebas dari campuran istilah dari bahasa Inggris. 

☺☺☺☺☺

Melihat reaksi Abang Z dan Adik R, saya setuju dengan beberapa review penonton lain (di Letterbox yang baru saya baca untuk mengkonfirmasi keheranan saya), bahwa film ini tidak cocok untuk anak-anak. Bukannya terhibur, yang ada malah stress. Hoahaha. Kalau pun hendak menonton --sekali lagi-- harap didampingi orang tua.

Tetap saja, review biasanya subjektif ya. Toh Dongeng Sang Kancil berhasil memenangkan the Asia-Pacific Broadcasting Award 2025 for Best Animation Storytelling kategori Negara Malaysia di Singapura Bulan Mei 2025. Ini siapa saja pesaingnya, saya agak kesulitan mencari informasi, tapi bisa jadi Ejen Ali 2 tidak masuk tahun ini melihat dari jadwal perilisannya. 

Kalau dari sudut pandang orang dewasa dan penggemar film slasher atau gore justru ini surprisingly good! 7,5 / 10 poin deh. Saya rekomendasikan juga untuk penggemar film musikal, karena lagu-lagunya menarik untuk disimak dengan koreografi 'tarian' oleh para tokoh dan visual grafis indah.


10 komentar


Comment Author Avatar
12/12/2025 10:05:00 PM Delete
Review yang detil dan lengkap, Kak..Bisa jadi bahan pertimbangan buat ajak anak nonton film ini.
Tapi balik ke rating filmnya yang PG-13, yang berarti "Parents Strongly Cautioned" (Orang Tua Sangat Diperingatkan), menandakan kontennya mungkin tidak pantas untuk anak di bawah 13 tahun dan disarankan bimbingan orang tua, seringkali karena adanya materi sugestif, kekerasan lebih intens, atau bahasa yang tidak cocok untuk penonton muda.
Jadi sesuai, yaaa
Comment Author Avatar
12/13/2025 08:09:00 AM Delete
Iya mbak tapi menurut saya ini malah sejak awal seharusnya masuk rating yg lebih tinggi seperti PG-15 (moderate violence) atau kalau ikut genre slasher / gore malah 17+ atau 21+
Comment Author Avatar
12/12/2025 10:21:00 PM Delete
Padahal kalau mau mendidik, seharusnya ada momen Harimau Kumbang diberi kesempatan introspeksi (atas kesombongan/kesalahan lain) dan si Kancil belajar memaafkan. Adaptasi ini kehilangan ruh cerita anak-anak. make sense sih kalau ratingnya pasti jeblok
Comment Author Avatar
12/13/2025 08:05:00 AM Delete
Rating IMdB 6,7 dari 10 mbak.
Saya juga bingung, mungkin memang awalnya ingin menyiapkan plot twist yang tak terduga apa gebrakan baru nih Les' Copaque
Comment Author Avatar
12/13/2025 03:10:00 AM Delete
Saya belum nonton Dongeng Sang Kancil ini mbak, tapi kalau Pada Jaman Dahulu, beberapa serialnya pernah saya tonton.

Beberapa adegan yang berulang dari serialnya, kalau bagi orang dewasa yang daya ingatnya bagus, emang jadi menganggu, karena sudah tahu endingnya gimana. Tapi bagi anak-anak, melihat kejadian tersebut berulang, tetap saja menyenangkan
Comment Author Avatar
12/13/2025 05:36:00 AM Delete
Wah perlu kehati-hatian saat mengajak anak-anak nonton film ini ya Mbak. Ternyata banyak "terselip" koreksi yang - sependek pengetahuan saya - sering terjadi pada produk digital. Dengan Mbak Annisa menaikkan kata GORE aja saya jadi merinding. Ini salah satu kosa kata yang sewajibnya tidak muncul saat kita selesai menonton film (dengan nuansa) anak-anak.
Comment Author Avatar
12/13/2025 07:58:00 AM Delete
Hmm... Sebenarnya, anak-anak memang perlu diajarkan tentang kehilangan. Tapi, kalau dari cerita kakak, kayaknya kehilangan itu cukup sadis ya buat anak-anak. Padahal ini sejatinya adalah tontonan buat anak.
Comment Author Avatar
12/13/2025 10:31:00 AM Delete
awal membaca saya keki, kok yang bikin Malaysia sih
Kan Indonesia punya banyak talent , jadi harusnya mudah aja bikin seperti ini
Sesudah baca review Mbak Annisa, saya bersyukur karena talent Indonesia bakal bikin yang lebih bagus
Lho :D
Comment Author Avatar
12/13/2025 02:20:00 PM Delete
Wah, terima kasih reviewnya. Baru tahu kalau kancil tuh bahasa Inggrisnya Mousedeer. Kita terkecoh dengan animasi ya Mbak. Dikira aman aja untuk anak-anak, selevel kalau nonton kartun Walt Disney. Ternyata beda...
Ortu harus memfilter terlebih dahulu ya...
Comment Author Avatar
12/13/2025 03:39:00 PM Delete
Sayang sekali ya film animasi anak ini ternyata justru sebenarnya sudah masuk kategori minimal remaja. Mungkin maksudnya mau mengembangkan cerita agar tidak bosan, tapi malah jadi begitu.

Jadinya tanggung. Buat anak-anak, terlalu ngeri. Buat dewasa, terlalu receh dan kurang greget.