" ".

Pengalaman Ikhtiar Vaginal Birth After Caesarian (VBAC)

Table of Contents


Hai Assalamu'alaikum 

Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya berikhtiar Vaginal Birth After Caesarian (VABC). VBAC merupakan metode persalinan pervaginam (melalui jalan lahir) dengan riwayat operasi seksio sesarea / caesar (SC) di kehamilan sebelumnya.

Sebagai kilas balik, saya mengandung anak kedua dengan jarak cukup jauh dengan anak pertama, sekitar 7 tahun. Abang Z lahir secara Caesar karena meski sudah lewat lima hari dari HPL, belum ada pembukaan bahkan di hari yang saya niatkan hanya untuk check-up ternyata air ketuban saya sudah rembes sejak Subuh sehingga harus dilakukan tindakan.

Melahirkan secara SC pun di masyarakat awam masih banyak yang memandang negatif. Misalnya ada sindiran halus berupa tak pernah merasakan sakitnya melahirkan secara normal. Padahal semua ibu ingin yang terbaik bagi keselamatan dan kesehatan bayinya dan SC adalah opsi terbaik yang bisa ditempuh. 

Oleh karena itu banyak para ibu yang berupaya untuk tetap melahirkan normal meski persalinan sebelumnya harus di SC. Saya sendiri cukup optimis bahwa di persalinan kedua saya bisa melakukan VBAC. 

Obgyn saya pun bersedia berbagi pengetahuan mengenai VBAC ini dan sayang rasanya selama ini hanya mengendap di draft blog

Latar Belakang Sejarah 

Sejak tahun 1950 hingga abad ke-21 angka persalinan dengan metode seksio caesarea / bedah casear (SC) memang meningkat hingga 30% dengan anggapan bahwa seksio sesarea memang metode yang dapat menghasilkan outcome baik pada ibu maupun janin.

Sayangnya, dahulu ada pameo di tengah dokter dan masyarakat bahwa sekali pernah melahirkan secara caesar seterusnya akan caesar.

Anggapan tersebut saat ini sudah mulai berubah seiring dengan kemajuan teknologi dan penelitian dibidang kesehatan khususnya kedokteran kandungan.

Sehingga kini kita dapat mengenal suatu metode persalinan dimana ibu bisa melahirkan secara normal dengan riwayat operasi caesar sebelumnya. Saat ini memang sedang cukup populer ditandai dengan meningkatnya angkat VBAC beberapa tahun terakhir.

VBAC memiliki angka keberhasilan antara 70-80% bila memang ibu layak untuk bersalin secara normal. 

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum berikhtiar untuk melakukan kelahiran VBAC dari Dokter Spesialis Kandungan saya :

1. Usia Ibu Ideal

Secara garis besar semua persalinan (normal/sesar/VBAC) amannya dilakukan pada usia 21-35 tahun. Artinya di luar usia tersebut kehamilan dan proses persalinannya akan memiliki risiko tertentu dan sebaiknya didiskusikan dengan dokter

2. Jarak yang ideal antara kehamilan yang diharapkan dapat dilakukan VABC dengan kehamilan sebelumnya yang di caesar minimal 18 bulan. 

Tujuannya ialah untuk meminimalisasi resiko yang mungkin akan terjadi.

Secara alamiah tubuh akan mengalami proses nifas selama kurang lebih 40 hari dan di situlah proses pemulihan pasca persalinan terjadi. Bila tidak memiliki riwayat medis tertentu tubuh akan siap hamil kembali setelah memasuki masa suburnya.

Artinya, bila tidak sedang subur atau kesuburannya belum kembali, proses kehamilan kemungkinan akan tertunda

Rentang 18 bulan itu adalah hasil rata-rata berdasarkan penelitian saja untuk waktu yang optimal baik sesar maupun tidak sesar

3. Calon ibu hendaknya memiliki Indek massa tubuh (IMT/BMI) yang ideal.

IMT ideal antara 18,5 - 24,9 kg/m2 Lagi-lagi tujuannya untuk  menurunkan risiko outcome persalinan yang kurang baik dan meningkatkan keberhasilan kehamilan serta proses persalinan.

4. Mulai mengonsumsi suplementasi asam folat ditambah dengan pemberian vitamin D sangat penting sebelum memutuskan untuk hamil

Dilanjutkan dengan Ibu hendaknya menjaga keseimbangan nutrisi yang baik selama hamil. Tetap konsumsi suplementasi sesuai anjuran dokter atau bidan dan tenaga kesehatan. Hindari zat zat yang dapat membahayakan ibu maupun janinnya seperti alkohol, nikotin, dan lain sebagainya.

5. Berkonsultasi dengan dokter spesialis sebelum mempersiapkan kehamilan terutama yang memiliki riwayat medis tertentu

Penting bagi kita semua untuk mengetahui kondisi medis yang ada pada baik ibu hamil maupun di keluarga, seperti darah tinggi, penyakit kencing manis, auto imun, dan lain sebagainya.  

Metode persalinan sebaiknya mulai didiskusikan sejak awal, pertengahan, hingga akhir kehamilan untuk melihat perkembangan kehamilannya.

Bila tidak ada kontraindikasi untuk VBAC pada akhir kehamilan, maka metode ini dapat dipertimbangkan untuk dilaksanakan ketika persalinan tiba. 

6. Baru Melakukan SC Satu Kali

Bila ada pasien dgn riwayat operasi sesar 2x atau lebih, maka risiko robekan pada bekas operasi sesar akan meningkat menjadi 1% artinya dari 100 orang yg mencoba VBAC (sudah SC 2x) ada 1 yg berpotensi kejadian robekan pd bekas operasinya, secara umum di kedokteran angka 1% sudah dikategorikan berisiko tinggi. Oleh karena itu pada riwayat operasi SC 2x atau lebih tidak dianjurkan utk VBAC.

7. Jenis Sayatan SC sebelumnya

Posisi sayatan akan sangat mempengaruhi apakah ibu dapat dikatakan layak atau tidak untuk VBAC. Sayatan melintang rendah (low transverse incision) dianggap paling ideal dan aman untuk melakukan VBAC.

Syarat VBAC

1. Tidak ada malpresentasi 

Posisi janin pada pemeriksaan terakhir didapatkan posisi belakang kepala (kepala janin di bawah). Kalau posisinya sungsang atau melintang, maka dokter akan menyarankan SC kembali.

2. Bersalin di fasilitas kesehatan yang lengkap

Sebaiknya proses persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap untuk memonitor kondisi ibu maupun janin. Bila ditemukan tanda kegawatan pada salah satunya kami akan menyarankan untuk tidak melanjutkan metode VBAC

3. Tidak Pernah Melakukan Operasi Pada Rahim selain SC

Kalau operasi besar lain pada wilayah abdomen tetap perlu diinformasikan juga agar menjadi catatan  untuk menentukan metode persalinan ke depannya.

4. Janin Dengan Taksiran Berat Lahir di Bawah 4000gr

Bayi berukuran besar akan semakin sulit dilahirkan pervaginam. Bila ada kecurigaan janin berukuran besar dan/atau ada kecurigaan ibu memiliki panggul sempit maka tidak dianjurkan memilih VBAC sebagai metode persalinannya.

5. Letak Plasenta (Ari-ari) Bayi Normal

Hendaklah dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) untuk memastikan.

6. Proses Kehamilan dan Kelahiran sealami Mungkin

Alami tanpa menunjukkan tanda kegawatan sepanjang kehamilan dan proses persalinan.

Tanda Kegawatan Pada Proses VBAC 

Tanda emergensi bisa ditemukan baik ibu maupun janinnya.

Pada ibunya tanda emergensinya seperti darah tinggi, ketuban pecah, serta urin yg mengeluarkan darah merupakan tanda bahaya atau ancaman robekan pada bekas operasinya sehingga proses VBAC nya dihentikan

Pada janinnya bila detak jantung bayi ditemukan tidak normal oleh dokter maka proses VBAC sebaiknya tidak diteruskan

Keuntungan VBAC

1. Proses Pemulihan Lebih Cepat 

Dibandingkan SC, sudah menjadi rahasia umum jika metode persalinan norma lebih cepat pulih. Namun berdasarkan pengalaman di kelahiran pertama, semua tergantung kondisi masing-masing ibu dan faktor penunjang lain misalnya support system yang bisa menjaga kestabilan kesehatan ibu tak hanya secara fisik, terutama adalah mental 

2. Berpeluang lebih besar untuk kelahiran pervaginam pada persalinan berikutnya

Bila masih berencana menambah momongan, peluang melahirkan berikutnya juga dapat dilakukan secara normal menjadi lebih tinggi dibandingkan bila SC lagi.

3. Resiko kematian Ibu yang lebih rendah

Memang benar operasi sesar lebih aman dibandingkan dengan VBAC secara keseluruhan akan tetapi risiko perdarahan dan kematian ibu menurut penelitian nya lebih besar sedikit. 

Resiko VBAC

VBAC memiliki semua risiko yang sama pada proses persalinan normal seperti perdarahan, infeksi, cedera otot dan jaringan pada jalan lahir; kesulitan bernafas pada bayi baru lahir, dan kesulitan BAK setelah melahirkan (retensio urin).

Dengan proses persalinan yang baik serta kondisi Ibu yang optimal semua risiko tersebut dapat diminimalisasi.

Serta resiko robekan rahim (uterine rupture) pada bekas operasi SC

Pecahnya rahim yang dikenal di masyarakat sebenarnya adalah robekan pada bekas operasi sesar sebelumnya. Sudah saya ulas, pada riwayat operasi SC satu kali, maka risikonya 0.5%.

💜💜💜

Intinya, jangan sungkan untuk bertanya kepada dokter maupun bidan selama kunjungan pemeriksaan kehamilan supaya kita semua mendapatkan pemahaman yang sama untuk proses ke depannya.

Idealnya, komunikasikan juga keinginan ibu untuk menjalani VBAC kepada anggota keluarga. Sehingga tidak akan ada sesalan dikemudian hari.

Meskipun proses VBAC saya sendiri gagal dan adik R tetap dilahirkan secara SC lagi (karena di hari HPL denyut jantungnya lemah), bagi saya pengalaman mencoba ikhtiar VBAC tetap seru dan menyenangkan. 


Yang saya lakukan untuk menunjang prosesnya antara lain:

  • Rutin berolahraga termasuk senam hamil, terutama agar posisi janin berada di posisi ideal menjelang HPL.
  • Mengonsumsi makanan sehat agar berat badan janin ideal
  • Banyak berdoa meminta kelancaran proses kelahiran
  • Mencari infomasi mengenai VBAC dan rutin kontrol ke dokter untuk mengetahui perkembangannya 
  • Berpikir positif dan mengafirmasi bayi yang dikandung agar dapat bersama-sama mewujudkan kelahiran normal.


Posting Komentar