Review Bloody Flower : Kiasan Kebaikan Bagi Seluruh Umat Manusia
Bloody Flower adalah drakor yang tak sengaja di tonton karena di rentang waktu belakangan agak jarang yang mengusung genre medical - legal - thriller. Drakor bergenre sejenis terakhir yang saya suka banget adalah Hunter With Scalpel (2025). Dan ternyata Drakor ini pun tak mengecewakan. Langsung mengguncang nurani : sebagai seorang ibu yang anaknya pernah sakit cukup parah, apakah saya berempati pada WooGyeom?
Judul : Bloody Flower
Sinopsis
Jaksa Cha YiYeon (Geum SaeRok) mengikuti polisi melakukan penggerebekan lokasi yang diduga kuat tempat persembunyian seorang pembunuh. Meskipun para polisi, terutama detektif Gong MinCheol (Go KyuPil) memperingatkan akan bahanya, ia ngotot tetap masuk dan menemui langsung tersangka. Lebih mengejutkan, pemuda bernama Lee WooGyeom (Ryeo Un) itu mengenali Jaksa Cha. Ia tak melakukan perlawanan, malah berpesan, 'pasien' yang terbaring di meja operasinya tidak boleh diserahkan pada dokter atau tenaga medis lain. Menurutnya jika metodenya bercampur dengan teknik medis normal maka akibatnya akan fatal.
WooGyeom diinterogasi dengan intensif, sikapnya yang santai mengesalkan Jaksa Cha. Ia berkeras tak bersalah, bahwa apa yang dilakukannya adalah demi kepentingan umat manusia, ia sedang meneliti obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang belum ada obatnya hingga kini.
Di sisi lain, ada seorang mantan jaksa yang beralih menjadi pengacara, Park HanJoon (Sung DongIl). Ia sangat ahli membela kliennya, bahkan dalam kasus yang ditanganinya, meski sudah ada bukti sekonkret rekaman penganiyaan pun, ia bisa menemukan celah dan membebaskan tersangka. Ia menerima bayaran mahal, tapi itupun belum cukup untuk mendanai pengobatan terkini untuk penyakit putrinya, Park MinSeo (Yoon ChaeNa). Gadis kecil itu menderita penyakit langka Batten diseases yang memiliki gejala mirip amnesia dan harapan hidupnya tidak akan lama lagi.
Ditengah kebingungannya yang ternyata sempat ditipu seseorang yang mengaku bisa mengobati penyakit tersebut, ia mendapat kabar, telah terjadi pembunuhan terhadap orang yang ditengarai bisa mengobati putrinya itu. Pelakunya adalah WooGyeom yang sedang ditahan.
Ia minta bantuan seorang rekan untuk mengatur pertemuan. WooGyeom mengetahui sepak terjang HanJoon sebagai pengacara. Ia menawarkan kesepakatan, HanJoon harus jadi pembelanya. Sebagai imbal jasa, ia menjanjikan uang muka 50% dari uang sang pengacara yang ditipu. Sisanya, setelah ia berhasil dibebaskan. Jadilah HanJoon membelanya meski mendapat pertentangan dari istrinya, dokter Kim JaeHee (Lee NaRa).
Jaksa Cha yang mengetahui informasi siapa pengacara yang ditunjuk memaparkan segenap argumen pada atasannya agar Ia dijadikan jaksa penuntut dalam kasus ini. HanJoon dulu adalah mentornya. Selain itu, beliau punya reputasi yang baik, sehingga jika jaksa yang ditunjuk kurang kompeten maka WooGyeom bisa bebas dari semua tuduhan. Jaksa Cha menjanjikan akan menuntut hukuman mati. Ketua kejaksaan wilayah akhirnya luluh (terutama karena Jaksa Cha meyakinkannya akan dapat kredit juga sebagai mentor), lalu memberikan kesempatan pada Jaksa Cha.
Persidangan pun berlangsung, mampukah pengacara Park mencari celah yang meringankan hukuman WooGyeom? Apakah klaim WooGyeom yang mengaku bisa mengobati segala penyakit benar adanya?
Review
1. Sinematografi 'Jujur'
Semua terlihat jujur dalam artian harfiah. Di episode awal saya bahkan kaget melihat pori-pori para pemerannya. Sesuatu yang jarang mengingat kekuatan makeup KorSel plus filter kamera yang biasanya membuat segala sesuatu jadi glowing maksimal.
Pemilihan color grading yang dekat dengan aslinya namun agak suram membuat drakor ini terasa lebih realistis. Saran saya, naikan kecerahan device ketika menyaksikan drama ini karena memang ada beberapa adegan yang terasa sangat gelap.
2. Persidangan Mengigit
Tahapan persidangan dijabarkan dengan mendebarkan. Sejujurnya, meski penggemar berat legal-courtroom drama, kadang saya suka nge-skip juga kalau adegan persidangan membosankan. Tapi karena kali ini dilema moral yang dipertaruhkan tinggi, nontonnya seru banget.
Mau tak mau, paham atau tidak, drama ini mengajak kita menelaah dari sudut pandang hukum. Alih-alih menuliskannya secara panjang lebar seperti saat saya mereview the Art of Sarah, saya coba singkat saja :
Jaksa Cha maupun Pengacara Park masing-masing mengajukan dakwaan dan pembelaan yang kuat. WooGyeom didakwa hukuman mati sebagai konsekuensi melakukan 17 pembunuhan ---yang terbukti dipersidangan bahkan diakuinya sendiri-- namun pengacaranya berkeras membela dari sudut pandang kebermanfaatan yang lebih besar (greater good) bagi umat manusia. Logikanya, jika ia terbukti melakukan pembunuhan tersebut sebagai bagian eksperimen untuk menciptakan 'obat super' yang mampu mengobati segala jenis penyakit, secara pidana, WooGyeom adalah pelaku pembunuhan namun karena Necessity Defense (pembelaan karena kebutuhan mendesak), apakah hukum bisa membenarkan kejahatan jika hasilnya adalah kebaikan bagi seluruh umat manusia?
Secara logika hukum jawabannya tetap tidak. Sejalan dengan dakwaan Jaksa Cha, dalam tahap pertama, WooGyeom tetap diputus bersalah dan hukuman mati dijatuhkan. Meski dari apa yang saya baca, secara kenegaraan KorSel sudah puluhan tahun tidak pernah dilakukan eksekusi.
Tahapan banding, ia dan Pengacara Park melakukan manuver radikal agar bisa dilakukan ujicoba medis untuk membuktikan bahwa ia benar-benar bisa menyembuhkan setiap penyakit dengan memanfaatkan darahnya sendiri--yang ditolak pada persidangan pertama. Dari keberhasilan hasil ujicoba tersebut, publik menjadi gempar dan membela WooGyeom. Mereka berharap bisa mendapat manfaat dari obat yang ditemukannya.
3. Merefleksikan Realita Sosial Kemasyarakatan
Jaksa Cha adalah gambaran penegak hukum yang berdedikasi. Ia bahkan menghindar terlihat bersama ayahnya ---yang sejauh ini menurut dugaan saya adalah tokoh utama dibalik lembaga penelitian yang pernah menerima proposal penelitian WooGyeom sebelum kecelakaan.
Ia berusaha menegakan hukum seadil mungkin. Untuk itu ia rela menentang keputusan atasannya bahkan sampai ke anggota dewan yang tadinya dijadikan partner bekerjasama demi menaikan isu hukuman mati. Ia juga berusaha mengembalikan kompas moral mantan mentornya, Pengacara Park agar melepaskan kasus ini. Sayang, ucapannya tak dihiraukan.
WooGyeom adalah seorang oportunis. Ia menolak menerima kenyataan bahwa setelah kecelakaan dan koma selama tiga tahun, ia akan merasakan sakit yang berkepanjangan. Ia mulai bereksperimen dengan dirinya sendiri hingga pada akhirnya ia menemukan obat yang diklaimnya bisa menyembuhkan penyakit apapun, dari penyakit degeneratif sampai cacat Kornea bawaan lahir. Untuk itulah ia mulai melakukan percobaan pada para korbannya. Ia butuh validasi pada manusia. Padahal sebagai mantan mahasiswa kedokteran, ia pun tahu betul sejauh mana batas penelitian boleh dilakukan terhadap manusia. Drama ini memotret realitas kelam sejarah sains: bahwa beberapa kemajuan medis terbesar di masa lalu sayangnya lahir dari eksperimen yang kejam. Jadi, apakah di masa kini, kita bisa menoleransi 'kekejaman' itu demi mendapatkan lompatan sains?
Yang paling dekat dan kita merasa relevan adalah Pengacara Park. Ia adalah kita pada umumnya. Jika kita mengetahui ada sesuatu atau seseorang yang bisa menyembuhkan penyakit orang yang kita sayangi, seberapa jauh kita akan berusaha? Apakah ia melakukan pelanggaran etika selaku pengacara karena punya konflik kepentingan dengan WooGyeom? Tujuannya adalah mencari kesembuhan untuk putrinya yang kondisinya semakin mendesak seiring berjalannya waktu.
Kritik sosial terbesar lainnya adalah tentang korporasi dibidang medis. Sudah jadi rahasia umum perusahaan pemegang paten suatu obat akan menjadi super kaya. Oleh karena itu kehadiran Chaeum yang menjadi lembaga yang ditunjuk negara untuk mengawasi putusan banding WooGyeom menjadi cukup mencurigakan. Jaksa Cha yang tak puas pun berusaha mencari tahu secara mandiri (dua orang asisten dan paralegalnya dipindahkan ke bagian lain sebagai hukuman atas kekalahannya di tahapan banding) hubungan masa lalu WooGyeom dengan CEO Chaeum Chae JeongSoo (Kwon SooHyun) dan mantan profesor WooGyeom, Han SangHo (Seung EuiYeol), yang sempat aktif di lembaga penelitian Jinnam sebelum ditemukan tak bernyawa.
4. Alur, Pacing, Akting, Editing, dan Scoring
Akting tiga tokoh utamanya tak perlu diragukan lagi. Ryeo Un berhasil membuat bulu kudung meremang. Bukan karena tampil sadis, justru karena ia terlalu tenang dan santai membicarakan pembunuhan. Geum SaeRok yang to the point bisa mengimbangi Sung DongIl. Pria yang masih dihormatinya dan tetap dipanggilnya Sunbae itu pun selalu membuat kita ikut potek hatinya kala melihatnya menahan tangis dihadapan istri dan putri semata wayang. Gadis itu lazim disebut Anak mahal karena ditilik dari penampilan, mereka berdua sudah berusia sangat matang saat kehadirannya dan kecil kemungkinan memberinya adik lagi.
Saat saya menuliskan review ini, baru enam episode yang ditayangkan. Semuanya memiliki ritme yang pas. Diiringi scoring minimalis tapi tetap menjaga ketegangan. Editingnya juga lumayan on point, jelas meski penceritaan maju mundur dalam garis waktu.
Alurnya menarik, diawal seolah kita diajak menghadapi persidangan WooGyeom, nyatanya lebih dari sekedar itu. Kita tak perlu mencari tahu siapa 'penjahat' yang melakukan pembunuhan --berantai-- melainkan motif yang menjadi alasannya beserta rahasia serta tangan-tangan lain yang mengendalikan keputusan hingga tingkat tinggi : opini publik dan urusan kenegaraan sampai manusia pada keseluruhan.
❤❤❤❤❤
Minusnya adalah situasi yang kadangkala diperlakukan secara sederhana padahal sangat kompleks. Misalnya, saat WooGyeom akhirnya bisa kabur dari Pusat medis Chaeum, fasilitas isolasi yang disetujui negara dimana Ia akan mengabdikan diri menyembuhkan pasien sebagai syarat terhadap hukuman mati bersyaratnya.
Yang kedua, saya kurang suka styling jaksa Cha apalagi model rambutnya. Kalau pun ia menginginkan model yang praktis, justru model rambut ini agak mengganggu peforma.
Overall, 8 / 10 dari saya. Bloody Flower sangat menarik ditonton penggemar drama dengan jalan cerita yang butuh agak mikir sambil menebak arah kejahatannya. Rekomended juga buat penggemar genre legal-medical thriller yang bagus.









Emg agak berat ceritanya krn cerita tentang persidangan yg ribet dan masalah kasus yg ditangani ckp berat. Tp inti ceritanya jelas sih.
Cerita utamanya ya mirip sbnrnya dgn kita2 smua. Saat kita berusaha mencari sesuatu dgn dalih kebenaran, kita akan dipidanakan krn bertentangan dgn aturan lain. Ini udh sering sih terjadi di Konoha.
Smg para jaksa bs melihat kasus dgn sejelas2nya. Ga melulu soal negatif, tp bs melihat dampak positif ke depan kelak.
Seru banget sih. Aku ngebayangin betapa menjengkelkannya kalau menginterogasi tahanan yang bersalah tapi tetap merasa nggak bersalah dan masih bisa bicara dengan tenang.
Mungkin ini bisa sih jadi watchinglist buat nanti kalau mood buat nonton drakor sudah kembali tumbuh.