" ".

Review Made In Korea : Ambisi Pribadi Berkedok Patriotisme

Table of Contents

Hai Assalamu'alaikum 

Awal memutuskan nonton Made In Korea, saya sengaja tidak baca review bahkan sekedar tahu sinopsis apapun dari drama ini. Tujuannya agar saya menilai untuk lanjut atau tidak langsung pada kisah dan penceritaannya.

Benar, saya fans HyunBin sejak era My Name Is Kim Sam Soon (2005) tapi saya kesal dengan Jung WooSung sejak skandalnya yang menyeruak dua tahunan lalu. Banyak media kredibel yang membongkar bahwa di waktu yang hampir bersamaan, beliau berselingkuh dengan gadis di bawah umur, sementara pacar resminya masih berstatus  istri orang lain bahkan punya seorang anak di luar pernikahan. Bagaimana mungkin seorang aktor Chungmuro yang dalam beberapa wawancara sering dipuji --dan diidolakan karena rumahnya bagus dan masih single di usia setengah abad-- oleh Ju JiHoon --aktor favorit saya lainnya-- bertindak demikian? Gimana kalau Ju JiHoon ngikut? Tapi kayaknya enggak ya.. Secara beliau sendiri pernah merasakan kena cancel culture saat skandalnya merebak. 

Yang bikin saya paling kesal justru tidak ada cancel culture bagi Jung WooSung! Bahkan saat skandal tadi, beliau yang hadir ke sebuah acara penghargaan dibidang perfilman, sempat-sempatnya membuat klarifikasi singkat dan dapat tepukan dukungan dari banyak rekan aktor dan aktris yang hadir (seingat saya yang pasang wajah bete hanya Lee Hyeri).

Makanya saya jadi dilema, inginnya tak nonton apalagi nge-hype karya beliau selanjutnya (mereview di blog termasuk nge-hype kan ya?😭). Tapi demi cinta pada Hyun Bin dan film noir gara-gara dulu sering diajak ayah nonton film koboi era lawas, akhirnya nonton juga.

Judul : Made In Korea 

Judul Lain : 메이드 인 코리아 
Penulis Naskah : Park EunHyo, Park JoonSeok
Sutradara : Hyun Bin, Jung WooSung, Seo EunSoo, Won JiAn, Jung SungIl, dll
Genre : thriller - aksi - politik - misteri - drama  
Tayang : 24 Desember 2025 - 14 Januari 2026
Jumlah Episode : 6
Durasi : 60 menit 
Jaringan : Disney+
Rating usia : 15+

Sinopsis 

Pada tahun 1970, Matsuka Kenji (Hyun Bin) menjadi penumpang penerbangan dari Tokyo ke Fukuoka, Japan Airways 351. Misinya mengantarkan sebuah koper sekaligus mendapatkan penilaian positif dari mitra bisnis Ikeda Kenji, mitra bisnis dari orang yang ingin diajaknya bekerja sama.

Sebelum lepas landas pun Ia sudah merasa gerak-gerik beberapa orang penumpang mencurigakan. Benar saja, ketika baru kembali dari toilet dan kebetulan seorang pramugari menuju kokpit, beberapa orang segera bergerak. Satu orang menodongkan pistol pada pilot, ia mengaku Tentara Revolusioner Liga Komunis. 

Semua penjahat membawa senjata, baik tajam ataupun api. Penumpang lain jadi panik, termasuk ibu dan anak yang duduk disebelahnya. Namun Kenji berjanji mereka akan turun dengan selamat. 

Dari narasi Kenji kita paham mereka adalah tentara yang dilatih di Korea Utara yang membajak maskapai sipil dengan niat meluncurkan perang revolusi. diawasi

Chaos segera terjadi di kabinet pemerintahan Jepang. Karena di era itu belum ada pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, maka tentara revolusi bisa naik ke pesawat bisa naik dengan membawa senjata. Belum pernah terjadi sebelumnya jadi belum ada presenden bagaimana mengatasi pembajakan.

Untunglah Pilot Kapten Kunihiko punya jam terbang lebih dari 10.000 jam. Ia dengan sigap mengatasi turbulensi dan dengan lugas membahas bahwa tanpa penambahan bahan bakar mereka tak akan tiba di Pyongyang, Korea Utara. Ia mengusulkan agar berhenti dan mengisi ulang di bandara Itasuke.

Pers menggila tapi pemerintah hanya memberi jawaban secara diplomatis. Padahal ini hanya strategi dari pilot. 

Kenji berhasil mencegah salah seorang penumpang terbunuh dengan merebut senjata penjahat. Kemudian ia minta berbicara dengan pemimpinnya. Ia memaparkan strategi melepaskan anak-anak dan perempuan. Kemudian setibanya di Pyongyang pesawat dikirim kembali ke Korea. Tujuannya adalah mendapatkan kepercayaan pemerintah dan   simpati publik. 

Pembajak bilang tak ada jaminan KorUt akan menerima mereka begitu saja. Tapi Kenji membuka kopernya, menunjukan sabu-sabu, narkoba yang disukai petinggi di Pyongyang. Nilainya tak kurang dari 90 juta Yen. 

Strateginya berjalan dengan baik. Sampai ketua pembajak curiga siapa dirinya yang sebenarnya. Ia mengaku hanya pebisnis dan narkoba adalah yang paling menguntungkan meski ada resiko yang mengikutinya.

Sang  pebisnis telah memasukan catatan ke dalam kantung anak yang duduk disebelahnya tadi. Ibunya mengirim telegram tanda bahaya dan di RAPCON segera terjadi perubahan kepemimpinan. Sersan Chae JiSeok menerima telepon dari KCIA (Badan Intel Negara) yang dibentuk rezim militer yang meraih kekuasaan. Terinspirasi dari CIA dan antikomunis, meski kenyataannya sering mengabaikan hukum dan lebih tepat disebut sebagai pengawal kepentingan presiden. 

Isi pesan penting itu adalah merebut pesawat tersebut sebelum tiba di Pyongyang saat melintasi kawasan KorSel, bagaimanapun caranya. 

Setibanya di wilayah udara KorSel, dilakukan kontra pembajakan. Jadilah seolah-olah mereka tiba di Korea Utara padahal semua orang berpura-pura sampai mengibarkan bendera KoRUt. 

Mampukah pesawat tiba di Korea Utara? Siapakah Kenji yang disebut Zanichi tapi diam-diam memperkenalkan diri sebagai Baek KiTae wakil ketua KCIA biro Busan itu? Di sisi lain, siapakah Jaksa idealis dengan pola pikir sering dianggap aneh para koleganya, Jang GeonYoung (Jung WooSung)?

Review 

Spoiler Alert

"Kita akan membuatnya disini, tapi kirim semuanya ke Jepang. Ya, Kita akan membawa valuta asing dan kita akan mendorong ekspor. Jika bisnisnya lancar kita akan berperan dalam membangun era baru. Keluarga kita tak akan tertinggal dan kita akan ada di garis depan jika kita ikuti zaman. Itu berarti kita berbakti pada negara!"

"Patriot?"

"Ya!"

Setelah baca sinopsis dan ngecek review dari para rekan yang sudah menonton duluan tapi masih ragu karena  Made In Korea terkesan berat?

Cocok Buat Yang Suka Maraton Drama

Menurut saya drama yang cuma enam episode ini cocok banget buat maraton alias ditonton sekaligus. Dengan durasi sekitar satu jam per episode, tujuannya agar tak lekas lupa dengan para tokohnya dan latar belakang sejarahnya.

Nuansa Vintage-nya keren

Adegan sering beralih dari nuansa hitam putih ke berwarna. Sutradaranya telah berpengalaman  menangani film layar lebar seperti Harbin (2024). Wajar sinematografinya bisa dibilang kelas film layar lebar. Tentunya, sesuai dugaan saya saya mereview Tempest, dengan dukungan Disney+ yang mengucurkan biaya tak sedikit, kualitas produksinya baik.

Vibes tahun 70-annya dapet banget! Mulai dari grading warna yang agak kecokelatan ala film noir, setting dengan pernak-pernik retro yang mendetil, kostum yang dandy tapi klasik --terutama kostum para wanitanya ditambah rambut keriting atau blow ikal  mengembang, duh, serasa melihat foto zaman Ibu saya remaja dulu.

Hyun Bin Bicara Bahasa Jepang itu Cool banget

Dicurigai sebagai Zanichi yaitu orang Jepang keturunan Korea Selatan, Hyun Bin bicara dengan bahasa Jepang dengan fasih di film ini. Entah kenapa Ia terlihat lebih keren dibandingkan biasanya. Tak hanya itu, dualisme perannya sebagai pegawai negeri dengan usaha sampingannya yang menentang moral membuat auranya semakin misterius. 

 

Kita tahu, ia sangat ambisius hingga berusaha menebak-nebak, dimana letak kesetiaan sejatinya? Harta? Tahta? Atau wanita? 

Bisa Sambil Belajar Sejarah

Berlatar Era 1970-an, Made In Korea ini seolah membawa kita selaku penonton kembali ke masa ketika Korea Selatan masih dalam tahap pemulihan pasca Perang Korea dan berada di bawah pemerintahan presiden yang otoriter. Ada pengaturan jam malam, pembatasan potongan rambut pria sampai pelarangan penggunaan rok pendek bagi wanita. Hukumannya tak main-main, mulai dari diciduk aparat sampai eksekusi di tempat. Kita pun diberitahukan alasan dibaliknya.

Bagi penggemar sejarah akan mengapresiasi penggambaran kondisi sosial dan politik yang kelam dan sarat makna pada saat itu. 

Orang lingkar dalam presiden yang punya posisi dan pengaruh penting 

Banyak pula peristiwa Berbasis Kenyataan. Jadi, sebagai penonton yang bukan berasal dari KorSel cukup menarik untuk mencari tahu manakah yang benar-benar nyata atau bumbu fiksinya. Misalnya, cerita ini mengambil inspirasi dari peristiwa sejarah nyata, seperti insiden pembajakan pesawat pada tahun 1969 yang dialihkan ke Korea Utara. (Kalau merasa baru nonton yang serupa, barangkali baru nonton Good News, film yang rilis akhir tahun lalu di aplikasi si merah). Latar belakang sejarah yang kuat ini memberikan kedalaman dan realisme pada alur cerita.

Serial ini juga mengajak kita melihat sisi gelap Badan Intelijen Pusat Korea (KCIA) yang korup. Sebagai lembaga yang tugas utamanya mencegah berkembangnya ideologi komunis, KCIA justru seolah jadi 'tangan kanan presiden' untuk mengamankan posisinya. Situasi ini menciptakan penyalahgunaan kekuasaan sekaligus penuh intrik politik tingkat tinggi.  Menunjukkan bagaimana kekuasaan dan uang terkonsentrasi di tangan segelintir orang, bisa mempengaruhi kesejahteraan rakyat. Masih relevan sekali dengan kenyataan yang terjadi saat ini termasuk di negeri kita sendiri #eh!

Rakyat pun tak ayal berada di posisi lemah. Walaupun tak bersalah bisa kena fitnah sebagai antek komunis dan bukti-bukti yang mendukung narasi tersebut akan dimanipulasi secara cocoklogi oleh KCIA.

Tokoh Wanitanya Menonjol 

Selain Hyun Bin dan Jung WooSung yang memerankan jaksa Jang, kita akan diperkenalkan pada beberapa tokoh kunci lain, misalnya Cheon SeokJun (Jung SungIl) orang kepercayaan presiden yang diperkenalkan pada KiTae oleh atasannya Hwang GukPyeong (Park YongWoo) dan Baek KiHyun (Woo DoHwan) adik KiTae yang juga lulusan terbaik akademi militer.


Para pria tersebut menampilkan akting yang memukau seperti biasanya, cuma, bagi saya yang menarik perhatian adalah para wanitanya :

Gadis Korea yang berkuasa di grup Yakuza 

Choi YuJi (Won JiAn) : Putri angkat dari Klan Ikeda yang menjadi tangan kanannya dalam jaringan narkoba internasional. Misterius dan penuh kalkulasi. Saya baru mau mulai coba nonton drama terbarunya Won JiAn, Surely Tomorrow yang baru saja tamat nih. Di sini ia tampil dengan gaya maskulin yang outstanding.

Menyamar jadi pasutri. Ini YeJin yang memilih Jaksa Jang jadi pasangannya karena menurutnya beliau adalah pria yang paling lumayan Hoahaha.

Oh YeJin (Seo EunSoo) : Pendatang baru di tim kejaksaan. Penyelidik yang tangguh karena ayahnya seorang pelatih Taekwondo. Berminat menjadi jaksa dan sangat pandai menyamar. Berhasil berteman dengan Baek SoYeong (adik KiTae) untuk mengumpulkan informasi. Saya suka sekali penampilan Seo EunSoo, ternyata selain di Chief Detective 1958 (2023), ia kembali mengambil peran di drama bertema jadul.

Di sisi lain ada GeumJi yang mencoba menggoda KiTae sampai membelikannya... Celana! haoahah

Baek GeumJi (Seo YeoJeong) : Seorang wanita penghibur kelas atas yang sempat diusir ke Amerika Serikat. Punya seorang anak yang ayahnya dicurigai adalah salah satu petinggi politik. Menunjukkan ketertarikan dengan KiTae dan mengambil peran dalam pusaran adu mekanik pria-pria disekelilingnya.

Baek SoYeong (Cha Hee) : Adik KiTae yang meski awalnya menolak ide abangnya terlibat dalam bisnis narkoba, akhirnya malah menjadi orang yang menjalankannya. Menjalin hubungan dengan seseorang yang berasal dari dunia hitam sekaligus berperan penting dalam langkah baik pihak KiTae maupun Jaksa Jang.

Jung HyeEun (Lee JuYeon) : adik Jaksa Jang yang dirawatnya sejak bayi akibat tragedi dalam keluarga mereka. Saat bekerja di pabrik tekstil sempat mengikuti kursus bermain gitar. Siapa sangka sesuatu yang nampak polos justru menjadi awal jalan masalah bagi posisi abangnya di konfliknya dengan KCIA.

Alur Lambat Tapi Memikat

Fokus lain adalah permainan tarik ulur dan saling menjatuhkan antara Baek Kitae dan Jaksa Jang sangat menarik. Keduanya tak ada yang mau mengalah bahkan dalam hal sesederhana menentukan lokasi makan. Jaksa Jang yang tak mau mendekat ke kantor KCIA malah mengundang Kitae makan di depan kantor Kejaksaan. 

Keduanya nampak berbeda di permukaan, mengusung nilai patriotisme yang berbeda, namun sesungguhnya keduanya sama-sama didorong oleh ambisi pribadi dengan alasan yang sangat personal. 

Alurnya maju mundur dan slow-burn. Mungkin terasa lambat bagi sebagian penggemar  genre aksi cepat, tapi mendengarkan sudut pandang KiTae maupun Jaksa Jang sebagai narator terasa memikat dan memuaskan rasa keingitahuan.

Adegan aksinya pun cukup berani. KiTae dan Jaksa Jang cukup handal dalam hal bertarung jarak dekat, menggunakan alat spionase sampai kontra spionase.

Mempertanyakan Moralitas

Kita yang nonton jadi ikut menimbang-nimbang, seandainya berada di posisi salah satu tokohnya, apakah kita akan mengambil langkah serupa? Latar belakang hidup masing-masingnya, membuat kita pun sulit mengotakkan mereka sebagai seseorang yang hitam atau putih.

Beberapa hal yang bisa dibilang disepakati para pihak adalah ikatan keluarga serta dampak negatif narkoba itu nyata adanya! Merusak moral bahkan sampai tatanan kenegaraan.

Sudah Dipastikan Ada Musim Kedua

Sejak belum ditayangkan Made In Korea sudah mendapatkan lampu hijau untuk musim kedua. Boleh juga nih gebrakan D+ untuk mengusung konten asal KorSel. Biasanya penonton yang terbiasa dengan serial barat bisa lebih tertarik karena memang suka kontinuitas. 

Masih banyak yang bisa dieksplorasi, jadi tak sabar menantikan musim keduanya yang diberitakan baru akan tayang di paruh kedua tahun ini.

☺☺☺☺☺

Overall, Made In Korea musim pertama layak mengantongi 8 / 10 poin. Cocok ditonton buat penggemar drama yang perlu berpikir keras sekaligus intrik politik yang lambat tapi mencekam. Tapi tenang saja, penonton wanita yang tak menyukai kedua hal tersebut pun tetap dapat menikmati nuansa jadulnya, kostum di zaman tersebut dan ketampanan Hyun Bin (atau Woo DoHwan atau Jung SungIl? Atau semuanya sekaligus! Hoahaha) yang seringnya hadir dalam balutan jas resmi.

Kurangnya bagi saya, dalam draKor ini hampir semua orang merokok! Serta tentu saja penggunaan obat terlarang yang dijadikan objek utama dan karena saya nontonnya tak maraton, kadang suka agak nge-lag, berpikir, ini siapa lagi dan apa jabatannya Hoahaha. Maklum saya tuh aslinya susah membedakan nama dan wajah seseorang. 


Tulisan ini saya jadikan bagian dari One Day One Blogpost yang baru akan saya mulai hari ini dan InsyaAllah selama 30 hari ke depan. Tujuannya untuk menghabiskan draft tulisan di blog ini serta agar saya lebih semangat menulis postingan baru. #ODOBp30days

Posting Komentar