Tempest : 7 Alasan Drakor Serasa Serial Amrik
Hai Assalamu'alaikum
Tadinya saya nyaris skip nonton Tempest karena tayang di D+ Hotstar yang masih saya boikot.
Kalau sebelumnya saat saya nonton Butterfly, serial produksi Amerika Serikat tapi rasanya Drakor banget, Tempest sebaliknya : sebagian besar pemeran dan tim produksi asli Korea Selatan (tim dari film Parasite) rasanya serial Amerika Serikat Banget.
Am I legit to said that? Well actually, setelah dihitung-hitung dalam total jumlah jam nonton (bukan judul serial ya) saya menghabiskan lebih banyak waktu buat nonton serial asal Amerika Serikat. Ya, satu judul serial Amerika ada yang sampai belasan tahun tayang dengan episode bervariasi bahkan ada yang sampai 22 per musim dan dalam setahun saya bisa ngikutin beberapa judul serial sekaligus sejak masih SD, lebih dari tiga puluh tahunan lalu Hoahaha. Sementara mengikuti Drakor 'baru' dari 2003-2004an gitulah sejak Winter Sonata.
Sinopsis Tempest
Review
7 Alasan Tempest Serasa Serial Amrik :
Full Spoiler Alert
1. Pemeran A Lister
Ok, sepemahaman saya, tahun 80-90'an serial Amerika rata-rata memakai talenta yang baru kemudian seiring berjalannya waktu dan kepopuleran nama mereka jadi ikut terkenal. Ada juga yang langsung memasang satu atau dua nama besar seperti the Cosby Show yang memang menjual nama Bing Cosby tapi semakin ke sini, serial Amerika juga mengundang nama-nama besar Hollywood.
Biasanya konsepnya mini series atau antologi gitu ya.. Beberapa yang saya sukai misalnya genre crime ada True Detective yang tiap musim ganti cerita dengan tokoh utama sekelas Woody Harrelson, Matthew McConaughey, Mahershala Ali dan lainnya serta Big Little Lies yang assanamblenya pemeran wanita keren semua. Untuk genre komedi saya suka Only Murders In The Building yang di season tiga menggaet Merryl Streep dan versi seram ada America Horror Story (tak semua seasons saya nonton sampai selesai sih) serta Scream Queen (sayang cuma dua seasons).
Nah, Tempest ini budgetnya yang jor-joran --70 juta Korean Won, tertinggi di produksi drakor--memungkinkan pemainnya A lister + the next big thing semua.
Dari Korea Selatan :
- Kang Dong Won (Baek SanHo): Turun gunung main serial setelah lebih dari dua dekade.
- Gianna Jun (Seo MoonJoo) : Si Sassy Girl kesayangan sejuta umat. Drakor terakhirnya Jirisan bareng Ju JiHoon (2021), saya ngikutin ongoing dan kuciwa endingnya agak nanggung.
- Joo JongHyuk (Lee ChangHee) : Scene stealer di Extraodinary Atorrney Woo yang laris manis, saat ini saja drama lainnya Confidence Queen, sedang tayang.
- Park HaeJoon (Jang JoonIk), Oh JungSee (Jang JoonSang), Lee SangHee (Yeo MiJi), Kim HaeSook (Presiden Chae KyungSin), Lee MiSook (Kim OkSeon): para pemeran pendamping yang sangat familiar karena main di banyak drama dan film populer.
Dari Hollywood:
- John Cho (Anderson Millers) : Siapa yang (seangkatan saya) yang ga tahu ungkapan MILF dari American Pie? Salah satu KoreAm paling sukses dengan peran utama di film sebesar Star Trek Reboot dan Harold & Kumar. Favorit saya adalah saat dia menjadi ayah di film Searching (2018, ini bagus banget, nonton deh).
- Michael Gaston (Menteri Pertahanan AS, Eagelton): Pemeran penjahat favorit saya dari salah satu serial favorit saya, The Mentalist. Dari awal kemunculannya sudah sus banget. Dan terkonfirmasi di episode penutup.
- Spencer Garret (Presiden AS, Arnold Hauser) : Sempat mikir sejenak karena wajahnya familiar, ternyata beliau pernah main di beberapa film layar lebar yang saya tonton.
2. Produksi Berskala Besar
Balik lagi ke budget, sepertinya D+ memang lagi 'bakar duit' buat beradu head to head dengan platform si merah. Setelah kesuksesan Moving, Blood Free, Light Shop dan judul original lain mereka sangat semangat memproduksi K-drama.
Selain menghadirkan bintang besar, produksinya juga tak main-main. Senjata api dan peralatan spionasenya canggih serta mutakhir. Set gereja yang dibangun untuk adegan misa yang merenggut nyawa Jang JuNik, keren dan presisi. Momen mengatasi bom yang akan meledak di kereta cepat yang sedang berjalan serta momen kampanye MoonJoo yang dihadiri banyak orang terasa real. Belum lagi adegan pertempuran di atas kapal di episode terakhirnya, epic.
Adegan aksinya koreografinya top class. Salah satu favorit saya saat Baek SanHo terperangkap di elevator dalam keadaan tangan terborgol di episode 5. Ini ga kalah dibandingkan dengan adegan Captain America VS. agent Hydra yang menyamar di The Winter Soldier (2014).
Efek CGI mulus lah, mulai dari pencitraan Kapal Selam pembawa nuklir, ledakan pesawat nirawak di udara, sampai ke tampilan masa muda OkSeon yang saya yakin bukan hanya keajaiban tata rias semata.
Sedikit yang saya kurang suka adalah editing yang kerap terasa kurang padu. Mungkin karena alurnya non-linear, jadi beberapa adegan flashback hadir ditengah cerita.
3. Plot Wise (?)
Satu lagi slogan yang sepertinya digunakan saat menyusun naskah drakor ini : common enemy, the enemy of my enemy is my friend, saking satu pihak bisa sekejap berganti posisi. Tak ada kawan abadi dalam politik, bukan? (Ups, bukan lagi ngomongin politik negara sendiri lho, Hoahaha).
4. Penuh 'Propaganda'
Tak bisa dipungkiri, drama ini di produksi di bawah bendera perusahaan Disney yang berpusat di Amerika. Musuh politiknya siapa? Terserah deh, kalau mau dianggap hanya teori konspirasi. Menurut saya, dalam drakor ini yang dibidik terlalu 'ambisius' karena semuaaa diborong Hoahaha! Ideologi komunis : oh, ada Cina, KorUt sampai Rusia. Tempat perusahaan cangkang dan investasi bisnis tak tersentuh hukum? Argentina dan negara Amerika Tengah. Jangan lupakan juga Ishida, negera fiktif yang dikisahkan berlokasi dimana? Yup, Timur Tengah (YTTA ya..)
Meski sekedar tontonan yang terasa subtle, percayalah, ini salah satu ciri khas Amerika : propaganda antek aseng selalu terasa baik di film maupun serial. Mau tak ambil pusing dan mewajarkan saja, ya gimana, inilah kenyataan peta geo-politik internasional saat ini. Tak hanya 'berperang' fisik, adu narasi kepentingan masing-masing pihak di dunia maya bisa dipengaruhi melalui berbagai media, salah satu yang terasa harmless ya lewat film dan serial.
In my humble opinion, propaganda utamanya adalah reunifikasi Korea masih jauh dari kenyataan. Terlalu banyak faktor yang bisa membuat situasi menjadi kacau, (dan KorSel yang akan lebih banyak dirugikan karena kalau KorUt nothing to lose, ya kan?) Jadi, biarlah kondisi saat ini tetap bertahan di Semenanjung Korea. (Lagi-lagi), siapa yang paling diuntungkan? Saya yakin, semua juga paham sih, siapa sekutu utama KorSel saat ini.
Padahal kalau di bawa serius sedikit, ada isu penting yang diangkat juga : cara Badan Intelijen suatu negara menjebak orang tak bersalah menjadi musuh politik negara dan dihabisi baik karir ataupun nyawanya dan sebaliknya, bagimana menciptakan sosok 'Stella Huang' yang bertujuan melancarkan kepentingan negara. (Stella Huang sejatinya adalah seorang kapitalis sejati, baginya uang adalah hal utama --balas dendam atau alasan lain hanya pembenaran untuk mencapai keinginannya menjadi yang paling berkuasa).
Satu lagi, "kenyataan" bahwa AS (melalui pejabat korup) menyuplai senjata api ke negara konflik bahkan musuh mereka sendiri demi profit juga dibahas di episode ending. Perang adalah sumber cuan😭. SMH.
Last but not least, saya ga tahu kelewat su'udzhon atau karena mengingat peran John Cho di trilogi Star Trek Reboot (Hikaru Sulu dikisahkan menikah dengan pasangan sesama jenis), saya melihat adegan saat Andersen bangun tidur dan disampingnya ada pria lain itu langsung mikir "Oh, ini propaganda D+ yang pro kaum pelangi." Nau'dzubillah min dzalik.
5. Intim Saat Momen Genting
Rating 17+ sudah menjadi kode sejak awal bahwa drakor ini ada adegan dewasa (plus kekerasan). Beberapa adegan ciuman (sampai ranjang) diantara SanHo dan MoonJoo justru terjadi saat keduanya dalam keadaan gawat. Menyaksikan keintiman mereka, di satu sisi jiwa hopeless romantic saya happy berat, apalagi chemistry antara SanHo dan MoonJoo yang uwow sekali. Tapi jujurly, logika saya juga selalu meronta-ronta setiap momen genting (di film/serial) apapun pelakon utamanya justru sempat berciuman dulu dibanding menyelamatkan diri (atau dunia) 🤣. Balik lagi, ini rasanya Amerika banget deh, jadi ingat James Bond atau film superhero 'kan?
![]() |
| Salah satu scene favorit saya, intim tapi tak berlebihan |
Bukannya saya anti keintiman ya.. Saya justru suka banget kata-kata MoonJoo sambil menatap dari pintu pembatas "Bila Aku hanya punya waktu delapan menit, akan ku habiskan denganmu" saat SanHo memintanya pergi sebelum bom waktu yang dipasang di kapal meledak.
6. Ending Terbuka
Serial Amerika memang sebisa mungkin dibuat multi seasons (makin banyak ya makin bagus dong). Jadi, selain arc singkat per-episode atau beberapa episode selalu ada benang merah yang bikin penasaran menantikan kelanjutannya.
Meski dipasarkan sebagai mini seri, Tempest menggantungkan nasib SanHo pada interpretasi masing-masing penonton. Inner Monolog MoonJoo berkata pria itu tetap akan hidup dalam hatinya bak Bintang Utara/ Polaris.
Bahkan, salah seorang Sutradaranya ikut memberikan pernyataan (lupa saya capture) bahwa Ia merasa menyesal akan ending SanHo, jadilah Ia memberi ruang pada penonton untuk mengartikan masing-masing.
Jadi kalau versi saya, mengingat ada adegan dimana pintu besi ruangan bom tersebut terbuka, SanHo tetap masih hidup. Dia berhasil menyelamatkan dirinya tapi memilih bersembunyi di Gurun Gobi--tempat yang dijanjikannya akan membawa MoonJoo jika mereka kabur berdua.
Kenapa Ia tak kembali ke MoonJoo? Alasan yang sama saat adegan Ia mengubur kalung MoonJoo pemberian JoonIk (yang dipungut SanHo setelah dilempar MoonJoo di depan rumah Kang Hanna), di pasir gurun. Ia ingin MoonJoo move on. Kebersamaan mereka justru akan membawa sentimen negatif bagi MoonJoo. SanHo ingin MoonJoo menang sebagai presiden dan berusaha mewujudkan persatuan kedua Korea.
SanHo sudah kehilangan segalanya tapi Ia tetap rela mengorbankan cintanya pada MoonJoo demi greater good.
Ada juga beberapa pertanyaan utama yang belum terjawab, misalnya apakah MoonJoo menang sebagai presiden KorSel yang ke-22? Bagaimana nasib JoonSang, neneknya dan Kang Hanna serta anaknya? Plus siapakah yang resmi mewarisi kekayaan antar generasi keluarga Jang?
Saya sih YESS kalau mau ada musim kedua atau selanjutnya.
7. Hype di SosMed Penuh Pro-Kontra
Sebenarnya ini bukan hanya terjadi di serial Amerika Serikat ya. Tapi sejak beberapa tahun lalu mengikuti beberapa serial yang pemutarannya 12/24 Hours from US di saluran televisi berlangganan, saya jadi paham kalau publik AS akan langsung menyampaikan protes (keras)nya ke showrunner atau stasiun televisi suatu serial di saat yang sama dengan episode sedang tayang. Istilahnya live tweet atau langsung heboh di forum daring seperti Reddit. Hebohnya tuh (menurut saya) lebih masif dibanding netizen KorSel --yang lebih kuat budaya cancel culturnya.
Biasanya studio yang akan memberi keputusan final, contoh yang saya tahu pasti ada Peter M. Lenkov yang setelah viral menciptakan lingkungan kerja toxic dipecat sebagai showrunner tiga versi reboot serial populer yang dikembangkannya : Magnum P.I, Hawaii Five-O dan MacGyver. Jadi Ia tak akan terlibat di season berikutnya dan penonton setia tetap dapat mengikuti serial favorit mereka.
Kalau dari KorSel yang saya ingat ada kontroversi Joseon Exorcist yang hanya ditayangkan dua episode setelah dianggap mendistorsi sejarah. Stasiun televisi SBS tegas mendengar keluhan publik meski sudah membayar hak siar drakor yang kabarnya syutingnya sendiri sudah berlangsung 80%.
Nah, Tempest adalah drakor yang sudah melewati proses produksi dan paska produksi jauh sebelum masa tayangnya. Jadi walaupun sempat menimbulkan kehebohan di platform sosial media saat MoonJoo salah mengutip ungkapan China dan SanHo seolah sedang berada di salah satu kota negera tersebut tetapi yang ditampilan bagian kumuhnya di episode pertengahan, ya pemutaran tetap berlanjut.
Berulang saat pembahasan Ishida di episode menjelang akhir dan dikaitkan dengan distorsi sejarah dengan Irak. Sungguh disayangkan, tak ada tanggapan resmi dari tim produksi maupun OTT D+ yang kembali lagi ke poin nomor empat saya diatas.
😁😁😁😁
Bagaimana pun Tempest ini seru banget ditonton ongoing, tapi ditonton maraton, saya rasa lebih baik, agar tak keburu lupa dengan pembahasan politik dan spionasenya yang agak berlapis. Berpegang teguhlah dengan kompas moral masing-masing sepanjang menonton, jangan terpengaruh aneka propagandanya.
Nonton bagian adegan romancenya saja pun tak salah sih, karena ini lebih menarik dibanding beberapa drama yang (diharapkan) romantis. Hoahaha
Skor dari saya 8/10.
Teman pembaca ada yang sudah nonton? Let me know your opinion, too!

.jpg)








Disamping itu drama ini juga kontradiktif, drakor belakangan begini, sering banget angkat isu-isu nasional tapi malah bikin blunder bahkan aktor-aktornya kena efek domino.
Unik juga diselipin soal politik dan propaganda ssbagaimana kondisi saat ini, hemm