Review 18x2 Beyond Youthful Days : 18 Alasan di Balik Ketenarannya
Hai Assalamu'alaikum,
Setelah sibuk menyiapkan ultah adik R akhirnya bisa mengejar ketertinggalan tulisan dalam proyek one day one blog post.
Beberapa waktu lalu nama Greg Hsu naik daun dikalangan penggemar K-drama. Ketampanannya viral setelah menjadi pembaca nominasi di acara penghargaan musik Golden Disc Award yang diselenggarakan di Taipei, Taiwan. Saya belum banyak nonton dramanya tapi saya pernah nonton dua filmnya, 18x2 Beyond Youthful Days (2024) dan Marry My Dead Body (2023). Nah karena yang terakhir itu temannya tentang pernikahan arwah yang aslinya Oma saya saja sangat menentang dilakukan di keluarga besar, saya malas rewatch. Beda dengan film Ini, tak ada salahnya dong nonton ulang sambil di review. Apalagi, dulu saya nontonnya hampir barengan dengan Marry My Dead Body yang lawak itu, jadinya saya kurang dapat feel mengharu birunya.
Kali ini saya nonton di suatu akhir pekan setelah dua Drakor yang saya ikuti selesai penayangannya, Taxi Driver 3 dan Pro Bono. Jadi masih agak mello gimana gitu ya..
Judul : 18x2 Beyond Youthful Days
Sinopsis
Jimmy (Greg / Kuang Han Hsu) dipecat dari perusahan game onlinenya yang sudah go public. Mayoritas pemegang saham sepakat melepaskannya meski ia yang membangun dan membesarkan perusahaan tersebut dari rintisan.
Dalam keadaan bingung dan kalut ia memutuskan pulang kembali ke rumahnya di kota asalnya. Tainan adalah sebuah kota kecil di Taiwan yang berbeda sekali ritme hidupnya dengan Taipei, tempat Jimmy mencari nafkah setelah lulus kuliah.
Ia mengenang kembali masa mudanya dan sepucuk kartu pos memantik ingatannya akan masa di mana ia berjumpa cinta pertamanya Amy (Kaya Kiyohara ), seorang gadis asal Jepang. Amy, seorang solo backpacker kehilangan dompetnya, lalu berusaha mencari uang dengan melamar pekerjaan paruh waktu di bar karaoke Kobe. Pemiliknya ialah seorang asal Jepang yang sudah lama menetap di Taiwan. Beliau meminta Jimmy yang mengerti sedikit bahasa Jepang untuk mengajari Amy segala sesuatu tentang pekerjaan barunya.
Jimmy ---yang terpikat sejak pandangan pertama-- menerima tugas itu sepenuh hati. Ia yang awalnya sering terlambat jadi datang tepat waktu. Para rekan sekerja lain pun sangat menyukai Amy yang pandai melukis. Amy yang supel dan lucu pun segera menjadi primadona dan pengunjung mereka semakin ramai.
Jimmy bahkan memberanikan diri mengajak Amy menonton film Jepang bermodal tiket dari rekannya. Mereka pun semakin akrab, saling mengajari bahasa satu sama lain, pergi naik kereta ke festival lampion, berkeliling Tainan naik motor Jimmy dan mengunjungi salah satu titik tertinggi di Tainan sambil menceritakan harapan mereka. Jimmy ingin berkuliah di Taipei dan Amy berkeliling dunia.
Sayang, ketika kedekatan mereka semakin terjalin, Jimmy mendengar Amy bertengkar melalui telepon dan mengatakan ia tetap menunda kepulangannya karena masih ada urusan yang belum selesai. Amy memang sedang menggambar mural di salah satu tembok bar karaoke mereka.
Tiba-tiba ia mengumumkan akan kembali ke Jepang. Jimmy patah hati meski mereka saling bertukar nomor telepon dan berjanji akan saling menghubungi ketika impian mereka terwujud. Tak lama, pengumuman kelulusan tiba, Jimmy pindah ke ibukota.
Kini, Jimmy yang seolah sedang berada di persimpangan, berusaha meneladani jejak Amy delapan belas tahun yang lalu. Ia melakukan perjalanan solo ke Jepang dengan tujuan kampung halaman Amy.
Bisakah Jimmy menemukan cinta pertamanya lagi?
Review
Kenapa film ini sampai booming banget? Ini 18 alasannya menurut analisa abal-abil saya:
1. Kerjasama Taiwan dan Jepang
Saya selalu suka nonton drama atau film yang mengkolaborasikan dua negara. Rasanya melihat dua budaya berpadu itu sangat menarik. Kita bisa melihat benang merah yang sama dalam perbedaan dengan bahasa yang universal : cinta.
Sutradaranya, Michihito Fuji adalah orang Jepang sementara lokasi syuting terbagi antara Taiwan dan Jepang.
2. Pemeran dan Akting Pas
3. Tokoh Lovable
Jimmy di masa muda adalah pemuda yang penuh harapan bertransisi menjadi pria dewasa yang gampang meledak emosinya dan frustasi akan hidup. Banyak penonton yang akan merasa relateable.
Amy dan tokoh pendukung seperti keluarga Jimmy dan teman-teman di Bar karaoke Kobe juga punya karakter menarik dan gampang disukai.
4. Cameo Keren
Favorit saya adalah Joseph Chang dari film Eternal Summer (2006) dan Drunken To Love You (2011). Ia hadir sebagai seorang Koki perantau Taiwan di negeri Sakura. Ia, yang telah lama menetap di Jepang mengaminkan kegelisahan Jimmy tentang perbedaan ritme hidup di Taipei dan yang dan dijalaninya sekarang. Kemudian, Ia menemaninya berkeliling kotanya.
5. Penuh Nostalgia
Greg dikisahkan sekarang sudah berusia 18x2 = 36 tahun. Delapan belas tahun yang lalu, saat ia bertemu Amy terasa sekali nuansa nostalgianya.
Mulai dari tempat karaoke yang masih sangat diminati berbagai kalangan, komik Slam Dunk, film sampai sudut kota yang terasa jadul.
6. 'Menarik' Bagi Gen Z
Sebenarnya saya tuh, paling malas membandingkan Gen Z dengan saya si boomers ini, karena sebenarnya kembali lagi ya ke pribadi masing-masing individu. Tapii semua yang kita anggap jadul dan nostalgia itu ternyata buat generasi yang tak mengalami, juga terlihat menarik. Satu karena merasa tak relevan lagi, dua ya untuk di kritik.
Jadi, di mata Gen Z yang serba sat set ini, menunggu memulai hubungan sampai sukses dulu itu terlalu lama, sudahlah tanpa kepastian (kapan suksesnya), hari gini semua serba bisa langsung cek sosmed kan ya..
7. Perjalanan yang Menyembuhkan
Dalam perjalanannya Greg bertemu dengan orang-orang yang menyuntikan semangat hidup. Ada Liu si Koki dan Koji (Shinsuke Michieda) backpaker berusia 18 tahun yang mengambil gap year karena merasa bersemangat mengeksplorasi banyak hal sebelum memutuskan minat dibidang apa. Percakapan antara keduanya Mendorong Jimmy berkontemplasi tentang keputusan hidupnya dulu.
Selain itu, Lanskap Jepang yang tertutup salju terlihat sangat luas dan sepi, mencerminkan isi hati Jimmy. Perjalanan Jimmy ke Jepang bukan sekadar perjalanan fisik.
Rasanya seperti seseorang yang sedang bertafakur, merenungi hidupnya, kesalahannya, dan semua kesempatan yang terlewat.
Setiap stasiun kereta yang ia lewati terasa seperti fase kehidupan. Dan sebagai penonton, saya sedari awal bisa melihatnya sebagai bukan usaha menghidupkan cinta lama, tapi sebagai manusia yang ingin berdamai dengan ketetapan Allah.
Karena pada akhirnya, yang ia cari bukan Amy. Ia mencari ketenangan batin, jawaban atas kegelisahannya dan pada akhirnya mencari penerimaan.
Jimmy dan pada akhirnya kita diajak merefleksikan bahwa sebenarnya kita tidak benar-benar ingin mengubah takdir karena kita tahu itu mustahil. Kita hanya ingin hati kita bisa menerima ketentuan Ilahi.
8. Visual dan Sinematografi Indah
Film ini tidak menawarkan visual yang mencolok atau penuh warna cerah. Justru sebaliknya. Warna-warnanya lembut, dingin, dan sedikit pucat. Banyak adegan diambil di jalanan, kereta, kafe kecil, dan kamar sempit dengan pencahayaan seadanya.
Adegan perjalanan Jimmy di Jepang terasa sangat personal. Kita seakan ikut berjalan bersamanya, menyusuri stasiun, menatap lampu-lampu malam, mendengarkan suara kereta, dan merenungi hidup.
Film ini mengajarkan kita bahwa keindahan tidak selalu harus megah. Kadang, keindahan ada di kesunyian. Misalnya di suasana winter wonderland di Tadami, daerah asal Amy di Jepang.
9. Penceritaan Memikat
Alurnya non-linear dari sudut pandang Jimmy --dan pada akhirnya Amy-- memberikan kita kedalaman dari kisah ini sendiri.
10. Editing Rapi
Cerita terasa koheren berkat editingnya yang rapi.
11.Pesan yang Beresonansi dengan Banyak Orang
Jimmy versi usia 36 tahun adalah gambaran banyak orang dewasa di dunia nyata. Keinginan mengejar tujuan hidup malah membuat kita melupakan hal yang penting dalam kehidupan. Fokus pada pekerjaan dan melupakan relasi interpersonal, tiba-tiba suatu hari, kita sadar bahwa hidup terasa kosong.
Film ini seperti pengingat bahwa masa muda tidak akan kembali. Tapi kenangannya akan selalu tinggal. 18x2 Beyond Youthful Days adalah pengingat yang indah bagi kita semua yang mungkin sedang merasa tersesat di usia dewasa. Film ini memberi tahu kita bahwa tidak apa-apa untuk menoleh ke belakang sesekali, untuk mengakui bahwa masa lalu pernah begitu indah, dan untuk akhirnya merelakan apa yang memang tidak ditakdirkan untuk menetap.
Kita pun akan belajar menghargai setiap momen karena sebagai makhluk fana, semuanya akan menghilang.
12. Sisi Mellow yang Menguatkan
Film ini membawa tema kehilangan yang sangat kuat. Sepanjang menontonnya ada satu perasaan yang terus mengiringi : ketidakberdayaan manusia di hadapan takdir.
Jimmy berusaha mengejar masa lalu. Ia menempuh perjalanan jauh. Ia mencari seseorang yang pernah sangat berarti baginya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin jelas satu hal:
Ada hal-hal yang tidak bisa kita kejar kembali, karena Allah sudah menutup jalannya.
Dalam Islam, kita percaya bahwa hidup dan mati bukan kebetulan. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh.
Dan film ini, tanpa mengatakannya secara religius, justru menggambarkan betapa manusia sering baru sadar tentang nilai sebuah pertemuan setelah Allah mengambilnya kembali.
Namun kesadaran akan pertemuan yang ditakdirkan dengan Amy justru membawa Jimmy kembali pada sisi humanisnya yang menguatkannya melalui masa sulit.
13. Scoring dan OST Bagus
Soundtrack film ini hadir di waktu yang tepat. Tidak berlebihan. Tidak mendominasi. Tapi menguatkan emosi. Lagu "Kioku no Tabibito" dari Mr. Children benar-benar menjadi pelengkap yang sempurna. Liriknya yang bicara tentang perjalanan ingatan selaras dengan tema film.
14. Ending Out of the Box
Sebenarnya kita sudah tahu arahnya ke mana. Tapi tetap saja, endingnya tetep memberi kejutan tentang tujuan Greg dan apa yang menantinya saat tiba di kota kelahiran Amy
15. Diangkat dari Kisah Nyata
Mengutip dari laman Wikipedia, kisah Jimmy aslinya ditulis dalam bentuk blog perjalanan yang viral di tahun 2014, Wandering Journey on Slow Train in Japan ( 日本慢車流浪記), oleh Jimmy Lai yang menggunakan nama pena Blue Fox.
Pembaca asli blog ini bakal penasaran dong dengan visualisasinya dalam bentuk film.
16. Bisa disaksikan di Aplikasi Merah
Salah satu faktor adalah mudah diakses secara legal di aplikasi merah.
17. Rating Tinggi
18. Cocok ditonton Oleh Banyak Kalangan
- Suka film romantis realistis
- Sering merenung tentang hidup dan kehilangan
- Pernah kehilangan orang tercinta
- Ingin film yang menenangkan tapi menghantam perasaan
- Percaya bahwa takdir Allah selalu punya hikmah









Tapi sekarang aku lagi demen nontonin drakor kerajaan2 hihii .
BTW, karna tau dia dipecat dari perusahaan yang ikut dirintis, aku jadi inget kejadian yang sama dikantorku juga. Bedanya perintis ini ngga dipecat meski dia ngelakuin fraud, alasannya krna owner mau balas budi. Cuma dimutasi doang... hehe
Tp filmnya cukup recomended utk disaksikan
sempet sih akhir tahun kemarin saya mencoba menonton salah satu drama Jepang (lupa judulnya)
tapi belum-belum bikin ngantuk, atau saya yang emang sedang ngantuk
jadi gak lanjut deh
Kamu berhasil ngejelasin hal-hal yang bikin film ini bukan cuma “romansa biasa”, tapi kaya perjalanan batin dan refleksi hidup yang bikin kita mikir ulang tentang cinta, masa lalu, dan apa yang bikin kita terus maju meski kenyataan gak selalu seindah ingatan.
Yang aku suka, kamu gak nge-spoiler seenaknya — tapi ngasih alasan kenapa nostalgia 18 tahun itu bukan cuma angka di judul, tapi makna besar di balik keputusan si karakter buat kembali mengejar memori yang pernah ada. Mekanisme maju-mundur cerita yang kamu bahas juga bikin alasan kenapa kita nonton film ini jadi lebih kuat: bukan cuma karena cinta, tapi karena filmnya ngajak kita mengerti diri sendiri sebagai manusia yang kadang harus berdamai sama masa lalu dulu sebelum bisa hidup di masa kini.
Plus, insight kamu tentang visual, karakter, dan pacing cerita bikin orang yang baca merasa siap nonton bukan sekadar buat hiburan, tapi buat nguras emosi juga
Keep up the thoughtful review — ini tipe tulisan yang bikin pembaca gak cuma tahu apa cerita filmnya, tapi juga kenapa filmnya penting buat mereka sendiri.