" ".

Review Pro Bono : Menghibur tapi Perlu Kewaspadaan

Table of Contents


Apa yang terlintas begitu mendengar istilah Pro Bono?

Bagi anak hukum, dalam versi mudah akan menjawab : memberi layanan legal secara gratis tanpa biaya pada klien.

Istilah yang diserap dari Bahasa Latin ini, tujuannya jelas memberikan kesempatan pada setiap orang yang memiliki hak yang setara di muka hukum agar mendapatkan pendampingan dari para pengacara / advokad ketika menghadapi suatu permasalahan baik perdata, pidana ataupun administrasi negara.

Jadi, begitu tahu ada drakor ini, meskipun hitungannya masih baru melihat Jung KyoungHo jadi pengacara juga di Oh My Ghost Client (2025), saya merasa pasti ada yang berbeda. Apalagi promo awalnya lucu banget, sang tokoh utama memakai jubah hakim yang menari saat masuk ke ruang sidang!

Judul : Pro Bono

Judul Lain : 프로보노
Penulis Naskah : Moon YooSeok
Sutradara : Kim SungYoon 
Pemain : Jung KyeongHo, Cha JooYeon, Yoon NaMoo, Seo HyeWon, Lee YooYoung, Choi DaeHoon, dll
Genre : legal drama
Tayang : 6 Desember 2025 - 12 Januari 2026
Jumlah Episode : 12
Durasi : 60 - 80 menit 
Jaringan : TvN, Netflix
Rating usia : 18+

Sinopsis

Hakim Kang DaWit (Jung KyoungHo) adalah hakim muda karena baru berusia 40-an tahun. Kesuksesannya di dukung sifatnya yang cermat, narsistik, egois serta haus validasi di sosial media. Ia memiliki jumlah pengikut yang banyak di sosial media dan dicintai masyarakat karena berani menghukum korporasi dengan berat. Dari luar motivasinya terlihat sebagai ajang mengejar kedudukan dan popularitas diri. Bidikannya adalah menjadi Hakim Agung. 

Perlahan kita diajak memahami segala tingkah eksentriknya yang kadang terasa arogan dan menyebalkan, masa kecilnya yang penuh kesulitan mendorong ibunya hingga batas maksimal. Sebelum ibunya tiada, ia menjanjikan ibunya kesuksesan tertinggi. 

Sampai akhirnya, sebuah jebakan dalam wujud sekotak apel, membuatnya terlibat skandal. Ia yang mabuk setelah minum miras dengan seseorang yang mengaku sebagai teman masa kecilnya tertangkap tangan menerima uang suap sekotak besar. Dalam semalam, reputasinya hancur. Dia dipaksa mengundurkan diri atau menghadapi penjara. 

Di tengah kebingungan ia mendapatkan tawaran bergabung dengan tim Pro Bono di sebuah firma hukum ternama di KorSel, Oh and Partners. Direkturnya saat ini adalah kenalan lama, Oh JeongIn (Oh YooYoung). Ia membujuk DaWit bergabung di firma yang didirikan oleh ayahnya, Profesor Oh GyuJang (Kim GabSoo) itu sebagai bentuk perwujudan layanan masyarakat dan agar nama firma mereka lebih populer dibawah kepemimpinannya.

Tim Pro Bono akan dipimpinnya bukan tim elit. Ini adalah divisi nirlaba yang dibuang sayang. Mereka ditempatkan di lantai dasar, menyatu dengan ruang penyimpanan arsip lama, karena tak menerima biaya praktek artinya tidak menghasilkan uang. 

Anggotanya dikenali sebagai pengacara idealis dengan kepribadian yang dianggap aneh oleh pengacara lain. Hanya satu orang anggota yang berasal dari anggota internal Oh & Partners, Park GiBbeum (So JooYeon). Gadis berambut pendek ini adalah kebalikan total dari DaWit. Dia pengacara jenius lulusan universitas top yang tulus, hidup sederhana, dan percaya kalau hukum adalah alat untuk melindungi hak asasi manusia. Anggota tim Pro Bono lainnya ada Yoo NanHui (Seo HyeWon), gadis galak nan idealis, Jang YoungSil (Yoo NaMoo) si pecinta jamur yang terampil membuat banyak hal dan Hwang JoonWoo (Kang HyeongSuk) yang ingin jadikan pengalaman ini sebagai sekedar batu loncatan agar naik kelas jadi pengacara sukses dan kaya.

Siapakah yang menjebak DaWit? Bagaimana ja membuktikan dirinya tak bersalah? Dapatkan ia kembali menjadi Hakim bahkan menduduki posisi Hakim Agung? Lantas, siapa pula Woo MyeongHoon (Choi DaeHoon) pengacara yang nampaknya punya dendam abadi pada DaWit?

Review

Spoiler Alert
"Pengacara pun tak boleh bersikap demikian!
Kenapa cepat menyimpulkan?
Apa mengaku punya dendam sama dengan mengaku merekayasa sidang?
Tidak
Semua orang berhak atas kebebasan batin. Niat batin yang yak diwujudkan tak salah di mata hukum. Kita (pengacara) yang harus mengungkap apakah niat tersebut diwujudkan (dalam perbuatan), bukan?"

Pengacara GiBbeum kepada JoonWoo di episode 11 Pro Bono

Sejujurnya, kita sudah sering banget lihat drama hukum di KorSel. Entah berapa judul yang kita tonton, baik berkonsep police procedural yang fokus pada kasus mingguan, ada yang fokus ke balas dendam tokoh utama, ada yang fokus ke teka-teki pembunuhan. Tapi Pro Bono tetap terasa fresh dan berbeda karena:

Tim Dengan Wajah Familier dan Jalinan Yang Hangat

Akting Jung KyeongHo jangan diragukan lagi. Sifat eksentrik DaWit diantaranya memakai cincin di jari kelingking, menyanyikan lagu Zico saat masuk ke ruangan kantor sampai selalu menghubungi wartawan saat sidang seolah mengalir. Air mukanya itu lho, slay banget! (Agak OOT ia dan Sooyoung  kira-kira berdiskusi bareng ga ya? Kan kebetulan sama-sama sedang tayang drakornya yang bertema hukum dan berperan sebagai pengacara nih).

Anggota lain pun terasa familiar bagi pecinta drakor. So JooYeon pernah bermain dua musim Romantic Doctor Teacher Kim / Dr Romantic bersama Yoon NaMoo. Seo HyeWon pun sudah wara-wiri sebagai pendukung di beberapa drama populer seperti Lovely Runner (2024) dan Love Scout.


Gaya rahasia mereka

Perkembangan karakter seluruh anggota tim  --termasuk DaWit yang tiba-tiba ditunjuk jadi ketua divisi-- terasa sekali. Dari yang awalnya saling curiga cenderung benci karena pertentangan idealisme sampai tumbuh respek dan pengakuan sebagai kolega setara. Meski sampai  akhir pun mereka kerap berbeda pendapat, Ikatan mereka sangat akrab dan supportif.

Klien, kolega hukum apalagi lawan-lawan yang mereka hadapi pun bukan kaleng-kaleng. Diperankan oleh nama-nama populer seperti Sung DongIl, Yoo JaeMyung, Jung JiSoo dan lainnya.

Satir Sosial yang Tajam

Drama ini menyentil berbagai fenomena sosial yang terjadi di kenyataan kita saat ini. Status DaWit sebagai hakim merangkap  influencer membuat sorotan terhadapnya --yang kena masalah karena apel 'beracun' seperti tokoh dongeng-- jauh lebih masif. Dan bagaimana ekspos di media sosial bisa mengangkat sekaligus menjatuhkan seseorang dalam hitungan detik. Karirnya di dunia kehakiman terus naik berkat popularitasnya, sebaliknya langsung berhenti total, salah satunya juga akibat desakan masyarakat di sosial media.

DaWit juga bisa menjadi hakim walaupun bukan lulusan fakultas hukum (mekanismenya dari apa yang saya pahami, setelah lulus pelatihan ia mengikuti serangkaian tes, tapi dari apa yang saya baca di sosmed hal ini sekarang telah dihapuskan). Hal ini menimbulkan concern terutama bagi para pengacara lawan yang merasa lebih jago dibidang hukum karena pernah mengambil pendidikan tingkat universitas atau lebih lanjut.

Keseimbangan Legal Drama dengan Bumbu Komedi dan Tragedi

Sutradara Kim SungYoon yang pernah mengarahkan drama Itaewon Class (2020),  benar-benar jago mengatur tempo. Kita bisa tertawa terbahak-bahak lihat DaWit yang clueless soal hidup rakyat jelata, lalu semenit kemudian dibuat terharu melihat ketidakadilan yang dialami klien mereka. Naskahnya yang ditulis oleh seorang mantan hakim membuat keseimbangan ini terasa alami, mungkin berdasarkan pengalaman beliau pribadi.

No skip skip club buat adegan sidangnya, karena dialognya cerdas dan menghibur karena kadang kidding Hoahaha

Puncak permasalahan utama berkaitan dengan masa lalu DaWit, mulai dari kisah cintanya yang berakhir akibat desakan beda kasta, menciptakan jalinan yang rumit dengan seseorang itu yang masih tetap ada disekitarnya dan secara terbuka tetap memanggilnya 'Oppa'. Latar belakang cinta ini ternyata juga menyebabkan salah paham dan persaingan sengit dengan seorang kolega hingga bertahun berikutnya dan seolah menjadi musuh abadi DaWit.

Salah seorang anggota tim pun ternyata punya pertalian dengan salah satu kasus utama tapi dikemas dengan rapi (tetap ada fans Drakor ini termasuk saya, yang berhasil menebak sejak beberapa episode awal, bahwa ia mantan kekuarga chaebol. Hoahaha). Sedangkan anggota tim lainnya bahkan menjadi pengacara idealis justru karena terinspirasi dari putusan DaWit yang menyelamatkan keluarganya saat ia masih remaja.

'Serba kebetulan' ini terasa alami sebagaimana hidup yang kadang suka menyiapkan kejutan dalam bentuk takdir. DaWit yang punya pengalaman sebagai hakim memanfaatkan segala koneksi dan sumber daya demi memenangkan suatu kasus. Sikapnya yang kadang masih suka lupa posisinya sekarang adalah advokad dan bukan hakim lagi salah satu running gag sekaligus masih terasa getir tragisnya.

Ohya, sesuai kutipan perkataan GiBbeum yang saya tuliskan di atas, drama ini pun memberi  pemahaman kepada kita tentang niat (intention) dan pembuktian apakah niat itu terlaksana dalam suatu perbuatan atau tidak. Kiranya bagus sekali kalau masih agak bingung membaca ulasan Marry My Husband Jepang : Paradoks Waktu dan Intensi.

Kasus Relateable

Pro Bono sebuah serial yang tidak hanya mengajak penonton memahami dunia legal, bahwa ada tim pembela atau pengacara yang dikhususkan memberikan layanan terbaik tanpa biaya. Sekaligus menyelami sisi paling manusiawi dari keadilan itu sendiri. Pro Bono terasa seperti kombinasi antara drama hukum, slice of life, dan refleksi sosial yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Akhir kasus episode empat saya nobatkan sebagai most heartwarming scene 2025

Kasus-kasus yang diangkat bukan cuma soal  korporasi, tapi soal perebutan hak hewan (jadi ingat Cat Custody War), diskriminasi warga migran yang masuk dengan visa pernikahan, hak-hak penyandang disabilitas, dan masalah-masalah yang sering kita temui di kehidupan nyata.

Buat saya, episode pertama dan kedua serta keempat sangat menyentuh. 

Kesederhanaan Visual yang Terasa Realistis

Secara visual, drama ini punya palet warna yang menarik. Saat DaWit masih jadi hakim, warnanya terasa dingin, biru, dan formal. Tapi begitu dia masuk ke kantor Pro Bono, warnanya berubah jadi lebih hangat, earthy tone, yang memberikan kesan nyaman.

Penggalan kisah masa lalu menggunakan warna cenderung vintage atau suram, memudahkan kita membedakan alur waktu.  

Kewaspadaan dalam Menonton

Betapapun saya merasa terhibur nonton Pro Bono yang tayang di tvN (KorSel) sedangkan di Indonesia hak tayangnya dipegang aplikasi nonton si merah, ada hal yang patut diwaspadai.

Yang jadi masalah adalah muatan pro-LGBTQ+ pada episode tiga. Sebagai catatan, semakin dewasa saya menyadari bahwa saya bukan anti LGBTQ+ ya.. Saya menghormati dan menghargai setiap individu yang memang memilih (apakah istilah ini tepat, karena ada beberapa yang merasa terjebak di tubuh yang salah atau alasan takdir) demikian. Namun bagaimanapun saya menentang keras normalisasi akan hal tersebut apalagi mempromosikannya!

Kalau pernyataan ini ada yang protes dianggap tidak sensitif dengan kelompok minoritas tadi, sebenarnya sederhana : sama seperti ajaran agama, agama apa yang kamu yakini, maka itu untukmu, begitu pula sebaliknya. Saya percaya melindungi hak-hak individu yang tak nyaman dan menentang juga sama kuatnya.

Alasan individu yang menentang pun bisa bermacam-macam.  Ada yang trauma karena salah satu anggota keluarga memilih demikian hingga menghancurkan keluarga besar. Ada yang menentang dengan alasan bahaya yang mengancam kesehatan fisik maupun mental terutama pengaruhnya pada generasi yang lebih muda. Bagi saya, yang utama adalah berpegang pada kodrat Ilahi dan sampai kapanpun apa yang sudah dilarang bahkan dianggap haram oleh agama saya, ya selamanya akan haram. 

Muatan pro-LGBTQ+ dalam Pro Bono salah satunya adalah hal yang menunjukkan dukungan. Tak sekedar membahas, seluruh tim hadir di semacam festival yang mengkampanyekan hal tersebut, memakai atribut bahkan menyuarakan secara verbal dukungan mereka. Ini artinya ikut menormalisasikan dan memberikan pesan secara subtle melalui tontonan.

Dan karena kita menonton ini bukan memilih menonton drama BL / GL jadi harus lebih berhati-hati

Anehnya, justru kontroversi ini membuat lonjakan pemirsa di KorSel naik dari 4% menjadi 6,2%. Itu adalah hal yang lumayan baik mengingat Bon Appetit Your Majesty yang sama-sama tayang di tvN juga mengawali debut dengan rating 4%, sebelum menutupnya dengan total empat kali lipatnya. Sedangkan untuk episode selanjutnya, Pro Bono cukup stabil berada dikisaran 6-9%

☺☺☺☺☺

Jadi, apakah saya merekomendasikan drama ini? Iya, kalau tetap berpegang teguh dengan kompas moral masing-masing. Dari saya poinnya 8,5 / 10.

Banyak kisahnya yang menyentuh hati. Tidak mengapa sih, kalau ada value yang bertentangan dengan nurani sebagaimana hal yang saya ungkap, boleh saja skip bagian tersebut atau hindari menontonnya ya.. 




6 komentar


Comment Author Avatar
1/12/2026 10:37:00 AM Delete
gak nyangka, sesudah drama Beating Again, hampir semua drama Jung Kyoung-Ho saya tonton
Termasuk drama Pro Bono yang asyiknya bisa lihat lagi aktingnya Lee Yoo-Young, bisa kangen-kangenan
Comment Author Avatar
1/12/2026 11:32:00 AM Delete
Owalah. Pro Bono ini beda sama Oh My Ghost Client ya. Kirain sama.

Tapi, semakin baca kok ya semakin beda ceritanya. Ternyata emang dua drama yang beda tho.

Aku sudah nonton yang Oh My Ghost Client. Pingin dah lihat pengacara itu lagi di Pro Bono. Hehehe
Comment Author Avatar
1/12/2026 11:34:00 AM Delete
Menarik ini, drama hukum yang mengangkat tema Pro Bono. Berbeda dari kisah klise soal pahlawan hukum idealis, Pro Bono menawarkan drama hukum yang cerdas, menghibur, menyentuh hati, dan memberikan perspektif baru tentang keadilan dan kemanusiaan.
Comment Author Avatar
1/12/2026 01:15:00 PM Delete
Saya juga cenderung memihak kok pada kisah mereka di Pro Bono ini. Apa mungkin saking kecewanya saya sama sistem hukum di negara yang kebanyakan tumpul ke atas tapi begitu menyiksa dan runcing ke masyarakat kecil?
Terbayang ya yang asalnya mereka saling bersaing lama lama jadi kompak
Pasti banyak hal yang bikin penonton senyum senyum sendiri tuh. Hihi...
Comment Author Avatar
1/12/2026 01:16:00 PM Delete
Aku baru nonton episode 1 dan sedikit episode 2. Hakim DaWit ini memang eksentrik. Flamboyan tapi semangat memperjuangkan kebenaran. Adegan pembuka di ruang sidang itu tampak seru karena sang terdakwa terkejut-kejut dengan paparan Hakim DaWit supaya dia dapat hukuman sepantasnya. Kapan sempat tak lanjutkan nonton ah. Tapi mending nunggu selesai total aja ya. Supaya bisa estafet dan gak nunggu-nunggu hahahaha.
Comment Author Avatar
1/15/2026 11:39:00 AM Delete
kalo nonton drakor itu pas adegan lgbtq++ molly skip skip. agak2 meresahkan gimana gitu nontonnya. secara di Indonesia mereka dilarang eksis kann hehe