Review Even If This Love Disappears From The World Tonight KorSel : On Par dengan Versi Jepang
Akhirnya.. saya kembali bela-belain begadang demi menonton versi Korea Selatan dari film Even If This Love Disappears From The World Tonight. Ditayangkan akhir tahun lalu di bioskop KorSel, film ini termasuk lekas ditayangkan di OTT si merah sejak 3 Februari 2026. Mungkin agar sesuai dengan nuansa hari kasih sayang.
Judul : Even If This Love Dissapeares From The World Tonight
Sinopsis
Han SeoYeon (Shin SiAh) membuka mata di pagi hari dan membaca catatan yang ditulisnya bahwa ia mengalami kecelakaan di awal Januari 2025. Ia jadi terkena gangguan memori, setiap bangun tidur, ingatannya akan kembali pada pagi hari saat kecelakaan itu terjadi. Untuk itu, ia harus membaca jurnalnya di komputer dan mencatat kegiatannya sehari-hari. Orang yang tahu hanyalah orangtuanya, sahabatnya dan para guru.
Ketika menaiki bus menuju sekolah, ia nyaris kehilangan keseimbangan karena busnya berhenti mendadak. Untunglah, ia tak jatuh karena tanpa sadar, rambutnya --yang dikuncir ekor kuda-- ditarik oleh seorang pemuda yang memakai seragam yang sama dengannya. Sang pemuda meminta maaf tapi SeoYeon tak menghiraukannya.
Kim JaeWoon (Choo YoungWoo) tiba di bangkunya dan menyadari bahwa DongShik, rekan semejanya dirundung lagi. Ia tak tahan dan mengkonfrontasi para perundung di kelas sebelah. Mereka setuju menghentikan perundungan dengan syarat JaeWoon mengajak kencan SeoYeon, si gadis populer yang selalu menolak setiap pengakuan cinta.
JaeWon awalnya ragu, tapi pada akhirnya mengikuti permintaan tersebut. Ia menemui SeoYoon di halaman sekolah, disaksikan dan direkam oleh teman-temannya, semua mengira ia akan ditolak seperti yang lain. Tak disangka, SeoYoon menerimanya dan mengajaknya berjumpa sepulang sekolah.
Di pertemuan mereka, SeoYoon mengajukan tiga persyaratan yaitu kontak seminim mungkin, dilarang bertegur sapa di jam sekolah dan saling jatuh cinta sungguhan.
Bisa ditebak, teman-temannya meledeknya habis-habisan, termasuk sang perundung Jang TaeHoon (Jin HoEun) yang mulai mendekat ketika menyadari keberadaan Choi JiMin (Jo YooJung), sahabat SeoYoon.
Mampukah hubungan mereka bertahan ketika SeoYoon akan selalu melupakan JaeWon setiap malam? Ketika tragedi tak terduga terjadi, siapkah mereka menyikapinya?
Review
Kurasa, aku melanggar peraturan yang ketiga. " SeoYoon menatap JaeWon dibawah gebyar kembang api
"Aku telah melanggarnya sejak lama." Pemuda itu mendekat untuk mengecupnya.
Adegan krusial di kedua versi film.
Karena baru saja nonton ulang versi Jepang, tak bisa dipungkiri, keinginan saya untuk membandingkan keduanya jadi kuat banget. Hoahaha.
Lebih dan kurangnya versi Korea Selatan Even If This Love Disappears From The World Tonight:
1. Lebih Modern
SeoYeon mencatat aktivitasnya di ponsel dan menuliskan jurnalnya di komputer. Memang adakalanya ia menulis di buku tapi pada akhirnya akan diketik ulang. Pertanyaan yang diajukan pada JaeWon --dengan alasan sebagai pacar, ia ingin mengenalnya lebih jauh-- pun lebih kekinian, misalnya apa MBTI-nya, siapa idola K-Pop favorit atau game yang disukainya
Ayahnya JaeWon berprofesi sebagai seorang fotografer. Ia cukup tenar di media sosial berkat unggahan foto-fotonya. Beliau juga mengelola studio yang mengerjakan ornamen dari kaca patri.
2. Lebih to the Point
Begitu adegan pembuka, kita langsung ikut memahami tentang gangguan memori SeoYeon dan pengaturan yang dibuatnya untuk menjalani hari.
Teman sebangku JaeWon, DongShik tahu tentang taruhan tersebut, bahkan menyaksikan langsung adegan penembakan itu.
Di pertemuan pertama mereka sepulang sekolah, SeoYeon langsung memanggil JaeWon sebagai pacarnya. Bahkan setelah SeoYeon menceritakan kecelakaannya, ia berterus terang, alasannya mengiyakan ajakan kencan JaeWon adalah ia ingin mencoba sesuatu yang baru dalam kondisi sakitnya. Jadi tak ada alasan penuh kerahasiaan saat keduanya 'berpura-pura pacaran'.
3. Lebih Realistis
Plotnya lebih fast-paced. SeoYoon digambarkan lebih ceria dan positif dalam memandang dunia. Ia memang cemas tak bisa berkuliah sebagaimana anak lainnya tapi bukan yang berpikir jauh hingga sulit jika memiliki anak, karena tak bisa mengingatnya. Ketika SeoYeon menyadari perasaannya kepada JaeWon dan menjalani hari-hari yang bahagia, ia menunda untuk tidur. Ini realistis banget bagi saya yang hobby begadang, jadi kalau ada di posisi yang sama kemungkinan saya pun akan melakukan hal yang serupa demi 'mengingat' kebahagiaan itu sedikit lebih lama.
JaeWon ada hint sakit. Ia mengakui tak suka berolahraga (alasannya karena malas berkeringat) dan ayahnya memintanya untuk lebih banyak beristirahat. Pengungkapan ini menambah layer tragedi dan membuat fokus kisah ini bukan cuma tentang amnesia, tapi juga tentang waktu terbatas.
Hubungan JaeWon dan ayahnya Kim SangHyeon (Jo HanChul), lebih realistis layaknya ayah dan anak yang kehilangan sosok istri sekaligus ibu. Ayahnya berusaha mendekat tapi tetap ada jarak. Sementara, JaeWon berusaha agar ayahnya move-on, lepas dari kesedihan dan hidup normal kembali.
4. Lebih Dramatis
Beberapa adegan terasa lebih dramatis misalnya adegan piknik lokasinya menjadi menghadap laut diatas tebing (bukan pantai) dengan landskap kejauhan yang indah. SeoYeon tertidur pun di bus dalam perjalanan pulang, sehingga ketika ia sadar dan tak mengenali JaeWon, ia turun dan berlari ditengah guyuran hujan. Ada juga kisah tambahan JaeWon memakai kostum pinguin demi menyenangkan SeoYeon yang gagal melihatnya kala mereka mengunjungi SeaWorld.
Favorit saya adalah kedua OTP melihat kembang api dan saling menyatakan perasaan di atas yatch.
5. Ambience Lokal KorSel
Saya menyadari kenapa sampai versi Jepang, saat diputar di KorSel bisa laris manis hingga 1,2 juta penonton. Pesannya secara universal mudah dicerna.
Versi Jepang perlahan, melankolis, menempatkan momen-momen kecil sebagai pusat emosional, dari tatapan, keheningan dalam bus, kebiasaan sehari-hari yang dilakukan bahkan tanpa dialog. Tempo yang kadang sengaja melambat supaya kita selaku penonton merasakan kehilangan yang samar sekaligus keindahan harian yang sama.
Film ini berhasil menerjemahkan ke dalam bahasa dan budaya Korea Selatan. Yang sering nonton drakor bisa merasa familiar dengan beat emosional yang kadang diberi penegasan lewat adegan-adegan kocak, seperti perdebatan para OTP kala belajar dan selipan musik OST ear-catchy.
Dan yang terasa korSel banget adalah unsur perjumpaan yang ditakdirkan, yang cukup berhasil membuat saya berujar "Oh, ternyata... "
6. Lebih Terasa Nostalgia
Ini spesifik bagi penonton drama Korea Recipe For Farewell (2021). Ketika melihat JiMin berdiri bersisian dengan TaeHoon, saya sampai memastikan dua kali bahwa mereka berdua adalah YeoJin dan JaeHo dari drakor mellow yang saya tonton di tvN saat pandemi mendera. Drama Korea ini berkisah tentang seorang wanita yang sakit keras. Suaminya, sebagai caretaker, berusaha masak berbagai makanan demi ia bisa makan setiap hari. Drakor ini membekas sekali buat saya, karena saya nonton saat baru saja kehilangan sosok uwak yang sudah seperti ibu sendiri.
![]() |
| Sahabatannya jadi ber-4 |
Jadi melihat pasangan ini reunian di film ini menyentuh hati saya secara khusus.
Sayang, sepanjang menonton tetap ada yang cukup mengganjal di hati :
1. OTP Kurang Aura 'Lugu'
Shin SiAh dan Choi YoungWoo masih pantes banget jadi anak sekolah menengah atas. Chemistry OTP pun ok punya. Cuma, sebelum film ini, keduanya sama-sama pernah mengambil peran lebih dewasa dan gahar sehingga image itu masih melekat di benak saya.
Siapa yang bisa lupa adegan baku hantam di film The Witch part 2 : The Other One (2022)? Lalu ekspresi tengil dan adegan ngamuk Choo YoungWoo di drakor Mercy For None tahun lalu?
2. Kurang Efek Kejutan
Sebagai film adaptasi yang populer dan cenderung baru, banyak orang yang sudah nonton versi Jepangnya serta masih ingat sebagian besar alur dan jalan cerita. Sehingga tidak ada efek kejutan mengenai gangguan memori SeoYeon dan kepergian JaeWon untuk selamanya.
Perbedaan teknik menampilkan adegan flashback pun tidak sedalam versi Jepang. Di versi Jepang, momen-momen pengulangan (yang memang menjadi motif cerita karena sifat kehilangan memori) tidak dipotong kasar, melainkan sedikit diubah tiap pengulangan sehingga penonton merasakan variasi kecil, sebuah teknik sinematik yang mempertegas tema memori yang terhapus namun terasa berbeda setiap kali. Sementara dalam versi Korea biasanya flashback langsung dari perbedaan sudut pandang (POV).
3. Kurang Kedalaman Emosi
Ini sebenarnya subjektif ya, tapi menurut saya, dengan menghilangkan karakter kakak perempuan tokoh utama pria, membuat kedalaman emosinya kurang dibandingkan versi Jepang. Saat JaeWon berdebat dengan ayahnya terasa datar, tak seintens ketika percakapan itu akhirnya berlangsung tiga arah dengan pengungkapan rahasia si kakak.
![]() |
| Jimin ada teman menangisi JaeWon |
Sama halnya dengan menghilangkan latar belakang keluarga JiMin, Ditambah lagi kehadiran TaeHoon membuatnya punya 'rekan' berbagi kesedihan atas meninggalnya JaeWon jadi ia tak harus menanggung sendiri kesedihannya.
Chemistry trio sahabat Toru-Maori -Izumi lebih kuat berkat percakapan Izumi - Toru yang terbuka (lebih lanjut bisa baca review saya di sini). Membuat tema persahabatan lebih menonjol. Sementara dalam film ini, kehadiran TaeHoon yang kelihatan langsung naksir JiMin, seolah hanya subplot pelengkap dan menambah unsur komedi belaka.
4. Durasi Kurang Panjang
Durasi yang lebih singkat sekitar 20 menitan dari versi Jepang membuat saya merasa tiba-tiba filmnya habis. Hoahaha.
Endingnya sedikit berbeda, tapi saya suka banget dengan kata-kata SeoYoon :
Jika semua orang perlahan-lahan melupakanmu, maka aku akan mencoba mengingatmu pelan tapi pasti.”
Dapat disimpulkan, secara garis besar premis kedua film tetap sama, seorang tokoh perempuan yang kehilangan ingatan jangka pendek bangun setiap hari tanpa ingatan hari sebelumnya, dan tokoh lelaki yang memilih bertahan untuk menjalin hubungan yang harus dimulai ulang setiap hari. Sama-sama membawa pesan penting mengenai keteguhan cinta yang bukan sekadar kenangan bersama, tapi juga komitmen untuk jatuh cinta lagi setiap pagi.
Kesamaan lainnya adalah masih sama-sama belum berhasil menjawab bagaimana SeoYeon mengatasi kehidupan sekolahnya. Malah di versi KorSel ini ruang untuk tidak logisnya lebih luas. Pernyataan cinta yang viral dan ada beberapa adegan teman satu sekolah ngeceng-cengin JaeWon, membuat kemungkinan besar ketika ia meninggal ada satu-dua teman yang menyampaikan rasa berlangsungkawa kepada SooYeon sebagai pacarnya? Apakah Jimin dan TaeHoon yang menghalau semua teman tersebut?
❤❤❤❤❤
Sesuai analisa abal-abil saya sebelumnya, versi Jepang lebih melankolis. Sementara, bisa dibilang versi KorSel adalah versi lebih ringannya namun tetap menggugah perasaan. Surprisingly, keduanya tetap memberikan pengalaman menonton yang on par, meski untuk film ini 8 / 10 poin dari saya.
Jadi, sesuaikan preferensi masing-masing saja. Nonton keduanya lebih baik.
Baca juga :
Review Even If This Love Disappears From The World Tonight Jepang : 7 Alasan Saya Terpikat


.jpg)







Memang benar. Mereka bisa merasakan sensasi jatuh cinta setiap harinya. Cuma, rada gimana ya mengungkapkannya. Effortnya lebih untuk seseorang yang digambarkan memiliki penyakit dan akan mati.
Bagaimanapun kalau udah melihat dua versi yang berbeda-beda pasti bisa menentukan mana yang lebih baik dari berbagai segi penilaian
Saya sendiri sepertinya pengen lihat dulu yang versi Jepang nya nih
Daku nunggu dia main di sesi 2 dr trauma ah, soalnya gereget di situ