" ".

Review Haii Miiko 38 : Gemes Maksimal!

Table of Contents

 

Hai Assalamu'alaikum 

Tahun 2025 sepertinya adalah tahun dimana saya membaca dan menamatkan buku paling sedikit. Penyebabnya gabungan dari alasan yang sementara ini terpikirkan. Antara saya kebanyakan nonton (sebagai pembelaan, nonton bisa disambi --OOT, kayaknya saya tuh emang punya gangguan fokus tapi tak pernah dites oleh profesional jadi tak terdiagnosa-- sementara membaca butuh fokus), aplikasi perpustakaan nasional (ipusnas) sebagai sumber e-book gratis terpercaya sering tak bisa diakses, kegiatan mendampingi anak yang bertambah dan pekerjaan lainnya yang cukup menyita waktu.

Alhasil, walau rasa enggan lebih banyak, saya harus mulai mengembalikan minat baca. Berhubung beberapa buku 'serius' baik fiksi maupun non-fiksi yang saya beli tahun lalu saja belum dibaca, sebagai permulaan tahun ini saya mencoba mengingat kembali mengapa saya suka membaca. Ibarat mengenang kembali kisah cinta pertama gitu deh ya..

Keluarga saya pindah dari Jakarta ke Pekanbaru tahun 1991. Dalam prosesnya, buku-buku masa kecil saya seluruhnya ditinggalkan. Saya tak protes karena meski sudah bisa baca sendiri diusia 3,5 tahun, saya belum merasa terlalu terikat dengan buku-buku yang sebagian besar bergambar tersebut (sekarang nyesal banget, masih terbayang gambar-gambar ilustrasinya yang menggemaskan).

Di Pekanbaru, buku-buku  pertama yang saya miliki adalah komik Doraemon nomor 1 sampai 24. Masih segar dalam ingatan, betapa membuncahnya perasaan saya saat kedua orang tua membelikannya di toko buku dalam Plaza Sanapelan, satu-satunya plaza yang ada di ibukota Provinsi Riau saat itu, menentengnya sendiri sepanjang perjalanan lalu membawanya pulang. 

Sejak saat itu, berlanjutlah hobby saya dan adik mengoleksi komik. Sebisa mungkin kami membeli dengan menyisihkan uang saku sendiri tapi berhubung Pekanbaru belum ada jaringan toko buku terkemuka hingga saya SMA, sebagian komik tetap dibelikan oleh ayah saat dinas ke Jakarta. 

Hingga kini, ratusan komik tersebut tetap tersimpan di rumah orang tua. Setelah pergi kuliah di luar kota pun, saya dan adik sepakat untuk tetap membawa pulang buku-buku yang kami beli lalu disusun di rak buku di rumah. Cita-cita kami agar anak-anak kami kelak bisa merasakan sensasi membaca buku punya Ibu dan Mamanya ketika datang ke rumah Opapa dan Omama. Alhamdulillah, Allah kabulkan.

Salah satu komik yang saya ikuti adalah Kocchimuite, Miiko! / Hai, Miiko!. Lucunya meski komik yang berawal dari  komik berjudul Namaku Miiko ini berkisah tentang anak SD, saya pertama baca pas sudah kuliah. Sebelumnya, saya kurang tertarik karena proporsi tubuhnya yang terlalu kawaii membuat saya mengira kisahnya terlalu kekanakan. Ternyata, saat kakak sahabat saya (sang kakak waktu itu Taruni Akpol, BTW) masih cekikikan baca Miiko barulah saya minat baca dan ternyata memang selucu dan sebagus itu. 

Makanya, saya jadi ikut mengoleksi serial Namaku Miiko lalu lanjut ke Haii Miiko! Senangnya, diawal tahun ini akhirnya terbit edisi ke 38. Saya langsung ikut daftar pre-order di toko buku online langganan.

Judul Buku: Hai, Miiko! Vol 38 - Edisi Khusus

Penulis: Ono Eriko
Penerbit: M&C - PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2026
Jumlah Halaman: 152
ISBN: 786230318740

Sinopsis

Si imut Miiko sekarang sudah SMP. Ia tetap satu sekolah dengan Mari-chan, Yuuko, Kenta dan tentu saja Tappei!

Miiko ikut klub basket dan sebisa mungkin tetap membantu Mari menyelesaikan komiknya. 

Kesibukannya membuatnya menjadi agak berjarak dengan Mamoru -adik lelakinya yang super pintar dan sekarang sudah kelas 6. Begitu pula dengan ayah dan ibunya yang mau tak mau harus siap menerima kenyataan putri kecil mereka sekarang sudah memasuki usia pra-remaja. Bahkan ada seorang anak lelaki yang berani mengajaknya pergi ke Festival Kembang Api bersama-sama.

Apakah pemuda itu Tappei? Atau Yoshida-Kun yang meski berbeda sekolah tapi tetap berhubungan baik dengan Miiko dan Mari-chan di tempat les?

Review 

Senang banget, akhirnya komik Hai, Miiko 38 saya tiba digenggaman dengan selamat. Sayang, meski sudah dilapisi bubble wrap bagian pojok bukunya  agak berkerut, mungkin akibat benturan selama dalam proses pengiriman. Syukurlah bonusnya tidak pecah.

Untung ingat foto dulu setelah merekam video untuk bukti ke ekspedisi kalau isinya bermasalah

Kali ini saya coba menuliskan bebas spoiler kisahnya, apa yang bikin Hai, Miiko 38 berkesan :

Ilustrasi Khas Miiko

Ekspresi wajah Miiko yang super hidup, panel-panel komedi timing-nya pas, plus desain kostum Miiko saat menghadiri festival Obon yang lazim dilakukan di musim panas yang cute abis. Warna cover premium kali ini juga soft dan eye-catching!

Mari di mata Yoshida : tak se-soft and all-rounded saat masih SD

Perkembangan karakternya juga terlihat dari penggambaran para tokohnya yang semakin 'gede'. Komposisi wajah Miiko yang semakin halus menunjukkan fitur kecantikan alamiahnya (sebagaimana ada ilustrasi Miiko dan Mari dilihat dari sudut pandang Yoshida).

Refleksi Masa Kecil Lintas Generasi

Ono Eriko jago banget menjaga vibe komik ini tetap ringan tapi nggak membosankan. Setiap chapter terasa seperti episode pendek yang bikin pengen baca satu chapter lagi, satu chapter lagi… tak terasa, sampai habis hanya dalam hitungan menit! 

Meski berlatar di Jepang, banyak bagian dari Miiko yang membuat kita merasa terkoneksi. Banyak momen manis sekaligus cukup mengharukan yang bisa kita ungkit dengan kemiripan dari kenangan sendiri. Kisahnya yang universal memang mampu  merefleksikan masa kecil lintas generasi. 

Pembaca Dewasa Lebih Related

Bagi pembaca lama, seri Miiko selalu terasa seperti pulang ke rumah. Polanya sederhana: kehidupan keseharian anak SD, humor ringan, konflik kecil dengan penyelesaian yang hangat. Dulu baca Miiko terasa lucu karena lawakannya situasional dan slapstick sekaligus. Namun volume 38 terasa menarik karena, lucunya beda, saya merasa lucu justru karena teringat pernah mengalami hal serupa.

Edisi 38 ini benar-benar terasa bak panduan coming-of-age yang berkisah tentang Miiko menavigasikan dirinya dalam kehidupan keluarga, sekolah, persahabatan dan sesuatu yang mungkin lebih dari itu.

Tidak diulas secara gamblang soal pubertas namun kita semua paham apa yang dialami Miiko khas anak pra-remaja, semua terasa berubah namun sulit didefinisikan. 

Kisah pertemanan antara Miiko dan teman-temannya semakin menegaskan hal itu. Setiap anak memiiki kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda. Sehingga teman tidak selalu satu frekuensi setiap waktu. Mari-chan ingin dibantu oleh Miiko menyelesaikan komiknya tapi disisi lain, Miiko ada kegiatan klub yang membutuhkan komitmennya. Cara mereka menyelesaikan konflik yang timbul tetap menghangatkan hati khas Miiko.

Soal perasaan pun bergeser. Miiko dan Tappei jelas-jelas saling menyukai satu sama lain tapi mereka tidak sama dengan 'kecepatan' Yuko dan Kenta yang telah saling menyatakan perasaannya. 

Puncaknya adalah saat festival kembang Api, akhirnya ada anak lelaki yang mengajak Miiko pergi bersama. Kencan pertama yang seru namun mendebarkan. Setidaknya akhirnya ada progress dalam hubungan yang jadi salah satu benang merah utama Hai, Miiko.

Bonus Premium yang Worth It

Edisi ini datang dengan acrylic key-chain bergambar Miiko dan holder yang bisa dijadikan pajangan lucu. Atau kalau mau pun bisa dijadikan bookmark eksklusif. 

Sepertinya kali ini saya akan jadikan pajangan saja deh. Berhubung hadiah edisi sebelumnya memang rata-rata saya simpan, kecuali bonus volume 37 yang kebetulan pas pindahan saya tak bawa mouse-pad lama dan volume 29 yang dipakai oleh suami saya Hoahaha. Iya, saya ingat bertahun-tahun lalu beliau pinjam (atau minta?) pouch warna-warni itu sebagai tempat menyimpan petty cash uang hobbynya. Alasannya ukurannya yang tipis tapi agak lebar dan warna yang mencolok cocok buat memisahkan uang agar tak tercampur dengan uang lain (kan dulu kerjanya di bank) dan gampang ditemukan diantara berkas lain.

❤❤❤❤❤

Hai Miiko 38 cocok banget buat dibaca pas lagi butuh healing, pengen ketawa setelah capek kerja/kuliah atau mengembalikan minat bacanya seperti saya sendiri. Saya juga merekomendasikan untuk :

  • Penggemar lama series Haii Miiko
  • Pecinta komik shoujo slice-of-life
  • Kolektor Komik yang suka edisi premium + bonus merch
  • Orang tua yang mau kasih bacaan positif buat anak SMP/SD

Menurut saya edisi ini pun tetap cocok untuk pembaca baru, soalnya tanpa penjelasan panjang kita bisa paham dinamikanya dengan mudah. Meski bagi pembaca usia yang lebih kecil ada kemungkinan agak bingung dengan kedalaman emosi para tokohnya (naksir-naksiran, cemburu, dll). Satu-satunya yang kurang banget adalah jumlah halamannya nih. Hoahaha

Yeay.. sekarang semangat membaca saya sudah lumayan kembali, berhubung mau pesan komik lagi membutuhkan waktu pengiriman ke daerah saya yang letaknya agak terpelosok, saatnya saya mempertahankan semangat ini dengan membaca komik di aplikasi baca komik langganan. Semoga tahun 2026 saya lebih semangat membaca lagi ya..


Posting Komentar