Recap dan Review Perfect Crown Episode 3
Recap
Wartawan mengerumuni pintu depan istana, "Apa rumor itu benar?" Adalah mayoritas pertanyaan yang mereka ajukan
Ian yang berdiri di samping pintu penumpang disisi lain perlahan mengamit jemari HuiJoo--yang turun dengan slay--lalu menggenggamnya sembari mereka berjalan bersama dalam hujanan lampu blitz kamera.
Kembali ke percakapan mereka di kediaman pribadi Ian. Sang Pangeran menantang gebrakan calon istrinya itu, "Bagaimana, boleh lihat kemampuanmu?"
HuiJoo (yang masih dalam mode bisnis) langsung menawarkan sumbangan besar bagi istana, tapi menurut Ian mereka perlu membentuk opini publik terlebih dahulu. Istana akan tetap diam
Huijoo terlihat berfikir sebelum berterus terang, tadinya ia sempat khawatir pada Ian.
Strategi mereka untuk langsung masuk ke istana, terbukti menjadi super viral. Kedatangan ini membenarkan rumor yang beredar bagi publik sekaligus menyatakan bentuk perlawanan terbuka dengan Ibu Suri. Ian tak langsung menemuinya--sebagaimana yang diperintahkan di hotel semalam--malah wanita lain dulu. Dan sekarang hari pun sudah gelap.
Dayang Choi menyampaikan pesan Ibu Suri. Tapi Ian masih berupaya menunda dan berjanji besok saja. Dayang Choi bilang Ibu Suri sampai menunda makan malam karena urusan mendesak ini. Ian berpaling pada HuiJoo yang berdiri disebelahnya, "Tunggulah, Aku akan kembali."
"Sendirian?" Nada suaranya yang sedikit bergetar dan matanya yang mengering para dayang seolah mengkhianati sikap tegar sang 'putri' Hoahaha.
Ian membelai rambutnya dan menyelipkan helaian itu dibalik telinga, dengan tatapan intens ia bertanya, "Kau takut?"
"Aniyo." HuiJoo tersenyum
Ian meninggalkannya setelah memintanya tidur duluan kalau lelah.
Huijoo mengamati Ian dari kejauhan dan memuji aktingnya sebagai aktor yang bagus.
Ibu Suri langsung memperingatkan keterlambatannya. Ian membela diri, ia tak mengira sedang dicari. Tapi yang Ibu Suri maksud adalah keterlambatan minta maaf setelah skandal besar. Ibu Suri pun masih menganggap Ian mengajak HuiJoo ke istana demi menyamakan cerita, "Apakah kau berniat membantahnya?"
"Kurasa tidak." Ian menjawab mantap. Ia malah akan mengkonfirmasi pertemuan di hotel dan kemungkinan menikah.
Ibu suri menuduhnya sedang berulah dan air wajahnya langsung berubah saat Ian membahas prospek kehamilan di luar nikah yang kuat berhembus. Ian menyamarkan dalam senyum dingin yang penuh kalkulasi
Saat keluar dari ruangan, Hyeon menyapanya dan melaporkan Ian ditunggu Kantor Urusan Publik. Ian malah mengomelinya tak menjaga balai Ahnwandang dan mengawasi HuiJoo.
Ternyata HuiJoo sedang menemani Raja makan ramyeon. Ia meledeknya yang kepedasan dan menawarkan minuman, tapi beliau menolak dan tak dapat menyembunyikan rasa gembira melihat pamannya.
Ian menghela nafas panjang sebelum berlutut dan bertanya kenapa keponakannya bisa ada di kamarnya selarut ini. HuiJoo menjelaskan bahwa raja sulit tidur dan Ian langsung memotong kalimatnya {HuiJoo langsung bete Hoahaha}.
Raja kecil menjelaskan bahwa itu memang benar dan HuiJoo bilang perut kenyang akan membantunya tidur nyenyak. Ian melirik HuiJoo yang malah manyun membuang muka.
Hyeon memanggil dayang Raja dan beliau menawarkan ke ruangan ibunya tapi Raja hanya menggeleng.
Di ruang duduk, HuiJoo heran kenapa Raja tak boleh menghabiskan ramyeonnya. HuiJoo membantu Ian melepaskan cufflinksnya tanpa diminta dan meletakkannya langsung dalam genggaman pria itu. Ian membuang muka sambil menghela nafas panjang lagi dan mengomel jika ia sakit perut dan ibu suri murka maka semuanya akan menyalahkan HuiJoo. Bagi HuiJoo itu hanya masalah sepele tapi Ian langsung menyampaikan bahwa Ibu Suri sebagai tetua istana menolak mengakui hubungan mereka.
HuiJoo nampak kecewa tapi masih berusaha santai karena hal ini sesuai dugaan mereka. "Namun rasanya tetap tidak enak. Seolah aku dirundung calon mertua. Oh, tunggu sebentar.." Ia ingin tahu Ian di pihak siapa, seandainya ia dan ibu Suri bertengkar. Ian hanya menghela nafas kesal dan berlalu tapi HuiJoo mengejar dan mendesaknya. Dengan permainan kata, ia berasumsi Ian akan membela iBu Suri karena ia adalah suaminya. Lalu tersenyum sinis {Ini lucu banget}.
Ian membalas sentimennya sebelum memberi jawaban yang membuat HuiJoo menengadahkan kepala untuk menatapnya yang lebih tinggi, "Aku akan membelamu. Aku harus tampak sangat tergila-gila padamu agar orang percaya pernikahan konyol ini sungguh nyata." Ian berujar sambil perlahan mendesak HuiiJoo mundur dan bersandar ke meja sambil menahan tatapan matanya. Ian pun tersenyum.
Dayang Choi menolak HuiJoo tidur di Ahnwandang. Ia menawarkan asrama dayang atau kamar lain, tapi Ian menentang dan malah minta carikan pakaian ganti. Saat itulah kepala Huijoo menyembul, ia minta yang 100 persen katun karena kulitnya sensitif dan Ian berusaha menahan senyum melihat kelugasan HuiJoo dan keterkejutan Dayang Choi.
Malam itu, di ranjang yang sama Ian berkali-kali menawarkan sofa pada HuiJoo tapi gadis itu merasa kasur mereka yang dipisahkan tumpukan bantal sudah cukup nyaman. Kalau memang sebagus itu Ian sajalah yang malam ini tidur di sofa. Hoahaha. HuiJoo berbaring dengan damai sebelum Ian mulai menarik selimutnya dan HuiJoo mencoba mempertahankannya. Ian semakin kesal dan HuiJoo pun tak mau mengalah. Perang tarik menarik selimut mereka terdengar oleh para dayang sebagai sesuatu yang lain.
Paginya, Hyeon membangunkan Ian yang masih ketiduran dengan bentakan. Ian refleks menoleh ke arah HuiJoo sambil meraba rambutnya yang berantakan. (Semua selimut dipeluk Ian, Btw Hoahahaha). Hyeon mengabarkan gadis itu sudah pergi kerja, dalam langkah yang ringan pula, tambahnya sambil meniru gerakan HuiJoo Hoahaha.
Di kantor Castle, HyeJeong heran bossnya tak berganti pakaian. HuiJoo jujur Ia bukan tak sempat berganti pakaian, tapi ia tak ingin, sengaja agar semua orang tahu, ia tak pulang semalaman.
Di istana Tuan Inpyeong mengantarkan corndog bagi cucunya. Ia menanyai apakah beliau tidur nyenyak. Ketika raja kecil menggeleng, ia bertanya apakah karena memimpikan ayahnya lagi?
Inpyeong teringat di pagi sebelum pernikahan, Raja YiHwan (yang saat itu masih bergelar putra mahkota), menyuarakan ketakutannya. Inpyeong berusaha meyakinkannya bahwa ia akan mendampingi. Dari teriakan penjaga diluar, mereka menyadari Ian memaksa masuk dan Inpyeong berusaha mencegahnya. Jika raja tahu, maka Ian akan dihukum karena lancang pada putera mahkota.
Ian tak peduli, ia menarik kerah abangnya, "Jelas-jelas kau kuberi kesempatan, mulai sekarang apapun yang terjadi, kau harus menghadapinya sendiri." Sementara sang Putra Mahkota yang terlihat lemah hanya bisa menunduk.
Kembali ke masa kini, Inpyeong berusaha meyakinkan cucunya yang ketakutan bahwa dirinya akan selalu menemani Baginda.
Di ruang kerjanya, Ian menemukan fotonya berdua dengan abangnya dan terlihat murung.
Beda dengan HuiJoo yang menikmati membaca setiap ujaran kebencian online. Ia menimpali semua dengan suara satu dan dua dengan kocak. Intinya, apapun yang disuarakan publik, ia percaya diri dan mereka berdua adalah pasangan yang paling cocok.
HyeJeong melaporkan lima query teratas di internet saat ini adalah tentang dirinya. HuiJoo langsung berambisi, mengingat pakaian yang dipakainya di hotel malam itu sold out, ia minta dipanggilkan PR manajer agar mereka merebut kembali posisi penjualan nomor satu. HyeJeong mengomelinya yang bisa memikirkan hal semacam ini disaat begini. Tapi bagi HuiJoo, ini pernikahan, buka pensiun.
PM Min datang dan para staf heboh membicarakan ketampanannya sampai HyeJeong harus menegur mereka.
Di dalam ruangan, PM Min bertanya tentang kesungguhan HuiJoo menikahi Ian karena mereka kan baru bertemu, tak bisakah mereka sekedar berpacaran? HuiJoo ingin bangun di sisi Ian setiap pagi dan justru Ia harus menikahinya saat ini juga mumpung Oppa-nya ini masih menjabat PM. Mereka butuh persetujuan kabinet dengan bantuan PM Min. Apalagi ada isu keluarga kerajaan akan menjodohkannya dengan wanita bangsawan. PM Min terlihat patah hati dan hanya menunduk {kasihan PM Min masuk friendzone akut}.
Ian sedang rapat membahas pertemuan dengan petinggi militer negara ketika Hyeon terburu-buru melaporkan Ibu suri jatuh sakit. Menurut analisa mereka, hal tiba-tiba ini untuk mencegah pernyataan resmi. Istana tak boleh mengumumkan perayaan saat tetua istana sakit. Ian tampak kesal tapi saat HuiJoo menelpon, suaranya melunak. Ia hanya menjauhkan telepon dari telinganya dan memintanya memelankan suara, saat HuiJoo berteriak lantang "Jaga!'. HuiJoo---yang baru turun dari mobilnya di lapangan parkir kondonya--kesal artikel mereka diturunkan berkat intervensi Ibu Suri. Pembicaraan mereka terhenti kala kepala HuiJoo dilempari telur. Ian mendengar keributan itu tapi HuiJoo segera memutuskan sambungannya.
Belum sempat Ian beraksi, Hyeon membawa berkas pekerjaan, sebagian yang menumpuk ketika Ia cuti dan dua tumpukan lain atas nama Baginda dan Ibu Suri yang sedang berhalangan. Ian sampai lunglai menempelkan kepalanya ke meja kerja.
HuiJoo menceramahi para perundungnya yang masih bersekolah. Ternyata mereka penerima beasiswa pangeran Ian. Berani-beraninya mereka memanggilnya rubah dan menuduhnya memikat sang pangeran dengan cara licik. (Ini tempramen asli HuiJoo keluar). HuiJoo memarahi mereka dan mengakui, ia bisa saja melaporkan mereka pada pihak berwajib namun saat ini ia--alias kakak perempuan mereka--sedang punya pekerjaan penting. Ia membentak mereka yang ketakutan tapi tetap menyuruh mereka pergi saja.
PM Min ikut misa di gereja. Ia berdoa minta ampun lalu menemui pendeta. Ia jujur ada temannya yang akan menikah jadi ia datang berdoa. Sang pendeta memuji keberuntungan temannya yang sampai didoakan khusus oleh beliau namun PM Min jujur ia mendoakan hal yang berdosa, ia tak ingin mengucapkan selamat padanya namun ia tak ingin menghentikannya. Ian tetingat di masa sekolah, ia menyaksikan HuiJoo dengan menggeledah loker dan meja Ryu MinSeok demi mencari kunci lapangan latihan memanah. Ia mengaku jika hal itu yang diinginkan HuiJoo, maka Ia harus membiarkannya. Dulu pun JeongWoo sampai mengalihkan perhatian guru demi keberhasilan HuiJoo.
Huijoo masih mengomel tentang para stalker ketika di depan Kondo ia melihat ayahnya menanti. Ia berusaha menwarkan sesuatu namun pria itu bergeming bahkan ketika HuiJoo mencoba menjelaskan tentang skandal, beliau langsung memotong. Ia merasa yakin itu cuma akal-akalan murahan untuk mencari perhatian.
Huijoo ingin tahu tujuan ayahnya datang dan beliau mengingatkan bahwa sebentar lagi hari peringatan kematian Ibu TaeJoo. Beberapa tahun yang lalu, HuiJoo datang, diam di depan rumah berjam-jam tanpa bicara. Setelah diajak masuk, Ibu TaeJoo yang membelanya bertanya siapakah dirinya alih-alih melapor ke polisi sebagaimana saran suaminya.
"Aku adalah putri Lee Jooyeon. Kau ayahku." Tunjuknya ke arah sang ayah. Ibu TaeJoo langsung pingsan (dan meninggal!! Apa memang punya lemah jantung?). Bagi mereka sejak sepeninggal istrinya, kehidupannya jadi merosot. Ia mengungkit keserakahan HuiJoo selalu minta hal yang sama dengan TaeJoo (dimulai dari sepeda saat kanak-kanak, gedung saat remaja sampai minta ayahnya mengganti surat wasiatnya).
Ayahnya mengancam akan membuangnya jika Ia mengusik perusahaan. Pertengkaran memuncak, saat HuiJoo memanggil ayahnya dengan namanya dan bertepuk tangan atas nama TaeJoo. Abangnya akan menang karena ayahnya selalu main curang, tak pernah bermain fair dengannya. Jadi Ia mengucapkan selamat sekaligus ancaman, tak semuanya akan berjalan sesuai keinginan ayahnya.
Setelah mandi, dalam jubah tidurnya HuiJoo minum sendiri dan mengingat dari sudut pandangnya. Ia selalu berusaha menunjukkan prestasinya pada sang ayah, dari rapor, penghargaan sekolah sampai laporan kenaikan harga saham perusahaan ketika dewasa. Tapi ayahnya cuek kecuali pada saat ia mulai minta hadiah (bagian yang diingat ayahnya). Lamunannya buyar, Ia mengangkat telepon Ian dan meminta maaf tadi memutuskan telfonnya.
"Kau baik-baik saja? Apa kau baik-baik saja?" Ian terdengar khawatir.
Huijoo berjanji akan menghubunginya keesokan hari karena ia sedang sibuk lalu memutuskan telepon. Ian hanya menatap layar ponselnya yang bernama "adik tingkat."
HuiJoo mengingat semua dari sudut pandangnya dan merasa terluka. Lamunannya buyar karena deringan bel. Ia mengambil tongkat baseball yang terpajang di foyer menuju pintu depan. Ketika membuka pintu matanya melebar melihat Ian lah yang datang. Pria itu berkilauan, meninggalkan tumpukan pekerjaan dan Hyeon yang panik dan kesal.
HuiJoo membombardirnya dengan banyak pertanyaan, apakah ada yang melihat? Kenapa dia ada disini dan apakah ia datang sendirian? Mana Hyeon? Ian malah bertanya balik tentang tongkat baseball yang digenggamnya. HuiJoo berusaha menyembunyikannya dan mengaku musuhnya terlalu banyak. Ian langsung masuk meski tak dipersilahkan.
HuiJoo lebih takjub Ian membeli semuanya sendirian. Benar saja, kedatangannya membuat pegawai Subway syok berat. Ian malah bercerita ada paket laris yang diberi nama Seong HuiJoo merayu Ian Daegun. HuiJoo tertawa lepas dan menular ke Ian, mereka cekikikan bareng.
Ian berterus terang, ia datang karena HuiJoo terdengar murung, tapi setelah melihatnya makan, ia baik-baik saja.
HuiJoo tersenyum kesal. Ia memang baik-baik saja setelah seharian dipermalukan secara online, ayahnya mengancam akan membuangnya dan bahkan Ia dilempari telur mentah oleh fansnya. Nada dan gaya curhatnya lucu banget, tapi yang jadi perhatian Ian hanya apakah HuiJoo terluka. Pertanyaan itu kembali menyerang sudut hati terdalam HuiJoo.
Di kamarnya, Ibu Suri melihat foto-foto HuiJoo saat acara dan memutuskan harus dilakukan penyelidikan secara menyeluruh tentang kebakaran di aula istana saat peringatan hari ulang tahun raja. Ia segera menghubungi seseorang.
❤
Staf kediaman pribadi Ian heboh menyambut kedatangan HuiJoo yang akan tinggal untuk sementara. Ia membawa beberapa koper. (Tetap ada signature color-nya HuiJoo merah membara).
Ian mengumumkan bahwa HuiJoo akan tinggal sementara di kediaman pribadinya. Ia khawatir karena gadis ini telah menerima perhatian yang tidak perlu.
Stafnya saling sikut ketika HuiJoo berpose centil menggamit dan bersembunyi di belakang Ian. Pangeran memperingatkan bahwa posisinya terlalu dekat tapi HuiJoo semakin mendekatkan wajahnya.
Staf Ian, pengurus Kim YeongMoon (Lee SiHoon) meminta HuiJoo menganggap seperti di rumah sendiri kala menunjukkan kamarnya. HuiJoo bertanya sopan bagai mana Ia harus memanggil sang staf dan sebagai gantinya ia menganjurkan kartu nanamnya. Sebenernya HuiJoo lebih suka dipanggil Nona Seong atau Depyo-nim, tapi karena mereka bukan pegawainya, ia membolehkan dipanggil nama saja. Maka ia memutuskan memanggilnya Nona Muda. Ia pun pamit setelah berjanji akan mengantar HuiJoo berkeliling properti keesokan harinya.
HuiJoo berbaring dikasur sambil tak percaya bahwa semalam Ia menginap di istana dan malam ini di kediaman pribadi Ian. Sang Pangeran menelpon, bertanya apakah Ia menyukai kamarnya. Huijoo mengiyakan dan merasa di set syuting saeguk Hoahaha. HuiJoo menawarkan bantuan pada Ian yang masih bekerja.
Jadi saat AhReum memata-matai kamarnya dengan berpura-pura membawa minuman. Kamarnya kosong.
HuiJoo membalik lembaran pekerjaan Ian dengan bosan. Akhirnya Ia protes jika tinggal disini jauh sekali dari kantor. Lagipula Ia biasa mandiri, tinggal dengan banyak staf terasa merepotkan. Ian tetap sibuk menulis dan hanya meliriknya sekilas sebelum menjawab, bukankah akan lebih janggal jika Ia membiarkan HuiJoo dalam Bahaya padahal katanya sedang tergila-gila.
"Okay." HuiJoo masih sempat mendecakkan lidahnya.
Huijoo masih ingin bertanya, Ian kesal karena janjinya kan mau bantuin. Tapi HuiJoo bilang mau bagaimana lagi, ia sama sekali tak paham ritual leluhur kerajaan. Toh acara keluarganya sendiri saja ia tak pernah datang. Ian akhirnya meletakan pekerjaannya dan langsung menembak apa yang ingin HuiJoo ketahui.
Gadis itu bertanya kenapa Ian menikahinya? Pria itu tersenyum geli, kenapa baru tanya sekarang, bukannya sudah agak terlambat gitu. Tapi HuiJoo tetap penasaran karena baru kemarin diputuskan.
Ian menjawab praktis, alasan terpenting adalah HuiJoo salah satu yang terkaya di negeri ini. Itu akan membantu keluarga kerajaan yang selalu diserang menghabiskan uang rakyat.
HuiJoo memutar bola matanya dan menghela napas kesal sambil berseloroh alasan yang sungguh mulia. Tapi rupanya ada yang kedua, yaitu kecantikan. HuiJoo menyindir "Aa. Jadi yang itu kena juga?!" Seolah tak peduli tapi mulai merapikan rambutnya. Hoahaha
"Ketiga..
"Apalagi? Karena keluarga ku tak ikut campur?" Ia berusaha menebak dengan nada sinis.
"Jika kukatakan ingin naik takhta.. semua orang akan mencela dan melempar hinaan. Tapi aku yakin kau akan memahamiku." Ian menatap HuiJoo tajam.
(Iringan musik megah dan close up wajah keduanya membuat kata-kata yang menggantung diudara itu semaki tajam meresap).
Keesokan paginya Ibu Suri diberitahukan jadwalnya untuk menghadiri Jamuan Dalam serta diminta kriteria tamu undangan. Tiba-tiba ia membatalkannya meski telah berpakaian rapi, setelah menerima sepucuk pesan di ponselnya. Ia menekankan tak akan ada masalah karena ia kan sedang tidak sehat.
Di penginapan pribadi Ian, sekumpulan pria berpakaian resmi menerobos masuk. Kim YeoungSun (Jung JiAhn) yang mencoba menghalangi didorong paksa. Sementara Pengurus Kim berusaha membangunkan HuiJoo yang masih terlelap.
Pengurus Kim mencoba menghadapi mereka tapi HuiJoo langsung menggesernya ke tepi dan menghadapi langsung pemimpinnya, Tuan Jung. Menurut mereka, HuiJoo harus bekerja sama dalam penyelidikan kebakaran Junghwajeon di hari ultah Baginda.
HuiJoo tak serta merta mau bekerja sama, meski disodorkan bukti foto dirinya berjalan ke area terlarang di istana dan catatan ujaran kebencian online menyasar sistem kerajaan bertahun-tahun yang lalu.
HuiJoo teringat saat itu sedang bersama Ian, jadi ia minta surat perintah. Tapi berdasarkan undang-undang khusus tersangka kasus kerajaan bisa diselidiki lebih dulu dan mereka langsung menyita semua barang pribadi HuIjoo. Termasuk di kantor Castle yang membuat panik para staf dan HyeJeong.
HuiJoo dijaga ketat saat ke toilet, tapi berkat kerjasama para staf, pengurus Kim bisa masuk sambil membawakan makanan dan berusaha menyuapinya. HuiJoo menolak karena ia sedang sibuk menghubungi Ian. Menurut pengurus Kim tak mungkin diangkat karena ponsel dilarang selama ritual leluhur. HuiJoo memerintahkan HyeJeong berlari ke kuil Jongmyo tempat Ian dan raja melakukan prosesi.
Pengurus Kim tak yakin bisa masuk karena rakyat sipil dilarang masuk. HuiJoo mendapat aha momen dan keluar dengan bergaya. Ia memakai kaca mata hitam dan berlagak tegar tapi saat semua pria berbaju hitam dari unit perlindungan istana tak melihat, ia berbalik panik sambil menghadap para staf Ian yang sama paniknya tapi tak bisa berbuat apapun.
Di pintu kuil Jongmyo, Do-biseo dihalangi masuk sampai Pengurus Kim datang dengan skuter. Ia menunjukkan Hopae Daegun Jaga. Rupanya dalam kilas balik terungkap HuiJoo menyimpannya di dalam saluran air toilet. Pengurus Kim sampai menjerit terkejut kala HuiJoo dengan mantap meletakkannya di genggamannya dan menyemangati agar ia bergegas ke kuil mencari Ian.
HyeJeong berlarian sambil mengomel menuntut bonus super banyak. Sementara prosesi adat terus berlangsung. Ian berada di tengah lapangan tepat dibelakang Raja kecil. HyeJeong melihat Hyeon dan mendapat ide, ia masuk sambil menyamar sebagai Kasim. Hoahaha. (Makanya asisten HuiJoo ini stylenya androginy ya).
HuiJoo tiba di istana dan berusaha mengulur waktu. Ia sangat panik sekaligus lega melihat Ian datang bersama Hyeon dan HyeJeong (raja yang melanjutkan memimpin upacara). Ian langsung menegur Tuan Jung membawa HuiJoo tanpa seijin raja atau dirinya.
"Aku yang mengizinkan." Ibu Suri datang dengan para abdi dan dayang setianya.
Alasannya karena HuiJoo jadi tersangka utama pembakaran dan berisiko kabur atau memusnahkan barang bukti.
Ian langsung meminta bukti kongkret. Ibu Suri menjabarkan kesalahan HuiJoo memakai baju berwarna merah, mengancam tamu lain dengan pecahan gelas dan memasuki daerah terlarang. Menurut ibu suri itu cukup untuk mencoreng reputasinya atau perusahaannya.
HuiJoo langsung bereaksi mendengar hal tersebut dan mau bicara sendiri tapi Ian menghalanginya dengan tangannya. "Kalau begitu interogasi aku juga. Semua keadaan yang membuatnya dicurangi juga berlaku padaku." (Ya dia pakai Cheolik itu sih)
"Apa kau percaya diri?" Kakak iparnya bertanya dengan nada menusuk
"Aku yang penasaran, apa kau percaya diri?" Ian tetap menjawab dengan tenang.
Saat showdown tatapan semakin intens, Hyeon mengode HyeJeong untuk menendang lutut dalam HuiJoo yang berada didepannya. Gadis itu pun terduduk sambil mengaduh dan dengan dramatis HyeJeong memanggil atasannya sambil memberi kode pada Ian. Pangeran Agung dengan sigap menggendong HuiJoo dan memerintahkan stafnya memanggil dokter.
"Ian!" Tegur ibu suri
"Silahkan datang ke Balai Ahnwandang untuk interogasi."
Hyeon dan HyeJeong cepat mengikuti langkah sang pangeran, meninggalkan ibu suri yang tampak sangat marah.
Di kamarnya, Ian melempar HuiJoo ke kasur. Saat gadis itu masih pura-pura pingsan, ia menjentik jidatnya menyuruhnya membuka mata.
"Whoah! Kita menang telak." HuiJoo malah bertepuk tangan.
"Menang telak apanya?" Ian mengomelinya yang mau datang ke istana. Huijoo tak bisa mengelak karena pada dasarnya ia diseret kemari.
"Jadi, apa aku akan dipenjara?"
"Itu membuatmu takut?" Nada Ian seolah mencemoohnya.
"Aku? Aku Seong HuiJoo dari Castle Grup! Penyelidikan kejaksaan dan penggeledahan bisa dibilang adalah agenda tahunan." Ia beralasan sedang memikirkan firma hukum mana yang akan dipakai kali ini.
Ian malah makin heran, itu bukan hal yang harusnya bisa dibanggakan. Hoahaha.
Untuk saat ini, Ian yakin Ibu Suri tak akan menyulitkan HuiJoo lagi, Ia tahu mengejar HuiJoo artinya akan menyeretnya juga dan cuma akan memperkeruh keadaan.
HuiJoo senang, menurutnya tadi adalah pertunjukan yang hebat. Ibu Suri mengancam reputasinya dan Ian maju membelanya. Ian tertawa sinis, Ian minta HuiJoo bangun dari mimpinya. Abdi istana tak membocorkan urusan istana.
Huijoo malah balas tertawa lebih sinis, bagaimana mungkin Ian percaya hal semacam itu. Konon, mulut adalah gerbang bencana dan lidah adalah pisau yang menyayat, ujarnya sambil membuat gesture mengancam Ian dengan kacamata hitamnya..
Benar saja, nyaris seluruh istana menggosipkan mereka (menjadikan drama Makjang kalau istilah HuIjoo yang tersenyum puas. Hoahaha). Para abdi kerajaan yakin ini adalah cinta sejati.
Ibu Suri sampai mengamuk kesal dan memecahkan vas bunga menyadari gosip yang semakin beredar luas. Dayangnya yang datang terburu-buru, langsung dicecar pertanyaan, apakah Ian dan HuiJoo pasangan nyata.
❤
HuiJoo akan meninggalkan istana dan mengajak Ian pulang bersama. Tapi Ian mengode bahwa Hyeon akan membunuhnya jika ia pulang sekarang. Huijoo berpesan agar Ian jangan begadang dan memberinya izin menelpon jika ia sudah tidur.
Ian menghalau staf dengan tangannya dan membukakan pintu sendiri untuk HuiJoo, yang terlihat terhibur. Ian berbisik semakin banyak gosip maka semakin baik dan HuiJoo mengedipkan persetujuannya.
HuiJoo pun pulang ke kediaman diiringi musik tradisional yang lucu. Sempat-sempatnya Ia berpose. Para staf segera mengerubunginya dengan tawa gembira. Mereka pun cemas akan keselamatan Ian. HuiJoo justru memberi toss terimakasih pada Pengurus Kim dan memuji bantuan besarnya. Mereka semua pun bertepuk tangan gembira.
Malamnya HuiJoo teringat saat Ian menggendongnya dan tersenyum. Panjang umur, sang Pangeran menelponnya. Huijoo mengajaknya bercanda dan langsung curhat, sengaja tak makan demi terlihat tirus dan dianggap korban. Ian cuma nyengir dan berjanji mulai besok pengawal akan menjaganya. Huijoo heran, apakah hal itu diizinkan toh mereka belum menikah. Ian membenarkan dan HuiJoo paham ini bagian dari skenario sikap pangeran yang tergila-gila padanya.
Huijoo tiba-tiba dapat ide akan melakukan satu hal gila juga.
Ternyata mereka bertemu di bagian belakang istana. (HuiJoo datang naik mobil Ian). Mereka saling tersenyum, tak percaya mereka. Nekat melakukan aksi segila ini demi dikira tergila-gila satu sama lain. HuiJoo membawakan Ian teh herbal (yang menurutnya sangat mahal) dan suplemen magnesium untuk membantunya tidur. Ian protes, ia tak pernah minta bantuan tapi langsung dipotong HuiJoo dengan Oho dan nada yang sama yang dipakai Ian saat mereka saling berebut selimut.
Huijoo sangat berpuas diri, ia bangga berperan dengan baik sebagai istri yang supportif. Tatapan Ian melembut dan ia menangkap wajah HuiJoo dan mengecupnya mesra.
Epilogue
Di ruang duduk Ian, saat pertama kali mereka datang ke istana, setelah Ian mengakui bahwa Ia harus terlihat tergila-gila pada HuiJoo agar pernikahan konyol ini terlihat nyata.
Ian mengambil Hopae dan menyerahkannya pada HuiJoo, "Pakailah jika kau membutuhkan gelar atau merasa takut.'
"Jika kuayunkan begini apakah akan memanggil naga atau semacamnya?" Tanah HuiJoo sambil mengamati ukiran naga dan identitas Ian di atas bilah yang terbuat dari gading tersebut.
Ian kembali mendekatkan wajahnya sampai sangat dekat, "Itu akan memanggilku." Senyum Ian mengembang sempurna.
Review
What a fun ride episode.
Banyak banget yang saya notice dan sukai di episode ini
1. OTP Makin Terlihat Sekufu
Senyum Ian bergeser dari senyum kesopanan penuh perhitungan atau senyum menahan kekesalan atas ke-annoying-an HuiJoo ke arah senyumnya adalah senyum amusing alias merasa terhibur dengan segala sikap eksentrik HuiJoo.
Jadi, satu lagi kesamaan mereka : They match each other's freakiness. Contoh nyata ya adegan rebutan selimut yang seru banget itu. Ian yang aslinya jahil (hanya kepada orang yang benar-benar dia percaya seperti Hyeon), mulai melihat HuiJoo sama suka isengnya. Semoga perlahan Ian semakin terbuka dan semakin sering menunjukkan sikap dan sifat aslinya, misalnya pas memberikan Hopae.
2. Hubungan Ian dan HuiJoo yang Makin Genuin
Terlepas 3 teori alias dugaan perasaan Ian terhadap HuiJoo yang saya bahas di episode kemarin, secara objektif, saya sebagai penonton merasa hubungan mereka cukup sehat. Memang Ian melabeli segala tindakannya sebagai bentuk sandiwara bahwa Ia sedang tergila-gila. Tapii komunikasi diantara mereka berdua cukup baik. Setiap hubungan telepon mereka terasa hangat, jujur dan bikin hati berdebar melihat mereka saling tersenyum satu sama lain.
Apalagi saat Ia datang--meski ini pun bagian dari iklan sandwich--hanya karena mendengar suara HuiJoo berbeda dari biasanya. Ini keren banget lho, tak semua pria sepeka ini. Lalu puncaknya saat Ian memberikan Hopae-nya. Ini bentuk kepercayaan yang luar biasa. Ian pun menepati janjinya, jika HuiJoo menunjukkan Hopae-nya maka Ian akan datang.
Sebaliknya, HuiJoo pun mulai memperhatikan Ian terutama masalah sulit tidurnya. HuiJoo juga langsung akrab dengan keponakan Ian. Menemaninya makan ramyeon kala sang raja bilang sulit tidur. Gesturenya membantu membuka cufflink Ian tanpa diminta hanya karena Ia sadar Ian tak bisa membukanya sendiri itu dipuji luas di sosmed sebagai husband and wife code. Gesture mereka terlalu domestik. Dan kejadian-kejadian kecil ini memberi nuansa yang lebih dalam dibandingkan adegan mereka yang menghebohkan seperti berciuman di halaman belakang Istana..
Jangan salah, saya suka banget ciuman manis itu tapi tetap saja adegan kebersamaan keduanya yang tersembunyi justru lebih menampakkan chemistry alamiah.
3. Duo Asisten Makin Kompak
Saya baru notice bahwa Lee Yeon dan Yoo SooBin juga dituliskan di montase pembuka. Artinya mereka juga top billing aktris dan aktor, setara atau dibawah sedikit dari Noh SangHyun dan Gong SeungYeon.
Di episode ini kekompakan keduanya akhirnya mulai terlihat kala kerjasama mereka berhasil menyelamatkan HuiJoo dari interogasi istana.
4. Persahabatan HuiJoo dan Para Staf di kediaman Ian
Ngomongin soal interogasi di istana, para staf Ian, selain Hyeon menunjukkan loyalitas pada HuiJoo. Mereka langsung memuja Nona Muda baru mereka sejak pertama kali HuiJoo datang dan berpose bak cegil dibelakang Ian.
Mungkin mereka suka melihat senyum tulus Ian atau memang ya mereka nyambung saja dengan vibes gila HuiJoo. Ia yang terkenal galak banget sama bawahannya, bersikap sopan, santai dan hangat dengan staf Ian. Meski mengaku tak biasa dilayani (di rumahnya saja HuiJoo tinggal sendiri. Ya paling adalah jasa beberes rumah), ia tak keberatan dipanggil nama langsungnya oleh Pengurus Kim.
6. Komedinya Meme-able
Banyak banget adegan yang bisa dijadikan meme. Kepanikan HuiJoo kearah para staf dan sebaliknya gaya luar biasanya kala kembali dari istana itu GIF Meme-able banget. Lucunya masih bikin ngikik. Puncaknya adalah adegan pura-pura pingsan HuiJoo saat berhadapan dengan ibu suri
7. Pertentangan Politik Makin Jelas
Saatnya membahas poin yang sebenarnya agak malas saya bahas sejak semula : politik istana.
Mari kita bedah setajam silet #eh🤣
Ga sih, biasalah ini analisa abal-abil saya saja.
Yi Hwan baru memerintah selama empat tahun sebelum meninggal, artinya Ibu Suri pun hanya berpengalaman sebagai ratu dalan kurun waktu yang sama. Saat itu Raja YiYoon usianya masih sangat muda (sekitar lima tahun) Makanya, Ian tetap menjadi Grand Prince sekaligus King Regent.
Biasanya jabatan ini diemban Ibu Suri selaku ibunda raja. Kenapa tetap Ian? Ya, selain Ibu Suri masih muda dan minim pengalaman, seperti yang berkali-kali ditegaskan, Ian sangat dicintai rakyat dan didukung politikus maupun lingkar aristokrat kerajaan.
Makanya Ibu Suri dan ayahnya, tuan Inpyeong khawatir, dukungan terhadap Ian akan semakin membesar dan membuat posisi raja kecil terancam (padahal Ian sangat sayang, karena ia bisa menemukan bagian diri abangnya di keponakannya itu).
Ungkapan Ian kepada HuiJoo yang jujur ingin naik tahta bagi saya bukan didasarkan pada keinginannya makar, lebih keinginannya melindungi keponakannya --setelah ia gagal melindungi abangnya meski sudah memperingatkannya tepat sebelum pernikahan dengan Ibu Suri terjadi.
Jika Ian jadi raja, ia punya opsi mengubah bentuk negara menjadi republik sebagaimana yang terjadi di KorSel (walau sebenarnya lebih kompleks melibatkan pergantian wangsa dan penjajahan Jepang, silahkan baca sendiri literaturnya atau nonton versi fiktif di Mr SunShine (2018)). Hal ini berarti menghapuskan juga sistem kebangsawanan dan kasta yang tak kasat mata tapi terasa sekali dalam aspek kehidupan.
Sebagai penambah bumbu konflik ada rilis resmi yang mengangkat latar belakang Ibu Suri, di masa sekolah memang menyukai Ian. Jadi, ketika suaminya (YiHwan) mau mundur dari takhta, Ia sangat marah dan terluka.. Sia-sia saja Ia memilih si Abang dan mengorbankan perasaannya. {Ini mirip dengan versi Ibu Yool di Princess Hours, dia menikahi abangnya yang sempat menjadi raja, namun karena raja meninggal saat Yool masih sangat muda, si adik tetap naik takhta dan posisi Putra Mahkota pun berganti ke anak dari putra kedua yaitu Shin. Tapi saya kuranh setuju kalau ada yang menyamakan dengan tokoh utamanya karena terasa koq beda banget vibesnya}.
Setelah dua kali konfrontasi tentang HuiJoo--pertama mereka hanya empat mata dan Ian 'berjanji' tidak ada aksi nikah karena kehamilan duluan--dan yang kedua secara terbuka, sekarang konflik Ian dan Ibu Suri sudah terang-terangan. Ian tak mau menikahi wanita pilihan beliau, malah memacari HuiJoo dengan latar belakangnya. Ibu Suri masih curiga hubungan ini juga penuh kepalsuan, namun gosip terlanjur beredar luas terutama dikalangan dalam istana.
Ian dan HuiJoo memang saling mencintai.
Ngomongin soal cinta, perasaan PM Min makin jelas setelah percakapannya dengan pendeta. Ia tak masalah hanya dianggap teman oleh HuiJoo, karena selama ini gadis itu pun tak menunjukkan gelagat mau menikah. PM Min menganggap santai hubungannya dengan mantan pacar HuiJoo terdahulu karena sepakat pacaran dan ia tahu HuiJoo gila kerja. Baru kali ini ia mendengar permohonan HuiJoo untuk mendukung pernikahannya dalam parlemen. PM Min pasti menyesal, tapi ia sendiri tak pernah mendekati HuiJoo secara personal karena ia pun terikat aturan kebangsawanan. Latar belakang HuiJoo pun cukup berat dimasa Ia masih berjuang mencari dukungan rakyat baik sebelum maupun sesudah menjabat PM (belum lagi penolakan keluarga bangsawannya).
Tapi dengan permintaan khusus HuiJoo agar sang Oppa menantunya menikah, dilemanya makin besar. Di satu sisi, Ian pernah memintanya memveto rencana pernikahannya namun disisi lain, PM Min pun tak mau menjadi orang yang berkata tidak pada HuiJoo.
Jawabannya akan lebih jelas di episode berikutnya. So stay tune ya













.jpg)




































Posting Komentar