Review If Only You Were Not The One : Suka Cita, Duka Lara HTS-an
Saya nonton J-drama lumayan diawal 2026 ini tapiii yang tergerak di review cuma Gimbap and Onigiri, selebihnya enggak Hoahaha.
Terus Maret-Mei ini sibuk di dunia nyata dan K-drama. April saya hanya sempat menamatkan satu dorama dan gatel banget pengen di review karena apaaa?? Pengen yapping Hoahaha. Eh, sebenarnya bukan yapping yang gimana-gimana juga sih, masih standar jugalah.
Jujurly, awal nonton karena saya suka poster promonya yang kebetulan waktu tayang di aplikasi Rakuten Viki dipasang di halaman utama. Kesannya romantis banget dan cowoknya kayak yang sayang banget sama ceweknya. Jadi tanpa membaca sinopsis di aplikasi sekali pun saya langsung nonton dan ternyata..
Sinopsis
Mihono Onuma (Hina Higuchi alumni Nogizaka 46) adalah perempuan 30 tahun yang bekerja di divisi akuntansi sebuah agen perjalanan. Menjelang dan di hari ulang tahunnya yang ke-30, dua hal terjadi bersamaan: dia baru saja putus dari pacar yang sudah berjalan selama enam tahun-- seseorang yang pernah dia bayangkan untuk dijadikan suami--dan seorang laki-laki baru masuk ke kantornya sebagai karyawan pindahan pertengahan tahun.
Laki-laki dengan senyum sejuta dolar itu adalah Eisei Ureshino (Masashi Ikeda). Sepuluh tahun lalu, di saat keduanya masih memiliki pasangan masing-masing, Miho dan Eisei pernah terlibat dalam hubungan intim yang tidak pernah tuntas definisinya. Mereka bukan pacaran, bukan sekadar teman, tapi juga tidak bisa disebut affair biasa. Kisah yang tergantung di awang-awang, lalu tiba-tiba muncul kembali.
Miho mencoba tetap cool dan menyapa sebagaimana rekan kerja yang baru berkenalan namun ia tak bisa menyembunyikan kecerobohannya. Ketika menolongnya merapikan berkas yang berserakan, dengan bisikan maut Eisei langsung memanggilnya dengan nama panggilan akrab diantara mereka : Miporin! (Dari kata Miho + suffiks rin yang menandakan keakraban lalu agar lebih imut jadi Miporin).
Eisei mendekati Miho dengan harapan kembali merajut kembali romansa lama meski pada saat yang bersamaan ada seorang rekan sekantor yang mulai mengajak Miho makan malam bersama agar saling mengenal, Makoto Kusaka (Naoya Kusakawa). Di sisi lain ada seorang rekan sekantor Yuri Yoshiki (Yuna Mito) yang langsung mengejar Eisei. Kepada siapakah hati Miho berlabuh? Apakah pada akhirnya hubungan berlanjut?
Review
Setelah nonton dua episode saya baru ngeh :
1. Jam Tayang Aslinya Lewat Tengah Malam
Di Jepang ada slot tayangan yang tayang jam 25.29, artinya berlanjut ke keesokan hari pukul 01.29. Dalam sistem penomoran hari Jepang yang menganggap tengah malam sebagai kelanjutan hari yang sama, ini berarti pukul 1:29 dini hari Jumat.
Slot tengah malam di stasiun seperti MBS bukan slot buangan. Ini adalah slot untuk drama yang tidak bisa atau tidak mau tayang di waktu primetime karena kontennya terlalu jujur, terlalu dewasa, terlalu tidak nyaman bagi penonton umum. Drama yang tayang di sini tidak perlu berpura-pura. Tidak ada sensor jadi tidak ada tekanan untuk bermain aman dan ending yang bersih agar tidak kontroversial
Jam tayang ini tanpa harus banyak mencari spoiler atau informasi pun seharunya sudah membuat kita paham kalau akan banyak adegan dewasa.
Hampir setiap episode penuh adegan ciuman panas sebagai foreplay menuju adegan intim. Tapii jika dikaitkan dengan jalannya cerita, sebenarnya tidak terlalu signifikan juga sih menurut saya. Intinya cukup dijelaskan bahwa mereka ini friends with benefits yang sebenarnya cocok banget jadi pasangan normal, karena chemistry mereka melimpah bukan hanya urusan ranjang (more on this latter).
2. Bersumber dari Manga
Dorama ini diadaptasikan dari manga berjudul sama. Saya ga pernah baca sih, tapi dari covernya thirst trap gini, memang menyasar pembaca dewasa.
Saya akhirnya cari tahu lagi dan mendapatkan info lebih lengkap. Tayang perdana di majalah komik Flower terbitan Shogakukan (salah satu penerbit terbesar di Jepang, yang sering baca manga pasti akrab sama Shonen atau Ciao).
Flower sendiri memang memiliki pangsa pasar yang menyasar wanita usia > 25 tahun. Bukan shojo (remaja), bukan josei umum, tapi segmen yang sangat spesifik: perempuan yang sudah cukup dewasa untuk merasakan kompleksitas hubungan, tapi masih cukup muda untuk terjebak di dalamnya.
Manga ini tidak ditulis untuk sekedar menghibur melainkan mewujudkan kata-kata bagi perasaan yang tidak bisa diungkapkan pembacanya dalam kehidupan nyata. Adaptasi drama dari sumber seperti ini hampir selalu lebih dalam dari yang terlihat di permukaan, karena ada kontrak emosional antara cerita dan pembacanya yang harus dihormati.
Pengarangnya Mizuno Ai secara sadar merancang cerita ini sebagai panduan "jangan ditiru" bagi perempuan dewasa yang terjebak dalam situasi hubungan tanpa status yang serupa.
Lanjut ke kenapa saya sampai merasa perlu membuat review-nya, karena setelah saya gali lebih dalam, keresahan saya selama menonton menjadi terjawab dan sayang kalau saya gatekeep sendirian :
1. Casting Penuh Strategi
Kalau menggemari dunia idol Jepang, nama Hina Higuchi bukan nama asing. Dia adalah anggota generasi pertama Nogizaka46 sejak 2011. Saingan AKB48 ini dikenal sebagai grup idola yang dikenal dengan imej bersih, lembut, dan kawaii. Selama lebih dari sebelas tahun dia adalah wajah kesucian budaya idol Jepang, seorang model eksklusif majalah JJ, sosok yang dijaga dengan hati-hati dari kontroversi apapun.
Lalu tiba-tiba, di usia 28 tahun, setelah lulus dari Nogizaka46 pada Oktober 2022, dia muncul sebagai perempuan 30 tahun yang terjebak dalam hubungan fisik yang morally grey, tidak tahu apakah tindakan pria disisinya nyata suka atau hanya menjadi pelarian bagi lelaki yang memilihnya.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah pilihan artistik yang cerdas dari pihak produksi dan dari Hina Higuchi sendiri.
Ada ironi yang sangat indah di sini: imej "bersih" yang bertahun-tahun melekat pada Hina justru menambah lapisan kedalaman pada karakter Miho. Penonton yang tahu latar belakang aktrisnya tidak bisa tidak membawa asosiasi itu ke layar kaca dan asosiasi itu menciptakan ketegangan tak tertulis antara siapa Miho seharusnya (perempuan yang "baik-baik") dan apa yang dia lakukan.
Bagi penggemar Nogizaka46, menonton Hina dalam peran ini terasa seperti melihat seorang teman lama yang kamu kenal sebagai orang paling jujur di dunia, tiba-tiba mengaku memiliki sisi gelap yang selama ini tersembunyi. Itu bukan perasaan yang tidak nyaman tapi malah menjadi perasaan yang mendorong tidak bisa berhenti menonton.
Sementara itu, Mashashi Ikeda sebagai Eisei berhasil membuat pria manis itu terasa berbahaya tanpa pernah terlihat jahat, persis seperti tipe orang yang paling merusak dalam kehidupan nyata. Bukan villain apalagi pahlawan. Hanya seseorang yang ada di sana, dan itu sudah cukup untuk merusak segalanya.
Dia tidak sepenuhnya red flag, hanya berperilaku sebagaimana.. ya laki-laki kebanyakan (maafkan kalau judgemental, tapi saya rasa ini pendapat yang objektif mengingat saya bergaul dengan cukup banyak sahabat, teman dan sepupu lelaki). Kita kesal dan benci melihat perilakunya tapi begitu ia tersenyum langsung ikutan meleleh dan mencarikan pembenaran akan sikapnya. Apalagi karena memahami keribetan hubungan ini sebagian besar justru salah Miho sendiri yang kurang tegas.
Untuk penggemar visual stunning, keduanya tampil serasi, apalagi untuk standar J-drama.
2. Judul Bermakna Mendalam
Selidik punya selidik, ternyata dalam bahasa gaul kencan Jepang, honmei (本命, harfiah: kandidat utama) adalah orang yang benar-benar kamu cintai dan ingin dijadikan pasangan serius. Lawannya adalah istilah-istilah seperti kiep (キープ), sepemhaman saya, ditulis pakai katakana bisa jadi merupakan kata serapan dari keep. Sama dengan makna harfiahnya, berarti seseorang yang disimpan sebagai pilihan cadangan, atau asobi aite (遊び相手) pasangan untuk bersenang-senang saja, tanpa keseriusan.
Jadi dari judul drama ini Honmei Janakya Yokatta no ni bisa diterjemahkan secara harfiah sebagai Seharusnya Aku Tidak (Ingin Kamu Jadi) Kandidat Seriusku. Atau dalam terjemahan lebih bebas sama dengan versi Inggrisnya: If Only You Were Not The One / Andai Kamu Bukan Yang Kucintai.
Ini adalah pernyataan yang luar biasa kompleks. Bukan seharusnya aku tidak mencintaimu tapi seharusnya kamu bukan honmei-ku. Artinya Miho tahu betul, tidak hanya soal urusan ranjang, sebenarnya dia mencintai Eisei. Ia bahagia saat mereka bersama tapi yang dia sesali adalah bahwa perasaan itu bukan main-main dan disaat bersamaan menjadi sumber dukanya. Kalau dia hanya menginginkan Eisei sebatas hiburan, semuanya akan lebih mudah. Tapi dia tidak bisa dan itulah yang menjebaknya.
Menyadari posisinya itu, drama ini justru tidak memposisikan Miho sebagai korban pasif dari lelaki manipulatif. Setelah bertemu kembali, dia memilih untuk merajut hubungan kembali, meski tidak ada kejelasan mau dibawa kemana hubungan tersebut. Dia secara aktif memilih aktif terjebak dalam hubungan penuh ambiguitas, bukan dijebak. Meskipun ada seorang kandidat potensial lain yang menawarkan stabilitas hubungan. Ia selalu berusaha merasionalisasi kemudian melanjutkan hubungan tanpa status dengan Eisei. Dahsyatnya, sampai saat pria itu ingin resmi berpacaran pun Miho tetap belum mampu untuk memahami perasaannya sendiri. Itulah yang menjadi inti emosional drama ini, bukan dramanya dengan Eisei.
3. Fenomena Numa-Ochi Love
Dalam budaya pop Jepang, numa (沼, rawa) adalah metafora untuk jenis kecanduan yang tidak bisa kamu jelaskan secara rasional. Numa-ochi (沼落ち ) berarti jatuh ke dalam rawa, keadaan di mana kamu sudah terlalu dalam terlibat dengan sesuatu atau seseorang sehingga hampir mustahil untuk keluar. Istilah ini awalnya digunakan oleh penggemar idol untuk mendeskripsikan obsesi mereka, tapi kini meluas ke segala bentuk keterikatan emosional yang ambigiu dan berbahaya.
Kenapa numa-ochi love begitu berbahaya? Karena ketidakjelasannya sendiri yang menjadi umpan. Berbeda dengan affair biasa di mana ada kebohongan eksplisit atau salah satu pihak bersikap manipulatif, hubungan Miho dan Eisei bergerak dalam zona yang disebut para psikolog sebagai intermittent reinforcement, penguatan tidak menentu. Eisei tidak selalu manis, tidak selalu dingin; dia datang dan pergi sesuai kebiasaannya sendiri, dan justru pola inilah yang membuat Miho (dan penonton) terus menggantungkan harapan.
![]() |
| Ini yang bikin Miho lemah iman.. senyuman Eisei |
Ini adalah mekanisme psikologis yang sama dengan mesin slot atau judi online, kamu tidak bisa berhenti justru karena imbalannya tidak bisa diprediksi. Dan drama ini memvisualisasikan hal itu dengan sangat baik melalui cara Eisei berbicara, cara dia mendekat lalu mundur, dan cara kamera selalu menangkap ekspresi Miho yang menggantung antara kesenangan dan ketidakpastian.
Jadi, meskipun sekarang sebenarnya mereka sama-sama single, mereka tetap menjajaki peluang berhubungan dengan orang lain yang seolah memberi kestabilan emosional sambil tetap mempertahankan HTS-an ini.
Kalau merasa familiar artinya kita pun bagian dari orang pernah mengalami atau melihat langsung dinamika hubungan yang begini.
4. Pacing Sat Set dan Sinematografi Menunjang
Berdurasi 20 -25 menitan, kisah berlangsung sat set tanpa banyak drama. Fokusnya benar-benar pada kedua OTP. Cocok banget buat penonton yang semakin terbiasa dengan drama vertikal yang berdurasi singkat.
Meski adegannya banyak yang repetitif, pengambilan gambarnya cukup estetik. Intinya membuat kita bertanya-tanya apakah sekarang mereka sudah main hati dan cukup untuk saling menyatakan cinta.
5. OST Pembuka Ear-catchy
Tema lagu drama ini, Kimi to Ame / 君と雨, Kamu dan Hujan oleh YukaDD, adalah pilihan yang terasa sangat tepat. Hujan dalam budaya Jepang adalah simbol ambivalen. Hujan bisa berarti kesedihan, tapi juga keintiman; bisa berarti kebersihan, tapi juga keterjebakan di dalam ruangan bersama seseorang yang seharusnya tidak kamu dekati.
Melodi yang mengalun lembut tapi melankolis melapisi setiap adegan antara Miho dan Eisei dengan nuansa yang terasa seperti nostalgia sekaligus peringatan.
❤❤❤
Kekurangan drama ini adalah para pemain pendukung lain seolah hanya pelengkap. Kita tidak diberikan alasan pendukung yang cukup tentang latar belakang Makoto, bahkan setelah gencar mendekati Miho. Begitupula sejauh mana hubungan Eisei denga Yuri. Memang ini sesuai tema yang lebih berfokus pada konflik internal Miho dan hubungannya dengan Eisei tapi tetap saja kan.. Sebagai anak sinetron 90-an (yang alurnya kompleks, bahkan ditelaah dari beberapa POV pemeran sampai bisa bermusim-musim), rasanya koq kurang greget gitu lho. Hoahaha.
Untuk yang merasa kurang nyaman dengan adegan plus plus, sekiranya juga bisa skip nonton.
Satu lagi, endingnya asli bikin misuh. Sudah nonton 8 episode ternyata tidak ada konklusi minimal stance yang jelas dari Miho tentang hubungannya dengan Eisei! Buat perempuan yang sedang berada dalam kondisi yang kurang lebih mirip, rasanya habis nonton ini koq ya kurang bisa dijadikan pertimbangan. Kayak ya sudah ya.. jalani dulu saja. Padahal usia terus bertambah dan ingat, kita terlalu berharga untuk menyia-nyiakan waktu dengan orang yang tidak serius.
Tapi balik lagi, jika memang pengen mencari tontonan tanpa tuntunan moral saklek atau dengan cerita yang tidak memberikan jawaban kadang lebih jujur dari cerita yang menyelesaikan segalanya dengan indah.
Yang membuat drama ini berbeda bukan plotnya, cerita dua orang yang punya masa lalu bertemu kembali sudah ada sejak zaman baheula. Yang membuatnya berbeda adalah kejujurannya tentang betapa mudahnya orang dewasa yang seharusnya "sudah tahu lebih baik" kembali terjebak dalam pola yang sama. Betapa numa-ochi tidak pilih-pilih usia, profesi, atau tingkat kecerdasan.
If Only You Were Not The One bukanlah drama tentang apakah Miho dan Eisei berjodoh. Ini adalah drama tentang pertanyaan yang jauh lebih menakutkan: seberapa banyak dari bagian diri yang rela kita korbankan untuk seseorang yang membuat kita merasa hidup?
Jadi, adakah yang sudah nonton? Bagaimana pendapat teman pembaca?
_20260509_073337_0000.png)




Btw, aku jadi tahu jam tayang dan alasannya, noted/
Konklusi akhirnya itu jleb banget: orang dewasa yang harsunya "sudah tahu lebih baik"...terjebak dalam pola yang sama huhuhuhu
Tapi kalau dikemasnya di drakor sih, pasti bakal seru ya. Nggak kayak di dunia nyata yang endingnya kebanyakan mengecewakan. Yg diingat endingnya, bukan momen2 manisnya. hihi