Review Gimbap dan Onigiri : Makanan Bahasa Universal Cinta
Hai, Assalamualaikum
Tak sabar mau sharing tentang Gimbap and Onigiri : salah satu judul tontonan favorit saya akhir-akhir ini. Dari judulnya saja sudah menggugah selera. Pas banget saya selalu suka drama bertema makanan.
Agak OOT dulu nih, sampai sekarang, saya tak pernah berhasil membuat onigiri segitiga yang bagus (bahkan setelah pakai cetakan, hoahaha). Syukurlah, anak-anak dan keponakan saya tak begitu doyan, apalagi yang isiannya ada umeboshi (acar plum-- menurut mereka rasanya aneh, padahal kalau buahnya yang kadang aseem banget mereka doyan saja). Beda cerita sama Gimbap, keponakan saya hampir setiap hari bawa bekal gimbap sederhana dengan isian irisan wortel, telur, sosis dan timun lalu dibumbui minyak wijen dan mayo.
Judul : Gimbap and Onigiri
Sinopsis
Park Rin (HyeWon) sedang menyelesaikan program masternya di Jepang. Meskipun bahasa Jepangnya cukup fasih, ia masih kesulitan menafsirkan perintah dosennya untuk menghadirkan tekstur pada hasil akhir tugas animasinya. Patah hatinya bertambah saat mendapatkan telepon yang mengabari ia harus segera pindah dari kamar (dormitory room) yang ditempatinya selama ini. Sebenarnya Rin sudah beberapa waktu disurati perihal renovasi gedung yang akan dilakukan, celakanya ia tak pernah mengambil surat menyuratnya akibat mengejar deadline tugas kuliah.
Jadilah, malam yang sendu itu, ia mencoba mencari makan malam. Semakin malang, saat restoran yang dimasukinya sudah tutup. Ia duduk di emperan beranda Tanomi, restaurant izakaya (kedai sake / minuman keras yang juga menyediakan aneka cemilan), ketika melempar gumpalan surat pemberitahuan pindah dengan kesal, ternyata mengenai seorang pegawai bernama Taiga Hasegawa (Eiji Akaso). Rin meminta maaf dan memberi permen ---yang dibawanya dari Korea-- sebagai bentuk penebusan rasa bersalah. Tiba-tiba suara perutnya yang kerocongan terdengar keras. Hoahaha.
![]() |
| Saling jatuh cinta pada pandangan pertama |
Taiga menawarinya masuk ke dalam kemudian menyajikan onigiri buatannya. Rin sangat berterimakasih, menurutnya selama dia tinggal di Jepang ini adalah onigiri paling enak yang pernah dimakannya.
Rin berniat datang kembali ke restoran bersama senior Kang JunHo (Moon JiHo) yang sama-sama berasal dari KorSel, sayang dihari tersebut terpaksa dibatalkan karena hari libur restoran.
Taiga, yang sedang dipercaya pemilik restoran untuk menyusun menu musim mendatang, meminta Rin sebagai orang KorSel menjadi tester masakannya. Ia tertarik mencoba menu fusion dengan Korea.
Kedekatan mereka berkembang dengan cepat. Mampukah Rin dan Taiga mengatasi perbedaan kebudayaan? Lalu bagaimana dengan cita-cita Rin menjadi animator dan Taiga lepas dari bayang-bayang masa lalunya sebagai atlet lari yang dipaksa pensiun dini akibat peformanya yang dibawah ekspektasi?
Review
Sewaktu menuliskan review ini, Gimbap and Onigiri baru berjalan empat episode. Ditayangkan sekali seminggu, hari Senin di aplikasi menonton si merah sekitar pukul sembilan malam, saya ingin mengajak teman pembaca --baik penikmat K-drama maupun J-drama untuk ikut menonton drama ini.
Karena banyak hal menarik yang bisa kita ikuti sesuai artian judul lengkapnya yaitu Gimbap dan Onigiri dua orang yang jatuh cinta itu mirip, tapi pada dasarnya berbeda :
1. Melihat Perbedaan Budaya Jepang - KorSel
Teman pembaca blog ini mungkin sudah ngeh kalau saya suka banget dengan drama atau film yang memadukan latar belakang dua negara. Setelah terakhir merecap Will You Be My Manager?, Gimbap dan Onigiri terasa lebih masuk akal karena HyeWon bicara bahasa Jepang dengan fasih (ditelinga saya, dia benar-benar bagus. Intonasinya pas). Sebagai mahasiswa pascasarjana wajar saja jika ia harus lancar menggunakan bahasa di negara tempatnya menuntut ilmu.
Selain faktor bahasa, kita bisa melihat perbedaan Jepang VS. Korea dari beberapa interaksi sederhana dalam keseharian kedua OTP.
Misalnya saat bertukar nomor telepon, Taiga justru membuka ponselnya sendiri agar Rin bisa men-scan QR code aplikasi pesan instannya. Sementara Rin langsung mengulurkan ponselnya ke Taiga, sebagaimana lazimnya di KorSel, agar orang yang bersangkutan sendiri yang akan menyimpan nomor dan namanya.
Bagi orang Jepang, menyodorkan ponsel ke tangan orang asing itu bisa terasa terlalu personal. Namun bagi orang Korea, itu adalah bentuk kepercayaan dan keakraban. Perbedaan-perbedaan kecil inilah yang membuat penonton merasa relate, terutama mereka yang pernah tinggal di luar negeri.
2. Melihat Perbedaan Kepribadian Rin dan Taiga
Rin meski terlihat lembut dan gemulai, aslinya ekstrovert dan blak-blakan. Ia selalu to the point menyampaikan maksud dan keinginannya pada Taiga. Sementara sebaliknya, pemuda yang terlihat kokoh sebagai mantan atlet lari ini terlalu pemikir dan cenderung menutupi perasaannya sendiri.
Konflik yang dilatarbelakangi perbedaan ini mulai muncul sejak awal dan puncaknya pada saat Rin ulangtahun. Kesalahpahaman yang terjadi untungnya dapat diselesaikan dengan baik setelah mereka duduk dan ngobrol bareng.
![]() |
| aesthetically pleasing |
Memang, walau lekas jadian, chemistry OTP bisa dibilang masuk kategori slowburn, lebih mendalam, khas J-drama.
3. Melihat Perbedaan Pola Asuh Keluarga
Taiga mendapat telepon bahwa ibunya kepeleset dan harus masuk rumah sakit. Abangnya mengomelinya karena ia tak mengurusi beliau dan masih sibuk mencari jati diri. Taiga dituntut segera mandiri. Keluarganya ---khususnya sang Aniki-- menganggapnya hanya buang-buang waktu dan tenaga dengan bekerja di restoran. Sebenarnya, Taiga adalah representasi pemuda Jepang masa kini yang hidup dalam ritme slow living karena rasa trauma akan kegagalan.
Padahal ibunya cukup suportif sebagai orangtua tunggal setelah ayahnya meninggal dunia belasan tahun lalu. Ibunya berusaha meyakinkan Taiga untuk melanjutkan aktivitasnya dibidang atletik ketika ia dilarang ikut bertanding dalam tim dan malah disuruh jadi asisten di dapur asrama pelatihan. Sayang, Taiga yang kandung patah hati memutuskan pergi meninggalkan sesuatu yang sangat disenanginya sejak kecil lalu pindah untuk mencari pekerjaan di Tokyo.
Di sisi lain, Rin cukup dimanjakan oleh ibunya. Hubungan mereka sangat akrab, selain bertelepon hampir setiap hari, ibunya bersedia datang ke Jepang untuk membantunya pindahan kamar. Selama ini, Rin dilarang punya pacar, tapi ibunya cenderung menyukai JunHo yang sesama orang KorSel dan menginginkan Rin kembali ke negara asalnya. Ibunya menawarinya pindah pekerjaan menjadi instruktur karena Rin pernah mengeluh, merasa kelelahan dan kurang bakat alami sebagai animator.
Perlahan Taiga dan Rin akan saling menopang. Taiga terinspirasi oleh senyum manis Rin dan matanya yang berbinar setiap mencicipi masakannya. Rin pun semakin memahami budaya Jepang yang akan menolongnya menyelesaikan berbagai tantangan termasuk menemaninya mencari kamar kosan baru.
4. Perbedaan Cara Memandang Dunia
Menurut saya, Eiji Akaso menghadirkan Taiga dengan cukup baik. Terakhir saya nonton di Inheritence Detective ia tampil kepedean. Disini ia sangat berkebalikan. Pola asuh dan kepribadian Taiga mendorongnya tumbuh jadi pemuda yang pesimistis.
Selain cemas akan hal-hal krusial mengenai pekerjaan yang sesuai dan masa depan apa yang akan dijalani, Taiga cepat down bila rencananya berjalan tak sesuai harapan. Contohnya saat Taiga mengajak Rin kencan ke aquarium dengan penuh kecanggungan. Sebelumya, ia sudah menyusun sederetan rencana. Sayangnya tak satu pun yang tereksekusi dengan baik. Wahana Singa Laut ditutup untuk maintenence, soda penguin sebagai minuman khas malah habis terjual dan mereka terpaksa berlarian mengejar jam tutupnya.
Sementara Kang HyeWoon sebagai mantan idol dari girlband Iz*One menampilkan Rin dengan mulus. Kecantikannya khas KorSel. Transisi bahasanya dari bahasa Jepang yang agak kaku ke bahasa Korea yang luwes saat menelepon ibunya atau sahabatnya Lee YoonGyeol (Seo HyeWon, terakhir nonton di Pro Bono) adalah detail yang patut diacungi jempol.
Dari sudut pandang Rin, kencan mereka sangat indah. Ia menghargai semua moment dan effort Taiga. Pada akhirnya di malam itu mereka resmi jadian.
Rin yang lebih optimis, sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir Taiga. Buktinya, ia menyampaikan sanggahan pada sang Aniki-- saat berjumpa diperingatkan kematian ayah mereka. Saat ini ia tak tahu masa depan apa yang menantikannya, mungkin ia akan gagal lagi seperti dibidang atletik, tapi setidaknya ia suka berkerja di restoran dan atasannya, Shigeo Taguchi (Mitsuru Fukikoshi) mengandalkannya.
5. Perbedaan Simbolis Gimbap dan Onigiri
Salah satu kekuatan drama ini adalah tema makanan. Penampilan dan cara pengambilan gambarnya menggugah selera.
Onigiri (Jepang) adalah bola atau segitiga nasi Jepang (sering polos atau hanya dengan sedikit isian) yang teksturnya menonjolkan rasa nasi itu sendiri dan disajikan sebagai bekal sederhana. Onigiri tumbuh dari tradisi makan nasi sebagai kebutuhan praktis.
Melambangkan karakter Taiga dan kebudayaan Jepang yang cenderung minimalis, fokus pada inti (nasinya), dan tampak "diam" dari luar namun penuh persiapan di dalam. Onigiri adalah tentang ketenangan dan kemurnian rasa.
Gimbap (Korea) adalah gulungan nasi ala Korea yang umumnya dibumbui minyak wijen, berisi berbagai lauk seperti sayur, daging, dan acar. Muncul sebagai adaptasi dan respons terhadap pertemuan budaya kuliner (mirip makizushi dari Jepang) dan berkembang menjadi simbol bekal keluarga dan piknik
Melambangkan Rin dan budaya Korea yang lebih ekspresif, berwarna-warni, dan terdiri dari berbagai macam elemen (isian) yang harus menyatu untuk menciptakan rasa yang pas. Gimbap adalah tentang keramaian, kehangatan keluarga, dan kompleksitas emosi.
Kedua makanan ini tampak sederhana, tapi mewakili identitas budaya. Dorama ini dengan cerdas menunjukkan bahwa meski keduanya terlihat mirip dari luar : nasi yang dibungkus nori (lembaran rumput laut kering), saat digigit, mereka menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Begitu pula hubungan Taiga dan Rin. Mereka tampak sama-sama muda dan berjuang, tapi latar belakang budaya mereka menciptakan dinamika unik
Taiga awalnya membuatkan Rin onigiri, sebaliknya Rin menyiapkan gimbap untuk bekal piknik mereka. Taiga banyak bertanya tentang makanan tradisional KorSel karena sedang menyiapkan paket menu di restorannya. Ini simbol bagaimana dua orang dari latar berbeda bisa saling mengerti.
❤❤❤❤❤
Kesimpulannya, dorama ini bukan cuma romansa dua orang beda negara yang jatuh cinta, tapi juga membahas tema adaptasi budaya, pencarian jati diri, dan bagaimana makanan bisa jadi penghubung hati. Ada juga gambaran tentang sulitnya jadi orang asing di Jepang, homesickness dan hal lainnya yang sebaiknya ditonton sendiri.
Gimbap and Onigiri adalah surat cinta bagi siapa saja yang merasa sedang "berhenti" di tengah jalan. Drama ini mengajarkan bahwa meskipun kita memiliki bumbu yang berbeda, kita tetap bisa menciptakan hidangan yang lezat jika mau saling melengkapi. Nuansanya yang santai dan tone warna hangat dengan frame gambar yang aesthetically pleasing, cocok sebagai tontonan slice of life buat healing.
Dari saya poinnya 8,5 / 10. Kurangnya justru karena durasinya yang 30 menitan terasa sangat cepat. Apalagi harus menunggu seminggu sekali.


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)
.jpg)

Nah yang ini apik juga, karena terkait makanan. Seneng dah kolabs seperti ini
Kali ini Jepang yang bikin
jadi penasaran dengan akting Kang Hye-Won , terakhir di drama Spirit Fingers dia jadi pemeran antagonis,
saya suka aktris seperti ini, bisa antagonis dan protagonis, jadi kita bisa menikmati kekuatan aktin gnya
Jadi pingin nonton akutu.