Beauty and the Beast

Review fim Beauty and the Beast, ekranisasi novel ke film, film 3D, Disney
Beauty and the beast review

Judul : Beauty and the Beast
Sutradara : Bill Condon
Penulis skenario: Stephen Chbosky dan Evan Spliotopoluos
Pemain : Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, Emma Thompson, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Ian McKellen, Gugu Mbatha-Raw, dan lain-lain
Studio : Walt Disney Studios Motion Picture
Genre : fantasi, musikal, drama
Durasi : 129 menit
Based on : La Belle at La Bète dan Beauty and the Beast (1991)

Sinopsis :
Di Perancis, ada seorang pangeran yang gemar mengadakan pesta dansa mewah yang dihadiri oleh orang-orang terbaik, makanan dan musik terindah. Tibalah disuatu malam, tak kala hujan  badai turun, ada seorang nenek tua minta diizinkan berteduh pada sang Pangeran penyelenggara pesta, dengan menawarkan imbalan setangkai bunga mawar, tetapi sang pangeran dengan kejam menolak permintaanya.

Sang nenek memperingatkan pangeran untuk tak tertipu dengan penampilannya, ternyata ia adalah seorang penyihir sakti yang cantik jelita. Ia mengutuk sang pangeran menjadi sesosok makhluk buruk rupa yang menyeramkan. Para pelayannya juga disihir menjadi berbagai benda rumah tangga yang dapat bergerak layaknya manusia (enchanted items). Keberadaan kastil dan segenap penghuninya dihapuskan dari ingatan penduduk lain.

Sebelum sang penyihir pergi, Ia meninggalkan untuk si buruk rupa sebilah cermin ajaib, sebuah peta magis dan bunga mawar yang berfungsi bagaikan jam pasir, helai demi helai kelopak bunganya akan berguguran. Bila si Buruk Rupa ingin kembali ke wujudnya yang tampan, termasuk para pelayannya, maka Ia harus jatuh cinta dan dicintai juga oleh seseorang yang dapat menerima keadaan dirinya sebelum kelopak bunga tersebut habis berguguran.

Beberapa tahun kemudian, di desa Villeneuve, seorang gadis cantik bernama Belle hidup bersama Maurice, ayahnya. Mereka berdua sama-sama menyukai buku dan selalu berusaha menemukan berbagai peralatan menarik yang dapat mempermudah hidup mereka. Meski dianggap aneh karena berbeda dengan penduduk desa lainnya, kecantikan Belle menarik perhatian Gaston, seorang mantan tentara dan pemburu yang narsis dan sombong. Belle telah berkali-kali menolak permintaan Gaston untuk menjadi istrinya, karena selain kurang suka akan sifat Gaston, Belle sulit membayangkan menjadi istri yang berdiam diri di rumah saja.

Suatu hari Maurice tersesat dalam perjalanan menuju ke pasar. Ia diserang serigala dan tersesat di dalam hutan belantara. Tak sengaja Ia menemukan kastil si Buruk Rupa. Sebelum meninggalkan kastil tersebut, Ia teringat bahwa Belle meminta setangkai mawar untuk oleh-oleh. Malang baginya, si Buruk rupa menangkap basahnya sedang memetik mawar. Maurice ditangkap dan ditawan di kastil oleh Si Buruk Rupa. Beruntung, kudanya Phillipe, berhasil meloloskan diri. Selanjutnya Phillipe berhasil membawa Belle kembali ke kastil tersebut. Belle memohon agar ayahnya dilepaskan dan sebagai gantinya Ia yang akan bertukar tempat dengan ayahnya sebagai tahanan.

Bagaimana kah kelanjutan kisah Belle setelah ditawan dan berjumpa para enchanted items dan si Buruk Rupa? Silahkan saksikan sendiri di bioskop ya hehehehe..

*****
Review
Alhamdulillah ya.. Akhirnya, saya kesampaian juga nonton film yang telah lama saya nantikan ini. Saya adalah penggemar Disney. Tidak sampai sefanatik Sandra Dewi ya.. Karena saya lebih suka Hello Kitty. Kesukaan saya lebih ke mengoleksi buku ceritanya. Saya punya sebuah buku kumpulan 365 dongeng Disney sebelum tidur, yang merupakan adaptasi dari film animasinya. Jadi saya lumayan hafal diluar kepala cerita Disney, cukup lah untuk dongeng sebelum tidur buat Ziqri. hehehehe. Ditambah lagi diantara beberapa cerita Disney khususnya tentang Princess, Belle adalah karakter princess favorit saya kedua --setelah Mulan-- karena dia memiliki hobby membaca buku dan tidak se"nerimo" Cinderella dalam menghadapi suatu masalah.

Saya akui, espektasi saya sebelum menyaksikkan film ini begitu tinggi, sejak diumumkan akan dibuat Beauty and the Beast versi live actionnya. Apalagi sejak Emma Watson dipastikan akan memerankan Belle a.k.a Beauty. As a potterhead, I really love Emma as Hermione. Dari ketiga orang casting awal pemeran utama Harry Potter (Harry, Ron dan Hermione), sedari awal saya paling sreg dengan Emma. Begitu pun setelah saya menyaksikkan teaser film Beauty And the Beast ini, saya rasa Emma pas banget sebagai Belle. Tak sekedar cantik tapi aslinya memang smart

Para pemeran yang lain mayoritas juga saya sukai. Tidak sulit membenci Luke Evans sebagai Gaston setelah menyaksikan Furious 7. Begitu pula para pengisi suara enchanted items yang rata-rata suaranya cukup familliar bagi saya meski dengan logat Perancis yang agak dipaksakan. Misalnya Ewan McGregor, Ian McKellen dan Emma Thompson.  Hanya Dan Stevens yang belum pernah saya tonton sebelumnya baik di film atau serial televisinya (Downtown Abbey --yang katanya booming sekali di UK). Tetapi penampilannya saat masih menjadi pangeran di awal film sudah membuat saya berdecak kagum dalam hati "Masya Allah! Mata birunya bikin ga nahaaaan #eh"

Setelah menyaksikan keseluruhan filmnya, saya merasa puas banget! Rasanya ekspektasi saya sepadan dengan apa yang saya tonton. Dengan budget hanya $ 160 juta, efek CGI yang disuguhkan setara dengan film-film Hollywood lain dengan budget diatas $ 200 juta. Saya kagum dengan sinematografi dan gambar yang sangat detail. Desa Belle, Interior kastil si Buruk Rupa, enchanted items yang bergerak dinamis dan gaun kuning ikonik Belle saat berdansa bersama si Buruk rupa. Semakin mantap bila disaksikan dalam versi 3D. Dengan bugdet tersebut pula, berhasil mendanai film yang di dukung oleh aktor-aktris A lister sebagaimana yang telah saya sebutkan diatas, disutradarai oleh sutradara yang cukup punya nama, Bill Condon (Twilight Breaking Dawn part 1 dan 2) serta penulis skenario Stephen Cbhosky (penulis buku dan naskah adaptasi film The Perks Of Being Wall Flower --salah satu buku favorit saya)


Dari segi cerita, sebelumnya saya sempat was-was saat membaca review ada dua kubu, ada yang pro dengan keputusan Disney mengadaptasi film ini sesuai versi animasinya tahun 1991 dan ada yang kontra. Alasan yang kontra sebenarnya cukup masuk akal, karena sulit membandingkan dengan film versi animasi yang begitu magical di zamannya hingga memperoleh nominasi Oscar pertama bagi film animasi untuk kategori film terbaik dan memenangkan Oscar di 2 kategori yaitu soundtrack dan scoring terbaik.

Dari pengalaman menonton film versi live-action Disney, Saya sendiri sempat kecewa dengan adaptasi Cinderella yang meski secara alur mengikuti versi animasinya tetapi pemeran Cinderella-nya kurang oke, begitu pula pemeran Prince Charming. Saya masih cukup suka Malleficent yang mengambil sudut pandang lain dari princess Aurora si putri tidur. Terakhir, saya suka banget dengan the Jungle Book yang bagi saya jauh lebih baik dari versi animasinya.

Nah, untuk Beauty and the Beast ini saya rasa keputusan Disney kali ini sangat tepat untuk mengusung alur cerita yang mendekati kisah animasi aslinya. Memang masih ada beberapa bagian tambahan yang justru memperkuat latar belakang beberapa karakter.

"Be Our Guest" salah satu lagu yang paling memorable. Saya pertama kali menyaksikan "Beauty and the Beast" versi "work in progress" (baru 70% selesai, ternyata untuk ditayangkan di New York Film Festival tahun 1991), begitu menonton versi animasinya yang full, saya begitu terpesona. Versi live action ini mampu membawa saya kembali dalam kenangan masa kecil tersebut.

Karena ini film musikal, banyak adegan yang diringi nyanyian. Beberapa lagu seingat saya, persis sama dengan versi animasi. Dinyanyikan langsung oleh para pemeran dan pengisi suara para enchanted items. Bagi saya --yang sama sekali buta nada, semuanya bagus-bagus. Koreografinya juga keren, di lengkapi dengan kostum yang menunjang. Sayangnya untuk soundtrack yang dinyanyikan oleh Ariana Grande dan john Legend menurut saya belum mampu menyamai lagu "Beauty and the Beast" versi animasi yang di bawakan Celine Dion dan Peabo Bryson. Overall, saya beri film ini poin 9 dan menempati top ten list dalam daftar film favorit saya sepanjang masa.

*****

Ini pengalaman pertama saya mengajak Ziqri menonton film 3D di bioskop. Memang sih, Ia pernah menonton beberapa film kartun di televisi 3D di rumah opanya, tapi tentu saja saya harus mengantisipasi takutnya Ziqri keburu bosan karena Ziqri tidak betah menggunakan kacamata 3D lama-lama. Nontonnya sengaja saya pilih di hari kerja, agar bioskop tidak terlalu ramai. Jadi kalaupun Ziqri agak rewel, tidak mengganggu terlalu banyak orang.

Saya, Ziqri dan seorang adik ipar lelaki --yang sedang libur karena kakak kelasnya ujian, berangkat dari Belakang Padang pukul 09.30 pagi. Perjalanan diatas pancung berjalan mulus, Ziqri sangat excited setiap hendak ke Batam. Apalagi setelah saya katakan, kali ini kami akan naik busway, angkutan kota favorit Ziqri. Setibanya di Mega Mall, Batam Centre kami adalah pengunjung pertama yang masuk saat pintu bioskop di buka. Adik ipar saya yang perempuan dan baru datang bergabung dalam perjalanan di busway, sempat tertawa sambil mengatakan bahwa baru kali ini dia nonton bioskop dan datangnya benar-benar pas saat satpam memutar kunci pintu kacanya. Hoahahaha.

Setelah membeli tiket, kami masih sempat makan siang di sebuah "warung" bakso sebelum filmnya di mulai pukul 12.45 WIB. Cerita sedikit tentang warung bakso ini, sewaktu masih benar-benar berbentuk warung di Lapangan Tembak, Jakarta, warung ini adalah tempat penuh kenangan opa dan omanya Ziqri yang sama-sama penggemar bakso. Sekarang, di lokasinya yang di Mega Mall dilengkapi ruang bermain anak mini. Lumayan buat Ziqri bermain dengan beberapa anak lain.

Memasuki ruang studio, Ziqri mulai terlihat kecapean. Selain letih di perjalanan dan habis heboh bermain, memang pukul 13.00 WIB ialah jam tidur Ziqri yang biasa. 10 menit pertama masih 'on' sambil ngemil, setelahnya Ia ambil posisi dan sukses tertidur di kursi selama kurang lebih satu setengah jam! Ketika terbangun pun, ia tidak merengek dan malah lanjut menonton hingga filmnya selesai. 

Ohya, ratingnya memang seharusnya 13+ ya.. Ada adegan kekerasannya. Jadi, saya sudah membawakan penutup telinga dan menawarkan Ziqri untuk dipangku bila memasuki adegan yang kira-kira belum pantas ditontonnya. Tapi Ziqri menolak, sehingga saya alihkan saja pandangannya dengan mainan. Sepertinya pihak bioskop saat ini tidak terlalu ketat menerapkan rating. Selama anak didampingi oleh orang tua, artinya segala konsekuensinya ialah tanggung jawab dari orang tua yang mengajak. Mengenai salah satu tokoh yang di ulas sebagai "dukungan" bagi kaum LGBT, jangan khawatir, saya tidak menemukan adegan aneh tersebut, sepertinya telah dipotong sensor.

Beberapa informasi menarik yang saya kumpulkan selama menulis review Beauty and the Beast ini : 
1. Bingung mendeskripsikan si Buruk Rupa itu adalah hewan apa? Ternyata si Buruk Rupa di versi animasi di gambarkan sebagai mix dari hewan-hewan berikut :
Struktur kepala dan tanduk : Bison
Bulu wajah, gigi, dan surai : singa
Alis mata : gorilla
Taring : babi hutan
Lengan dan tubuh : beruang
Kaki dan ekor : serigala
Wuihh pantesan tampilan si Buruk rupa memang menyeramkan. Di versi live-actionnya ini penampilannya kurang lebih sama, hanya taring babi hutannya yang dihilangkan. Diganti sepasang taring ala bintang pemangsa.
2. Ekranisasi ialah suatu proses pemindahan atau pengadaptasian dari novel ke film (Eneste 1991 : 60) ekran = layar dalam bahasa Perancis. Pemindahan ini mau tidak mau menimbulkan perubahan, oleh karena itu ekranisasi bisa juga disebut sebagai proses perubahan. 
Ekranisasi ialah suatu proses pengubahan dari novel, yang cerita dan segalanya diungkap dengan kata-kata menjadi film yang ilustrasi dan gambarannya diungkap melalui gambar yang dirangkai menjadi satu peristiwa yang dapat di tonton secara langsung. (Sumber : Maelani Khair, 2015, Ekranisasi Novel ke Film, academia.edu)
Jadi, dalam prosesnya menurut Dwight V swain dan Joye R. Swain yang dikutip Maroeli Simbolon ada tiga cara utama untuk mengadaptasi karya sastra khususnya novel ke film yaitu :
-mengikuti buku 
-mengambil konflik-konflik penting
-membuat cerita baru
(Sumber : Maroeli Simbolon, 2004, Sastra dalam Film, sebuah Dimensi Tanda, Jakarta : Republika)
Menurut saya dibandingkan dengan novel karya aslinya film Beauty and The Beast ini cenderung memakai cara kedua, yaitu mengambil konflik penting dari buku aslinya kemudian diramu menjadi cerita dengan beberapa penokohan baru misalnya Gaston sebagai tokoh antagonis.
3. Karena settingnya Perancis, sedikit banyak saya yang belum pernah menginjakkan kaki sendiri di negeri ini mencari blog yang bisa "membawa" saya kesana. Salah satunya ialah milik bang Ahmadi Sultan. Beliau telah menyinggahi beberapa negara di Eropa. Bagi yang ingin tahu, silahkan berkunjung ke blog beliau di www.jokka2traveller.com