Love In City Of Angels

Review novel Love in City Of Angels karya Irene Dyah yang diterbitkan gramedia tahuin2016 tentang Ajeng dan yazan khan di bangkok, Thailand

Love in cityof angels

Spesisifikasi Buku :

Judul : Love In City Of Angels
Penulis : Irene Dyah
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2016
Tebal : 210 halaman
ISBN : 978-602-03-3491-2

Sinopsis :


"Memori Ajeng terlalu berharga untuk menyimpan data para pria. Dia sosok lajang mandiri yang anti jatuh cinta. Penasaran saya akan kisahnya!"

- Luckty G.S. Blogger buku dan pustakawan sekolah.

Ajeng
Gadis kota besar yang bisa sangat bitchy dalam banyak hal, terutama pernikahan. Baginya, cinta cuma mitos.

Yazan Khan
Malaikat, Master Yoda si Poker Face. Ketenangannya menemani Ajeng membeli testpack, setenang saat Ia menyelipkan bunga di tangan gadis itu. Pendek kata, mengerikan.

Earth
Pria yang beresiko membuatmu lupa segala, termasuk namamu sendiri

Cheetah
Mamalia yang sebaiknya tidak disebut-sebut di depan Ajeng.

Ibu
Dicurigai sudah kehilangan akal sehatnya karena mau menerima kembali pecundang itu.

Masjid Jawa di Bangkok
Tempat kisah-kisah bermula 

Krung Thep alias City of Angels alias Bangkok
Di kota ini, terlalu tipis batas antara iman dan godaan, Ajeng lebih suka menyebutnya The Sin City.

Review


Buku ini merupakan bonus dari penulis Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik yang saya menangkan dan review dalam postingan sebelumnya. Ternyata  penulis membonuskan buku ini karena Ia sangat menyukai buku karya Irene Dyah yang ini. Kebetulan saya belum punya dan belum pernah membacanya. 

Dari judulnya saya sempat terkecoh. Dalam benak saya "City Of Angels" identik dengan Kota Los Angeles, Amerika Serikat. Ternyata makna tersebut juga merupakan arti dari kota Krung Thep. Lengkapnya Kota Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin Mahinthara Ayuthaya Mahadilok Phop Noppaharat Ratchathani Burirom Udomratchaniwet Mahasathan Amon Piman Awatan Sathit Sakkathatiya Witsanukam Prasit.

Buset, ya panjangnya? Sampai menjadi pemegang rekor sebagai "the Longest Name of a Place" dari Guinness World of Record. Untungnya, bagi kita masyarakat internasional ada nama alias yang lebih familiar, yaitu Bangkok. Iya, Bangkok ibu kota negara Thailand, salah satu negara yang masih terbilang tetangga kita. 

Ternyata masyarakat Thailand memang gemar dengan nama yang panjang-panjang. Nama orang-orangnya pun demikian adanya. Untuk mempermudah mereka menggunakan panggilan-panggilan singkat semacam Jub-Jub, atau diambil dari nama berbagai benda, nama buah bahkan jenis olahraga.

*****

Tokoh utamanya ialah Ajeng, wanita metropolis yang sukses dalam pekerjaan, Ia dikirim ke kantor pusat Asia Pasifik dari perusahaannya bernaung, yang berada di kota Bangkok. Kota yang dijulukinya sebagai "the Sin City". Kota yang menurutnya memiliki dua sisi. Sisi religius yang ditampilkan dari puluhan wihara dan sisi gelap dalam kehidupan malam yang gemerlap. 

Di Bangkok pula Ajeng yang selalu bergonta-ganti gebetan, berkenalan dengan dua Pria, Earth yang tengil dan Yazan yang dikenal sebagai pria kalem hingga dijuluki master Yoda. Sejak bersinggungan dengan keduanya hidup Ajeng serasa jungkir balik. Ditambah lagi dengan kehadiran sesosok pria dari masa lalu yang Ajeng coba lupakan. Mampukah Ajeng menemukan kebahagiaan sejati?

*****
Saya suka gaya bertutur penulisnya yang sangat detil dalam menggambarkan kehidupan di kota Bangkok. Mungkin karena beliau memang pernah bermukim di sana. Mulai dari penamaan jalan, berbagai jenis jajanan dan makanan khas hingga suasana di Mesjid Kampung Jawa. Mesjid yang diduga merupakan mesjid tertua di kota Bangkok.

Buku ini termasuk dalam lini Arround the World With Love yang diterbitkan oleh Gramedia. Seri ini biasanya di garap oleh 4 novelis sekaligus dalam tiap batchnya. Nafas islami menjadi benang merahnya. Nah, menurut saya dalam novel ini porsinya masih oke. Tidak terlalu terkesan menggurui apalagi terang-terangan mengutip Alqur'an maupun al Hadist. Sehingga lebih universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja.

Kekurangannya sebenarnya hampir tidak ada, ceritanya malah cenderung terasa kurang panjang bagi saya yang kadung menikmatinya. Hanya dari segi penokohan, saya rasa terlalu dua dimensi. Ajeng hanya menampilkan sisi bitchy, manipulatif, keras kepala, bebas, anti dikekang apalagi dalam ikatan pernikahan dan cenderung tidak menyukai anak kecil. Sisi positifnya hanya ditampilkan secara naratif oleh dua sahabatnya, Miyu dan Aliyah serta dari kacamata Yazan yang terang-terangan naksir padanya. Jadi menurut saya, kurang objektif.

Lebih lagi pada tokoh Yazan, yang "Oh so good to be true". Pria keturunan India yang tampan dan mapan, sudah menduduki posisi strategis diusia muda, sayang keluarga, sopan, romantis, alim, you name it! Hanya sekali ia menunjukkan emosi yang memecahkan poker facenya. 

Dan lagi-lagi Ia terlihat begitu perfect dari caranya meminta maaf dengan mengirimi Ajeng balon, bunga dan berkotak-kotak coklat premium. Julukan Master Yoda untuknya, juga membuat rancu, karena sebagai penggemar Star Wars, khayalan saya bolak balik menampilkan sosok sang master hijau-kecil-keriput yang sesungguhnya merusak imajinasi romantis saya.

Beberapa kalimat yang quotable sepanjang buku ini:


  • Pernikahan itu jebakan betmen. Seremonial yang mengubah manusia dari sepasang individu asing, berevolusi jadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Semua orang melek ilmu tahu dong, evolusi itu tidak selamanya berjalan mulus. Ada cacat genetika, kegagalan, berkurangnya fungsi, dan hal-hal mengerikan lainnya. Jadi tidak heran dalam pernikahan pun muncul perceraian, perselingkuha, ribut-ribut urusan anak dan harta, berantem sama mertua, kehilangan privasi,
  • I am gorgeus and badass smart at the same time. Dan mestinya para pria sekarang sadar, wanita cantik tidak selalu berotak kosong. Justru pria-pria itu uang sering kubuat kosong otaknya, tiap kali aku sengaja menundukkan tubuh saat berbicara, menyodorkan belahan dada. 
  • Jika seorang Master Yoda ternyata mengenal namaku, berarti aku sehebat itu!
  • Ini adalah teknik pedekate paling wahid yang pernah kuterima. Master Yoda memang selalu punya gaya.
  • Rakyat jelata memang seyogianya tidak menjamah seorang Yoda
  • Barangkali karena memang seperti itulah ingatan manusia bekerja. Otak kita tidak bisa menyimpan semuanya dalam tabungan ingatan jangka panjang. Kita hanya menyimpan potongan-potongam kisah yang berkesan, yang emosional, uanh kita pilih secara tidak sadar.
  • Menjatuhkan diri pada satu pria jelas bukan jalan hidup yang kuinginkan. Terlalu beresiko. Seperti meniti jembatan serambut dibelah tujuh, tanpa latihan keseimbangan sebelumnya.
  • ..ada potongan-potongan masa lalu yang bisa kita masukkan ke peti dan dibiarkan terkunci. Asal kita mau. 
  • ... Kenapa tidak berusaha memaafkan diri sendiri? Manusia selalu punya khilaf, tapi manusia juga selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri.
  • Apakah kita punya hak untuk menghakimi Zat yang sudah menciptakan kita?


"Bonusnya" ada ceklist apakah kita sedang jatuh cinta pada seseorang a la Miyu dan Aliyah :
  • Apakah kamu sering merasa kangen padanya?
  • Apakah kamu sering mengecek ponsel menunggu untuk ditelefon atau chatting?
  • Apakah dia bisa membuat merasa berdebar-debar? Melakukan kebodohan, muncul reaksi aneh terlebih bila bertatapan dan berdekatan? 
  • Apakah dia bisa membuatmu begitu bahagia namun juga begitu sedih hanya karena hal-hal kecil yang bodoh dan tidak masuk akal?

Bila keempatnya dijawab "ya", kemungkinan besar virus merah jambu memang sedang menjangkitimu.

Overall, setelah membaca, saya beri 4 bintang dalam akun goodreads saya. Dan saya menjadi tertarik membaca kisah Ajeng dalam membantu kisah percintaan dua sahabatnya dalam dua buku karya penulis sebelumnya, Tiga Cara Mencinta dan Dua Cinta Negeri Sakura.

Review ini saya ikutkan dalam IRRC 2017